Category: Home

Ema: Kalau Dulu Lumayanlah Mas

Rumah untuk disewa (Foto Ist)

Rumah untuk disewa (Foto Ist)

JAKARTA – Ratusan kepala keluarga (KK) di Rusun Marunda, Jakarta Utara, menunggak sewa rusun. Bahkan, ada warga rusun yang menunggak sewa hingga Rp 42 juta. Pengelola rusun lantas memutus listrik ratusan unit rusun tersebut.

Salah satu penghuni rusun, Ema, mengatakan sudah hampir tiga bulan dirinya belum membayar sewa unit rusun. Ema mengaku ekonomi keluarganya sedang sulit sehingga tak ada biaya untuk membayar sewa unit rusun.

Sambil menangis, ibu satu anak itu mengatakan bahwa sejak digusur dari rumahnya di daerah Ancol, Jakarta Utara, ia dan suaminya harus berusaha lebih keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebelum digusur, Ema dan suaminya berjualan perlengkapan dapur. Penghasilan dari usahanya itu menurutnya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk menyekolahkan anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Kalau dulu lumayan lah mas, untuk hidup sehari-hari, cukup. Sekarang ekonomi saya naik turun,” ujar Ema kepada Kompas.com, di Rusun Marunda, Kamis (8/9/2016).

Untuk menghidupi keluarga, suami Ema saat ini membuka usaha kedai kopi kecil-kecilan di dekat kawasan rumahnya yang digusur. Sedangkan Ema menjadi ibu rumah tangga.

Meski enggan menjelaskan pendapatan suaminya, Ema menyebut kalau penghasilannya terbilang tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari apalagi membayar biaya sewa rusun.

“Kalau gitu tunggu (listrik) diputus aja deh, nanti buat surat perjanjian,” ujar Ema.

Senada dengan Ema, seorang penghuni rusun yang enggan disebut namanya juga mengaku sulitnya mencari nafkah setelah tinggal di rusun Marunda. Penghuni itu telah tinggal di rusun selama satu tahun.

Sebelumnya, penghuni itu membuka rumah makan. Usaha yang sudah berjalan belasan tahun itu terpaksa terhenti karena lahannya ditertibkan Pemprov DKI.

Saat ini, suaminya bekerja serabutan, kadang menjadi buruh, kadang bekerja di proyek-proyek pembangunan.

“Mau usaha juga susah mas, tapi syukuri aja deh,” ujar penghuni itu.

Lain halnya dengan Hasanah, petugas cleaning service itu mengaku sampai saat ini tak pernah sekalipun menunggak sewa unit rusun. Hasanah yang merupakan warga gusuran Kalibaru telah tinggal di rusun Marunda selama enam tahun.

Hasanah mengatakan, tiap bulan dia rutin membayar sewa rusunnya sebesar Rp 340.000. Biaya untuk membayar sewa rusun berasal dari penghasilannya yang mencapai Rp 3.1 juta per bulan.

Selain bisa membayar sewa rusun, Hasanah juga bisa menghidupi kebutuhan empat anaknya.

“Saya malu nunggak, kalau gajian tiap bulan saya bayar. Nyicil-nyicil, yang penting usaha mau bayar,” ujar Hasanah.

Hasanah heran, mengapa banyak warga rusun yang menunggak bahkan mencapai puluhan juta. Tapi berdasarkan cerita yang didengarnya, banyak penghuni rusun yang tidak ingin membayar sewa karena menganggap tidak perlu membayar biaya sewa.

“Katanya ‘nggak usah dibayar, punya pemerintah’. Makanya sampai sekarang banyak yang nunggak, padahal punya motor juga di rusun,” ujar Hasanah.

Kasubag Rusun Marunda, Murni Sianturi mengatakan pihaknya telah memutus aliran listrik ratusan rusun di Marunda karena menunggak sewa. Namun pihaknya memberikan keringanan agar tunggakan itu dapat dilunasi dengan cara dicicil.(*/Ikhy)

Wali Kota GSVL Buka Pencanangan Donor Darah Berbasis Kecamatan

Wali Kota GSVL saat memberikan sambutan (Foto Ist)

Wali Kota GSVL saat memberikan sambutan (Foto Ist)

MANADO – Pencanangan Donor Darah berbasis Kecamatan yang digagasan pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Manado dibawa kepemimpinan Prof. Paula Runtuwene intens dilakukan. Jumat (26/8/2016) pagi ini bertempat di lapangan Sparta Tikala Manado, PMI Manado menggelar Donor Darah.

Kegiatan ini dibuka langsung Wali Kota Manado, Dr G.S Vicky Lumentut, Wali Kota mengajak warga untuk menghidupkan budaya Donor Darah Dalam Pribadi Setiap Masyarakat Kota Manado.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif dan terobosan yang sangat baik dari kita sekalian, untuk meningkatkan dan memperluas keterlibatan setiap anggota masyarakat di Kota Manado untuk turut menyumbangkan Darahnya bagi sesama yang membutuhkan. Pentingnya arti setetes darah kita, bagi yang membutuhkan terutama untuk keselamatan jiwa sesama manusia,” ujar GSVL sapaan akrab Wali Kota Lumentut dalam sambutannya.

