Tag: amas mahmud

DPD KNPI Manado: Rio Dondokambey Kunci Penyatuan KNPI Sulut

Ketua Erick G Kawatu, SE.,MM (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Melalui diskusi yang panjang, DPD KNPI Manado yang dipimpin Erick G Kawatu, SE.,MM sebagai Ketua dan Amas Mahmud, SIP, selaku Sekretaris menyampaikan keputusan. Kali ini berkaitan dengan keputusan dukungan yang disampaikan di rapat Pleno DPD KNPI Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (19/11/2019).

Menurut Bung Erick hanya ada satu sosok yang dapat menyatukan DPD KNPI Sulut. Ditengah gonjang-ganjing pemuda KNPI ditengah gelombang perpecahan berKNPI. Tambah Kawatu, organisasi wadah berhimpun pemuda ini memerlukan pemimpin yang dapat menyatukannya. Bagi Bung Erick, demi kemajuan dan eksistensi KNPI Sulut, maka diperlukan keputusan yang matang.

”Kami membaca realitas KNPI di Sulawesi Utara yang telah menjadi tiga, maka diperlukan kepemimpinan yang dapat menyatukannya. Sosok itu menurut kami ada dipundak Bung Rio Dondokambey. Atas pertimbangan yang menyeluruh dan mendalam, maka DPD KNPI Manado memutuskan mendukung Rio Dondokambey selaku calon Ketua DPD KNPI Sulawesi Utara,” kata Kawatu.

Mantan Ketua Cabang GMKI Manadi yang juga didampingi Amas, optimis bahwa KNPI Sulut akan terintegrasi dibawah kepemimpinan Rio Dondokambey. Lanjut Bung Erick memberikan rasionalisasi terkait pentingnya masa depan KNPI Sulut dalam konteks keberlanjutan sejarah, keberhimpunan, diperlukan figur yang diterima disemua versi KNPI.

”Kehadiran Rio Dondokambey akan menjawab kegelisahan pemuda di Sulut yang tak mau adanya perpecahan di KNPI. Kita sudah belajar banyak hal-hal positif yang dititipkan para pendahulu KNPI, dan kewajiban kita adalah melanjutkan itu. Dalam rangka menjaga kepentingan organisasi, marwah dan konsistensi sejarah, untuk itu dianggap perlu kehadiran sosok Rio Dondokambey. Kita semua menyadari tidak pernah berfikir KNPI di Sulut menjadi beberapa faksi,” ujar Erick. (*/Redaksi)

Dialog Bersama Faisal Salim, Warga Jarod Manado Bicara Perumahan

Bang Faisal Salim, memaparkan soal rumah murah tanpa bank (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Tidak banyak orang, terutama calon Wali Kota maupun calon Wakil Wali Kota Manado selama ini yang menarih perhatian pada pembangunan rumah warga. Terkecuali disaat bencana, lalu bantuan relokasi bagi warga korban yang terkena bencana banjir. Rabu (13/11/2019) bertempat di Jarod Manado Faisal Salim dialog bersama masyarakat.

Melalui kesempatan tersebut Faisal yang digadang-gadang maju Wakil Wali Kota Manado dalam Pilwako 2020 ini dihadapan kurang lebih ratusan masyarakat, menyampaikan keprihatiannya terkait keberadaan warga Manado yang belum memiliki rumah sendiri. Pria yang juga pengusaha rumah itu bertekad memberikan murah tanpa bank kepada warga Kota Manado.

”Saya peduli pada warga Manado yang belum memiliki rumah sendiri. Saya sudah pernah mempraktekkannya, dimana rumah tanpa bank bisa direalisasikan. Bukan sekedar teori saya sampaikan. Melainkan saya pernah lakukan sendiri. Bahwa rumah tanpa bank itu boleh. Mendapatkan rumah mudah dengan model KTP itu boleh. Kemudahannya, warga yang kesulitan administrasi boleh mengambil rumah. Insya Allah dipercayakan warga Manado, saya maju sebagai Wakil Wali Kota saya berkomitmen menjalankan konsep ini,” ujar Bang Toyib sapaan akrab Faisal yang mengaku pentingnya program tersebut disukseskan di Manado.

