Category: Travel

Menteri Pariwisata: Sport Tourism Kenalkan 10 Top Destinasi

Arief Yahya (Foto Ist)

Arief Yahya (Foto Ist)

LABUAN BAJO – Sport Tourism menjadi salah satu andalan untuk memperkenalkan 10 Top Destinasi pariwisata prioritas. Itulah kata sepakat Menpar Arief Yahya dan Menpora Imam Nahrawi, saat penutupan Tour de Flores 2016, Senin, 23 Mei 2016. Terutama olahraga yang ada unsur fun, memperlihatkan keindahan alam, dan diminati banyak peserta mancanegara, seperti cycling, marathon, half marathon, 10K, triathlon, golf, dan segala modifikasinya.

“Tour de Flores 2016 misalnya, saya bertemu dengan puluhan reporter dan fotografer dari China, ada Xinhua, CNS, CCTV, media dari Hongkong, Shenyang, Shanghai, dan lainnya. Mereka exciting melihat alam, sepanjang race dari Larantuka ke Labuan Bajo. Mereka pasti membuat laporan di media yang dibaca oleh orang-orang Tiongkok,” kata Menpar Arief Yahya di Labuan Bajo.

Tour de Flores adalah event internasional pertama dan terbesar selama ini di Indonesia Timur. Media-media internasional juga terus melaporkan event ini, lengkap dengan foto dan video yang sangat menantang.

“Tahun depan sudah pasti, akan lebih banyak dan lebih seru lagi tim cycling yang akan tampil di TDF 2016,” paparnya. Selain cycling, marathon juga sedang ngetop di kalangan anak-anak muda.

Mereka bukan untuk mencari juara, mengejar hadiah utama, atau ngotot untuk mendapatkan posisi terhebat. Marathon sudah menjadi life style, gaya hidup yang sehat dan menjaga kebugaran.

“Kita sudah punya kalender yang besar, seperti Jakarta Marathon, Borobudur Marathon, Bali Marathon dan diikuti oleh marathon yang lain di banyak daerah. Jika ini dilangsungkan di destinasi wisata, akan mendapat banyak benefit. Media ekspose nya besar, media valuenya besar, destinasinya terkenal, masyarakatnya juga terhibur. Jadi hiburan gratis buat masyarakat,” kata dia.

Hal serupa terjadi di golf juga. Musim hujan yang tengah mengguyur kawasan Batam, Bintan, Kepualaun Riau, tak membuat peminat wisata golf di sana sepi peminat. Pada WTM Connect Asia di Penang, Malaysia, 19-21 Maret silam, sekitar 23 perusahaan tour and travel Asia dan Eropa banyak yang menyatakan ketertarikannya untuk membeli paket wisata golf Batam.

“Mau hujan pun, itu bukan penghambat. Ada 23 perusahaan tour and travel Asia dan Eropa yang sudah menyatakan ketertarikannya saat kami digandeng Kemenpar ikut WTM Connect Asia di Penang, Malaysia. Saat ini sedang kami follow up hasil pertemuan di Penang,” terang Anddy Fong, General Manager Batam View, Senin (23/5/2016).

Yang membuat Anddy happy, minat wisata golf tadi sudah tak lagi didominasi travel tour atau travel agent asal Singapore dan Malaysia, dua negara yang tak pernah absen hadir ke Batam saat akhir pekan menyapa. Denmark, Jepang, Tiongkok serta Inggris, kini sudah mulai ikut nimbrung memburu info dan harga paket seputar wisata golf di Batam.

“Chingging Holiday Inn, Beijing Luxtrip Holding, Euro Asia Holiday, Eastern Travel Tours, China International Travels dan Luxury Dreams Berlin, termasuk yang potensial. Saat kami paparkan yang ada di Batam, umumnya sangat tertarik,” tambah Anddy.

