Category: Nasional

CANTIK itu CANDU

Asterlita T Raha (FOTO Ist)

SEPERTI zat adiktif perempuan candu terhadap kecantikan, runduk sujud pada standar barat dan timur yang menjadi kiblat; tinggi, putih, mancung, kurus, rambut lurus, berbokong dan berpayudara besar sampai berbusana dengan aturan-aturan teologis. Semua itu merujuk pada perilaku yang dapat membangkitkan gairah seksual serta berlandaskan selera dan kepentinggan laki-laki.

Lalu perempuan menukarnya dengan mendapatkan sumber daya yang disediakan laki-laki, yaitu kesetiaan, pengakuan, pujian dan keterpesonaan bahkan uang. Sehingga menurut Naomi Wolf (penulis) bahwa kecantikan tidak lebih hanyalah mitos yang menindas perempuan.

Cantik sejak peradaban dini telah menjadi rebutan. Seperti arena tanding hampir seluruh perempuan dunia menjadi peserta, bertanding dengan sesamanya dan berlomba untuk memenangkan pujian laki-laki. Tak kala berbagai cara digunakan agar tidak menjadi keriput dan tua. Ketakutan terus menghantui sampai rela menggunakan berbagai treatment kecantikan yang meraih kocek fantastik hingga menahan sakit karena bagian tubuh tertentu dibedah dengan pisau.

Betapa perempuan kehilanggan subjektifitas diri dan menjadi liyan, misalnya dalam dunia industry fahsion, tubuh perempuan dijadikan objek strategi pemasaran. Di berbagai ruang publik, beberapa institusi mensyaratkan kecantikan bagi perempuan untuk menduduki posisi-posisi tertentu, konteks kecantikan dunia digelar serta turut melegitimasikan mitos. Perempuan terobsesi mengamalkan esesnsi kecantikan hingga melupakan bagaimana cara beriksistensi sebagai manusia. Kecantikan tidak lebih dari suatu system politik dan system pertukaran berdasarkan pada teretorial geografis.

Standar Cantik di Indonesia

Secara historis dan geografis, Indonesia punya cerita Panjang dalam memaknai arti kecantikan. Di pengaruhi oleh keberagaman budaya. Semenjak jawa kuno, kecantikan telah tergambar dalam kisah sastra Ramayana. Tokoh Sinta, istri Rama adalah wujud kecantikan perempuan. Berprilaku baik dan bercahaya laksana rembulan. Berbeda dengan keagungan perempuan dari suku Dayak yakni memiliki kuping yang Panjang, dan berbagai daerah lainnya yang memaknai atri kecantikannya.

Perempuan Halmahera tak terkecuali salah satunya suku Togale (Tobelo-Galela), zaman dulu standar kecantikan perempuan halamhera adalah melukis telapak tangan menggunakan warna merah (pewarna yang berasal dari alam) memakai konde dan sirir bermotif kura-kura serta menaruh bunga hijau di telinga, rambut Panjang dan menjaga kehalusannya menggunakan santang kelapa (galela; o jono) dan mengikatkan sabuk pinggang sebanyak 3 kali dan identik dengan saloi/palaudi atau keranjang anyaman yang terbuat dari rotan.

Standar pun berubah ketika era kolonial masuk ke Indonesia, makna kecantikanpun berubah mengikuti standar perempuan penjajah yakni perempuan Eropa. Dan pada masa inilah produk kecantikan di pedagangkan dan diiklankan melalui media. Kemudian berubah ketika fasisme jepang bercokol di atas tanah ibu pertiwi. Perempuan Nippon adalah standar sekaligus gambaran yang di muat dalam rubrik kecantikan yakni “Djawa Baroe”. Dan standar kecantikan terus berkembang hingga saat ini yaitu berkiblat pada perempuan timur dan barat.

Kala Kecantikan Menindas Perempuan

“Mengapa di negeri Mataram gadis-gadis cantik selalu bernasib malang?” tanya Jalu (tokoh dalam buku Gadis-gadis Amangkurat) kepada ibunya. Bagaimana tidak zaman kerajaan banyak perempuan cantik di jadikan selir para raja dan sampai kini industri ponografi dan prostitusi turut menjadikan kecantikan sebagai jualan. Perempuan yang dianggap cantik selalu rentan terhadap pelecahan dan misoginis.

