Tag: bung amas

Politik dan Kemanusiaan

Bung Amas (Foto Suluttoday.com)

Catatan : Bung Amas, Pegiat Literasi

POTRET yang paling mudah kita temui dalam pergaulan dan respon politisi terhadap rakyat ialah disaat mereka tergerak hatinya membantu masyarakat. Momentum politik berlalu, kini insiden alam melanda Indonesia. Dibeberapa wilayah, Provinsi, Kabupaten/Kota sampai Desa/Kelurahan rakyat menjerit akibat cuaca ekstrim melanda Indonesia.

Konsekuensinya, bencana banjir dan tanah longsor melahirkan korban. Ada rakyat yang kehilangan harta benda, bahkan kehilangan nyawa. Seperti di Kota Manado, belum lama ini. Curah hujan yang relatif tinggi, juga lama membuat genangan air meluap sampai ke rumah-rumah warga. Ada pula korban warga yang tertimbun tanah disebabkan longsor.

Sedih menyelimuti kita semua. Atas nama kemanusiaan, semua tergerak ikut membantu. Orang-orang yang mulia hatinya ikut turun tangan membantu para korban bencana. Baik yang mengatasnamakan pribadi maupun kelompok tiap orang bergerak turut meringankan beban yang diderita korban bencana. Tidak membedakan latar belakang agama, warna politik. Semua dermawan, donatur tergerak hatinya membantu.

Ini peristiwa kemanusiaan. Lepaslah semua interest politik, sentimen, konflik politik, dendam politik, bahkan sampai blok-blok politik yang kental menjadi mencair. Desakan, tarikan dan tuntutannya jelas, nilai kemanusiaan. Pertengkaran disaat Pilkada 2020 tanpa diperintah untuk diakhiri, semua rakyat terlebih politisi menghentikan perseteruan itu.

Satu persatu orang-orang peduli, membantu korban bencana. Kota Manado memang menjadi destinasi, role model kerukunan. Bencana banjir bandang yang pernah melanda Manado menjadi bahan refleksi bersama, bahwa semua orang akan menemui situasi-situasi sulit. Tidak ada kesenangan yang abadi. Seperti itu pula, tidak ada kesengsaraan yang kekal abadi. Semua akan bergerak dinamis.

Bencana banjir di Manado menjadi kontemplasi bersama bagi kita semua. Memori kolektif kita tentu masih segar, dimana bencana banjir meluluhlantahkkan rumah warga. Nyawa pun melayang. Nyaris cita-cita dan optimisme, bergeser menjadi kepingan kenangan. Sedih berkecamuk, tangisan dan keluhan-keluhan menjadi monumen. Banjir bandang 15 Januari 2014 menjadi peristiwa yang menakutkan, traumatik bagi warga Manado.

Berujung tragis, tragedi kemanusiaan ini alhasil mewariskan malapetaka berupa korupsi. Politik harusnya begitu, dikembangkan dan mengalir pada jalurnya. Sudah begitu marwah politik, dimana politik dan kemanusiaan itu menyatu. Bersenyawa, bukan terpolarisasi atau didikotomikan. Politik itu mengandung misi suci tentang kemanusian. Jangan hanya bencana membuat kita sadar, lalu mengedepankan kemanusiaan.

Insiden politik juga harus begitu. Membuat kita semua sadar agar tidak terkecoh dengan kubu-kubuan kepentingan politik. Peristiwa politik yang paling nampak di depan mata kita ialah hadirnya pemimpin politik yang korup. Menyalahgunakan kewenangannya, rakus dan memanfaatkan kekuasaan untuk menindas rakyat lemah. Para koruptor di tangkap karena korup, itu bencana sebetulnya. Harus menjadi refleksi untuk kita agar sadar dan membenahi diri.

Bukan nanti saat bencana alam berupa banjir dan tanah longsor. Praktek korupsi juga bencana. Yang dampaknya meluas dirasakan rakyat. Seharusnya kita terpanggil, sadar, lalu ramai-ramai membantu korban yang akibat ulah koruptor mereka menderita. Rakyat miskin makin melarat, akibat uang milik rakyat dikorup. Kalau mau adil, rakyat miskin wajib kita bantu. Dalam tiap bencana memang selalu melahirkan hikmah. Semoga politik dan kemanusiaan, dapat jalan beriringan. Bukan disaat bencana alam saja. Tapi bisa bertahan lama.

