Tag: amas mahmud

Memotret Pilkada Serentak, Ikhtiar Melawan Skandal Politik

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Ketika politik mengajarkan bahwa tugas politikus sesungguhnya melaksanakan kehendak rakyat. Namun, yang terjadi mereka hanya mementingkan dirinya sendiri. –Joseph Schumpeter

PEMILIHAN kepala daerah (Pilkada) serentak 9 Desember 2015, menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk meletakkan posisi dasar berdemokrasi dalam bingkai penghematan anggaran dan pengintegrasian kerja-kerja penyelenggara pemilihan umum (Pemilu). Selain sebagai langkah awal, Pilkada serentak juga menjadi hal baru dalam sejarah berdemokrasi di Indonesia, sehingga menjadi penting capaian yang hendak dituju harus terealisasi. Pilkada serentak diakui, bukan menjadi ajang unjuk kekuatan rezim Jokowi-JK dalam membuat terobosan dan irisan sejarah baru di Republik ini, namun lebih dari itu sebagai upaya mengurangi terjadinya konflik Pilkada dan ketidakteraturan demokrasi.

Bersamaan dengan kesempatan Pilkada serentak, penyelenggara Pemilu diberikan ruang sekaligus tantangan berharga, bagaimana mewujudkan pelaksanaan Pilkada yang tertib, aman, transparan, jauh dari praktek rekayasa hasil Pemilu, terhindar dari intimidasi structural terhadap penyelenggara Pemilu. Espektasi publik terhapa terlahirnya pemimpin berkualitas, loyal pada amanah rakyat dan bekerja memajukan pembangunan dalam Pilkada serentak ini tentu menjadi perhatian tersendiri, untuk dilakukan penguatan kerja penyelenggara Pemilu (KPU dan Bawaslu).

Mengamati perkembangan politik lokal di Sulawesi Utara (Sulut), setelah dianulirnya pasangan calon Elly Lasut dan David Bobihoe oleh KPU Sulut dengan alasan Elly berstatus bebas bersyarat, menuai banyak tanya, dan bahkan sindiran penyelenggara Pemilu tingkat Provinsi Sulut dinilai seolah-oleh telah menjalankan pesanan politik dari kelompok tertentu. Begitupun di Kota Manado, dimana Jimmy Rimba Rogi (Imba)-Boby Daud, yang diloloskan KPU Manado, lalu kemudian dianulir kembali berdasarkan surat rekomendasi Bawaslu Provinsi Sulut, dan terakhir tiba-tiba ada desakan ribuan massa pendukung Imba-Boby, pasangan calon Wali Kota Manado Nomor Urut 2 ini diloloskan kembali. Bertepatan dengan Pilkada serentak, peristiwa politik semacam ini pertama kali terjadi di Sulut.

Menghentak, perubahan keputusan yang terkesan dadakan dan kontradiktif antara sesame penyelenggara Pemilu di Sulut, hingga kemudian terjadinya penon-aktifan sementara waktu Panwaslu Manado dari Bawaslu Sulut. Rentetan insiden demokrasi ini, tentu menjadi catatan sejarah yang ikut menghiasi cerita-cerita tentang bagaimana mentalitas rakyat kita dan penyelenggara Pemilu dalam berdemokrasi. Benarkah ini merupakan patahan sejarah di Sulut yang menandakan kecerobohan ataukah kelalayan kita bersama dalam mengawasi proses demokrasi di daerah ini, pelajaran berharga ini memberikan istrasi pada kita semua agar menyiapkan jalan damai terhadap berjalannya demokrasi tanpa disandera itu lebih penting dari sekedar hawa nafsu politik semata yang mengorbankan kepentingan publik.

Catatan singkat ini sekiranya memberikan penegasan pada kerja-kerja professional dari lembaga penyelenggara Pemilu, untuk dapat membenah diri, konsisten, independen dan tidak mudah goyah dengan tekanan politik. Terlalau naïf, jika KPU Manado hanya beralasan karena tekanan massa Imba-Boby saat melakukan demonstrasi di kantor KPU Manado sehingga mereka dengan terpaksa menandatangani berita acara meloloskan kembali Imba-Boby, yang kemudian berujung pada tugas KPU Manado akan ditake over KPU Provinsi. Sebagai masayarakat awam, kita berharap tidak ada lagi intrik politik (persekongkolan) dan sandiwara dibalik diloloskannya kembali Imba-Boby, agar salah satu lembaga merasa ‘’terbebaskan’’ dari masalah yang lebih besar. Imba-Boby diloloskan, itu menjadi impian warga Manado dan tidak perlu lagi dianulir kembali. Mari hindari skandal politik, politik balas dendam dan bebaskan masyarakat dari intervensi penguasa.