Bung Amas Mahmud selaku moderator dalam dialog (FOTO Suluttoday.com)

Mendengarkan pemaparan Bang Toyib, sejumlah warga memberikan apresiasinya. Bahkan ada masyarakat yang melakukan testimoni atas kemudahan rumah tanpa bank yang mereka pernah rasakan dan itu adalah di perumahan milik Faisal Salim sendiri. Wahyudi Barik mengaku dengan konsep perumahan dan cara-cara kemudahan mendapatkannya yang diusung Bang Toyib.

”Dari keseluruhan yang disampaikan, saya memberi perhatian dan support pada konsep rumah tanpa bank. Sebetulnya, ini tepat bagi warga Manado. Pemaparan yang disampaikan Pak Faisal Salim kita berharap bisa terealisasi,” ujar Barik.

Para ibu-ibu yang hadir saat foto bersama Faisal Salim (FOTO Suluttoday.com)

Untuk diketahui, kegiatan dialog bersama Faisal Salim yang dihadiri juga para politisi, jurnalis, aktivis Ormas, tokoh masyarakat, aktivis mahasiswa, pengusaha dan beragam lapisan masyarakat ini dipandu Bung Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Manado. Terpantau mengalir dukungan positif terhadap Bang Faisal mengalir hingga selesainya acara dengan foto bersama dengan para ibu-ibu. (*/Redaksi)

Bersama KNPI dan Sejarawan, BEM UTSU Gelar Dialog Refleksi Hari Pahlawan

Sekretaris DPD KNPI Manado, Bung Amas Mahmud saat memberikan pemaparan (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Pelaksanaan Dialog refleksi Hari Pahlawan dilaksanakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Teknologi Sulawesi Utara (UTSU), Selasa (12/11/2019) bertempat di Tepi Laut Megamas Manado berlangsung sukses. Kegiatan yang menghadirkan KNPI Manado, Sejarawan dan Akademisi itu dihadiri aktivis mahasiswa UTSU.

Dialog dengan temana ”Semangat Pemuda dan Mahasiswa Dalam Mewjudkan Perjuangan Para Pahlawan”, menurut Ketua BEM UTSU, Robert Katopo perlu dilakukan guna mengingat kembali perjuangan dan kegigihan para pahlawan dikala itu. Disampaikannya pula penting pemuda dan mahasiswa mengambil spirit juang para pahlawan yang telah memerdekakan Indonesia dari penjajahan.

Sementara itu, Amas Mahmud selaku pemanting menilai mulai menurunnya semangat perjuangan pemuda dipengaruhi masuknya pengaruh globalisasi. Kompetisi teknologi, informasi dan pengetahuan idealnya memicu pemuda untuk terus berbenah jangan berdiam diri. Selain itu, jebolan FISIP Unsrat itu menegaskan perlunya legacy sejarah terdahulu menjadi kompas, sekaligus kiblat pergerakan pemuda saat ini agar pemuda tidak ahistoris.

”Tak boleh menjadi pemuda dan mahasiswa yang terbawa arus deras modernitas. Kita sebagai agen strategis yang diharapkan rakyat harus mampu mempertahankan identitas, bahwa pemuda dan mahasiswa menjadi pelopor perubahan. Bukan beban peradaban, atau perusak tatanan hidup masyarakat. Di erah keterbukaan dan akselerasi teknologi ini pemuda sejatinya intens belajar meningkatkan kapasitas diri. Menjadi agen aktif pembangunan, jangan diam karena akan ditinggalkan. Selain itu, kita perlu mewariskan semangat dari para Pahlawan,” ujar Amas sambil menambahkan Hari Pahlawan perlu direfleksikan tidak sekedar seremonial semata.

Foto bersama usai dialog (FOTO Suluttoday.com)

Penegasan juga disampaikan Bode Grey Talumewo yang menintik beratkan pada evaluasi kesejarahan. Diingatkannya pemuda dan mahasiswa jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tidak hanya itu, ia meyakini tiap zaman ada generasinya dan tiap generasi ada eranya masing-masing. Yang utama adalah kesiapan diri menjemput perubahan.

