Category: Nasional

Shalat Ied di Rumah, Ustad Mario Jadi Khatib dan Imam

Ustad Muhammad Mario Fahana Badaruddin menjadi Imam Shalat Id berjamaah di rumah (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah yang jatuh pada Minggu (24/5/2020) hari ini secara serempak di rayakan umat Islam dunia. Termasuk di Kota Manado, karena dalam situasi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) tentu pelaksanaan Shalat Id juga dilaksanakan sesuai anjuran pemerintah. Ustad Muhammad Mario Fahan Badaruddin, potret Ustad muda yang tawadhu jebolan pesantren ini memilih untuk Shalat berjamaah di rumah saja.

Berdasarkan pantauan Suluttoday.com, Ustad Mario, begitu Ustad muda ini akrab disapa sedang memimpin Shalat Idul Fitri 1441 H/2020 M sekaligus sebagai Khatib di rumah bersama keluarga besarnya. Tepat pukul 07.00 dimulainya Shalat Idul Fitri, kemudian melanjutkan sebagai khatbah dengan mengambil tema: ”Pentingnya bersyukur dan tetap menjalani ibadah setelah kita menjalani ibadah puasa”.

Ustad Mario dalam khutbahnya menjelaskan tentang ciri-ciri orang bertaqwa di jalan Allah. Ketika memimpin shalat, para jamaah dibuatnya tampak begitu khusyu’ mengikuti lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan irama atau gaya Imam Mekkah, Abdurrahman As Sudais. Materi khotbah yang dibawakannya juga menyinggung soal bagaimana seharusnya anak memperlakukan orang tuanya, baik ketika masih hidup maupun telah meninggal dunia, dan bahkan berbeda keyakinan atau agama sekalipun.

”Anak wajib menghormati dan memuliakan orang tuanya menurut ajaran Islam. Baik disaat orang tuanya masih hidup, maupun yang telah meninggal dunia,” kata Ustad Mario, Minggu (24/5/2020).

Ustad Mario saat menajdi Khatib Idul Fitri 1441 H (Foto Suluttoday.com)

Di hadapan jamaah Shalat Ied, yang juga adalah keluarga besarnya tampak mata mereka berkaca-kaca terharu. Untuk diketahui, Shalat Idul Fitri sebelumnya, tahun 1440 H/2019 M, Putra ke-3 pasangan almarhum Hi. Badaruddin La Runa dan Hj Lilis Suryani Damis ini memimpin shalat idul fitri di Lapangan Zipur TNI AD Teling, dan yang bertindak sebagai Khatib, Drs. H. Ulyas Taha, Mpd. Kemudian pada tahun yang sama, Shalat Idul Adha di Lapangan Sparta Tikala, ustadz Mario bertindak sebagai Imam dan DR. H. Abd Rasyid Gandong, MAg, Kakanwil Kemenag Provinsi Sulawesi Utara bertindak sebagai Khatib.

Lanjut Ustad Muda yang bersuara merdu ini, baru kali ini tak sempat memimpin Shalat Jum’at dan Tarawih satu kali pun di Masjid Raya Ahmad Yani selama bulan puasa karena kita sedang dilanda wabah pandemi Covid-19.

Jamaah yang melaksanakan Shalat Id berjamaah di rumah (Foto Suluttoday.com)

”Insha Allah Ibadah-ibadah Ramadhan tahun depan kita semua masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa melaksanakannya di masjid-masjid kampung masing-masing. Insha Allah kita bisa lagi memakmurkan masjid-masjid kita itu,” ujar Ustad Mario menjawab pertanyaan wartawan.

(*/Bung Amas)

BPD Toniku Sesali Sikap Kades Toniku Abaikan Kepentingan Masyarakat di Tengah Covid

Hasby Anggo (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Desa Toniku sesalkan sikap Pemerintah Desa Toniku dalam hal pengelolaan anggaran Desa yang terkesan tidak berpihak pada masyarakat di tengah Pandemi Covid-19.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua BPD Toniku M. Hasby Anggo pada Rabu (20/5/2020). Hasby menjelaskan bahwa indikator tidak berpihaknya pemerintah desa pada masyarakat dibuktikan dengan telah dicairkannya Dana Desa Tahap pertama 40%.

