Tag: boltim

Benteng Kokoh Sulawesi Utara

Suhendro Baromo (Foto Ist)

Oleh : Suhendro Boroma, Sekretaris JAJAK Sulut

INSIDEN di Perumahan Agape Tumaluntung, Minut beberapa hari terakhir ini menyita perhatian banyak pihak. TNI-Polri dengan cepat telah memperbaiki kerusakan gedung yang sehari-harinya digunakan warga muslim Perumahan Agape untuk melaksanakan ibadah. Proses hukum sedang dijalankan oleh jajaran Polri, dan berbagai elemen masyarakat, tokoh-tokoh agama, pemerintah dan tokoh-tokoh lintas agama dan budaya menyerukan dan meminta agar semua pihak menahan diri, tetap menjaga kerukunan dan kedamaian di bumi Nyiur Melambai. Warga dan para pemimpin di Perumahan Agape telah bertemu, bermusyawarah dan menelorkan “Deklarasi Damai” Sabtu (1/2) lalu.

Deklarasi Damai tersebut memuat delapan poin. Intinya menolak tindakan radikal, intoleran, menjaga kerukunan dan kedamaian, mengedepankan penegakan hukum, dan berkomitmen menjaga “torang samua basudara”. Perijinan pendirian rumah ibadah agar dilengkapi dan dilakukan sesuai peraturan yang berlaku, dan umat muslim di Perum Agape boleh melaksanakan sholat di musholah yang sudah diperbaiki. Dari dokumen yang beredar, Deklarasi Damai itu ditandatangani oleh tokoh-tokoh yang mewakili umat Kristen, Islam, pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan Forkompida Minut.

Juga disaksikan Gubernur Olly Dondokambey, Kapolda Irjen Sigit Tri Hardjanto, dan jajaran Forkompinda Sulut. Boleh jadi, Deklarasi Damai ini tak memuaskan berbagai pihak. Tetapi, hendaknya semua pihak punya kesepakatan yang sama: menjaga Sulawesi Utara, bumi Nyiur Melambai tetap rukun dan damai. Inilah ‘titik temu’ dan tujuan kita semua. Tidak saja untuk menjaga reputasi Sulut sebagai “percontohan hidup rukun dan damai”. Tapi itulah perintah semua agama yang kita anut, akar kearifan lokal, dan salah satu wujud “kemuliaan budaya” warga Sulut.

Dengan reputasi, kearifan lokal, dan kemuliaan budaya tersebut, Sulut memiliki banyak kepeloporan dan keteladanan tentang toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Kampung Jawa Tondano (Jaton), Mesjid Al Muhajirin, Gereja GMIBM Immanuel, dan Pura Puseh satu halaman di Desa Mopuya Selatan, Dumoga, Bolmong, dan paling terakhir Munumen Bukit Kasih di Kanonang, Minahasa, merupakan tiga dari sekian banyak puncak-puncak keteladanan hidup rukun damai langgeng di Sulut.

Ketika terjadi kerusuhan dan konflik horisontal di Ambon, Ternate, Halmahera, dan Poso di tahun 2000-2002, Sulut menjadi “rumah rukun damai” bagi mereka yang menjadi korban konflik. Mereka yang mengungsi ke Sulut pada waktu itu membawa penderitaan, kepedihan, kekelaman, dan semua memori yang bisa menyulut tindakan destruktif. Tetapi, yang luar biasa, semua itu “melebur dalam budaya rukun dan damai” warga Sulut.

Sekadar menyegarkan ingatan, gerakan reformasi 1997-1998 menghasilkan beberapa hal yang monumental: pemilu langsung, kebebasan politik, kebebasan pers, otonomi daerah, dan supermasi sipil dengan tampilnya Polri sebagai penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Perubahan-perubahan ini dikukuhkan secara kelembagaan (lewat undang-undang dan pembentukan lembaga-lembaganya), tetapi dalam praktiknya memerlukan waktu untuk berjalan efektif. Terjadi krisis kepercayaan terhadap hampir semua lembaga negara: birokrasi, TNI, Polri, MPR, DPR, lembaga-lembaga penegak hukum, dan di saat yang bersamaan lembaga-lembaga negara hasil pemilu 1999 masih tahap konsolidasi. Partai politik yang mulai berkuasa di lembaga eksekutif masih gagap, otonomi daerah baru dimulai, dan birokrasi kehilangan “power dan wibawa” di mata masyarakat. Pada kondisi seperti itu konflik horizontal terjadi di beberapa tempat. Korban konflik Ambon, Ternate, Halmahera dan Poso mengungsi ke Sulut.