”Tentu pemuda dan mahasiswa jangan sekali saja melupakan sejarah. Bukan sebagai pengingat saja, sejarah adalah catatan penting dalam kehidupan kemanusiaan kita. Itu sebabnya evaluasi perjalanan sejarah sebagai motivasi dan pengetahuan yang positif perlu diaktualisasikan. Dalam konteks sejarah, tiap zaman ada generasinya dan tiap generasi ada pada tiap zamannya masing-masing, itu untuk teruslah meningkatkan kapasitas diri. Jadilah pemuda dan mahasiswa yang unggul,” tutur Talumewo.

Beberapa catatan kritis juga disampaikan Drs Marthen Tombeng, M.M yang menyebutkan pentingnya mahasiswa mengerti tentang tanggung jawab dan amanah yang diberikan orang tua untuk berproses di kampus. Jebolan GMKI itu mendorong mahasiswa agar menyiapkan diri dengan belajar, aktif, dan tidak malas-malasan dalam aktivitas kemahasiswaan.

Berlangsungnya tanya jawab (FOTO Suluttoday.com)

”Sebagai mahasiswa tentu jangan melupakan tanggung jawab, tugas utama dan amanah yang diberikan orang tua. Pada konteks ini adalah harus mengerjakan tugas-tugas akademisnya, mengaktualisasikan apa yang dideapatkan di kampu ditengah masyarakat. Tantangan mahasiswa di luar kampus memang kompleks, itu sebabnya harus disiplin serta giat meningkatkan kompetensinya. Tidak boleh menjadi mahasiswa yang gagap dalam berinteraksi, mantapkan kualitas. Ketika mahasiswa mau berjuang demi kepentingan masyarakat, ia harus selesai dengan dirinya sendiri,” tutur Tombeng.

Suasana diskusi, tanya jawab pun berlangsung dinamis dan alot. Kemudian para narasumber yang berkesempatan hadir adalah Amas Mahmud, SIP (Sekretaris DPD KNPI Manado), Drs Marthen Tombeng, M.M (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UTSU) dan Bode Grey Talumewo, S.S (Sejarawan Minahasa). Sedang moderator yakni Alfrianto Zainal, ST. (*/Redaksi)

RESIDU DEMOKRASI

Bung Amas (FOTO Suluttoday.com)

Oleh : Bung Amas, Sekretaris DPD KNPI Manado

RUPANYA sistem pemerintahan yang digunakan di era transparansi ini sebaik apapun, tetap ada celanya. Ada peluang dan kelemahan tertentu yang sering dimanfaatkan pihak-pihak berkepentingan. Seperti itu pula system Demokrasi Pancasila yang kita anut di Republik Indonesia. Melalui konsep kepemimpinan Presidensial yang tumpuan kekuatan executive heavy. Semua kekuatan kendali dilakukan Presiden, tetap ada titik lemahnya.

Begitu kuatnya pemerintah melalui pengendalian institusi dan bargaining, ada segudang tantangan menanti. Silahkan kita periksa keberhasilannya pada tataran praksis. Kemajuan dan kesejahteraan masyarakat juga masih saja terbelah dengan kesenjangan. Pemerintah Jokowi misalkan yang dalam beberapa momentum menyampaikan sikap tak mau mengintervensi proses penegakan hukum. Hal itu ada plus minusnya.

Logika penghargaan terhadap lembaga penegak hukum yang independen tak mau dinodai Presiden. Meski begitu sikap Presiden tidak selamanya bermanfaat dalam penyelesaian kasus hukum. Sebetulnya, Presiden punya otoritas mengendalikan proses hukum. Kita hargai saja interpretasi hukum yang dianut Presiden. Semoga praktek membegali hukum di republik ini ada solusinya.

Jika benang kusut korupsi yang merugikan masyarakat tidak dituntaskan, berarti kita tersandera kepentingan politik. Dan korupsi makin mendapat tempat dan merajalela. Korupsi tumbuh subur kepada entek pengusaha utamanya. Tugas Presiden yang mulia itu bertanggung jawab atas semua urusan publik, tidak parsial.