Terkonstruksi dalam tiap kesempatan interaksi sosial bahwa politik dan kemanusiaan terintegrasikan. Terlebih dikala ‘pesta demokrasi’. Politik dan kemanusiaan punya satu rahim yang sama, ia terlahir dari nilai-nilai kemanusiaan. Kebenaran universal, kemudian keduanya bukan lahir nanti saat momentum tertentu. Melainkan bersifat permanen. Politik dan kemanusiaan janganlah dijadikan bersifat insidentil. Melainkan, terobjektifikasi, terinternalisasi, membumi di hati rakyat. Yang kemudian diaktualisasikan dalam langkah-langkah keseharian kita. Berjalan menjadi amalan, kesalehan sosial kita.

POLITIK, Relasi Kesejahteraan dan Standar Etika

Bung Amas (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

POLITIK sebagai bidang ilmu terapan juga merupakan seni. Kenapa seni (art)?, karena politik tidak mengenal hegemoni tunggal. Suatu basis pengetahuan formal tertentu saja yang mendominasi politik, melainkan cabang keilmuan lainnya juga bisa terjun, terlibat dalam memahami politik. Begitu pula dalam ranah praktek. Tidak harus praktek politik dilakoni para Sarjana Ilmu Politik (S.IP). Lebih dari itu, semua kaum intelektual yang pernah merasakan proses pendidikan formal, memiliki kesempatan yang sama untuk berpolitik.

Bahkan, begitu liberalnya. Politik diramaikan mereka yang tanpa ada dasar dan pengalaman pendidikan formal. Seperti itulah politik yang medannya serupa samudera luas. Lain ceritanya, ketika hari ini panggung politik tercemar dan dinodai praktek curang, pembunuhan karakter, politik uang dan sebagainya. Yang pastinya, panggung politik bukan menjadi ruang monopoli bagi kelompok tertentu saja. Semua elemen anak bangsa, insan manusia punya kesempatan berpolitik.

Selanjutnya, apa kaitannya politik dan kesejateraan. Pada mulanya, politik bukan soal kedudukan atau kekuasaan semata. Jauh lebih luasnya, politik mengurusi tentang nasib manusia. Aristoteles (384-322 SM), seorang Filosof Yunani pernah menerangkan bahwa manusia adalah zoon politicon (manusia sebagai makhluk sosial politik). Manusia tak bisa hidup sendiri, tapi harus berdampingan dengan manusia lainnya.

Begitu pula dalam interaksi politik. Derasnya pengetahuan politik, yang kadang dibelokkan membuat citra politik menjadi buruk. Sehingga masyarakat awam sering menafsir politik sekedar cara meraih kekuasaan. Cara menipu, cara merekayasa, cara membohongi, atau cara untuk menghalalkan sesuatu demi meraih tujuan tertentu. Ironis, inilah kesalahan tafsir terhadap politik. Penting kiranya dikoreksi, diluruskan. Agar tidak menjadi beban atau kesalahan berkepanjangan.

Politik pada hakikatnya untuk kebaikan kemanusiaan. Bukan niat atau perbuatan curang. Target dan tujuan berpolitik ialah bagaimana meraih kesejahteraan. Daerah dan Negara secara luas harus hadir, menjamin masyarakatnya agar sejahtera. Begitu krusialnya politik hadir menjawab keresahan, kekecewaan dan terjadinya degradari kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Melalui politiklah, keruntuhan keyakinan masyarakat tersebut dibangun.

Praktek politik yang beretika harus mengembalikan kepercayaan publik terkait politik yang mulai buruk citranya. Politik itu untuk kemaslahatan umat (rakyat). Jangan dipersempit politik hanya sebatas menjegal, merebut kekuasaan dan mengelola kekuasaan demi kepentingan kelompok tertentu. Tak hanya itu, politik juga bukan soal bagi-bagi kekuasaan. Politik memiliki tujuan mulia, merangkul, memberikan jaminan pada masyarakat. Menghadirkan rasa adil, memelihara persatuan, kerukunan dan kemakmuran bagi semua.

