Category: Nasional

Kunker di Rutan Manado, Senator Djafar Juga Serahkan Bantuan

Rombongan Komte I DPD RI saat diterima Kakanwil Kemenkumhan Sulut (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Bergerak merespon dan bahkan turun langsung mengunjungi masyarakat, Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Selasa (4/8/2020), melalui Wakil Ketua Komite I DPD RI, Ir. H. Djafar Alkatiri, MM.,M.PdI melakukan kunjungan kerja di Kota Manado. Senator Djafar hendak memastikan pelayanan, fasilitas dan sistem yang dijalankan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA dan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Malendeng Manado berjalan lancar ataukan masih penuh masalah.

Senator Daerah Pemilihan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini saat diwawancarai menyampaikan sasaran Kunjungan Kerja (Kunker) terutama terkait pelayanan Rutan di tengah pencegahan penularan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Menurut Djafar hasil dialog yang dirampungkannya dalam catatan notulensi memuat beberapa hal penting, terutama fasilitas Rutan yang perlu juga mendapat perhatian.

Berlangsungnya dialog bersama Wakil Ketua Komite I DPD RI, Djafar Alkatiri( Foto Suluttoday.com)

‘’Saya juga akan mendorong  pembangunan dan renovasi ruangan yang terbakar di lapas II A akibat kerusuhan yang lalu untuk menjadi prioritas bagi Kementrian Hukum dan Ham. Kunker dari DPD RI ini hendak memastikan kalau Rutan Malendeng Kota Manado dalam pelayanan di era pandemi COVID-19 sedang berjalan sesuai aturan. Proses berdialog dengan pihak Rutan berjalan lancar dan didampingi Kakanwil Kemenkumhan Provinsi Sulut Lumaksono, S.H., M.H, Kadiv Pemasyarakatan Bambang bersama jajarannya dan kita menemukan ada hal-hal soal layanan yang perlu terus diperkuat,’’ kata Senator Djafar yang juga mantan Anggota DPRD Provinsi Sulut ini.

Senator Djafar saat diterima dalam kunker di Lapas (Foto Suluttoday.com)

Selain itu, Kunker Wakil Ketua Komite I DPD RI dalam rangka pengawasan Dampak COVID-19 ini mendapat sambutan luar biasa. Turut mendampingi Senator Djafar adalah Kakanwil Kemenkumhan Provinsi Sulut Lumaksono, S.H., M.H, Kadiv Pemasyarakatan Bambang. Kemudian, saat mengunjungi Lapas kelas IIA Manado, Senator Djafar diterima Kalapas Amry dan Rutan Malendeng oleh Plt. Rutan Malendeng Sonny T.

Suasana penyerahan bantuan dari Senator Djafar Alkatiri (Foto Suluttoday.com)

Kunker Senator sekaligus dialog dengan warga binaan dan meninjau fasilitas Rutan tersebut berjalan lancar sesuai rencana. Pada akhir Kunjungan, Senator Djafar menyerahkan bantuan Motor Sampah masing-masing untuk warga Rutan Malendeng. Untuk Rumah Ibadah Masjid dan Gereja Masing-masing 5 juta serta tali asih untuk warga Binaan di Rutan Malendeng.

‘’Alhamdulillah kami juga menyerahkan kendaraan Motor Sampah kepada pihak Lapas dan juga Rutan di Manado. Mereka dengan penuh keakraban dan gembira menyambut kedatangan, saya melihat berbagai pelayanan sudah cukup baik. Tapi, tetap saya dorong untuk terus memperhatikan pelayanan yang prima dan manusiawi. Mantapkan terus pelayanan. Komite I DPD RI juga menyerahkan bantuan ke Rumah Ibadah berupa uang tunai ke Masjid dan Gereja, sekaligus tali asih untuk warga Binaan. Semoga bermanfaat, dapat membantu meraka,’’ ujar Senator Djafar.

Pembagian tali asih dari Senator Djafar (Foto Suluttoday.com)

Tak hanya itu, Senator Djafar menambahkan kalau dirinya mengambil posisi di depan untuk mendorong terlahirnya ruang kerja sama yang sinergis antara peran Lapas dan pemerintah daerah. Dalam evaluasinya, hal itu perlu diwujudkan agar layanan di Lapas berjalan tertib, sinergis dan saling menunjang.

‘’Kami juga sedang mencari formula kerja sama antara lembaga pemasyarakatan dengan pemerintah daerah untuk meningkatkan kemampuan Lapas dalam pembinaan dan sarana penunjang di Lapas serta rutan. Sehingga pembangunannya berjalan integral,’’ tutur Djafar menutup.

(*/Bung Amas)

Peduli Tanpa Batas, MOR-HJP Salurkan Bantuan untuk Warga NTT Sulut

Mor saat bersama warga NTT Sulut (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Terus melakukan safari membantu masyarakat di tengah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), calon Walikota Manado, Mor Dominus Bastiaan dan calon Wakil Wali Kota, Hanny Joost Pajouw, Sabtu (1/8/2020) memberi bantuan kepada masyarakat.