Namun digunakan untuk pembangunan Fisik pada dua Item kegiatan yaitu Pembangunan Selokan Air dan timbunan Taluk penahan banjir dan juga anggaran pembentukan posko gugus tugas sebesar 16 juta yang terkesan realisasinya tdk sampai angaka tersebut.

Hasby menyebutkan, 2 (dua) item kegiatan fisik tersebut memang termuat dalam APBdes namun pengesahan APBdes tersebut sudah berada ditengah gejolak Pandemi Covid-19 pada bulan April 2020

Menurutnya, Pemdes Toniku seharusnya merevisi anggaran tersebut untuk kepentingan penanganan Covid-19 sesuai Permendes Nomor 6 tahun 2020 dan surat Edaran menteri desa nomor 8 yang mengisyaratkan agar APBdes 2020 harus direvisi untuk kepentingan penanganan Covid-19 di desa

Aktivis muda vokal itu juga mengatakan, anggaran desa yang begitu besar berkisar 700juta lebih seharusnya digunakan untuk kepentingan Covid-19 baik itu pemberian BLT kepada masyarakat. Pengelolaan Posko Covid-19, maupun kegiatan pemberdayaan lainnya ditengah Pandemi Global ini sesuai dengan keinginan masyarakat banyak

“Bukannya direvisi untuk kepentingan masyarakat ditengah Covid-19, malah digunakan untuk kepentingan fisik yang terkesan mengejar keuntungan segelintir orang,” sesalnya

Selain itu, dirinya atas nama BPD juga sesali kepada pihak DPMPD Halbar yang terkesan tidak menghiraukan dan membiarkan dan tidak melakukan peneguran pada pihak pemdes Toniku

“Padahal kami sudah melakukan mediasi pemdes dalam rapat dengar pendapat beberapa waktu lalu dengan masyarakat, guna meminta kepastian pemdes dalam mengalokasikan BLT maupun kepentingan Penanganan Covid-19” tambahnya

Hal lain menurut Hasby juga sampai saat ini pihak Pemdes Toniku belum melakukan pendataan warga dalam penyaluran BLT maupun bantuan penanganan Covid-19 lainnya.

“Ini sudah keterlaluan,” keluh Hasby pada Suluttoday.com.

“Untuk itu kami meminta pihak Inspektorat maupun BPMPD Halbar untuk melakukan Sidak ke toniku dan melakukan evaluasi kinerja pada pihak Pemdes Toniku dan kalau tidak ditanggapi secara serius maka kami akan tindaklanjuti sampai ke ranah hukum sesuai dengan keinginan masyarakat” tutupnya.

(*/Rahmat)

Agama dan Perannya dalam Masa Pandemi Covid-19

Delmus Puneri Salim, S.Ag.,M.A.,M.Res.,Ph.D (Foto Istimewa)

Oleh : Delmus Puneri Salim, S.Ag.,M.A.,M.Res.,Ph.D, 
Rektor IAIN Manado

Tidaklah mudah mendefinisikan agama. Namun banyak orang sudah mencoba menjelaskannya dari berbagai sudut. Agama adalah pandangan hidup. Agama adalah system kepercayaan dan praktek keagamaan. Agama adalah kekuatan motivasi yang sangat kuat. Agama adalah kedamaian, keselamatan, dan ketundukan atau kepasrahan. Agama adalah pemberi harapan dan ancaman. Agama adalah sesuatu yang dipegang seseorang dalam kesendiriannya. Agama adalah petunjuk hati. Agama adalah sikap terhadap sang Maha Pencipta. Agama adalah kepercayaan terhadap kekuatan transendental. Agama adalah keluhan dan desahan dalam masyarakat. Agama adalah berbagai bentuk kegiatan simbolik yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Berbagai macam sudut pandang definisi agama ini kemudian memunculkan berbagai macam peran agama dalam masyarakat, diantaranya:

Agama memberikan visi masa depan. Agama melihat ke masa depan. Agama menawarkan visi masyarakat yang hendak dicapai. Visi yang bersumber dari ajaran agama ini menjadi panduan dalam kehidupan keseharian umat beragama baik secara individu maupun berkomunitas. Peran agama ini memberikan tantangan kepada umat beragama untuk berfikir, berimajinasi dan menciptakan masyarakat sesuai dengan visi agama yang dipahami.

