Category: Opini

Melipatgandakan Emosi dan Perilaku Positif, Kunci kehidupan lebih baik(2)

Ilustrasi Artikel dr. Datau

Ilustrasi

Melipatgandakan Emosi dan Perilaku positif, Kunci mencapai kehidupan lebih panjang, bahagia, sedikit penyakit(2)

Oleh: Prof.dr. E.A. Datau, SpPD-KAI

Emosi dan perilaku positif secara umum

Sejumlah studi terhadap dampak dari afek positif dan mortalitas hanya sedikit, tetapi cukup bermakna untuk disebutkan disini. Demikian pula, jumlah dan kualitas studi yang menghubungkan afek positif secara umum dengan kanker dan penyakit kardiovaskular lebih sedikit lagi. Peneliti berkonsentrasi pada usaha mereka terhadap tipe emosi positif, daripada afek positif secara umum, yang dijelaskan pada beberapa studi yang jarang.

Afek positif dan kesehatan secara umum: kesehatan lebih baik pada pasien dengan afek positif yang lebih tinggi.

Mendorong orang untuk mengalami status emosi positif yeng lebih besar dapat memperbaiki kesehatan mereka dan menstimulasi mereka dalam strategi promosi kesehatan seperti latihan-latihan. Dalam studi terhadap 1093 wanita, terdapat hubungan yang signifikan pada wanita dengan afek positif yang lebih tinggi dan kesehatan yang lebih baik serta lebih banyak melakukan aktivitas.

Studi yang lain menunjukkan bahwa orang-orang dengan afek positif yang lebih tinggi memiliki keluhan somatik lebih sedikit. Pada penelitian selama 2 tahun terjadap 86 pasien HIV positif (HIV+) dan 167 pasien HIV negatif (HIV-) pria homoseksual yang menjalani pelayanan yang berkaitan dengan AIDS, pria yang dapat mendiskusikan masalah kesehatannya dengan orang lain (lebih menerima) memiliki afek positif yang lebih tinggi, yang menyebabkan gejala fisik yang lebih rendah. Sebaliknya pria yang cenderung menghindari berpikir dan membahas mengenai keadaan kesehatan mereka (lebih menghindar) memiliki afek negatif yang lebih tinggi, sebaliknya mengalami gejala fisik yang lebih sering.

Afek positif dan kanker: kualitas hidup pasien kanker lebih baik dengan afek positif secara umum yang lebih tinggi.

Pada kanker, pasien memerlukan makna hidup dan kedamaian dalam jiwa jika mereka ingin memiliki perasaan yang lebih baik. Pada sebuah studi terhadap 105 pasien dengan kanker luas, baik afek positif dan negatif keduanya berkaitan kuat dengan makna hidup dan kedamaian pasien.

Memiliki afek positif yang lebih tinggi dapat meningkatkan rasa percaya diri, kepuasan hidup, dan kesehatan pada pasien kanker dalam tahun kedepannya. Pada sebuah studi prospektif terhadap 475 pasien kanker dan kelompok pembanding 255 orang sehat, depresi dan afek positif diamati pada awal studi dan sama-sama berhubungan dengan rasa percaya diri, kepuasan hidup dan kualitas hidup 3-15 bulan berikutnya.

Kami menemukan tidak adanya hubungan antara afek positif global dan risiko kanker atau mortalitas, tetapi terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa subtipe afek positif berhubungan dengan survival (ketahanan hidup) yang lebih panjang seperti yang akan didiskusikan lebih lanjut pada artikel ini.

Afek positif dan kesehatan kardiovaskular: jumlah kegawatdaruratan jantung lebih rendah pada pasien dengan afek positif yang lebih tinggi.

Afek positif telah dilaporkan berkaitan dengan rendahnya rata-rata rawat inap akibat masalah koroner.

Afek positif dan survival: mortalitas lebih rendah pada pasien dengan afek positif baik hidup sendiri maupun dengan keluarga; kemungkinan meningkatan mortalitas bila afek positif dapat menurunkan praktek hidup sehat.

Pada pasien lanjut usia yang hidup sendiri atau dengan keluarga, data studi hampir jelas selalu mengarah bahwa afek positif berkaitan dengan survival yang lebih panjang.

Pertama, pada studi yang direncanakan terhadap 2282 orang Meksiko-Amerika berusia 65-99 tahun, orang lanjut usia dengan afek positif yang lebih tinggi ditemukan memiliki risiko kematian dalam 2 tahun kedepan dan setengah dari orang lanjut usia dengan afek positif yang rendah. Mereka juga memiliki kemungkinan yang lebih kecil pada 2 tahun berikutnya mendapatkan kecacatan baru (sekitar setengah dari risiko normal) dan mempunyai kecepatan berjalan yang lebih rendah (risiko 1/3 lebih rendah)

Pada uji kedua yang direncanakan pada 407 pria yang HIV+, afek positif juga memprediksi secara signifikan memiliki risiko mortalitas yang lebih rendah.