Kiranya keputusan yang dilakukan KPU Manado benar-benar atas telaah hukum, bukan juga sekedar upaya ‘’cuci tangan’’, meski sikap KPU Sulut untuk melimbahkan kasus ini ke KPU Pusat terkesan tendensius. Ingatlah ungkapan Mikhail Bakhtin, bahwa sejarah adalah sejenis drama di mana setiap babak diikuti oleh paduan suara ketawa. Tapi ingatlah wahai penguasa, bila mau mencerdaskan rakyat dalam berpolitik beri teladan yang baik, jangan seperti yang disampaikan Ibn Khaldun, yakni masyarakat yang sekian lama mengalami penindasan dan kekerasan biasanya akan menjadi bangsa yang korup.

Catatan: Amas Mahmud, Redpel Suluttoday.com

Jarod Kembali Berduka, Ayah Chres Mongkareng Dipanggil Tuhan

Suasana dirumah duka (Foto Suluttoday.com)

Suasana dirumah duka (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Suasana duka kembali menyelimuti keluarga besar Komunitas Jurnalis Online Manado (JAROD), dimana Minggu (15/11/2015), dimana ayah tercinta dari Chres Mongkareng, pengurus JAROD Siegfrid Mongkareng (58 tahun) meninggal dunia. Papa chresayahanda dari Chres Mongkareng wartawan Kabarmanado.com di panggil naik ke kemulian Tuhan.

Kepada rekan JAROD yang melayat, Chres menegaskan ayahanda tercintanya itu menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit Prof Kandou Malalayang pada hari Minggu (15/11/2015) kemarin.

‘’Papa menghembuskan nafas terakhir dengan tenang dirumah sakit,” ujar Chres, Senin (16/11/2015).

Dia mengatakan, kesedihan yang lebih dalam lagi dirasakannya yakni dalam waktu dekat almarhum akan berulang tahun, dan pihak keluarga merencanakan akan merayakan secara sederhana namun penuh ucapan syukur.

‘’Rencananya kami akan merayakan hari jadi papa tahun ini, namun ternyata Tuhan merencanakan yang lain bagi papa dan kami,” ungkap Chres dengan nada menghibur diri.

Atas nama pribadi dan keluarga, Chres menyampaikan ucapan terima kasih kepada rekan-rekan jurnalis yang telah datang melayat dan memberikan penguatan dan motivitasi, khususnya pengurus dan anggota JAROD. Ketua JAROD Amas Mahmud mengatakan, kedatangan pengurus dan anggota JAROD kerumah duka di Kampung Jawa, Karombasan itu, merupakan hal yang sering dilakukan jika ada rekan seprofesi yang ditimpah duka cita.

”Patut kita saling mengunjungi, apalagi kami di JAROD sudah seperti saudara, layaknya para pelayat yang memberikan dukungan moral bagi keluarga yang berduka cita. Semoga amal ibadah Almarhum diterima disisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran,” ucap Amas. (Adi)

Jelang Pilkada, Benarkah Para Tokoh Agama Tak Bisa Diharapkan?

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

POLITIK diakui memiliki ritmen sendiri yang begitu dinamis dan universal, banyak hal-hal yang bersifat privat bahkan sakral sekalipun jika telah dikaitkan dengan ikhwal politik maka menjadi lain hasilnya. Dari berbagai temuan dan rangkaian problem politik di Negeri ini, terdapat salah satu institusi yang diharapkan menjadi benteng terakhir dalam merekonstruksi terjadinya penurunan moral politik atau etika, seperti praktek manipulasi hasil suara, rekayasa issu, perilaku korupsi yang dilakukan politisi, hingga tindakan amoral lainnya yang dilakukan demi mencapai tujuan politik tertentu. Para tokoh agama, dan lembaha keagamaan kita harapkan bisa bertindak ideal sesuai tugas mereka sebagai rohaniawan.

