Category: Opini

MOR, RS/AA, JPAR dan IMBA dalam Pusaran Pilwako Manado

MOR, RS, AA, JPAR dan IMBA (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di musim pandemi, 9 Desember 2020 akan berlangsung tensi politik yang sedikit berbeda. Selain anjuran pemerintah untuk tetap melakukan social distancing dan menghindari kerumunan, penyelenggara Pilkada pun bergerak tidak seramai dahulu. Kini segala tahapan dilakukan atas prinsip menjunjung tinggi protokol COVID-19. Pada entitas lain, loby-loby politik dan bargaining kepentingan tetaplah tumbuh.

Agenda demokrasi memang tidak pernah sunyi dalam konteksnya barter kepentingan dan adu kuat. Di Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado sejumlah nama mulai terpublikasi di media massa. Diantaranya, ada Mor Dominus Bastiaan (MOR), Jelyeta Paulina Amelia Runtuwene (JPAR), Jimmy Rimba Rogi (IMBA) dan Richard Sualang (RS)/Andrei Angouw (AA). Masing-masing mereka tampil sebagai kontestan calon Wali Kota Manado, jika skema koalisi berjalan normal tak ada kejutan politik, maka pasangan calon Wali Kota Manado memungkinkan 4 (empat) pasang calon.

Walau pun dari sisi kekuatan bila dibedah, bisa menjadi relatif, debatebel dan saling klaim. Mor dikabarkan berpasangan dengan HJP (Hanny Joost Pajouw), meski belum memegang SK (Surat Keputusan) dari partai politik, MOR-HJP sudah optimis mendapatkan dukungan dari Partai Demokrat. Tentu bukan tanpa alasan, mereka para politisi senior dan ada pula akademisi senior yang rekam jejaknya patut diperhitungkan.

JPAR yang santer dibicarakan telah berduet dengan Harley AB Mangindaan (HABM) mulai membentuk poros koalisi. JPAR-HABM mengidentifikasi diri secara politik bahwa akan didukung Partai NasDem sebagai saldo awal koalisi. Beberapa parpol lain sedang mereka garap. IMBA yang adalah mantan Wali Kota Manado ini dipasang-pasangkan dengan sejumlah bakal calon Wakil Wali Kota Manado, ada nama Boby Daud, dr. Makmun Djafara dari PAN. Ada pula nama Lily Binti dan Ruby Rumpesak yang digadang mendampingi IMBA.

Selanjutnya faksi politik yang diprediksi kuat adalah Andrei. Politisi pengusaha ini dinilai layak berpasangan dengan Richard Sualang, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Manado yang juga Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Andrei juga disebut-sebut sedang digodong bersama Asiano Gemmy Kawatu, birokrat senior yang kini menjabat posisi Asisten Administrasi Umum Pemprov Sulut. Politik memang punya logikanya sendiri, kadang dipandang tidak logis untuk kepentingan representasi kepentingan, tapi dalam kacamata politik dinilai sepadan dan layak, maka jadi logislah semua itu.

Relatifisme dalam politik memang begitu terbuka. Kemungkinan peta politik berubah atas hal-hal tertentu juga sering kita jumpai dalam pertempuran politik. Sebut saja salah satu contohnya, sosok Richard Sualang dinilai pantas menjadi calon Wali Kota Manado, tapi dalam kacamata perkawinan kepentingan bila tidak selaras, tidak seiring sejalan, maka kepantasan hanya akan menjadi harapan yang bercokol dalam pikiran.

Praktek di lapangan mengatakan lain. Itulah unik dan menjadi seni dalam politik, tidak semua hal ideal dalam amatan kita, ideal pula dalam kacamata politik. Politik juga soal dominasi dan daya tawar, politisi harus memiliki itu. Tidak sekedar kemampuan basis dukungan yang luas, ketersukaan publik, kepercayaan orang banyak terhadapnya. Lebih dari itu, politisi diminta untuk mampu mengkompromikan kepentingannya dengan kepentingan para pemburu kepentingan lainnya. Harus ada nilai jual, bukan sekedar modal sosial.

Diperkirakan terkait perang isu di Pilwako Manado kali ini juga ramai. Rebutan simpati dari konstituen pasti dilakukan masing-masing paslon kandidat Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado. Jualan isu potensial adalah masih soal isu-isu klasik, seperti politik identitas. Kampanye politik materialisme, isu sektarian juga akan diselundupkan dalam kampanye-kampanye informal. Rumah ibadah tidak tergadai, tapi akan menjadi komoditi politik yang strategis.

Menerima atau tidak, kita sudah memasuki Pilkada yang mentradisikan media daring (virtual) sebagai sarana komunikasi publik. Kita mulai masuk di rimba gelap pertarungan isu di media sosial, sampai di ruang-ruang terbuka. Kampanye hitam (black campaign), hoax dan pembunuhan karakter (character assassination) menjadi santapan publik yang akan disodorkan masing-masing tim pemenang untuk melemahkan lawan tandingnya. MOR, JPAR, IMBA dan RS/AA merupakan potret generasi terbaik di yang akan bertarung dalam ruang demokrasi di Manado.