Kedua, pada studi lain restrospektif (berdasarkan data yang telah ada), terhadap 180 biarawati Katolik dengan emosi positif yang tinggi berkaitan dengan masa hidup yang panjang. Untuk menentukan hubungannya, peneliti mengumpulan autobiografi para biarawati, yang telah ditulis pada usia rata-rata 22 tahun, suatu prosedur tradisional yang merupakan bagian dari prosdur penting sebelum membuat sumpah sebelum menjadi biarawati. Peneliti merutnutkan setiap autobiografi untuk ungkapan emosional dan dengan usia survival mereka 75-95 tahun. Autobiografi itu termasuk beberapa emosi negatif, sebagian karena mereka akan oleh kelompok Mother Superior (biarawati yang lebih superior). Biarawati kemudian dibagi menjadi 4 kelompok, dari emosi positif yang tinggi sampai yang rendah sesuai dengan jumlah kata-kata yang positif dan kalimat-kalimat yang diekspresikan pada biografi mereka. Terdapat hubungan terbalik yang kuat antara emosi positif dalam penulisan dan risiko kematian pada akhir kehidupannya. Dengan peningkatan ranking emosi positif dalam awal kehidupan, maka terjadi penurunan risiko mortalitas. Biarawati pada kelompok teratas dengan emosi positif mempunyai dua setengah kali risiko kematian lebih rendah daripada wanita pada kelompok terendah dalam 6 dekade kemudian. Peneliti mendapatkan bahwa usia panjang umur meningkat dengan 9,5 tahun untuk biarawati yang riwayat kehidupannya mengandung kata-kata terbanyak tentang emosi positif dan 10,5 tahun untuk biarawati yang menggunakan kata-kata emosi positif yang berbeda. Mengenai biarawati yang paling tidak bahagia, mulai dari usia 30 tahun, hanya 34% hidup sampai usia 85 tahun, dan 11% hidup sampai usia 94 tahun. Sedangkan pada mereka yang paling bahagia, 90% hidup sampai usia 85 tahun, dan 54% hidup sampai usia 94 tahun.

Bersambung…..(Ridwan Nggilu)

Melipatgandakan Emosi dan Perilaku Positif, Kunci mencapai kehidupan lebih panjang, bahagia, sedikit penyakit(1)

pasangan suami isteri-ilustrasi2

Pasangan Suami-Isteri (Ilustrasi)

Oleh: Prof.dr. E.A. Datau, SpPD-KAI

Emosi dan perilaku positif

Emosi dan perilaku positif adalah perasaan dan kebiasaan yang menyebabkan seseorang dapat melihat dan mengalami cerahnya kehidupan lebih sering dari biasanya dan menganggap hal ini layak dan penting bagi keberadaan manusia.

Kasih, harapan, kebahagian, belas kasih, kelemahlembutan, keindahan, dan perasaan damai adalah contoh dari emosi positif. Mereka melawan emosi negatif seperti kemarahan, kecemasan, depresi atau mengalami stres. Emosi menggambarkan personaliti seseorang. Mereka biasanya muncul sebagai perilaku positif atau negatif. Status emosi menggambarkan respon saat tertentu. Optimisme, lapang dada, meditasi, doa, humor, dan tindakan sosial berpengaruh dan melindungi hak manusia, adalah perilaku positif. Mereka membantu seseorang mengatasi keadaan sulit, dan mengalami emosi yang lebih positif dan mencapai tujuan yang menguntungkan daripada yang lain di lingkungannya. Mereka akan berbeda dari perilaku negatif seperti penolakan, kebiasaan kasar, cenderung berkelahi dan merasa lebih kuat dibanding orang lain.

Tujuan

Tujuan pembahasan ini adalah untuk menguji apakah memiliki emosi dan perilaku positif dapat meningkatkan masa hidup. Oleh karena itu, kami membahas beberapa studi yang meneliti dampak dari afek (raut wajah) dan kebiasaan positif terhadap mortalitas (semua penyebab dan spesifik), dan pada kedua kelompok penyakit yang dikumpulkan menyebabkan lebih dari 65% kematian di negara barat, seperti penyakit kardiovaskular dan kanker.

Metode dan material

Pencarian untuk abstrak dan artikel-artikel telah dilakukan melalui data Pubmed Medline yang dapat diakses melalui internet dari tahun 1975 sampai Juli 2006. Perilaku positif yang dipilih untuk pembahasan ini meliputi rasa menerima adanya penuaan, optimisme, ketanggapan, humor, mengampuni, dan makna hidup. Emosi positif yang diikutkan dalam pembahasan ini adalah kesehatan (termasuk kebahagiaan), harapan, kepuasan hidup, kehidupan spiritual, dan kasih (termasuk saling mengasihi dan berteman). Perlu diingat bahwa afek-afek ini dapat berupa emosi (status emosi) sebagai perilaku, dan semakin stabil pola pikir, perasaan dan kebiasaan yang dinilai oleh peneliti pada kebanyakan studi. Beberapa emosi dan perilaku positif yang penting seperti serenity (perasaan dari kedamaian dalam jiwa), empati, belas kasihan, kelemahlembutan, kebahagiaan, pengucapan syukur, keindahan, dan keamanan tidak dibicarakan disini, karena tidak adanya publikasi yang membahas hubungannya dengan mortalitas dan kedua kelompok dari penyakit degeneratif. Beberapa emosi dan perilaku positif telah dikelompokkan bersama karena hubungannya yang erat satu sama lain, seperti keagamaan dan kehidupan spiritual, doa dan meditasi, semuanya digabungkan dalam denominasi yang sama yaitu spiritualitas.