Misalkan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Problem diskriminasi, serta masalah kriminal lainnya yang belum tuntas. Semua itu butuh perhatian dan ketegasan Presiden. Kurang terkelolanya pemerintahan yang terjebak pada ‘koalisi besar’ juga menambah residu demokrasi menjadi buruk. Mobilitas demokrasi kita masih tersandera kepentingan-kepentingan elit yang berkoalisi di lingkar kekuasaan. Residu demokrasi lain yang bergentayangan ditengah masyarakat kita adalah sikap arogannya pemimpin.

Segelintir elit yang hanya mau diberi penghormatan, lalu menghamba pada investor Asing. Karakter pemerintah yang selalu berharap ada pengkultusan terhadap dirinya, meminta pujian, dan menolak kritik. Segala masukan yang dinilai merusak citra diri dituduh sebagai anti pemerintah. Dicurigai seolah-olah kelompok masyarakat yang sakit hati karena berbeda pandangan serta pilihan politik, padahal tidak seperti itu sebetulnya.

Banyak macam residu demokrasi, diantaranya juga proses pemilihan kepemimpinan yang memberi ruang terhadap praktek politik uang. Dihidupkannya politik adu domba, keberadaan masyarakat yang beragam seperti dibenturkan dengan istilah mayoritas dan minoritas. Hasilnya, demokrasi terkebiri. Demokrasi yang universal dikungkung dalam ruang sempit. Jangan heran kemudian input dari proses demokrasi melahirkan output yang tidak sesuai harapan banyak orang.

Keresahan sampai kegelisahan masyarakat harus dijawab pemerintah. Jangan menutup mata, apalagi berpura-pura dan membangun image bahwa Indonesia dalam situasi stabil atau baik-baik saja. Demokrasi kita sedang dalam kesakitan yang kronis. Demokrasi dibajak, kita berdemokrasi dengan cara-cara yang liberal. Tiap politisi yang bertarung dalam Pemilu dan Pilkada, selalu saja punya modal uang terlebih dahulu, barulah mereka menang. Seakan-akan uang merupakan investasi sosial yang utama. Politik uang dianggap semacam garansi bagi kemenangan politisi dalam kontestatsinya.

Nauzubillah min zalik. Demokrasi kita seperti pipa yang mengeluarkan limbah dan tinja. Melainkan kompas atau fondasi yang mengarahkan masyarakat pada ruang pencerahan. Demokrasi meski melahirkan wewangian, buah segar dan makanan yang melejatkan. Rekayasa hasil pemilihan umum, konspirasi jahat dan cara-cata tidak etis yang sering kali ditunjukkan dalam praktek politik. Dilema tersebut menjadi bagian dari residu demokrasi yang mengecewakan.

Kita mengenali residu atau sisa demokrasi yang harusnya membanggakan semua masyarakat Indonesia. Harapan tersebut terbayar bila praktek demokrasi dilandasi pada kejujuran, keadilan. Penghargaan terhadap hak-hak individu, penghormatan pada kemajemukan, dan taat pada regulasi Negara. Anti terhadap perbuatan curang, sekaligus tidak tunduk terhadap sikap-sikap kolonial yang dengan telanjang membudayakan perbudakan. Demokrasi wajib dijalankan secara benar.

Residu demokrasi yang produktif dan sejalan dengan spirit Pancasila yaitu melahirkan realitas masyarakat yang berperadaban tinggi. Masyarakat yang mengakui sekaligus taat pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan, persatuan, tegak lurus membela nilai-nilai kerakyatan dan berjuang menegakkan keadilan. Nalar publik harus terus digoda, diajak, diajarkan agar ramai-ramai kita tumbuhkan kebersamaan. Bergerak dalam satu poros perjuangan serta cita-cita kolektif yakni melawan penindasan atas nama apapun.

Memberi ruang kepada oknum yang mengkonversi suara konstituen dengan uang, berarti sama saja kita menghendaki residu demokrasi terperangkap. Bahkan, bukan sekedar itu saja, melainkan kita ikut bertanggung jawab, ambil andil merusak demokrasi. Lahirkan cara pandang yang mandiri, inklusif, jadilah agenda demokrasi yang cerdas, bukan menjadi tukang produk sampah peradaban. Kita ikut berdedikasi menjadi tukang bersih ‘kotoran’ demokrasi yang hari ini sedang kita tuai. Kalau bukan sekarang, kapan lagi, dan kalau bukan kita siapa lagi.

