Tag: bustamin wahid

ATEISME & KESARJANAAN

Bustamin Wahid (Foto Ist)

[Memahami Tradisi Keilmuan Sebagai Sebuah Alasan]

“Keburukan yang paling terburuk adalah
dilakukan oleh orang-orang terbaik”.
[kutip Basri Amin]

Fundamentaslisme tema dalam tulisan ini mungkin sangat berbau kontradiktif, tetapi bernas pemahaman dan artikulasi. Kata ateisme menjadi seksi dan sensi jika dibicarkan dalam lingkungan orang-orang beriman, dan miris jika pembelaan sikap ateisme itu berhadap-hadapakan kita kepada pertentangan panjang dengan kelompok pembeda pemahaman.

Penulis mencoba melihat dari salah satu unsur alasan ateimse yang dikuti penulis berikut ini: orang (ateisme) berpendapat bahwa ilmu dan teknik dapat bisa menyelesaikan berbagai macam masalah.

Selain para ateisme menegasakan bahwa sesunggunya mereka tidak mimiliki waktu untuk Tuhan, ini adalah pernyataakn kerasa para ateisme yang menghandalkan kekuatan dan tras pengetahuan sebagai penyelesaian, memurnikan dan mengurai berbagai masalah di dunia.

Bangunan keyakinan bagi para intelektual yang berada pada jalur ateisme itu sendiri adalah eksitensialisme ortodoks dan ego-individualisme yang tinggi. Kredo dan hasrata kusa antro posentris menjadi dalil kuat dan penolakan adanya kuasa sang pencita sebagai pencipta, dan meraka berlogika lain tentang Tuhan sesunggunya Tuhan adalah pribadi itu sendiri.

Ateisme bermesrah dan melakoni pengetahuan, pengetahuan menjadi intrumen dalam mencari kebenaraan dalam menjadi kebahagian dalam perspetif mereka. Banya orang mengkritisi para ateisme tetapi banyak pula yang mempelajari dan mendalami pemikiranya.

Seruan intelektualime jelas dipetakan antar peradaban baik barat dan timur. Jika kajian strukturalisme yang dipelajari di dunia akademik tak luput dari gagasan besar C. Levy Strauss, ilmuan ini adalah salah satu ateis kerapa mendengungkan “aku tidak perna berfikir tentang Tuhan dalam pribadiku”. Atau tiliki pemikiran besar eksistensialisme dengan tokoh besar Nietzsche proklamator tentang kematian Tuhan “God si dead”. Seorang ahli astrinomi Laplace yang menjawab pertanytaan dari seorang Napoleon bahawa; saya tidak membutukan tentang hipotesisi. Pernyataan ini menegasakan bahwa sayang tidak mau berandai-andai sesuatu yang diluar dari nalar akal sehat.

Pada saat Napoleon bertanya kenapa tidak ada kamu menyebutkan nama tuhan dalam tulisan buku-buku perbintangan kamu.
Kembali saya menegaskan tentang emban amanah sebagai seorang sarjana. Tugas kesarjanaan jika dipahami, disadari dan membutukan amalan, maka amanat besar yang diberikan dan dilegitimasi dengan pelabelan titel/gelar. Title/gelar itu menegasakan kepada publik bahwa kita memiliki bidang keahlian/kompetensi tertentu. Menyepi, fokus, penggalian yang mendalami dalam lep-lep untuk menemukan ilmu pengatahuan bagian dari pada tugas kesarjanaan. Kurang lebih ini sinkron dengan pesan Imam Ali bahwa, membaca membuat kita berisi, menulis mengikat ilmu pengetahuan, diskusi membuat kita siap. Tafsir penulis ada klimaks yang menegasakn bahwa ada relasi keilmuan yang harus di jalankan dan menjadi rutinitas kesarjaanaan.

Tanggung jawab kesarjanaan penting diketahui dan harus diamalkan untuk menyelamtkan dan mempelihara keberadaan pengethuan (knowledge is beeing). Setelah melewati fase penuh duka dan kebahagian dengan cucuran ari mata para wisudawaan/I, dipastikan kebahagian itu tak berahir dengan dokumntasi dan eforia semata. tetapi ada amana yang jauh lebih besar yang diembankan.

Tentunya kata yang didengungkan setiap mahasiswa/I pada saat mereka dipastikan diwisudakan adalah mengurangi beban dan kebebasan tersendiri jika kita pragmatis. Para wisudawan/I yang terikat erat secara mental dengan almamater, mereka di dudukanakan dengan jubah kebesaran berwanah hitam, toga-toga menegasakan wawasan universal penuh optimisme.

Amanah keserjanaan bukan saja mencari pekerjaan dan memiliki pendapat perbulan semata, tetapi lebih dari tanggungjawab keilmuaan. Rutinitas keilmuan baik membaca, menulis, diskusi, menyurai masalah sosial, pencerahan dan menegakan panji kebenaran. Ini semua diyakini hasil dari sintesa sejati yang dibangun dan proses panjang selama menjadi mahasiswa/I dan proses kaderisasi organisasi.

Pilihan rasional sebagai seorang sarjana adalah keharusan dan logis, karena menjadi seorang politisi, guru, pengacara, birokrat, pengusaha dan sebagian sarjana kala dan menjadi residu peradaban, itu semua hanya satu alasan Karen tidak mampu berkompetisi. Dunia kompetisi miris jika seorang subjek kala, maka sesunggunya dia bagian dari pada orang yang lemah dan diasingkan.

Ulasan singkat ini memberikan makna kepantasan tentang substansi walau analisis tak mendalam. Tetapi kita berbicara pengembangan skil dan kompentensi kerana kita berada pada dimensi kosmologi pertarungan. Ibarat belajar dan perjuangan tak akan pernah selesai dan tak bertepi. Antara atesime dan seorang sarjana kurang lebih memiliki tradisi keilmuan yang sama, dan bahkan banya juga ateis bersarjana. Jika menukik banyak ilmuan terdahulu yang tidak berlabel sarjana melalui proses perguruan tinggi (kita belajar dari spririti sejaranya).