Bersambung…. (Ridwan Nggilu)

Marxisme dan Teka-Teki Telur dan Ayam

Karl Marx (Foto Ist)

Karl Marx (Foto Ist)

PEMBACA pasti pernah mendengar pertanyaan teka-teki populer ini: ‘mana dulu, ayam atau telur?’ Sepintas pertanyaan ini tak punya jawaban. Apalagi konteksnya obrolan buang-buang waktu di selasar kampus sambil nunggu dosen yang telat. Kalo kita jawab ayam, pasti penanya berkilah: bukankah ayam berasal dari telur? Begitu pula kalau kita jawab telur, bukankah telur berasal dari ayam? Apapun jawaban beserta argumen kita buat penanya, pasti ujung-ujungnya ialah meningkatnya keakraban semata. Memang untuk latihan debat kusir atau koan dalam meditasi Zen, pertanyaan ini sungguh bagus. Tapi, saya pikir teka-teki ini bagus juga dijadikan isi paragraf pembuka tulisan di kolom Logika. Ketika itu terjadi, pertanyaan muncul: apa hubungannya teka-teki telur-dan-ayam dengan Marxisme?

Atas teka-teki ini, seorang kawan menjawab: relasi telur-dan-ayam itu dialektis, bro!. Kita tidak bisa menentukan mana yang lebih dulu dan mana yang kemudian. Pertanyaanmu itu ngga intelek! Coba kita pikir baik-baik ya. Keduanya kan mengada, seperti diajarkan Martin soal dialektika, ko-relatif atau yang satu mengandaikan keberadaannya pada yang satunya lagi dalam relasi tak terpisahkan. Siapa saja yang coba-coba mendahulukan yang satu atas yang lain niscaya gagal sebab memang tak ada yang dahulu dan yang kemudian. Kita niscaya jatuh pada determinisme dan reduksionisme apabila memaksakan kedahuluan ontologis salah satunya. Tidak! Sebagai Marxis terpelajar kita mesti jauhi totem ilmu borjuis itu!

Cendikia sekali. Jawabannya terdengar seperti jawaban seorang Marxis tulen. Bagaimana tidak, kawan kita ini mendasarkan jawabannya pada asas-asas dialektika paling pokok yang disebut doktrin relasi internal. Segala hal konstitutif terhadap segala hal lainnya. Karena dipuji, kawan ini terus menambahkan argumennya dari korpus Marxisme: Engels kan mengajarkan bahwa dialektika bekerja di pikiran, alam, maupun masyarakat. Dialektika ayam-dan-telur adalah bukti bahwa alam itu realitas dialektis. Bukankah Marx juga mengajarkan pada kita bahwa bukan unit individual tapi relasi yang mengisi relung terdasar realitas? Kapital itu relasi sosial lho, bukan entitas. Begitu pula basis-suprastruktur. Kalau kita tidak percaya dialektika, kata kawan ini, kita bukan Marxis!

Kawan lain berbisik pada saya. Dia memberi jawaban lain ihwal teka-teki ayam dan telur. Menurutnya, dari fakta evolusi, telur terlebih dahulu ada daripada ayam. Buktinya? Gallus (nama genus semua jenis ayam-ayaman, termasuk ayam kampung yang suka dibikin pecel, Gallus gallus domesticus) itu anggota keluarga Phasioanidae dari Ordo Galliforma, salah satu anggota kelas Aves di kerajaan Binatang. Leluhur jauhnya ialah Archaeopteryx, satu jenis saurus yang hidup sekitar 150 juta tahun lalu. Saurus bereproduksi melalui telur yang dierami di luar induk. Artinya, jauh sebelum ayam muncul di pohon evolusi hayati, telur sudah ada terlebih dahulu. Dengan gaya tuturnya Martin: untuk adanya ayam sama sekali, telur mesti ada terlebih dahulu di alam. Jadi, telur lebih dulu daripada ayam.

Jawaban kawan yang satu ini juga terdengar seperti jawaban seorang Marxis. Bagaimana tidak, dia mendasarkan jawabannya pada asas syarat-syarat material keberadaan suatu relasi. Baginya, di luar relasi internal ayam-dan-telur ‘saat ini’, ada relasi eksternal yang memungkinkan sama sekali keberadaan relasi internal, yakni fakta evolusi bahwa telur yang dierami di luar induk ada lebih dahulu ketimbang evolusi ayam dari filogeni spesies-spesies petelur sebelumnya. Dengan menekankan pada materialitas keberadaan hal-ihwal relasi, pandangan kawan ini juga menjadi historis. Ada asal-usul dari serba hal-ihwal yang relasional, entah itu ayam-dan-telur, majikan-dan-hamba, ataupun kapitalis-dan-proletar. Apabila Marxisme itu pandangan dunia materialis, bukankah pandangan kawan ini boleh juga mendaku dirinya Marxis?