Peran agama ini menunjukkan agama adalah masa kini, bukan masa lalu dan memberikan visi masa depan. Dalam peran ini, agama mendorong manusia untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan aturan dan norma agama yang diyakini. Agama mendorong umat beragama memperjuangkan kebaikan dan menghindari kemudharatan, termasuk menjadi pribadi yang bermoral, memusuhi ketidakadilan, dan mendorong nilai-nilai budaya yang hendak dicapai di masyarakat. Tidak ada yang sempurna di masyarakat nyata saat ini dan masyarakat yang sesuai visi agamalah yang selalu hendak dicapai. Hanya Sang Pencipta yang Sempurna.

Agama memberikan jalan menuju kebahagiaan. Peran agama adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada individu dan masyarakat dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Agama mengajarkan untuk bersyukur dan menerima kenyataan yang ada. Agama memberikan makna hidup kepada umat beragama untuk mengontrol pikiran dan nafsunya dalam mencapai sesuatu yang bisa saja mendatangkan penderitaan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Agama memberikan nilai-nilai pilosofis dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh dengan persoalan mendasar umat manusia yaitu penderitaan. Setiap umat manusia memiliki penderitaan baik bersifat materi maupun inmateri. Penderitaan yang bersumber dari kekurangan finansial, sandang dan pangan maupun penderitaan dari perasaan iri, dengki dan sakit hati. Agama mengajarkan umat beragama untuk tidak terjebak dalam perasaan kekurangan materi dan inmateri ini tetapi menfokuskan diri pada kesyukuran dan penerimaan situasi yang ada tanpa menafikan usaha yang boleh dilakukan.

Agama mengikat umat beragama kepada Sang Pencipta dan komunitasnya. Agama memberikan ikatan yang mengikat umat beragama dengan Tuhannya dan komunitasnya. Ini sesuai dengan asal usul kata agama yang berasal dari Bahasa Latin yang berarti untuk mengikat. Kata yang juga bisa digunakan dokter untuk mengikat atau menjahit luka. Agama menawarkan sikap dan prilaku yang menyatukan umat beragama dengan Tuhannya. Agama mendorong umat beragama untuk selalu mengikat diri dengan Tuhannya dan komunitasnya dalam kesehariaanya.

Namun demikian, peran agama di atas tidaklah mudah untuk diwujudkan. Umat beragama memiliki polarisasi dalam orientasi beragama. Orientasi duniawi dan orientasi akhirat. Beragama dengan orientasi dunia berarti umat beragama melakukan aktifitas keagamaan memprioritaskan kemaslahatan dunia terlebih dahulu tanpa menafikan kemaslahatan akhirat. Beragama dengan orientasi akhirat adalah umat beragama mengutamakan kebahagiaan akhirat dalam aktifitas keagamaan terlebih dahulu dengan menomorduakan kemaslahatan dunia. Mereka yang ekstrem dengan orientasi dunia dalam beragama akan cenderung mengedepankan agama yang substansial dan esensial ketimbang agama syar’I atau formalitas. Mereka yang ekstrem dengan orientasi akhirat dalam beragama bisa saja menjadi teroris dengan melakukan bom bunuh diri dalam mencapai kebahagiaan akhirat.

Dalam masa pandemi covid-19 ini, orientasi umat beragama juga bisa terpolarisasi seperti di atas. Mereka yang lebih mengutamakan keselamatan dunia sebagai titik focus utama akan memiliki pandangan untuk berusaha semaksimal mungkin dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan melakukan aktifitas keagamaan di rumah. Hal ini dilakukan dalam mengantisipasi kemungkinan penyebaran covid-19 dari kerumunan masa di rumah ibadah. Sedangkan mereka yang berorientasi akhirat bisa saja memiliki pandangan bahwa segala macam penyakit bersumber dari Sang Maha Pencipta yang bisa didapat dimana saja, meski sudah berusaha menghindarinya. Jika suatu virus sudah ditetapkan oleh Yang Maha Esa sebagai sumber penyakit seseorang yang menimbulkan kematiannya, maka itulah ketentuan Sang Maha Pencipta yang tidak bisa dirubah karena semua orang akan menemui ajalnya.

