Category: Internasional

KISAH RAJA DAN PELAYANNYA

Husain Abdullah (Foto Ist)

Ada seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja: “Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah.” Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan.

Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, “Kalau Allah itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!” Pelayan tersebut menjawab, “Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Allah itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: “Allah adalah baik dan sempurna adanya.” Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban.

Diatas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka. Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: “Temanku.. Allah sungguh baik kepadaku.

Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku.” Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. “Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ? Sang pelayan menjawab: “Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap.”

Semua yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Allah setiap saat. Allah pasti tahu mengapa Ia memilih kita untuk membaca pesan ini. Berbagilah dengan orang-orang yang kita kenal. Selamat berbaik sangka kepada Allah, atas segala kejadian & keadaan hidup kita..

#MakassarBahagia HUSAIN ABDULLAH

MARIN Nusantara: Terusan Kra Bukan Ancaman Indonesia

Direktur MARIN Nusantara, Makbul Muhammad (Foto Ist)

MANADO – Maritim Research Institute (MARIN Nusantara) tak pernah berhenti menyikapi kondisi yang dialami bangsa Indonesia tercinta. Kali ini melalui Direkturnya, Makbul Muhammad mengatakan bahwa Indonesia tak perlu khawatir berlebihan dengan akan beralihnya lalu lintas pelayaran internasional yang menghubungkan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang selama ini melewati selat malaka yang kemudian beralih melewati terusan Kra dinegara Thailand.

”Pembangunan terusan Kra ini adalah sebuah keniscayaan, apalagi pemerintah China telah digadang-gadang akan membantu thailand membangun Terusan Kra. Ingat bahwa teknologi selalu bergerak maju dan sulit untuk dibendung, begitupun dengan terobosan inovasi dan teknologi dalam dunia pelayaran internasional yang terus didesak dengan kebutuhan kecepatan hilirisasi logistik internasional,” ujar Makbul Muhammad.

Selain itu, dikatakannya sesuai jumlah kapal perhari yang melewati terusan tersebut tidak secara signifikasi mempengaruhi pelayaran Internasional. Bahkan, selat malaka menurutnya masih menjadi pilihan pelayaran saat ini.

”Dengan adanya terusan Kra, dipastikan tidak sepenuhnya juga bahwa pelayaran Internasional akan beralih, dengan jumlah 219 kapal perharinya yang melewati selat malaka, maka tentu selat malaka masih menjadi pilihan pelayaran internasional,” kata Makbul yang juga pengurus Dewan Nasional LMND ini.

Ditambahkannya lagi bahwa rakyat tidak harus melihat selat malaka dari dua dimensi, yang pertama dimensi ekonomi yaitu bagaimana pemanfaatan posisi strategis selat malaka yang dilalui rata-rata 80.000 kapal pertahunnya bisa memberi efek ekonomi kepada Indonesia.

”Nah, selama ini tidak ada aktifitas ekonomi terhadap pelayaran internasional diselat malaka oleh Indonesia, Artinya Indonesia selama ini tidak ada ketergantungan ekonomi terhadap selat malaka. keuntungan ekonomi justru dimaksimalkan oleh negara tetangga Singapura yang dapat memfasilitasi berbagai kebutuhan pelayaran dengan pelabuhan transhipment berstandar ISPS Code, Singapura ini seperti  rest area, jika di analogikan selat malaka adalah jalan tol didarat,” tutur Makbul.

Dijelaskannya pula soal dimensi Geopolitik, dengan selat malaka seolah indonesia memiliki bargaining dengan posisi tawar menjadi penentu bagi percaturan geopolitik kontemporer. Memang kemudian posisi strategis suatu negara bisa mempengaruhi kedudukannya dalam konteks pergaulan internasional.

”Tapi, kekuatan ekonomi dan politiknya suatu negara sangat menentukan dalam percaturan geopolitik dunia saat ini, yakni bagaimana negara tersebut mapan dan mandiri secara ekonomi dan sejauhmana negara tersebut mampu menggalang kekuatan dalam beraliansi dipanggung internasional, nah dengan kekuatan ekonomi dan politik inilah serta bonus geografi dan demografi yang menjadi landasan untuk mewujudkan indonesia sebagai poros maritim dunia,” papar Makbul kepada Suluttoday.com, Senin (20/3/2017). (*/Amas)

Melalui Kemitraan Indonesia USA, Unsrat Membuka Internasional Corner

Berlangsungnya Opening USA Corner, serta sosialisasi education USA di Unsrat (Foto Ist)

MANADO – Merawat semangat mengembangkan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado sebagai Perguruan Tinggi (TI) yang unggul, berbudaya, dibawah Rektor Prof Dr Ir Ellen Joan Kumaat terus menjalin hubungan baik dengan pemerintah pusat, maupun instansi atau lembaga-lembaga Internasional, serta seluruh stakeholder terkait. Hal itu, dimaksudkan agar Unsrat menjadi kampus yang berkualitas terdepan.

