Category: Opini

Festivalisasi dan Politisasi Doa di Masa Pilkada

Abid Takalamingan, S.Sos.,MH (Foto Istimewa)

Catatan : Abid Takalamingan, Ketua BAZNAS Sulawesi Utara

Doa adalah permintaan hamba (yang di ciptakan) kepada Allah/Tuhan (yang menciptakan). Doa adalah sesuatu yang sakral pada semua agama. Dengan berdoa menunjukkan bahwa kita mahluk yang lemah dan percaya bahwa dialah Allah yang maha perkasa yang bisa mewujudkan setiap pinta dan harapan kita mahlukNya.

Tentu saja doa harus di barengi dengan usaha atau ikhtiar, bahkan sebagian ulama (dalam Islam) menganggap bahwa ikhtiar/usaha adalah spiritnya doa.

Disisi lain bahwa doa yang paling mustajab adalah doa yang dilakukan secara sendiri ataupun berjamaah dalam keadaan ikhlas dan jauh dari sekedar untuk ditunjukkan kepada selainNya.

Beberapa hari terakhir ini ada pemandangan menarik di media sosial dalam hubungan doa dan para calon kandidat yang akan berkontestasi pada 9 Desember 2020. Saya tak perlu menyebutkan detail tentang nomena ini karena bagi pegiat medsos bisa mengikuti secara jelas dan terang.

Tulisan ini tdk bermaksud mengusik kegiatan berdoa yang dilakukan oleh para kandidat atau meminta orang-orang yang ditokohkan karena pengetahuan agamanya (tokoh agama) tapi menurut saya apa yang tampak telah keluar dari esensi doa terutama dari aspek tujuan dari pada dipanjatkannya doa, dimana Allah sebagai satu-satunya tujuan bukan lainnya.

Menurut saya tidak pantaslah kita berdoa atau meminta di doakan terselip maksud agar publik memahami bahwa kita sedang meminta kepada Allah atau si Fulan telah mendoakan tentang apa yang saya ikhtiarkan tapi terselip maksud terselubung agar khalayak tau bahwa yang berdoa mendukung saya secara politis dalam hajat yang saya minta.

Persoalan ini kelihatan sederhana memang tapi sekali lagi itu telah menghilangkan esensi berdoa dan maksud serta tujuannya doa. Selebihnya doa seperti ini telah kehilangan kesakralannya karena dimaksudkan untuk tujuan-tujuan yang selainnya.

Mudah-mudahan bagi yang meminta di doakan niatnya tulus begitu juga yang mendoakan akan tetapi ketika kegiatan ini di sampaikan ke ruang publik untuk menunjukkan bahwa yang di doakan didukung secara politis oleh yang mendoakan maka disitulah masalahnya muncul. Apalagi jika benar bahwa yang berdoa memang memiliki dukungan politik bagi yang lain bukan kepada yang didoakan.

Untuk hal itu saya sudah coba bertanya kepada salah seorang yang berdoa kepada yang meminta di doakan bahwa betulkah anda mendukung secara politis pada yang di doakan seperti yang diberitakan, dia mengatakan secara tegas ; “tidak”. Alasannya kemudian ; mereka yang datang silaturahim saya TDK meminta dan juga tdk bisa menolak dan mereka meminta saya doakan saya doakan karena saya tidak boleh menolak orang yang meminta di doakan.

Jadi bagi awak media atau tim sukses, memang hak anda mau menulis dan memberitakan apa saja tapi menurut hemat saya beritakanlah substansi yang lain agar lebih mendidik dan mencerahkan masyarakat dan tidak memposisikan yang mendoakan dalam posisi dilematis karena pemberitaan.

Biarlah doa berada pada ruang yang lain agar doa ini semata-mata menjadi hak Allah dan kesakralanNya menjadi terjaga. Masalahnya sekarang ini suasananya jadi sangat politis jadi doapun bisa dipolitisasi dan diruang publik menjadi seperti festivalisasi doa antara kandidat.

Dengan begitu maka kegiatan berdoa dan meminta di doakan berjalan sesuai substansi dan tujuannya sambil tetap terjaga pilihan politik masing-masing agar setiap orang termasuk yang mendoakan tetap bebas menentukan pilihan karena ternyata yang berdoa belum tentu mendukung secara politis bagi yang di doakan.

