Category: Nasional

Pembina Kawasan Transmigrasi Sulut Terbaik Tingkat Nasional

Rony Achmad (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Rony Achmad sosok pekerja keras dan merupakan pembina kawasan transmigrasi di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur belum lama ini dinobatkan Pemerintah Republik Indonesia sebagai yang terbaik tingkat nasional.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Utara, Erny B Tumundo kepada media ini Minggu (18/08/2019).

“Belum lama ini, Kementerian Desa menyerahkan penghargaan kepada pembina kawasan transmigrasi, dan utusan dari Sulawesi Utara, Rony Achmad  mendapat juara kedua tingkat nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut Tumundo menegaskan bahwa Achmad yang bekerja sebagai pembina kawasan transmigrasi di Motongkat Bolaang Mongondow Timur telah menerapkan  program terbaik seperti yang diterapkan Pemerintah Sulawesi Utara yaitu Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan sampai ke daerah pelosok.

Tumundo mengharapkan apa yang telah diraih Rony Achmad dapat memotivasi pembina-pembina kawasan transmigrasi yang ada di Sulawesi Utara.(cat)

Sarjana Pertanian Ditantang Majukan Pertanian Daerah

Kepala Distanak Sulut saat memberikan sambutan (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Fenomena yang tengah dihadapi Sulawesi Utara adalah luasnya lahan pertanian namun sumber daya manusia yang telah menimba ilmu pertanian bertahun-tahun hanya segelintir yang menggeluti sektor tersebut.

Untuk itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara, Novly Wowiling yang mewakili Gubernur Sulut, Olly Dondokambey Kamis (15/08/2019) di aula Mapalus menantang 44 sarjana pertanian yang baru dikukuhkan bersama dengan pemerintah memajukan sektor pertanian.

Dijelaskan Wowiling bahwa mayoritas lahan yang ada di daerah ini adalah lahan tidur yang sangat membutuhkan kontribusi dari sarjana-sarjana pertanian. Memang diakui oleh Dekan Fakultas Pertanian Unsrat, Prof DR Ir Robert Molenaar bahwa sarjana-sarjana pertanian mampu bekerja di segala bidang.

Lebih lanjut Wowiling mengatasnamakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memberikan apresiasi atas dedikasi civitas akademika Fakultas Pertanian Unsrat yang telah mempersiapkan generasi penerus bangsa yang siap menanggulangi masalah pengangguran dan kemiskinan serta mendukung peningkatan ekonomi dan ketahanan pangan. Sejauh ini, Fakultas Pertanian Unsrat Manado telah menghasilkan 5.396 sarjana yang telah berkontribusi bagi pembangunan bangsa terutama daerah.

Dalam acara pelepasan wisudawan baru juga dilaksanakan penyerahan daftar alumni baru kepada Ikatan Alumni Faperta yang diwakili oleh Ketua Harian, Prof Ir Max Tulung serta penyerahan tanda kasih kepada orangtua sarjana baru.(cat)

Optimalisasi Pendapatan, Gubernur Sulut MoU dengan BPH MIGAS

Gubernur Sulut tandatangani kesepakatan demi peningkatan PAD (FOTO Ist)

MAKASSAR, Suluttoday.com – Pemerintah Sulawesi Utara melakukan optimaliisasi dari sektor Pajak Daerah khususnya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Salah satunya adalah penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) antara BPH MIGAS dan Pemerintah Provinsi Sulut dan MoU antara Pertamina MOR VII dan Pemprov Sulut, di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (13/8/2019).

Penandatanganan MoU tersebut dilakukan langsung oleh Gubernur Sulut, Olly Dondokambey, SE dan disaksikan oleh Wakil Ketua KPK RI, Alexander Marwata.  Diharapkan dengan MoU ini mampu mendongkrak pertumbuhan penerimaan Pajak Bahan Bakar di Wilayah Sulawesi secara keseluruhan dan Sulawesi Utara pada khususnya.

Seperti diketahui bahwa Pajak Bahan bakar adalah pajak yang memberikan kontribusi ketiga terbesar setalah PKB dan BBNKB. Menurut Kepala Bapenda Sulawesi Utara, Olvie Atteng SE MSi yang turut mendampingi Gubernur Sulut bahwa kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kegiatan tersebut adalah tindak lanjut dari rencana aksi pencegahan korupsi, sehingga Optimalisasi Pendapatan Daerah dari sumber pendapatan pajak BPH MIGAS dan PT Pertamina dapat berjalan lancar sehingga memberi kontribusi dalam optimalisasi PAD di daerah.(cat)

ERA KOLABORASI

Jusuf Sunya (FOTO Suluttoday.com)

Oleh : Jusuf Sunya

(Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Ternate)

Di Tahun 1960-an, John F. Kennedy menyatakan, “kepemimpian dan pembelajaran saling memerlukan satu sama lain”. Kennedy adalah presiden Amerika ke-35 dan berkuasa pada tahun 1961, kemudian dibunuh di Dallas, Texas 22 November 1963. Dia tipologi pemimpin dengan slogan yang membangkitkan spirit revolusioner, “Jangan tanya apa yang diberikan negara padamu, tapi tanyakan apa yang kau berikan buat negaramu”. Jauh sebelumnya ungkapan ini aslinya disampaikan oleh Marcus Tullius Cicero, seorang tokoh Romawi kuno kelahiran Italia 3 Januari 106 SM yang kemudian mati terbunuh juga pada 7 Desember 43 SM.

