Tag: bolsel

BOLSEL: JASMERAH

Reiner Emyot Ointoe (Foto Istimewa)

Oleh : Reiner Emyot Ointoe, Fiksiwan

Salah satu wilayah swapraja yang juga dimekarkan pada 2008 dari induknya Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) termasuk yang agak unik dan khas. Selain karna konstruk budayanya lebih diakibatkan oleh fertilisasi (penyerbukan) budaya, daerah eks-swapraja kerajaan Bolango ini pada kolonial abad-18 dimasukkan sebagai ‘korte verklarring’ Bone (kini, Kabupaten Bone Bolango). Fakta ini mudah dirujuk dengan ‘tolobalango’ (baca: migrasi) Raja Hubulo (dieja: Gobel) ke Bolsel kini (Haga,1930). Rujukan lain dengan dijadikan bahasa Bolango sebagai lingua franca ketika itu.

Sejak dihapuskannya Swapraja Kerajaan Bolango dengan Raja Terakhir Hasan van Gobel — diabadikan sebagai pada Rumah Sakit Daerah dan saya terlibat dalam pembuatan Perdanya — praktis daerah ini hanya menjadi salah satu kecamatan (Molibagu) dengan luas hari ini mencapai 1601,38 km2 dan populasi terkini 65.000 jiwa.

Pemekaran daerah ini tak lepas dari perjuangan para elit yang berasal dari sana, di antaranya almarhum Syamsudin Kuji Moha (SKM), Om Diko, Om Saleh Gobel, Rekso Ointu, mendiang Abdulah Ointu, Paman Yanta, Herson Mayulu (Bupati satu periode lebih), Buyung (Ketua DPRD setelah definitif), Iskandar Kamaru (kini Bupati), Abdi Gobel, almarhum Deddy Gobel (suami Tutty Gobel-Gonibala), Om Lamusu (ayah kandung Rita Lamusu, mantan anggota DPRD Sulut) dan banyak lagi tokoh dan elit di sana yang terlibat.

Ketika terbentuk Panitia Pemekaran Bolsel diketuai mendiang Syamsudin Kuji Moha (SKM), seorang arsitek dan pengorganisasi yang handal , Sekretaris (Saleh Gobel, Papa Yogi) dan Bendahara (Buyung Abdul Latif), Penasehat Utama (Om Diko Mohune, mantan anggota DPRD Bolmong) dan saya merangkap anggota panitia merangkap konsultan kebudayaan, mobilitas Panitia tergolong gencar dengan menguatkan partisipasi publik yang setiap bulan harus menyetor kontribusi bulanan sebesar Rp. 10.000.

Profil budaya Bolsel (Foto Istimewa)

Sumberdaya keuangan untuk memperjuangkan pemekaran daerah harus bersumber dari kemampuan masyarakatnya sendiri. Seingat saya, bantuan resmi Kabupaten induk resmi hanya sekitar 1 miliar. Karna itu mobilitas partisipasi publik — dari Lion sampai Deaga — harus ditagih dari kerelasn publik sendiri. Akhirnya, di penghujung penetapan pemekaran kabupaten ini bisa terkumpul lebih dari 300 juta sebagai partisipasi masyarakat yang dimanfaatkan untuk mobilitas dan lobi-lobi dengan Panja Komisi Pemekaran yang di antaranya duduk di komisi itu Letjen(Purn.) E.E. Mangindaan dan juga Drs. Djelantik Mokodompit. Apa yang hendak dipesankan oleh sejarah pemekaran Kabupaten Bolsel ada 2 hal: Partisipasi Masyarakat dan Tanggung Jawab elit/tokoh dalam proses itu.

