Category: Internasional

Tinggalkan Liberalisme Ugal-Ugalan, Menangkan Pancasila…!!!

Ketum PRD saat berpidato (Foto Ist)

Hari ini, tanggal 20 Oktober 2017, pemerintahan Joko Widodo dan Yusuf Kalla sudah berusia 3 tahun. Pada kesempatan ini, Partai Rakyat Demokratik (PRD) menyatakan pandangan sebagai berikut: Selama 3 tahun Jokowi-JK bekerja, ada kemajuan besar dalam penegakan kedaulatan Maritim dan pembangunan infrastruktur. Untuk sektor maritim, 317 kapal pelaku IUU Fishing sudah ditenggelamkan. Sedangkan pembangunan infrastruktur berhasil mengurangi kesenjangan antar-daerah dan disparitas harga 20-40 persen.

Tetapi pembangunan infrastruktur meninggalkan beberapa catatan kritis: (i) kurang memperhatikan daya dukung APBN dan menambah banyak utang; (ii) pelibatan swasta lewat mekanisme Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) atau Public Private Partnership (PPP) maupun sekurititasi aset BUMN berpotensi mengarah pada privatisasi; (iii) padat-modal dan teknologi ketimbang padat-karya, sehingga kurang menciptakan trickle down effect pada masyarakat luas; dan (iv) tidak dibangun Bank Pembangunan atau Bank Infrastruktur untuk pembiayaan infrastruktur seperti dijanjikan dalam Nawacita.

Selama 3 tahun berkuasa, Jokowi-JK giat sekali mendorong liberalisasi investasi melalui deregulasi. Deregulasi tersebut menghilangkan semua regulasi yang merintangi kebebasan investasi. Tidak hanya regulasi yang birokratis, berbelit-belit dan tumpang-tindih, tetapi juga regulasi yang memagari hak-hak publik dan daya dukung lingkungan (Amdal).

Selain itu, deregulasi juga membuka sektor-sektor sektor yang dulunya tertutup bagi modal asing, seperti cold storage, sport center, industri film, industri karet (crumb rubber), restoran, industri bahan baku obat, dan pengusahaan jalan tol. Jokowi-JK belum berhasil mengurangi ketergantungan impor, khususnya pangan dan energi, karena belum terwujudnya kedaulatan pangan dan energi. Dari 2014 hingga 2016, impor beras justru terus meningkat: 2014 sebesar 844,2 ribu ton, 2015 sebesar 861,6 ribu ton, dan 2016 sebesar 1,3 juta ton. Indonesia juga mengimpor garam, kedelai, gandum, dan lain-lain.

Impor energi juga masih tinggi. Sebanyak 50 persen kebutuhan BBM di dalam negeri masih diimpor, baik dalam bentuk mentah maupun BBM. Di sisi lain, lebih dari separuh produksi minyak di dalam negeri hanya dipegang oleh dua korporasi asing, yakni Chevron dan ExxonMobil. Politik pajak yang tidak berkeadilan, sehingga cenderung memperparah ketimpangan ekonomi. Di satu sisi, penghasilan selevel upah minumum kena pajak 5 persen, sedangkan penghasilan tertinggi hanya kena pajak 30 persen.

Sudah begitu, kaum kaya bisa menyembunyikan aset dan kekayaannya, sehingga terhindar dari pajak. Program tax amnesty menyingkap fakta, bahwa dari Rp 4.865,77 triliun harta yang dilaporkan, sebanyak Rp 3.687 triliun adalah deklarasi harta di dalam negeri. Artinya: ada ribuan trilyun harta di dalam negeri yang tidak pernah terlaporkan alias sembunyi (ilegal). Kemudian, investor asing terus diberi fasilitas keringanan pajak, seperti tax allowance dan tax holiday.

Baru-baru ini korporasi tambang raksasa Freeport juga menikmati keringanan pajak. Reforma agraria terjegal oleh liberalisasi sektor agraria; reforma agraria Jokowi-JK lebih banyak berbentuk sertifikasi (2.889.993 sertifikat tanah), ketimbang reditribusi tanah (redistribusi tanah baru 245.097 bidang), sehingga tidak banyak berefek mengurangi ketimpangan pemilikan tanah di Indonesia. Di sisi lain, penguasaan tanah oleh korporasi terus meningkat.