Di Sulawesi Utara untuk momentum Pilkada Serentak, Rabu 9 Desember 2015 untuk mewujudkan politik yang berkualitas dan berwibawa menjadi tantangan tersendiri. Hal itu, disebabkan oleh banyaknya lembaga yang diharapkan tidak terafiliasi dengan parpol atau kandidat kepala daerah akhirnya terkontaminasi, bahkan ada lembaga agama yang secara ”telanjang” pimpinannya menjadi pengikut calon kepala daerah tertentu (baca, kiprah NU dan Muhammadiya Sulut, red). Benarkah eksistensi lembaga yang mayoritas isu yang dikedepankan yakni demi ”Umat” memperjuangkan nasib umat saat Pilkada?. Lembaga agama yang mengkampanyekan tentang nilai-nilai religius mulai menunjukkan ketidakberpihakannya pada kepentingan umat ternyata, hal itu dibuktikan dengan pemimpina lembaga (organisasi) berbasis agama menjadi penyembah kepentingan pribadi.

Lantas apa yang harus diharapkan, jika realitas berdemokrasi di Sulawesi Utara ini sudah seperti itu?. Kemudian, bagaimana lagi kita membuat rumusan untuk proses regenerasi kepemimpinan di daerah ini kedepannya, lebih khusus untuk lembaga-lembaga berbasis keagamaan yang selalu saja mengeksploitasi kepentingan umat (Jamaah). Layakkah, lembaga agama memproduksi kader-kader yang menjadi ”munafik”?. Sementara itu, bila kita melakukan studi perbandingan sekedar mengamati perhelatan politik lokal saat ini, para kandidat calon kepada daerah pun mengincar posisi tokoh agama dan para pimpinan organisasi besar keagamaan untuk dijadikan ”sekutu”, dan bargaining politik yang bakal menguatkan kandidat kepala daerah tersebut dalam meraup suara sebanyak-banyaknya. Disisi lain, keterlibatan institusi agama dalam politik tidak berlaku seluruhnya, dimana masih ada lembaga agama yang secara terselubung ”bermain” politik praktis dan cenderung setengah hati.

Mari kita simak pernyataan Nelson Simanjuntak, anggota Bawaslu RI mengatakan “Kami berharap lembaga agama mendorong tokoh agama, tokoh masyarakat untuk berperan serta memberikan pesan moral agar pemilu lebih demokratis, bermoral dan bermartabat,” ujar Nelson saat konferensi pers di Kantor Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jakarta Pusat, Minggu (27/9/2015). Setidaknya, lembaga pengawas Pemilu juga mengharapkan lembaga agama ikut memberikan partisipasi aktifnya dalam membentengi adanya tindakan suap dalam Pemilu, melawan politik uang dan berbagai perbuatan melawan undang-undang seperti rekayasa hasil suara dapat dilakukan lembaga agama. Politik transaksional harus dilawan secara kolektif dan cerdas, salah satu tindakannya yaitu melalui perubahan paradigma kandidat kepala daerah untuk tidak memperbiasakan pemilih dengan pemberian uang sebagai kompensasi politik.

Kemudian langkah lain yang perlu dilakukan adalah melalui dimunculkannya kebiasaan positif dari para kandidat dengan mengedepankan kompetisi program berkualitas untuk masyarakat. Mengabaikan kampanye hitam, transaksi politik yang mengarahkan masyarakat pada pemahaman materialistik, sehingga pada tahapan selanjutnya masyarakat menjadi lupa kebutuhan utama mereka. Kita semua berharap ditengah derasnya praktek politik pragmatis, bisa muncul lembaga agama yang konsisten melawan dan melakukan sosialisasi untuk menjaga nilai-nilai demokrasi, menolak politik uang. Walau hingga saat ini, masih belum terlihat tindakan seperti demikian dilakukan di Sulawesi Utara maupun di Manado, yakni usaha melokalisasi praktek politik uang secara terang-terangan. Jika ada, itu hanya bersifat insidentil dan tidak bertahan lama. Apalagi, konteks politik di Kota Manado saat ini yang makin memanas dimana salah satu pasangan calon, Jimmy Rimba Rogi-Boby Daud, calon Nomor Urut 2 dianulir KPU Manado, melalui surat rekomendasi Bawaslu Sulut.