Menurut kawan materialis ini, jawaban ‘dialektis’ di atas terdengar naif. Meski kedengarannya seperti argumen seorang Marxis tulen, tapi itu keliru pada hal paling mendasar. Kekeliruannya terletak pada pengutamaan dialektika di atas materialisme. Apa pasal? Di jawaban itu tersirat bahwa relasi ialah segalanya dibanding materialitas keberadaan yang ditautkan relasi itu. Boleh dibilang jawaban itu lebih Hegelian ketimbang Marxian. Kawan ini pikir, inilah salah satu penyakit Marxis kontemporer di Indonesia; penyakit borjusi kecil-kecilan yang mengkhotbahkan dialektika secara membabi-butanya dan mengaku Marxis karenanya. Kawan ini berteguh bahwa sebelum dialektis, Marxisme itu materialis. Dialektis itu cuma predikat atau sifat saja dari materialismenya. Jangan hanya karena ‘materialisme dialektis’ itu satu kata, lantas menyetarakan derajat antara yang materialis dan yang dialektis ke dalam relasi internal simetris. Kalau begini jadinya, Marxisme bisa jatuh ke jurang idealisme yang tak terampuni dan akan tak terbedakan pula dari musuh-musuh Marxisme. Mengabaikan hakikat materialistik dari Marxisme demi dialektika yang sepintas terdengar lebih cendikia, bisa saja menghapus pondasi Marxisme sama sekali.

Lebih lanjut dibilangnya bahwa dialektika itu bisa berbahaya tanpa materialisme. Misalnya dalam soal tautan antara ada dan pikiran, antara realitas dan kehendak. Seperti dalam relasi ayam-dan-telur, di dalam tautan antara ada dan pikiran, realitas dan kehendak, tentu saja terdapat relasi internal antara keduanya. Bahwa antara realitas dan kehendak atau antara ada dan pikiran terdapat pertautan tak perlu disangkal. Justru karena terdapatnya pertautan inilah yang memungkinkan kritik ideologis seperti yang selama ini dioperasikan kritik ekonomi-politiknya Marx dan sosiologi pengetahuan kontemporer. Namun yang perlu ditegaskan ialah bahwa tautan keduanya tidaklah simetris seperti dalam doktrin relasi internalnya Hegel. Apabila simetris relasinya, maka kita bisa saja memulai dari yang sebaliknya dari kritik ekonomi-politik. Kita bisa terjebak dalam penyakit Hegelian muda yang mengira pengubahan pikiran dan kehendak bisa mengubah ada dan realitas. Bahwa kategori-kategori ekonomi-politik (pikiran) itu, misalnya, berelasi dengan kondisi material/kelas (ada) sehingga ekonomika neoklasik tak lebih dari pantulan kehendak kelas kapitalis atas realitas perekonomian tempat mereka hidup dan berjuang memenangkan pertarungan kelas melawan proletariat, bisa jadi benar. Tetapi sekadar mengubah kategori-kategori (pengetahuan atau kesadaran orang atas realitas) tidak lantas bereslah masalah di tingkat realitas.

Pengabaian pada adanya tautan eksternal dari relasi internal hal-ihwal bisa berujung pada lamunan militan akan, misalnya, cinta. Cinta tentu saja adalah relasi yang menautkan dua hasrat individu secara internal satu sama lain. Namun sebelum adanya relasi internal ini beserta dinamikanya, ada prasyarat material keberadaan hasrat dari seseorang yang nyata pada sesuatu di luar diri yang nyata pula sekaligus menjadi tempat hasrat itu ditujukan. Cinta itu, kata Marx, “tak bisa punya rujukan pada perkembangan internal [semata] karena ia tidak bisa dibangun secara a priori; karena perkembangannya ialah hal nyata yang mengambil tempat di dalam dunia indrawi dan antara individu-individu nyata”[1]. Selain itu, karena “yang terkasih ialah objek indrawi, dan apabila Kritisisme Kritis[2] berlagak mengakui suatu objek, ia butuh setidaknya suatu objek tak-berindra”[3], kata Marx. Artinya, sekadar hasrat dan kehendak pada cinta tidak akan mengubah realitas bahwa kita jomlo lapuk. Ada prasyarat material yang eksternal untuk adanya sama sekali relasi internal dua kategori dalam cinta. Dan prasyarat ini mendahului sekaligus menopang (supervene) adanya kehendak dan relasi dua kategori dalam cinta itu kemudian.

Dalam ‘ilmu’ humaniora, posisi kawan dialektis yang belum memahami arti cinta atau yang bertepuk sebelah tangan sambil melamun maujud ke dalam pikiran antropolog-antropolog idealis semacam Franz Boas, Durkheim, atau Lévi-Strauss bahwa manusia dan kebudayaan itu satu paket keberadaan. Keduanya korelatif. Di situ ada manusia, di situ pula kebudayaan ada. Yang satu mengandaikan yang lain secara niscaya. Buat mereka differentia specifica manusia atau hal pokok yang membedakannya dari binatang-binatang lain terletak pada kebudayaannya. Bolehlah kita sebut pandangan ini ‘pan-kulturalisme’. Kekeliruan pan-kulturalisme sama dengan kekeliruan pandangan kawan dialektis soal ayam-dan-telur. Apabila yang dimaksud kebudayaan adalah segala hal-ihwal simbolik ciptaan manusia yang reproduksinya ekstrasomatik, maka sebelum kapasitas simbolik berkembang, dipersyaratkan suatu perkembangan tertentu dari manusia dengan kapasitas biopsikologis tertentu di otaknya. Sebelum munculnya kapasitas kognitif yang memungkinkan sama sekali produksi simbol, sebuah otak dengan kerumitan sistem syarafnya mesti berevolusi sedemikian rupa dahulu dan memungkinkan kapasitas kognitif sama sekali pada satu produk alam yang namanya manusia.

