Tag: aksi damai gmki

Pernyataan Sikap Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Nasional

Solid, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan Nasional bersatu (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Organisasi Kemahasiswaan Dan Kepemudaan Nasional, yang terdiri dari HMI, PMII, GMNI, PMKRI, IMM, HIKMAHBUDHI, KMHDI, KAMMI, HIMA PERSIS, Pemuda Muslimin Indonesia, SEMMI, Gema Mathla’ul Anwar, GPII, IPTI, HIMMAH, GMKI.

Beberapa waktu belakangan ini, telah terjadi serangkaian peristiwa berupa intimidasi kepada para tokoh agama dan teror terhadap rumah ibadah yang memilukan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Beberapa kejadian ini antara lain, kepada 1) ulama, tokoh NU, dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Bandung, KH. Umar Basri pada tanggal 27 Januari 2018, 2) ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persis, H. R. Prawoto, dianiaya hingga meninggal oleh orang tak dikenal pada tanggal 1 Februari 2018, 3) persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin, Kec. Legok, Kab. Tangerang pada tanggal 7 Februari 2018, 4) serangan terhadap peribadatan di Gereja St. Ludwina, Desa Trihanggo, Kec. Gamping, Kab. Sleman pada tanggal 11 Februari 2018, yang menyebabkan Romo Prier dan pengikutnya mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam. 5) Perusakan masjid di Tuban, Jawa Timur, 6) pelecehan terhadap rumah ibadah umat beragama Hindu di Bima, NTB, pada tanggal 12 Februari 2018, dan 7) berbagai kejadian lainnya yang belum terekspos oleh media.

Dampak dari beberapa peristiwa ini adalah terganggunya stabilitas keamanan daerah dan nasional yang dapat memicu konflik horizontal yang lebih besar. Oleh karena itu, persoalan-persoalan intoleransi dan radikal ini harus segera ditangani sehingga konflik sekecil apapun dapat segera diselesaikan dengan serius dan tuntas.

Sayangnya, kami melihat belum ada penanganan yang sistematis dan efektif dari berbagai lembaga terkait. Setiap lembaga masih bergerak sendiri tanpa ada koordinasi yang sinergis. Tindakan pencegahan yang terencana, sistematis, dan berkesinambungan masih belum terlaksana dengan baik.

Menyikapi hal ini, sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama, disaksikan Monumen Gong Perdamaian Dunia di kota Ambon yang menjadi simbol pentingnya menjaga perdamaian antar sesama saudara sebangsa dan se-tanah air, kami dari Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Nasional dengan ini menyatakan:

1. Mendesak Presiden untuk menginstruksikan seluruh jajaran pemerintahan agar bekerjasama dengan solid, sinergis, dan responsif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan dan intoleran.

2. Mendesak Kepala BIN, Kapolri, Panglima TNI untuk berkoordinasi dalam mengungkap aktor intelektual dari rangkaian kasus yang telah terjadi serta mengoptimalkan tindakan preventif agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.

3. Mengajak segenap elemen bangsa antara lain pejabat publik, tokoh agama, tokoh masyarakat, elit partai politik, pimpinan ormas, dan lainnya untuk turut mengkondusifkan keadaan serta tidak mengeluarkan pernyataan yang provokatif.

4. Menginstruksikan seluruh anggota dari organisasi HMI, PMII, GMNI, PMKRI, IMM, HIKMAHBUDHI, KMHDI, KAMMI, HIMA PERSIS, Pemuda Muslimin Indonesia, SEMMI, Gema Mathla’ul Anwar, GPII, IPTI, HIMMAH, dan GMKI, untuk menjaga ikatan persaudaraan serta berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang harmoni kebangsaan berdasarkan Pancasila, UUD 1945.

5. Menghimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi dengan isu yang dapat memecah-belah kerukunan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Demikian pernyataan sikap bersama Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Nasional.