Tingkat kesejahteraan rakyat menurun akibat: (i) penyerahan komoditi pokok, seperti BBM dan listrik, pada mekanisme pasar; (ii) berkurangnya penyerapan tenaga kerja sektor formal; (iii) Nilai Tukar Petani (NTP) tidak pernah melesat jauh di atas 100; dan (iv) upah riil buruh tergerus inflasi. Di sisi lain, angka kemiskinan tidak berkurang signifikan (dari 27,73 juta jiwa pada September 2014 menjadi 27,77 pada Maret 2017, sedangkan indeks kedalaman kemiskinan menaik (dari 1,75 pada September 2014 menjadi 1,83 pada Maret 2017). Berdasarkan poin-poin di atas, kami mengambil beberapa kesimpulan: (1) kebijakan ekonomi Jokowi-JK masih belum selaras dengan cita-cita Trisakti; (2) ada kecenderungan liberalisasi ekonomi yang makin intensif di bawah Jokowi-JK lewat agenda deregulasi. Karena itu, kami menyimpulkan bahwa pemerintahan Jokowi-JK sangat liberal ugal-ugalan.

Berikut beberapa rekomendasi agar Jokowi-JK kembali ke jalan Trisakti: Mempercepat agenda Reforma Agraria dengan: (i) pengelolaannya berbasis koperasi; (ii) disokong dengan akses modal dan teknologi pertanian; dan (iii) pembatasan pemilikan dan penguasaan tanah di tangan segelintir orang dan korporasi. Pajak progressif dan tangkap orang kaya pengemplang pajak; kami mengusulkan skema pajak berikut: (i) sampai 50 juta (0 persen); (ii) 50-250 juta (15 persen); (iii) 250-500 juta (30 persen); (iv) 500 juta-1 milyar (30 persen + 15 persen); dan (v) di atas 1 milyar (30+20 persen). Peningkatan sumber daya manusia (SDM), dengan menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, perumahan, dan pekerjaan yang layak.

 

Pernyataan Sikap PRD. 

KISAH RAJA DAN PELAYANNYA

Husain Abdullah (Foto Ist)

Ada seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja: “Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah.” Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan.

Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, “Kalau Allah itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!” Pelayan tersebut menjawab, “Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Allah itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah.”

Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: “Allah adalah baik dan sempurna adanya.” Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban.

Diatas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka. Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: “Temanku.. Allah sungguh baik kepadaku.

Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku.” Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. “Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ? Sang pelayan menjawab: “Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap.”

Semua yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Allah setiap saat. Allah pasti tahu mengapa Ia memilih kita untuk membaca pesan ini. Berbagilah dengan orang-orang yang kita kenal. Selamat berbaik sangka kepada Allah, atas segala kejadian & keadaan hidup kita..

#MakassarBahagia HUSAIN ABDULLAH

MARIN Nusantara: Terusan Kra Bukan Ancaman Indonesia

Direktur MARIN Nusantara, Makbul Muhammad (Foto Ist)

MANADO – Maritim Research Institute (MARIN Nusantara) tak pernah berhenti menyikapi kondisi yang dialami bangsa Indonesia tercinta. Kali ini melalui Direkturnya, Makbul Muhammad mengatakan bahwa Indonesia tak perlu khawatir berlebihan dengan akan beralihnya lalu lintas pelayaran internasional yang menghubungkan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang selama ini melewati selat malaka yang kemudian beralih melewati terusan Kra dinegara Thailand.

”Pembangunan terusan Kra ini adalah sebuah keniscayaan, apalagi pemerintah China telah digadang-gadang akan membantu thailand membangun Terusan Kra. Ingat bahwa teknologi selalu bergerak maju dan sulit untuk dibendung, begitupun dengan terobosan inovasi dan teknologi dalam dunia pelayaran internasional yang terus didesak dengan kebutuhan kecepatan hilirisasi logistik internasional,” ujar Makbul Muhammad.

Selain itu, dikatakannya sesuai jumlah kapal perhari yang melewati terusan tersebut tidak secara signifikasi mempengaruhi pelayaran Internasional. Bahkan, selat malaka menurutnya masih menjadi pilihan pelayaran saat ini.

”Dengan adanya terusan Kra, dipastikan tidak sepenuhnya juga bahwa pelayaran Internasional akan beralih, dengan jumlah 219 kapal perharinya yang melewati selat malaka, maka tentu selat malaka masih menjadi pilihan pelayaran internasional,” kata Makbul yang juga pengurus Dewan Nasional LMND ini.

Ditambahkannya lagi bahwa rakyat tidak harus melihat selat malaka dari dua dimensi, yang pertama dimensi ekonomi yaitu bagaimana pemanfaatan posisi strategis selat malaka yang dilalui rata-rata 80.000 kapal pertahunnya bisa memberi efek ekonomi kepada Indonesia.