Di Penang, Malaysia, puluhan travel tour dan travel agent asal Eropa dan Asia, mencari info seputar lapangan golf yang sudah berstandar internasional. Lapangan golf dengan view pantai, hutan tropis dengan kiri kanan pepohonan, bernuansa bukit-bukit kecil yang menantang hingga panorama taman dan danau yang tersebar di Batam, dinilai sangat pas untuk merepresentasikan kehidupan turis berkantung tebal asal Asia dan Eropa. Untuk urusan ini, Anddy mengaku tak khawatir. Ada Batam Hill Golf, Tering Bay Golf Resort, Palm Spring and Beach Resort, South Links Golf, Tamarin Santana Golf, Indah Puri Golf Resort, dan Padang Golf Sukajadi yang bisa dinikmati di Batam.

“Bagi para pegolf yang menyukai golf course dengan view pinggir pantai bisa memilih Palm Spring Golf, Tering Bay Golf Resort, Indah Puri Golf atau Tamarin Santana Golf Club. Sedangkan untuk golfer yang suka dengan suasana pusat kota dengan dikelilingi perumahan bisa memilih Sukajadi Golf Club House dan Southlinks Country Club,” terangnya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana, mengaku tak heran dengan minat wisata golf di Batam. Apalagi, saat Jumat, Sabtu Minggu dan hari-hari libur internasional wisata golf di Batam selalu kebanjiran wisatawan. Itu membuat Greater Batam, menjadi pilihan penyaluran hobi mereka.

“Kalau di luar sana main golf itu sangat mahal. Untuk menjadi member sebuah klub golf bisa mencapai miliaran rupiah. Di Batam, tarif lapangan golf berstandar internasional sangat murah. Panoramanya cantik, lapangannya juga sangat menantang. Jadi, silahkan datang ke Batam. Silahkan nikmati sensasi bermain golf di Batam Hill Golf, Tering Bay Golf Resort, Palm Spring and Beach Resort, South Links Golf, Tamarin Santana Golf, Indah Puri Golf Resort, dan Padang Golf Sukajadi,” ujar Pitana. (*/Amas)

Arief Yahya Jadi Perbincangan di Konferensi Internasional Tourism

Menteri Arief Yahya ketika tampil di Luar Negeri (Foto Ist)

Menteri Arief Yahya ketika tampil di Luar Negeri (Foto Ist)

BEIJING – Penampilan Menpar Arief Yahya di First World Conference on Tourism for Development, Tourism for Peace and Development betul-betul menjadi perhatian dunia. Indonesia menjadi contoh konkret, bahwa pariwisata bukan saja menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga menjadi cara yang cepat dan mudah untuk menaikkan taraf hidup, kesejahteraan, mendongkrak GDP, dan menaikkan indeks kebahagiaan hidup.

“Ini kali pertama, Indonesia menempatkan sector pariwisata sebagai prioritas utama, selain infrastruktur, maritime, energy dan pangan,” kata Arief Yahya dalam konferensi yang dikemas dalam gaya talkshow di Great Hall of The People, Beijing, Tiongkok. Mantan Dirut PT Telkom ini sangat yakin bahwa pariwisata adalah rumus yang ampuh untuk menyelesaikan problem kemiskinan.

Kata-kata Arief Yahya itu cukup menantang, tetapi dia yakin karena didukung oleh data dan fakta yang bersumber dari angka global, yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga kredibel dunia. “Kami tidak asal bicara, kami selalu menggunakan data-data yang bisa diukur. Kalau gak bisa diukur, bagaimana bisa memanage? Kami selalu menggunakan standar internasional, agar tidak berdebat kusir soal ukuran-ukuran itu. Dan kami selalu benchmarking, membandingkan dengan negara lain yang sukses, termasuk rival atau pesaing di area yang sama, agar mudah membayangan proyeksi dan achievementnya,” kata lulusan ITB Bandung, Surrey University Inggris, dan Program Doktor di Unpad Bandung itu.

Tema besar konferensi yang digelar CNTA – China National Tourism Administration (Kemenpar-nya Tiongkok) dan UN-WTO, Lembaga PBB yang mengurusi pariwisata, 18-21 Mei 2016 itu sejatinya berujung pada Sustainable Tourism Development (STD). Agar berkelanjutan, maka keberadaan tourism harus mengangkat harkat dan martabat serta ekonomi masyarakatnya.

