Tag: benny mamoto

Festival Pinawetengan 2018 Sukses, MAMOTO Luncurkan Kamus

Benny Mamoto bersama jajaran pengurus Kerukunan Keluarga Kawanua (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Wujud dari kepedulian warga Minahasa terhadap seni dan budaya sebagai warisan leluhur yang patut dilestarikan terus dipelihara. Sabtu (7/7/2018), bertempat di Kecamatan Tompaso Barat Kabupaten Minahasa pagelaran Festival Pinawetengan dilaksanakan.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung Irjen Pol (Purn) Dr Benny Mamoto selaku Ketua Umum Yayasan Institut Seni Budaya Sulut Pa’dior, kali ini Festival mengusung tema: ‘Merawat Kebhinekaan Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia’, menurut Mamoto pihaknya akan terus secara berkala dan konsisten menjaga nilai-nilai budaya leluhur Minahasa.

”Ini sudah menjaga komitmen moral kita bahwa menjaga adat budaya dan seni yang menjadi warisan leluhur Minahasa adalah tugas kita. Saya juga mengapresiasi, menaruh kormat dan bangga kepada para pegiat budaya Minahasa tokoh adat yang sampai saat ini tetap konsen menjaga nilai-nilai budaya kita,” ujar Mamoto.

Sekedar diketahui, rangkaian kegiatan ini dimulai dengan upacara adat dari sub etnis Pasan Ratahan di lokasi cagar budaya Watu Pinawetengan, Desa Pinabetengan, Kecamatan Tompaso Barat, Minahasa, pagi tadi. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pawai budaya di lokasi Yayasan Institut Seni Budaya Sulut Pa’dior yang diikuti seluruh perwakilan sub etnis dengan berbagai penampilan.

Berlangsungnya pembukaan kegiatan Festival (FOTO Suluttoday.com)

Pada kesempatan tersebut dilakukan pula peluncuran Kamus Bahasa Pasan Ratahan yang ditandai dengan pemberian secara simbolis kepada para tokoh dari berbagai unsur, seperti Forkopimda Kabupaten Minahasa, Tokoh Adat dan Tokoh Budaya Sulut. Penampilan atraksi mulai dari Kabasaran, Musik Bia, Tarian Kabela, Tarian Kreasi, Kolintang ditunjukkan para peserta Festival.

Tak lupa kegiatan ini dirangkaikan dengan penganugerahan piagam penghargaan Pa’dior Award 2018 kepada para tokoh yang dinilai berkontribusi besar dalam memajukan budaya daerah lewat di berbagai bidang seni, budaya, bahasa Minahasa.

”Kami juga memberi penghargaan kepada tokoh adat yang berperan aktif dan memiliki dedikasi memajukan budaya, seni dan adat warga Kawanua. Kemudian, melalui Festival Pinawetengan diharapkan akan semakin menyadarkan masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya,” kata Mamoto saat diwawancarai, yang didampingi Tommy Turangan SH pengurus Kerukunan Keluarga Kawanua. (*/Redaksi)

Pakasa’an Ma’tuari Tombulu Jabodetabek menyambut baik agenda TIFF 2017

Revli Mandagie (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Pakasa’an Ma’tuari Tombulu menyambut baik agenda TIFF 2017, karena merupakan sarana promosi pariwisata dan sekaligus merupakan ajakan untuk mengundang para pelaku bisnis agar dapat mengembangkan usaha tanaman bunga hias, sehingga dapat berkembang bahkan boleh menjadi pengekspor kembang hias, sehingga dapat sejajar dengan negara-negara sahabat lainnya. PMT senantiasa mendukung setiap usaha dan upaya masyarakat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang dipimpin Gubernur Olly Dondokambey, beserta jajarannya, agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat, menuju Sulawesi Utara yang HEBAT.

PMT, pada tanggal 21 Juli 2017, di Jakarta sudah mendirikan Koperasi PMT, yang sasarannya tidak hanya anggota PMT yang ada di perantauan, tetapi kami berusaha untuk mobilisasi semua potensi atau kekuatan KAWANUA, agar dapat membangun tanah leluhur Pakasaan Tombulu yaitu TU’UR IN TANA, khususnya dan mayarakat Sulawesi Utara pada umumnya.