_Ambon, 14 Februari 2018_
*Atas nama Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Nasional*
Ahmad Nawawi (Ketua Umum DPP GEMA Mathla’ul Anwar)
Juventus Prima Yoris Kago (Ketua Presidium PP PMKRI)
M. Muhtadin Sabily (Ketua Umum PB Pemuda Muslimin Indonesia)
Mulyadi P. Tamsir (Ketua Umum PB HMI)
Putu Wiratnaya (Presidium PP KMHDI)
Ali Muthohirin (Ketua Umum DPP IMM)
Nizar Ahmad Saputra (Ketua Umum PP HIMA PERSIS)
M. Azizi Rois (Ketua Umum DPP SEMMI)
Agus Mulyono Herlambang (Ketua Umum PB PMII)
Irfan Ahmad Fauzi (Ketua Umum PP KAMMI)
Sugiartana (Ketua Presidium HIKMAHBUDHI)
Robaytullah Kusumajaya (Ketua Umum DPP GMNI)
Aminullah Siagian (Ketua Umum PP HIMMAH)
Masri Ikoni (Ketua Umum PB GPII)
Sahat Martin Philip Sinurat (Ketua Umum PP GMKI)
Ardy Susanto (Ketua Umum DPP IPTI). (*/Redaksi)

Cipayung Plus di Manado Suarakan NKRI Harga Mati

Cipayung plus saat menyampaikan orasi (Foto Ist)

Cipayung plus saat menyampaikan orasi (Foto Ist)

MANADO – Beragam permasalahan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia, sehingga mengundang berbagai elemen organisasi mahasiswa yang tergabung dalam kelompok cipayung plus di Manado, mengambil langkah dan sikap dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Adapun elemen organisasi mahasiswa Cipayung plus di Manado, yang ikut malam refleksi dan Doa bersama untuk NKRI. Yakni, GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia).

Aksi damai yang berlangsung aman ini, dilakukan malam ini(red kemarin malam) di Monumen Pahlawan Nasional Wolter Monginsidi dan Pierre Tendean Boulevard Manado. Aksi tersebut dimulai dengan pemasangan lilin, orasi refleksi dari setiap perwakilan organ, doa lintas agama untuk NKRI, pembagian bunga untuk masyarakat kota Manado, penandatanganan petisi serta pembacaan pernyataan sikap kelompok cipayung plus Manado oleh Ketua GMKI Cabang Manado Hizkia R Sembel didampingi ketua GMNI, PMKRI, PMII dan KMHDI.

Ketua GMNI Manado, Aldo Titdoy dalam orasinya mengungkapkan, menjaga keutuhan NKRI dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika merupakan hal yang wajib bagi seluruh rakyat Indonesia. Demi terciptanya masyarakat yang saling mencintai kemajemuk untuk menjaga toleransi dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Persoalan tentang bangsa saat ini yang sudah mengiring isu sara sebagai asumsi publik, maka harus segera diselesaikan oleh Pemerintahan Jokowi-JK.

“Hal tersebut merupakan bukti, bahwa perbedaan yang menyatuhkan kita semua dalam NKRI,” ucap Aldo.

Senada Ketua PMKRI Manado Andreas Sasuang mengatakan bahwa, bangsa Indonesia adalah bangsa yang damai, bangsa yang satu, bangsa yg utuh dan bangsa yang mempunyai sikap toleransi yang tinggi. Tapi apa nyatanya saat ini? Tanya Andreas.

Lanjut dia, NKRI seakan telah dirusak oleh oknum yg tidak ingin ada kedamaian di bumi pertiwi ini. “Banyak elit elit politik yang membawa isu sara untuk bisa memecah belahkan NKRI,” ucapnya, sembari menambahkan kita sebagai anak bangsa, tetap teguh dalam menghadapi persoalan yg ada.

Bagi Pemerintahan Jokowi-JK harus lebih jelih dalam mengambil keputusan dan lebih jelih melihat persoalan yg ada serta untuk masyarakat Indonesia. Agat tetap saling menjaga toleransi antar umat beragama dan selalu tetap saling menjaga keutuhan NKRI,” urainya.