Residu demokrasi digambarkan sebagai suatu proses yang tertinggal, tersisa, atau berperan sebagai kontaminan dalam siklus demokrasi. Untuk ini, demokrasi menyisahkan beragam masalah yang masih kronis. Menjadi pekerjaan rumah bagi kita. Berharap ada pemimpin berhati mulia yang membebaskan demokrasi dari tekanan, paksaan dan keterjebakan. Demokrasi idealnya meninggalkan residu yang membahagiakan. Bukan menjadi mainan bagi para bandit.[*]

Mematahkan Arus Pemikiran Islamofobia di Indonesia

Bung Amas (FOTO Suluttoday.com)

KADANG kala kita menjadi bid’ah dalam beragama. Kita terkungkung pada keterjebakan pikiran sendiri sehingga begitu prematurnya kita menyimpulkan sesuatu. Terutama dalam konteks pandangan agama. Istilah radikal, teroris, fanatik, bahkan kafir sering kita gunakan untuk malabelkan atau menyematkan ke orang lain. Padahal, yang kita lakukan itu fatal. Mengancam kerukunan, kebersamaan dan sikap tak beragama.

Bid’ah yaitu perbuatan yang dikerjakan tidak berdasarkan contoh sebelumnya. Dalam istilah linguistik dapat diartikan seperti adanya inovasi, pembaruan atau doktrin yang sejatinya tidak penting-penting amat dalam beragama. Hasilnya, lahirlah pemikiran seperti Islamophobia atau Kristenophobia. Istilah ini cukup mendunia, dimana Islamophobia yakni rasa takut dan kebencian seseorang atau sekelompok orang kepada Islam. Mereka yang memiliki ketakutan tak beralasan.

Ambil saja contoh soal Islamophobia. Tidak semua, tapi ada segelintir kita yang khawatir berlebihan bila muncul penganut Islam yang taat beribadah kemudian menerapkan syariat Islam. Hidup disiplin dan mengikuti anjuran-anjuran agama, padahal makin taat seseorang terhadap Tuhannya, membuat ia menjauh dari hal-hal yang membawa mudharat.

Dalam keyakinan beragama, semua umat pemeluk agama apapun yang betul-betul sholeh ‘hamba Tuhan’ meyakini bahwa pilihan beragamanya atau hubungan vertikalnya lebih baik. Kalau dalam Islam kita mengenal istilah Tauhid. Dari relasi itu mengharuskan para pemeluk agama tidak saling sibuk dengan urusan agama lain. Melainkan, fokus menjalankan perintah agamanya masing-masing. Tidak perlu takut. Bahkan, kita harus berlomba-lomba untuk berbuat baik.

Al-qur’an misalkan sudah menguraikan dan memberi tuntunan bagi umatnya bahwa ‘Lakum dinukum waliyadiin’ atau bagimu agamamu, bagikulah agamaku (Q.S Al-Kafirun : 6). Artinya, dalam konsep keyakinan, kita meyakini kebenaran atas apa yang kita sembah masing-masing. Sehingga demikian menjadi tidak penting kita saling mengusik antar pemeluk agama.

Ajaran agama lain juga setidaknya mengajarkan soal kebaikan-kebaikan. Kesolehan sosial, ketaatan beragama, menghargai keberagaman, toleran dan menyeru kepada kebaikan, melawan kemungkaran atau kemaksiatan merupakan esensi beragama. Bila umat beragama memahami domain tersebut, kerukunan kebahagiaan, ketertiban, rahmat Tuhan akan selalu mengarahkan kita dengan takdir kita masing-masing.

Pemikiran kerdil yang dipicu atas kekurangan pengetahuan, sentiment, sinisme atau salah kaprah pasti tak akan tumbuh dibenak kita. Ketika masih ada rasa dengki kita terhadap penganut agama lain yang loyal beragama, berarti kita sebetulnya belum menjadi penganut agama yang baik. Kita masih saja terganggu melihat pemeluk agama lain beribadah, berarti pola pikir kita yang perlu dikoreksi. Dalam relasi sosial, keberagaman itu harus pula kita kedepankan.

