Tag: CEP

Tak Mau Jumawa, OLLY: Kerja Kami Diapresiasi Masyarakat Sulut

Gubernur Olly dan Wakil Gubernur Steven (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Makin dekat pemilihan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), elektabilitas pasangan calon (paslon) Olly Dondokambey-Steven Kandouw makin menanjak. Jauh di atas dua paslon lain pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut). Sesuai hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, elektabilitas Olly-Steven mencapai 68,1 persen.

Sementara elektabilitas Christiany Eugenia Paruntu-Sehan Salim Landjar (Cep-Sehan) sebesar 16,9 persen, dan Vonny A Panambunan-Hendry Runtuwene (VAP-Hendry) sebanyak 7,2 persen. Olly mengatakan hasil survei itu merupakan apresiasi masyarakat atas kinerjanya dan Steven.

“Survei yang memperlihatkan tingginya dukungan masyarakat merupakan indikasi kalau kerja kami memang diapresiasi masyarakat Sulut,” kata Olly dalam keterangannya, Senin (14/9/2020).

Olly menegaskan, sejak dipercaya masyarakat pada Pilgub Sulut 2015, prinsip utama yang dijalankan yakni terus bekerja.

“Prinsip saya dan Steven adalah kerja, kerja, kerja. Kami bukan mencari popularitas atau elektabilitas. Kami inginkan selalu agar bagaimana membawa Sulut menjadi lebih hebat dan lebih maju,” ujar Bendahara Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) tersebut.

Menurut Olly, pemungutan suara Pilgub Sulut akan digelar pada 9 Desember 2020 sama dengan sejumlah daerah lain pada Pilkada serentak 2020. Olly menganggap dua paslon lain juga hebat. Karena itu, Olly tidak mau bersikap tinggi hati. “Jalan masih panjang. Kita tak boleh takabur. Kita anggap semua lawan itu hebat,” ucap mantan anggota DPR ini.

Survei

LSI bertema “Tiga Bulan Jelang Pilkada Sulut, Kekuatan Para Kandidat di Enam Kantong Pemilih Penting, Sebelum Masa Kampanye” digelar pada 22-29 Agustus 2020. Jumlah responden sebanyak 800 orang. Survei dilakukan di seluruh kabupaten/kota di Sulut dengan metode multistage random samping. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan kuesioner. Margin of error survei 3,5 persen. Selain survei, LSI Denny JA juga melakukan riset kualitatif dengan metode focus group discussion (FGD), analisis media, dan indepth interview untuk memperkaya analisa survei. “Dengan unggul di atas 40 persen, maka pasangan Olly-Steven berpeluang menang,” kata peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman.

Keunggulan pasangan Olly-Steven terhadap CEP-Sehan dan VAP-Hendry didasari oleh keunggulan pada kantong-kantong pemilih penting. Kantong pertama yang penting adalah pemilih kaum perempuan dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Pada pemilih perempuan, Olly-Steven unggul sebesar 69 persen, CEP-Sehan 13 persen VAP-Hendry 10 persen. Sementara di kalangan ibu rumah tangga, elektabilitas Olly-Steven mencapai 71 persen, CEP-Sehan 13,6 persen, dan VAP-Hendry 7,7 persen.

Kantong kedua yakni pemilih protestan. Basis pemilih populasi ini paling besar (64 persen). Dalam pertarungan yang mengikutsertakan tiga kontestan, perebutan segmen ini menjadi penting. Survei LSI menunjukkan bahwa Olly-Steven masih unggul di kantong pemilih protestan. Dukungan terhadap Olly-Steven pada segmen pemilih ini mencapai 69,5 persen, CEP-Sehan 12 persen, dan VAP-Hendry 11,2 persen.

Kantong ketiga ialah pemilih muslim. Basis pemilih pada populasi ini mencapai 30,4 persen. Meski satu dari tiga kandidat memiliki pasangan beragama muslim, tetapi potret elektabilitas pemilih muslim cenderung tidak terasosiasi secara linier. Survei LSI menunjukkan bahwa Olly-Steven masih unggul di kantong pemilih beragama Islam. Dukungan terhadap Olly-Steven pada segmen pemilih ini mencapai 67,6 persen, CEP-Sehan 19 persen, dan VAP-Hendry 5,5 persen.