Selanjutnya, sesuai rilis yang dikirimkan Pakasaan Ma’tuari Tombulu, JABODETABEK pada media ini menyampaikan sejumlah aspek historis bahwa Pakasa’an Tombulu, adalah salah satu sub-etnis leluhur Minahasa, disamping ke delapan etnis lainnya: Tonsea, Toulour, Tountemboan, Tonsawang, Pasan, Panosakan, Bantik dan Babontehu. Kerinduan untuk melestarikan, mengangkat dan mempertahankan Bahasa, Seni dan Budaya asal Tombulu, mulai menggema diawal tahun 2013, oleh beberapa warga Kawanua asal Tombulu di Jakarta, antara lain: James H. Anes, Alan Tumiwa, Grace Rorong dan Gibson Kapele.

Kerinduan ini dilanjutkan pertemuan dengan beberapa Pini Sepuh Tombulu, antara lain: J. B. Mamuaya, Hans Mantiri, Tonaas Tua Wangko Papendangan Benny Tengker dan Tonaas Wangko Benny Mamoto, sehingga 14 September 2013, terbentuklah PAKASA’AN MA’TUARI TOMBULU dengan Ketua Umum Edwin O. J. Poluan, dan karena satu dan lain hal, dilanjutkan oleh James H. Anes, selaku Pelaksana Tugas (PLT), sampai tahun 2017. Estafet kepengurusan terus bergulir, dan melalui Musyawarah Anggota pada tanggal 8 April 2017 di Kampus IBM-ASMI, Pulomas, Jakarta, terpilih Revli Orelius Mandagie, SE selaku Ketua Umum, dan ditempat yang sama pada tanggal 18 Juni 2017, dilaksanakan pengukuhan kepengurusan periode 2017-2022.

Pemberdayaan & Potensi Sulawesi Utara

Ketua Umum PMT, Revli Orelius Mandagie, SE., yang juga Bendaha Umum & Ketua Bidang Lingkungan Hidup & Kemaritiman Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), melakukan gebrakan tanggal 11 s/d 14 Mei 2017, bersama Team Kecil, melakukan survei ke beberapa tempat obyek destinasi wisata di Sulawesi Utara yaitu: Manado Tua, Bunaken, Tangkoko, Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara Pa’Dior Tompaso,  Sentra produksi Cap Tikus dan Obyek Wisata di Rurukan, Bukit Tetempangan Koha; untuk mendapatkan masukan dalam rangka penyusunan program kerja PMT dalam kemitraan dengan KKK.

Kesimpulan Hasil Survei

  1. Pulau-pulau yang ada di wilayah pantai Manado, bagian Barat, antara lain: Manado Tua, Bunaken, Siladen, Gangga, dll., perlu perhatian Pemerintah Daerah, baik Pemprov. Sulawesi Utara dan Pemkot. Manado.
  2. Dalam rangka investasi, diantara pulau-pulau ini memiliki potensi untuk dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), sehingga perlu pengkajian mendalam, agar mampu mengundang investor dalam dan luar negeri agar tertarik melakukan relokasi industri ke wilayah Provinsi Sulawesi Utara, karena poosisi letak geografis yang sangat strategis.
  3. Bunaken yang kesohor sebagai Taman Laut, masih perlu pembenahan secara menyeluruh, terutama terumbuh karang yang semakin pudar sehingga harus dilestarikan. Sarana dan prasarana serta infrastruktur masih sangat minim, sehingga perlu terobosan untuk perbaikan ataupun melengkapi sehingga menarik minat pengunjung baik dalam dan luar negeri sehingga tidak kalah bersaing dengan daerah lain semisal: Bali, Lombok, Raja Ampat, dll.
  4. Tangkoko, sebagai obyek wisata alam dan cagar alam, perlu pembenahan, terutama memberantas pungutan liar dalm bentuk apapun yang sangat merugikan nama baik Pemerintah dan masyarakat Sulawesi Utara.
  5. Papan penunjuk arah diberbagai tempat, persimpangan, dan obyek wisata, harus jelas terbaca.
  6. Pantai pasir putih yang membentangi bibir pantai disekitar Batu Putih, memiliki potensi untuk pengembangan sebagai destinasi wisata, kolaborasi dengan sumber daya kemaritiman, semisal penangkapan ikan laut, dll.
  7. Kerja sama dengan Yayasan Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara Pa’Dior di Tompaso, sangat penting sehingga potensi Kebudayaan yang sudah tersedia, perlu untuk dijaga dan dipelihara.
  8. Perlu pengkajian lebih lanjut prospek kerajinan minuman beralkohol Cap Tikus.
  9. Perlu jalin kerja sama dengan Bukit Paralayang, Koha, Minahasa, untuk agenda yang berhubungan dengan olah raga Paralayang, mengikitsertakan pagelaran Seni & Budaya.Lokal.

