Tag: amas jarod manado

Jelang Pilkada, Benarkah Para Tokoh Agama Tak Bisa Diharapkan?

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

POLITIK diakui memiliki ritmen sendiri yang begitu dinamis dan universal, banyak hal-hal yang bersifat privat bahkan sakral sekalipun jika telah dikaitkan dengan ikhwal politik maka menjadi lain hasilnya. Dari berbagai temuan dan rangkaian problem politik di Negeri ini, terdapat salah satu institusi yang diharapkan menjadi benteng terakhir dalam merekonstruksi terjadinya penurunan moral politik atau etika, seperti praktek manipulasi hasil suara, rekayasa issu, perilaku korupsi yang dilakukan politisi, hingga tindakan amoral lainnya yang dilakukan demi mencapai tujuan politik tertentu. Para tokoh agama, dan lembaha keagamaan kita harapkan bisa bertindak ideal sesuai tugas mereka sebagai rohaniawan.

Di Sulawesi Utara untuk momentum Pilkada Serentak, Rabu 9 Desember 2015 untuk mewujudkan politik yang berkualitas dan berwibawa menjadi tantangan tersendiri. Hal itu, disebabkan oleh banyaknya lembaga yang diharapkan tidak terafiliasi dengan parpol atau kandidat kepala daerah akhirnya terkontaminasi, bahkan ada lembaga agama yang secara ”telanjang” pimpinannya menjadi pengikut calon kepala daerah tertentu (baca, kiprah NU dan Muhammadiya Sulut, red). Benarkah eksistensi lembaga yang mayoritas isu yang dikedepankan yakni demi ”Umat” memperjuangkan nasib umat saat Pilkada?. Lembaga agama yang mengkampanyekan tentang nilai-nilai religius mulai menunjukkan ketidakberpihakannya pada kepentingan umat ternyata, hal itu dibuktikan dengan pemimpina lembaga (organisasi) berbasis agama menjadi penyembah kepentingan pribadi.

Lantas apa yang harus diharapkan, jika realitas berdemokrasi di Sulawesi Utara ini sudah seperti itu?. Kemudian, bagaimana lagi kita membuat rumusan untuk proses regenerasi kepemimpinan di daerah ini kedepannya, lebih khusus untuk lembaga-lembaga berbasis keagamaan yang selalu saja mengeksploitasi kepentingan umat (Jamaah). Layakkah, lembaga agama memproduksi kader-kader yang menjadi ”munafik”?. Sementara itu, bila kita melakukan studi perbandingan sekedar mengamati perhelatan politik lokal saat ini, para kandidat calon kepada daerah pun mengincar posisi tokoh agama dan para pimpinan organisasi besar keagamaan untuk dijadikan ”sekutu”, dan bargaining politik yang bakal menguatkan kandidat kepala daerah tersebut dalam meraup suara sebanyak-banyaknya. Disisi lain, keterlibatan institusi agama dalam politik tidak berlaku seluruhnya, dimana masih ada lembaga agama yang secara terselubung ”bermain” politik praktis dan cenderung setengah hati.

Mari kita simak pernyataan Nelson Simanjuntak, anggota Bawaslu RI mengatakan “Kami berharap lembaga agama mendorong tokoh agama, tokoh masyarakat untuk berperan serta memberikan pesan moral agar pemilu lebih demokratis, bermoral dan bermartabat,” ujar Nelson saat konferensi pers di Kantor Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta Pusat, Minggu (27/9/2015). Setidaknya, lembaga pengawas Pemilu juga mengharapkan lembaga agama ikut memberikan partisipasi aktifnya dalam membentengi adanya tindakan suap dalam Pemilu, melawan politik uang dan berbagai perbuatan melawan undang-undang seperti rekayasa hasil suara dapat dilakukan lembaga agama. Politik transaksional harus dilawan secara kolektif dan cerdas, salah satu tindakannya yaitu melalui perubahan paradigma kandidat kepala daerah untuk tidak memperbiasakan pemilih dengan pemberian uang sebagai kompensasi politik.