Sarjanaan yang bertuhan ini baik untuk mempertahankan dasar epistemic keyakinan, ada pengetahuan yang keberadaanya pada ranah teosentrisme dan antroposentris. Hanya berpesan tidak lebih dari mendikte dan menggurui kita diuntungkan disarjanakan dari kultur pengetahuan ke-Timuran.

Membutukan harapan besara struktur logika ditegasakan dengan prinsip pengtahuan, keyakinan dan idiologis yang mengkultur sehingga bisa mempertahankan substansi sebagai seorang sarjana.

Di akhir tulisan ini penulis mengucapkan selamat atas amanah kesarjanaan kepada wisudawan/I di Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) papua barat.

 

Penulis Bustamin Wahid

(Pedagogic & Alumni FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta)

HMI & KRISTINISASI PAPUA; Memor 5 Februari Momentum Visi Keadaban Manusia

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Mengawali dengan mengutip pendapat Thomas Charlyle bahwa orang besar itu bukan saja ditulisakan dalam sejarah tetapi juga mampua membuat sejarah. Kira-kira kata ini bukan menjadi doktrin tetapi paling tidak kita maknai bawah sesunggunya perjalanan sejarah itu sendiri bisa ditegasakan dalam metode pengetahuan. Paling tidak penulis sepedapat dengan Murthada Mutharri, sejarah sebagai salah satu landasan epistemic, walau banya menyangga tetapi argumentasi tentang sejarah yang terjadi secara sengja dan sejarah kenabina yang bisa sebagai landasan dan pijakan pengetahuan manusia. atau bisa perjuangan bersandar pada nilai-nilai kenabian bisa menjadi sebuah rujukan dan referensi.

Catatan dan refiu kebangsaan memberikan cukup banya gagasa, pikiran, idea dan perbuatan telah menyelamtkan nusantara dari kolonialisme. Toleransi masyarakan telah melepaskan egosentris kuasa monarki para raja-raja dan menyatakan bersama untuk ke-Indonesiaan. Salah satu gagasan anak keturunan seorang sultan Pangurabaan Pane-tokoh pergerakan nasional tapanuli selatan. Anak yang secara telaan berada pada kosmologi pertarungan dan sangat kritis untuk internalisasi diri/pencarian jati diri.

5 Februari Untuk HMI

Anak yang berusia 25 tahun yang berjuang untuk umat, masi berstatus sebagai mahasiswa sekolah tinggi islam, sekarang Universitas Islam Iindonesia (UII) bercita-cita mendirikan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada rabu, 14 rabiul awal 1366 H atau 5 februari 1947. Kini berusia menuju pada masa lansia jika kita analogi dalam kehidupan manusia. tetapi ini adalah organism yang bersenyawa hidup. Muqadima dasar dengan berbagai argumentasi yang cukup rasional dan tidak memunculkan kelasifikasi dan problem sosial baru. Pertam; alasan keindonesiaan. Kedua; alasan keislaman. Ketigas; alasan perguruan tinggi dan kemahasiswaan.

Kesadaran idiologi dan alasan keislaman menegaskan azas organisasi islam dan berkarakter oraganisasi pengkaderan dan perjuangaan. Hmi lahir untuk kepentingan umat dan membantu mendorong cita-cita kemasan dari kebudayaan itu sendiri yang disebut dengan peradaban. HMI harus berada pada titik kemasaan sekalipun dia berada pada sekala minoritas, jumlah bukan serta merta yang dijadikan landasan ketakutan dan kelemahan dalam ber-HmI. Tetapi kekurangan itu menjadi nilai yang terbalik dari ketakutan yaitu militasnsi yang islami. Jelasa sepeti apa yang dikatakan Ibnu Khaldun serpihan kecil dalam keruntuhan peradaban bukan sesunggunya adalah kehancuran tetapi itu adalah potensi untuk melahirkan peradaban berikutnya.

Negara ini cukup banyak mengisap enegri yang dimiliki kader HMI untuk malakukan perubahan, karena sebuah negara bangsa yang besar adalah negara bangsa yang terus berada pada gradual perubahan itu sendiri dan mampu menjawab kesejatraan. Kita tidak ceroboh menyebutkan tetapi sejarah telah jujur sampaikan, banyak pemimpin bangsa yang dilahirkan dan berproses di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), walau ada yang terlibat masalah hukum tetapi lebih banyak berprestasi. Tafsir para kader dengan berbagai macam corak pemikiran, banyak kadera yang berkaria dan begitupun banyak yang telah berada pada tebing-tebing hukum karena ada secara sengaja bermasalah, ada yang dijelak dan ada yang berada pada nas perjuangan. Semata-mata karena keangkuhan tetapi HMI adalah wadah nazaria almarifah/wadah epistemology.

Mereka menyatu dan berbeda bukan lah identitas, karena identitas bisa berujud dua dan bisa saling membunuh satu sama sama lain. Karena indentitas menegaskan siapa dia dan siapa kamu, bisa bersatu padu atau bisa menjadi musu yang saling membunuh. Tetapi HMI lebih dari itu kader idologis universal dan melampau alam kesadaran sentimentalisem, kesadaran kelas, kesadaran kedaerahan, kesukuan, rasial. Kadera yang menjawab dan berada ditenga-tengah umat. Berjuang dan bertahan adalah nilai dalam mengekohkan eksistensinya, 70 tahun sudah kamu berada dan mengabdi.

5 Februari Papua, Ingatan Kesakralan Orang-Orang Papua

Data sejarah menunjukan bahwa pada tahun 5 Februari 1855 M Otto & Gessller mereka tiba di Papua di waktu subuh(dalam bahasa Tidore sarah kie) di pulau Mansinam (dekat Manokwari). Setahun kemudian C.W. Ottow dan G.J. Gessller berjibaku dengan alam Papua dengan sikap keimanan mereka untuk menyebarkan Agaman Kristin dan sultan Ahmadul Mansyur Surajuddinpun wafat pada tahun 1856 M.