Wali Kota ketika memantau donor darah (Foto Ist)

Wali Kota ketika memantau donor darah (Foto Ist)

GSVL juga menambahkan baha kesadaran masyarakat itu penting karena hal tesebut untuk membantu kesehatan masyarakat.

”Jadi Mari Torang Samua Ba Donor Darah, untuk bisa menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya berdonor darah juga untuk kesehatan pendonor itu sendiri,” ucap GSVL yang turut didampingi Sekretaris PMI Sulut Dr Mercy Rampengan sekaligus melihat langsung aksi donor darah dari sejumlah pendonor darah. (*/Amas)

Dandim 1309 Manado Perintahkan Pengosongan Rumah Dinas

Prosesi serah-terima jabatan Dandim Manado (Foto Suluttoday.com)

Prosesi serah-terima jabatan Dandim Manado (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Dandim Kodim 1309 Manado Letkol Arm Johanes Toar Pioh mengatakan bahwa pengosongan rumah ini adalah perintah mutlak yang harus dilaksanakan, Kamis (25/08/2016).

“Sejak 2010, mereka sudah diingatkan untuk segera mengosongkan rumah-rumah ini, karena sudah jelas ini adalah aset negara, tapi karena mereka menggugat ke pengadilan maka prosesnya masih sangat panjang hingga sekarang,” jelas Toar.

Toar Pioh menambahkan, bahwa rumah dinas ini nantinya akan digunakan untuk prajurit yang masih aktif bertugas, karna masih banyak prajurit yang belum mendapatkan tempat tinggal.

“Saat ini yang tinggal di Rudis ini adalah mereka yang bapaknya mantan Perwira, tapi ada beberapa yang sudah pensiun sehingga harus segera diadakan pertukaran karena tanah ini milik negara,” jelas Letkol itu.

Selain itu, Dandim mengaku akan menjamin semua barang dari pihak keluarga yang di titipkan ke Kodim 1309 Manado. “Barang-barangnya tidak akan hilang atau rusak, saya sendiri yang akan jamin hal itu,” tutur Pioh. (Ghopal)

Hentikan Praktek Pornografi Menteri Yohana Ingatkan Awasi Medsos

Menteri Yohana: Medsos Anak Harus Diawasi, Kadang Sumber Pornografi di Situ
Mataram – Beberapa hari lalu, seorang remaja di Sukabumi, Jawa Barat berumur 15 tahun melakukan pencabulan. Aksi cabulnya terhadap belasan bocah tersebut diketahui karena pengaruh pornografi.Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise menegaskan, peran orang tua terhadap anak musti ditingkatkan.

“Pengasuhan orang tua, pengawasan orang tua terhadap anak-anak harus diperketat. Media sosial juga harus selalu mereka awasi. Karena memang terkadang sumber pornografi dari situ,” kata Yohana.

Pernyataan tersebut disampaikan Yohana kepada wartawan usai menghadiri Pelatihan Calon Tenaga Kerja Perempuan Program Wanita Indonesia Hebat di Stikes Yarsi Mataram, Jalan Lingkar Selatan, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (20/6/2016).

“Kita sampai saat ini terus menggalakan bebas pornografi dan anak-anak harus mendapatkan informasi yang layak,” lanjutnya.

Yohana pun menegaskan, kementeriannya saat ini sudah mempunyai pusat perlindungan anak berbasis terpadu. “Nah dari situlah kemudian anak-anak bisa bebas dalam mengakses informasi,” tutur Yohana. (Detik.com/Rahmat)

Nasabah Star Up Datangi Polresta Manado Tuntut Herman Wenas

Sejumlah nasabah Star Up saat berada di kantor Polresta Manado (Foto Suluttoday.com)

Sejumlah nasabah Star Up saat berada di kantor Polresta Manado (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Ratusan nasabah Star Up kembali mendatangi Polresta Manado dalam tujuan yang sama, para nasabah menuntut kepada Ketua Star Up Herman Wenas, agar mengembalikan seluruh uang yang diduga digelapkannya, Senin (13/06/2016).

Satu nasabah Novita Politon (38) warga Kelurahan Karombasan Selatan Lingkungan II Kecamatan Wanea kembali membuat laporan di Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Manado, laporan tersebut ditujukan kepada Tiara Ahmad Direktur Star Up.

Politon menjelaskan pada bulan april lalu pelaku mengajak korban untuk mengikuti kegiatan ini, korban pun akhirnya mengikuti kemauan dengan membayar kepada pelaku sebesar Rp.6.000.000, (enam juta rupiah) dan berjanji akan membayar bunga yang lebih besar pada bulan Juni 2016.

“Pada bulan yang disepakati pelaku tidak menepati janjinya, bahkan sampai pada hari ini uang yang dijanjikan tidak kunjung dicairkan,” tutur Novita.

Saat dikonfirmasi oleh Kapolresta Manado melalui Kasubag Humas AKP Agus Marsidi, membenarkan adanya laporan tersebut.

“Laporan sudah diterima dan kami proses sesuai hukum yang berlaku,” tegas Marsidi. (Ghopal)

iklan1