Bukankah kita ingin ikhlas dalam berdoa dan didoakan. Karena kalau ingin dipilih maka anda perlu menyampaikan program anda dan kalau harapan anda ingin dikabulkan maka berdoa dan mintalah doa dengan tulus kepada Allah tanpa perlu festival. (**)

Politik Praktis dan Bisikan Agitasi

Ilustrasi bisikan (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Ruang politik praktis selalu menyajikan kenyataan yang beragam. Tak seindah dalam buku-buku teori politik yang kita baca, sebab implementasi politik sering lebih melampaui hal teoritis. Kadang juga menyimpang dari apa yang dianjurkan dalam bacaan-bacaan literatur politik. Umpamanya laut bebas, politik tergantung pada angin, gesekan batu karang dari dasar laut, hentakan barang dari permukaan laut yang kencang. Namun juga tak memberi pengaruh di laut yang lain. Kecuali tsunami.

Keseriuan demi keseriun juga hinggap. Tak pernah sunyi, panggung politik kita di tanah air selalu ramai dan dipenuhi kisruh kepentingan. Bisikan agitas, saling sikut, banting-bantingan, sleding dan naik dengan menginjak pihak lain dilakukan. Wajah panggung politik kita penuh hianat, saling jegal menjadi biasa. Kemarin menjadi kawan karib tiba-tiba menjadi musuh yang menjengkelkan. Ada pula, hari ini menjadi rival (lawan), kemudian besoknya menjadi teman mesra.

Berjenis mainan saling lambung dalam manuver politik dilakukan. Rebut-rebutan kepentingan bagi para politisi adalah hal biasa. Melakukan tekel antara satu politisi dengan politisi lain juga dilihatnya sebagai dinamika demokrasi yang wajar. Padahal memiriskan, tidak etis lagi. Tapi begitulah tafsir politik kadang melewati batas etika yang distandarkan publik. Politisi saling puji di atas panggung, sederet prestasi, keberhasilan dirangkai menjadi jualan spektakuler. Kekurangan mereka nyaris tak ada dalam gambaran retorika di depan podium yang ditonton masyarakat tersebut.

Setelah itu, lain lagi urusannya. Memuji dan menghujat bagi politisi tertentu bukanlah tanda sayang, kagum atau marah. Melainkan hanya luapan mengisi pidato semata. Lebih parahnya lagi, itu semua dilakukan bukan dengan niat memberi dukungan atau menjatuhkan. Politisi memuji politisi lainnya, bisa bermakna ganda. Kalau benar-benar searah, satu kepentingan itu bertanda dia memberi apresiasi dan menguatkan. Jika berbeda kepentingan, berarti pujian tersebut akan berubah menjadi petaka.

Pesta dan acara perayaan kebahagiaan, bisa disisip menjadi momentum meratapi nasib lantaran sedih. Bahagia boleh berubah menjadu duka dalam hitungan singkat, dan cara-cara itu biasa dilakukan para politisi handal. Itu sebabnya, sebagian masyarakat kita nyaris kebingungan mendeteksi, menyimpulkan keberpihakan politisi dalam tiap momentum politik. Sering juga merubah-rubah seragam parpolnya, hari ini biru, besok merah, besoknya lagi kuning dan seterusnya. Dunia para politisi memang keras.

Bukan dunianya para binatang, tapi karaktek dan cara sebagian politisi menyerupai cara-cara kebinatangan. Contohnya saja mereka ‘melegalkan’ saling menghujat, saling membunuh bila politisi yang berseberangan dengannya menganggu kepentingannya. Menebar fitnah, padahal apa yang dibicarakan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Bisikan maut dalam politik memang kejam. Dinding juga bisa bertelinga kalau dalam politik. Dalam hitungan tertentu para pendukung bisa menjadi pembenci.