Coba tengok bukti evolusi kebudayaan, kata kawan materialis. Salah satu bukti empiris keberadaan kapasitas simbolik ialah tinggalan arkeologis benda-benda ciptaan manusia yang non-utilitarian, yang fungsinya bukan untuk subsistensi atau bertahan hidup semata. Mengapa ini patokannya? Apabila sekadar kapasitas menggunakan (dan membuat) perkakas, semua kera besar dan beberapa spesies monyet juga menggunakan perkakas dalam aktivitas subsistensi dan bertahan hidupnya. Hanya manusia sajalah yang bisa memproduksi benda-benda non-utilitarian semisal berlaksa meme harian di facebook atau bunga rampai tentang Engels. Karena benda-benda itu tak terkait langsung dengan subsistensi yang empiris-aktual, itu artinya keberadaan mereka melibatkan suatu sistem simbolik atau pemaknaan, sesederhana apapun itu.

Apabila ini patokannya, kita bisa ambil bukti tertua berupa arca mungil yang menggambarkan sosok perempuan gendut (perempuan karena berpayudara, gendut karena perutnya buncit)[4]. Dari bukti tertua itu, maka ‘kebudayaan’ baru muncul tak lebih tua dari 40 ribu tahun silam. Padahal keberadaan genus homo sudah sejak dua juta tahun silam. Kalo kita persempit ke kemunculan Homo sapiens, maka paleospesiesnya sendiri sudah hadir dalam bentuk yang sepenuhnya seperti kita 165 ribu tahun silam. Artinya, ada jeda beberapa puluh ribu tahun sebelum kapasitas berkebudayaan muncul. Ke mana saja ‘kebudayaan’ selama itu kalau benar manusia dan kebudayaan itu ada seiring sejalan sejak asali?

Yang luput dari amatan pan-kulturalisme (dan tentu kawan dialektis) ialah bahwa kebudayaan itu tiada lain kebudayaan-nya manusia. Keberadaan kebudayaan mengandaikan suatu manusia terlebih dahulu. Ada syarat-syarat material yang mesti terpenuhi terlebih dahulu untuk adanya sama sekali kebudayaan. Syarat-syarat itu, kata Marx juga, bergantung pada “organisasi fisik” manusianya. Dan sekarang ilmu evolusi memberi kita banyak bukti bahwa manusia adalah produk alam; hasil evolusi dari leluhur keranya yang tanpa kebudayaan. Pertanyaan lanjutan materialis akan menjadi: bagaimana kebudayaan muncul sama sekali dari evolusi mahluk yang sama sekali tak berkebudayaan? Jawabnya harus dicari dari penyelidikan ilmiah ihwal kondisi-kondisi material yang memungkinkan kemunculannya, bukan dengan mengandaikan begitu saja keberadaan kebudayaan melekat pada kemanusiaan. Dengan begini, siasat materialis ini menutup peluang masuknya ‘Misteri’ ke dalam penjelasan atas manusia dan kebudayaan, sekaligus menegaskan cara pandang historis karena segala hal dipandang memiliki asal-usul.

Apakah dengan demikian dialektika harus ditinggalkan? Tentu tidak, kata kawan materialis. Dialektika berguna dalam menelisik soal struktural ketika masalah asal-usul dianggap sudah selesai. Tapi apabila persoalannya adalah asal-usul, dan dalam politik perjuangan kelas di tingkat ideologi asal-usul itu berkenaan dengan legitimasi keberadaan hal-ihwal, maka materialisme, yang memungkinkan cara pandang historis, mestilah menjadi panglima.

Dari paparan kawan materialis di atas, setidaknya ada dua hikmah yang bisa dipetik. Pertama, Marxis mesti mendahulukan materialisme ketimbang dialektika; mengutamakan pada realitas material ketimbang relasi-relasi kategoris yang menautkannya kemudian, atau kita bisa menjadi sejenis Marxis idealis keras kepala yang memaksakan ‘pikiran-pikiran’ Marx dan Engels atau ‘Rusia’ yang agung itu pada realitas material yang kita hadapi saat ini di sini. Apabila sudah begini, Marxis tak akan ada bedanya dengan Mistisis.

Kedua, dalam upaya meneguhkan materialisme Marxis, kita juga mesti akrab dengan temuan-temuan ilmu alam dan bekerja keras menjadikannya senjata dalam peperangan panjang melawan idealisme, atau kita akan mudah tersungkur ketika musuh menembakkan satu saja peluru temuan ilmu alam yang kokoh ke bangunan teoritis Marxis. Pembaca tentu ingat petuah Lenin bahwa “pasukan yang tidak berlatih menggunakan semua senjata, semua sarana dan cara peperangan yang dipunyai atau yang bisa dimiliki musuh, itu artinya bertindak sembrono”[5].

