Category: Opini

Praksis Panggung Politik: Berkaca Dari Sang Aktor Adolf Hitler

Albert W Kusen (Foto Ist)

Drs Albert Kusen (Foto Ist)

SEJARAH Adolf Hitler, Pemain Sandiwara Ulung

Seorang ahli sejarah asal Hamburg menggambarkan Hitler sebagai seseorang yang pandai bersandiwara untuk menarik simpati pengikutnya.

Hitler berlatih secara khusus selama bertahun-tahun untuk memperkuat otot lengannya. Tujuannya agar dia bisa mengangkat tangan cukup lama untuk “Salam Hitler“ dalam parade-parade militer. Hal ini diungkapkan Volker Ullrich dalam buku barunya: Adolf Hitler. Die Jahre des Aufstiegs 1889-1939(Tahun-Tahun Kebangkitan 1889-1939). Menurut Ullrich, salah satu rahasia sukses Hitler meniti karir politik sampai ke puncak kekuasaan adalah kemampuannya untuk bersandiwara.

Pribadi Hitler sampai saat ini diliputi berbagai mitos dan legenda. Hitler sendiri selama hidupnya berusaha membangun berbagai mitos itu. Misalnya ia menceritakan masa kecil yang penuh kemiskinan. Tapi cerita itu tidak benar. Hitler berasal dari keluarga menengah.

Selama menjadi pemimpin Jerman, Hitler juga membangun citra kehidupan yang sederhana dan seadanya. Tapi ini juga tidak benar. Sebab ia senang memakai baju dan mobil-mobil mahal. Hitler juga mengeruk keuntungan besar dari penjualan bukunya “Mein Kampf“.

Seorang Demagog Ulung

Salah satu keberhasilan Hitler adalah membangun mitos bahwa dia tidak punya kehidupan pribadi dan hanya bekerja untuk melayani rakyat dan negara Jerman. Menurut Volker Ullrich, Hitler punya kehidupan pribadi yang sangat. (***)

Catatan : Drs Albert Kusen (Dosen fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsrat Manado)

GSVL, Ai Mangindaan dan Ivansa Rebut Wali Kota Manado, Siapa yang Unggul?

GS Vicky Lumentut, Harley Mangindaan dan Ivan Sarundajang

GS Vicky Lumentut, Harley Mangindaan dan Ivan Sarundajang

Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Manado yang diperkirakan mulai akhir tahun 2015 ini menjadi segmen penting yang ramai diperhatikan warga Manado. Kali ini redaksi Suluttoday.com ikut memberikan analisis terkait siapa saja figur yang berpeluang memimpin Kota Manado kedepan, berdasarkan hasil kajian redaksi memperoleh kesimpulan jika Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado diramaikan 3 kandidat, diantaranya DR GS Vicky Lumentut (Wali Kota Manado, incumbent), DR Harley AB Mangindaan (Wakil Wali Kota Manado dan anak dari Wakil Ketua MPR RI), serta Ivan Sarundajang (Wakil Bupati Minahasa dan anak dari Gubernur Sulawesi Utara).

Kemungkinan seperti munculnya ‘konflik’ segitiga akan terjadi, kekuatan GSVL sapaan Lumentut tak bisa diabaikan begitu saja karena GSVL terbukti telah melakukan pembangunan di Manado. GSVL memanfaatkan gilirannya selama satu periode menjadi Wali Kota Manado dengan baik untuk melayani warganya, bila ditarik dalam perspektif sosial dapat disebutkan sosok GSVL telah memiliki modal sosial (social capital), sebagai nilai lebih, kata Karl Marx. Jika kompetisi politik diarahkan pada konteks kompetisi konstruktif, pertarungan program para Calon Wali Kota Manado, mengedepankan praktek kampanye politik yang edukatif, humas, tidak melibatkan money politik, dan menghindari pengaruh politik dinasti, maka masyarakat Manado selaku konstituen bakal memilih figur yang programnya benar-benar populis dan tidak kalah pentingnya rakyat akan memilih kandidat Wali Kota Manado yang telah terbukti kerjanya.