Kepedulian bagi masyarakat yang sangat terdampak di tengah pandemi COVID-19 intens dilakukan. Selain itu, komitmen untuk membantu semua elemen masyarakat dibuktikan dimana Mor menyerahkan secara langsung Bantuan kepada mahasiswa Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ada di Kota Manado.

Calon Wali Kota yang saat ini menjabat Wakil Wali Kota Manado ini, membawa sumbangan pribadi darinya dan Hanny Joost Pajouw kepada para mahasiswa asal NTT tersebut.

“Kami (Mor-HJP) beharap bantuan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman mahasiswa. Dan mereka juga tetap semangat dalam menuntut ilmu di Manado yang kita cintai ini,” kata Mor.

Pimpinan dan anggota Ikatan Keluarga Besar (IKB) NTT Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), melalui Simon Gesimaking, selaku Ketua Umum IKB NTT Provinsi Sulut menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Mor D Bastiaan dan berharap figur ramah dan merakyat ini dalam tugas dan tanggung jawabnya kedepan.

Penyerahan bantuan dilakukan Mor (Foto Istimewa)

“Saya mewakili seluruh anggota dan pengurus Ikatan Keluarga Besar (IKB) NTT Provinsi Sulawesi Utara menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Mor Dominus Bastiaan (MDB) atas kepeduliannya menyalurkan bantuan sumbangan pribadi berupa beras kepada ade-ade kami mahasiswa perantauan asal NTT di Kota Manado. Bantuan yang diberikan sangat bermanfaat di tengah pandemi Covid-19. Semoga Tuhan memberkati Pak Mor sekeluarga dalam tugas dan perjuangan,” ucap Simon.

(*/Bung Amas)

SOSIOLOGI KORBAN

Hakikat korban, ilustrasi (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Dalam bahasa Ibrani ‘korban’ memiliki persamaan dalam makna dengan ‘sacrifice’ sebagai tradisi yang memiliki akar kebudayaan ritual. Kata ini kelak diambil alih dalam tradisi religi Islam sebagai ajakan untuk berkorban (wanhar).

Dalam disiplin sosiologi kebudayaan, sosiolog Peter L. Berger (1929-2017) memberikan tafsir aktual bahwa tradisi berkorban (sacrifice) telah beralih dari ritual suci religi ke ritual profan developmentalisme. Dengan merujuk tradisi ‘berkorban’ pada suku Aztek di Mexico, Berger mengritik bahwa ideologi developmentalisme telah menjadikan masyarakat sebagai obyek pembangunanisme demi perubahan sosial.

Sebagaimana diketahui, pencapaian kemajuan manusia hingga dewasa ini telah mengorbankan nilai-nilai manusia di atas hasrat dan ambisi pembangunan semesta. Piramida pengorbanan itu, menurut Berger, telah mengabaikan hakikat keseimbangan ekologi manusia demi kemajuan dan kepentingan sepihak yang tidak adil dan brutal.

Sebagai tradisi kebudayaan universal, korban atau pengorbanan (sacrifice) diasalkan pada tujuan suci (sakral) melalui persembahan (offering), pertukaran (exchange) dan hadiah (gift). Namun, proses korban itu sering dilakukan dengan cara kekerasan (violence) seperti dalam perang, konflik dan situasi yang sangat memaksa.

Menurut seorang filsuf asal Yahudi, Moses Halbertal (62) dari Uruguay dalam “On Sacrifice” (2012), korban (Ibrani) yang bersumber dari tradisi Yudeo memiliki dua tujuan yang tumpang tindih. Dari tujuan suci (sakral) sebagai penunaian perintah Tuhan, korban harus mewujud pada persembahan dan hadiah yang berimbal. Tapi, dengan tujuan suci ketakjuban atas dasar cinta, korban harus dijatahkan sebagai hadiah.

Pada tujuan sekuler (profan), korban harus memiliki ikatan politik (political bond) sebagai upaya adanya pertukaran(exchange) yang dianggap imbang dan bukan imbalan. Karena itu, terselip keinginan korban yang tak diiringi oleh tekanan yang berujung kekerasan. Posisi ini menyebabkan hadirnya perkembangan sosiologi korban, terutama dalam modernisasi pembangunan seperti yang diamati Berger pada dunia ketiga pada era 70-an.

Arkian, tradisi sosiologi korban sangat mengabaikan tujuan utama dan dasar dari kerangka ‘piramida korban’ dalam mengaktualisasi diri komunalistiknya dalam realisasi apa yang disebut Halbertal dengan “self-transcendence” dan “sacrificial logic” sebagai ‘substitusi’ material dan immaterial hakikat korban dan pengorbanan. Dan ekspresi mitis dan mistisnya: Love (Caritas).