Dalam level kandidat, tentu isu-isu produktif yang dibangun dan dipelihara. Tema politik penuh kerukunan, kebersamaan, persaudaraan dan kemajuan yang dibicarakan. Sama-sama membawa gagasan besar (grand narasi) dalam pembangunan, tak mungkin mereka melepaskan ‘peluru hampa’ dalam pertarungan Pilwako Manado. Artinya, sumber daya telah disiapkan, visi dan misi mereka tentu berkualitas. Tidak asal-asalan, apalagi abal-abal.

Turun pada level tim pemenang yang menerapkan marketing politik, biasanya segala cara dan strategi politik dipakai. MOR, JPAR, IMBA dan RS/AA, merupakan pemimpin yang berfikir ke masa depan, orang-orang berhasil yang kini kita menjadikan mereka sebagai panutan dalam politik. Tidak mudah berada dalam capaian tersebut. Kita menahan diri dulu, menanti apa gerangan kejutan yang diberikan mereka dalam penentuan koalisi. Selamat menggelorakan demokrasi dengan isu-isu dan tema yang konstruktif.

Politik itu bicara soal keterwakilan. Tentu keterwakilan kepentingan kelompok, serta masyarakat pada umumnya. Deretan nama-nama itu akan memberi legacy tentang kelayakan mereka sebagai pemimpin rakyat, bukan pemimpin golongan agama tertentu. Memang politik representasi telah mengakar dalam pandangan hidup masyarakat kita, sehingga untuk kepentingan elektoral sukar rasanya dihindari jika ada masyarakat yang menentukan pilihannya berdasaran emosi tertentu.

Demokrasi kita telah memberi ruang itu, ruang kebebasan memilih. Masyarakat bebas menentukan calon pemimpinnya disaat Pemilu atau Pilkada. Kembali ke masyarakat apakah mereka mau mengedepankan kepentingan jangka pendek maupun yang jangka panjang. Karena proses sayembara memilih pemimpin untuk situasi Kota Manado saat ini adalah melalui instrument partai politik. Bagi jalur independen (non parpol) sudah selesai waktunya dalam proses pendaftaran. Sehingga parpol punya peran begitu besar dalam menyajikan pilihan-pilihan calon pemimpin kepada masyarakat.

Deretan nama lain yang muncul dan santer dibicarakan masyarakat untuk meramaikan bursa calon Wali Kota Manado, belakangan yakni Sonya Selviana Kembuan (SSK), Johanis Victor Mailangkay (JVM), Rio Permana Mandagi (RPM). Belum terhitung line up bakal calon Wakil Wali Kota Manado yang cukup banyak menampilkan politisi-politisi ternama di Manado. Panggung politik di tahun 2020 ini kita berharap lebih berkualitas lagi dibanding tahun tahun sebelumnya. Kita kompak mendorong edukasi politik dibangun, agar masyarakat tidak tersesat, tidak dibohongi para politisi yang tidak punya niat mulia membangun daerah dengan praktek politik penuh hasutan dan destruktif.

Pada segmentasi lain konstalasi politik di Manado dipastikan makin kompetitif dan penuh warna manakala IMBA berpeluang lolos menjadi kontestan di Pilwako Manado. Figur yang masih punya massa pendukung militan ini akan memaksimalkan kekuatan guna meraih kemenangan. Memang tantangan IMBA hanya satu, yakni peluang akan terjegal karena statusnya yang dalam tafsir hukum masih ada pro kontra.

Koalisi CEP-SSL di Sulut, Tanda Warning Bagi Petahana

Menguatnya CEP SSL (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Petahana Olly Dondokambey, SE, yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut), harus meningkatkan kewaspadaannya. OD begitu Gubernur Sulut saat ini akrab disapa berpotensi merubah skenario politiknya. Bila Sehan Salim Landjar (SSL) bersekukuh menjadi calon Wakil Gubernur Sulut mendampingi Cristiyani Eugenia Paruntu (CEP). Kekuatan representasi wilayah, identitas suku agama dan antar golongan juga masih kental dalam praktek politik kita di daerah ini. Hal tersebut turut menguatkan posisi CEP-SSL.

Irisan dan perpaduan kekuatan CEP yang adalah Bupati Minahasa Selatan 2 periode ditambah SSL, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) memberi isyarat kuat bahwa CEP-SSL menjadi kompetitor kuat OD-SK. Pilihan yang boleh juga diambil OD yakni menggantikan Steven Kandouw (SK) sebagai calon Wakil Gubernur mendampinya. Probabilitas itu dapat menyumbangkan pengaruh besar dalam sisi elektoral. Pada konteks kemasan isu demokrasi akomodatif, CEP-SSL lebih diuntungkan.