Tahun 2000-2003 merupakan ujian yang berat bagi bangsa Indonesia. Di Sulut, banyak pihak yang melakukan berbagai upaya dan kegiatan untuk menjadikan bumi Nyiur Melambai sebagai benteng perdamaian. Teman-teman di Manado Post pada masa itu mencari “akar budaya dan kearifan lokal” yang bisa menjadi perekat masyarakat, sekaligus membuat warga Sulut punya daya tahan yang kuat (resilience) terhadap ancaman konflik horisontal.

Dari upaya inilah, dan didukung tokoh-tokoh pemuda lintas agama, tokoh masyarakat, tokoh budaya, jajaran TNI-Polri, pemerintah, Gubernur AJ Sondakh (alm) mencanangkan Tahun 2002 sebagai Tahun Kasih, dengan tagline Kasih Mengubah Dunia. Jaringan Kerja Kasih (JAJAK) Sulut –LSM yang digerakkan oleh tokoh-tokoh pemuda lintas agama, kemudian dibentuk (ketuanya Pnt Ir Marhany Pua), yang mendedikasikan semua kegiatan dan upayanya untuk membumikan “kasih” dalam kerja-kerja kemunusiaan, perdamaian dan kerukunan di tengah-tengah masyarakat. JAJAK ikut berkontribusi besar dalam memberikan gagasan pembangunan monumen Bukit Kasih di Kanonang, Kawangkoan.

Sudah pasti banyak pihak yang bekerja kongkrit dan berandil besar dalam menjaga Sulut tetap rukun damai di tengah suasana konflik horisontal di masa itu. Sinode GMIM, Keuskupan Manado, GPdI Suluttenggo, KGPM, NU, Muhamadiyah, SI, MUI, BKSAUA, FKUB, dan berbagai elemen pemuda berada di garda terdepan melakukan upaya-upaya optimal untuk menjaga dan mempertahankan Sulut tetap rukun, aman dan damai.

Pendek kata, semua komponen masyarakat di Sulut bersatu padu bak sebuah orkestra dengan aransemen yang indah dan memukau, menunjukkan kepiawaian mempersembahkan “hidup rukun dan damai itu indah.” Itulah yang membuat ujian berat konflik horisontal di Indonesia (kala itu) oleh semua elemen warga Sulut diubah menjadi kesempatan sekaligus medan untuk menunjukkan kepeloporan dan keteladanan hidup berdampingan secara rukun dan damai. Dan kerja-kerja kongkrit untuk hal ini dilakukan dan dikedepankan oleh masyarakat sendiri, bukan dimobilisasi dari atas.

Banyak ahli yang telah meneliti tentang keunggulan kearifan lokal warga Sulut ini. Tiga di antaranya disebutkan di sini. Martin Ramstedt dan Fajar Ilmu Thufail yang menulis buku Kegalauan Identitas: Agama, Etnisitas, dan Kewarganegaraan pada masa Pasca Orde Baru (Grasindo, 2011). Nono SA Sumampouw yang menulis buku Menjadi Manado, Torang Samua Basudara, Sabla Aer dan Pembentukan Identitas Sosial (UGM Press, 2018). Paling awal menelaah tentang kearifan budaya lokal Sulut ini peneliti dari Belanda, Henk Schulte Nordholt dan Gerry van Klinken, yang mengabadikannya dalam buku Politik Lokal Indonesia (Leiden KITLV Press, 2007, Yayasan Obor, 2014). Untuk buku yang terakhir ini khusus untuk bab tentang Memelihara Perdamaian di Minahasa ditulis David Henley, Maria JC Schouten, dan Alex J Ulaen, budayawan Sulut dari Fakultas Sastra Unsrat.
Penelusuran yang lebih jauh dan dalam dilakukan oleh Prof Dr Jan Turang (alm).

Mantan Rektor IKIP/Unima ini merupakan ilmuwan yang intens merumuskan falsafah mapalus dalam budaya Minahasa. Pada seminar tentang “Tahun 2002 Tahun Kasih, Kasih Mengubah Dunia” di awal tahun 2002, Prof Jan Turang secara gamblang menyebutkan “nilai-nilai dan praktik kasih” sudah lama hidup dalam budaya mapalus sebagai local spirit and local wisdom masyarakat Minahasa. “Inti dari Mapalus Way”, kata Prof J Turang, “adalah Kasih.”