Peran agama dan orientasi beragama ini diperumit dengan beragamnya otoritas keagamaan di masyarakat. Apakah aktifitas keagamaan dan mekanisme pelaksanaannya ditetapkan oleh lembaga keagamaan tertentu, organisasi masyarakat keagamaan tertentu, pemerintah pusat atau daerah, pengurus rumah ibadah, tokoh agama atau individu masing-masing? Pelaku terorisme bisa saja mendapatkan perintah dari kelompok ektremis melalui media tertentu untuk melakukan bom bunuh diri. Pengikut Islam substansial bisa saja tidak melaksanakan ibadah formal dari berbagai pemikiran kelompok liberal agama.

Kita bisa belajar dari suksesnya pelaksanaan program Keluarga Berencana di masa lalu. Kerjasama semua pihak; pemerintah, lembaga agama, organisasi masyarakat keagamaan, dan tokoh agama dalam mensosialisasikan program keluarga berancana telah berhasil mengurangi melonjaknya jumlah penduduk pada saat itu.

Apakah anjuran untuk beribadah di rumah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia akan berhasil atau tidak sangat tergantung dari Kerjasama semua pihak: pemerintah, lembaga agama, organisasi kemasyarakatan keagamaan, dan tokoh-tokoh agama dalam mensosialisasikan anjuran tersebut. Jika masih ada dari pihak-pihak tersebut yang masih memberikan peluang untuk tidak mengikuti anjuran untuk beribadah di rumah maka kesuksesan pemutusan rantai penyebaran Covid-19 akan berkurang.

Meskipun indicator utamanya adalah sangat tergantung dari tinggi atau rendahnya kluster penyebaran virus corona dari kegiatan keagamaan atau dari rumah ibadah ke depan. Sebelumnya, penyebaran virus corona dari kluster kegiatan keagamaan dan rumah ibadah adalah kluster Gowa, Pastor Meetings di Bandung, Umroh, Asrama Bethel, Masjid di Sunter, dan lain-lain. Kita semua berharap agama berperan penting dalam pemutusan mata rantai peyebaran Covid-19 bukan sebaliknya. [**]

Lembaga Dakwah SII Sulut Keluarkan Himbuan Terkait Shalat Idul Fitri

H. Abd Aziz Tegela (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Melalui rilis yang diterima media ini, Kamis (21/5/2020), Lembaga Dakwah Syarikat Islam Indonesia (LD-SII) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengeluarkan himbauan berkaitan dengan pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1441 Hijriah dalam menghadapi Corona Virus (Covid-19). Melalui Surat Nomor: B11/LDSII-SULUT/V/2020 disampaikan Taufik Adam, SE.

Mengacu pada surat Edaran DPP Syarikat Islam Indonesia Lajnah Tanfiziyah Nomor : 0184/ LT/ DPP/ SI.Indonesia/ XXXVIII/SE/03/2020 tentang Ikhtiar dan Daya Upaya Kaum SII Dalam Mencegah dan Memutus Mata Rantai Penyebaran Wabah (Covid-19) dan mengacu pada Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Utara Nomor 58/MUI-SULUT/V/2020 tentang pelaksanaan ibadah sholat idul fitri 1441 H dalam situasi wabah covid-19.

”Maka dengan itu, untuk melaksanakan surat edaran DPP SII dan Himbauan MUI Sulut, Lembaga Dakwah Syarikat Islam Indonesia Sulawesi Utara menghimbauan kepada warga kaum Syarikat Islam Indonesia dan DPC SII Se-Sulawesi Utara khususnya dan Ummat Islam secara umum, untuk senantiasa bersama sama memperhatikan hal sebagai berikut,” kata H. Abd Aziz Tegela seperti yang dijelaskan dalam rilis tersebut.