Gambaran lain betapa berpengaruhnya bangunan koalisi ECP-SSL atau Golkar-PAN terbaca dengan belum keluarnya SK rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan di Kabupaten Boltim. Potensinya, berpeluang anak tersayang SSL yakni Amalia Landjar menjadi pertimbangan untuk didukung PDI Perjuangan. Selain popularitas dan elektabilitas Ketua DPD KNPI Boltim (Amalia) juga ditopang bargaining politik SSL membuat Olly Dondokambey harus berfikir keras untuk menang di Pilkada Serentak 2020.

CEP-SSL juga mewakili isu-isu gender yang strategis dijual ke konstituen. Tidak hanya itu, CEP yang perempuan memiliki kans merubah ‘mitos’ politik bahwa perempuan di Sulut belum pernah atau tak akan menjadi Gubernur sama sekali. Iklim politik yang terbangun menempatkan CEP dalam pusaran tantangan yang tidak mudah. Selanjutnya juga pada tahapan berikut memberi peluang pada CEP guna melakukan pembaharuan di daerah nyiur melambai tercintai.

Kedatangan SSL mendampingi CEP memberi akselerasi kepada CEP untuk meraih kerinduan warga Sulut tentang Gubernur Sulut perempuan. Belum lagi kesadaran berpolitik kita di daerah yang yang terhadap politik diskriminasi. Menurut pandangan umumnya, politik adalah soal kesetaraan dan keadilan. Kepemimpinan publik di era demokrasi bukan saja layak ditempati kaum laki-laki. Melainkan, perempuan seperti CEP punya peluang yang sama menjadi Gubernur seperti laki-laki.

Kombinasi kekuatan Minahasa tambah Bolmong Raya dan Gorontalo, di tambah membuat power CEP-SSL beberapa tingkat lebih tinggi levelnya ketimbang OD-SK. Perang isu terkait hal tersebut memang tak bisa diabaikan. Lain soalnya tentang saling membentur-benturkan isu SARA, konteks yang dijelaskan ini bukan pada ranah itu. Melainkan menyemangati dan menghidupkan sentimen primordial yang positif konstruktif. Bukan mengajak pemilih untuk saling berkonflik kepentingan.

Lebih dari itu, CEP-SSL menjadi solusi dalam menarik kekusutan dan ketimpangan struktur sosial yang selama ini begitu dieksploitasi secara sektarian dalam praktek politik. Semangat positif, saling mengajak dan mendukung antara sesama, baik itu sesama internal suku, agama ras dan antara golongan diperlukan dalam konsolidasi demokrasi. Jangan membawahnya dalam ruang pertentangan yang memicu konflik.

Politik simbolik memang bukan hal baru lagi saat ini. Justru simbolisasi politik itulah yang sering dipangkas magknanya, sehingga lebih ditafsir secara negatif dan destruktif. Lantas aktualisasinya di lapangan menjadi bencana bagi persatuan dan kesatuan nasional, padahal tidak seperti itu harusnya. Sentimen politik simbolik atau politik identitas, keterwakilan wilayah dan sebagainya ditata rapi, dimaksudkan meningkatkan kesadaran kolektif. Saling memberi kesejukan, menguatkan agar lebih mudah dalam kerja-kerja sosial, meningkatkan cita-cita bersama secara berkelanjutan. Itu poinnya.

Jangan menarik atau merendahkan, mendistorsi politik simbolik dalam penjara pikiran yang kotor dan culas. Politik simbolik harus dipandangan dalam perspektif yang membangun, positif. Karena semua kehidupan ini simbolik (berlabel), sebagai penanda. Sehingga kita tidak dapat lepas dari makna-makna simbolik tersebut. CEP-SSL berada diposisi strategis menarik, menjembatani semua komunitas-komunitas masyarakat untuk hidup rukum, damai, saling menghormati, tanpa saling mendiskreditkan antara sesama masyarakat.

Tak ada masyarakat di daerah ini yang nanti merasa berada dalam level nomor 2 atau nomor 3 dan seterusnya. Tapi keberadaannya secara sosial adalah sama, setara. Itu sebabnya, OD punya kesempatan menimbang ulang keberadaan SK. Boleh jadi OD mengambil Wakilnya dari kalangan agamawan atau politisi, bisa juga Ketua MUI Sulut, Ketua NU Sulut, Ketua Sinode GMIM, Ketua Syarikat Islam, atau Andrei Angouw dari kalangan politisi pengusaha. Pilihan berada di tangan OD, dirinya harus berfikir matang dan selektif dalam menghadapi CEP-SSL.

Elemen urgen yang perlu diperhitungkan lagi OD yakni CEP-SSL punya rekam jejak memimpin yang teruji. Mereka berdua sukses membangun daerahnya masing-masing selama 2 periode, punya basis dukungan yang luas juga spesifik (pendukung militant). CEP dan SSL menjadi miniatur keberagaman di Sulut. Selebihnya, CEP maupun SSL Ketua parpol di tingkat Provinsi yang punya pasukan di tiap Kabupaten/Kota. Untuk memobilisasi kekuatan, bagi mereka berdua hal yang kecil dilakukan. Koalisi CEP-SSL bagai alarm pengingat terhadap OD.