Meski tidak langsung nyambung dengan paparan di atas, alangkah baiknya ilmu terpadu yang diwartakan Martin sebagai program Marxis dalam pertempuran ideologis kita di Indonesia mulai dirintis untuk mengokohkan perlawanan terhadap penjelasan-penjelasan adialami atau suprahistoris tanpa memaksakan realitas pada kehendak revolusioner kita semata. Hanya materialisme yang bisa menolong kita saat ini. Dan untuk sampai pada materialisme yang kaffah, sebagian kawan mungkin mesti memulainya dengan cinta; dengan coba tinggalkan kehidupan jomlo radikal dan mulai mencintai selain diri sendiri beserta lamunan-lamunan malamnya yang romantis namun kadang menyakitkan itu. Bagaimana pun, kata Marx, cintalah “yang pertama kali sungguh-sungguh mengajarkan manusia untuk percaya pada dunia objektif di luar dirinya sendiri”.[6]. (http://indoprogress.com)

 

 

 

Jatinangor, 5 Maret 2015

 

 

 

—————–

 

[1] K. Marx dan F. Engels (1975) “Holy Family, or Critique of Critical Criticism”, dalam Karl Marx and Frederick Engels Collected Works, Vol. 4, London: Lawrence & Wishart, h. 23.

 

[2] Maksudnya adalah dedengkot Hegelian Muda yang sok kritis.

 

[3] Marx dan Engels, op.cit., h. 22.

 

[4] Arca Venus dari Willendorf. Contoh lain ialah lukisan-lukisan gua di Lascaux, Chauvet, Altamira, Pech Merle di Eropa, juga di Sulawesi, Korea, Australia, dan berbagai tempat, yang kesemuanya tak lebih tua umurnya dari 40 ribu tahun silam.

 

[5] V.I. Lenin (2008) “Left-wing communism, an infantile disorder”, dalam Revolution, Democracy, Socialism, disunting P. le Blanc. London: Pluto Press, h. 314.

 

[6] Marx dan Engels, op.cit., h. 21.

Ketika Bangsa Tak Bersandar Pada Nurani

Zaenal (Foto Ist)

Zaenal Abidin Riam (Foto Ist)

Akhir – akhir ini, banyak gonjang – ganjing terjadi di bangsa kita, mulai yang berkaitan dengan hukum, hingga yang bertalian dengan masalah sosial, negeri Indonesia seolah tak pernah sepi dari parodi, mulai dari parodi dengan lakon dan alur yang jelas, hingga parodi dengan alur dan lakon yang sangat absurd, ya ragam kasus besar yang muncul belakangan, tak ubahnya sebuah parodi yang ditampilkan di gedung teater, rumah besar bernama Indonesia bertindak sebagai gedung teaternya, manusia yang bernaung dalam rumah tersebut (rakyat), bertindak sebagai penontonnya, parodi tersebut ada yang selesai dalam sekejap, atau minimal seolah diselesaikan, ada pula yang berlangsung lama, bahkan terus – menerus tanpa ujung yang jelas, akibatnya penontonnya menjadi bosan, terlebih yang ditonton jauh dari kata mendidik, tontonan tersebut didominasi oleh hasrat kekuasaan, kepentingan menjadi panglima di dalamnya, tak ada lagi nuansa nurani dalam semua parodi itu, nurani menjadi kata terlupakan, bahkan sengaja dilupakan.

Di wilayah hukum misalnya, kita akan berjumpa dengan parodi upaya penghancuran KPK lewat tangan busuk kekuasaan, bagi masyarakat awam, bisa saja banyak yang tidak menduga, bahwa nasib KPK akan naas seperti sekarang, apalagi sebelumnya, optimisme publik semakin menguat, khususnya saat KPK dipimpin Abraham Samad, kasus besar mulai disentuh, orang dalam kekuasaan mulai diproses, namun ternyata, yang terjadi di kemudian hari, kelompok kekuasaan, yudikatif dan legislatif beserta kroni – kroninya, mampu menyusun rencana massif dan terstruktur menghantam balik KPK, mulai dari mempolisikan dua orang pimpinan KPK yang paling garang mengeksekusi koruptor, hingga upaya mengkriminalisasikan pulahan pegawai KPK, dengan tuduhan yang sangat susah diterima akal sehat, mengapa? Sebab kasus tersebut tiba – tiba muncul saat tangan KPK mulai menyentuh petinggi kekuasaan, termasuk petinggi kekuasaan di lingkungan penegak hukum, parodi ini menjadi semakin lengkap, tatkala pimpinan tertinggi Indonesia, sang presiden, terlalu lama duduk manis di kursi istana, dan membiarkan KPK terseok – seok, baru ketika KPK hampir menemui ajalnya, sang presiden mengeluarkan jurus ampuhnya yang bernama perpu, sayang perpu tersebut tak ampuh mengembalikan wibawa KPK, KPK seolah menjadi manusia pesakitan yang terus ditikam, lagi – lagi nurani tak hadir dalam parodi ini, semuanya didasarkan pada hitungan mengamankan kekuasaan.