Para pembenci menjadi pendukung, itulah pengaruhnya bisikan. Hari ini tertawa bersama, duduk manis bersama disatu panggung, besok menjadi berbeda. Saling marah-marahan, duduk saling membelakangi, berbeda panggung lagi. Agitasi atau hasutan menjadi alat efektif bagi politisi yang senang berantem untuk memuluskan kepentingannya. Politisi model ini tidak mau melihat situasi politik berjalan baik-baik saja. Kemauannya yaitu melahirkan gelombang dan konflik di panggung politik.

Hati-hati pula banyak berhamburan para pembisik. Kau menceritakan kebaikan, bisa mereka karang menjadi keburukan. Kau berbuat baik, boleh berubah seolah-olah kau berbuat jahat. Para pembisik ini tidak mau politisi yang tidak bersama-sama dirinya itu hidup tenang. Bekerjalah dia melakukan agitasi, menyampaikan hal buruk dengan harapan mendapatkan berkah politik. Menjual informasi hanya untuk menghancurkan orang lain, kemudian dirinya meraih apa yang dicita-citakan.

Atas bisikan tertentu mengakibatkan adanya salah kapra. Fenomena bisikan penuh propaganda banyak ditemui dalam lingkaran kekuasaan. Sesama tim pemimpin tertentu yang menang kontestasi politik saling melemahkan. Rebut simpati, mencari perhatian yang tidak lagi sehat sehingga saling bentrok. Alhasil, orang-orang dekat tumbang satu persatu karena saling menjatuhkan. Pemimpin yang harusnya mereka dikawal, tidak terkawal. Energi mereka habis dengan gontok-gontokan yang tidak produktif. Apalagi ketika pemimpin itu sensi, mudah percaya pada bisikan sesat dan menyesatkan. Maka terjadilah pica kongsi. Keretakan terjadi dari dalam tim sendiri, akhirnya menggerus soliditas dan mendatangkan bencana.

RICHARD SUALANG Kunci Kemenangan PDI Perjuangan di Manado

dr. Richard Sualang (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

DARI beberapa unsur pendonor kemenangan suara, posisi dr. Richard Sualang, Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado berada pada bentangan strategis. Ayahnya pelopor, mobilisator dan pendiri PDI Perjuangan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Kader Banteng Moncong Putih yang dikala itu begitu dekat dengan Ibu Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan dikenal sebagai singa podium yang santun. Aliran darah ‘merah’ PDI Perjuangan memang mengalir deras kepada sosok Richard Sualang.

Ayahnya tercinta punya jasa besar, berkontribusi mengembangkan dan membesarkan PDI Perjuangan di bumi Nyiur Melambai ini. Mantan Wakil Gubernur Sulut beberapa periode, potret seorang putra Minahasa yang patriot dan nasionalis. Tapi, Richard rupanya tidak mengharapkan semua itu didapatnya dengan instan. Dia enggan berpangku, melainkan turun memulai bekerja sebagai petugas partai di PDI Perjuangan di Kota Manado, dari Kelurahan, Kecamatan sampai saat ini memimpin PDI Perjuangan Manado.

Kata Soekarno, Bapak Marhaenis, pendiri Republik Indonesia, Presiden Indonesia pertama yang adalah Ayah tercinta Ketum Megawati, bahwa ‘JAS MERAH’ (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah). Atau yang diartikan sejarawan Rushdy Hoesein, ‘JAS MERAH’ dalam judul pidato Bung Karno, sapaan akrab Soekarno, memiliki arti ‘Djangan sekali-kali meninggalkan sedjarah’. Inti dari pesan tersebut memiliki impresi, terselip pelajaran penting tentang menghormati, menghidupkan legacy leluhur atau para pendahulu.

Baik dalam interaksi politik, ekonomi maupun sosial dan budaya. Sejarah mencatat dengan indahnya bagaimana peran seorang Freddy Harry Sualang memajukan PDI Perjuangan disaat jaya-jayanya Orde Baru. Tidak mudah melewati gelombang dan otoritarianisme pemerintah waktu itu. Bagaimana kuatnya pengaruh ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar). Mendiang Freddy H. Sualang begitu teguh pendiriannya, tampi tegar, punya nyali besar, progresif, orator ulung dan optimis bahwa PDI Perjuangan akan besar di Sulut.

