Tag: aristoteles

POLITIK, Relasi Kesejahteraan dan Standar Etika

Bung Amas (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

POLITIK sebagai bidang ilmu terapan juga merupakan seni. Kenapa seni (art)?, karena politik tidak mengenal hegemoni tunggal. Suatu basis pengetahuan formal tertentu saja yang mendominasi politik, melainkan cabang keilmuan lainnya juga bisa terjun, terlibat dalam memahami politik. Begitu pula dalam ranah praktek. Tidak harus praktek politik dilakoni para Sarjana Ilmu Politik (S.IP). Lebih dari itu, semua kaum intelektual yang pernah merasakan proses pendidikan formal, memiliki kesempatan yang sama untuk berpolitik.

Bahkan, begitu liberalnya. Politik diramaikan mereka yang tanpa ada dasar dan pengalaman pendidikan formal. Seperti itulah politik yang medannya serupa samudera luas. Lain ceritanya, ketika hari ini panggung politik tercemar dan dinodai praktek curang, pembunuhan karakter, politik uang dan sebagainya. Yang pastinya, panggung politik bukan menjadi ruang monopoli bagi kelompok tertentu saja. Semua elemen anak bangsa, insan manusia punya kesempatan berpolitik.

Selanjutnya, apa kaitannya politik dan kesejateraan. Pada mulanya, politik bukan soal kedudukan atau kekuasaan semata. Jauh lebih luasnya, politik mengurusi tentang nasib manusia. Aristoteles (384-322 SM), seorang Filosof Yunani pernah menerangkan bahwa manusia adalah zoon politicon (manusia sebagai makhluk sosial politik). Manusia tak bisa hidup sendiri, tapi harus berdampingan dengan manusia lainnya.

Begitu pula dalam interaksi politik. Derasnya pengetahuan politik, yang kadang dibelokkan membuat citra politik menjadi buruk. Sehingga masyarakat awam sering menafsir politik sekedar cara meraih kekuasaan. Cara menipu, cara merekayasa, cara membohongi, atau cara untuk menghalalkan sesuatu demi meraih tujuan tertentu. Ironis, inilah kesalahan tafsir terhadap politik. Penting kiranya dikoreksi, diluruskan. Agar tidak menjadi beban atau kesalahan berkepanjangan.

Politik pada hakikatnya untuk kebaikan kemanusiaan. Bukan niat atau perbuatan curang. Target dan tujuan berpolitik ialah bagaimana meraih kesejahteraan. Daerah dan Negara secara luas harus hadir, menjamin masyarakatnya agar sejahtera. Begitu krusialnya politik hadir menjawab keresahan, kekecewaan dan terjadinya degradari kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Melalui politiklah, keruntuhan keyakinan masyarakat tersebut dibangun.

Praktek politik yang beretika harus mengembalikan kepercayaan publik terkait politik yang mulai buruk citranya. Politik itu untuk kemaslahatan umat (rakyat). Jangan dipersempit politik hanya sebatas menjegal, merebut kekuasaan dan mengelola kekuasaan demi kepentingan kelompok tertentu. Tak hanya itu, politik juga bukan soal bagi-bagi kekuasaan. Politik memiliki tujuan mulia, merangkul, memberikan jaminan pada masyarakat. Menghadirkan rasa adil, memelihara persatuan, kerukunan dan kemakmuran bagi semua.

Disitulah politik perlu berjalan di atas etika dan humanisme. Bagaimana berpolitik dengan memuliakan martabat manusia lainnya. Bukan saling merendahkan dalam berpolitik. Bukan menggunting dalam lipatan, bukan pula saling menghasut. Tapi, saling menguatkan, saling menghormati meski berbeda kepentingan politik (rivalitas). Ketika politik dialaskan pada kesetaraan dan saling memuliakan, maka dinamika politik akan produktif. Lahirlah politik nilai, tak ada praktek saling mencederai.

Sebab dalam politik tak ada yang abadi. Tidak ada pula adu kepentingan yang terjadi secara permanen. Setelah kontestasi, semua menjadi sama, setara. Para politisi dan komponen masyarakat harus saling berangkulan. Ada ruang rekonsiliasi politik. Standar etika akan menjembatani semua seteru politik yang kencang. Ketika politik diawali dengan etika, hal itu berdampak positif terhadap kewibawaan masing-masing pihak. Terserah, kelak dalam kompetitor siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Kompetisi bersandar pada prinsip-prinsip etika akan membuat para kompetitor saling merangkul. Minimalnya, tak ada dendam setelah kompetisi politik di Pilkada Serentak atau momentum politik lainnya. Yang ada hanyalah konsep kolaborasi. Untuk apa kolaborasi itu?, tentu atas nama dan atas kepentingan pembangunan. Lepas semua amarah, sentimen dan ego yang mungkin pernah dipelihara saat kompetisi politik. Politik yang penuh etika akan mengantarkan para politisi menuju kemajuan.