CEP dan SSL (Foto Istimewa)

Mengingatkan OD dalam keyakinan politiknya bahwa harus melanjutkan bersama SK atau mengocok ulang posisi SK. Boleh dibilang ini pergumulan politik bagi OD selama karir politiknya yang sukses dibangun. Salah memilih Wakilnya, maka bersiaplah OD menjemput kekalahan. Peta politik yang tersaji, sebagiannya masih samar-samar membuat OD harus komprehensif melakukan pertimbangan dari bacaan situasi di lapangan. CEP-SSL dua sosok politisi yang handal, politisi senior yang berwawasan nasionalis, saling melengkapi kekuatan kelemahan.

Quo vadis Olly Dondokambey?

Selepas Partai Golkar dan PAN mengeluarkan rekomendasi terhadap CEP-SSL, Olly Dondokambey harus selamatkan posisinya agar menang di pertarungan Pilgub Sulut, Rabu 9 Desember 2020 mendatang. Bukan ‘kaleng-kaleng’ rival Olly kali ini cukup menghawatirkan. Akan mengancam kemenangannya sebagai Gubernur Sulut 2 periode. Konstalasi politik seperti ini membuat OD dilema dan terhimpit. Politisi kawakan ini butuh kekuatan solid dan siap bertarung, jangan sampai ada yang menggembosi kekuatannya dari dalam.

Peluang dan tantangan OD yaitu dalam membaca ulang data-data survey potensi kemenangan dirinya. Dalam politik ada presisi dan probabilitas kekuatan yang harus diperhitungkan para politisi, OD tentu teliti membaca hal-hal tersebut. Ketika teliti dan cermat tentunya dirinya tidak asal-asalan mengambil keputusan. Yang bermain di benak OD adalah dirinya harus menang. Dari kekuatan personal, OD cukup kuat, harus ditambah dengan keberadaan calon Wakil Gubernur yang menjadi nilai tambah bagi dirinya. Ketika faktor itu diabaikan, maka Pilkada Serentak di musim pandemic COVID-19 akan menjadi mimpi buruk kelak bagi OD. Alhasil sepanjang sejarahnya memulai berpolitik, kali ini OD meleset meraih target. Ketenangan OD kini diuji dengan hadirnya CEP-SSL.

Peluang lain yang harus dihadirkan OD selain mengganti SK yaitu melahirkan opsi poros koalisi baru. Ketika Pilgub Sulut melahirkan 4 pasangan calon, maka OD berpeluang menang. Konstalasinya malah alot dan tidak menguntungkan OD, jika terjadi head to head OD-SK vs CEP-SSL. Berarti tugas OD adalah melahirkan calon boneka untuk meramaikan kontestasi Pilgub Sulut. Atau OD perlu lagi membangun sekutu yang kuat dalam game politik kali ini.

Selain menambah personil orang-orang yang solid dan punya dukungan massa luas. Punya trust di masyarakat, OD juga membutuhkan petarung andal yang mampu menjadi pemecah ombak bagi CEP-SSL. Sejauh ini belum ada hal tersebut. OD baru dikelilingi ‘para pembisik’ yang kurang taringnya di masyarakat bawah. Bahkan sebagian mereka pengaruhnya padam di tingkat masyarakat akar rumput. Soliditas tim yang kemudian perlu diperkuat lagi OD jika betul-betul mau bertarung melawan CEP-SSL. Ketika kontestan Pilgub menjadi 4 paslon, maka peluang OD lebih terbuka.

Tukar tambah kekuatan menjadi perlu dan mendesak dilakukan OD saat ini. Pengalaman akurasi hitungan politik OD memang diakui politik, disinilah kembali OD diuji kematangannya. Belum lagi faksi politik SHS yang membawa gerbong para ‘purnawirawan’. Ada GSVL, JWS, E2L, dan sederet nama politisi popular lainnya mengambil peran. Jatung politik itu ada pada kepentingan, bagaimana mengaturnya agar tidak menyeret atau menghancurkan politisi itu sendiri. Termasuk mengatur detak dan iramanya agar memudahkan politisi untuk meraih kemenangan.

OD sebagai petahana dan juga Ketua DPD PDI Perjuangan Sulut perlu analisis yang tajam dalam menentukan bangunan koalisi di Pilkada Kabupaten/Kota. Ketika lengah dan tidak cermat membaca peta kekuatan politik, maka OD kalah. Posisi Pilkada Manado juga menjadi salah satu indikator yang mengantar kemenangan OD. Hitungan kompensasi atau konsesi politik memang bisa dipakai dalam membangun logika koalisi, tapi sudah lebih waspada lagi karena OD kini mendapat lawan tanding yang sepadan.

Jurus ‘’Mabuk’’ Sehan Landjar di Pilkada Sulut

CEP dan SSL (Foto Istimewa).jpg

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Sehan Landjar yang akrab disapa Eyang atau Sehan Salim Landjar, SH (SSL), merupakan politisi handal dari Sulawesi Utara. Selain dijuluki singa podium, kelakar politik dan manuvernya ‘minta ampun’, lincah. Tak perlu diragukan lagi rekam jejak politisi senior yang satu ini. Nah, bagaimana dengan move politik yang dilakukan Eyang di Pilkada Serentak 2020?. Tentu banyak pihak menunggu kejutannya.