Terungkap, salah satu terobosan Rektor Unsrat yang disapa akrab Prof Kumaat ini, ialah membuka International Corner di Unsrat. Menurutnya, International Corner dibuka untuk umum. Ini kesempatan bagi yang ingin belajar budaya atau sekolah ke Luar Negeri.

”Melalui kesempatan ini, saya menyampaikan bahwa bagi yang ingin belajar Budaya atau sekolah keluar Negeri, Unsrat telah membuka Internasional Corner. Baik Mahasiswa, Dosen, juga umum berkesempatan mengikutinya, dengan bantuan Pemerintah Indonesia dan USA,” kata Prof Ellen.

Seperti diketahui, Senin (6/3/2017), Rektor Unsrat menghadirkan Humas Konjen USA Christine Getzler Vaughan dalam rangka Opening USA Corner, serta sosialisasi education USA di International Corner Unsrat. Menurut Rektor Unsrat aktif mendorong segenap civitas akademika untuk berpendidikan di Luar Negeri melalu konsep kemitraan.

”Iya, Unsrat membantu promosi pendidikan ke luar Negeri. Serta, merupakan program Internasional Unsrat dan komitmen bagi partner Unsrat, USA, Australia, Perancis, Jepang, Kanada, German, juga Korea Selatan,” ujar Prof Ellen yang juga adalah mantan Dekan Fakultas Teknik Unsrat ini. (Amas)

“Today I am a Moslem Too”: Solidaritas Antar Umat Beragama di Amerika

Peserta Global Leadership Program (Foto Suluttoday.com)

Peserta Global Leadership Program (Foto Suluttoday.com)

Oleh Muzayyin Arif

(Komisaris Utama Sekolah Insan Cendekia Madani)

Ada suasana yang berbeda saat saat ini di Amerika yaitu sedang berkembang luas rasa solidaritas atas diskriminasi yang dialami umat Islam yang ditunjukkan oleh komunitas non-Islam setelah kebijakan Presiden Donald Trump yang diskriminatif terhadap muslim. Berbagai bentuk dukungan dan aksi solidaritas mulai dari menyediakan tempat ibadah yang dilakukan Yahudi bagi kaum muslim yang kehilangan masjid akibat pembakaran di Victoria sampai aksi pengamanan shalat jum’at yang dilakukan masyarakat non-muslim di negara bagian lainnya.

Di kota New York terjadi pertemuan antar tokoh lintas agama pada Kamis 2 Februari 2017 di Kantor Nusantara Foundation di 43 Street Fifth Avenue, Manhattan New York City. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melakukan aksi solidaritas lintas pemeluk agama untuk membela masyarakat muslim dalam bentuk unjuk rasa damai di pusat kota. Hadir dalam pertemuan tersebut juga Rabbi Schneier (Presiden Foundation for Ethnic Understanding).

Dalam aksi yang rencana digelar pada 19 Februari 2017 nanti akan diisi dengan orasi oleh para tokoh-tokoh agama dengan bentangan spanduk dan poster bertuliskan “Iam a Moslem too” (Saya Juga seorang Muslim) sebagai protes terhadap Pemerintah Amerika atas kebijakan yang tidak akomodatif terhadap Islam. Aksi ini merupakan inisiatif dari kalangan non-Muslim yang secara massif turun ke jalan untuk mengatakan bahwa “hari ini kita semua adalah muslim dan jika muslim disakiti kita semua tersakiti.”

Di sela-sela persiapan acara, saya sempat menanyakan kepada Imam Shamsi, yang memiliki jejaring luas di Amerika. Kata beliau, “Setelah berbagai peristiwa teror yangg menjadi alat propaganda untuk mendiskreditkan Islam seperti 9/11, yang kemudian direspon oleh tokoh-tokoh Islam dengan melakukan klarifikasi dan pendekatan-pendekatan positif kepada segenap komponen masyarakat, dan bersambut dengan tingginya animo masyarakat Amerika untuk mengetahui Islam yang sesungguhnya (melalui bacaan Al-Qur’an dan Islamic Class), akhirnya masyarakat Amerika saat ini semakin sadar bahwa Islam adalah ajaran yang baik yang mengajarkan cinta kasih, tolong menolong dan orang-orang Islam adalah bagian dari masyarakat dunia yang positif dan bukan ancaman terhadap kedamaian.”