Arief Yahya berbicara pada Sesi-I, dengan moderator Martin Barth, President of Tourism Forum Lucerne Swiss. Dalam satu sesi itu ada narasumber lain, Jose Gustavo Santos, Mempar Argentina, Che Min’er, Sekretary of the CPCCommittee of Guizhou Province, Aisha Muhammed Mussa, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ethiopia, Elvas Gustas Menpar Lithuania, Ketevan Bochorishvili Georgia, Dho Young-Shim, Chairperson Sustainable Tourism for Eliminating Poverty, Bert Hofman, Country Director for China, Korea, and Mongolia, World Bank. Takafumi Ueda, Senior Advisor on Private Sector Development, Japan International Cooperation Agency. Duan Qiang, CEO of Beijing Tourism.

“Tiga hal dalam pembangunan Sustainable Tourism Development (STD) itu, yakni Cultural, Economic, Environment (CEE). Selama ini orang hanya menghitung cultural aspec saja, belum menyentuh pada economic dan environmental. Saat ini ketiganya harus seiring sejalan, sehingga pembangunan kepariwisataan itu bukan saja mengeliminir kemiskinan, tapi akan menjadi penyumbang devisa terbesar bagi bangsa seperti di Indonesia,” tegas Arief Yahya, yang mengatakan tourism akan menyumbang devisa terbesar di 2019 nanti, mengalahkan Oil and Gas, Coals dan CPO – Crude Palm Oil.

Karena itu, Presiden Joko Widodo disebut oleh Arief Yahya memiliki target kunjungan wisman dengan angka yang fantastis, double. Tidak main-main, double dalam lima tahun, itu sama dengan kenaikan 20% setiap tahunnya. Oil and Gas tahun 2013 menyumbang USD 32.6 M, tahun 2014 turun USD 30,3M, dan 2015 turun lagi USD 18,9 M. Begitupun nasib batu bara atau Coal yang menempati posisi kedua dalam perolehan devisa untuk negeri. Tahun 2013, coal menyumbang USD 24,5M, lalu 2014 turun USD 20,8M, akhir 2015 turun lagi di USD 16,3M. Minya Kepala Sawit (CPO) juga begitu trend-nya, tahun 2013 USD 15,8M, lalu sempat naik USD 17M, dan akhir 2015 jatuh lagi di USD 15,4M.

“Trend itu berbeda dengan pariwisata, selalu naik, dari USD 10M, naik USD 11 M dan terakhir 2015 menjadi USD 11,6 M. Tetapi yang paling penting dan utama adalah CEO Commitment, President Commitment! Itu melebihi dari segalanya, ketika presiden sudah menetapkan sector pariwisata menjadi prioritas, maka semua problematika terkait dengan tourism dengan cepat akan menemukan solusinya,” sebut Arief Yahya. Statemen itu rupanya menjadi polemic, termasuk di media-media besar di Beijing –termasuk menjadi headline di China Daily– mengutip statemen Arief Yahya itu.

Li Jinzao, Chairment of CNTA juga mencontohkan di Negeri Tirai Bambu itu sendiri industri pariwisata mampu men-drive 10,8 persen GDP, dan menciptakan lapangan kerja 10,2 persen. “Lima tahun ke depan, pariwisata di China diproyeksikan bisa menurunkan 12-14 juta orang. Karena itu, pembangunan di sector pariwisata terus akan dikembangkan,” papar Li Jinzao, Menpar-nya Tiongkok.

Industri pariwisata di China saat ini betul-betul menjadi kekuatan yang luar biasa, ketika pemerintahkan menjadikan sector ini sebagai salah satu kekuatan. Bagaimana tidak? Outbond traveller-nya 120 juta orang setahun. Inbound-nya 130 juta setahun, di 2015 lalu. Sedangkan wisatawan domestic mereka 4 miliar pergerakan setahun. Angka yang fantastic, dan membuat semua negara di dunia terbelalak untuk mengambil peran di pasar Tiongkok itu.

Istvan Ujhelyi, Vice Chair of The Committee on Transport and Tourism of the European Parliament saat diberi kesempatan berbicara di forum itu bercerita soal growth di sector pariwisata. Hanya pariwisata yang sustainable, tidak lekang oleh waktu, terus bertumbuh dalam situasi apapun.