Bukan memilih mereka yang hanya menjual janji, menjual program, lantas mengabaikan kepentingan publik. Figur yang memprioritaskan dan menonjolkan kepentingan sepihak akan tergilas atau terselaksi dengan sendirinya oleh pilihan konstituen, apalagi berdasarkan data yang diperoleh, klasifikasi karakteristik pemilih di Kota Manado masih didominasi pemilih rasional (tipe umum pemilih perkotaan). Namun, ada juga basis pemilih floating mass (massa mengambang) yang ketertarikannya lebih pada kepentingan sesaat (vested interest), yakni pemilih pragmatis. Sekedar menambah referensi, sebagaimana pemetaan yang disampaikan DR Firmanzah, dalam bukunya Marketing Politik; Antara Pemahaman dan Realitas (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008) membedakan klas pemilih atas beberapa bagian, diantaranya pemilih rasional, pemilih tradisional, pemilih kritis, pemilih apatis dan pemilih skeptis. Dari masing-masing pemilih ini memiliki kecenderungan berbeda sesuai kebutuhan serta domainnya.

Selanjutnya, bila dilakukan pemetaan sebagai pengantar awal, peluang Ai Mangindaan sapaan akrab Harley untuk terpilih nantinya pada Pilwako Manado juga terbuka. Ai Mangindaan juga secara pribadi meski baru menjadi Wakil Wali Kota Ai Mangindaan mampu menjaga harmonisasi hubungan dengan sang Wali Kota, menjalankan tugas pengawasan, Ai Mangindaan sering melakukan blusukan, terjun langsung ke masyarakat sehingga tingkat keterkenalan dirinya relatif menjadi perhatian tersendiri bagi calon Wali Kota Manado lainnya dalam kaitannya dengan peluang Ai Mangindaan jika mencalonkan diri sebagai Wali Kota Manado. Hal yang berdampak besar dan menopang kekuatan sosok Ai Mangindaan adalah karena pengaruh sang Ayah E.E. Mangindaan, mantan Gubernur Sulawesi Utara, Mantan Menteri, memiliki posisi strategis dalam jajaran DPP Partai Demokrat, dan saat ini menjadi Wakil Ketua MPR RI, eksistensi Ai Mangindaan secara politik diuntungkan juga dalam posisi tersebut, sehingga banyak kompetitor politik untuk Pilwako Manado tidak sebelah mata memperhitungkan dirinya.

Sekedar menyajikan literatur tentang marketing politik sebagaimana disajikan DR Firmanzah, bahwa M. N. Clemente mendefenisikan marketing politik sebagai pemasaran ide-ide dan opini-opini yang berhubungan dengan isu-isu politik atau isu-isu mengenai kandidat. Secara umum, marketing politik dirancang untuk mempengaruhi suara pemilih di dalam pemilu.

Sementara itu, bagaimana dengan kekuatan Ivansa sapaan akrab Wakil Bupati Minahasa bila nantinya maju dalam Pilwako Manado. Kinerja Ivansa di Manado memang secara riil belum nampak seperti kedua figur diatas, yang didapatkan redaksi, terakhir Ivansa terpilih sebagai Ketua Umum ORARI Sulawesi Utara, rumor politik yang berkembang, Ivansa juga digadang-gadang maju dalam Pilwako Manado dengan dukungan dari bawah. Meski tidak secara fulgar melalui media massa. Ivansa juga diketahui memiliki keunggulan, yakni selain figur muda yang energik, memiliki wawasan yang luas dan punya komitmen kerja, Ivansa diperkuat dengan posisi ayahnya SH Sarundajang yang saat ini menjabat Gubernur Sulawesi Utara pada periode, Pemiba Partai, Ketua umum Asosiasi Ilmuan Politik Indonesia (AIPI). Segudang prestasi yang diraih ayah Ivan tak bisa disepelehkan begitu saja dalam kalkulasi kekuatan Ivansa, jika bertarung dalam Pilwako Manado. Fakta politik semacam ini dipastikan menjadi entitas penting dalam analisis kekuatan bahwa siapa yang nantinya berhasil terpilih dan menang dalam momentum Pilwako Manado nantinya.