Politisi tidak terjebak, tidak membatasi dirinya pada kemarahannya. Ia melampaui hal itu, melampaui dendamnya yang tidak konstruktif tersebut. Praktek politik dengan standar etika akan menjadi solusi. Memberi kenyamanan dan ketenangan, terlebih bagi politisi. Jangan biarkan politik dijalankan dengan hasutan, penuh amarah, dendam, fitnah serta cara-cara merusak lainnya. Standar etika wajib menjadi trigger berpolitik.

Manakala politik dengan standar etik dijalankan, tentu praktek politik dipenuhi rasa kasih sayang. Para politisi tidak saling mendiskreditkan. Begitu juga yang akan terjadi pada pendukungnya (simpatisan), rasa kebersamaan, saling hormat menghormati dan memuliakan sesama manusia dilakukan. Ruang politik pun makin teratur. Terukur, tercerahkan, iklim pergaulan politik menjadi kondusif. Praktek saling menghakimi, merasa paling terbaik tidak lagi kita temui dalam pentas politik.

Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat akan terwujud. Pemenang dalam Pilkada Serentak kelak lebih fokus mencicil janji-janji politiknya. Mereka dengan mudah, leluasa dan ceria gembira mensejahterakan masyarakat. Tidak ada lagi polarisasi kepentingan yang serius. Semua masyarakat diberlakukannya sama. Tidak ada dendam politik yang dipelihara. Peternak kedengkian dan oposisi pura-pura juga akan lenyap. Dampaknya, masyarakat secara sadar memberi diri melahirkan partisipasi terhadap pembangunan. Majulah daerah yang menggelar Pilkada Serentak 2020 tersebut. Walau pandemi Covid-19, masyarakat tak akan cemas berlebihan. Karena mendapatkan pemimpin yang mulia hatinya. Muncul gerakan saling menunjang, sinergitas diterapkan secara baik dan benar.

ONTOLOGI EKONOMI, Refleksi Atas Pemikiran Aristoteles

Aristoteles (FOTO Ist)

 Tidak akan ada asosiasi jika tidak ada pertukaran, tidak ada pertukaran jika tidak ada kesetaraan, tidak ada kesetaraan jika tidak ada keseukuran. (Aristoteles, Nicomachean Ethics)

 

Pengantar

Realitas kehidupan kontemporer diakui ataupun tidak ditandai oleh dominasi sistem perekonomian. Meminjam terminologi Immanuel Kant, ekonomi seolah-olah telah menjadi imperatif kategoris dalam setiap tindak tanduk kehidupan alamiah kita. Segala sesuatu bisa dikomodifikasi. Jangankan tanah, manusia, simbol, mimpi pun bisa diperdagangkan. Bahkan, harapan, bisa diperjual-belikan. Pada titik inilah sistem ekonomi menjadi ‘metafisis’, dan justru menjadi prasyarat, sehingga komodifikasi tersebut dimungkinkan. Dengan demikian, kehidupan kita sedang berlangsung di atas jalur metafisika jenis baru: ‘metafisika finansial’ (baca: sektor finansial).

Apa yang memungkinkan adanya korporasi? Himpunan saham. Apa yang menentukan durasi keberadaan korporasi? Kondisi pasar saham. Bagaimana wujud dari saham itu? Digit-digit tertentu. Bagaimana bentuk dari pasar saham? Jaringan-jaringan, tempat di mana digit-digit itu ‘menari’. Karena keberadaan korporasi ditentukan oleh jaringan-jaringan, maka gerak tarian digit-digit menentukan posisi korporasi. Apabila tarian bergerak ke bawah, korporasi juga ke bawah. Lantas, di manakah letak dari saham dan jaringannya? Apakah terletak di realitas riil, seperti manusia? Jika saham dan jaringannya ada di realitas riil, maka mestinya mereka bersifat pasti, menubuh (memiliki tubuh), dan hidup sebagaimana manusia. Sayangnya kedua entitas itu terletak di realitas lain yang melampaui manusia yaitu, ‘metafisika finansial’/sektor finansial. Dengan demikian, mereka ada sekaligus tidak ada, tidak menubuh, tidak hidup.