Tentu saja, sebagian elit dan tokoh-tokoh itu seperti Herson Mayulu, Buyung Abdul Latif, Abdi Gobel, Abadi Gobel dan Iskandar Kamaru (kini Bupati) telah menunaikan amat itu dengan menjadi Bupati, Ketua Dewan, Sekda dan jabatan-jabatan resmi di pemerintahan sejak mekar hingga hari ini. Usul saya: kepada elit dan tokoh-tokoh yang berjasa itu oleh Pemda bersama DPRD bisa diberikan Lencana Penghargaan. Sebagaimana saya pribadi, meski hanya kecil telah menyumbang literasi budaya.

Di antaranya: oleh Bupati Herson Mayulu ditunjuk sebagai tim penilai lagu Mars Bolsel, Handbook Tourism & Culture Bolsel, Profil Budaya Bolsel dan oleh DPRD (masa Ketua Buyung AL) menjadi narasumber Perda Nama Rumah Sakit Daerah (kini RSD Hasan van Gobel). Catatan: Hasan van Gobel, ayah kandung Iskandar Lexi Gobel (mantan Sekda Bitung dan Asisten I Pemprov Sulut), almarhum Deddy Gobel (ayah Beggy Gobel, mantan Aleg Kotamobagu), Memi Gobel (camat terakhir Molibagu).

Dengan alasan dan rangkaian sedikit sejarah Kabupaten Bolsel ini, bisa disimpulkan bahwa daerah ini hanya akan tumbuh dengan baik jika dua prasyarat itu, partisipasi dan tanggungjawab, menjadi modal sosial dan kultural bagi masa depan daerah yang menjadi tumpuan kiprah sejarah leluhur dan regenerasi kami. Atau, mereka yang memiliki genealogi dan “hak historis” baik secara bio-genetik di dalam urusan kemashlahatan artefak (material), mentifak (mentalitas) serta sosiofak (pranata) yang telah menghidupkan kabupaten ini, ‘hit et nunc’ (kini dan nanti). Terutama, bagi regenerasi.

Dirgahayu BOLSEL. JASMERAH, Jangan Lupa Sejarahmu.

Gerakan KAHMI Sulut Peduli Bolmut, Iskandar Cs Salurkan Bantuan

KAHMI Sulut peduli (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Majelis Wilayah Korps Alumni HMI (KAHMI) Sulawesi Utara (Sulut), Minggu (8/3/2020) menggelar gerakan simpatik. Kali ini MW KAHMI Sulut yang dipimpin langsung Koordinator Presidium KAHMI Sulut, Iskandar Kamaru, S.Pt menyalurkan bantuan kepada warga korban bencaana banjir bandang di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Saat diwawancarai Suluttoday.com, Sekretaris MW KAHMI Sulut, Madzhabullah Ali, SH menuturkan bahwa penyaluran bantuan dari KAHMI diterima langsung Bupati Bolmut, Depri Pontoh yang juga didampingi Wakil Bupati, Amin Lasena. Pihaknya mengharapkan agar bantuan tersebut dapat meringankan penderitaan dan beban yang dirasakan warga korban banjir di Bolmut.

Bantuan yang diserahkan kepada warga korban banjir Bolmut (Foto Istimewa)

”Alhamdulillah Kanda Iskandar Kamaru selaku Koordinator Presidium KAHMI Sulut yang juga Bupati Bolsel, memimpin langsung proses penyerahan bantuan dari KAHMI Sulut kepada warga Bolmut yang terkena banjir bandang. KAHMI Sulut turun bersama tim, dan diterima Pemda Bolmut. Langsung dilapangan Pak Bupati Bolmut yang juga didampingi Wakil Bupati menyambut kedatangan kami. Semoga bantuan yang disalurkan dapat membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah banjir di Bolmut,” ujar Ichal, sapaan akrab Ali yang juga mantan Sekretaris DPD KNPI Manado ini, Minggu (8/3/2020).