Nah, selanjutnya yang ideal dan urgen sebagaimana keinginan kebanyakan masyarakat Kota Manado untuk pemimpin Kota Manado kedepan seperti apa. Apakah dari kalangan pengusaha, birokrat, politisi, budayawan, agamawan, ataukah akademisi? Quo vadis Kota Manado bila pemimpinnya hanya berorientasi memperkaya diri sendiri? Kemudian, jika ditelisik latar belakang ketiga figur diatas, masing-masing memiliki track record jelas dalam posisi keikutsertaan mereka untuk membangun kesejahteraan hidup masyarakat. GSVL yang sebelum menjadi Wali Kota Manado dikenal sebagai birokrat handal, birokrat senior yang begitu profesional dalam menggeluti kerja-kerja birokrasi, terakhir GSVL pernah menjabat Sekretaris Daerah Kota Manado.

Saat ini selain Wali Kota Manadp, GSVL juga menjabat Ketua Umum DPD Partai Demokrat Sulawesi Utara, dan Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang juga sebagai penggerak serta pendorong agar UU Pilkada memberikan ruang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mengaktualisasikan hak politiknya secara demokratis, APEKSI berhasil mengawal dan mempresure hingga akhirnya wacana Pilkada dipilih DPRD menjadi gagal. Keinginan GSVL agar Pilkada dilakukan secara terbuka, transparan, dan masyarakat bisa memilih calon Kepala Daerah secara langsung akhirnya terealisasi. Boleh jadi karena Vicky Lumentut sependapat dan memahami betul apa yang disampaikan Samuel Huntington pemikir Amerika Serikat yang lulusan doktoralnya diperoleh di Harvard University tentang demokrasi, Huntington menyebutkan demokrasi ada jika para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sebuah sistem dipilih melalui suatu pemilihan umum yang adil, jujur dan berkala dan di dalam sistem itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir seluruh penduduk dewasa dapat memberikan suara.

Sementara itu, Ai Mangindaan dikenal sebagai akademisi yang dalam hal ini menjadi dosen di salah satu Universitas di Sulawesi Utara. Figur muda yang cukup diperhitungkan di Sulawesi Utara, Ai Mangindaan juga kini memimpin organisasi GM FKPPI Provinsi Sulawesi Utara. Begitu pun Ivansa figur yang satu ini mampu menjaga keseimbangan bersama Bupati Minahasa JWS dalam melakukan pembangunan di Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara. Ivansa dikenal sebagai figur muda yang memiliki visi besar dalam hal pembangunan, Ivansa juga merupakan figur yang komunikatif dan memiliki wawasan pluralis seperti ayahnya.

Kemudian dari beragam sumber daya (resource) yang dimiliki ketiga figur ini, siapa yang akan menang dalam pertarungan Pilwako Manado? Sebab politik, seperti yang diistilahkan Anthonio Gramsci tidak lepas dari hegemoni (penguasaan), adanya perebutan pengaruh didalamnya. Belajar pada kenyataan, mereka yang menang dan terpilih sebagai pemimpin publik adalah figur yang memiliki kemampuan berkomunikasi dengan rakyat, mereka yang pernah berbuat, tulus bukan modus, tidak sekedar populer, apalagi hanya memiliki popularitas karena desain atau ‘rekayasa’ lembaga survey, mereka yang benar-benar tau apa yang dikeluhkan masyarakat, mereka yang mampu mengendalikan emosinya, dan menjadi pemimpin yang dicintai semua kalangan, tanpa ada diskriminasi.

 

Catatan : Amas Mahmud

iklan1