Hari yang penuh duka dan bersejarah bagi orang-orang papua yang menganut kristiani, perjuangan panjang yang dilakukan orang C.W. Ottow dan G.J. Gessller yang mendapat restu dari sultan/Jou Tidore Ahmadul Mansyur Surajuddin, memutusakan sebuah kebijakan dengan sikap kebijaksanaan pada tahun 1852 M (baca: laki-laki dari Tidore). Sikap sultan ini bukan sekedar ijin semata tetapi ini adalah titah yang melibatkan seluruh kekuasaan di kesultan Tidore, kemdudian misonaris ini dikawal dengan kekuataan sangaji gam range dengan persediaan fasilitas kora-kora yang lengkap untuk menganta ke 2 misonaris ke tanah papua.

Ke 2 misonaris dari Jerman C.W. Ottow dan G.J. Gessller untuk menyebarkan agama Kristin di Tanah Papua (atau dalam istilah bahasa Tidore ngili gulu-gulu). Sikapa tolerasi dan semangat pluralism di abat 19 sudah dibangun dan dijunjung tinggi, apala lagi sikap kebijaksanaan oleh seorang sultan (Otoritas kusas tertinggi daerah kesultanakn Tidore), tetapi ijin ini dengan bebarapa catatan tolerasin bahwa, ada bebarapa daerah Papua yang suda Islam pada 1520 M pada masa kejayaan Sultan Mansyur (Fakfak, Raja Amapat, Bintuni, Kaimana Dan Lingkaran Papua Gam Sio) tidak bisa diganggun secara keyakinan. Keputusan SultanAhmadul Mansyur Surajuddin (1821-1856), menyebutkan wilayah Manokwari sebagai tempat meraka menyebarkan ajaran injil adalah sikap yang toleran dalam beragama.

Patut dihormati karena ke-dua misonearis C.W. Ottow dan G.J. Gessller, memahami bahwa sanya daerah Papua merupakan wilayah kesultana Tidore, sehingga direferensi sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1852 M, mereka tiba di Tidore dan melaporkan niat mereka kepada sultan Tidore terkait dengan penyebaran agama. Keputusan sultan terkait dengan wilayah Manokwari sebagai salah satu wilayah yang bisa mereka sebarkan agama, Titaah sultan pun berlanjut untuk memerinthakan orang-orang kelustan mengantara C.W. Ottow dan G.J. Gessller (misonaris) dengan perahu kora-kora yang dimiliki pihak Kesultanan Tidore.

Tidore dan Papua tidak hanya itu, daerah Papua merupakan titik simpul perlawanan terhadapa Belanda yang dilakukan oleh Sultan Nuku. Pergerakan dan simpul solidaritas (ashabiayah) dibangun disana simpul kekuatan Key, Seram, Groom, Aru, Kaimana, Fakfak, Bintuni, Raja Ngairuha (R4), Simpul Papua Gam Sio, Sangaji Gam Range untuk kembali merebut Tidore dari pengaruh Belanda yang dimaknai dan simbol Revolusi Tidore/Nuku.Momentum ini pun diagendakan dalam Hari Jadi Tidore pada Akhir maret sampi dengan 12 April, dalam napak tilas pengambilalihan kekuasaan dan disakralkan dengan penyerahan panji (paji) dan ake dango (air suci).

Papua salah satu daerah kesultanan Tidore dan sampai sekarang ini Belum ada dekonstruksi sejarah mencoban untuk menunjukan sejarah baru dari hasil proses ilmiah, artinya ini belu terbantahkan. Fakta dan ojektifitas sejarah ini lah yang bisa menjadi argumentasi sakti Bung Karno dalam memperjuangkan Irian Jaya Barat di majelis PBB untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) dari tangan Belanda pada 1 Mei 1963. Perjungan Belanda dan sikap ambisius untuk memiliki dan memperoleh pendapatan sebesar-bearnya yaitu kekayaan minya dan gas bumi.

Logika perjuangan untuk merebut Papua dari tangan Belanda, jika kita sebutkan bahwa kalau bukan karena Papau masuk dalam catatan sejarah sebagai daerah kesultanan Tidore, maka Bung Karno akan habis argumerntasi rasionalnya. Diuntungkan karena Papua bagian dari pada daerah Kesultanan Tidore, sehingga argumentasi ini menjadi rasional diterima.Penunjukan langsung Presiden Soekarno kepada salah satu Sultan Tidore Zainail Abdin Syah (1947-1967) sebagai Gubernur pertama Irian Jaya Barat yang ber-Ibu Kota di Soasio Tidore.

Dua moemntuk sejarah bersara ini menjadi bagian dari pada perai sikap untuk mendesai keadaban, ini bukan sekedar perjuangan sahwat nafsu tetapi ini adalah bagian dari pada peluhuran nilai-nilai dan visi pembenaran dimuka bumi. 5 februari menjadi kemerdekaan kamanusiaan yang dimulai dengan rentan usian terpaut jauh tetapi itu semua bagian dari eternal sejraha keadaban manusia dengan momen yang sama. 5 Februari special untuk visi kedaban manusia. (***)

 

Penulis: Bustamin Wahid (Alumni HMI cab. Gorontalo & Warga Sorong Papua Barat)

WISUDA, SARJANA DAN ROMANTISME DI GORONTALO

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Oleh : Bustamin Wahid
Alumni FIS UNG dan Warga Sorong Papua Barat

Di kota mana saja punya cerita dan romantisme tiap episode. Kali ini kita bernostalgia dengan kota Gorontalo, banyak cerita dan cita-cita yang diimpikan disana. Dari proses kaderisasi kedaerahan/paguyuban (HIPMI-MALUT), ber-HMI, sampai pada berkenal dengan seorang sosok Basri Amin. Alumnus Dotor Leiden University ini banyak memberikan telaan dan diskursus intelektual baik dikampus dan di rumah limboto Gorontalo. Kehormatan bagi kami dia (Basri Amin) bukan sekedar kawan diskusi dan guru tetapi dia (Basri Amin) adalah lebih seorang kaka yang meletakan nilai-nilai kritis untuk mengelola potensi menjadi kompetensi. Universitas Negeri Gorontalo memcoba membangun peradaban manusia, dan risalah kemanusiaan akan terjadi dimana-mana.