Saran-saran

  1. Dalam rangka menghadapi persaingan globalisasi, upaya untuk menarik investor dari dalam dan luar negeri untuk relokasi usaha di Sulawesi Utara, maka kegiatan-kegiatan Konferensi bertaraf Internasional dan atau nasional perlu diadakan secara rutin, setidaknya memindahkan event sejenis yang selama ini dilaksanakan di Bali.
  2. Sejalan dengan itu, maka kesiapan sarana, prasarana dan infrastruktur disegala bidang harus menjadi skala prioritas, setidaknya untuk memberikan kenyamanan.
  3. Meningkatkan sumber daya manusia yang profesional, terutama untuk anstisipasi kepuasan para masyarakat, daya tarik para pelaku bisnis sehingga perlu tindakan nyata dari Pemerintah Daerah melalui Kantor Dinas terkait untuk melakukan sosialisasi secara rutin dan berkesinambungan tentang layanan “hospotality” .
  4. Pemberantasan berbagai bentuk pungutan liar (pungli) dalam bentuk apapun.
  5. Meningkatkan kegiatan penanaman pohon secara massal, sebagai upaya untuk mengatasi penggundulan hutan untuk menahan dan mencegah bahaya banjir bandang seperti yang pernah terjadi beberapa tahun ini.
  6. Melaksanakan berbagai kegiatan dengan melibatkan masyarakat, yaitu kegiatan penanaman pohon sepanjang jalan Ring Road Manado, dan pembersihan pantai sekitar Teluk Manado dan pesisir pantai Bunaken.

Lestarikan  PAKASA’AN TOMBULU  Sebagai “TU’UR IN TANA”

Keturunan Toar dan Lumimuut di beri bekal dan petunjuk untuk mendatangi beberapa wilayah di seluruh tanah Malesung. Lambat-laun semakin menyebar hingga membentuk komunitas yang di sebut Pakasa’an atau sub-etnik, hingga menjadi  banyak keturunan hingga tanak-teranak, menyebar dan membentuk wanua-wanua,  setelah itu membentuk walak-walak. Pakasaan Tombulu di sebut sebagai wilayah Tu’ur in Tana”, karena letak geografisnya dan asal-muasal pertama leluhur Tou Minahasa  serta di perkuat dengan adanya gunung Tuhan yang mereka sebut gunung Empung, tempat mendapatkan ilham atau petunjuk dari Tuhan Sang Pencipta. Malesung berganti nama Minaesa, Maesa, Mahasa hingga sekarang menjadi Minahasa.

Pakasaan Tombulu, melalui beberapa Pemimpin (Tonaas), membentuk walak-walak dan wanua-wanua, sebagai berikut:

  1. Tonaas Tumbelwoto, Tumani walak Sarongsong.
  2. Tonaas Mokoagow, Tumani Mu’ung dan Kamasi hingga membentuk
  3. Tonaas Lokon Mangundap, Tumani Wanua Woloan.
  4. Tonaas Ka’awoan, Tumani
  5. Tonaas Dotu Lolong lasut dan (6). Tonaas Ruru Tumani Wenang dan Ares membentuk walak Ares atau kota Manado.
  6. Tonaas Alow, TumaniKali & Kalawat, sekarang menjadi Kalawat Maumbi.
  7. Tonaas Kondoy dan
  8. Tonaas Wangko Saumanan, Tumani Kalawat Kaleosan dan menjadi Wanua Ure, sekarang Komo Luar.
  9. Tonaas Kalengkongan, Tumani