Parodi lainnya yang tak kalah ambigu adalah, kasus terpidana mati beberapa pelaku narkoba, khususnya terpidana mati yang berasal dari Australia, pemerintah negeri kanguru sepertinya tak patah arang, ragam jurus digunakan untuk menyelamatkan warganya, yang pada saat yang sama, warganya itu telah membunuh jutaan masyarakat Indonesia dengan racun narkoba, minimal membunuh pola pikir dan prilakunya, sikap inkonsisten kembali diperlihatkan pemerintah Indonesia, ini terlihat dari penundaan – penundaan eksekusi terhadap para terpidana mati (semoga ketika tulisan ini dipublikasikan eksekusi mati telah dilaksanakan), saat tawaran pertukaran tahanan tidak membuat RI bergeming, maka Australia melangkah lebih jauh, memanfaatkan bocoran dari wiki leaks, salah satu Koran di Selandia Baru, mempublikasikan kecurangan Joko Widodo pada saat Pilpres, entah hal tersebut benar atau salah, namun yang ingin kita lihat adalah sikap sang presiden, yang mesti dilakukan seharusnya bukan aksi ancam balik, berupa pemulangan imigran gelap, namun yang perlu adalah segera mengeksekusi mati mereka, tidak ada lagi penundaan, jika terjadi lagi penundaan, maka kesan intervensi akan sangat kuat, bila RI balik mengancam, maka itu berarti RI bergeming dengan ancaman negeri kanguru, lagi – lagi nurani belum menjadi panglima dalam masalah ini.

Pada sisi sosial, parodi kembali dipertontongkan pemerintah dengan menaikkan harga BBM setelah sebelumnya sempat diturunkan, entah apa yang ada di benak pemerintah dengan tindakan menurunkan dan kembali menaikkan harga BBM sekehendaknya saja, padahal mereka tahu, kenaikan BBM pasti berimbas kepada kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah, atau mungkin pula pemerintah melihat bahwa sekarang merupakan saat yang tepat, momennya pas, mumpun mayoritas mata sedang tertuju pada KPK dan eksekusi mati pelaku narkoba, lalu pemerintah diam – diam menaikkan harga BBM, strateginya cukup ampuh juga, minimal kenaikan BBM kali ini, tak memicu riak sekeras sebelumnya, rakyat lagi – lagi dikibuli, dinamika ini sama dengan memancing orang menyelam di air keruh, saat semua orang masih di dalam air keruh, di permukaan, pemerintah bermanuver cepat dengan menaikkan BBM, tak ada yang bisa melihat suasana di atas permukaan saat semua orang masih menyelam di air keruh, sehingga ketika mereka muncul dari permukaan air keruh, maka sudah terlambat untuk berteriak menolak, lagi – lagi nurani tak ada tempatnya dalam permainan seperti ini.

Sangat susah, bahkan terlalu sulit, meyakinkan diri sendiri, bahwa aksi – aksi yang berlangsung dalam semua parodi itu, menjadikan nurani sebagai dasar pertimbangan utamanya, sebuah keputusan, atau tindakan yang berdasar nurani, selalu bersifat tanpa pamrih, yang terbangun di dalamnya adalah solidaritas nilai, bukan solidaritas kelompok berdasar kepentingan, “jika si A salah maka silakan babat, karena ia bukan bagian dari kelompok saya, namun jika si B yang salah maka harus dilindungi, karena ia bagian dari kelompok kita, kalau ia tersentuh maka kita semua berpotensi tersentuh”, mereka yang berupaya melemahkan KPK boleh jadi nuraninya tak menyetujui, kebimbangan untuk mengeksekusi para terpidana mati pelaku narkoba boleh jadi ditentang keras oleh nurani bersangkutan, saat pemerintah kembali menaikkan harga BBM boleh jadi nuraninya sedang berkata “jangan”, namun semua suara itu akan mudah dibungkam saat hasrat kekuasaan, kepentingan, solidaritas kelompok lebih ditaati, belum terlambat mendengar bisikan nurani, sebelum nurani tak lagi mau berbisik walau kita menanti bisikannya, hal ini penting demi menata bangsa berdasarkan nurani.

 

Catatan : Zaenal Abidin Riam

Ketua HMI MPO Badko Sulambanusa (Sulawesi bagian selatan, Maluku utara, Bali dan Nusa tenggara)

 

Peluang Parpol dalam Pilwako Manado, PDIP Atau Partai Demokrat?

Bakal Calon Wali Kota Manado (Foto Ist)

Bakal Calon Wali Kota Manado (Foto Ist)

Mengikuti alur dan perkembangan politik di Indonesia, memang diakui semua mobilitas Parpol tak luput dari ‘konflik’, dinamika dan kesenjangan, ada intrik yang selalu saja menjadi hal lazim dalam aktualisasi politik. Dalam konteks penguatan Negara dan pilar berdemokrasi, berbagai elemen penentu (determinan) perlu menjadi perhatian kita dan tidak boleh diabaikan, diantaranya seperti eksistensi kelompok kepentingan (interest group), kelompok penekan (presure group), masyarakat secara mayoritas dan pemerintah yang masing-masing memiliki peran serta pengaruh disaat pengambilan kebijakan dilakukan. Di daerah Sulawesi Utara (Sulut) misalkan, peran kelompok penekan berupa Ormas, LSM, dan kelompok swasta (pengusaha) kemampuannya untuk mempengaruhi kebijakan di daerah ini tetap saja ada.

Berbeda peran, kelompok yang satu ini, yakni kelompok kepentingan diantaranya berupa kelompok partai politik, yang kecenderungannya melakukankan sesuatu karena faktor interest. Kelompok ini sering menerapkan istilah tak ada teman yang abadi dalam praktek politik, karena yang abadi menurut mereka hanyalah kepentingan. Bila dua komponen besar ini pengelolaannya dilakukan, contohnya kekuatan, kelemahan peluang dan ancaman yang dimunculkan dari kelompok penekan dan kelompok kepentingan diatur dengan baik, manakala manajemennya dilakukan untuk pemenangan dalam Pemilu, hal tersebut akan membawa efek fundamental dalam terwujudkan ketertiban dan kesejahteraan masyarakat demi mempengaruhi publik (konstituen).

