Category: Slider Bawah

Terus Mencuat Kasus Tambang Ilegal, Legislator Sulut Beri Solusi

Amir Liputo (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Persoalan tambang di Sulawesi Utara (Sulut) cukup menarik perhatian publik. Memang sebetunya ada sisi postitif dan negatif dalam konteks pertumbuhan ekonomi disaat beroperasinya pertambangan di daerah. Harapan masyarakat tentang peningkatan kesejahteraan juga perlu didukung pemerintah melalui rancangan regulasi yang matang dan komprehensif.

Seperti yang diketahui, Pertambangan Tanpa Izin atau yang kita kenal dengan singkatan PETI di Bolaang Mangondouw misalnya membawa permasalahan tersendiri bagi masyarakat. Menanggapi hal itu, legislator Sulawesi Utara, Amir Liputo, SH.,MH angkat bicara. Amir yang merupakan politisi vokal ini mengharapkan adanya payung hukum sebagai solusi atas beroperasinya pertambangan rakyat.

”Selaku wakil rakyat, kami meminta ada Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Dengan tetap menegakkan keadilan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Artinya, ini dimaksudkan agar ada kepastian hukum bagi pemegang IUP dan masyarakat sekitar tambang,” ujar Liputo.

Mantan anggota DPRD Kota Manado itu pun berharap agar tidak terus-menerus terjadi polemik terkait PETI. Masyarakat dimintanya agar menahan diri, mengikuti prosedur yang ditetapkan pemerintah. Ia mengaku bahwa tak akan tinggal diam dengan kondisi masyarakat lingkar tambang yang sering dirundung masalah. (*/Redaksi)

REKONSILIASI Direduksi, Kini Mirip Praktek MAKAR

Amas Mahmud, indahnya rekonsiliasi (FOTO Ist)

KENAPA demikian santernya ajakan, perbincangan, sindiran, penolakan, dan himbauan rekonsiliasi pasca putusan Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK) membuat ramai media sosial?. Apakah kita negara yang rakyatnya penganut paham ‘ugal-ugalan’, sulit move on, fanatik buta, emosional dan pendendam?. Sehingga berat melupakan ‘romantisme’, ‘seteru’, rivalitas politik, tak mau berdamai dengan realitas.

Padahal Indonesia yang luas ini diberi keistimewaan keberagaman etnis, suku dan agama yang hidup berdampingan dengan harmonis. Sekedar mereview kebelakang jelang Pemilu Serentak, Rabu 17 April 2019 terdapat banyak kehebohan isu yang disuplay ke publik. Diantaranya, soal komunis (PKI), khilafah, Islam garis keras, anti Islam, anti Pancasila, bahkan yang cukup sensasional adalah isu makar.

Atas tafsiran makar itu membuat para akademisi masing-masing beradu argumentasi, dalil dan defenisi. Ada ulasan, ada bantahan, yang kadang-kadang kurang sepadan disebabkan atas kecenderungan media massa yang memberitakan dengan pola framing tertentu. Setiap orang yang tampil di publik, dikala itu menjadi penafsir. Ada ahli, pengamat dan pemerhati dadakan, tapi itulah model kita memobilisasi demokrasi.

Selepas putusan MK, lain lagi realitasnya. Yang ramai saat ini yaitu ‘rekonsiliasi’, yang padanan bahasanya kira-kira begini ‘memulihkan keadaan, persahabatan, atau perdamaian’. Gagasan besar yang perlu ditangkap dari rekonsiliasi ialah niat kita agar sehati, bersenyawa antara keikhlasan hati dan perbuatan demi big interest. Rekonsiliasi bukan direduksi menjadi politis, seperti saat itu makar sangat berbau politis.

Sederhananya, rekonsiliasi bukan barang tabu dan berbahaya, mengancam. Bukan juga candu pembangunan yang merusak mental bangsa. Di kamar sebelah, kita perlu pula memeriksa dan menguji niat baik pihak yang mau melakukan rekonsiliasi, supaya proporsional kedua faksi dibahas. Jangan hanya karena kawin-mawin kepentingan jabatan sesaat, lalu rekonsiliasi dikukuhkan, ternyata hanya semu. Bagi pihak yang menolak rekonsiliasi dengan alasan tak mau masuk dalam sistem pemerintahan ataukah tidak ikhlas menerima oposan bersama di pemerintahan juga secara demokrasi tidak salah. Ini menjadi pergumulan kita yang patut dicari jalan keluarnya.

Semua pilihan politik itu berkonsekuensi, asalkan kita tidak over, bid’ah atau mendramatisir situasi. Sudah harus menerima dengan lapang dada bahwa proses politik telah menghasilkan kepemimpinan baru, dimana Jokowi-Ma’ruf yang menang dalam pergulatan Pilpres. Sportifitas dan kearifan berdemokrasi itulah yang kita perlukan saat ini. Sebab, apapun itu kita sama-sama akan menepuk dada dalam hal merindukan Indonesia lebih maju lagi kedepannya.