Kampus, wisuda dan sarjana persis memiliki kekuatan ontologisme yang sangat kuat dan memiliki argumentasi rasional, Tak bisa kita pungkiri untuk melewati episode itu membutuhkan kekuatan rasional dan metarasional (doa dan keyakinan tinggi). Menjadi penting ketika narasi doxa ini bisa di pertegaskan dengan konsep tanpa menghukumi pandangan lain. Tradisi wisuda tidak bisa terlepas dari dunia kampus, sebab disinilah kita mempertegas corak pemikiran kita untuk berubah dan memiliki nilai lebih. Substansi pendidikan jelas sebagaimana ditegaskan oleh datuk Ibrahim Pendidikan itu mempertajam kecerdasan, memperkuat kemauan serta memperhalus perasaan.

Kampus tempat manusia mendesain proyek peradaban kemanusiaan, tempat rutinitas akademik, tempat pertapaan intelektual, kerajaan pemikiran, dan tempat orang melepaskan diri dari pakem kebodohon. Melepaskan diri dari pakem kebodohan, berarti memiliki makna perubahan atau yang dimaknai oleh Thomas Khun adalah normal sains. Penulis mengutip pendapat Basri Amin pada saat berdikusi di Jakartaa 13 januari 2013 silam, kampus adalah akumulasi perspektif dan akal sehat dalam merumuskan sebuah peradaban. Kampus yang mendesain peradaban kemanusian dengan menghasilkan sarjana yang berkualitas dan berdaya saing, momentum wisuda itu menjadi simbol yang menegasakan tentang kesarjanaan. Karakter ilmiah yang dibangun dengan dengan visi kebenaran. Tentu ini dicukupkan dengan kesiapan perpustakaan, karena perpustakaan adalah jantungnya kampus.

Kita tau bahwa momentum wisuda adalah simbol keadaban, dengan menggunakan jubah hitam dan toga berpersegi. Juba hitam identik dengan atribut sakral penuh duka, sedangkan toga yang dalam etimologi latin memiliki arti penutup, dan simbol persegi itu menegaskan bahwa tidak ada sikap individualistik dan mengedepankan wawasan yang universal dalam pandangan Mutharia ini adalah pandangan seorang intelektual. Sedangkan simbol pemindahan tali toga itu sendiri lebih kepada pergeseran paradigma berfikir dari seorang mahasiswa ke seorang sarjana, ada filosofi lain tentang pemindahan tali toga itu sendiri adalah pita pembatas buku. Makna praktisnya adalah sosok seorang sarjana itu harus bertanggungjawab untuk mempertahankan kesarjanaannya, dengan lebih banyak membaca, menulis dan menciptakan inovasi, kreatifitas, dan diharapkan sebagai pewaris pemimpin masa depan.

Perlu ditegaskan, pilihan warna hitam menjadi sangat sakral, mistik, misterius dan kedalaman ilmu. Mereka mendorong perubahan yang sudah dijanjikan mereka (sarjana) pada saat mahasiswa, Pandangan seorang sarjana itu sangat dibutuhkan di masyarakat karena mereka kembali dengan membawa kemampuan dan keahlian dalam bidangnya, dan ikhtiar menjaga kemampuan dengan lebih jauh menciptakan karya-karya dan inovasi baru.

Hukum sosial sudah memenjara kesadaran masyarakat, bahwa seorang sarjana adalah pasti memiliki kemampuan lebih dan bisa berbuat banyak hal dengan kekuatan alam pikirannya. Kekuatan akal sehat, inovasi, kreatifitas, idiologis dan menggerakkan itulah yang membuat mereka siap dengan diskursus sosial/realitas sosial yang terus berdinamis. Sarjana adalah orang yang memiliki pengetahuan, idiologi dan keyakinan tinggi itu semua didapat dari akumulasi proses panjang selama bertahun-tahun. Diskusi, debat, sarasehan, simposium, dialog menjadi bagian dari pada rutinitas kolokium di kampus.

Benturan, diskursif pemikiran pun dihidupkan dikampus. Dengan misi besar untuk membangun kaum intelektual (SDM), dan menjadi simbol keadaban, kampus konsisten untuk membina manusia baik dari aspek pemikiran dan spiritualitas. Konten ini jika kita tilik dari perspektif M. Foucoul, bagian kekuasaan dan dinasti pemikiran dalam institusi yang mencoba mendorong publik kepada fase dan faksi pencerahan. Dan memiliki ruang dan relasi pada institusi-institusi sosial.

Tridarma yang selalu digemborkan dan diwujudkan dalam laku nyata untuk seluruh perguruan tinggi memliki tiga hal penting, pembelajaran, penelitian dan pengabdian. Dentuman dan akumulasi pemikiran ini terjadi peristiwa perjumpaan pemikiran dan pandangan teologis dalam rutinitas kampus. Kampus yang membina begitu banyak mahasiswa/i dengan perbedaan identitas yang luar biasa, tetapi bisa menyatukan dan terintegrasi dengan suatu kekuatan intelektual. Ragam dan corak identitas tidak menjadi alasan perlawanan, musuh tetapi perbedaan identitas menjadi warna dan ragam dalam pemersatu. Itulah yang dimaknai oleh penulis sebagai; “rutinitas peradaban dan desain kemanusiaan”.

Bahagia perubahan, Hari ini, kamis 2 februari 2017 kelangsungan sidang senat terbuka atau rutinitas wisuda di Universitas Negrei Gorontalo (UNG). Kampus pelopor peradaban , dengan begitu banyak prestasi dan memiliki keterikatan relasi sosial dengan alumni yang begitu banyak. Hari ini aktifitas dan gerak gerik semua didominasi dengan menggunakan juba, toga dan proses pengambilan sumpah akan berlangsung dipimpin oleh rektor/pimpinan kampus. Kesakralan penuh duka, peserta wisuda berasal dari berbagai jurusan, kehadiran mereka di dampingi oleh orang tua, istri, sanak keluarga dan bahkan hanya di dampingi oleh seorang kakak/adik.