Masa hidup antara Cicero dan Kennedy sangat jauh. Mereka berdua adalah pemimpin pada zamannya. Spirit kepemimpinan mereka menjadi cikal perubahan dan perkembangan dunia saat ini. Dunia berubah dan berkembang sejalan dengan lompatan-lompatan teknologi, jauh meninggalkan pertarungan ideologi. Teknologi melahirkan perubahan fisik dan berkembang pesat – sementara ideologi adalah matra dinamis tetapi statis sifatnya. Karenanya Peter F. Drucker, mengungkapkan, “kepemimpinan bukan soal pidato yang membuat kita disukai – kepemimpinan adalah soal mencapai hasil”.

Makna utama kepemimpinan itu bukan hanya sekedar unsur genetik seseorang, tapi kepemimpinan itu adalah kemampuan mengelolah dan mengelaborasi. Seorang pemimpin akan sepi tanpa karya, akan monoton tanpa ide dan gagasan. Kepemimpinan adalah value, menjadikan karya sebagai hasil bersama. Kepemimpinan adalah inovasi. Saat ini inovasi menjadi beragam tema diskusi. Inovasi menjadi kata kunci dalam menuju peningkatan daya saing di era ini.

Hadirnya keberagaman media literacy turut memberikan nuansa pengetahuan dan wawasan bagi pemangku kepentingan dalam memahami seperti apa Making Indonesia 4.0 atau yang dikenal sebagai pintu masuk bangsa Indonesian dalam menyongsong revolusi industri 4.0. Tentunya ini sebuah optimisme anak bangsa dalam menghadapi perubahan global dan lingkungan strategis (lingstra) tetapi tidak sekedar kecakapan dan kompetensi SDM, tetapi bagaimana meningkat daya saing dan kolaborasi.

Tujuan dari akselerasi pembangunan di zaman digital ini, diorientasikan pada kualifikasi sumber daya yang kompetetif dan inovatif. Untuk menjawab berbagai persoalan bangsa, yang setiap saat bergerak cepat dan selalu berubah – tentunya dibutuhkan lompatan-lompatan teknologi dan elaborasi gagasan anak bangsa. Tidak dinafikan bahwa kehadiran artificial intelligent (kecerdasan buatan), cryptocurrency (mata uang digital), ataupun teknologi seperti fish finder (pendeteksi sebaran ikan di laut), adalah lompatan revulusionalisasi teknologi penanda era digitalisasi yang serba cepat.

Tidaklah berlebihan bila kita perlu mendiagnosa secara spesifik apa tantangan kedepan bangsa ini dalam mengelola bonus demografi 2025 yang dihadapi nanti. Jika tidak terkelola, maka penganggguran akan menjadi bom waktu. Sebuah fakta nyata, dimana derasnya tenaga kerja asing (TKA) yang un-skill pun sudah merajalela, atas nama pembangunan infrastruktur dengan pintu masuk melalui Peraturan Presiden nomor 20 tahun 2018 tentang penggunaan tenaga kerja asing. Sebuah ironi sekaligus tantangan.

Membaca Perubahan

Derasnya perubahan yang nyata didepan kita bukan hanya dilevel global dan nasional, tetapi dilevel lokal (daerah). Para kepala daerah, bahkan calon kepala daerahpun sudah merancang dan berperang gagasan tentang jelajah gelombang ketiga internet melalui smart city, biochip dan internet of things. Sebuah inovasi yang dihadirkan untuk menjual ide dan gagasan demi keberlangsungan. Bertahan untuk hidup atau kalah dalam pertarungan. Sebagai saksi dari perubahan, kita melihat Nokia rontok dihantam smartphone.

Sebagai incumbent – pemain lama, Nokia hanya nama. Kata Stephen Elop (mantan CEO Nokia), “kami tidak melakukan kesalahan apapun, tiba-tiba kami kalah dan punah”. Jika kita membaca Disruption (2018), dari Rhenald Kasali, bahwa menghadapi perubahan tidak sekedar memiliki motivasi saja tetapi harus diikuti dengan dengan inovasi dan kreativitas. Dalam keseharian kita, disrupsi ini menjalar. Facebook misalnya, adalah perusahaan penyedia media terhebat tetapi tidak pernah membuat content, Instragram sebagai perusahaan foto yang paling top tetapi tidak pernah menjual kamera.