Tidaklah benar bila satu agam Berjaya lantas pemeluk agama lain diganggu, disingkirkan atau dibinasakan. Sejarah telah secara telanjang menjelaskan itu. Lihat kiprah Nabi Muhammad SAW sebagai teladan umat Islam yang saat itu memimpin kaum muhajirin dan anshar dengan Piagam Madinanya. Manakala umat beragama yang ada di Indonesia menjadi taat beribadah, yang kita dapatkan adalah ketentraman dan ketenangan.

Permusuhan, saling fitnah, pelarangan dibangunnya rumah ibadah dan pembubaran ibadah agama tertentu tak akan lagi kita temui. Pemikiran tentang tiap agama mengajarkan hal-hal inklusif perlu kiranya dihidupkan, jangan dinafikkan atau disimpan itu. Islamophobia dan kristenophobia termasuk kampanye menyesatkan. Propaganda yang membuat kita saling bermusuhan antara pemeluk agama.

Berarti penting kita membangun kesadaran agar membentengi arus pemikiran itu. Karena bila kekhawatiran yang berlebihan itu menjadi bibit produktif yang dicangkokkah ke pikiran masyarakat kita, yakinlah masyarakat Indonesia dengan mudah dibenturkan. Salah satu tantangan pemerintahan Jokowi di periode keduanya ini diantaranya adalah menghentikan phobia tersebut.

Kalau ditanya satu persatu soal pemahaman kemajemukan dan pengakuan atas perbedaan, kita pasti mengaku semua paling mengagumi atau berada didepan membela keberagaman. Itu telah tuntas sebetulnya. Yang menjadi tugas kita adalah menumbuhkan kesadaran beragama. Karena jangan-jangan kriminalitas, kerusuhan dan konflik sosial yang terjadi disebabkan kita kurang taat menjalankan perintah-perintah agama?. Layak kiranya kita periksa kecurigaan atas itu.

Berdirilah menjadi generasi yang mencerahkan pikiran kita masing-masing. Sebelum menjadi lilin yang membakar dirinya guna menerangi lingkungan sekitar, kita perlu penyucikan pikiran sendiri. Bertanya pada diri sendiri bahwa kita telah rela terhadap adanya keberagaman atau belum?. Kalau merasa sudah rela, berarti tidak perlu mempolemikkan perbedaan keyakinan beragama tiap-tiap diantara kita. Tidak ada lagi Islamophobia atau Kristenophobia.

Mari kita kembali menuju area wisata beragama. Menjernihkan pikrian, mencerahkan ingatan dan menjadi pemberi kabar kebaikan. Kalau Niccolo Machiavelli dalam buku Diskursus menyuarakan tentang kebebasan ‘bila Negara dalam bahaya, warga Negara yang baik harus berbakti atas nama moralitas tertinggi’. Bermula dari ia membandingkan kebajikan masyarakat pagan (paganisme) perihal kewarganegaraan dengan standar pribadi dan religius Kristiani.

Setidaknya kita warga Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat merestorasi kesadaran melalui ketaatan beragama pula. Intisari yang luar biasa, perlu diambil dari buku Machiavelli itu. Dari taat beragama kita pasti lebih disiplin, takut korupsi, takut maker, takut berdusta, takut menyalahgunakan kekuasaan, takut berhutang, takut mengobral janji yang tak mampu ditepati dan seterusnya.

Merujuk pada pendapat Emha Ainun Najib, seorang seniman dan budayawan Indonesia bahwa agama itu diajarkan kepada manusia agar ia memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menata hidup, menata diri, dan menata alam, menata sejarah, kebudayaan, sampai politik. Melalui pemahaman itu, maka kalau kita istiqomah menjadi pemeluk agama tentu segala urusan keduniaan tersebut menjadi lancar diwujudkan. Tanpa ada lagi permasalahan berarti.

Perlu direinterpretasi dimana bila ada salah satu penganut agama tertentu melakukan praktek terorisme atau maker, yang salah bukanlah agamanya. Melainkan person yang melakukan tindakan tercela tersebut. Nah, sekarang mulai bergeser, publik malah ramai-ramai menghakimi bahwa seolah-olah atas kejadian itu yang salah adalah agama tertentu. Nauzubillahi min zalik. [***]

 

_________________________

Penulis : Bung Amas
iklan1