“Di kantong pemilih milenial, Olly-Steven juga unggul, yakni mencapai 70,3 persen, CEP-Sehan 15,6 persen, dan VAP-Hendry sebesar 5,5 persen,” ujar Ikrama.

(*/Bung Amas)

Pendukung Imba Sebut Golkar Sulut Penghianat, Tetty Paruntu Langsung Berkomentar

Imba dan istri tercinta bertemu Olly Dondokambey yang juga Gubernur Sulut (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Munculnya kekecewaan, penyesalan dan bahkan tudingan adanya penghianatan dari kubu pendukung bakal calon Jimmy Rimba Rogi atau yang akrab disapa Imba begitu mewarnai jagat maya. Bahkan, tak hanya di Medsos saja, sejumlah pendukung Imba meluapkan kekesalannya melalui tulisan ucapan. Sebagian yang lain mereka memberi warning kepada Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Christiany Eugenia Paruntu (CEP).

CEP atau Tetty Paruntu dinilai paling bertanggung jawab atas tidak dikeluarkannya dukungan Partai Golkar terhadap Imba yang notabenenya sebagai kader asli Beringin Kota Manado untuk maju dalam kontestasi Pilwako Manado 2020. Postingan status yang bernada tidak mendukung CEP sebagai calon Gubernur Sulut juga menguat di Medsos. Menariknya, ucapan turut berduka cita atas penghianatan Partai Golkar Sulut dibuat pendukung dan simpatisan Imba.

Ucapan berduka cita dari pendukung Imba (Foto Istimewa)

Bahkan Imba bersama istri juga dalam postingan foto yang beredar telah bertemu Olly Dondokambey, yang adalah calon Gubernur Sulut dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Menanggapi hal tersebut, Tetty Paruntu memberi bantahan. Menurutnya pihaknya telah memberikan kesempatan kepada Imba untuk mencari partai pendukung, tapi belum berhasil memanfaatkan kesempatan memperoleh partai pendukung.

”Jangan salahkan Partai Golkar kalau paslonnya tidak bisa mendapat partai pendukung. Kami sudah memberi kesempatan kepada Pak Imba untuk mencari partai pendukung. Ternyata tidak bisa mendapatkan partai pendukung,” kata Tetty Paruntu, pada Suluttoday.com, Jumat (4/9/2020).

(*/Bung Amas)

LSI: Petahana Masih Perkasa, Olly Bagai Matahari Tunggal

Berlangsungnya pemaparan data Survei LSI (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Diprediksi peluang petahana merebut kembali kursi Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) pada Pilkada Serentak, Rabu 9 Desember 2020 berlangsung tanpa beban berat. Dimana hajatan akbar demokrasi 5 (lima) tahunan yang akan dihelat nantinya penuh dengan kontestasi. Ada beberapa kontestan yang berlaga dalam Pilgub Provinsi Sulut dipastikan saling merebut kekuatan antara penantang dan calon petahana.

Berdasarkan Survei Konsultan Citra Indonesia (KCI) Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Minggu (9/8/2020) yang disampaikan Peneliti Senior LSI, Ikrama Masloman dalam konferensi pers di Hotel Aston Kota Manado memaparkan bahwa peluang Olly Dondokabey (OD) selaku Gubernur Sulut dalam Pilgub 2020, sebagai petahana relatif kuat. Dimana perolehan hasil survei menempatkan elektabilitas petahana di atas 60%.

‘’Dari aneka data yang ditemukan dalam survei, posisi petahana dalam kontestasi Pilgub Sulawesi Utara begitu perkasa. Capaian di atas 60% elektabilitas bagi petahana itu dalam kalkulasi elektoral cukup kuat. Barisan para penantang suaranya di bawah 10%, artinya daya dongkrak penantang belum kuat. Dengan tersisa 5 bulan jelang pencoblosan, maka para penantang masih punya peluang mendongkrak elektabilitas mereka,’’ ujar Ikrama, jebolan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini.

Tak hanya itu, LSI juga menyampaikan hasilnya yang dihimpun melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner, survei yang dilakukan dengan margin of error 3,5% itu melansir, dimana ketika ada tsunami politik barulah petahana dapat dikalahkan. Bila dinamika politik berlangsung secara normal, tak ada insidentil atau semacam ledakan politik yang drastik, hal bisa berpeluang mempengaruhi kemenangan petahana.