Wilayah Adat Pakasa’an Tombulu, meliputi:

  1. Tomohon (Tu’ur In Tana)
  2. Wenang – Manado
  3. Tombulu
  4. Tombariri
  5. Pineleng
  6. Mandolang

Jakarta, 5 Agustus 2017

TERIRING SALAM DAN DOA

PAKASAAN MA’TUARI TOMBULU, Jabodetabek

REVLI ORELIUS MANDAGIE                 (KETUA UMUM)

DECKY S. TIWOW                                (SEKRETARIS JENDERAL)

Pengurus K3 Jakarta Ikut Meriahkan Festival Pinawetengan di Kawangkoan

Pengurus K3 Jakarta saat mengikuti Festival Pinawetengan di Tompaso (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Berlangsung dengan nuansa kekeluargaan dan heboh, Pembukaan Festival Pinawetengan 2017 yang resmi digelar Jumat (7/7/2017), berlangsung meriah. Acara ini juga turut dimeriahkan dengan kehadiran Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) Jakarta yang diketuai oleh Angelica Tengker.

Agar diketahui, K3 Jakarta mendukung penuh pelaksanaan Festival Pinawetengan yang dilaksanakan di Institut Seni dan Budaya Pa’dior Tompaso Kecamatan Kawangkoan. Tommy Turangan, salah satu pengurus K3 Jakarta, mengatakan bahwa K3 sangat mendukung Festival Pinawetengan ini.

“Iya, kami mendukung penuh pelaksanaan kegiatan ini. Karena kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan adat dan kebudayaan yang ada di tanah Minahasa dan Sulut pada umumnya,” ujar Turangan.

K3 juga memberikan apresiasi kepada Bapak Benny Mamoto yang menjadi penggagas Festival Pinawetengan. “Kami memberikan apresiasi kepada Bapak Benny Mamoto yang menjadi penggagas Festival ini. Acara ini kan dilaksanakan tiap tahun, karna itu kami memberikan penghargaan setinggi tinggi nya kepada beliau karena peduli akan pelestarian adat dan kebudayaan di Sulut,” tutur Turangan yang adalah penggiat anti korupsi ini.

Terpantau media ini, pengurus K3 Jakarta ini memeriahkan Festival Pinawetengan dengan mengikuti pawai kebudayaan serta turut ambil bagian dalam kegiatan Festival Pinawetengan yang dilaksanakan pada tanggal 7-8 Juli 2017. (*/Amas)

Festival Pinawetengan Resmi Dibuka, Ini Pesan Benny Mamoto

Benny Mamoto bersama pihak Polres dan Kodim Minahasa (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Pelestarian kebudayaan Minahasa menjadi tujuan utama pagelaran seni dan budaya di Institut Seni Budaya (ISB) ‘Pa Dior’ Sulut, Tompaso, Kawangkoan Jumat (7/7/2017). Festival yang diawali dengan prosesi adat di Batu Pinawetengan, Desa Pinabetengan, Tompaso ini, diikuti tonaas-tonaas Minahasa. Usai upacara, dilakukan pagelaran seni budaya di halaman Wale Anti Narkoba, ISB Sulut, Tompaso.

”Kegiatan ini memiliki tujuan untuk melestarikan budaya Minahsa. Baik dari seni tari, musik, kerajinan, bahasa bahkan budaya,” kata Benny Mamoto, selaku Pemrakarsa Festival Seni dan Budaya Minahasa sekaligus Ketua Yayasan ISB Sulut.

”Kita melangsungkan kegiatan ini sejak tahun 2007. Antusiasme masyarakat sangat tinggi karena ini merupakan pagelaran kesenian yang mengangkat budaya Minahasa,” ungkap mantan Kepala BNN ini.

Berlangsungnya pentas seni dan budaya Minahasa (Foto Suluttoday.com)

Lanjut Mamoto menyampaikan harapannya bahwa budaya Minahasa ini agar terus terpelihara. ”Kita berusaha menjaga dan memelihara budaya Minahasa ini,” bebernya.