Hal yang sama ada dalam masyarakat Sangihe, Mapaluse, dan di Bolmong hidup dan dipraktikkan secara turun temurun Momosad. Dalam makna yang sama, Huyula, dalam masyarakat Gorontalo. Mapalus, mapaluse, momosad, dan huyula ini sudah lama tertanam dan dipraktikkan dalam masyarakat Minahasa, Sangihe, Bolmong, dan Gorontalo. Jauh sebelum kedatangan agama-agama. Mengikuti rumusan Prof J Turang, inti dari nilai-nilai dan praktik mapalus, mapaluse, momosad dan huyula adalah ‘kasih’, maka boleh dikatakan “kasih way” sudah lama hidup dan dipaktikkan dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Minahasa, Sangihe-Talaud, Bolmong dan Gorontalo. “Kasih Way” sudah dijalankan oleh warga Sulut jauh sebelum agama-agama datang.

“Kasih Way” inilah yang merupakan inti kearifan lokal warga Sulut. Itulah yang membuat warga dan daerah ini resilience, berdaya tahan tangguh dari zaman ke zaman dalam menjaga suasana hidup berdampingan secara rukun dan damai. Boleh dikatakan, inilah “jati diri Sulut.” Maka, janganlah jati diri ini direngut, hanya oleh peristiwa di Perum Agape Tumaluntung Minut. Tanpa bermaksud mengecilkan peristiwa tersebut, hendaknya kita kembali pada jati diri Sulut yang sesungguhnya: “Kasih Way”. Apapun perbedaan pendapat, latar belakang suku, agama, ras dan tingkat pendapatan, kita harus senantiasa ingat, “Kasih Way” merupakan warisan para leluhur di Minahasa, Sangihe-Talaud, Bolmong, dan Gorontalo yang terpenting, mulia, membanggakan dan menembus jauh ke masa depan.

Insiden di Perum Agape kita jadikan sebagai ujian yang kian menguatkan dan mengokohkan praktik “Kasih Way.”
Adapun keberadaan rumah ibadah, alangkah baiknya kita jadikan sebagai salah satu perwujudan kualitas hidup berdampingan secara damai. Sebagaimana yang sudah terpampang di Mopuya Selatan. Atau di Panango-Tabilaa, kompleks Kantor Bupati Bolsel yang menyandingkan masjid, gereja, pura dan vihara dalam satu halaman.
Mari kita perkuat, perteguh, perkokoh “Kasih Way” dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam membina kualitas relasi hubungan antar umat beragama di daerah ini. Dengan itu, kita sangat berharap, tidak ada tempat bagi siapapun, terutama pihak-pihak atau pun anasir-anasir dari luar untuk mengganggu ketentraman, kedamaian dan kerukunan di Sulut.

Andai ada mau coba-coba, mari kita ajak, sentuh hati mereka untuk menikmati keindahan hidup rukun dan damai. Jika ada yang ‘memaksa’, jangan kita beri ruang sejengkal pun. Seperti warga Sulut tampilkan dan hadirkan kala menjadi “rumah damai nan indah” di kala menerima pengungsi dari Ambon, Ternate, Halmahera, dan Poso di masa silam.

Bagi Pemkab Minut, Pemrov Sulut, dan TNI-Polri , saat ini jauh power full dibanding saat menghadapi dan mengatasi konflik horisontal pasca orde baru atau awal reformasi. Dengan kondisi itu, kecepatan dan ketepatan menangani masalah agar tidak melebar kemana-mana mestinya berjalan efektif dan tetap sasaran. Paling baik, kondisi power full itu dilakukan dengan mengedepankan modal sosial dan kearifan lokal yang sudah hidup turun-temurun di Sulut: “Kasih Way”. Sebab itulah benteng alamiah yang kokoh bagi warga Nyiur Melambai menjaga dan melanggengkan hidup berdampingan secara rukun dan damai. (***)

Tokoh Masyarakat Boltim Bicara Soal Suhendro Boroma

Suhendro Boroma silaturahmi dengan masyarakat (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Keberadaan Suhendro Boroma di tengah masyarakat Bolaang Mangondouw Timur (Boltim) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sangat diharapkan. Tokoh asli Boltim yang akrab disapa Om Edo ini menuai banyak simpati sejak berkeinginan untuk bertarung di Pilkada Boltim 2020-2024.