Untuk skala Pilgub Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Eyang mulai terlihat ‘bermain’ dengan CEP (Christiany Eugenia Paruntu) Bupati Minahasa Selatan (Minsel) dua periode, dan juga Ketua DPD Partai Golkar Sulut, tentu targetnya yaitu berduet di Pilgub Sulut sebagai calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur bukan bermotif lain. Bertepatan dengan posisi Eyang yang juga Bupati Bolaang Mongodow Timur (Boltim) dua periode sekaligus Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN), membuat Eyang begitu diperhitungkan di atas panggung politik.

Eyang memang gesit, dan sempat viral saat pandemic COVID-19. Kurang elok kalau politisi kawakan ini dituduh nebeng momentum. Ada satu istilah yang identik dengan Eyang ketika bercakap politik, ia dikenal sebagai penggagas jurus politik ‘menangkap angina dengan keranjang’. Agresif dan kadang sukar diterka mainannya. Eyang mulai membuka jurus ‘mabuk’. Dapat dianalisa, yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana agar tidak tertinggal atau ditinggalkan dalam momentum Pilkada Serentak.

Dirinya harus dapat manfaat dari pesta politik 2020 ini. Terlebih Eyang harus kerja keras untuk mengamankan anaknya Amalia Landjar di Pilkada Boltim. Tergolong politisi penuh ceria gembira memang Eyang dikenal, tapi kebanyakan hitung-hitungan politiknya akurat. Politisi yang merangkak dari bawah dan matang ini rupanya masih punya obsesi mewariskan kepemimpinan di Boltim kepada anaknya.

Terendus Eyang turut menjadi penentu dalam mewarnai peta dan konstalasi politik di Sulut, ada 3 (tiga) skenario pasangan di Pemilihan Gubernur (Pilgub) dan target Kotak Kosong di Boltim, Eyang sebagai pelopornya. Target tersebut jika benar-benar diterapkan Eyang, berarti menambah ‘puji-pujian’ pendukungnya terhadap Eyang. Tapi memang tidak mudah, karena Eyang berada dalam pusaran kepentingan yang bisa membawa resiko dirinya dianggap sebagai penghianat diakhir permainan kelak. Reputasi Eyang bisa jadi dipertanyakan politisi sejawatnya, atau oleh publik.

Sebab diketahui, Eyang bukan ‘ular minya’. Apalagi derajatnya sebagai politisi senior mengharuskan dirinya menempatkan diri sedemikian rupa agar tegak lurus menjadi teladan bagi publik. Bagi yang mengenal Eyang tidak lagi terkejut dengan kata-kata meyakinkan yang dilantunkannya dalam bicara. Baik di rumah-rumah kopi, tempat main catur, meja makan sampai ruang diskusi formal Eyang memang konsisten kalau bicara kepentingan bersama. Namun dalam implementasinya, tergantung kita memandang dan mengukurnya masing-masing.

Selain itu terkuak juga Eyang akan bermain jurus mabuk dengan menerapkan komitmen politik ‘tiga kaki’. Eyang disebut akan maju sebagai calon Wakil Gubernur hanya semata-mata melahirkan pembagian kekuatan politik (competitor) menjadi 3 pasang calon. Rupanya by order, apakah Eyang ‘selingkuh’ kepentingan dengan PDI Perjuangan?. Hanya dirinya dan Tuhan yang tau itu. Kita sekedar merangkaikan informasi dan merelevansikan gerakan politisi pemberani ini.

Menghindari head to head di Pilgub, maka Eyang harus maju mendampingi CEP. Bila head to head, petahana Olly Dondokambey tentu kelabakan menghadapi VAP. Misi yang yang diduga kuat dilakukan Eyang yaitu PDI Perjuangan di Boltim harus berada dalam rangkulannya. Artinya kemenangan awal Pilbup Boltim telah mampu diraih Eyang dengan membangun komitmen politik agar PDI Perjuangan memberikan Surat Keputusan (SK) rekomendasi dukungan kepada anak tersayangnya Amalia.

Tidak main-main Eyang coba mengikuti gaya berpolitik Bupati Minahasa Tenggara (Mitra) James Sumendap yang melawan ‘Kotak Kosong’. Berarti CEP benarkah terjebak dan termakan strategi jitu dari Eyang?. Bisa benar, bisa juga tidak. Beredar kabar Eyang sempat menebar ‘terror’ kepada DPP PAN, jika keinginannya tidak diikuti, maka Eyang akan mundur dari PAN. Politisi vokal yang satu ini mau melakukan barter kepentingan. Sederhananya DPD PAN di Kabupaten/Kota yang ada di Sulut harus tertib mengikuti kemauannya.