1. Pelaksanaan Sholat Idul Fitri hukumnya Sunnah Muakkad.

2. Pelasanaan Sholat Idul Fitri dapat dilaksanakan secara sendiri sindiri, berjamaah di rumah ataupun di lapangan terbuka masjid dan mushallah dengan mempertimbangkan tingkat kerawanan dan keamanan penyebaran Covid-19 setelah berkoordinasi dengan pihak pemerintah daerah dan petugas kesehatan setempat.

3. Pelaksanaan Sholat idul fitri 1 Syawal 1441 H dapat di lakukan secara berjamaah di lapangan terbuka dan di masjid adalah di kawasan yang di anggap terkendali penyebaran covid-19 serta meyakini tidak terdapat penularannya (Seperti di kawasan pedesaan, perumahan yang homogeny, tidak ada yang terkena covid-19) 4. Sholat idul Fitri, baik di Masjid, di lapangan maupun dirumah harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dan mencegah terjadinya potensi penularan, antara lain memperdek bacaan dalam sholat, dan memperpendek isi khutbah.

5. Shalat idul fitri berjamaah di Masjid, Mushala dan di Lapangan dapat dilakukan dengan syarat ketentuan, yaitu Masjid, Musholla dan lapangan terbuka tidak berada di kawasan pandemic Covid-19, setiap Jamaah wajib memakai Masker ketika sholat id berjamaah, tersedia cukup air bersih dan mengalir, cairan disinfektan, hand sanitizer, sabun dan tisu bagi jamaah.

Masjid dan Mushala senantiasa dibersihkan dan disemprot disinfektan sebelum dan setelah shalat berjamaah, meliputi karpet, lantai, kamar kecil dan tempat wudhu meskipun dengan peralatan tradisional dan sederhana. Berjamaah hanya dapat diikuti oleh orang yang nyata-nyata sehat, sementara yang sakit sekalipun bukan terinfeksi Covid-19 sebaiknya beribadah di rumah. Apabila dipandang darurat, pelaksanaan sholat idul fitri dapat dilaksanakan di rumah bersama keluarga inti.

6. Lebih mendekatkan diri “taqarrub” kepada Allah dengan meningkatkan keimanan, ketauhidan dan ketakwaan, serta menyempurnakan pelaksanaan syariat sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari, misalnya mengikuti cara-cara dan doa Rasulullah dalam shalat, wudhu, makan, minum, berpakaian dan sebagainya. 7. Adapun tatacara Sholat Idul Fitri di rumah dapat mengacu pada fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 28 thn 2020 tangggal 20 Ramadhan 1441 H/13 Mei 2020 tentang panduan Kaifiat Takbir dan Sholat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19.

8. Jika terjadi keresahan di tengah tengah warga kaum Syarikat Islam Indonesia khususnya dan umumnya ummat islam dapat bersikap lebih arif dan bijaksana dalam menghadpi situasi dan kondisi covid-19 dengan selalu berkoordinasi dengan pihak pemerintah. 9. Jika kegiatam kegiatam di atas di laksanakan tetap memperhatikan protokol kesehatan covid-19 (menjaga Jarak, serta wajib memakai masker dan tidak berjabat tangan setelah melaksanakan sholat idul fitri).

Demikian himbauan ini di sampaikan untuk menjadi perhatian dan pelaksanaan sebagaimana mestinya. Semoga kita semua mendaptkan perlindungan dan pertolongan Allah SWT dan memperoleh hikmah atas ujian dari-NYA.

Himbauan yang juga ditandatangani, Kamis 21 Mei 2020 oleh Ketua LD-SII Sulawesi Utara, Taufik Adam, SE itu diperkuat dengan tandatangan atas nama Dewan Pimpinan Syarikat Islam Indonesia (SII) Sulawesi Utara, mengetahui H. Abd Aziz Tegela, MM dan Sekretaris, H. Sulaiman Ladiku, S.Ag.