Sampai penulis Eka Kurniawan menceritakan bawasannya “Cantik itu luka” dalam novelnya. Kini, pada revolusi 4.0 perempuan terus dirundung ketakutan terhadap penuaan dan terobsesi terus menjadi cantik. Media pun terus mengembar-gemborkan berbagai produk dan dunia fasion meraup keuntungan dan patriarki terus bernegasi, terus menempertahankan status qou dengan membuat perempuan berkutat pada urusan-urasan pakaian, make up, bentuk tubuh dll sampai lupa pada potensi dan kemampuan dirinya.

Kapitalisme terus melahirkan narasi kecantikan sebagai trend center fahsion sesuai citra produk lalu perempuan menjadi sasaran empuk pemasaran. Akhirnya, perempuan terus dipasung dan terpenjara pada mitos kecantikan. Sesungguhnya kecantikan bukanlah sesuatu yang nyata, hanya sebuah hasil imajinasi manusia. Sebab cantik di belahan bumi lain belum tentu sama “cantik” diatas pijakanmu. Kecantikan sesungguhnya adalah hasil eksistensi manusia, dengan memngembangkan seluruh potensi dalam dirinya dan disesuaikan dengan faktor geografis.

Di hadapan kecantikan laki-laki dan perempuan adalah sama-sama budak, defenisi kecantikan hanyalah mitos yang terus di ceritakan; laki-laki terus mengagumi kecantikan dan perempuan terobsesi untuk terus menjadi cantik (mengikuti selera laki-laki). Lalu sampai kapan mitos kecantikan terus membelenggu seluru aspek kehidupan, bagaimana caranya memampaui mitos tersebut? Kata Soe Hok Gie “ perempuan akan selalu berada di bawah laki-laki kalau yang di urusinya adalah baju dan kecantikan”.

 

____________________________

 Oleh : Asterlita T Raha, Aktivis GMKI Cabang Tondano 

Jelang Pengucapan Syukur MIM dan YSYI Serukan Jaga Ciptaan Tuhan

MoU stop pemburuan satwa liar dan sampah plastik (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Jelang perayaan pengucapan syukur di sejumlah daerah di Sulawesi Utara, Gereja masehi injili Minahasa (GMIM) bersama Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia (YSYI) menyuarakan untuk melestarikan Ciptaan Tuhan. Hal ini disampaikan Ketua Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia, Yunita Siwi SP kepada media ini Jumat (14/06/2019) pagi.

Menurut Siwi pentingnya peran gereja dalam mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan konsumsi dan perdagangan satwa liar yang ada di Sulawesi Utara apalagi menjelang pengucapan syukur. Ditegaskan Siwi YSYI belum lama ini telah mengukuhkan komitmen untuk melestarikan Ciptaan Tuhan lewat penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan Sinode GMIM.

Dimana, Siwi sendiri yang mewakili YSYI dan Ketua Sinode GMIM DR Hein Arina yang menandatangani MoU tersebut. Ketua Sinode GMIM Hein Arina saat dikonfirmasi sangat antusias dengan kerjasama tersebut dan berharap kerjasama ini mendukung program bersama pengurangan sampah pelastik dan akan mengeluarkan himbauan untuk tidak mengkonsumsi satwa liar dilindungi dalam perayaan hari hari besar gereja.

Sementara itu, Dra Khouni Lomban Rawung MSi sebagai Duta Yaki Indonesia saat diminta tanggapan, mendorong baik dari Pihak GMIM maupun YSYI dalam menjalin kerjasama ini, serta  bersama-sama tidak lelah dalam menjaga lingkungan, dari sampah plastik dan konsumsi satwa liar yang dilindungi. Seperti dirangkum media ini istri Walikota Bitung ternyata sebagai pemrakarsa kerjasama GMIM dan YSYi.(cat)

REVOLUSI ITU MENCIPTAKAN

Amas Mahmud (FOTO Suluttoday.com)

Oleh : Amas Mahmud
_______________________

MENCARI narasi yang sejuk dan konstruktif memang mudah didapati, apalagi yang bersifat memberi harapan. Sekilas saja kita menaruh perhatian pada konteks sosial saat ini, dimana pasca pengumuman hasil Pemilu Serentak tahun 2019 masih ada sisa-sisa perdebatan di media massa.