Disitulah politik perlu berjalan di atas etika dan humanisme. Bagaimana berpolitik dengan memuliakan martabat manusia lainnya. Bukan saling merendahkan dalam berpolitik. Bukan menggunting dalam lipatan, bukan pula saling menghasut. Tapi, saling menguatkan, saling menghormati meski berbeda kepentingan politik (rivalitas). Ketika politik dialaskan pada kesetaraan dan saling memuliakan, maka dinamika politik akan produktif. Lahirlah politik nilai, tak ada praktek saling mencederai.

Sebab dalam politik tak ada yang abadi. Tidak ada pula adu kepentingan yang terjadi secara permanen. Setelah kontestasi, semua menjadi sama, setara. Para politisi dan komponen masyarakat harus saling berangkulan. Ada ruang rekonsiliasi politik. Standar etika akan menjembatani semua seteru politik yang kencang. Ketika politik diawali dengan etika, hal itu berdampak positif terhadap kewibawaan masing-masing pihak. Terserah, kelak dalam kompetitor siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Kompetisi bersandar pada prinsip-prinsip etika akan membuat para kompetitor saling merangkul. Minimalnya, tak ada dendam setelah kompetisi politik di Pilkada Serentak atau momentum politik lainnya. Yang ada hanyalah konsep kolaborasi. Untuk apa kolaborasi itu?, tentu atas nama dan atas kepentingan pembangunan. Lepas semua amarah, sentimen dan ego yang mungkin pernah dipelihara saat kompetisi politik. Politik yang penuh etika akan mengantarkan para politisi menuju kemajuan.

Politisi tidak terjebak, tidak membatasi dirinya pada kemarahannya. Ia melampaui hal itu, melampaui dendamnya yang tidak konstruktif tersebut. Praktek politik dengan standar etika akan menjadi solusi. Memberi kenyamanan dan ketenangan, terlebih bagi politisi. Jangan biarkan politik dijalankan dengan hasutan, penuh amarah, dendam, fitnah serta cara-cara merusak lainnya. Standar etika wajib menjadi trigger berpolitik.

Manakala politik dengan standar etik dijalankan, tentu praktek politik dipenuhi rasa kasih sayang. Para politisi tidak saling mendiskreditkan. Begitu juga yang akan terjadi pada pendukungnya (simpatisan), rasa kebersamaan, saling hormat menghormati dan memuliakan sesama manusia dilakukan. Ruang politik pun makin teratur. Terukur, tercerahkan, iklim pergaulan politik menjadi kondusif. Praktek saling menghakimi, merasa paling terbaik tidak lagi kita temui dalam pentas politik.

Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat akan terwujud. Pemenang dalam Pilkada Serentak kelak lebih fokus mencicil janji-janji politiknya. Mereka dengan mudah, leluasa dan ceria gembira mensejahterakan masyarakat. Tidak ada lagi polarisasi kepentingan yang serius. Semua masyarakat diberlakukannya sama. Tidak ada dendam politik yang dipelihara. Peternak kedengkian dan oposisi pura-pura juga akan lenyap. Dampaknya, masyarakat secara sadar memberi diri melahirkan partisipasi terhadap pembangunan. Majulah daerah yang menggelar Pilkada Serentak 2020 tersebut. Walau pandemi Covid-19, masyarakat tak akan cemas berlebihan. Karena mendapatkan pemimpin yang mulia hatinya. Muncul gerakan saling menunjang, sinergitas diterapkan secara baik dan benar.

Pilwako Manado dan Ancaman Serius Politik Uang

Bung Amas (FOTO Suluttoday.com)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Pola ‘serangan fajar’ yang mulai dimodifikasi, dilakukan para politisi bajingan. Alasannya macam-macam. Ada yang menyebut bentuk keprihatinan politisi terhadap masyarakat di musim pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Ada pula yang berdalil, yang dilakukan seperti berbagi uang dan beras (Sembako) adalah tindakan luhur, manusiawi. Namun begitu, secara etik tetap saja melanggar etika kita berdemokrasi.

Dahulu, pelaksanaan serangan fajar masih dilakukan di tengah malam gelap. Atau pula dilakukan disaat ‘fajar’, yang menunjukkan waktu ‘samar-samar’, dimana Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) tengah tertidur. Sebagian publik lengah, barulah aksi mencoreng reputasi demokrasi itu dilakukan. Perbaikan, desain baru dari serangan fajar rupanya makin canggih. Sekarang tidak lagi sekedar uang tunai.