Cucuran air mata dan senyum bahagia terjadi dikampus. Tangis dan senyum menjadi simbol puncak dari perjuangan, ini adalah perubahan yang luar biasa dan sarjana akan diembankan dan diamanahi. Ketika predikat sarjana ini sudah menjadi sah, maka mereka akan di catat sebagai alumnus. Tetapi dengan bahagia, perubahan itu telah mengikat kalian (sarjana) dengan institusi atau almamater, ingatan kalian harus menjunjung tinggi almamater. Almamater (ibu susuan, dewi ibu, perawan maria ) merupakan ibu yang memberi, mengasuh dan membesarkan.

Jadi para sarjana berpegang teguh terhadap solidaritas (asabiah), dengan tetapi menjaga nama baik almamater. Sesungguhnya kampus adalah alarm besar yang selalu mengingatkan mahasiswa/I memabaca, diskusi dan menulis, karena membaca membuat kita berisi, diskusi membuat kita siap dan menulis mengikat ilmu pengetahuan. Ingat kita bukan hanya berdikusi tetapi bertindak itu jauh lebih baik, karena bahasa yang baik adalah tindakan. Diakhir tulisan ini penulis mengucapkan selamt atas Adikku Suhaimi Hasan dan seluruh wisudawan/I di Universitas Negeri Gorontalo. (***)

OJEK DAN POLITIK PANGKALAN; Catatan Akar Rumput Ojek Papua & Tidore

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid
(Pedagogik & Warga Sorong Papua Barat)

Menolehlah ke belakang untuk memastikan bahwa mereka selalu ada di belakang kita dengan berwajah harapan. [Yuliana. A]

Gambaran tulisan ini adalah hasil penginderaan realitas sosial politik dibeberapa daerah di wilayah timur Indonesia. Ada kerinduan dan kegelisahan untuk menjelaskan perjalanan peristiwa yang dipahami oleh kelompok ojek (transportasi umum/motor), tentu dalam penulisan ini tidak jauh menjelaskan secara mendalam tentang sosial-ekonomi tukang ojek itu sendiri tetapi lebih dari ojek dan politik pangkalan. Ojek menjadi bagian dari pada elemen yang berada pada pusat dinamisasi sosial yang terjadi, dinamisasi sosial ini menuntun kita manusia untuk selelu bertahan hidup dan harus dibeberkan perjalanan pengojek.

Kelakar ojek KNPI di bicarakan di Raja Ampat, saat temu pemuda Raja Ampat yang dipelopori oleh KNPI Raja Ampat yang dinakodai Fahmi Macap. Tentang ojek ada berbagai hasil riset, yang salah satunya hasil riset Basri Amin, tentang; Pemuda, Ojek dan Ruang Urban Di Ternate yang diterbitkan dalam bahasa Inggris di jurnal Asia Pasifik dengan 34 paragraf dan 13 halaman. Sebelumnya 2004 fenomena ojek ini diriset oleh Muhlis Hafel tentang Respon Terhadap Tuntutan Regulasi Ojek Yang Studi Kasus Di Kota Ternate sebagai syarat meraih Magister of Art di Universitas Gajah Mada. Hasil riset ini banyak memberikan kita pengetahuan tentang fenomena sosial dan kesenjangan ekonomi, dan kompleksitas pertarungan masyarakat kota menuntun orang untuk menyelamatkan kehidupannya dengan jalan ojek. Ojek menjadi prospek penting dan tidak memiliki prasyarat yang ribet dan pendidikan tinggi, cukup dengan skill dan keahlian dalam mengemudi sepeda motor dan mampu berada pada posisi budaya antri.

Di Tidore fenomena ojek menjadi salah satu kelas sosial baru dan kelompok sosial yang cukup solid yang terangkum dalam perilaku organisasi yang terorganisir. Simbol helm putih-merah menjadi identitas dan rompi bertuliskan ojek, pengojek di Tidore bermetamorfosa menjadi organisasi sosial yang dalam perjalanannya membantu dan mengawal proses pemerintahan di Kota Tidore. Di Sorong Papua Barat mungkin ojek menjadi pekerjaan yang alternatif bagi para pendatang, mereka berada di titik-titik pangkalannya masing-masing. pangkalan ojek ini memiliki anggota dan ditertibkan dengan budaya antri yang cukup tertib, artinya ada perhatian dan pembelajaran, ada nilai yang disepakati bersama oleh semua tukang ojek. Simbol yang sama di Sorong Papua Barat simbolisasi helm berwarna kuning adalah indetitas para ojek, hal yang sama seperti di ibu kota ada kemasan dan marketing bisnis transportasi yang direkayasa melalui teknologi seperti GO-JEK. Ada hal yang menjadi perbedaan ojek yang proses dan sistemnya masih bersifat manual mungkin unggul secara etos sosial, kebersamaan dan pemerataan pembagian penumpang karena sistem antri dipangkalan, sedangkan ojek online akses dan etos kerja dan profesionalisme.

Ojek & Politik Pangkalan
Dinamika politik bisa masuk dalam sendi sosial mana saja, dimana ada ruang dan celah maka senada kepentingan politik berada pada ruang itu. Afiliasi dan sosialisasi partai politik ini menjadi hal yang wajar dan secara kelas sosial pun bisa diklasifikasi dalam analisis politik, cukup fasih dijelaskan oleh Gabriel Almond tentang pentingnya memahami budaya politik karena ini menyangkut sikap dan pemahaman warga negara tertentu. Pusat pemahaman ini tak hanya sekedar seruan narasi semata tetapi hal ini menjadi pemahaman yang terintegrasi dengan identitas nasional, keyakinan, teras. Dalam konten politik ojek menjadi menarik karena ini salah satu kelompok sosial yang menjadi sasaran dan serbuan kepentingan politik.

Kekuataan ojek ini bisa dikomersialisasi menjadi kekuatan politik dalam kepentingan politik praktis. Dan bahkan tukang ojek menjadi salah satu komunitas sosial, salah satu titik incaran yang alhasil bisa membangun kontrak politik. Di beberapa daerah menjadi contoh tetapi Tidore menjadi referensi untuk mengungkap tentang politik ojek/politik pangkalan, setiap pangkalan ojek di Tidore senantiasa menyimbolkan dukungan kepada salah satu kepala daerah baik itu foto kandidat atau partai pengusung yang ada dipangkalan ojek masing-masing (dego-dego menggambarkan dukungan). Ada pengadaan-pengadaan fasilitas pangkalan yang pada umumnya terjadi seperti TV dan dana santunan kepada tukang ojek.