Aksi solidaritas nanti ditargetkan akan dihadiri oleh 10.000 orang dari berbagai kalangan di New York. Akan hadir juga Walikota New York, Gubernur negara bagian New York, artis Hollywood seperti Russell Simmons (Raja Hiphop), organisasi sosial, serta tokoh dari berbagai komunitas agama seperti Yahudi, Kristen, Hindu, dan Budha. Tak ketinggalan, peserta Global Leadership Program (GLP) Sekolah Insan Cendekia Madani juga akan ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Dakwah di Amerika membutuhkan akhlak mulia dengan pendekatan yang persuasif, bijaksana, dan juga sabar.

Peserta dari berbagai negara saat bersilaturahmi dan melakukan diskusi (Foto Suluttoday.com)

Peserta dari berbagai negara saat bersilaturahmi dan melakukan diskusi (Foto Suluttoday.com)

Ada kejadian yang diceritakan oleh Imam Shamsi tentang bagaimana akhlak Islam itu dapat merubah pandangan dan sikap orang Amerika terhadap Islam. Suatu ketika dalam kelas Islamic Studies yang beliau bina datang seorang Amerika yang dengan sangat emosional menghujat Nabi Muhammad dengan semua fitnah. Imam Shamsi menyikapi secara bijaksana, tersenyum dan mengajak bersalaman tanpa merespon hinaan yang telah ia lontarkan.

Rupanya sikap ini membuat sang bule ini terpukul, ia pulang dalam keadaan tidak tenang. Seminggu berikutnya, lelaki tersebut datang kembali dan menyampaikan bahwa sejak ia datang menghujat ia tidak merasakan ketenangan, bahkan tidak bisa tidur. Persepsi dia ketika datang pertama kali adalah “orang Islam itu emosional, pemarah dan kasar”. Tapi yang ia dapatkan malah senyuman. Akhirnya ia mohon maaf dan beberapa waktu setelah itu menyatakan masuk Islam.

Berlangsungnya dialog (Foto Suluttoday.com)

Berlangsungnya dialog (Foto Suluttoday.com)

Ini berarti bahwa terkadang orang hanya butuh didengarkan, kemudian ia mencari dan menemukan kebenaran. Pada dasarnya iklim di Amerika itu terbuka dan toleran terhadap perbedaan, respek dan ramah terhadap orang lain. Mereka tidak menginginkan kekacauan yang menciptakan disharmoni dalam kehidupan mereka. Karena itu serangan terhadap Islam tidak lagi dilihat sebagai ancaman terhadap pemeluk Islam saja tapi juga ancaman terhadap harmoni kehidupan secara umum, dan untuk itu mereka berkepentingan untuk melawan. Fenomena ini juga sesungguhnya merefleksikan bahwa Islam akan semakin besar, berkembang dan pertumbuhannya tidak bisa terbendung lagi. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi umat agama lain kecuali menjalin kerjasama.(***)

Pesan Jum’at Imam Shamsi Pasca Kebijakan Presiden Trump

Berlangsungnya forum seminar Internasional (Foto Ist)

Berlangsungnya forum seminar Internasional (Foto Ist)

Oleh Muzayyin Arif

(Komisaris Utama Sekolah Insan Cendekia Madani Serpong)

Pada hari Jum’at (3/2), saya dan rombongan siswa peserta Global Leadership Program (GLP) Batch 2 Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM) Serpong mengikuti rangkaian ibadah bersama komunitas muslim di Islamic Center Masjid Darul Qur’an of Long Island, Amerika Serikat. Ini merupakan jum’at yang istimewa tidak hanya karena berkesempatan merasakan hangatnya persaudaraan yang ditunjukkan oleh komunitas muslim Amerika yang berasal dari beragam bangsa seperti Arab, India, Pakistan, Bangladesh dan lain sebagainya, akan tetapi juga karena kami dapat mendengarkan khutbah Jum’at yang dibawakan oleh Imam Shamsi Ali, seorang imam kelas dunia asal Indonesia yang luar biasa.