Sialnya, ‘metafisika finansial’ sudah menemukan ruang objektif yang memungkinkannya menubuh (menjadi objektif) berikut terinternalisasi (tertanam) di dalam otak setiap individu. Ruang objektif itulah yang disebut dengan instansi pemerintahan. Ini terjadi persis pada saat pemerintah meletakan kebijakannya di atas (demi) sektor finansial, ketimbang sektor riil. Melalui model kebijakan inilah ‘metafisika finansial’ menjadi objektif dalam bentuk perusahaan-perusahaan kapitalistik, yang nyaris terdapat di setiap lahan daerah__sering disebut tanah negara-HGU. Melalui perusahaan-perusahaan__juga ekspansi ideologis pemerintah__’metafisika finansial’ terinternalisasi/diinternalisasikan dalam setiap akal individu, yang pada gilirannya melahirkan gejala psikologis tertentu yakni, segala sesuatu bisa dikomodifikasi.

Meski demikian, masih ada orang-orang yang selalu menyadari dan mengingatkan bahwa masyarakat tidak berjalan di atas jaring-jaring saham, melainkan di atas jalan yang beraspal dan berkerikil, di lereng-lereng sawah, di jalur-jalur laut, di sudut-sudut pasar tradisional, di lubang-lubang pertambangan rakyat. Dan masyarakat tidak makan digit-digit saham, melainkan makan nasi. Semua itu hanya ada di dalam (bertumpu pada) realitas riil. Siapa orang-orang itu? Salah satunya adalah Aristoteles.

Pembahasan

Ontologi adalah teori tentang Ada__mengada atau yang ada (Blackburn, 1996:269-270). Atau teori yang menjelaskan bagaimana (syarat-syarat yang memungkinkan) keberadaan segala sesuatu. Sementara Ekonomi adalah ilmu yang mengkaji tentang kekayaan__asal usul tumpukan barang-barang dagangan (KBBI, 2008:377). Jadi, secara simplistis dapat dikatakan ontologi ekonomi membicarakan tentang syarat-syarat yang memungkinkan keberadaan tumpukan barang-barang dagangan.

Aristoteles (384-322 SM) adalah salah satu filsuf paling berpengaruh yang hidup di Yunani pada masa Antik (Yunani Antik). Ia lahir di Stagira, Macedonia. Pernah belajar di Akademia Plato, Athena. Pernah tinggal di Assos (atas undangan Hermias) dan Mytilene (tempat di mana dia banyak melakukan riset Zoologi). Antara tahun 343/2-340 SM, Aristoteles bekerja sebagai tutor bagi Alexander Agung muda atas undangan ayahnya, raja Philip dari Macedonia. Setelah itu pada tahun 335/6 SM ia kembali ke Athena dan mendirikan sekolah, Lyceum__sekolah ini kemudian sering disebut Mazhab Peripatetik. Di sekolah inilah, pada perkembangan selanjutnya, Aristoteles mengorganisir riset yang mencakup berbagai macam topik. Sehingga ia bisa membangun perpustakaan besar pertama di masa itu. Karya-karyanya yang berhasil diselamatkan mencakup beragam ilmu pengetahuan mulai dari topik filsafat sampai ilmu alam. Di antara karya itu: Logika (Categories, On Interpretation, Prior Analytics, Posterior Analytics, Topics, Sophistical Refutations); Fisika (Physics, On the Heavens, On Generation and Corruption); Psikologi serta Sejarah Alam (On the Soul, On the Parts of Animals, On the Generation of Animals, Parva Naturalia); Etika (Nicomachean Ethics, Eudaimonian Ethics, Magna Moralia, Politics, Rhetoric, Art of Poetry); Metafisika (Menn, 2006:263-280).

Dalam konteks tulisan ini, biografi di atas mengindikasikan tiga poin penting yaitu: Pertama, pengalaman hidup Aristoteles berlangsung di beberapa tempat seperti Stagira, Assos, Mytilene, Athena. Kedua, menurut Simon Blackburn bahwa skala riset Aristoteles dan sentralitas karya-karyanya mengimplikasikan satu hal yakni, kajian apapun tentang pemikirannya tidak bisa diringkas (Blackburn, 1996:25). Ketiga, di dalam tulisan-tulisannya, tidak ada topik yang secara langsung membahas tentang ekonomi.