Dalam jejak karirnya, beliau merupakan seorang politisi Parkindo. Setelahnya menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dimana waktu itu Parkindo dan 4 (empat) partai lain seperti Partai Katholik, Partai IPKI, Partai Murba dan PNI melakukan fusi atau penggabungan yang dideklarasi 10 Januari 1974. Tanpa money politic dan dukungan kekuasaan, mendiang Freddy menjadi Anggota DPRD Minahasa dalam Pemilu 1987 dan 1992.

Sejak 1998 beliau menjabat Ketua DPD PDI Perjuangan, sampai tahun 2010 dibawah kepemimpinan Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. Mendiang Freddy Sualang dikenal sangat menghormati senior partainya. Tidak mudah melewati konflik di PDI Perjuangan Sulut, dimana Freddy Sualang saat itu berada dalam faksi PDI Perjuangan, bersama Megawati. Lalu berlawanan dengan kawan-kawannya di kelompok Surjadi, PDI.

Nilai-nilai keteladanan itu diikuti anaknya tersayang Richard Sualang. Kisah loyalitas Freddy Sualang juga digambarkan Drs. Markus Wauran, Anggota DPR RI pada era 1980-an. Menurut Markus Wauran, sosok Freddy begitu menghormati guru politiknya yakni Sabam Sirait. Sikap setia dan tidak menghianati komitmen ditunjukkan mendiang Freddy dalam pergaulannya. Ia tak rayu atas rayuan, tak akan goyah atas godaan, tidak pernah mau karena kepentingan sesaat beliau mengabaikan komitmen kebersamaan. Itulah sepenggal pelajaran yang tentu tengah tertanam, terpatri kuat dalam ingatan dan darah daging Richard Sualang yang juga Penatua (Pnt).

Seperti yang dilakukan Richard sebagai politisi muda, dirinya tampil penuh energi positif. Pandangan nasionalisme diucapkan dan dicontohkannya dalam tindakan konkrit. Takhirnya kita banyak menjumpai warga di Manado para aktivis muslim yang begitu sayang, peduli dan menghormati keluarga Sualang. Termasuk Richard Sualang yang kini menjabat Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Beberapa perjumpaan penulis dengan masyarakat pedagang, kalangan buruh, warga yang hidupnya biasa-biasa, mereka mengakui akan mendukung Richard Sualang. Mereka yang beragama Islam, mengaku tidak akan melupakan kebaikan-kebaikan mendiang Freddy Sualang.

Tidak mudah menjadi politisi yang dicintai semua kalangan masyarakat. Menjadi politisi rendah hati, menghargai orang lain juga tidak mudah. Butuh adaptasi kebiasaan yang lama, bisa bersifat turun-temurun. Richard terlahir dari DNA itu, selain keluarga yang pernah menjadi penguasa di Sulut. Dirinya berkesempatan diajarkan langsung Ayahnya untuk menghormati senior, menghormati dan membantu orang lain. Siapapun itu, tanpa membedakan agama.

Richard di pusaran Pilwako Manado 2020 merupakan kunci kemenangan PDI Perjuangan. Bila elit PDI Perjuangan terburu-buru, tidak cermat membaca situasi politik di lapangan dan kesejarahan daerah ini secara utuh, maka akan salah merekomendasikan kadernya melalui Surat Keputusan (SK) nantinya dalam hajatan pertarungan Pilwako Manado. Tantangan bagi PDI Perjuangan di Manado adalah belum pernah menjadi Kepala Daerah beberapa tahun terakhir.

Itu sebabnya, semacam ‘pagar’, mitos dan barang baru yang harus mampu diterobos dengan menggunakan energi yang cukup kuat. Bila saja elit PDI Perjuangan lebih menilai uang (finansial) sebagai pembeda untuk diusung ke pertarungan Pilwako Manado, maka resikonya PDI Perjuangan akan kalah di Kota Manado. Seperti membaca risalah sejarah, para elit parpol di pusat harus membacanya secara tuntas. Jangan sepenggal-sepenggal, dimana tak ada sejarahnya selain ‘etnis Minahasa, Gorontalo, Nustar,’ yang memimpin Kota Manado.