Sasuang menambahkan bahwa segenap elemen bangsa harus menjaga keutuhan NKRI. Karena ini merupakan bentuk dari implementasi ideologi dari bangsa kita yaitu Pancasila.

“Marilah terus menjaga toleransi dan saling menghargai, karena kadang berselisih paham bukan karna kita berbeda, tetapi karena kita tidak saling mengenal,” terangnya.

Tampak masing-masing perwakilan. Diantaranya, perwakilan KMHDI Made Sudana, PMII Budiarto Usman. Ketua GMKI Manado Hizkia R Sembel membeberkan, kegiatan ini bukan hanya sebagai kegiatan ceremonial saja. Tetapi Cipayung Plus Manado akan terus menjaga dan mengawal keutuhan NKRI di Sulawesi Utara pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

“Kader-kader harus terus didorong untuk memahami nilai kebangsaan dan Nasionalis seutuhnya. Diharapkan rasa nasionalisme ini, dimulai dari diri sendiri. Kedepan, kegiatan positif seperti ini akan terus dilakukan oleh kelompok Cipayung plus,” papar Sembel. (*/Red)

Tegas, Ketua GMKI Manado Tepis Adanya Kekhawatiran ‘Penumpang Gelap’

Hizkia Sembel, Ketua GMKI cabang Manado (Foto Ist)

Hizkia Sembel, Ketua GMKI cabang Manado (Foto Ist)

MANADO – Mengawal tuntutan mahasiswa dan upaya untuk membebaskan lembaga DPRD Kota Manado dari praktek-praktek yang mencoreng nama baik kelembagaan terus dilakukan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Hal ini seperti yang disampaikan Hizkia Sembel, Ketua GMKI cabang Manado yang menyebut kalau Narkoba merupakan salah satu penyakit masyarakat yang harus dilawan.

Menepis tekhawatiran beberapa kalangan bahwa jangan sampai adanya ‘penumpang gelap’ dalam aksi damai yang dilakukan GMKI, Hizki dengan tegas menyebutkan apa yang disampaikan GMKI dan GAMKI melalui aksi damai, Kamis (9/6/2016) kemarin murni menyuarakan kepentingan mahasiswa serta masyarakat.

”Aksi damai yang dilakukan GMKI se-Sulut dan GAMKI itu murni penyampaian aspirasi mahasiswa serta masyarakat, tidak ada kepentingan lain terselip disitu. Kekhawatiran kelompok tertentu wajar saja, tapi kami pastikan ‘penumpang gelap’ tidak ada dalam aksi damai yang kami lakukan,” ujar Hizkia tegas.

Ditambahkan aktivis muda yang dikenal kritis ini terkait spirit awal demo yang dilakukan 1 Juni 2016 adalah menuntut oknum anggota DPRD Kota Manado berinsial CL agar diberhentikan karena terbukti mengkonsumsi Narkoba.

”Sejak awal demo yang dilakukan 1 Juni 2016 target GMKI adalah membebaskan lembaga DPRD Manado dari citra buruk seperti praktek konsumsi Narkoba yang dilakukan oknum CL. Ini patut disuarakan agar lembaga DPRD yang terhormat tidak tercoreng, bebas dari image buruk, jangan kemudian wakil rakyat memberi contoh tidak baik pada masyarakat. Narkoba akan terus kita lawan,” ucap Hiskia, Jumat (10/6/2016) saat diwawancarai Suluttoday.com.

Soal tuntutan copot Kapolresta Manado disebutkan muncul karena adanya aksi kekerasan oknum pihak kepolisian terhadap aktivis GMKI Manado yang melakukan aksi damai 1 Juni 2016 lalu. Sehingga demikian, tuntutan GMKI yang disampaikan cukup logis.

”Termasuk didalamnya tuntutan pencopotan Kapolresta Manado ini murni kami sampaikan karena merespon adanya aksi brutal yang dilakukan oknum polisi dari Polresta Manado yang seharusnya mengawal jalannya kelancaran aksi damai. Bukan malah bertindak kasar pada kami mahasiswa dan warga sipil,” tukas Hizkia tegas. (Amas)

iklan1