Arti penting dari tiga poin di atas adalah bahwa dengan pengalaman hidupnya di beberapa tempat tersebut, tidak mungkin Aristoteles hanya mengamati realitas yang berkaitan dengan topik-topik di atas; ada realitas lain yang juga diamatinya, termasuk perdagangan (ekonomi). Itulah sebabnya Blackburn berani mengatakan bahwa ‘kajian apapun’ tentang pemikiran Aristoteles__artinya, pemikirannya tidak hanya terbatas pada topik-topik di atas, tetapi juga mencakup topik lain, termasuk ekonomi__‘tidak bisa diringkas’__maksudnya, jika kita hendak mengkaji pemikiran Aristoteles tentang ekonomi, maka harus didasarkan pada pemikiran-pemikirannya: logika, fisika, psikologi serta sejarah alam, etika, dan  metafisika. Dengan demikian, meskipun secara eksplisit tidak terdapat topik tentang ekonomi dalam tulisan-tulisannya, itu tidak berarti Aristoteles tidak membicarakannya. Ada pemikiran Aristoteles tentang ekonomi, dan itu terletak di sela-sela topik-topik utama pemikirannya. Itulah sebabnya di dalam The Complete Works of Aristotle; The Revised Oxford Translation, Jonathan Barnes [Ed.], 1995, terdapat topik tentang ekonomi.

Aristoteles mengamati realitas kehidupan manusia di beberapa tempat seperti Stagira, Athena, Assos, Mytiline. Ini menunjukkan bahwa, dia berangkat dari kenyataan riil yang ada di tempat-tempat itu sendiri. Aristoteles mengamati proses pemenuhan kebutuhan hidup alamiah dalam lingkup keluarga (komunitas). Hasilnya bahwa, salah satu kebutuhan itu adalah makan. Pemenuhan itu dimungkinkan oleh sarana material (perangkat-perangkat produksi). Artinya, perangkat produksi adalah syarat utama bagi pemenuhan kebutuhan tersebut. Misalnya, bila kebutuhan itu adalah makanan (beras), maka harus ada lahan (tanah), bibit, dan alat-alat pengelolaannya (bajak). Kepemilikan atas sarana-sarana itulah yang disebut dengan kekayaan. Di sini kekayaan difungsikan hanya untuk memenuhi kebutuhan alamiah setiap anggota keluarga (kebutuhan bersama). Oleh karena itu sifatnya terbatas. Batas itu terletak persis pada saat kebutuhan terpenuhi (Suryajaya, 2013:35). Proses inilah yang disebut Oikonomike oleh Aristoteles dan didefinisikan sebagai ilmu pengelolaan keluarga­­__salah satu model ekonomi. Pemahaman ini mengemuka dalam karyanya Politics, book I; 1256b26-1257b32 (Aristotle, 1995:1994-1995).

Sebagaimana dalam realitas kehidupan kita sehari-hari, setiap orang memiliki kebutuhan alamiah, terutama makan yang bisa terpenuhi melalui barang-barang yang berbeda-beda, baik dari segi kualitas (jenis benda) maupun kuantitas (jumlah benda). Sehingga tukar-menukar barang melalui perdangangan, khususnya oleh dua pihak (Ceteris Paribus) sangat diperlukan. Melalui pertukaran, dua pihak bisa (modalitas─mungkin sekaligus tidak-mungkin) memperoleh barang-barang, misalnya beras dan daging dengan jumlah tertentu yang dibutuhkan. Oleh karena itu, pertukaran harus ada (modalitas─eksistensi sekaligus tidak-eksistensi). Sebab, jika ada pertukaran, maka ada benda-benda. Jika ada benda-benda, maka kebutuhan hidup alamiah, terpenuhi. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka orang-orang terancam ‘sakit’ bahkan ‘mati’. Jadi, di dalam pertukaran/perdangangan ada persoalan yang sangat substansial (modalitas, keniscayaan sekaligus kontingensi) yaitu, pertaruhan hidup: ‘sakit’ atau ‘mati’. Substansialitas inilah yang menunjukkan bahwa, harus ada sesuatu dan harus benar-benar ada, agar supaya ada pertukaran benda-benda. Dengan kata lain, sesuatu itu adalah syarat yang memungkinkan adanya pertukaran.

Lantas apa syarat itu? Andaikan si A memiliki 5 kg beras dan si B memiliki 1 kg daging. Dari segi (ranah) kualitas, beras berbeda jenis dengan daging; beras tidak sama dengan daging. Kemudian dari segi kuantitas, 5 kg beras berbeda jumlah dengan 1 kg daging; 5 kg ≠ 1 kg. Dengan adanya perbedaan pada dua ranah tersebut, apakah si A mau menukarkan benda yang dimilikinya dengan benda yang dimiliki oleh si B? Dalam kondisi seperti ini, bagaimana bisa ada pertukaran? Aristoteles menjawab bahwa, pertukaran mensyaratkan adanya kesetaraan benda-benda (Suryajaya, 2013: 26). Ada pertukaran benda-benda, jika dan hanya jika, ada kesetaraan. Artinya, harus ada kesetaraan, dan ini harus benar-benar ada, sehingga pertukaran ada.