Hasil riset Basri Amin, menemukan kekuatan dan mobilisasi pengojek ini dimanfaatkan oleh elit lokal dalam mendongkrak popularitasnya sebagai seorang politisi. Pengakuan Rival Rahmi yang menyimpan memori salah satu seorang caleg anggota DPRD dari partai golkar dia menggunakan jasa ojek untuk menyebar stiker, kartu nama, spanduk selama pemilu legislatif 2009. (baca: Pemuda, ojek dan urban di Ternate).

Corak pemikiran pengojek ini kian berbeda secara personal, walau secara organisatoris ada dukungan politik. Tetapi ada beberapa tukang ojek berfikiran tentang bagaimana kualitas berpolitik kita ini harus baik dan berkualitas kedepan sehingga masyarakat kedepan menjadi sejahtera, namun ada pula kesadaran psimisme menjamur dan menggunakan pragmatisme sebagai dalil untuk menghendaki politik transaksional atau mengiyakan politik uang. Hasil riset prilaku politik di Sorong memberikan kita gambaran bahwa presentasi keinginan politik uang 78.12 persen (%), Karena terdapat beberapa responden yang bekerja sebagai tukang ojek yang menghendaki politik uang (money politic). Ini bukan serta merta kesalahan komunitas semata tetapi ini ada kesalahan secara struktural yang masif.

Pembacanya adalah selain pemerintah ada peran partai politik yang harus secara serius menanamkan nilai-nilai politik melalui pendidikan politiknya sehingga bisa mencerdaskan publik. Partai politik belum sepenuhnya melawan politik transaksional sebagai langkah untuk menciptakan proses politik yang demokratis. Masih dibeberapa daerah pengojek menjadi salah satu simpul untuk melakukan eksploitasi politik, ojek sebagai jasa yang siap dibayar untuk memobilisasi kekuatan politik baik itu dalam proses kompanye, konfoi politik dan festival politik diberbagai kandidat. Ini bagian partisipasi tetapi tidak diberikan instrumen pengetahuan yang baik sehingga memiliki pemahaman politik yang rasional. Artinya peran ojek seperti ini renggang dengan politik uang, indikator ini menjadi jelas sebab politik pangkalan pasti berada pada paradigma dan kode jika maka (one vote one money).

Ojek & Pejuang Pembaharu

Walaupun ojek belum memiliki regulasi secara baik sebagai bagian dari sarana transportasi publik yang baik sebagaimana yang dijelaskan oleh doctor Muhlis Hafel di atas. Tetapi ojek secara sosial menjadi transportasi yang kategori cepat dan simpel untuk digunakan apalagi jika kepentingan yang mendadak/memburu waktu untuk keperluan yang mendesak. Atau sebaliknya kepentingan transportasi ojek sebagai transportasi yang bisa mempermudah masyarakat terhindar dari kemacetan panjang di kota besar yang diperhadapkan atas masalah kemacetan yang panjang, bisa gesit, ruang yang padat. Lincah, cepat dan agresif kira-kira kita bisa menggambarkan seorang pengojek.

Ojek ini salah satu solusi alternatif sebagai peluang kerja/mata pencaharian untuk kepentingan ekonomi rumah tangga, apa lagi di kota yang padat ini jasa pengojek menjadi penting dan memiliki peran untuk mempermudah aktivitas publik, ojek bagian dari pada perjuangan untuk memenuhi kebutuhan dan menyelamatan sebuah cita-cita besar. Ojek melahirkan sarjana, ojek menyelamatkan kesenjangan ekonomi sosial, ojek menyelamatkan kemiskinan, ojek menyelamatkan kelaparan, ojek menyelamatkan kebodohan, ojek menciptakan sumber daya manusia, ojek menyelamatkan titik akses yang jauh. Masih banyak lagi perjuangan ojek untuk mendorong pembangunan.

Kita diberikan sajian sejarah perubahan paradigma ojek yang ada di kota kembang, yang dibantu oleh aktivis perempuan di kota kembang, tukang ojek diberdayakan kesadarannya melalui penyiapan fasilitas perpustakaan mini. Perpustakaan mini dipangkalan ojek ini sangat membantu daya baca yang berefek kepada peningkatan tingkat pengetahuan dan melek huruf. Ini adalah realitas kesadaran baru, bahwasanya ojek juga bisa berada pada dimensi perubahan. Perjumpaan ojek ini bukan sekedar kumpulan yang berkepentingan profit semata tetapi sangat berefek kepada keakraban, kebersamaan, perhatian, mengakui kedaulatan individu dan solidaritas.

Diparagraf sebelumnya penulis menyebutkan tentang ojek mencetak sarjana-sarjana. Di sudut kampus Universitas Muhammadiyah Sorong ada pangkalan ojek. di pangkalan ini ada beberapa ojek senior memliki prestasi tersendiri, anak-anak mereka bisa disekolahkan sampai pada jenjang sarjana hanya bermodal pendapatan jasa ojek. Ada beberapa mahasiswa yang memanfaatkan jasa ojek sebagai pencaharian untuk menunjang perkuliahan mereka. Rasa sanjung kita kepada sosok PHS (insial) mahasiswa English Departement of Muhammadiyah University of Sorong untuk mendapat predikat sarjananya dia berjuang dengan pemanfaatan jasa ojeknya. Banyak orang yang risih pada pekerjaan ini tetapi ini mulia dan membebaskan.

Menurut Bung Sofi, kami ojek bekerja secara baik/profesional menciptakan penumpang nyaman, aman dan damai diatas motor ojek kami. Kami ojek bisa berpendapatan 3 juta-an/bulan jika kami rajin. Ini sangat bisa membantu anak-anak kami untuk bersekolah. Dulu sarjana banyak ber-ojek sebagai mata pencaharian untuk transisi mencari pekerjaan sesuai dengan keahlian akademiknya. Sofi juga mengatakan bahwa dulu pegawai negeri juga beraktifitas sebagai tukang ojek dimalam hari untuk mencari tambahan kebutuhan rumah tangganya tetapi sekarang mulai berkurang. (wawancara ketua ojek Tidore, tanggal 2 November 2016).