‘’Jarak petahana elektabilitas dan penantang di Pilgub Sulut masih jauh. Belum lagi posisi strong supporting (pendukung yang kuat/militan) yang menjadi nilai lebih dari petahana. Kita juga menemukan presisi, dimana masyarakat saat ditanya keterkenalan figur, kesukaan terhadap nama-nama figur yang disodorkan menghasilkan keberadaan petahana masih terlampau kuat. Kecuali ada blunder politik yang maha dahsyat, barulah posisi petahana terkalahkan,’’ kata Ikrama di hadapan wartawan.

Peneliti yang dikenal kalem, tampil dengan analisis yang tajam di media Televisi Nasional itu mengakui bahwa masa militant semua figur bakal calon Gubernur Sulut ada dalam tiap segmen pemilih. Namun, ketika dikomparasikan dan dipadukan, posisi petahana masih dominan. Banyak pemilih, tambahnya yang menghendaki OD melanjutkan lagi kepemimpinan sebagai Gubernur Sulut 2 (dua) periode dengan alasan yang bervariasi.

Ikrama Masloman saat diwawancarai wartawan (Foto Suluttoday.com)

‘’Yang jadi ladang rebutan suara adalah pada masa pemilih mengambang atau swing voters. Kemudian, elektabilitas yang tinggi bagi petahana kebanyakan disumbangkan dari kepuasan, keberhasilan program dan implementasi kebijakan yang berhasil dilaksanakannya. Kebanyakan masyarakat dari hasil survei kita, saat ditanya mereka puas dengan kinerja petahana,’’ tutur Ikrama tegas.

Selain itu, Survei LSI Denny JA yang dilakukan di Sulut pada bulan April 2020 ini melibatkan 800 responden, survei dilakukan dengan sample di seluruh Kabupaten/Kota se-Sulut menyebutkan kekuatan petahana dengan atribusi program dan capaian yang telah dilakukan menjadi salah satu kekuatan mendongkrak elektabilitas OD. Seperti dipaparkan Ikrama, dimana tergambar dari elektabilitas para bakal calon Gubernur, petahana didukung sebesar 62%, posisi selanjutnya Christiany Eugenia Paruntu (CEP), 9,3%. Kemudian, ada Elly Engelbert Lasut (E2L) mendapat dukungan sebesar 6,7%, GS Vicky Lumentut (GSVL) 4,5%, Vonny Anneke Panambunan (VAP) 3,3%, setelahnya Stefanus Vreeke Runtu (SVR) 0,3%, dan mereka yang belum menentukan pilihan sebesar 13,9%.

(*/Bung Amas)

Koalisi CEP-SSL di Sulut, Tanda Warning Bagi Petahana

Menguatnya CEP SSL (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Petahana Olly Dondokambey, SE, yang akan bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut), harus meningkatkan kewaspadaannya. OD begitu Gubernur Sulut saat ini akrab disapa berpotensi merubah skenario politiknya. Bila Sehan Salim Landjar (SSL) bersekukuh menjadi calon Wakil Gubernur Sulut mendampingi Cristiyani Eugenia Paruntu (CEP). Kekuatan representasi wilayah, identitas suku agama dan antar golongan juga masih kental dalam praktek politik kita di daerah ini. Hal tersebut turut menguatkan posisi CEP-SSL.

Irisan dan perpaduan kekuatan CEP yang adalah Bupati Minahasa Selatan 2 periode ditambah SSL, Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim) memberi isyarat kuat bahwa CEP-SSL menjadi kompetitor kuat OD-SK. Pilihan yang boleh juga diambil OD yakni menggantikan Steven Kandouw (SK) sebagai calon Wakil Gubernur mendampinya. Probabilitas itu dapat menyumbangkan pengaruh besar dalam sisi elektoral. Pada konteks kemasan isu demokrasi akomodatif, CEP-SSL lebih diuntungkan.