Selanjutnya, di mana letak keberadaan kesetaraan itu? Dalam ranah kualitas, kesetaraan itu terletak pada predikasi, suatu pendeskripsian bahwa sesuatu memiliki relasi dengan sesuatu yang lain, atas benda-benda sebagai objek kebutuhan. Benda-benda setara atas dasar benda-benda itu adalah objek kebutuhan. Si A membutuhkan daging dan si B membutuhkan beras. Daging dan beras setara sejauh si A dan si B sama-sama memahaminya atau ‘merasakannya’__ini proses predikasinya__sebagai barang atau objek yang mereka butuhkan__ini wujud predikasinya. Dengan demikian kesetaraan itu ada. Namun posisinya baru berupa predikasi (berkarakter psikologis). Oleh karena itu, pertukaran antara si B dan si A masih bersifat mungkin sekaligus tidak-mungkin (masih berada pada tataran modalitas bisa). Artinya pertukaran itu mungkin ada sekaligus tidak-mungkin ada­­ (belum sampai pada tataran eksistensi sekaligus tidak-eksistensi).

Sifat mungkin sekaligus tidak-mungkin pertukaran bisa berubah menjadi ada, jika dan hanya jika posisi predikatif kesetaraan juga berubah. Ini bisa diupayakan, sebab secara ontologis setiap ada pasti mengandung bentuk dasar dari daya kausal yakni disposisi, suatu daya benda untuk menghasilkan sesuatu kendati proses menghasilkannya tidak aktual. Misalnya, garam sudah mengandung disposisi mudah larut, meskipun belum dilarutkan di dalam air. Dengan bahasa lain, disposisi mudah larut itu sudah ada di dalam garam__inilah letak disposisinya, sehingga garam pada dasarnya mudah larut__inilah bentuk disposisinya, sekalipun tidak ada air di dunia ini (Mulyanto [Ed.], 2015:45). Sebagaimana sudah ditegaskan di atas, kesetaraan ada. Oleh karena itu kesetaraan mengandung disposisi. Dengan demikian, posisi kesetaraan bisa berubah. Inilah yang menjelaskan mengapa Aristoteles tetap berpijak pada posisi kesetaraan ketika dia mengupayakan perubahannya dalam ranah kuantitas.

Perubahan itu terjadi melalui ranah kuantitas. Sebagaimana air bisa berubah menjadi uap melalui temperatur 75°C hingga 100°C. Dengan kata lain, untuk mengubah posisi kesetaraan dibutuhkan ranah kuantitas, sebagai paradigma­. Ranah kuantitas sebagai paradigma menunjukkan bahwa, keberadaan kuantitas benda__75°C hingga 100°C__dijadikan sebagai landasan pikir berikut sebagai kerangka pikir. Landasan pikir artinya, pemikiran harus berangkat dari problem kuantitatif itu sendiri__bagaimana 75°C hingga 100°C bisa mengubah air menjadi uap. Kerangka pikir maksudnya, problem kuantitatif itu mesti dipikirkan di dalam landasan pikir itu sendiri__mencari penyebab dasar dari bagaimana 75°C hingga 100°C bisa mengubah air menjadi uap di dalam 75°C hingga 100°C. Dengan menggunakan kategori-kategori kuantitatif itu sendiri__menentukan letak titik didih di dalam 75°C hingga 100°C sebagai penyebab dasar perubahan air menjadi uap. Dengan demikian air berubah menjadi uap bisa dimengerti dan dijelaskan dari dalam temperatur 75°C hingga 100°C itu sendiri (formula ini di dasarkan pada Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, 1996 dan Roy Bhaskar, A Realist Theory of Science, 2008).