Salah satunya pemekaran Boltim menjadi daerah otonomi tidak terlepas dari komitmen dan gagasan segar dari dirut Jawa Pos grup dan Manado Post ini.

Sebagai saksi sejarah tokoh masyarakat Boltim Muhammad Assagaf, menyampaikan Boroma merupakan salah satu putra terbaik Boltim, yang sudah berkiprah secara nasional. Dan sah-sah saja, kalau dia akan maju di Pilbup Boltim. Kemarin kata mantan Sekkab Boltim, telah bertemu Boroma. Dia katakan yang terpenting itu bukan nama saja.

“Bagaimana masyarakat akan menerima, tentunya kalau cuma nama itu ngak boleh, tapi cuman orang-orang tertentu,” tutur Assagaf.

Ditambahkannya lagi bahwa kalau memang serius untuk bertarung di Boltim, Boroma silahkan terus melakukan sosialisasikan sendiri langsung ke lapangan.

“Dan kalau saya pribadi sah-sah saja kalau Suhendro Boroma bakal bertarung di Boltim, dan juga harus melakukan sosialisasi dan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat,” ujarnya, Senin (13/1/2020).

Lanjutnya, kalau cuman terkenal di koran buat apa. Sedangkan, masyakarakat ingin melihat, kalau serius atau tidak. Pihaknya juga menegaskan jangan cuman wacana.

“Sedangkan yang kenal itu cuman orang Togid. Jadi harus ada gerakan di seluruh wilayah Boltim. Tentu kita lihat saja. Karena partai-partai bisa melihat survei langsung, kalau dia sendiri tidak jalan, dan yang pasti partai itu tidak mau kalah,” ujar Assegaf

Anggota DPRD Boltim Sofyan Alhabsy, melihat semua figur yang bertarung di Pilkada Boltim memiliki hak yang sama. Siapa pun silahakan saja, untuk melakukan itu.

“Jangan sampai cuman berkoar-berkoar untuk maju. Sedangkan rakyat sudah terlanjur jatuh cinta dan sebagainya. Pada akhirnya tidak jadi, karena tidak ada parta yang usung,” kata Sofyan.

Ditambahakanya, kalau sosok Suhendro Boroma tentu sangat layak kerena banyak kontribusinya, dalam apapun yang terjadi di Boltim, termasuk belum mekar Boltim pada waktu itu.

“Kami mengetahui bahwa Pak Suhendro banyak melakukan bantuan serta memberikan masukan. Dan bahkan memberi kontribusi dalam upaya-upaya mempercepat terjadinya otonom daerah,” kata Sofyan menutup. (*/Am)

Gumalangit, Wowor dan Boroma Bertemu

Rusdy, Rocky Wowor dan Suhendro Boroma (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Jarang ditemui adanya pertemuan di ruang publik antara tiga tokoh penting putra Bolaang Mongondow Timur, akhirnya bisa bertemu. Selasa (7/1/2020), Rocky Wowor, Rusdi Gumalangit dan Suhendro Boroma ditemui di salah satu hotel ternama di kawasan Boulevar, Manado.

Diantaranya, Suhendro Boroma, dikenal sebagai tokoh pers nasional itu sudah nongkrong di lobi semenjak sore. Ia ditemani geng KAHMI Sulut dan Manado. Antara lain, Baso Affandi, Madzabullah Ical Ali, Agus Abdullah, Hairil Paputungan dan lainnya.

”Sedang kongko-kongko bahas program-program KAHMI ke depan,” elak Om Edo, panggilan akrab Dirut Jawa Pos Holding dan Manado Post Grup itu.

Setelah Magrib, muncul Rusdi Gumalangit (RG). Wakil Bupati Boltim aktif itu rupanya memilih nongkrong di hotel tersebut sambil menunggu sang istri yg sedang ada urusan lain.

”Mo ngopi dulu. Pas ujang-ujang bagini to,” kata RG.

Ia kaget sdh ada Om Edo di tempat itu. ”Auw, rupa mujur ini. Bakudapa deng Bos Koran Nasional asal Togid dan Pakar Survei,” canda RG pada Om Edo dan Baso.

Setelah Isa, tiba-tiba muncul Rocky Wowor. Putra Modayag ini rupanya hendak menemui kerabatnya yang nginap di hotel itu.

”Kok bisa ya. Tiga orang Boltim ketemu di sini. Tuhan so ator,” ucap Ketua Fraksi PDIP DPRD Sulut ini, sambil tersenyum lebar.