Di hadapan 700-an jama’ah yang memadati ruang masjid, Imam Shamsi menyampaikan pesan-pesan yang relevan terkait perkembangan Islam dan politik di Amerika Serikat saat ini, yang beberapa di antaranya adalah:

1. Pentingnya membangun optimisme (dalam memandang kehidupan ini dan seluruh dinamikanya) dengan memperkuat keyakinan bahwa Allah Swt bersama kita. Inilah keyakinan penting bahwa: bersama Allah kita pasti menang. 2. Jangan pernah mengandalkan kekuatan kita sebagai manusia untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita. Merendah di hadapan Allah swt dan berdoa dengan penuh harap adalah kunci turunnya pertolongan dari-Nya.

3. Perbaiki hubungan dengan sesama manusia (termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan dengan kita) dan bangun kerjasama serta perkuat solidaritas antar sesama anggota komunitas masyarakat. Selanjutnya, Imam Shamsi juga mengajak seluruh masyakat muslim Amerika untuk menyikapi perkembangan politik pasca terpilihnya Presiden Donald J. Trump secara positif.

Tim saat foto bersama (Foto Ist)

Tim saat foto bersama (Foto Ist)

Diskriminasi harus dilawan dengan dakwah bilhal dengan cara bangkit menunjukkan eksistensi dan memperkenalkan Islam yang sesungguhnya, yaitu Islam yang rahmatan lil alamin, yang berbeda jauh dari pemikiran dan pemahaman yang dipropagandakan khususnya oleh Presiden Trump saat ini. Dakwah bilhal ini dapat dimulai dari menyapa tetangga, memperbaiki hubungan baik dengan mereka, atau dengan sekedar menyampaikan bahwa kita muslim dan kita ingin menjadi tetangga yang baik untuk mereka.

Kemudian, kita juga melanjutkan dengan melakukan pendekatan dan menjalin kerjasama antar komunitas agama yang ada di lingkungan kita, khususnya yang masih berfikiran positif tentang keberadaan masyarakat muslim di Amerika. Imam Shamsi mengingatkan bahwa tidak semua umat Kristiani dan Yahudi itu negatif terhadap kita. Ada juga diantara mereka yang baik dan menaruh simpati dengan keberadaan muslim di Amerika. Dan ini jumlahnya banyak seperti yang baru-baru ini ditunjukkan oleh komunitas Yahudi di Victoria saat melihat masjid umat Islam dibakar mereka menawarkan sinagog-nya untuk ditempati salat.

Menurut beliau, penting bagi kita semua untuk menyatukan kebaikan-kebaikan antar komunitas untuk menghadapi keburukan yang lebih besar. Selanjutnya yang tidak kalah penting dilakukan oleh umat Islam di Amerika adalah melakukan pendekatan dan klarifikasi kepada pemerintah lokal sebagai bentuk aksi proaktif untuk meyakinkan tentang kedamaian yang diajarkan Islam dan jauhnya agama ini dari ancaman tatanan kehidupan. Di negara yang menganut sistem federasi seperti Amerika posisi pemerintah lokal sangat besar pengaruhnya dan dapat melindungi warga dari buruknya kebijakan federal.

Seperti yang dilakukan oleh Wali Kota New York baru-baru ini yang memberikan Driving License (surat izin mengemudi) kepada para imigran/pendatang ilegal sebagai bentuk keberpihakan kepada kemanusiaan dan perlawanan terhadap diskriminasi. Intinya, kondisi yg terjadi di Amerika saat ini seharusnya membuka mata dan fikiran umat islam untuk bangkit dan melakukan kebaikan dengan menyebarkan kemaslahatan. Di luar sana ada banyak hati yang menanti sikap positif kita sebagai jalan turunnya hidayah Allah kepada mereka. Kita tidak sendiri dan ini adalah momentum kebangkitan.

Allahu Akbar! Setelah Jum’at, tidak kurang dari tiga orang tokoh Islam pun tampil dan memberikan dukungan terhadap apa yang disampaikan oleh Imam Shamsi dan mengajak jamaah untuk bersama-sama mengamalkan pesan-pesan tersebut. Adapun kami, rombongan dari Global Leadership Program (GLP) Sekolah Insan Cendekia Madani secara khusus diperkenalkan oleh pengurus masjid dengan diminta berdiri dan menyapa jama’ah yang ada di masjid. Tidak sedikit jamaah yang datang berkenalan lebih dekat yang berasal dari Mesir, Bangladesh, Pakistan dan lain sebagainya. (***)

iklan1