Dinamika publik itu perlu tarik pencerahan minimal untuk kepentingan kita bahwa segala dialektika politik harus mengintegrasikan kita. Bukan sebaliknya mempolarisasi kita, mengacaukan kerukunan nasional. Perjalanan demokrasi perlu diisi dengan interaksi yang bermutu, bukan saling sikut, saling mendiskreditkan.

Dalam konteks lokal, di Kota Manado mulai ramai dibincangkan soal bakal calon Walikota dan Wakil Walikota yang melahirkan beragam diskursus dari sendi demokrasi kita. Bila diletakkan pada ruang edukasi, maka semua konteks dan ruang itu harus melahirkan pembelajaran yang mendewasakan.

Kita berharap dari rotasi wacana melahirkan rasionalitas dan nasionalisme yang kokoh, bukan sekedar retorika. Seperti itu pula jika kita bertolak dari keiginan mewudkan ‘revolusi mental’, berarti kita bergerak untuk menciptakan. Mematerialkan ide tersebut, bukan mengarahkan dan menyesatkan ide itu pada ruang gelap ilusi.

Kita juga diyakini telah mengantongi sejumlah alasan untuk diajukan kedepan, gunanya apa? diantaranya adalah untuk memastikan dalam tiap proses demokrasi ada progres. Masyarakat secara keseluruhan menghendaki harus naik kelas, tidak boleh stagnan.

Dari orientasi itulah, diperlukan kesamaan persepsi dan tekad. Upaya konkritnya, tentu harus secara seriua kita melacak siapa musuh bersama, mengidentifikasi apa yang prioritas untuk dilakukan Negara. Tidak malah menghabiskan waktu pada perdebatan-perdebatan yang menguras energi, sampai-sampai waktu kita terbuang percuna dan kita terbelah.

Karena kita optimis betul demokrasi itu menjadi alat bagi masyarakat dalam mengaregasi kepentingan. Disini pula kita berekspektasi akan menemukan penyaluran kesejahteraan dan keadilan, ada kepastian kita dalam menggunakan sistem ini. Sehingga masyarakat tidak dibuat larut dalam arus perdebatan.

Iya, ‘revolusi itu menciptakan’. Bagaimana kita menciptakan kebersamaan, menciptakan peradaban demokrasi yang aman, setara dan adil. Meski sekarang sering bergeser interpretasi terhadap revolusi itu yang seolah disama dengan praktek makar.

Lucunya, masyarakat ‘dikondisikan’ dan ditarik ke ruang sempit. Terjadilah semacam teror psikologis sehingga mereka takut menggunakan frase dan ungkapan yang berbau revolusi. Karena bisa berdampak dituduh melakukan subversif, melanggar UU ITE, dan seterusnya. Akhirnya diskursus publik menjadi kaku dan kering dari kritik.

Yang dikehendaki revolusi itu menciptakan karya nyata, bukan menciptakan ketakutan. Menjadi ironi, bila makna revolusi dan penyampaian aspirasi direduksi menjadi ancaman. Situasi seperti ini harusnya dikoreksi secara total, jangan didiamkan apalagi dilestarikan sebagai tradisi agung.

 

————–
Manado, 3 Juni 2019

Hari ini Terakhir Bayar Pajak Kendaraan Bermotor

Pemberitahuan (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pelayanan pembayaran administrasi kendaraan bermotor akan menyesuaikan dengan cuti bersama libur lebaran, sehingga Jumat (31/05/2019) merupakan batas akhir pembayaran pajak. Hal ini disampaikan Kepala Badan Pendapatan Daerah Sulawesi Utara, Olvie Atteng kepada media ini.

Menurut Atteng, bagi masyarakat yang administrasi kendaraan bermotor pada saat cuti bersama dan libur lebaran, dapat melakukan pembayaran pada tanggal 10 Juni nanti. Dan pembayaran tersebut tidak dikenakan biaya tambahan akibat keterlambatan alias denda.