Ketiganya tampak sumringah. Setelah berurusan dgn kolega masing-masing, ketiganya lantas kumpul semeja. Di pojok. Hanya mereka bertiga. Baso Affandi cs yg menemani Om Edo bahkan ‘menyingkir’ ke meja sebelah.

Memberi kesempatan trio itu diskusi. Penasaran kan? Kira-kira dorang tiga bicara Pilkada Boltim? Atau sekadar kangen-kangenan? Apalagi ketemunya tdk sengaja.

”Kami melepas rindu dan diskusi kecil soal kampung halaman. Tidak ada yang luar biasa,” kelit Om Edo.

”Jarang-jarang ketemu di tempat yg sama. Dan lagi apa salahnya kami diskusi sebagai sesama Putra Boltim,” ucap Rocky yang adal Modayag.

Masih dengan senyum penuh arti. Sedang RG memilih tdk berkomentar lebih. ”Saya jadi pendengar saja,” tukas RG merendah.

Ah, masak sih, tdk nyentil soal Pilkada Boltim? Aaa pasti bo’ong nih. ”Adalah dikit-dikit nyentil Pilkada. Apalagi Pak Hendro dan Pak Rusdi sudah mendaftar untuk ikut Pilbup. Tapi msh diksuso umum. Belum spesifik. Bila kalau diinterpretasi lebih dari itu, ya tidak apa-apa. Kan lagi momentnya. Wajar kalau kami bertiga turut menyentil Pilbup,” beber Rocky.

Putra pengusaha Boltim Robby Wowor dan Olvie Keintjem itu tdk melarang pertemuan tak sengaja itu ditafsir lebih.
Rocky, peraih suara terbanyak ke DPRD Sulut dari Dapil Bolmong Raya, itu lebih dulu beranjak. Ia pamit sekira Pukul 21.30 Wita, karena hendak berkemas utk terbang ikut Rakernas PDIP di Jakarta.
Menyusul kemudian Rusdi, yg sdh dijemput sang istri.

”Saya langsung pulang. Besok (hari ini, red) harus ngantor. Banyak agenda di pemerintahan,” cetus birokrat handal yg kini terjun ke politik itu.

Sementara SB melanjutkan kongko-kongko dengan pengurus KAHMI Sulut dan Manado.

”Biasa aja. Sesama orang kampung bakudapa, pastilah banyak yg dibicarakan,” elak SB.

Seperti diketahui, belakangan SB digadang kuat bakal diusung partai besutan Olly Dondokambey, itu utk bertarung di Pilbup Boltim.

Sebelum pertemuan tak sengaja trio ini, SB juga terciduk mengunjungi kediaman Ketua DPC PDIP Boltim Meydi Lensun di Modayag. Hanya ia tdk merinci apa isi pertemuanya dengan eks Wabup Boltim itu.

”Saya bertahun baru ke rumah Pak Meydi. Karena waktu Natalan belum sempat berkunjung,” kata Om Edo. (*/Redaksi)

Layak Pimpin Boltim, Sejumlah Tokoh Bicara Majukan Suhendro Boroma

Suhendro Boroma (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Menyongsong Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Bolmong Timur (Boltim) tahun 2020 sejumlah nama mulai digokan masyarakat. Tentu targetnya untuk maju bertarung menjadi Bupati Boltim. Suhendro Boromo salah satu diantaranya yang dirindukan memimpin Boltim.

“Kalau Suhendro Boroma layak memang. Beliau putra asli Togid Boltim. Banyak yang mendorong sosok yang satu ini maju di Pilkada Boltim,” kata Suardi Hamzah, tokoh masyarakat Muslim Sulawesi Utara.

Meski tidak sibuk mencitrakan diri seperti calon Kepala Daerah yang lain. Bahkan, beberapa nama mulai menjual janji. Yang masih belum jelas pun mengaku punya tiket di partai politik tertentu.

Untuk diketahui, PAN Boltim yang punya 4 kursi hampir pasti dikapling Amalia Landjar, putri mahkota Ketua PAN Sulut Sehan Landjar.

Selanjutnya, PDIP dengan tiga tiket kans kuat dihadiahkan ke Robby Wowor, ayah dari Rocky Wowor anggota DPRD Sulut dari PDIP.

Ada juga nama Robby Mamonto, Syachrul Mamonto dan Oscar Manoppo.