(*/Bung Amas)

Kepala BP2MI: Perkuat Satgas, Kerja Sama dan Pola Operasi Melawan Sindikasi

Benny Rhamdani, Kepala BP2MI (Foto Istimewa)

JAKARTA, Suluttoday.com – Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani, Selasa (19/5/2020) memimpin rapat melalui video conference (Vidcon) dengan 23 Unit Pelayanan Teknis (UPT) BP2MI seluruh Indonesia. Rapat media daring yang dilaksanakan pukul 18.80 waktu Jakarta itu berjalan lancar, Benny menegaskan kepada jajarannya agar terus intens melakukan edukasi pada masyarakat dan rencana membentuk Satuan Tugas (Satgas) serta kerja sama.

‘’Kemudian kita juga melakukan edukasi kepada masyarakat. Semangat ini harus terus digenjot. Lalu kita membentuk Satgas, itu pasti. Karena tanggung jawab sepenuhnya atas perang melawan sindikasi adalah Satgas. Kerja sama (Mou) dengan Kementerian (Lembaga) akan kita lakukan, ditentukan kemudian. Polri, TNI, Kumham, Imigrasi, BIN, Pemerintah Daerah dan masyarakat sipil untuk melawan sindikasi penjualan manusia terhadap manusia secara illegal,’’ kata Benny, yang juga mantan anggota DPRD Provinsi Sulwesi Utara  (Sulut) dua periode itu.

Politisi yang mengawali karirnya dari daerah Bolaang Mongondouw Raya (BMR) Provinsi Sulawesi Utara tidak segan-segan mengajak perang terhadap praktek penjajahan gaya baru yang dilakukan untuk memperbudak anak bangsa sendiri. Memerangi Sindikasi merupakan perjuangan mulia, tanpa mentolerir, meski sekalipun pelakunya ada di dalam pemerintahan sendiri.

‘’Sebagai yang mengeksploitasi rakyat, melakukan perbudakan modern, maka itulah lawan kita. Dukungan semua pihak, Bapak dan Ibu BP2MI di daerah agar sama-sama kita bekerja serius dan kompak. Saya tak main-main dalam urusan ini. Mereka para bandit, para penghianat Republik, para penghianat Merah Putih, sekali pun hari ini mereka menggunakan atribusi kekauasaan, akan kita lawan. Meski berada di rumah kita sendiri, tak ada toleransi, saya mengambil sanksi tegas,’’ ujar Benny, sambil menitikberatkan pada kerja bersama, Benny mengaku tak akan mampu berbuat banyak jika bekerja sendiri tanpa ditopang jajarannya.

BP2MI juga, tambah Benny akan menyurat kepada para Bupati/Wali Kota se-Indonesia untuk mewujudkan sinergitas dalam tugas dimaksud. Selain itu, Kepala Badan menyentil perusahaan brengsek yang sering kali bermain dalam urusan Sindikasi. Yang tidak taat terhadap aturan-aturan yang berlaku. Benny berharap semua pihak bisa menyongsong perubahan di BP2MI.

‘’Nah, saya juga akan menyurat ke suluruh Bupati dan Wali Kota seluruh Indonesia untuk bisa bersinergi kita perangi Sindikasi. Selanjutnya, saya minta para pekerja Migran Indonesia (PMI) kita lindungi, jangan sampai ada kekuatan yang mengeksploitasi mereka. Pekerja-Pekerja kita punya kompetensi, apalagi diperkuat dengan pelatihan-pelatihan. Yang menolak pembebasan pembiayaan penempatan ini pasti perusahaan-perusahaan brengsek, yang model operadandinya Bapak/Ibu pasti tau. Kita berantas monopoli pembodohan terstruktur yang dilakukan,’’ tutur Benny, politisi Partai Hanura ini tegas.

Dalam Vidcon yang berakhir pukul 23.00 WIB itu, jebolan Aktivis ’98 ini menyebut telah mengetahui praktek-praktek buruk yang harus diselamatkan. PMI menurutnya adalah anak-anak bangsa, Benny mengajak jajarannya jangan takut dengan para perusahaan brengsek yang melakukan tindakan standar ganda. Benny mengajak seluruh jajarannya di Indonesia untuk taat dan patuh terhadap Pasal 30 dalam Undang-Undang 18 Tahun 2017, tentang Perlindungan Pekerja Migrasi Indonesia, yang lebih spesifik berkaitan dengan tidak adanya pembebanan penempatan terhadap PMI.

(*/Bung Amas)

iklan1