Bagi yang memiliki fasilitas dari Bank SulutGo, Atteng menegaskan bisa melakukan transaksi di anjungan tunai mandiri dan bukti pembayaran dapat ditukarkan pada saat pelayanan kembali di buka pekan kedua bulan Juni.(cat)

Sah, Pengurus HPMS Sulut Dilantik

Pengurus saat dilantik (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Jajaran pengurus Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) Cabang Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (27/4/2019) malam resmi dilantik. Pelantikan pengurus Cabang periode 2019 – 2020, dilaksanakan di Aula Mapalus kantor Gubernur Sulut.

Pelantikan ini adalah merupakan salah satu keabsahan struktural kepengurusan yang akan menjalankan amanah terkait agenda – agenda penting yang di putuskan lewat Konferensi Cabang HPMS Sulut yang ke – V pada satu bulan yang lalu.

Intan Sucianti Sangadji selaku Ketua panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa, kegiatan ini dapat berjalan karena hasil kerja keras dari seluruh teman-teman panitia dan para senior yang selalu mengawal serta para alumni dan sesepuh yang juga memberikan dorongan motifasi dan nasehat kepada para pengurus.

”Apabilah setelah teman-teman pengurus sekalian setelah dilantik bekerjalah bersungguh-sungguh dalam mengemban amanah yang telah diberikan kepada teman-teman pengurus sekalian,” kata Sangadj.

Ia menyentil hal tersebut selaras dengan teman yang diusung pengurus yaitu “HPMS Integritas”. Sementara itu, Ketua Umum HPMSA Cabang Sulawesi Utara Nizar A. Rachman, berarti tema yang diangkat harus bisa dimaknai sebagai patokan sesuai realitas kondisi pada hari ini, kalau kita berbicara terkait integritas berarti kita bicara terkait komitmen dan kerja keras.

Mahasiswa adalah agen perubahan yang dimana dapat menghadapi revolusi 4.0 (revolusi Industri). Tambah Nijar, bahwa seluruh anggo HPMS Cabang Sulawesi Utara bahwa setiap konsep dan rencana harus direalisasikan dalam internal HPMS yang mampu bersaing secara luas di daerah sendiri maupun secara nasional. Harapannya kader HPMS harus bisa dan mampu dalam mengawal dan meyikapi setiap problem yang ada.

Tan Nizar, mahasiswa FISIP UNSRAT Manado bahwa kegiatan yang juga dihadiri langsung oleh pemerintah daerah kabupaten kepulauan Sula oleh Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Sula, Zulfahri Abdullah Duwila, S.IK yang juga melantika langsung pengurus HPMS Cabang Sulawesi Utara Periode 2019 – 2020.

Dalam sambutannya menyampaikan bahwa, pengurus kedepannya agar dapat merealisasikan sistem penggodokan pada diri masing pengurus serta kepada seluruh anggota HPMS agar kedepannya seluruh kader HPMS bisa menjadi kader yang berintegritas. Tugas kita bersama, baik pemerintah daerah maupun adik-adik sekalian adalah untuk bisa melihat realitas pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula yang saat ini tetap berusaha keras untuk pembangun yang ada di daerah kita sendiri.

Foto bersama pengurus HPMS Sulut (FOTO Suluttoday.com)

”Semoga target pemerintah Sula dalam sisa waktu periode kami kurang lebi 2 tahun ke depan ini kami mampu untuk merealisasikan setiap program pemerintah yang telah dicanangkan, itu juga tidak terlepas dari support dan dukungan dari ade-ade sekalian baik yang ada di Manado maupun yang ada di daerah lain, karena Sula bukan hanya milik pemerintah Sula saja tapi Sula adalah milik kita semu,” ucap Wakil Bupati tegas.

Alumnus Fakultas Ilmu kelautan dan Perikanan Universitas Samratulangi Manado itu juga mengajak kader-kader HPMS agar giat belajar. Kegiatan ini juga di isi dengan tarian-tarian kebudayaan daerah kepulauan Sula, ada Tarian Potong Sagu dan Tarian Kreasi yang merupakan tarian yang di kreasikan langsung oleh anggota HPMS Cabang SULUT lewat sanggar seni GAMA SUA.

Kegiatan yang dihadiri kurang lebih 150 Orang langsung dari paguyuban Semaluku Utara dan beberapa paguyuban yang ada di Sulawesi Uatar serta organisasi Cipayung Plus. (*/Fan)

iklan1