Terutama aktivis parpol dan aktivis pergerakan masyarakat, tentu mengetahui kedekatan Eyang dengan James Sumendap. Keakraban mereka akan bermuara pada penyamaan sikap dalam membangun komunikasi-komunikasi politik. Skema Amalia Landjar melawan Kotak Kosong bisa terjadi di Boltim. Santer juga terdengar isu Eyang mendapat mahar politik dari CEP, karena Eyang dianggap punya popularitas, telah viral belum lama ini sehingga menjadi rebutan para politisi.

Eyang dianggap mampu menarik lumbung suara BMR (Bolaang Mongondow Raya). Padahal, kalau dilacak tidak sepenuhnya akurat anggapan tersebut. Dapat dikatakan politisi PAN yang satu ini mulai berhasil memainkan perannya di Pilkada Sulut, secara apik dan santun Eyang bermain lihai. Target melahirkan 3 paslon di Pilgub Sulut tengah dimainkannya, hal itu tentu tidak gratis secara politik. Eyang sudah tentu mendapat berkah dan manfaat.

Ketum DPP PAN, CEP dan SSL (Foto Istimewa)

Terlebih permainan Eyang penuh resiko yang besar. Beberapa sumber akurat orang dekat Eyang menyebutkan bahwa Eyang maju di Pilgub untuk kalah. Atau dalam istilah Aktivis Muslim Sulut (AMS) disebut ‘kalah tapi untung (menang)’. Benarkah CEP, Golkar dan DPP PAN terkecoh dengan jurus mabuk Eyang?. Kita nantikan saja realitas politik setelah ini. Tidak dapat disangkal, Eyang maksimal memanfaatkan keviralan tersebut. Sampai-sampai CEP mengaguminya, siap menjadikan Eyang sebagai calon Gubernur mendampinginya.

Tentu keberhasilan penetrasi politik yang mulai nampak dilakukan Eyang melahirkan kepuasan tersendiri bagi dirinya. Eyang, begitu santai, murah senyum tapi ‘berbahaya’. Terpotret pula gelagat politik Bupati Boltim 2 periode itu semata-mata berjuang untuk kepentingan dirinya dan keluarga, barulah kepentingan banyak pihak diperjuangkan. Tipikal politisi yang melanggengkan dan menjadi budak dari politik dinasti. Putra pertama Eyang yakni Fuad Landjar juga kini menjadi Ketua DPRD Kabupaten Boltim periode 2019 – 2024, dan juga istrinya bernama Nursiwin Dunggio, menjadi Anggota DPRD Provinsi Sulut periode 2019 – 2024. Tidak mudah peran yang dimainkan Eyang.

Dan akhirnya semua bisa berpotensi terjebak dan terkecoh dengan jurus mabuk yang dipentaskan Eyang. Politisi senior yang piawai berpolitik ini punya kelebihan membaca tanda-tanda kemenangan dalam politik. Eyang mengerti betul betapa beratnya melawan petahana Olly DondokambeySteven Kandouw (ODSK), sehingga pada kontestasi kali ini Eyang pasrah. Kemudian siap berada dalam barisan menangkan ODSK. Manuver Eyang perlu dibaca secara komprehensif, boleh saja ini bagian dari cara Eyang memperkuat ODSK, agar ODSK menang di Pilgub Sulut, Eyang harus bersama CEP. Dalam peran itulah Eyang diuntungkan secara berlimpah. Kompensasi politik untuk anaknya tercinta tidak murahan, anak Eyang (Amalia) harus mendapat dukungan dari PDI Perjuangan di Pilkada Boltim 2020, itu upayanya. Pantaslah gerak politik Eyang dicurigai saat ini.

Catatan S2 Memperingati HUT 397 Manado

Syarifudin Saafa (Foto Istimewa)

Oleh : Syarifudin Saafa, Ketua DPW PKS Sulawesi Utara

Manado telah banyak kemajuan melampaui Kabupaten/Kota lainnya di Sulawesi Utara. Bahkan bila dibandingkan dengan kab/kota lainnya di kawasan timur Indonesia setelah Kota Makassar pun demikian ada sejumlah persoalan klasik yang belum mendapatkan solusi di usianya ke 397 tahun. Beberapa diantaranya adalah pertama, infrastruktur yang tidak ramah Air. Sebagai sebuah kota yang telah berusia hampir 4 abad, seharusnya persoalan dasar sebuah kota berupa infrastruktur sudah tuntas. Realitasnya hari ini adalah persoalan infrastruktur itu khususnya infrastruktur drainase dan jalan masih membutuhkan alokasi sumber daya yang besar ke depan.

Saat ini infrastruktur kota belum ramah air. Hujan sejenak terjadi genangan dimana-mana. Dan tidak jarang genangan air yang deras dan bervolume besar itu menyebabkan banjir mini yang memasuki rumah rumah warga tanpa permisi. Keadaan ini berdampak pada banyak aspek dan mempengaruhi banyak hal. Mulai dari rasa nyaman dan aman masyarakat, menyebabkan keterpurukan ekonomi, kerusakan infrastruktur lainnya, serta dampak ikutan lainnya.