”Nah, selama ini tidak ada aktifitas ekonomi terhadap pelayaran internasional diselat malaka oleh Indonesia, Artinya Indonesia selama ini tidak ada ketergantungan ekonomi terhadap selat malaka. keuntungan ekonomi justru dimaksimalkan oleh negara tetangga Singapura yang dapat memfasilitasi berbagai kebutuhan pelayaran dengan pelabuhan transhipment berstandar ISPS Code, Singapura ini seperti  rest area, jika di analogikan selat malaka adalah jalan tol didarat,” tutur Makbul.

Dijelaskannya pula soal dimensi Geopolitik, dengan selat malaka seolah indonesia memiliki bargaining dengan posisi tawar menjadi penentu bagi percaturan geopolitik kontemporer. Memang kemudian posisi strategis suatu negara bisa mempengaruhi kedudukannya dalam konteks pergaulan internasional.

”Tapi, kekuatan ekonomi dan politiknya suatu negara sangat menentukan dalam percaturan geopolitik dunia saat ini, yakni bagaimana negara tersebut mapan dan mandiri secara ekonomi dan sejauhmana negara tersebut mampu menggalang kekuatan dalam beraliansi dipanggung internasional, nah dengan kekuatan ekonomi dan politik inilah serta bonus geografi dan demografi yang menjadi landasan untuk mewujudkan indonesia sebagai poros maritim dunia,” papar Makbul kepada Suluttoday.com, Senin (20/3/2017). (*/Amas)

Melalui Kemitraan Indonesia USA, Unsrat Membuka Internasional Corner

Berlangsungnya Opening USA Corner, serta sosialisasi education USA di Unsrat (Foto Ist)

MANADO – Merawat semangat mengembangkan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado sebagai Perguruan Tinggi (TI) yang unggul, berbudaya, dibawah Rektor Prof Dr Ir Ellen Joan Kumaat terus menjalin hubungan baik dengan pemerintah pusat, maupun instansi atau lembaga-lembaga Internasional, serta seluruh stakeholder terkait. Hal itu, dimaksudkan agar Unsrat menjadi kampus yang berkualitas terdepan.

Terungkap, salah satu terobosan Rektor Unsrat yang disapa akrab Prof Kumaat ini, ialah membuka International Corner di Unsrat. Menurutnya, International Corner dibuka untuk umum. Ini kesempatan bagi yang ingin belajar budaya atau sekolah ke Luar Negeri.

”Melalui kesempatan ini, saya menyampaikan bahwa bagi yang ingin belajar Budaya atau sekolah keluar Negeri, Unsrat telah membuka Internasional Corner. Baik Mahasiswa, Dosen, juga umum berkesempatan mengikutinya, dengan bantuan Pemerintah Indonesia dan USA,” kata Prof Ellen.

Seperti diketahui, Senin (6/3/2017), Rektor Unsrat menghadirkan Humas Konjen USA Christine Getzler Vaughan dalam rangka Opening USA Corner, serta sosialisasi education USA di International Corner Unsrat. Menurut Rektor Unsrat aktif mendorong segenap civitas akademika untuk berpendidikan di Luar Negeri melalu konsep kemitraan.

”Iya, Unsrat membantu promosi pendidikan ke luar Negeri. Serta, merupakan program Internasional Unsrat dan komitmen bagi partner Unsrat, USA, Australia, Perancis, Jepang, Kanada, German, juga Korea Selatan,” ujar Prof Ellen yang juga adalah mantan Dekan Fakultas Teknik Unsrat ini. (Amas)

“Today I am a Moslem Too”: Solidaritas Antar Umat Beragama di Amerika

Peserta Global Leadership Program (Foto Suluttoday.com)

Peserta Global Leadership Program (Foto Suluttoday.com)

Oleh Muzayyin Arif

(Komisaris Utama Sekolah Insan Cendekia Madani)

Ada suasana yang berbeda saat saat ini di Amerika yaitu sedang berkembang luas rasa solidaritas atas diskriminasi yang dialami umat Islam yang ditunjukkan oleh komunitas non-Islam setelah kebijakan Presiden Donald Trump yang diskriminatif terhadap muslim. Berbagai bentuk dukungan dan aksi solidaritas mulai dari menyediakan tempat ibadah yang dilakukan Yahudi bagi kaum muslim yang kehilangan masjid akibat pembakaran di Victoria sampai aksi pengamanan shalat jum’at yang dilakukan masyarakat non-muslim di negara bagian lainnya.

Di kota New York terjadi pertemuan antar tokoh lintas agama pada Kamis 2 Februari 2017 di Kantor Nusantara Foundation di 43 Street Fifth Avenue, Manhattan New York City. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk melakukan aksi solidaritas lintas pemeluk agama untuk membela masyarakat muslim dalam bentuk unjuk rasa damai di pusat kota. Hadir dalam pertemuan tersebut juga Rabbi Schneier (Presiden Foundation for Ethnic Understanding).