Para calon Kepala Daerah menggunakan voucher paket bantuan. Masyarakat penerima nanti boleh menukarkan voucher tersebut di Pasar Swalayan atau Toko, mini market terdekat. Baik sebelum atau sesudah pelaksanaan Pilkada Serentak dihelat. Ini bentuk ancaman serius bagi demokrasi kita. Dapat dikatakan sebagai terror untuk menghentikan denyut demokrasi kita yang masih dalam situasi belum pulih benar karena dilanda COVID-19. Demokrasi kita dikepung para para cukong yang mengandalkan uang (modal dan materi).

Dengan bekal uang, mereka merasa mampu mengatur masyarakat. Membayar hak pilih masyarakat melalui cara-cara serangan fajar. Bawaslu jangan sekali saja lengah. Ketika lamban, atau sengaja sekilas saja memberi ruang, maka sendi-sendi demokrasi kita akan hancur. Ya, sudah pasti dihancurkan para pemilik modal yang mendompleng, telah berkompromi dengan calon Kepala Daerah untuk bargaining kepentingan.

Ancaman itu telah ada di depan mata kita semua. Mulai dari operasi gelap yang dilakukan untuk menyiapkan amunisi serangan fajar, sampai spot untuk pembagian, sebetulnya gampang terlacak. Kita berharap Bawaslu bertindak lebih cepat dari para budak, ‘tukang bagi’ serangan fajar tersebut. Dapat digambarkan, kira-kira amplop berisi uang yang disiapkan dan voucher paket Sembako. Voucher tersebut dapat dikonversi.

Selanjutnya bagaimana dengan iklim Pilwako Manado, Rabu 9 Desember 2020 besok?. Rangkaian konsolidasi, manuver dan pengkondisian suara pemilih telah dilakukan jauh sebelumnya. Ada pula yang telah curi start. Bahkan, minus 3 hari pelaksanaan pencoblosan di bilik suara, gerakan terselubung untuk menjalankan serangan fajar dapat dilakukan. Bagi politisi atau pasangan calon Wali Kota Manado yang berpikiran bisnis, mereka tak segan melakukan serangan fajar. Klasiklah ketika ditemukan, Tim Sukses (TS) mereka pasti beralasan untuk kemanusiaan, dan rupa-rupa alasan lainnya agar tidak terjerat hukum.

Berbeda tentu semangatnya, bagi pemimpin intelek dan berfikir populis, akan mewujudkan iklim demokrasi yang produktif. Menghindarkan diri dari serangan fajar. Tidak mau merendahkan hak politik masyarakat dengan menukarkan suara pemilih dengan sekedar uang tunau atau voucher. Birahi politik yang tinggi biasanya ditampilkan politisi atau calon Wali Kota Manado dengan melakukan serangan fajar. Mereka menghalalkan segala cara asalkan merebut kekuasaan. Miris kalau seperti itu.

Bawaslu kita harapkan bertindak cepat dan tegas. Gerakan deteksi dini sangat diperlukan. Begitu pula dengan keterlibatan aktif dari masyarakat sipil, TNI dan Polri untuk sama-sama memerangi oknum pelaku serangan fajar. Jangan ada kata kompromi bagi perusak demokrasi. Ketika ditemui di lapangan, pemberi uang serangan fajar maupun voucher harus ditangkap. Diproses, jangan semua laporan masyarakat soal dugaan pelanggaran Pilkada dibiarkan mangkrak di meja Bawaslu.

Kasihan apa fungsi lembaga Pengawas Pemilu kalau begitu. Tak mungkin kalian mau dan rela disebut-sebut ‘impoten’ dalam menjalankan tugas mulia mengawasi. Bukan main-main, politik uang merupakan ancaman serius dan nyata bagi demokrasi kita. Pilwako Manado jangan kotori dengan praktek politik uang atau politik voucher (Sembako). Melainkan bagaimana kotoran-kotoran yang melumuri demokrasi tersebut dibersihkan. Tangkap, dan berikan sanksi yang setimpal kepada pelaku politik uang. Jangan teks peraturan itu sekedar hidup di kertas, tapi harus dihidupkan dalam realitas.