Alibaba perusahaan retail raksasa tetapi tidakm memiliki penyimpanan. Uber dan Grab misalnya, sebagai saat ini berkembang sebagai perusahaan taxi tetapi tidak mempunyai armada taxi. Airbnb, perusahaan penyedia akomodasi terbesar tapi tidak punya property; atau Netflix, perusahaan jaringan televis dengan pertumbuhan terbesar tetapi tidak memiliki kabel. Begitu juga kita melihat Traveloka, dengan kemampuan digital mampu merontokan agen-agen travel.

Apa pelajaran penting dari hal diatas. Bahwa inovasi menjadi kunci. Tidaklah berlebihan bila Theodore Levitt, menyatakan, creativity is thinking up new things, innovation is doing new things – kreativitas memikirkan sesuatu yang baru, sedangkan inovasi adalah melakukan sesuatu hal baru. Karena itu seorang pemimpin harus mampu membuat sesuatu menjadi baru, unik atau berpikir kreatif yaitu out of the box, sehingga selalu memberi nilai tambah.

Dibutuhkan Pemimpin Kolaboratif

Bukan sesuatu yang asing dimasyarakat saat ini, bahwa kehidupan mereka sudah terkoneksi dengan digitalisasi. Dari media sosial hingga jejaring akses internet sudah menjadi domain kehidupan dan interaksi sosial masyarakat. Perubahan pola hidup dari human to human, sudah bergeser ke kehidupan berbasis wall to wall atau machine to machine, sebagai sebuah kebudyaan masyarakat baru yaitu hyper-koneksi. Artinya sistem masyarakat kita sudah mengalami transformasi pola hidup yang berbeda dengan sebelumnya.

Dengan realitas tersebut, maka diperlukan pemimpin yang bisa hadir dan mampu mengadopsi pola kepemimpian yang merangkul orang-orang berbakat di luar organisasi. Pemimpin yang memiliki kompetensi yang mampu menggabungkan orang dari berbagai latar belakang, disiplin ilmu, budaya dan generasi. Di era ini dibutuhkan pemimpin yang memiliki semangat untuk menyelami kehidupan komunitas masyarakat dengan tidak terlalu formal, mampu bergerak cepat keseluruh lapisan organisasi berbasis jaringan, serta mendorong partisipasi untuk meningkatan potensi dan mampu mengelaborasi keadaan masyarakat.

Tentunya bahwa sebagian masyarakat terutama kaum muda, khususnya generasi millenilal, mengharapkan pemimpin mereka dapat berkomunikasi baik dengan kelompok masyarakat lain melalui jejaring digital. Pemimpin kolaboratif adalah pemimpin yang memahami dan memposisikan peran dan kepentingan bersama. Kolaborasi menjadi kunci kepemimpinan kedepan. Pemimpin yang bisa menggerakan masyarakat dengan nilai yang kuat dengan melibatkan semua elemen.

Pemimpin yang menginspirasi banyak orang. Karena itu penting, seorang pemimpin harus mampu mengolabrasi semua titik potensi yang ada. Kolaborasi adalah komitmen untuk berjuang bersama, menyusun platform bersama dengan karya baru serta mampu menghasilkan inovasi baru. Ini pola kepemimpinan millenial abad ini, menyambut masa depan perubahan yang lebih baik. Semoga ke depan kita lebih siap menghadapi masa depan. [***]

Demi Masa Depan, Pencaker Bawa Anak Ikut Job Fair

Pencaker nekad bawa anak (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Demi meningkatkan kesejahteraan dan masa depan, seorang pencari kerja (pencaker) nekad membawa sang buah hati ke lokasi job fair di salah satu hotel di pusat kota Manado.

“Nda ada jaga terpaksa bawa jo,” ujar pencaker yang berdomisili di wilayah Kabupaten Minahasa Utara kepada media ini Jumat (09/08/2019) siang.

Bahkan pencaker berusia 29 tahun ini berani menitipkan sang anak perempuan berusia 2 tahun  ke pencari kerja lain saat melakukan wawancara dengan perusahaan. Terpantau media ini pada pelaksanaan Pameran Bursa Kerja yang dihelat oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI di Kota Manado selama 2 hari berhasil menyerap 828 pencaker.

Dan uniknya, mayoritas pencaker yang hadir adalah kaum hawa, terdata ada 507 orang perempuan yang berjibaku mencari kerja. Timbul Pangabean,  mewakili Direktur Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri Kemnaker RI sangat antusias melihat niat masyarakat Sulut untuk bekerja. Pangabean berharap melalui kegiatan yang dihelat di Manado dapat menunjang proses pengurangan pengangguran yang di targetkan 4 persen di tahun 2020.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Utara, Erny Tumundo yang berharap para pencaker tersebut bisa terserap dan mengisi lowongan pekerjaan yang disiapkan oleh puluhan perusahaan yang ikut dalam pelaksanaan kegiatan, sehingga tujuan utama dari program Olly Dondokambey-Steven Kandouw mengurangi kemiskinan dengan pengurangan pengangguran dapat tercapai.(cat)

iklan1