Sudahi bantah-bantahan soal ‘rekonsiliasi politik’ perlu atau tidak. Mau melakukan rekonsiliasi dengan syarat, atau menerima rekonsiliasi tanpa syarat? sungguh makin menambah noda etika demokrasi kita. Tidak urgent itu sebetulnya. Bagi saya yang masih awam, rekonsiliasi itu tumbuh dari keikhlasan, ketulusan dan kecintaan atas nama Tuhan. Bukan, atas nama kekuasaan, kepentingan keduniaan semata. Terlalu kecil itu menjadi dalil dan kunci pembuka jalan rekonsiliasi.

Begitu jelas kita mendengarkan dan nonton Prabowo dalam pidatonya setelah MK mengetuk palu sidang. Dirinya (Prabowo), bersama Sandiaga Uno telah menerima putusan tersebut dimana Jokowi sebagai Presiden terpilih dan Ma’ruf Amin Wakil Presiden untuk pemerintahan selanjutnya. Tak perlu lagi ‘digoreng-goreng’ dengan narasi destruktif. Tugas kita adalah menjahit irisan-irisan luka yang mungkin terbelah, mencari obat untuk memulihkan situasi.

Kita tegas meminta Presiden Jokowi mengokohkan persatuan. Pernyataan dan pandangan elit politik pun kita harapkan dapat menyejukkan suasana, kini rakyat telah sportif menerima proses politik. Hanya kadang, oknum politisi yang membuat gaduh dan cari sensasi, mereka merecoki sendi-sendi ketenangan rakyat. Peganglah prinsip itu, dimana pemenang tak boleh jumawa, dan merasa superior. Seperti itu pula, yang kalah bukan berarti hancur-berantakan martabat dan harga dirinya, ini hanya tentang kompetisi demokrasi.

Menang kalah harus bergandengan tangan membangun Indonesia, supaya adil, makmur, jauh dari kemiskinan, dibukanya lapangan pekerjaan dan tidak dijajah utang oleh bangsa Asing. Menang dan kalah juga sebetulnya sama-sama juara, ketika kedewasaan dikedepankan. Kontestasi politik Pemilu 2019 harus menjadi ajang tontonan yang berakhir menggembirakan semua pihak, walaupun diawal permainan relatif menegangkan.

Berhentilah memelihara tradisi saling sindir dan debat di Medsos, merasa diri paling benar. Terutama soal rekonsiliasi yang sampai hari ini masih ramai kita baca di postingan-postingan Facebook, tak ada untungnya. Turunkan tensi itu, dimana merasa menolak rekonsiliasi, mau melakukan rekonsiliasi dengan syarat, atau bahkan menolak sama sekali rekonsiliasi adalah sikap masing-masing pihak yang perlu kita hargai. Kita hanya memerlukan jedah waktu saja untuk kembali berfikir bijak, penuh kegembiraan. Jangan mau menjadi budak para pemburu kepentingan sesaat yang membuat kita mudah tersulut emosi, marah dan berkonflik antar sesama.

Intensitas pembicaraan soal rekonsiliasi dan makar di Medsos diakui meningkat, pada momentumnya. Ada resistensi, ada dukungan, dan ada poros yang memaklumi keduanya tetap mengambil peran masing-masing. Mereka yang mengerti, tak mau memaksakan kehendak berfikir bahwa oposisi dalam sistem demokrasi diperlukan, tidak kaget dan tak ambil pusing dengan isu-isu rekonsiliasi tersebut. Kita berusaha menakar konsistensi percakapan publik di Medsos, baik yang pro maupun yang kontra terhadap ‘rekonsiliasi’ dan ‘makar’, sama-sama ikut meramaikan dunia virtual.[***]

 

 

______________________

Catatan: Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado

IRNAWATI: Perpustakaan Itu Perjumpaan dan Jantungnya Universitas

Irnawati, Kepala Perpustakaan UM Sorong (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Tidak semua akademisi mengerti bahwa peran strategis dan betapa urgentnya perpustakaan bagi eksistensi Perguruan Tinggi (PT) atau lembaga pendidikan umumnya. Hal tersebut, dinilai mulai tergerus. Menurut Irnawati, Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah (UM) Sorong fungsi perpustakaan harus terus dioptimalkan.

”Ingat, perpustakaan adalah perjumpaan dan jantungya Universitas agar terus tumbuh tradisi, pertumbuhan serta dialektika pengetahuan. Karena perpus itu adalah perjumpaan ide-ide pendahulu, dan kebaruan ide-ide dilahirkan untuk menjamah kehidupan manusia,” ujar Irna, sapaan akrab Irnawati saat diwawancarai wartawan, Rabu (9/7/2019).

Lanjut ditambahkannya lagi bahwa perpus bagian dari ruang sunyi, perdebatan, dialog, kolokium dan menulis. Dengan mengembangkat tradisi itulah, perpus menjadi bagian terpenting dalam universitas. Ketika orang-orang yang merutinkan aktifitas di ruang-ruang perpustakaan memiliki konstruksi logika dan berupaya untuk terus mengikat ilmu pengetahuan, maka menurut Irna perjalanan Universitas menjadi sehat, bermutu.