Sambutan Koordinator Presidium KAHMI Sulut (Foto Istimewa)

Diantara bahan-bahan yang dibawa KAHMI Sulut adalah beras, aqua, mie instan, popok bay, pakaian layak pakai, telur, gula pasir, roti, susu bayi, biskuit, minyak goreng, ikan kaleng, selimut, sabun, dan minyak telon. Untuk diketahui, KAHMI yang tak lain sebagai organisasi berhimpunnya para alumni aktivis Himpunan Mahasiswa Islam itu belum lama ini dilantik di Graha Subernuran, dan telah action dalam gerakan kemanusiaan. (*/Amas)

Koordinator Presidium KAHMI Sulut saat menyerahkan bantuan diterima Bupati Bolmut (Foto Istimewa)

Kabar Pilkada Bolsel (2)

Bupati Bolsel (Ist)

Oleh : Pitres Sombowadile

4 TAHUN MASA KERJA BERKAH, BENARKAH???

SAYA membaca di banyak media daring (‘online’) ihwal perayaan 4 tahun masa kepemimpinan bupati/wakil bupati Iskandar Kamaru dan Dedi Abdul Hamid. Kedua pasangan pemimpin ini sayang kadung ditakaburkan sebagai pasangan berKAH).

Atas klem 4 tahun itu saya terpaksa mesti meluruskan. Mudah-mudahan para pendukung pasangan ini ikhlas hendak diluruskan. Jangan terus-terusan berbengkok-bengkok ria. Pertama, tidak benar pasangan BerKAH sudah bekerja pada rentang usia 4 tahun. Sejatinya, Iskandar Kamaru baru dilantik oleh Gubernur Olly Dondokambey pada 1 Oktober 2018. Saya sendiri hadir dalam acara itu. Sedang, Dedi Abdul Hamid dilantik belum setahun lalu, tepatnya pada 23 April 2019. Sayang, saya tidak hadir pada pelantikannya.

Artinya, rentang waktu kerja keduanya baru berusia setahun saja. Atau, kalau hendak dirunut ke masa sejak Iskandar menjadi bupati, usianya paling lama 16 bulan saja. Karena itu, saya tidak mengerti kok kini dirayakan menjadi 4 tahun? Mungkin ada cara hitung aritmatika dan matematika lanjut yang dipinjam dari dunia antah berantah. Apakah mungkin karena kedua pasangan ini hendak mengklem capaian tahun-tahun ke belakangnya, maka usia kerja itu dimelarkan sedemikian itu. Politik memang sungguh aduhai, fakta dapat dimelarkan dan disusutkan sekehendak hati.

Sialnya, banyak kegagalan yang ternyata kalap malah diklem seolah keberhasilan. Misalnya, kegagalan Bolsel menurunkan tingkat kemiskinan secara signifikan. Kegagalan ini menibakan Bolsel menjadi daerah yang tingkat kemiskinannya paling tinggi di antara 15 kabupaten/kota.

Riston (Foto Ist)

Meski demikian, Bolsel masih saja mengklem pihaknya berhasil menurunkan tingkat kemiskinan sebesar 0,56. Klem ini tentu baik sekadar diumbar di antara orang-orang yang tidak mengikuti secara persis angka-angka kemiskinan keluaran Biro Pusat Statistik (BPS).

Tapi, jelas angka turun itu masih memalukan untuk dipertontonkan, karena angka kemiskinan Bolsel kan tetap saja paling tinggi di Sulut. Lantas untuk apa pada acara syukuran itu, kegagalan dibentang-bentangkan dengan dada nan membusung. Catatan buruk corengan itu masih ditambah dengan angka IPM yang sebenarnya tidak kalah busuknya untuk dipapar-paparkan. Untuk IPM, Bolsel juga masih di urutan sepatu. Lantas untuk apa dibanggakan dan dijadikan alasan untuk meminta kelanjutan masa jabatan.

Sampai di sini, sudah saya jangan menulis lagi, karena kini saatnya rakyat yang menilai, Karena toh mereka yang akan menentukan siapa pemimpin Bolsel berikutnya. Sorry, saya tetap Riston Mokoagow.

iklan1