Apalagi mereka yang terindikasi warga naturalisasi. Yakinlah, akan ada bencana politik yang melahirkan isu maha dahsyat ketika PDI Perjuangan salah memberikan SK. Kesederhaan Richard Sualang begitu membuat banyak simpati berdatangan kepadanya, dan juga kepada PDI Perjuangan di daerah ini. Potret politisi idola yang satu ini tidak sombong seperti politisi-politisi lainnya. Santun dan rendah hati, seperti itulah Richard Sualang yang terekam diingatan warga Kota Manado.

Di internal mesin partai PDI Perjuangan pun, terdengar percakapan malu-malu dan sembunyi-sembunyi, mereka kebanyakan menginginkan Richard Sualang sebagai calon Wali Kota Manado. Selain itu, Richard Sualang punya gagasan yang kuat dan otentik. Masyarakat Manado juga tau betul, mengenali Richard sebagai kader PDI Perjuangan tulen, tanpa berpindah ke lain hati. Bila politisi lain sibuk ganti ‘warna’ Richard tetap fokus membesarkan PDI Perjuangan. Richard juga berpegang teguh pada prinsip gotong royong dalam membesarkan PDI Perjuangan, alhasil di DPRD Kota Manado saat Richard menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Manado telah berhasil merebut posisi Ketua DPRD Kota Manado.

Ikhtiar Politik SSK dan Komitmen Bersama Umat Islam

Ir. Sonya Selviana Kembuan (Foto Istimewa)

Catatan Redaksi Suluttoday.com

Ir. SONYA SELVIANA KEMBUAN (SSK), politisi perempuan yang namanya santer dibicarakan akan bertarung di Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado, Rabu 9 Desember 2020 mendatang tak setengah hati membangun komitmen. Perempuan kelahiran Manado yang berkiprah menjelajah dunia bisnis ini terpanggil harus mengabdi di daerah tempat dia tumbuh dewasa. Tak ayal, SSK yang telah membulatkan niat maju sebagai calon Wali Kota Manado itu melewati ragam tantangan karena keteguhannya mempertahankan calon Wakil Wali Kota yang akan mendampinginya.

Bagi SSK pentas Pilwako merupakan sarana untuk mengukuhkan kebersamaan. Itu sebabnya, perempuan vokal ini tetap ngotot mengambil keterwakilan umat Islam di Manado sebagai calon Wakil Wali Kota yang akan berduet dengannya di perhelatan Pilwako Manado. Beberapa nama telah dikantonginya, bujukan dan godaan datang untuk SSK mengganti nama-nama calon Wakil Wali Kota tidak digubrisnya. SSK memang dikenal tipikal sosok yang konsisten.

Diantara nama-nama calon pendamping SSK yang telah masuk dalam radar prioritas SSK yakni Syarifudin Saafa, ST.,MM (Ketua DPW PKS Sulawesi Utara), Enda Ungu yang memiliki nama lengkap Franco Wellyjat Medjaya Kusumah (musisi/artis, tokoh muda), Sultan Udin Musa, SH (politisi senior Partai Golkar) dan Drs. Ulyas Taha, M.Si (Ketua NU Sulawesi Utara). Kesungguhan SSK tersebut tentu mendatangkan penolakan bagi parpol tertentu yang menyiapkan kadernya untuk maju dan tidak masuk kualifikasi seperti yang disiapkan SSK. Ruang resistensinya tentu terlahir.

Menurut SSK fondasi pembangunan Kota Manado perlu digambarkan dalam komposisi koalisi yang berimbang. Seorang penganut agama Kristen Katolik yang taat itu begitu terbuka pikirannya dan siap meminang umat Islam salah satunya untuk menjadi calon Wakil Wali Kota Manado mendampingi dirinya. Berkaitan dengan konsolidasi mengamankan gerbong koalisi, SSK akrab-akrabnya berkomunikasi dengan pengurus PKS, Gerindra, Perindo, dan juga Partai Golkar. Bahkan terakhir, meski PAN telah mengeluarkan SK mendukung kandidat lain, SSK masih yakin akan merebut PAN.