“Turisme akan menjadi bisnis terbesar di abad yang akan datang. Ketika bapak saya lahir 67 tahun silam, hanya ada 25 juta wisatawan di seluruh dunia. Ketika anak saya lahir 15 tahun lalu, sudah lebih dari 700 juta wisatawan. Dan sekarang, sudah lebih besar dari 1,2 miliar orang berwisata,” jelas Istvan.

Katevan Bochorishveli Wakil Menteri Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan Georgia memperkuat statemen Arief Yahya. Beberapa tahun belakangan, kontribusi pariwisata dalam perekonomian di negerinya paling besar dan paling cepat bertumbuh. “Pariwisata bisa menciptakan lapangan kerja dengan cara-cara yang kreatif,“ sebutnya untuk menegaskan bahwa secara otomatis kemiskinan akan berkurang.

Marcio Favilla, yang mantan Tourism Minister of Brasil yang kini bekerja untuk UNWTO itu menambahkan, hadirkan turism juga bisa mengangkat pengusaha-pengusaha UMKM, usaha kecil, mikro, dan menengah. Itu sudah dia buktikan di banyak negara. “Merekalah yang akan mensupplay barang dan jasa, mendapatkan manfaat langsung maupun tidak langsung dari industry pariwisata,” jelas Marcio.

Memang diantara panelis ada yang berbeda pendapat. Takafumi Ueda, dari Japan International Cooperation Agency. Dia memang berbeda mazhab dari Arief Yahya, yang konsisten dan percaya dengan angka-angka. Ueda memandang tourism dari sisi yang berbeda, yakni dari ilmu social. “Apakah dengan hadirnya banyak wisatwan, memenuhi hotel-hotel chain bertaraf internasional, menyumbangkan GDP terbesar buat negara, itu secara otomatis mensejahterakan? Bagiamana dengan dampak sosialnya?” kata Ueda bernada sinis.

Ya, memang di mana-mana selalu ada risiko. Apalagi bisnis? Selalu ada risiko, karena itu ada yang disebut risk calculate, yang tugasnya menghitung seberapa besar risiko dibandingkan dengan benefitnya. Chen Min’er, Party Chief of Guizhou Province, Tiongkok menjawab dengan gambang. “Pemerintah menciptakan peluang. Perusahaan membangun bisnis dan usaha. Masyarakat local senang menjadi suplayer barang dan jasa! Semua diuntunkan. (*/Amas)

Langkah Maju, Kemenpar Akan Standarisasi Instruktur Selam

Ilustrasi, instruktur saat memberikan latihan menyelam (Foto Ist)

Ilustrasi, instruktur saat memberikan latihan menyelam (Foto Ist)

JAKARTA – Menpar Arief Yahya tidak menutup mata, ketika ada wisman yang tidak tertolong jiwanya ketika menjalani wisata bawah laut di beberapa dive site di tanah air. Pihaknya akan memperbanyak instruktur selam yang bersertifikat internasional.

“Juga akan dibentuk tim search and rescue, untuk memberikan pertolongan cepat ketika ada peristiwa terkait penyelaman,” ujar Arief Yahya, Menteri Pariwisata, menjawab pertanyaan wartawan di Labuan Bajo, 23 Mei 2016.

Kemenpar, kata Arief Yahya, juga akan terus menaikkan level instruktur yang ada, agar semakin profesional membawa wisman. Di Raja Ampat, sudah ada pelatihan buat para dive masters itu.

“Itu akan terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, dengan target wisman ke deatinasi wisata bahari kita,” jelas Mantan Dirut PT Telkom ini.

Wisata bahari itu, menurut Arief Yahya, dibagi ke dalam tiga zona. Yakni coastal zone atau wisata pantai. Lalu underwater zone, atau wisata selam untuk menikmati keindahan bawah laut. Dan sea zone, yang menikmati yacht dari pulau ke pulau.

“Di masing-masing zone itu, kami ada shadow management-nya, orang profesional yang membantu percepatan semua kebutuhan pengembangan pasar dan destinasinya,” jelas Arief Yahya. Hari ini (23/5/2016), underwater tourism Indonesia berhasil mengukir sejarah baru.