Ada nilai yang dimiliki sebagai pengojek, selain menyelamatkan sosial-ekonomi bisa membantu dan mendorong pertumbuhan pembangunan. Dimana letak mendorong pembangunan yang dimaksudkan oleh penulis adalah bisa membantu biaya pendidikan, biaya kesehatan keluarga dari dana sehat yang dikumpulkan oleh pengojek di Tidore. Di Waisai (Raja Ampat) pangkalan ojek di pelabuhan Waisai, butuh gagasan besar untuk mengurai hal positif sebagai pengojek menjadi jasa transportasi yang berwawasan pariwisata paling tidak diberdayakan dan di manfaatkan oleh pengojek sebagai pewarta parawisata Raja Ampat.

Pengojek bisa menjadi mitra pemerintah yang baik karena, gesit, afiliasi dan lincah sebagai aktivitas tinggi mereka dalam melayani. Di waisai pengojek darat bisa dikemas dalam desain sebagai jasa transporatasi di daerah pariwisata, tentu tak kalah penting pengojek perahu harus didesain dan boboti dengan pendekatan kearifan lokal. (***)

Pengembangan Raja Ampat, Mengungkap Ide-Ide Membangun Tanpa Prasangka

Bustamin Wahid saat berada di Raja Ampat (Foto Ist)

Bustamin Wahid saat berada di Raja Ampat (Foto Ist)

Oleh Bustamin Wahid

(Pedagogik di Universitas Muhammadiyah Sorong Direktur Pasifik Resources Indonesia & Peneliti AFU Center)

Jangan pernah bertanya siapa kami, dan Jangan pernah malarang kami untuk berubah. [Foucault] Dunia sudah cukup banyak berbicara tentang kita “Raja Ampat” dan saatnya kita berbicara banyak kepada dunia. Idiom-idiom ini bukan kata bermakna tinggi, filosofi, dan bernada puitis tetapi hanya kerinduan untuk melihat prestasi Raja Ampat kedepan.

Bicara tentang Raja Ampat (Raja Ngairuha) tak habis-habis kita mengeluarkan napas panjang karena pujian tentang surgeakecil yang memanjakan pengindraan. Tak bisa berkata-kata kita hanya berdoa surga kecil ini menjadi langkah doa kita untuk berbuat kebaikan. Kunfayakun yang kuasa menciptakan fatamorgana dan surga-surga kecil di tanah Papua, bibir-bibir pantai yang ditaburi putihnya butir-butir pasir dengan debur-debur ombak yang memanjakan imajinasi. Berfikir dan berfikir lagi, indahnya luar biasa. Ikan-ikan begitu jinaknya dan mau bersapa dengan manusia.

Begitu bersahabatnya alam ini, kita dimanjakan dengan hamparan pulau-pulau kecil, homestay menyisir bibir pantai, perahu-perahu kecil para nelayan menggait rezeki, orang-orang menghabiskan waktu senggang dan dijadikan cerita hidup. Raja Ampat sanggup menyuguhi orang-orang tempat untuk menceritakan sejarah perjalananya, keindahan Raja Ampat membuat pengunjung yang beriman untuk berimajinasi tentang alam surga. Saya butuh mengartikulasikan tema-tema diatas sehingga mempertegas tafsir penulisan ini. Khazanah tema tersebut mengandung makna filosofis, penulis terpola dengan pemikiran eksistensialisme Prancis J.P. Satres yang mengilhami gagasan fenomenologi sebagai dasar konstruksi eksistensialisme.

Ketegasan fenomenologi, jika pada kutub makna adalah “sesuatu yang tampak” atau sesuatu yang tampak ini adalah penampakan sebagaimana adanya, yakni segala sesuatu yang benar-benar jelas dihadapan kita. Ini dasar filosofis untuk menyerap adab yang masyarakat rasakan, hal yang penting dalam menjelaskan kepemimpinan dan pusat pengambilan kebijakan baik dari pusat maupun daerah yang terpenting adalah rakyat merasakan efek dari kebijakan pembangunan itu sendiri. Sehingga apa yang publik rasakan dan publik nikmati, maka yang tercipta adalah kebijakan tanpa prasangka, dasar berbuat tanpa prasangka.

Bagaimana dengan Raja Ampat…? Sudah menjadi kesadaran sejarah politik kekuasaan, jika Bung Karno sendiri berpesan tentang jika ada kepemimpinan ditangan kita maka kita harus pastikan pemikiran orang-orang diseberang kita,hanya ada dua kata: pujian dan prasangka. Meretas ide-ide menjadi penting dan wajib sebagai perwujudan cita-cita kepemimpinan seorang pemimpin, berhukum wajib seorang pemimpin berbuat untuk daerah dari hasil akumulasi masukan dari tingkatan RT-sampai dengan yang tertinggi (partisipasi musrembang). Karena pemimpin yang baik dan bijak adalah pemimpin yang menjawab apa yang rakyat mau dan inginkan. Berjalannya waktu, usia semakin bertambah semakin berada pada titik peremajaan.

Daerah yang berusia remaja, tentu banyak ide-ide yang tersimpan dalam memori untuk membangun. Apa lagi Raja Ampat banyak dibicarakan oleh dunia, dengan alasan bahwa Raja Ampat ditaburi surga-surga. Pulau-pulau yang dimiliki dengan indahnya pantai, bebatuaan, pasir, biota-biota laut dan warna langit yang membantu mempercantik indahnya alam Raja Ampat, dan kita menyadari itu pemberian dari yang tauhid. Raja Ampat bukan milik orang yang berdomisili di Raja Ampat semata, tetapi kecintaan masyarakat dunia terhadap Raja Ampat adalah representasi kesadaran bahwa Raja Ampat dimiliki dunia. Raja Ampat berada dalam pelukan romantis industri pariwisata besar, laut-laut dihuni ribuan juta spesis-spesis ikan, alamnya memanjakan pengindraan kita, laut-lautnya telah terapung,kapal-kapal pesiar yang memanjakan mata.