Ternyata diluar dugaan orang banyak, sosok Suhendro Boroma, putra asli Togid ini, didorong untuk besarkan Boltim.

Nama Suhendro mencuat akhir pekan lalu. Bertepatan dengan agenda Musyawarah Wilayah KAHMI Sulut di Molibagu Bolsel pekan lalu.

Om Edo sapaan akrab pimpinan media Manado Post dan Jawa Pos grup ini tidak menyangka akan ditodong sejumlah tokoh asal Bolmong.

”Sudah saatnya anda bangun daerah. Saya 100 persen dukung kamu Hendro. Kami akan bantu,” kata tokoh Bolmong Hamdi Paputungan.

Mantan anggota KPU Manado Suardi Hamzah, dan tokoh muda lainnHamzah Latif dan sepuh Muhammadiyah Anwar Sandiah serta Uten Moki saat itu juga mendesak Suhendro maju.

“Iya kami sangat mendukung figur muda yang satu ini. Hendro sosok yang paling pas melanjutkan pembangunan Boltim,” ujar mereka.

Dikatakan soal sosok Boroma yang terterima dan lebih banyak senyum itu pasti disukai masyarakat. Boromo saat ditanya menyampaikan terima kasih dan akan mempertimbangkan dorongan para tokoh itu.

“Bermunculkan dukungan memang. Tapi, Insya Allah. Kita melihat perkembangan di Boltim ada perubahan. Sudah oke lah,” ucap Hendro dengan wajah tanpa memprlihatkan opsesi politik.

Mulai meluas dukungan. Bahkan Suhendro ternyata sudah masuk incaran beberapa partai politik, sebut saja  Partai PAN, Nasdem, Golkar dan PDIP.

Ditempat terpisah, sumber resmi media ini menyebutkan bahwa partai Nasdem Boltim merespon positif. Dikatakannya Nasdem membutuhkan figur kuat seperti Boroma. Seperti diketahui, Nasdem punya tiga kursi, tinggal tambah satu seat.

“Saya siap mengawal kalau pak Hendro maju dengan Nasdem. Saya akan menunggu jika akan mendaftar,” tutur sumber Suluttoday.com, Jumat (29/11/2019). (*/Redaksi)

Bupati Sehan Kritik Balai Jalan Nasional

Kondisi jalan nasional Buyat – Molobog yang rusak parah (Rahman)

BOLTIM, Suluttoday.com – Bupati Bolaang Mongondow Timur, Sehan Landjar, menyoroti kondisi jalan nasional Buyat –Molobog yang rusak dan memprihatinkan. Khususnya ruas jalan antara Desa Togid sampai Desa Motongkad. Kata bupati, kondisi jalan itu nyaris tidak bisa dilalui kendaraan.

“Seminggu belakangan ini kondisi jalan ini semakin membahayakan dan sangat mengganggu arus lalulintas. Bahkan, kebanyakan kendaraan tak bisa melanjutkan perjalananya karena jalan sudah tak bisa dilalui.” Katanya pada minggu (09/04/2017).

Ia mendesak agar Balai Jalan Nasioanal Sulawesi Utara (Sulut) segera melakukan penanggulangan kerusakan di jalan itu.

”Kami meminta Balai Jalan Sulut memperhatikan dan menseriusinya.” Tegas Eyang sapaan akrabnya.

Bupati dua periode itu menjelaskan, sejak 2012, ia sudah memberi masukan kepada Balai Jalan Sulut melalui Penanggunggung jawab pekerjaan waktu itu, agar khusus ruas jalan Buyat-Molobog di Desa Togid agar dipindah titikk koordinatnya. Kontur tanah di wilayah itu sangat labil, karena ada sungai di bawah jalan itu.

”Masukan saya tak ditanggapi (balai jalan). Malah perencanaan dan pelaksanaan proyek jalan itu pada posisi yang kurang tepat. Dan akibatnya apa yg dikhawatirkan justru terjadi.” Jelas Sehan.

Ia pun menyangkan pekerjaan jalan yang memakan anggaran yang sangat besar itu. Harusnya sejak awal  perencanaan dan analisisnya betul-betul matang. Apalagi  Pemkab Boltim sudah mengeluarkan biaya pembebasan lahan lebih dari Rp600 juta.

”Harusnya, masukan pemkab dan masyarakat jangan diabaikan. Karena kami di daerah yang lebih tahu tentang keberadaan jalan itu.” Kata Sehan. (Rahman)

iklan1