Seorang putra Papua, Ruben Sauyai, berhasil mencapai jenjang instruktur selam internasional berakreditasi International Standard Organization (ISO) dan European Norm (EN). Ruben adalah putra Papua pertama yang lulus ujian selam berstandar internasional.

“Ini adalah sejarah baru bagi under water tourism Indonesia. Selama ini belum ada putra Papua yang berhasil mencapai jenjang instruktur selam internasional berakreditasi ISO dan EN,” terang Cipto Aji Gunawan, tenaga ahli underwater tourism Kementerian Pariwisata, Senin (23/5/2016).

Bukan perkara mudah untuk mendapatkan sertifikat instrukstur selam berakridetasi ISO dan EN. Fisik dan waterskillsnya harus di atas rata-rata. Menyelam ratusan meter dengan bantuan alat selam dan tanpa selam, harus bisa dilakukan. Dan semuanya, di bawah pengawasan instruktur yang berkualitas.

“Pengujinya itu adalah Scuba Schools International (SSI). Itu satu-satunya sekolah menyelam yang berstandar internasional,” papar Cipto Sebagai bagian dari industri yang menangani 2,5 juta penyelam aktif dan 67 juta snorkeling, SSI adalah nama yang paling dipercaya dalam Scuba Diving.

SSI telah mengatur standar untuk sertifikasi para penyelamnya sejak 1970, dengan lebih dari 27 kantor cabang yang mewakili lebih dari 110 negara dan lebih dari 2.400 lokasi-lokasi internasional. Material-material yang dicetak pun tersedia dalam 25 bahasa. “Ini adalah karya nyata pengembangan SDM selam berkualitas internasional di Indonesia. Ini prestasi Papua, prestasi Indonesia, prestasi kita semua,” papar Cipto.

Ruben Sauyai adalah satu di antara 20 putra Raja Ampat yang pada 2010 silam mengikuti pendidikan awal peningkatan SDM selam berkonsep ‘berjenjang dan terseleksi’ berbasis kompetensi yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata. Pendidikan tersebut di konsep oleh Cipto Aji Gunawan sebagai konsep terobosan baru yang sebelumnya belum pernah dilakukan di Indonesia.

Dari total 20 peserta pendidikan, dalam waktu sekitar tiga minggu didapatkan lima SDM siap pakai yang kemudian tetap dibina sehingga dapat berkiprah di industri selam. Selama ini, Ruben dan kawan-kawan terjun langsung di industri selam Raja Ampat. Dia bahkan ikut mengelola home stay disamping menjadi guide selam.

Setelah enam tahun berlalu, akhirnya Ruben mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan selam sebagai seoang Instructor. Puncaknya hari ini, Ruben dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan predikat SSI Open Water Instructor. Selanjutnya Ruben memiliki tugas berat untuk membina dan mengembangkan SDM selam Indonesia khususnya di Raja Ampat dan Papua Barat. (*/Amas)

Kejutan, Tour de Flores Jadi Perhatian 131 Juta Netizen

Kemenpar saat kegiatan di Tour de Flores (Foto Ist)

Kemenpar saat kegiatan di Tour de Flores (Foto Ist)

FLORES – Menpar Arief Yahya menegaskan kepada Gubernur NTT Frans Lebu Raya akan pentingnya membuat event internasional seperti Tour de Flores 2016. Ini adalah cara yang paling cepat dan mudah untuk memperkenalkan Pariwisata Flores ke seluruh penjuru dunia.

“Media sosial sudah menggemakan TDF 2016 ini menyebar ke secara luas,” kata Arief Yahya.

Begitu NTT dijadikan satu dari 10 top destinasi prioritas, maka semua harus dibuat standar internasional. Bandaranya akan dibangun internasional. Atraksinya sudah berkelas dunia. SDM nya pun harus disertifikasi internasional.

“Event nya pun harus berkelas dunia,” jelas Arief Yahya menjelang peneriman etape terakhir Tour de Flores.