Kemudian langkah lain yang perlu dilakukan adalah melalui dimunculkannya kebiasaan positif dari para kandidat dengan mengedepankan kompetisi program berkualitas untuk masyarakat. Mengabaikan kampanye hitam, transaksi politik yang mengarahkan masyarakat pada pemahaman materialistik, sehingga pada tahapan selanjutnya masyarakat menjadi lupa kebutuhan utama mereka. Kita semua berharap ditengah derasnya praktek politik pragmatis, bisa muncul lembaga agama yang konsisten melawan dan melakukan sosialisasi untuk menjaga nilai-nilai demokrasi, menolak politik uang. Walau hingga saat ini, masih belum terlihat tindakan seperti demikian dilakukan di Sulawesi Utara maupun di Manado, yakni usaha melokalisasi praktek politik uang secara terang-terangan. Jika ada, itu hanya bersifat insidentil dan tidak bertahan lama. Apalagi, konteks politik di Kota Manado saat ini yang makin memanas dimana salah satu pasangan calon, Jimmy Rimba Rogi-Boby Daud, calon Nomor Urut 2 dianulir KPU Manado, melalui surat rekomendasi Bawaslu Sulut.

Selanjutnya, apakah berpolitik dan melawan derasnya politik uang tanpa keterlibatan para tokoh agama dan lembaga agama membawa dampak merusak tatanan demokrasi di Republik ini?. Dan bila dibiarkan para pimpinan lembaga keagaman bermain politik praktis ”malu-malu” membawa akibat positif pada kesejahteraan masyarakat?. Pertanyaan berikutnya, masih mungkinkah para pimpinan lembaga keagamaan yang telah berbeda haluan politik dengan kebanyakan umat, boleh dijadikan panutan kedepannya?. Kita lihat saja nanti….

 

Catatan: Amas Mahmud, Redpel Suluttoday.com.

Hindari Narkoba dan Sex Bebas, JAROD Hadirkan Kepala BNN Sulut

Spanduk selamat datang Dialog Publik JAROD (Foto Suluttoday.com)

Spanduk selamat datang peserta Dialog Publik JAROD (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Kepedulian Jurnalis Online Manado (JAROD) tidak hanya pada aspek keamanan, politik dan peran budaya semata, namun lebihnya terkait masa depan generasi muda agar benar-benar bebas dari pengaruh bahaya Narkoba dan Sex bebas, JAROD juga ikut mengambil peran memberikan edukasi kepada masyarakat terakait hal tersebut.

Senin (2/11/2015), Denny Mintianto selaku ketua panitia pelaksana kegiatan Dialog Publik yang digelar JAROD, menyampaikan pihaknya akan mengundang narasumber berkompeten untuk membedah soal bahaya narkoba serta sex bebas. Selain itu, Denny meningatkan stakeholder terkait agar sama-sama berpartisipasi melawan narkoba dan sex bebas.

”Kami ikut peduli dan mendorong agar generasi saat ini dapat bebas dari baya Narkoba dan pergaulan bebas, sebagai bagian dari elemen rakyat kami pengurus JOROD berencana melaksanakan Dialog Publik pada, Selasa (2/11/2015) bertempat di Hotel Formosa Bahu Mall Manado dengan mengundang Kepala BNN Sulut, Kombes Pol Sumirat, Kaban Kesbang-Pol Manado, Drs Hanny Solang dan Ketua El-Perisai, Moh Nur Andi Bongkang untuk bicara seputar bahaya Narkoba dan Sex bebas,” ujar Denny yang juga Pemred Media Online Swaramanadonews.com ini.

Denny juga menambahkan bahwa para peserta yang diundang adalah Siswa di Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) se-Kota Manado. Dirinya berharap agar para generasi muda ikut melakukan sosialisasi terkait perlunya mengindari konsumsi Narkoba. ”Kegiatannya mulai pukul 13.00 – selesai, kemudian pesertanya adalah siswa SMA/SMK se-Kota Manado. Tema yang kita angkat yaitu ”Selamatkan Generasi Muda Sulut Dari Bahaya Narkoba dan Sex Bebas Demi Mewujudkan Bangsa Yang Berkarakter”,” ucap Denny menutup. (Faruk)

iklan1