Paradigma kuantitatif itulah yang mengemuka ketika Aristoteles mengupayakan perubahan posisi predikatif kesetaraan melalui ranah kuantitas. Kuantitas benda yang menjadi paradigmanya adalah jumlah beras dan jumlah daging yaitu, 1 kg daging dan 5 kg beras. Landasan pikirnya yaitu, bagaimana 1 kg daging dan 5 kg beras menyebabkan perubahan posisi kesetaraan? Jadi, problem yang mau dipecahkan adalah perubahan posisi kesetaraan, bukan posisi pertukaran. Kerangka pikirnya yakni, mencari penyebab dasar dari perubahan posisi pertukaran di dalam 1 kg daging dan 5 kg beras. Sesuai dengan prinsip di atas, bahwa ini mesti dicari dengan menggunakan kategori-kategori kuantitatif itu sendiri__konsekuensinya objek kebutuhan yang menjadi landasan kesetaraan dalam ranah kualitatif, tidak lagi digunakan. Itulah sebabnya Aristoteles menggunakan kategori ukuran. Ini terlihat dalam pernyataannya bahwa …semua benda…mesti bagaimanapun juga seukur (Aristotle, 1995:1788). Dari situlah Aristoteles menemukan bahwa, penyebab dasar perubahan posisi kesetaraan adalah keseukuran.

Mengapa keseukuran bisa mengubah posisi kesetaraan? Menurut J. Pack (2010:11-14) persoalan keseukuran dalam karya-karya Aristoteles mengemuka dalam Physics, book VII; 248b7-9. Di situ Aristoteles menyatakan bahwa hal-hal yang tidak sinonim tidak seukur (J. Pack, 2010:11-4). Dua entitas dikatakan sinonim jika keduanya memiliki satu basis yang sama. Ini menunjukkan bahwa keseukuran mengandaikan adanya kesamaan basis evaluasi yang sama (Suryajaya, 2013:29). Kesamaan basis evaluasi ini dieksplorasi lebih lanjut dalam Generation and Corruption_book II bahwa, segala hal yang diperbandingkan mestilah memiliki sesuatu yang identik, yang melaluinya mereka diukur (Aristotle, 1995:546). Dua entitas bisa diperbandingkan jika keduanya memiliki sesuatu yang identik, dan hanya melalui sesuatu itulah kedua entitas tersebut bisa diukur. Sesuatu yang identik ini kemudian dipertegas oleh Aristoteles dalam Metaphysics (Aristotle 1995:1663-4) bahwa, keseukuran selalu homogen terhadap hal yang diukur (Suryajaya, 2013:30).

Homogenitas keseukuran menunjukkan bahwa keseukuran terletak di dalam hal-hal yang mau diukur, sehingganya hal-hal itu dapat diukur. Ini berarti bahwa keseukuran tidak lain adalah substratum, suatu landasan umum yang menjadi basis sekaligus penjelas segala sesuatu. Dari sini, pertanyaan di atas, mengapa keseukuran bisa mengubah posisi kesetaraan, terjawab.  Jawabannya adalah karena keseukuran itu sudah terkandung di dalam kesetaraan, sebab keseukuran adalah substratum. Dengan demikian, jika kesetaraan sudah mengandung keseukuran, maka keseukuran melandasi kesetaraan. Kemudian, bila keseukuran melandasi kesetaraan, maka kesetaraan dijelaskan oleh keseukuran. Oleh karena itu, kesetaraan ada, jika dan hanya jika, ada keseukuran__kesetaraan ↔ keseukuran. Dengan ini, kesetaraan tidak lagi didasarkan pada kebutuhan. Sehingga posisi kesetaraan berubah dari predikasi menjadi substratum. Inilah posisi barunya yakni, kesetaraan substratum.

Lantas, apakah kesetaraan substratum merupakan syarat yang memungkinkan adanya pertukaran? Mengingat keberadaan keseukuran adalah substratum, yang berarti mendasari sekaligus menjelaskan segala sesuatu. Sementara kesetaraan substratum tersusun dari keseukuran itu sendiri, yang berarti ada di dalam hal-hal yang mau diukur. Maka, kesetaraan substratum, ada di dalam hal-hal yang mau di ukur. Oleh sebab itu, kesetaraan substratum bisa mendasari sekaligus menjelaskan hal-hal tersebut. Dari sini bisa dipahami bahwa, kendati jumlah daging dan jumlah beras berbeda yakni 5 kg beras dan 1 kg daging. Di dalam kedua barang itu tetap terdapat kesetaraan__inilah letak mendasarinya. Oleh karena itu, keduanya bisa dipertukarkan__inilah letak menjelaskannya, sekalipun jumlah mereka berbeda satu sama lain. Dengan demikian, pertukaran ada, dan syarat yang memungkinkannya adalah kesetaraan substratum. Ada kesetaraan substratum, maka ada pertukaran.