Gambaran lain betapa berpengaruhnya bangunan koalisi ECP-SSL atau Golkar-PAN terbaca dengan belum keluarnya SK rekomendasi dari DPP PDI Perjuangan di Kabupaten Boltim. Potensinya, berpeluang anak tersayang SSL yakni Amalia Landjar menjadi pertimbangan untuk didukung PDI Perjuangan. Selain popularitas dan elektabilitas Ketua DPD KNPI Boltim (Amalia) juga ditopang bargaining politik SSL membuat Olly Dondokambey harus berfikir keras untuk menang di Pilkada Serentak 2020.

CEP-SSL juga mewakili isu-isu gender yang strategis dijual ke konstituen. Tidak hanya itu, CEP yang perempuan memiliki kans merubah ‘mitos’ politik bahwa perempuan di Sulut belum pernah atau tak akan menjadi Gubernur sama sekali. Iklim politik yang terbangun menempatkan CEP dalam pusaran tantangan yang tidak mudah. Selanjutnya juga pada tahapan berikut memberi peluang pada CEP guna melakukan pembaharuan di daerah nyiur melambai tercintai.

Kedatangan SSL mendampingi CEP memberi akselerasi kepada CEP untuk meraih kerinduan warga Sulut tentang Gubernur Sulut perempuan. Belum lagi kesadaran berpolitik kita di daerah yang yang terhadap politik diskriminasi. Menurut pandangan umumnya, politik adalah soal kesetaraan dan keadilan. Kepemimpinan publik di era demokrasi bukan saja layak ditempati kaum laki-laki. Melainkan, perempuan seperti CEP punya peluang yang sama menjadi Gubernur seperti laki-laki.

Kombinasi kekuatan Minahasa tambah Bolmong Raya dan Gorontalo, di tambah membuat power CEP-SSL beberapa tingkat lebih tinggi levelnya ketimbang OD-SK. Perang isu terkait hal tersebut memang tak bisa diabaikan. Lain soalnya tentang saling membentur-benturkan isu SARA, konteks yang dijelaskan ini bukan pada ranah itu. Melainkan menyemangati dan menghidupkan sentimen primordial yang positif konstruktif. Bukan mengajak pemilih untuk saling berkonflik kepentingan.

Lebih dari itu, CEP-SSL menjadi solusi dalam menarik kekusutan dan ketimpangan struktur sosial yang selama ini begitu dieksploitasi secara sektarian dalam praktek politik. Semangat positif, saling mengajak dan mendukung antara sesama, baik itu sesama internal suku, agama ras dan antara golongan diperlukan dalam konsolidasi demokrasi. Jangan membawahnya dalam ruang pertentangan yang memicu konflik.

Politik simbolik memang bukan hal baru lagi saat ini. Justru simbolisasi politik itulah yang sering dipangkas magknanya, sehingga lebih ditafsir secara negatif dan destruktif. Lantas aktualisasinya di lapangan menjadi bencana bagi persatuan dan kesatuan nasional, padahal tidak seperti itu harusnya. Sentimen politik simbolik atau politik identitas, keterwakilan wilayah dan sebagainya ditata rapi, dimaksudkan meningkatkan kesadaran kolektif. Saling memberi kesejukan, menguatkan agar lebih mudah dalam kerja-kerja sosial, meningkatkan cita-cita bersama secara berkelanjutan. Itu poinnya.

Jangan menarik atau merendahkan, mendistorsi politik simbolik dalam penjara pikiran yang kotor dan culas. Politik simbolik harus dipandangan dalam perspektif yang membangun, positif. Karena semua kehidupan ini simbolik (berlabel), sebagai penanda. Sehingga kita tidak dapat lepas dari makna-makna simbolik tersebut. CEP-SSL berada diposisi strategis menarik, menjembatani semua komunitas-komunitas masyarakat untuk hidup rukum, damai, saling menghormati, tanpa saling mendiskreditkan antara sesama masyarakat.

Tak ada masyarakat di daerah ini yang nanti merasa berada dalam level nomor 2 atau nomor 3 dan seterusnya. Tapi keberadaannya secara sosial adalah sama, setara. Itu sebabnya, OD punya kesempatan menimbang ulang keberadaan SK. Boleh jadi OD mengambil Wakilnya dari kalangan agamawan atau politisi, bisa juga Ketua MUI Sulut, Ketua NU Sulut, Ketua Sinode GMIM, Ketua Syarikat Islam, atau Andrei Angouw dari kalangan politisi pengusaha. Pilihan berada di tangan OD, dirinya harus berfikir matang dan selektif dalam menghadapi CEP-SSL.