Membicarakan kelompok penekan dan kelompok kepentingan, tanpa menyoroti politik secara riil membuat analisis ini tidak menarik dilakukan dan kurang berkembang. Sekedar membaca peta politik atau peta kekuatan Parpol di Manado, tentang praktek politik di Kota Manado jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada), mulai dari soliditas Koalisi Merah Putih (KMP) di Kota Manado hingga Koalisi Indonesia Hebat (KIH), yang kelihatannya sejauh ini belum mengambil langkah. Sebagaimana yang terlihat, untuk Pilkada Kota Manado baru muncul figur-figur dari Partai Demokrat (PD), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), baru ini yang teridentifikasi.

Mereka kader terbaik Partai Politik (Parpol) seperti DR GS Vicky Lumentut dari Partai Demokrat Sulawesi Utara, yang dipastikan dapat mengharumkan nama baik Partai Demokrat di Kota Manado, Syarifudin Saafa ST, Amir Liputo SH, dan Abid Takalamingan S.Sos dari Partai Keadilan Sejahtera, Richard Sualang, Andre Angow, dari PDI Perjuanga Kota Manado, Hi. Ayub Albugis dari PAN, Audy Lieke, Gerindra. Dari lima Parpol yang telah memunculkan nama kadernya, empat diantaranya dari KMP dan satunya KIH. Meski komposis KMP di Kota Manado juga terlihat lebih dominan di DPRD Manado, namun kekuatan KIH di Kota Manado tidak bisa diremehkan. Begitupun kalau disesuaikan dengan aturan Pilkada, hanya Partai Demokrat yang dapat mengajukan calon sendiri di Pilwako Manado.

Jika diperhitungkan kekuatan politik PDIP diakui sangat besar peluangnya untuk menang, selain memiliki kader yang militan, basis masa yang luas, juga didukung dengan otoritas mengendalikan struktur pemerintahan secara nasional (baca, Jokowi petugas PDIP, red). Dengan posisi tersebut, penyelenggara Pemilu berpeluang dikontrol dan mengikuti perintah Parpol yang satu ini, bila intervensi dilakukan. Untuk posisi PKS Sulawesi Utara, sudah menjadi rahasia umum dimana PKS identik dengan Parpol yang memiliki kader-kader loyal dan militan. PKS solid karena memiliki kader yang taat pada instruksi partai, berdasarkan pengalaman, PKS sendiri tidak terdengar gejolak dan pertentangan internal.

Begitupun dengan PAN, memiliki peluang menang yang sama dalam Pilwako Manado, jika mereka memilih kawan politik (koalisi) yang tepat. Walau PAN seperti dalam Kongres di Bali belum lama ini kabar beredar DPW PAN Sulawesi Utara memilih Hatta Rajasa, dan hal tersebut akan membawa implikasi politik tersendiri.

Selanjutnya Parpol apa yang lebih berpeluang dalam Pilwako Manado 2015 kali ini? Kemudian kehadiran ‘pemain’ non-parpol seperti pengusaha dan birokrat sebagai alternatif pilihan juga perlu diperhitungkan dalam pertarungan Pilwako Manado, ada kalangan investor (pebisnis) yang tidak segan-segan menanamkan investasinya secara finansial dan juga dalam ranah politik mereka ini melakukan ekspansi kuat termasuk di dalamnya mempengaruhi konstalasi politik. Karena telah terbukti, kebijakan Parpol, kebijakan pemerintah dan juga penyelenggara Pemilu sering tergode (terpengaruh) dengan kehadiran para kelompok non-parpol ini, yang mengutamakan materi (uang) sebagai strategi mereka dalam memenangkan Pilkada.

Diakhir catatan singkat ini, akan kami sajikan beberapa peluang Parpol di Manado yang akan memenangkan Pilwako 2015, yakni Parpol PDI Perjuangan dan Partai Demokrat yang bila mampu memaksimalkan infrastruktur dan suprastruktur politik. Komunikasi dilakukan dengan baik, maka PDI Perjuangan, kemudian Partai Demokrat akan menjadi pemenang. Alasannya sederhana, karena secara politik kedua Parpol tersebut memiliki nilai lebih dibandingkan Parpol lainnya, PDI Perjuangan sebagai Parpol pemenang dalam Pilpres, sementara Partai Demokrat di Kota Manado adalah incunbent yang saat ini sedang memimpin Kota Manado. Kekuatan ‘sama kuat’ antara PDI Perjuangan serta Partai Demokrat makin mengkristal, bila tidak ada gangguan eksternal secara politik. Apalagi peta perpolitikan secara Nasional Prabowo (KMP) menertibkan barisan koalisi di Kota Manado, dan menguatkan Partai Demokrat. Situasi ini membuat calon alternatif diluar Parpol terhimpit peluangnya untuk menang. Kecuali non-kader Parpol yang mampu menerobos dan merubah kebijakan PDIP dan partai Demokrat, meski langkah ini membawa resiko besar (riskan).

 

Catatan : Redaksi www.suluttoday.com

iklan1