Posisi kesetaraan substratum itulah yang menjadi pembenar pernyataan di atas, bahwa dalam pertukaran ada pertaruhan hidup yakni, ‘sakit’ dan ‘mati’. Sebab, bila kesetaraan memungkinkan ada pertukaran benda-benda, maka ada pertukaran memungkinkan pemenuhan kebutuhan hidup alamiah setiap individu. Jika kebutuhan hidup alamiah setiap individu terpenuhi, maka individu tersebut terhindar dari ancaman ‘sakit’ dan ‘mati’. Ini berarti ketika kesetaraan substratum memungkinkan terpenuhinya kebutuhan hidup alamiah, maka kesetaraan juga yang memungkinkan setiap individu terhindar dari ‘sakit’ dan ‘mati’. Dari sini pula terlihat titik temu antara substratum dan substansi di atas yaitu, substratum sama dengan substansi. Konsekuensinya adalah bahwa ekonomi sama dengan pemenuhan kebutuhan hidup alamiah.

Namun Aristoteles kembali bertanya yakni, apa yang menjamin keberadaan keseukuran benda-benda? Pertanyaan Aristoteles tersebut__seolah__menunjukan ada problem lain dari pertukaran benda-benda. Masalah itu mengemuka dalam realitas pertukaran benda-benda yang ditujukan bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup alamiah, melainkan untuk mencari kekayaan melalui penimbunan uang. Pertukaran itulah, dalam karyanya Politics, buku I; 1257b34-41, yang disebut Khrematistik (Aristotle, 1995:1995-6). Khrematistik adalah transaksi perdagangan yang bertujuan untuk akumulasi kekayaan__jadi ada dua model ekonomi. Jelas bahwa model ekonomi Khrematistik berbeda dengan Oikonomike. Jika Oikonomike bertujuan untuk memenuhi kebutuhan alamiah manusia, maka Khrematistik bertujuan untuk akumulasi kekayaan. Oleh karena Oikonomike tujuannya untuk pemenuhan kebutuhan, maka sifatnya terbatas, sedangkan Khrematistik tidak terbatas, sebab tujuannya adalah akumulasi.

Sebagaimana pertukaran dalam Oikonomike, transaksi perdagangan Khrematistik juga mensyaratkan kesetaraan substratum. Ini berarti adanya Khrematistik sama halnya dengan Oikonomike, mensyaratkan adanya__atau dimungkinkan oleh__keseukuran. Jika demikian, maka seharusnya tujuan Khrematistik sama dengan tujuan Oikonomike yakni, memenuhi kebutuhan alamiah dan bukan akumulasi kekayaan. Lantas, mengapa tujuan Khrematistik justru berbeda? Persis pada titik inilah pertanyaan Aristoteles di atas, apa yang menjamin keberadaan keseukuran benda-benda, mesti diletakkan. Bila tidak demikian, maka kita bisa tergoda untuk menalar bahwa, akumulasi kekayaan terjadi karena penipuan dan penipuan itulah yang menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan alamiah. Sehingga, pertaruhan hidup dan mati manusia ditentukan oleh tipu-menipu. Jika begini kondisinya, sudah pasti tidak ada satu orang pun yang mau berdagang dan tidak ada yang namanya ilmu ekonomi. Dengan kata lain, akumulasi kekayaan itu, terjadi secara struktural dan bersifat ontologis.

Secara metodologis, melalui pertanyaan tersebut, Aristoteles hendak menyelam ke balik realitas akumulasi kekayaan/Khrematistik__ini letak sifat ontologis, untuk menemukan sekaligus mengungkap sebab-sebab strukturalnya. Dari sini, kata ‘menjamin’ dari pertanyaan tadi di atas, bisa dipahami sebagai mendasari. Sehingga pertanyaan tersebut bisa diformulasi seperti ini: Apa yang mendasari (bukan lagi menjamin) keberadaan keseukuran benda-benda? Dengan begini bisa terlihat bahwa, masih ada sesuatu yang mendasari keseukuran. Sesuatu itulah yang mau dicari olehnya. Sebab, hanya itulah yang mendasari sekaligus menjelaskan__atau menjadi syarat__mengapa Khrematistik dimungkinkan.