Dijelaskan Arief Yahya, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sedang menjadi sorotan dunia. Sejak digulirkan 19 Mei silam, Tour de Flores sudah digunjingkan 131 juta netizen di jagad maya. Twitter ramai, instagram heboh, Facebook juga ikut disapa topic Tour de Flores. Semua ramai memperbincangkan alam Larantuka, Maumere, Ende, Danau tiga warna, Ruteng dan Labuan Bajo yang berpanorama eksotis.

“Amazing views of Flores #TdFlores @tourdeflores,” tulis akun @ProCyclingStats. “Great coastal road in the first kilometers of stage 3,” sahut akun @mick1_hayden.

“Perfect Kelimitu. What a brilliant day,” timpal pemilik akun @KRDcycling. “Beautiful Indonesia,” tulis akun @xiaomeii. Faustinus Wundu, Managing Tour de Flores, mengungkapkan, ajang balap sepeda ini berdampak luar biasa dalam melecut pengembangan pariwisata sebagai lokomotif utama pembangunan daerah di sekitar arena tour.

“Tour de Flores menjadi even milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang didukung penuh oleh Pemerintah Pusat dibawah koordinasi Menko Maritim dan Sumber Daya. Efeknya sangat luar biasa. Lihat saja boomingnya di jagad maya. Twitter, Facebook, YouTube, Instagram, semua ramai,” ujar Faustinus Wundu, Senin (23/5/2016).

Meski persiapannya mepet dan baru dilaksanakan pada akhir 2015, para peserta asing tetap antusias mengikuti ajang balap sepeda berkala 2.2 itu. Hanya akomodasi saja yang masih menjadi PR pihak penyelanggara.

“Banyak peserta perlombaan yang tidak mendapatkan hotel untuk menginap. Mereka terpaksa beristirahat di rumah-rumah khalwat yang dikelola oleh para biarawati Katolik.” papar Wundu.

Didin Junaidi, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia, ikut angkat suara. Ramainya perbincangan di dunia maya, menurutnya, merupakan cerminan keberhasilan gelaran suatau even. Bagi Didin, ini merupakan sarana yang penting untuk mempromosikan wisata di suatu kawasan. Ajang seperti itu, diyakini punya potensi menarik wisatawan, baik dari para peserta, maupun wisatawan lain.

“Ada kemungkinan mereka-mereka yang mengikuti lomba akan datang secara individual. Peluang ini yang harus ditangkap pemerintah daerah serta sektor swasta di sana,” ujarnya.

Dia mengatakan tantangan terbesar pemerintah daerah di lokasi pelaksanaan sport tourism adalah mengemas suatu atraksi wisata yang melibatkan masyarakat lokal. Utamanya kelompok-kelompok usaha kecil hingga sektor pariwisata ini mampu memberi manfaat ekonomi.

“Sekarang ini promosi dan pemasaran wisata sudah tidak ada masalah lagi karena pemerintah pusat gencar melakukan. Yang penting pemerintah daerah dan swasta tentunya, harus menangkap peluang ini dengan menyiapkan akomodasi dan akses yang baik,” ucapnya.

Yupiter Marenos Lada, praktisi pariwsiata Nusa Tenggara Timur (NTT), mengamini apa yang dikatakan Didin Junaidi. Menurutnya, agar provinsi itu bisa merebut perhatian wisatawan lokal, domestik dan mancanegara, maka salah satu langkah yang harus dilakukan adalah menyiapkan destinasi yang terkonsep dan terintegrasi seperti Tour de Flores dan Visit Komodo.

“Agar destinasi tersebut bisa diakses oleh para wisatawan, Pemda mau tidak mau harus menyiapkan akses dan fasilitas transportasi menuju ke daerah tujuan wisata. Harus ada pula informasi destinasi pariwisata yang jelas di tiap kabupaten, kecamatan, bahkan desa. Langkah lainnya, bisa juga dengan membuat desa wisata. Potensi dan kapasitas masyarakat lokal harus diberdayakan di samping membangun based community tourism agar masyarakat siap menjadi tuan rumah yang baik bagi para wisatawan,” ujarnya. (*/Amas)