Selanjutnya, apakah berpolitik dan melawan derasnya politik uang tanpa keterlibatan para tokoh agama dan lembaga agama membawa dampak merusak tatanan demokrasi di Republik ini?. Dan bila dibiarkan para pimpinan lembaga keagaman bermain politik praktis ”malu-malu” membawa akibat positif pada kesejahteraan masyarakat?. Pertanyaan berikutnya, masih mungkinkah para pimpinan lembaga keagamaan yang telah berbeda haluan politik dengan kebanyakan umat, boleh dijadikan panutan kedepannya?. Kita lihat saja nanti….

 

Catatan: Amas Mahmud, Redpel Suluttoday.com.

Keluarga Besar Jarod Berduka, Ibunda Owner Topiksulut.com Berpulang

Pengurus JAROD saat melayat ke rumah duka (Foto Suluttoday.com)

Pengurus JAROD saat melayat ke rumah duka (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Kesedihan menyelimuti rumah duka Paal Dua lingkungan 1 Manado. Dimana Ibunda terkasih dari Owner Topiksulut.com Lusy Loindong berpulang ke Rumah Bapa. Almarhumah Annie Bernandeth Sumolang, saat ditemui Lusy menyampaikan penyebab meninggalnya Almarhumah secara singkat.

“Awalnya biasa saja, mami minum obat darah tinggi, ternyata darah normal, akhirnya drop,” ujar Lusy loindong anggota Jurnalis online manado (Jarod) kepada semua anggota jarod yang datang melayat Jumat (13/11/15) hari ini.

Ndk sangka semua bagini, cepat sekali. Mar, apa yang Tuhan buat baik adanya. Torang cuma bisa berencana dan berusaha, Tuhan yang tentukan, Kata Lusy lagi menahan isak tangis mendalam.

Sementara itu, puluhan wartawan yang tergabung dalam Jarod berharap Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan, kepada Lusy Loindong serta Reinaldo Loindong dengan kebesaran Tuhan yang telah dinyatakannya.

“Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan penghiburan, atas kepergian ibunda terkasih,” ujar Ketua Jarod Amas Mahmud.

Didampingi Rekan-rekan jurnalis yang tergabung dalam Jarod, Ketua berpesan agar keluarga yang berduka, mengiklaskan kepergian almarhumah agar tenang di sini sang pencipta, karena apa yang dibuat Tuhan baik adanya. (Angel)

Sukses Kerja Sama KPA dan JAROD, Ini Pesan Amas Mahmud

Ketua Jurnalis Online Manado saat memberikan sambutan (Foto Suluttoday.com)

Ketua Jurnalis Online Manado saat memberikan sambutan (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Sukses gelar sosialisasi antara Komisi Penagulangan Aids (KPA) bersama Jurnalis online Manado (Jarod) yang diselengarakan di kantor DPD RI, Kamis (12/11/15) kemarin. Diharapkan warga masyarakat bisa mendapatkan info secara cepat dan tepat, dengan adanya sosialisasi tersebut. Dikarenakan jurnalis merupakan ujung tombak informasi bagi pembaca dalam hal ini masyarakat sebagai konsumen berita.

“Kiranya, suksesnya kegiatan ini berdampak pada bertambahnya pemahaman pada masyarakat tentang bahaya HIV AIDS, dan kemudian penyakit menular ini dapat dicegah masyarakat secara sadar. Lewat pemberitaan dan kemitraan yang sinergis semua Jurnalis Online Manado yang hadir dalam sosialisasi apa yang menjadi hasil sosialisasi saat ini akan lebih bermanfaat tentunya,” ujar Amas Mahmud selaku Ketua Jarod.

Lanjut Ketua puluhan media online di Manado itu berharap, adanya peningkatan di bidang kedisiplinan waktu, untuk para jurnalis online ketika menyelenggarakan kegiatan. “Disiplin waktu, kiranya jadi prioritas dan perhatian bagi jurnalis online manado, guna menciptakan disipline kerja dan pemberitaan yang makin baik lagi kedepannya,” ucap Mahmud yang juga alumnus Unsrat Manado itu menutup. (Angel)

iklan1