Dan tidak jarang genangan air yang deras dan bervolume besar itu menyebabkan banjir mini yang memasuki rumah rumah warga tanpa permisi. Keadaan ini berdampak pada banyak aspek dan mempengaruhi banyak hal. Mulai dari rasa nyaman dan aman masyarakat, menyebabkan keterpurukan ekonomi, kerusakan infrastruktur lainnya, serta dampak ikutan lainnya.

Kedua, Pengelolaan Sungai dan dampak ikutannya. Tuhan Yang Maha Kuasa menganugerahkan 5 sungai besar yang membelah kota Manado. Sudah pasti ada hikmah besar dibalik itu semua. Bahwa sungai-sungai itu dimaksudkan untuk membawah berkah kehidupan masyarakat. Bukan sebaliknya. Sekali lagi bukan sebaliknya. Dimana setiap tahun selalu menjadi momok menakutkan bagi warga kota terkhusus mereka yang tinggal disekitaran bantaran sungai. Keadaan ini menyebabkan rasa aman dan nyaman warga terganggu secara massif. Kehidupan sosial dan ekonomi sangat terganggu.

Bayangkan, pasca banjir warga yang mendiami sekitaran bantaran sungai membeli perabot, perbaikan rumah, dan lain sebagainya ketika terjadi luapan air sungai (banjir) menyebabkan kerusakan atau kehilangan kembali apa yang telah diperbaiki dan dibeli tersebut. Ini sama saja dengan gali lubang tutup lubang. Dan akan melanggengkan kemiskinan kota.

Pengelolaan sungai yang belum baik adalah PR kota ini. Kita membutuhkan cara pandang baru dalam memandang lingkungan terkhusus sungai yang membelah kota ini. Ada begitu banyak ide kreatif yang dapat kita hidangkan dalam pemanfaatan sungai yang pada gilirannya memberikan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat. Pada konteks ini pula, dibutuhkan sinergisitas antara pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kota serta pemerintah Kabupaten yang bersinggungan dengannya.

Ketiga, Persoalan Sampah Kota Pemerintah telah bekerja keras mengatasi masalah sampah kota yang bervolume sangat tinggi. Kerja keras itu wajib kita apresiasi. Pun demikian, ada yang harus diperbaiki. Bahwa selama ini, cara penanganan sampah kota masih berputar pada memindahkan sampah. Penanganan sampah rumah tangga, dan sampah dunia usaha termasuk sampah dari instansi pemerintah baru sebatas dipindahkan.

Pola semacam itu selamanya tidak menyelesaikan masalah. Bahkan berdampak buruk bagi lingkungan. Kita membutuhkan pengembangan pola penanganan sampah. Kita jangan berpola pindah saja. Tetapi harus dikelola secara baik dengan melibatkan teknologi modern yang ramah lingkungan dan berefek ekonomis bagi masyarakat serta terkelola secara profesional. Kita butuh cara baru. Dan itu bisa kita lakukan.

Keempat, Penanganan Pasar Pasar sebagai tempat saling berinteraksi aksinya masyarakat lintas latar belakang (suku, agama, ras dan budaya) masih memprihatinkan. Keprihatinan terhadap pengelolaan pasar dimaksud terkait dengan aspek infrastruktur pasar, manajemen pasar, kesejahteraan pedagang, profesialisme dan kesehatan perusahaan PD Pasar, dan rekayasa lalulintas dan selainnya. Infrastruktur pasar cukup memprihatinkan. Apalagi bila kita bandingkan dengan pasar semacamnya di kota – kota lainnya di Indonesia. Masih jauh. Dan butuh sentuhan khusus. Apalagi berbicara tentang kesejahteraan pedagang.

Masih jauh. Padahal mereka berjualan sudah berbilang puluhan tahun. Namun nampaknya tidak ada yang berubah dari kehidupan mereka. Realitas itu hadir bukan karena kemalasan para pedagang. Mereka sangat rajin. Mereka ke pasar dini hari dan ada yang pulang malam hari. Manajemen PD Pasar juga demikian. Terlalu gemuk. Karyawannya terlalu banyak.

Sehingga nampak seperti perusahan yang over obesitas. Jangankan diajak lari, bertahan berdiri saja serasa tak mampu menahan beban di atasnya. Ini harus dirubah. Hingga kini belum sama sekali nampak pengembangan dari PD Pasar. Padahal ada organ direksi pengembangan usaha. Apalagi kita bicara kontribusi kepada PAD. Sama sekali tidak relevan. Karenanya perlu dirubah. Agar pedagang sejahtera, dan perusahaan sehat dan maju.

Kelima, Persoalan Kemacetan dan dampak ikutannya Macet adalah wajah harian sebuah kota yang maju. Dan realitas itu telah hadir di tengah-tengah warga kota. Keadaan ini membutuhkan antisipasi. Salah satunya dengan menciptakan alternatif. Alternatif yang dimaksud adalah transportasi air. Dimana kondisi geografis kota sangat mendukung.