Bakal Menyihir Wisatawan, Tumpek Wayang Jadi Primadona di Bali

Tumpek Wayang di Bali (Foto Ist)

Tumpek Wayang di Bali (Foto Ist)

BALI – Bali tak ada matinya buat atraksi pariwisata. Seluruh kehidupan budaya masyarakat Bali, adalah atraksi yang memikat. Termasuk soal ritual keagamaan, yang di banyak tempat menjadi eksklusif dan tidak boleh dijadikan bahan tontonan. Di situlah salah satu daya tarik Bali bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Ada tradisi Tumpek Wayang. Tradisi yang akan digelar di setiap desa di Bali itu akan dilaksanakan pada Sabtu, 4 Juni 2016. Jaga tanggal mainnya, hari Sabtu. ”Itu akan menjadi daya tarik kami yang tidak akan pernah dilupakan para wisatawan, setiap desa akan melaksanakan Tumpek wayang,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Bali AA Gede Agung Yuniartha.

Agung mengatakan, Tumpek Wayang adalah upacara bermakna sebagai hari kesenian. Hari tersebut dipercaya sebagai kelahiran berbagai jenis alat-alat kesenian semisal gender, gong, barong, wayang dan lainnya yang kerap digunakan untuk kepentingan hiburan.

”Upacara ini digelar pada tiap 6 bulan sekali dalam sistem pengkalenderan Bali atau tiap 210 hari sekali yang termasuk dalam rentetan Hari Raya Galungan. Semua alat musik akan keluar. Nah, di sini jadi daya tarik itu menjadi semakin kuat,” ujarnya bangga.

Di Bali menggelar kegiatan ritual Tumpek Wayang juga disertai dengan hiasan yang indah seperti rangkaian janur (banten) kombinasi bunga, kue dan buah-buahan. “Namun bagi seniman dalang wayang kulit, atau keluarga yang mewarisi seperangkat wayang kulit dari leluhurnya menggelar kegiatan ritual secara khusus dengan wayang tersebut, ratusan ribu orang akan berkumpul saat acara tersebut di setiap desa, wisatawan nusantara maupun wisatawan asing akan bersatu menikmati ritual yang unik dan menarik itu,” jelasnya.

Direktur Program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri (IHDN) Denpasar, Dr I Ketut Sumadi, masyarakat Bali amat sangat memegang teguh budayanya.

“Adanya prosesi ritual yang disebut Tumpek Wayang, hari baik dalam kelender Bali untuk melaksanakan kegiatan ritual yang bermakna untuk menghormati wayang kulit agar tetap mempunyai taksu (kharisma), sesuai watak dalam pementasan,” ujar Ketut Sumadi.

Bagi keluarga yang ekonominya mampu, setiap rangkaian ritual itu diiringi dengan pementasan kesenian yang tentunya mengeluarkan biaya yang tidak sedikit namun malah mendatangkan banyak wisatawan.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi kreativitas orang Bali yang sudah sangat sadara wisata. Apa saja yang dilakukan, dengan kebudayaan, pasti menjadi atraksi yang tidak ada duanya di dunia. “Karena itu, Bali akan terus eksis sebagai destinasi andalan Indonesia,” kata Arief Yahya.

Saat di Beijing, Arief Yahya menjelaskan ada tiga hub yang akan menjadi pintu masuk penyebaran wisman ke daerah lain. Pertama; Bali sebagai hub pariwisata. Wisman terbang ke Bali, menikmati beberapa saat di Bali, dan bisa melajutkan perjalanan wisata ke daerah lain. Kedua, Jakarta sebagai hub bisnis. Wisman berbisnis dulu, di ibu kota, setelah itu terbang ke mana saja di seluruh penjuru Indonesia bisa tersambung dari Jakarta.

“Ketiga adalah Hub Singapore, sebagai hub transit. Terbang ke Singapore, belanja di sana, setelah itu menyeberang ke Batam, Bintang, Tanjung Balai Karimun? Atau melanjutkan terbang ke berbagai daerah di Indonesia. Singapore Airlines punya 13 destinasi ke Indonesia, silakan,” ungkap Arief Yahya.(*/Amas)

iklan1