KRISIS PEDAGOGI

Ilustrasi belajar work from home yang tidak beres (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Pandemi itu suatu produk kebudayaan destruktif. Ia tak butuh mewadahi suatu rentangan bio-evolusi. Karna itu, pandemi bagi dunia pendidikan (pedagogi) bukan lagi tuntutan bagi ‘masyarakat bebas sekolah’ atau ‘pendidikan bagi kaum tertindas.’ Lebih dari itu, kewajiban dunia pedagogi sekarang ini merupakan iklim dari proses — meminjam ungkapan sejawaran sains Yuval Noah Harari — “di dunia yang dipenuhi informasi yang kemaruk (irrelevan), kejelasan (clarity) adalah kekuatan (power). Dengan kata lain, pedagogi bisa terhindar dari kritik para pedagog sebagai ‘akhir dari pedagogi’ (the end of pedagogy) Reimert.

Apa yang menjadi krisis pedagogi di tengah badai pandemi, selain krisis leadership, kita dihadapkan pada ketimpangan atas teknologi pendidikan yang dibarengi oleh merosotnya kemampuan inovasi dan kreatifitas nyaris seluruh subyek didik. Kebudayaan konstruktif yang dihadirkan oleh dunia pedagogi mendadak tersungkur atas ulah alam pedagogi itu sendiri.

Teknologi pendidikan yang diwakafkan oleh sains lebih dari seperempat abad, tiba-tiba dibenturkan begitu saja oleh ketidakmampuan kita menghadapi krisis alamiah dari suatu proses perubahan yang jauh dari prediksi. Tak heran, krisis-krisis lain ikut serta secara berenteran memenuhi jagat peradaban mutakhir saat ini. Krisis inipun menunjukkan kelemahan konstruk mentalitas bangsa yang selama ini kuyub dan gagap bersembunyi di balik aturan dan undangan-undang institusional.

Walhasil, parodi dan plesetan SD Online hingga Webkul (kulian web/zoom) tumbuh menjadi keniscayaan fasilitas yang menyesatkan mentalitas komunikasi pedagogi. Sejatinya, krisis total pedagogi itu tumbuh beriringan secara kontraproduktif antara kegamangan psiko-mentalitas kita dan inkapabilitas fasilitas teknologi pedagogi kita. Layak krisis teknologi pada umumnya, pedagogi pun diambang sakratul maut akibat covid-19 yang absurd dan brutal.

Sinergi Anggota DPR RI dan OJK Dukung Ekonomi Masyarakat

Jon Erizal (Foto Istimewa)

JAKARTA, Suluttoday.com – Dalam situasi darurat kesehatan yakni Indonesia dilanda pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang turut berdampak besar menurunkan perekonomian global, nasional hingga ke tingkat lokal. Sektor riil, pekerja harian dan kegiatan ekonomi yang membutuhkan pertemuan fisik, mengalami kesulitan dan tekanan yang dalam. Menurut Anggota DPR RI, H. Jon Erizal, SE.,MBA pemerintah perlu serius dan konsisten mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Bagi kami mendorong pertumbuhan ekonomi adalah kewajiban. Kami di DPR RI terus mendorong pemerintah dan otoritas ekonomi untuk mengambil kebijakan yang meringankan beban masyarakat. Di sektor jasa keuangan, kami terus mengawasi pelaksanaan kebijakan stimulus OJK yang mengatur pelonggaran kredit perbankan dan lembaga keuangan non bank bagi nasabah dan debitur,” ujar anggota Komisi XI DPR RI Jon, Sabtu (27/7/2020), pada penyuluhan jasa keuangan bersama OJK mengenai Kebijakan Stimulus OJK bagi masyarakat terdampak Covid-19, di Pekanbaru, Riau.

Ditambahkannya lagi bahwa kebijakan pelonggaran pembayaran kredit turut meringankan beban masyarakat bawah, terlebih para pekerja harian di sektor informal. Kami minta OJK selalu mengantisipasi, menyiapkan dan mengembangkan kebijakan lanjutan karena kita belum tahu kapan pandemi benar-benar teratasi. Lanjut Jon mengingatkan agar OJK terus mengambil peran optimal dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.

Selain itu, pemaparan juga disampaikan Kepala OJK Provinsi Riau Yusri menghimbau masyarakat untuk memanfaatkan kebijakan OJK melalui komunikasi yang baik dengan pihak bank, perusahaan pembiayaan, atau lembaga keuangan lain yang memberi kredit.

“Ada banyak bentuk pelonggaran yang diberikan oleh lembaga keuangan sesuai hasil kajian atau asesmen oleh lembaga keuangan terhadap tiap nasabah atau debitur,” terang Yusri.

Untuk diketahui, OJK bersama Jon Erizal memberikan bantuan 500 paket sembako kepada masyarakat yang terdampak covid 19 di Kota Pekanbaru, Riau. Diharapkan bantuan yang di berikan tidak hanya berasal dari pemangku kepentingan dan lembaga-lembaga negara seperti pemerintah dan lembaga lainnya, namun bagi masyarakat yang mampu juga bisa memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu, sehingga kita bisa bahu-membahu menanggulangi dampak covid-19 di Provinsi Riau. Tentu hal tersebut bermuara pada upaya meringankan beban hidup masyarakat.

(*/Bung Amas)

iklan1