KNPI Manado Rayakan HSP Dengan Menggelar Baksos, Sasar Pramusaji

KNPI Manado saat berbagi di Warkop Kemang Manado (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Merayakan momentum Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-92, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Manado menggelar Bakti Sosial (Baksos). Kegiatan Baksos dihelat selama dua hari, yakni Sabtu (31/10/2020) sampai dengan Minggu (1/11/2020). Aksis sosial ini dipimpin langsung Ketua DPD KNPI Manado, Erick G. Kawatu, SE.,MM dan Sekretaris DPD KNPI Manado, Amas Mahmud, S.IP.

Menurut Erick pihaknya menaruh perhatian kepada para pramusaji atau pelayan restoran dan rumah makan. Di era pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) kebutuhan masyarakat untuk akses ekonomi, meningkatkan pendapatan mengalami hambatan yang kuat. Kelesuan itu akan dirasakan semua masyarakat, terlebih pekerja. Itu sebabnya, Erick memberi fokus kegiatan dalam rangka Hari Sumpah Pemuda di tahun 2020 untuk kegiatan peduli.

”KNPI memandang bahwa seiring bergeliatnya kembali ekonomi daerah, dituntut pula kedisiplinan penerapan protokol kesehatan dari segenap pelaku ekonomi, diantaranya para pekerja dibidang kuliner yang cukup rentan mengingat interaksi yang intens setiap harinya. Dilain sisi, kami berharap sektor pariwisata yang juga mulai hidup kembali, akan turut bergairah seiring dengan kenyamanan para turis pengunjung didaerah kita,” kata Bung Erick yang juga mantan Ketua GMKI Cabang Manado ini, di Warung Kemang, Minggu (1/11/2020).

Berbagi dengan penuh keakraban (Foto Suluttoday.com)

Lanjut aktivis vokal itu menguraikan tentang aksi simpatik yang dilakukan KNPI Manado bertujuan untuk membantu masyarakat. Terutama mereka para pramusaji. KNPI Manado hadir untuk berbagi APD, turun memutus mata rantai penularan Covid-19.

”Saya juga berharap apa yang dilakukan KNPI, secara suka rela ini memberi manfaat bagi mereka sebagai penerima. Kita tak boleh diam disaat kondisi terjebit karena bencana Covid-19, tapi harus bergerak sebagai pemuda di Kota Manado,” ujar Erick yang juga Anggota KPID Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ini.

Baksos KNPI Manado berjalan sukses (Foto Suluttoday.com)

Di tempat terpisah, Bung Amas menambahkan bahwa bahan yang dibagikan dalam Bansos KNPI Manado ini berupa ratusan paket, diantaranya face shield, masker dan hand sanitizer bagi pramusaji atau pelayan restoran. Selain itu, target dan sasaran pembagiannya yakni kepada masyarakat yang rawan terkena penyebaran Covid-19. Jebolan Unsrat Manado itu menilai bahwa masyarakat masih sangat membutuhkan APD (Alat Pelindung Diri).

”Walau kita sudah hidup dengan kenormalan baru (new normal), tapi masyarakat harus dibentengi dengan APD. Adaptasi new normal berarti mengharuskan masyarakat untuk hidup dengan tata cara protokol kesehatan. Sehingga mudah dan terbantu masyarakat menggunakan APD, maka KNPI Manado ikut ambil bagian. Kami juga, sembari berbagi paket APD, tak lupa mengingatkan agar masyarakat menghindari kerumunan. Rajin mencuci tangan, memakai masker dan juga hand sanitizer,” ucap Bung Amas.

Warga menyambut baik giat KNPI Manado (Foto Suluttoday.com)

Baksos DPD KNPI Manado terselenggara dengan sukses. Lokasi yang menjadi rute pembagian paket yakni di Boulevard 2, Sindulang Kecamatan Tuminting dan seputaran pusat Kota Manado. Kemudian, sejumlah tempat berjualan rumah makan dan restoran yang berada di kawasan Sario.