Dalam aksi yang rencana digelar pada 19 Februari 2017 nanti akan diisi dengan orasi oleh para tokoh-tokoh agama dengan bentangan spanduk dan poster bertuliskan “Iam a Moslem too” (Saya Juga seorang Muslim) sebagai protes terhadap Pemerintah Amerika atas kebijakan yang tidak akomodatif terhadap Islam. Aksi ini merupakan inisiatif dari kalangan non-Muslim yang secara massif turun ke jalan untuk mengatakan bahwa “hari ini kita semua adalah muslim dan jika muslim disakiti kita semua tersakiti.”

Di sela-sela persiapan acara, saya sempat menanyakan kepada Imam Shamsi, yang memiliki jejaring luas di Amerika. Kata beliau, “Setelah berbagai peristiwa teror yangg menjadi alat propaganda untuk mendiskreditkan Islam seperti 9/11, yang kemudian direspon oleh tokoh-tokoh Islam dengan melakukan klarifikasi dan pendekatan-pendekatan positif kepada segenap komponen masyarakat, dan bersambut dengan tingginya animo masyarakat Amerika untuk mengetahui Islam yang sesungguhnya (melalui bacaan Al-Qur’an dan Islamic Class), akhirnya masyarakat Amerika saat ini semakin sadar bahwa Islam adalah ajaran yang baik yang mengajarkan cinta kasih, tolong menolong dan orang-orang Islam adalah bagian dari masyarakat dunia yang positif dan bukan ancaman terhadap kedamaian.”

Aksi solidaritas nanti ditargetkan akan dihadiri oleh 10.000 orang dari berbagai kalangan di New York. Akan hadir juga Walikota New York, Gubernur negara bagian New York, artis Hollywood seperti Russell Simmons (Raja Hiphop), organisasi sosial, serta tokoh dari berbagai komunitas agama seperti Yahudi, Kristen, Hindu, dan Budha. Tak ketinggalan, peserta Global Leadership Program (GLP) Sekolah Insan Cendekia Madani juga akan ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Dakwah di Amerika membutuhkan akhlak mulia dengan pendekatan yang persuasif, bijaksana, dan juga sabar.

Peserta dari berbagai negara saat bersilaturahmi dan melakukan diskusi (Foto Suluttoday.com)

Peserta dari berbagai negara saat bersilaturahmi dan melakukan diskusi (Foto Suluttoday.com)

Ada kejadian yang diceritakan oleh Imam Shamsi tentang bagaimana akhlak Islam itu dapat merubah pandangan dan sikap orang Amerika terhadap Islam. Suatu ketika dalam kelas Islamic Studies yang beliau bina datang seorang Amerika yang dengan sangat emosional menghujat Nabi Muhammad dengan semua fitnah. Imam Shamsi menyikapi secara bijaksana, tersenyum dan mengajak bersalaman tanpa merespon hinaan yang telah ia lontarkan.

Rupanya sikap ini membuat sang bule ini terpukul, ia pulang dalam keadaan tidak tenang. Seminggu berikutnya, lelaki tersebut datang kembali dan menyampaikan bahwa sejak ia datang menghujat ia tidak merasakan ketenangan, bahkan tidak bisa tidur. Persepsi dia ketika datang pertama kali adalah “orang Islam itu emosional, pemarah dan kasar”. Tapi yang ia dapatkan malah senyuman. Akhirnya ia mohon maaf dan beberapa waktu setelah itu menyatakan masuk Islam.

Berlangsungnya dialog (Foto Suluttoday.com)

Berlangsungnya dialog (Foto Suluttoday.com)

Ini berarti bahwa terkadang orang hanya butuh didengarkan, kemudian ia mencari dan menemukan kebenaran. Pada dasarnya iklim di Amerika itu terbuka dan toleran terhadap perbedaan, respek dan ramah terhadap orang lain. Mereka tidak menginginkan kekacauan yang menciptakan disharmoni dalam kehidupan mereka. Karena itu serangan terhadap Islam tidak lagi dilihat sebagai ancaman terhadap pemeluk Islam saja tapi juga ancaman terhadap harmoni kehidupan secara umum, dan untuk itu mereka berkepentingan untuk melawan. Fenomena ini juga sesungguhnya merefleksikan bahwa Islam akan semakin besar, berkembang dan pertumbuhannya tidak bisa terbendung lagi. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi umat agama lain kecuali menjalin kerjasama.(***)

iklan1