Diperlukan kebijakan khusus. Penyediaan alat transportasi air modern dan infrastruktur terminal yang memadai maka akan sangat membantu upaya mengatasi persoalan kemacetan yang suka tidak suka pasti akan menjadi problem ke depan secara serius Pada sisi yang lain, dampak ikutannya adalah terciptanya kegiatan ekonomi baru khususnya adanya lapangan kerja baru.

Dalam Diam SSK Bergerak, Menuju Harapan Baru Manado

Ir. Sonya Selviana Kembuan (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Politik menjadi alat perjuangan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Cita-cita besar itu sering kali terkikis atas praktek politisi yang terlalu mengutamakan sahwat politiknya. Mengejar kemewahan dunia, berlaku korup dan akhirnya menindas sesamanya. Menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan politik. Ir. Sonya Selviana Kembuan, bakal Calon Wali Kota Manado dikenal tak memperhitungkan lelahnya berjuang demi warga Manado.

Perempuan yang membangun karir sebagai pengusaha itu enggan mempolarisasi masyarakat. Dirinya hadir sebagai perekat, mengikat keakraban di tengah masyarakat dan tidak mau menjadi beban atau sampah peradaban. Bagi SSK, sapaan akrab Sonya dia berusaha menjadi makhluk sosial yang selalu menjadi pelopor dalam perubahan. SSK kini, dalam menyongsong pertarungan Pilwako Manado, Rabu 9 Desember 2020 selalu bergerak dinamis. Tidak terperangkap atau tertipu dengan nyiyir dan egoisme politik sektoral, dirinya hadir merangkul semua lapisan masyarakat. Terlebih partai politik, SSK melakukan komunikasi politik bermartabat dengan semua partai.

SSK bagai sedang melakukan ‘revolusi sunyi’, seperti tidak terpublikasi seluruh manuver dan komunikasi politiknya. Namun yang dilakukan diperhitungkan lawan politik. Dengan pendekatan yang penuh rasa hormat dan sikap santun membuat SSK disegani. Melalui prinsipnya yang mengedepankan etika politik menghantarkan dirinya ke level yang satu dua tingkat lebih maju ketimbang para politisi lainnya yang senang melempar satire. SSK seperti tidak khawatir dikhianati dalam perjuangan politik, hal itu terbukti dari ketulusannya berucap, blak-blakan dan kepolosannya menyampaikan pendapat.

Telah berkomunikasi intens dengan Partai Politik seperti PKS, Perindo, PAN, Gerindra, PDI Perjuangan dan juga NasDem tak membuat politisi perempuan ini jumawa. Malah SSK tetap mengambil sikap ‘menghindari’ percakapan publik yang berlebih. Menurut SSK politik adalah soal pengabdian, ketulusan bekerja memberi diri bagi banyak orang. Itu sebabnya, politisi yang terlahir dari keluarga sederhana itu menantang dikotomi dan dikriminasi dalam praktek politik. SSK menyebut politik mengakomodasi pemerataan, tak ada yang namanya distingsi dalam politik.

Derajat manusia bagi SSK ditentukan dari kepribadian, karakter dan kejujurannya yang ia simpulkan dalam istilah integritas politik. Kenapa penting integritas dalam berpolitik?, SSK dalam beberapa momentum bertukar pendapat menyampaikan perubahan sebagai sebuah keniscayaan memerlukan kepemimpinan yang kokoh berintegritas. Dari konsistensi sikap pemimpin menjaga, merawat integritas akan memobilisasi sebuah daerah atau negara menuju kemajuan yang berarti. Dengan pandangan tersebut, SSK lebih mengedepankan kepentingan masyarakat di atas segala kepentingan personal.

SSK bersama Bang Akbar Tanjung (Foto Istimewa)

Gerilya SSK dalam membentuk koalisi di Pilwako Manado, mesti tidak ramai tapi mulai terasa. Bersama tim, SSK melakukan ‘tendangan sudut’ (Corner kick) yang membuatan konsentrasi lawan berlahan buyar. Begitu percaya diri politisi PDI Perjuangan itu membangun kekuatan, bahkan mulai menentukan siapa rivalnya dalam Pilwako Manado 2020. SSK telah bulat bertarung sebagai calon Wali Kota Manado dengan mengusung skema koalisi yang majemuk. Keberagaman politik dan penghargaan terhadap kemajemukan akan dicontohkannya dalam memilih mitra koalisi yang tepat.

Gagasan besar SSK tentang ‘Harapan Baru Manado’ pun mulai didengungkan. Relawan dan simpatisannya telah membumikan itu dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti memberikan Bansos, turun bersama membantu masyarakat saat pandemi COVID-19. Edukasi politik dilakukan, SSK tidak sekedar memberikan kata-kata, melainakn mewujudnyatakannya dalam tindakan. SSK tidak main-main, bergerak dalam diam, namun memiliki sasaran yang jelas. Penetrasi politik dilakukan dengan santun, terarah, kemudian mengena. Hitungan SSK bersama timnya mulai mewarnai konstalasi politik Pilwako Manado.

iklan1