Pencarian Aristoteles mengemuka dalam Nicomachean Ethics, book V; 1133a20-30. Dia mengidentifikasi bahwa uang adalah sesuatu itu, sebab uang juga bisa digunakan untuk mengukur (Aristotle, 1995:1788). Bukankah uang merupakan media akumulasi kekayaan dalam Khrematistik? Aristoteles menyadari posisi ini, sehingga dia mengklarifikasi bahwa sesuatu itu bukan uang, karena uang ternyata hanyalah alat ukur__termasuk ukuran kekayaan. Oleh karena sesuatu itu yang disyaratkan oleh keseukuran, maka sesuatu itu haruslah bersifat prinsipil. Dengan kata lain, sesuatu itu mesti lebih mendasar lagi. Apakah itu jumlah kebutuhan individu? Sebab, jumlah kebutuhan merepresentasikan jumlah barang yang dipertukarkan? Lalu, apa bedanya jumlah kebutuhan dengan kebutuhan predikatif di atas? Bukankah kebutuhan predikatif sudah mengandaikan jumlah kebutuhan? Selanjutnya, Aristoteles menalar bahwa seharusnya jumlah benda-benda yang dipertukarkan memiliki hubungan langsung dengan jumlah kerja yang digunakan untuk menciptakan benda-benda tersebut.

Sampai di sini, Aristoteles tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Dengan kondisi ini, lantas mengapa tadi di atas dikatakan, bahwa sesuatu itu mendasari sekaligus menjelaskan keberadaan Khrematistik, sementara Aristoteles tidak memberikan penjelasan lebih lanjut? Ini bisa dipahami jika kita mengetahui bahwa, pencarian Aristoteles masih terus dilanjutkan. Terutama oleh aliran Ekonomi Neoklasik berdasarkan jumlah kebutuhan, dan aliran Ekonomi Politik berdasarkan jumlah kerja. Ini berlangsung sejak abad ke-19 sampai hari ini (Suryajaya, 2013:28). Itulah makna dari pernyataan tersebut di atas yang sekaligus menegaskan bahwa, Aristoteles telah berhasil menunjukkan dasar-dasar atau landasan-landasan ontologis dari keberadaan ekonomi, termasuk posisi problematiknya, khususnya dalam Khrematistik.

Penutup

Tulisan ini akan ditutup dengan mengeksplisitkan poin-poin yang kiranya bisa kita gunakan sebagai bahan untuk memahami keberadaan ekonomi hari ini.

Pertama, ekonomi pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup alamiah manusia secara kolektif, bukan individu. Pemenuhan itu hanya bisa tercapai jika sarana-sarana penunjangnya (produksi) difungsikan untuk pemenuhan kebutuhan itu sendiri, bukan untuk akumulasi kekayaan.

Kedua, jika ada akumulasi kekayaan, dan ini tentu memang ada, maka itu tidak disebabkan oleh sesuatu yang datang dari luar, melainkan dikarenakan adanya salah satu aspek di dalam sistem pereknomian itu yang disalahfungsikan. Oleh karena itu, jalan keluarnya mesti dicari di dalam sistem itu sendiri (imanen) bukan diintuisikan bahwa itu disebabkan oleh kualitas moral tertentu, kurangnya iman, atau adanya kutukan dari dewa yang datang entah di mana (transenden).

Ketiga, secara metodologis, persoalan ekonomi yang merupakan bagian dari masalah sosial-politik, termasuk etika. Bisa diturunkan sampai ke wilayah matematika, fisika, bahkan metafisika, sejauh itu untuk menganalisis struktur berikut komponen yang menyusun sistem perekonomian. Sehingga sistem itu bisa terpahami secara utuh. Ini penting, sebab seringkali kita membaca ekonomi, misalnya dengan kerangka etika, sehingga analisis dijalankan berdasarkan visi moral. Pembacaan seperti ini, paling banyak hanya sampai pada kesimpulan dalam bentuk klaim moral. Begitu juga dengan pembacaan melalui kerangka teologis, yang ujung-ujungnya hanya klaim kurang iman. Ini bukan berarti moralitas-etika dan agama itu tidak penting, keduanya bahkan sangat penting. Hanya saja, untuk konteks ekonomi, kerangka tersebut bisa dikatakan kurang memadai.

Keempat, ini yang terpenting, setidaknya dalam konteks pemikiran bahwa, segala sesuatu itu berasal dari realitas. Sebagaimana Aristoteles yang berangkat dari realitas itu sendiri, berikut memikirkan struktur-struktur yang ada di dalam realitas itu sendiri, dan kembali pada realitas itu sendiri, dalam bentuk memahami realitas itu secara utuh.

Kelima, jika realitas perekonomian mau dibaca dengan dua model ekonomi dalam tulisan ini, maka realitas ekonomi hari ini tidak lain dan tidak bukan adalah Khrematistik.

 

Segui il tuo corso, lescia dir le genti! __ Jalan terus, dan biarkan mereka menggerutu!”(Marx)

 

Jogja, 28 Oktober 2018

_______________________

Reza D. Tohis

iklan1