Kita tidak bicara evaluasi pemerintahan pada kesempatan ini. Tetapi menjadi penting ada beberapa ide dasar yang telah diretas oleh seorang Bapak Bupati (Abdul Faris Umlati/AFU). Kemuliaan seorang pemimpin adalah dia bisa membuat sejarah untuk rakyat dan daerahnya, kita pinjam pendapatnya Thomas Carlyle, orang besar itu adalah orang yang bisa menciptakan sejarah dan orang yang dituliskan dalam sejarah. Raja Ampat pada kempimpinan Bapak Abdul Faris Umlati, akan kita jumpa dengan gagasan besarnya; GEMPAR EMAS (Gerakan Membangun Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat) . Itu menjadi titik sintrum kebijakan yang tidak lain adalah berdasarkan pada potensi dan sumber daya alam yang dimiliki daerah.

Pembangunan dasar jalan, jembatan, listrik dan infrastruktur lain dibangun untuk mewujudkan cita-cita bersama. Raja Ampat adalah daerah kepulauan dan berada pada titik daerah dengan legitimasi adat/pemahaman hak ulayat yang sangat kuat, juga kekhususan Papua memberikan porsi adat dalam ruang publik politik dalam mekanisme berdemokrasi. Hal ini juga adalah kondisi di Raja Ampat yang cukup rumit dan menghabiskan banyak waktu dan materi, karena akses. Raja Ampat harus diberikan porsi perhatian yang lebih dan dimanjakan untuk kedepan lebih baik, hal ini didukung dengan gagasan besar yang dibangun seorang Bupati (Abdul Faris Umlati). Kebijakan yang Kun Faya Kun.

Masyarakat Raja Ampat tahu persis akan ada prestasi yang dilakukan, terlebih infrastruktur, kepercayaan rakyat untuk terus mendukung Bapak Bupati (Abdul Faris Umlati) menyulap Raja Ampat menjadi surga dunia. Sulaplah Raja Ampat dengan kekuatan kun faya kun dan jadikanlah Raja Mapat menjadi istana pulau, sejuk sosial, masyarakat ramah, dan ramah lingkungan. Kebijakan yang kun faya kun, jadi maka jadilah: ini adalah cita-cita untuk menggapai sebuah titik peradaban. Menurut penulis tantangan besar dalam sebuah kebijakan pembangunan adalah pembangunan yang tetap ramah terhadap masyarakat dan ramah lingkungan.

Walau tau persis bahwa penggusuran pemukiman warga tidak mungkin akan terjadi, atau jika relokasi sebagai desain tata ruang mungkin itu berada pada rel dan jalur yang bijak. Konten ini kenapa disinggung, karena sebuah kekuatan industrialiasi semakin besar potensi penggusuran itu akan semakin tinggi,mungkin kasus ini lebih tepat untuk Jakarta dan kota besar lainya. Kita syukuri kebijakan Raja Ampat terang sinergis dengan apa yang mau diperbuat dengan Presiden Jokowi tentang Indonesia terang di 5 wilayah Indonesia termausk Papua. Merindukan satu saat nanti pesawat-pesawat komersil berkapasitas besar mendarat di Waisai.

Ini juga sebagian upaya untuk memperpendek akses wisatawan, baik wisatawan asing dan domestik untuk menyapa dan berkunjung di bumi Raja Ampat. Kebijakan pembangunan yang serius dan mengukur nilai peradaban semata. karena sesungguhnya peradaban bukan sekedar mengukur ukuran gedung yang banyak, gedung yang mewah dan gedung yang melangit. Syahdu jikala kita melihat peradaban dibangun dari kekuatan sumber daya manusia. Bukan saja kita harus mencetak 100 profesor sebagai mitra berfikir untuk daerah tetapi langkah dan tahapan untuk membangun peradaban dengan pendidikan gratis dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK dan kesehatan gratis cukup menjawab problem masyarakat.

Kebijakan Bapak Bupati Abdul Faris Umlati, tentu itu dilandasi dari pandangan dunia yang universal dari akumulasi ide, gagasan, konsep dan cita-cita besarnya untuk membangun Raja Ampat. Setiap kebijakan selalu berada pada nilai-nilai Dinamyc Governance kebijakan pemerintah yang paham beradaptif terhadap dimensi perubahan. Kebijakan berdimensi perubahan kedepan masih banyak dirindukan dan menanti berkembang pesat. Setahun sudah menghampiri kepemimpinan Abdul Faris Umlati (AFU), banyak rumusan yang dilakukan dengan mempertimbangkan masukan yang rasional, membangun dan objektif. Ini gambaran pemimpin yang dijadikan pengetahuan sebagai instrumen dan metode, ada harapan karena nilai tertinggi pada ilmu pengetahuan adalah bisa mengurangi dan menyelesaikan sebuah masalah yang dihadapai masyarakat.

Nilai kearifan lokal, masyarakat adat dibibir-bibir pulau. Mereka bukan sebagai residu peradaban semata, tetapi mereka menjadi kuliminasi kebijakan. Kebijakan geo-ekonomi, geo-politik, geo-kesejahteraan dan geo-sains. Daerah kepulauan yang pada dasarnya belum terbantukan dengan fasilitas dasar yang memadai, maka ini menjadi ketidakseimbangan dalam mengukur Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Karena distribusi pembangunan harus betul-betul merata, dan rakyat merasa adil dalam kebijakan. Kesadaran masyarakat menjadi simpul penting untuk berada pada nilai-nilai perubahan.

Keseriusan untuk membangun Raja Ampat, Bupati menyambut baik tentang gagasan dunia penanaman Gong Perdamaian Dunia (GPD) di tahun 2017 oleh Presiden Perdamaian Dunia Bapak Djuyoto Suntani. Agenda dunia ini menjadikan Raja Ampat sebagai kuliminasi dan akumulasi nilai-nilai peradaban tinggi. Penting membangun peradaban senantiasa berfikir pada kutub kritis, sehingga rasionalitas kita kerja bukan hubungan emosional semata. Sehingga Pemimpin, pendukung, relawan, dambaan, pengikut, loyalitas bisa menyelamatkan tuduhan dan prasangka publik. (***)

iklan1