Bukan ‘daun lemong’ gebrakan SSK merambah dunia bisnis dan kontraktor sampai di Luar Negeri. Pengalamannya tidak sedikit, ditambah lagi keberaniannya berkorban untuk membantu masyarakat Manado telah ditunjukkannya. Baik sebelum penyebaran Virus Corona sampai dengan saat meluasnya Virus Corona di Manado. Paket bantuan disalurkan SSK tanpa pilih kasih. Masyarakat yang beragama Kristen (Protestan dan Katolik), Islam, Hindu Buddha dan Konghucu dibantunya. Pokoknya seluruh masyarakat terdampak COVID-19 diberi bantuan SSK sesuai kebutuhan masing-masing.

SSK bersama Menteri Whisnutama (Foto Istimewa)

Kesulitan menjaga komitmen lalu dihadapkan dengan problem koalisi tak membuat SSK mundur selangkah pun. Sepertinya SSK getol melakukan operasi diam-diam terhadap sejumlah parpol yang punya kursi di DPRD Kota Manado. Politisi murah senyum itu yakin kalau dirinya akan didukung sejumlah parpol yang telah didekatinya. Hal itu bukan tanpa alasan, SSK membangun komitmen kemudian menjalankan komitmen tersebut. Apalagi sosok SSK sebagai seorang petarung politik, dia bukan pecundang, penghianat atau seperti politisi penjilat lainnya.

Ketika menemuai masyarakat SSK telah berjanji siap menghibahkan waktu dan tenaga untuk memajukan Kota Manado. Segudang pengalaman yang dimilikinya akan dikontribusikan bagi pembangunan masyarakat Manado. Menariknya lagi SSK dalam hal semangat membangun demokrasi sangat mewanti-wanti adanya politik propaganda, fitnah dan kampanye hitam. Menurutnya Pilwako Manado harus dijalani dengan keceriaan, berpolitik secara toleran dan lahirkan kerukunan di tengah masyarakat. Persatuan merupakan hal utama dalam proses politik. SSK menyebut lebih utama dari politik adalah kemanusiaan.

PAHAM di Tengah Kontestasi Kepentingan

Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Tidak mudah memutuskan sebuah pilihan yang kedua-duanya menjanjikan. Situasi itu kira-kira dirasakan Prof. Dr. Julyeta Paulena Amelia Runtuwene, MS sang Rektor Universitas Negeri Manado (Unima). Disaat yang bersamaan, Prof Paula begitu istri tercinta Wali Kota Manado 2 periode Dr. GS Vicky Lumentut ini akrab disapa dalam pusaran pilihan yang ‘menggoda’.

Memilih melanjutkan jabatan Rektor tentu lebih mudah. Selain petahana, JPAR (Prof Paula) dinilai berhasil memajukan Unima menjadi Perguruan Tinggi yang diperhitungkan dan JPAR pasti punya nilai lebih dibanding kontestan calon Rektor lainnya. Karyanya telah dirasakan civitas akademika Unima, secara otomatis trustnya terjaga.

Prof Paula memilih maju dalam suksesi Pilwako Manado, Desember 2020 mendatang. Tantangan yang tidak mudah harus diambil sang Guru Besar itu. Hal tersebut tak lain adalah wujud keterpanggilannya untuk mengabdi kepada masyarakat Kota Manado plural ini. Dari perspektif kepemimpinan perempuan yang murah senyum itu tak perlu diragukan lagi.

Komunikasi publik, etika dan prinsip-prinsip kepemimpinan bukan hanya dimengertinya dalam teori. Melainkan lebih dari itu, Prof Paula telah menerapkan dalam aktivitas kesehariannya. Kemajemukan juga terpancar dalam pergaulan sosialnya yang tidak sektarian, tidak anti agama atau suku tertentu. Perempuan berdarah Tomohon itu bukan sosok yang ujuk-ujuk menjadi pemimpin. Tapi, telah melewati antrian panjang ujian dan penggodokan kepemimpinan.

Manado dalam tantangan kedepan membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki wawasan luas. Punya pandangan futuristik, peka terhadap kondisi masyarakat, terlebih yang mengerti seluk-beluk Kota Manado secara geografis, sosio-kultural dan kondisi ekonomi masyarakat. Prof Paula telah beradaptasi dan mengetahui anatomi Kota Manado, sudah pasti karena mengikuti betul kiprah suaminya membangun Manado sebagai Wali Kota.