Saat berlangsung pembukaan festival (Foto Suluttoday.com)

Tidak hanya itu, Mamoto berterima kasih kepada Tonaas yang sudah memimpin jalannya upacara adat hingga berlangsung baik. Mereka melakukan dengan baik dari bahasa hingga adat. Diketahui, suku Minahasa terbagi menjadi sembilan subetnis. Meliputi Tonsea, Tombulu, Tontemboan, Tondano, Tonsawang, Ratahan-Pasan, Ponosakan, Babontehu dan Bantik. Selain upacara adat di Batu Pinawetengan, dalam festival budaya ini, dipertunjukkan pula berbagai kesenian Minahasa. Termasuk kabasaran, masamper, kolintang, musik bambu, dan lainnya. (*/Amas)

Nakhoda Baru Pakasaan Matuari Tombulu, Revli Mandagie Siap Bersinergi dengan Pemprov Sulut

Penyerahan pataka dari Ketua Umum KKK kepada pengurus yang baru (Foto Ist)

MANADO – Kepengurusan organisasi Paguyuban  Pakasaan Matuari Tombulu (PMT) periode 2017-2022 yang berpusat di DKI Jakarta, resmi melahirkan struktur kepengurusan baru. Dimana melalui Musyawarah Anggota, pada tanggal (8/6/2017) pengurus menghasilkan Revli Orelius Mandagie, SE selaku Ketua Umum terpilih. Kemudian, bertempat di kampus IBM – ASMI Pulomas Jakarta pengurus yang baru dilantik langsung oleh Ketua Umum Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), Angelica Tengke.

Menurut Mandagie, dalam sambutannya bahwa PMT periode 2017-2022 berkomitmen mewujudkan kerja sama sinergis antara PMT dan pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Selain itu, Mandagie memaparkan tentang perjalanan sejarah organisasi PMT sejak didirikannya sampai saat ini yang masih eksis berkiprah.

”Kami PMT siap menjalin kemitraan dengan pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dalam program pemberdayaan potensi Sumber Daya Alam (SDA). Kemudian, dari garis historis Tombulu adalah salah satu sub-etnis leluhur Minahasa, disamping ke delapan etnis lainnya yakni; Tonsea, Toulour, Tountemboan, Tonsawang, Pasan, Panosakan, Bantik dan Babontehu. Kerinduan untuk melestarikan, mengangkat dan mempertahankan Bahasa, Seni dan Budaya asal Tombulu, mulai menggema diawal tahun 2013,” ujar Mandagie.
Lanjut Mandagie juga menyebutkan beberapa warga Kawanua asal Tombulu di Jakarta yang sukses, antara lain: James H. Anes, Alan Tumiwa, Grace Rorong dan Gibson Kapele. Kerinduan ini dilanjutkan pertemuan dengan beberapa Pini Sepuh Tombulu, antara lain: J. B. Mamuaya, Hans Mantiri, Tonaas Tua Wangko Papendangan Benny Tengker dan Tonaas Wangko Benny Mamoto. Sehingga 14 September 2013, terbentuklah Pakasaan Matuari Tombulu dengan Ketua Umum Edwin O. J. Poluan.
Ditambahkannya lagi dengan memberi penjelasan karena satu dan lain hal kepemimpinan Poluan, dilanjutkan oleh James H. Anes, selaku Pelaksana Tugas (PLT), sampai tahun 2017. Estafet kepengurusan terus bergulir, dan melalui Musyawarah Anggota pada tanggal 8 April 2017 di Kampus IBM-ASMI, Pulomas, Jakarta, terpilih Revli Orelius Mandagie, SE selaku Ketua Umum, dan ditempat yang sama pada tanggal 18 Juni 2017, dilaksanakan pengukuhan kepengurusan periode 2017-2022.
Pemberdayaan dan Potensi Sulawesi Utara Ketua Umum PMT terpilih, Revli Mandagie., yang juga Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kemaritiman Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), yang dilantik bersama pengurus lainnya, dengan Angelica Tengker selau Ketua Umum KKK, pada tanggal 8 April 2017 di Plaza Bapindo, Jakarta, langsung melakukan gebrakan yaitu pada tanggal 11 s/d 14 Mei 2017.
Kemudian, bersama Team Kecil, untuk melakukan survei secara langsung ke beberapa tempat obyek destinasi wisata di Sulawesi Utara yaitu: Manado Tua, Bunaken, Tangkoko, Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara Pa’Dior Tompaso, Rurukan, Bukit Tatempangan Koha; untuk mendapatkan masukan dalam rangka penyusunan program kerja PMT dalam kemitraan dengan KKK, sesuai dengan arahan Ketua Umum, Angelica Tengker. Kesimpulan Hasil Survei 1. Pulau-pulau yang ada di wilayah pantai Manado, bagian Barat, antara lain: Manado Tua, Bunaken, Siladen, Gangga, dan lain-lain.
Perlu perhatian Pemerintah Daerah, baik Pemprov. Sulawesi Utara dan Pemkot. Manado. 2. Dalam rangka investasi, diantara pulau-pulau ini memiliki potensi untuk dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus, sehingga perlu pengkajian mendalam, agar mampu mengundang investor dalam dan luar negeri agar tertarik melakukan relokasi industri ke wilayah Provinsi Sulawesi Utara, karena poosisi letak geografis yang sangat strategis. 3. Bunaken yang kesehor sebagai Taman Laut, masih perlu pembenahan secara menyeluruh, terutama terumbuh karang yang semakin pudar sehingga harus dilestarikan.
Sarana dan prasarana serta infrastruktur masih sangat minim, sehingga perlu terobosan untuk perbaikan ataupun melengkapi sehingga menarik minat pengunjung baik dalam dan luar negeri sehingga tidak kalah bersaing dengan daerah lain semisal: Bali, Lombok, Raja Ampat, dan lain-lain. 4. Tangkoko, sebagao obyek wisata alam dan cagar alam, perlu pembenahan, terutama memberantas pungutan liar dalm bentuk apapun yang sangat merugikan nama baik Pemerintah dan masyarakat Sulawesi Utara.