”Perpus UM Sorong menyediakan dokumen-dokumen riset (jurnal, simposium, skripsi, risalah-risalah dosen) dan sekitar 12 ribu judul buku, kami berharap ini menjadi sumber daya positif untuk membangiktan pengetahuan. Selain itu, cara kita untuk menghidupkan serta menjaga kebaruan dokumen-dokumen riset, buku terus dilakukan setiap saat,” kata Irna tegas.

Irna yang juga dosen ini juga menitipkan pentingnya kerjasama atau kemitraan inovasi. Disampaikannya pula, perpus UM Sorong bukan saja untuk fasilitas mahasiswa, dosen dan warga muhammadiyah, tapi terbuka untuk masyarakat umum.

”Perpustakaan UM Sorong menjadi destinasi wisata intelektual bagi masyarakat umumnya. Bukan, sekedar milik insan akademis di kampus UM Sorong. Kita juga terus konsen mendorong peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), melalui literasi perpustakaan. Sudah menjadi komitmen UM Sorong, harapan-harapan membangun Papua dengan ilmu dan ketulusan terus digenjot secara massif,” tutur Irna menutup. (*/Redaksi)

Calon Peserta Diklat BLK Bitung Membludak

Begitu antusiasnya calon peserta Diklat (FOTO Ist)

BITUNG, Suluttoday.com – Peningkatan kompetensi calon tenaga kerja melalui berapa paket pelatihan di Balai Latihan Kerja di Bitung terus dilakukan seiring program kerja Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang dikenal dengan sebutan ODSK.

Terpantau media ini Selasa (09/07/2019) calon peserta didik dan latihan (diklat) membludak dan melewati batas kuota yang menandakan minat masyarakat Sulut untuk meningkatkan kesejahteraan semakin baik. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Utara, Erny B Tumundo memberikan apresiasi kepada generasi muda yang ingin memperlengkapi diri sebelum masuk ke dunia kerja.

“Di bawah kepemimpinan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw, pemerintah daerah melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Utara membuka peluang bagi calon tenaga kerja untuk mempersiapkan diri sebelum masuk dunia kerja. Dan patut diberikan apresiasi terhadap calon-calon peserta yang mendaftar dan mengikuti seleksi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BLK Bitung, Rahel Rotinsulu menegaskan bahwa calon peserta yang belum lolos seleksi untuk pelatihan tahap ketiga karena keterbatasan kuota, jangan khawatir karena masih ada tahap keempat. Dijelaskan Rotinsulu bahwa di tahap 3, dibuka pelatihan untuk 8 kejuruan.

Patut diketahui pelatihan di BLK Bitung merupakan program ODSK, dimana calon peserta didik tidak dipungut biaya alias gratis dan tidak dibatasi usia sepanjang calon peserta masih produktif. Ditambahkan Tumundo dengan semakin tingginya minat calon pekerja, pemerintah akan berupaya menambah paket-paket pelatihan, sehingga sumber daya manusia Sulawesi Utara semakin hebat dan kompeten.(cat)

Ketua KKSS Sulut: Selamat Bertugas untuk Pak Andi Muh Iqbal Arief

H. Andi M Iqbal Arief, M Sofyan dan Bakamla RI zona tengah, Brigjen Pol Bastomy Sanap (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Dikenal sebagai Jaksa yang disiplin, berintegritas, tegas dan berpengalaman, Andi Muh Iqbal Arief, SH.,MH yang memulai karir dari bawah akhirnya resmi meraih jabatan puncak yakni sebagai Kepala Kejaksanaan Tinggi Sulawesi Utara (Sulut).  Arief menggantikan M. Roskanedi, SH, beragam ucapan dan dukungan terhadap sosok Arief berdatangan.

Salah satunya dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Sulut, seperti yang disampaikan M. Sofyan selaku Ketua. Saat diwawancarai, Selasa (9/7/2019) Sofyan menyampaikan selamat bertugas kepada Arief, pihaknya berdoa dan memberikan dukungan penuh agar segala tugas-tugas Kajati Sulut berjalan dengan baik.

M. Sofyan berbincang dengan Kajati Sulut belum lama ini (FOTO Suluttoday.com)

”Selamat bertugas kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Bapak Andi Muh Iqbal Arief, SH.,MH. Semoga Allah melimpahkan kebijaksanaan, menuntut dan memudahkan segala tugas mulia yang beliau emban. Kami tentu memberikan support, dengan kapasitas dan rekam jejak beliau saya begitu optimis kerja-kerja pengabdian akan beliau tunaikan secara maksimal,” ujar Sofyan yang juga Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Manado ini.

Ditambahkannya lagi, sosok Arief akan menjaga marwah Kejari Sulut dalam domain tugasnya. Sofyan juga berharap tugas yang berada dipundak Kajari yang dikenal murah senyum itu dituntaskan dengan sebaik-baiknya dan professional. (*/Redaksi)

iklan1