(*/Redaksi)

Sejumlah Tokoh Aktivis Muda Sulut Bicara Soal Mahmud Turuis

Hi. Mahmud Turuis (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Hadirnya nama sosok Mahmud Turuis, SE, Direksi Bank SulutGo di pentas politik Pilwako Manado 2020 makin mendapat posisi yang istimewa. Sejumlah tokoh muda menyampaikan pendapat mereka. Diantaranya, disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWPM) Sulawesi Utara (Sulut), Sudarwin Tompunu. Menurut aktivis muda vokal itu, kemunculan MT, begitu Turuis akrab disapa menambah kualitas demokrasi di daerah.

”Sosok Pak Mahmud Turuis sudah dikenal luas warga Sulut, terlebih khusus masyarakat Manado. Beliau orang baik, yang juga bisa membagi waktu dengan publik terutama kepeduliannya pada masyarakat telah dirasakan. Menurut saya Pak MT adalah tokoh yang juga punya andil untuk setiap kegiatan dan hajatan- hajatan di daerah ini. Terlebih kegiatan Ormas keislaman, selain itu, dari segi manajerialnya oke. Apalagi beliau ini belum pernah diterpa isu-isu negatif, Pak MT tidak pernah ada catatan hitam tentang pribadinya. Tidak ada skandal penyelewengan, ini modal yang luar biasa. Bila beliau maju di Pilwako Manado sangat luas dukungannya dan Manado akan maju,” kata Sudarwin.

Di tempat terpisah, Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Manado, Suryanto Muarif juga menyampaikan pengalamannya terhadap tokoh muslim Sulut yang satu ini. Bagi Suryanto kepedulian dan kepekaan seorang MT terhadap kesulitan orang lain telah teruji. Jebolan STAIN Manado itu menyebut bahwa momentum demokrasi memang perlu diisi orang-orang yang punya pengalaman dan punya visi membangun masyarakat.

”Sosok Pak Mahmud Turuis ini adalah jawaban atas kemajuan. Saya kenal beliau, selain baik peduli dan perhatian pada kesulitan-kesulitan orang lain, beliau mendorong kemajuan. Potret pemimpin yang punya gagasan, setahui saya beliau telah terbiasa dengan hal-hal kepemimpinan sehingga tidak perlu diragukan lagi dalam soal ini. Visi dan pandangan beliau kedepan juga begitu luar biasa,” ujar Suryanto.

Selain itu, Amas Mahmud, Sekretaris DPD KNPI Kota Manado saat diwawancarai menuturkan bahwa peluang Mahmud Turuis untuk dijagokan partai politik sangat besar. Hal itu bukan tanpa alasan, kata Bung Amas. Pria yang pernah berhimpun di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini melihat MT sebagai figur yang memiliki basis dukungan luas.

”Siapa aktivis di Manado dan publik figur yang tidak kenal Pak Mahmud Turuis?, umumnya semua kenal beliau. Kecuali mereka yang tak pandai bergaul. Selain populer dikalangan aktivis, Pak Mahmud juga banyak membantu orangnisasi-organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, pembangunan rumah ibadah dan bantuan sosial lainnya telah dilakukan. Tentu ini bagian kecil yang terpublikasi di media massa. Banyak hal lain yang positif beliau kontribusikan kepada masyarakat. Sebagai aktivis muslim saya kenal beliau merupakan sosok yang rendah hati, banyak pendukungnya. Belum lagi yang menurut saya sebagai nilai lebih beliau adalah pengalaman dalam bidang ekonomi, Manado butuh wakil Wali Kota seperti Pak Mahmud. Rekam jejak beliau telah teruji, Pak Mahmud bukan saja figur yang dicintai organisasi Syarikat Islam, organisasi lain seperti KNPI juga tidak pernah bersebarangan dengan beliau, ya karena beliau tipikal figur yang terterima disemua lini dan pemberi solusi,” tutur Bung Amas, Alumni FISIP Unsrat Manado ini.

Untuk diketahui, nama Mahmud Turuis juga menjadi perbincangan hangat di internal PDI Perjuangan untuk dicalonkan sebagai Wakil Wali Kota Manado. Tak hanya itu, para Relawan MT dan simpatisan pun mulai melakukan kampanye turun mengamankan basis masyarakat selama beberapa bulan terakhir ini. Mahmud dinilai mendapat banyak dukungan masyarakat, terutama bagi pemilih muslim Manado.

(*/Redaksi)

iklan1