Ketum KKK saat melakukan keterangan pers (Foto Ist

5. Papan penunjuk arah diberbagai tempat, persimpangan, dan obyek wisata, harus jelas terbaca. 6. Pantai pasir putih yang membentangi bibir pantai disekitar Batu Putih, memiliki potensi untuk pengembangan sebagai destinasi wisata, kolaborasi dengan sumber daya kemaritiman, semisal penangkapan ikan laut, dan lain-lain.

7. Kerja sama dengan Yayasan Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara Pa’Dior di Tompaso, sangat penting sehingga potensi Kebudayaan yang sudah tersedia, perlu untuk dijagan dan dipelihara. 8. Perlu pengkajian lebih lanjut prospek kerajinan minuman beralkohol Cap Tikus. 9. Perlu jalin kerja sama dengan Bukit Paralayang, Koha, Minahasa, untuk agenda yang berhubungan dengan olah raga Paralayang, mengikitsertakan pagelaran Seni & Budaya.Lokal.
Selain it, saran-saran yang berdasarkan taget dapa dieauh di forum-forum diskusi. Diantaranya; 1. Dalam rangka menghadapi persaingan globalisasi, upaya untuk menarik investor dari dalam dan luar negeri untuk relokasi usaha di Sulawesi Utara, maka kegiatan-kegiatan Konferensi bertaraf Internasional dan atau nasional perlu diadakan secara rutin, setidaknya memindahkan event sejenis yang selama ini dilaksanakan di Bali. 2. Sejalan dengan itu, maka kesiapan sarana, prasarana dan infrastruktur disegala bidang harus menjadi skala prioritas, setidaknya untuk memberikan kenyamanan.
3. Meningkatkan sumber daya manusia yang profesional, terutama untuk anstisipasi kepuasan para masyarakat, daya tarik para pelaku bisnis sehingga perlu tindakan nyata dari Pemerintah Daerah melalui Kantor Dinas terkait untuk melakukan sosialisasi secara rutin dan berkesinambungan tentang layanan “hospotality” . 4. Pemberantasan berbagai bentuk pungutan liar (pungli) dalam bentuk apapun. 5. Meningkatkan kegiatan penanaman poho, dan seterusnya. (*/Mas)
iklan1