Tentang kesejarahan Manado juga dikenali betul Prof Paula. Sebab, seperti kata Bung Karno ‘Jas Merah’ (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Bagaimana pun itu konstruksi sejarah hari ini merupakan warisan yang ditinggalkan para pendahulu, sebelum kita. Itulah pentingnya seorang pemimpin memahami sejarah secara lengkap. Bagi pemimpin yang ahistoris, pasti menemui kendala dalam mengkonsolidasikan masyarakatnya dalam mewujudkan kerukunan dan kemajuan.

Berbeda tentunya sepenggal memahami sejarah. Pemimpin yang mengerti akan lebih mudah melakukan akselerasi pembangunan, tidak menabrak kearifan lokal. Pemahaman dasar tersebut bisa menjadi acuan dan pembeda. Jika kita lebih jauh membaca literatur sejarah, para ahli menyarankan menghidupkan sejarah dan menggalinya jauh kebelakang agar kita, terutama pemimpin dapat mengembangkan proyeksi pemikirannya lebih jauh lagi kedepan. Patahan sejarah hanya akan dihasilkan oleh orang-orang yang gagal membaca sejarah secara integral (utuh). Prof Paula beruntung berada dalam posisinya saat ini.

Setelahnya, kenapa harus PAHAM (Paula-Harley Mangindaan)?, ini pilihan yang bukan tanpa pertimbangan. Atau pilihan yang didasarkan atas emosi dan sahwat politik semata. Lebih dari itu adalah keterpaduan kepemimpinan yang apik. Saling mengisi kekosongan kepemimpinan, dimana Harley Mangindaan selain sebagai potret politisi milenial juga representasi dari seseorang yang pernah berpengalaman menjadi Wakil Wali Kota Manado.

Pengalaman memimpin yang dinamis, energik dan sederhana itu akan menambah energi bagi Prof Paula kelak jika menjadi Wali Kota Manado. Untuk menjadi PAHAM, dibutuhkan perpaduan langkah yang selaras. Bukan sekedar tukar tambah kepentingan pribadi, namun bagaimana meletakkan harapan publik untuk mereka realisasikan. Tidak mudah dalam tafsir “paham” secara umum terhadap jualan ide atau gagasan (produk) untuk diterima halayak ramai.

Situasi ini membutuhkan sarana untuk membuat PAHAM banyak pihak. Melakukan edukasi agar semua pihak benar-benar PAHAM. Bukan menjadikan PAHAM sekedar jargon yang miskin narasi intelektualnya. Ada impresi yang dalam ketika publik mendengar kata PAHAM, tidak sekedar berarti mengerti, memahami sesuatu hal. Selain itu, menuju ke level paham setiap orang perlu belajar, mengerti, mengenali apa yang harus mereka pahami. Maka, mereka yang berada dilingkup dan rumah besar PAHAM harus mematangkan kecerdasan. Memperkuat kampanye yang bersifat mendidik publik. Ada gagasan konstruktif yang dipamerka.

Dengan terjunnya JPAR ke panggung politik, bukan berarti dirinya mau melanggengkan kekuasaan suami. Jauh lebih penting adalah menjadikan jabatannya sebagai Wali Kota Manado berikut sebagai ladang pengabdian. Dunia politik praktis memang relatif berbeda iklimnya dengan tradisi intelektual yang dibangun di kampus. Pentas politik memang penuh rintangan, gelombang dan hasut-menghasut. Publik, terlebih mereka yang merasa bagian dari PAHAM berharap JPAR sudah punya benteng menghadapi semua hal itu.

JPAR harus betul-betul menjaga keseimbangan. Untuk meraih simpati publik dalam konteks politik elektoral juga tidak mudah. Ketenangan, penuh perhitungan dan kesantunan yang tercermin dari dirinya itu saja tidak menjamin publik ramai-ramai memilih. Perlu pergerakan massif, pendekatan yang tepat dan jualan program yang menyentuh di jantung hati masyarakat. Kehadiran JPAR di ruang politik kita harapkan makin menambah dialektika gagasan (nilai), sehingga praktek politik pragmatis menjadi teredam.

iklan1