Elemen urgen yang perlu diperhitungkan lagi OD yakni CEP-SSL punya rekam jejak memimpin yang teruji. Mereka berdua sukses membangun daerahnya masing-masing selama 2 periode, punya basis dukungan yang luas juga spesifik (pendukung militant). CEP dan SSL menjadi miniatur keberagaman di Sulut. Selebihnya, CEP maupun SSL Ketua parpol di tingkat Provinsi yang punya pasukan di tiap Kabupaten/Kota. Untuk memobilisasi kekuatan, bagi mereka berdua hal yang kecil dilakukan. Koalisi CEP-SSL bagai alarm pengingat terhadap OD.

CEP dan SSL (Foto Istimewa)

Mengingatkan OD dalam keyakinan politiknya bahwa harus melanjutkan bersama SK atau mengocok ulang posisi SK. Boleh dibilang ini pergumulan politik bagi OD selama karir politiknya yang sukses dibangun. Salah memilih Wakilnya, maka bersiaplah OD menjemput kekalahan. Peta politik yang tersaji, sebagiannya masih samar-samar membuat OD harus komprehensif melakukan pertimbangan dari bacaan situasi di lapangan. CEP-SSL dua sosok politisi yang handal, politisi senior yang berwawasan nasionalis, saling melengkapi kekuatan kelemahan.

Quo vadis Olly Dondokambey?

Selepas Partai Golkar dan PAN mengeluarkan rekomendasi terhadap CEP-SSL, Olly Dondokambey harus selamatkan posisinya agar menang di pertarungan Pilgub Sulut, Rabu 9 Desember 2020 mendatang. Bukan ‘kaleng-kaleng’ rival Olly kali ini cukup menghawatirkan. Akan mengancam kemenangannya sebagai Gubernur Sulut 2 periode. Konstalasi politik seperti ini membuat OD dilema dan terhimpit. Politisi kawakan ini butuh kekuatan solid dan siap bertarung, jangan sampai ada yang menggembosi kekuatannya dari dalam.

Peluang dan tantangan OD yaitu dalam membaca ulang data-data survey potensi kemenangan dirinya. Dalam politik ada presisi dan probabilitas kekuatan yang harus diperhitungkan para politisi, OD tentu teliti membaca hal-hal tersebut. Ketika teliti dan cermat tentunya dirinya tidak asal-asalan mengambil keputusan. Yang bermain di benak OD adalah dirinya harus menang. Dari kekuatan personal, OD cukup kuat, harus ditambah dengan keberadaan calon Wakil Gubernur yang menjadi nilai tambah bagi dirinya. Ketika faktor itu diabaikan, maka Pilkada Serentak di musim pandemic COVID-19 akan menjadi mimpi buruk kelak bagi OD. Alhasil sepanjang sejarahnya memulai berpolitik, kali ini OD meleset meraih target. Ketenangan OD kini diuji dengan hadirnya CEP-SSL.

Peluang lain yang harus dihadirkan OD selain mengganti SK yaitu melahirkan opsi poros koalisi baru. Ketika Pilgub Sulut melahirkan 4 pasangan calon, maka OD berpeluang menang. Konstalasinya malah alot dan tidak menguntungkan OD, jika terjadi head to head OD-SK vs CEP-SSL. Berarti tugas OD adalah melahirkan calon boneka untuk meramaikan kontestasi Pilgub Sulut. Atau OD perlu lagi membangun sekutu yang kuat dalam game politik kali ini.

Selain menambah personil orang-orang yang solid dan punya dukungan massa luas. Punya trust di masyarakat, OD juga membutuhkan petarung andal yang mampu menjadi pemecah ombak bagi CEP-SSL. Sejauh ini belum ada hal tersebut. OD baru dikelilingi ‘para pembisik’ yang kurang taringnya di masyarakat bawah. Bahkan sebagian mereka pengaruhnya padam di tingkat masyarakat akar rumput. Soliditas tim yang kemudian perlu diperkuat lagi OD jika betul-betul mau bertarung melawan CEP-SSL. Ketika kontestan Pilgub menjadi 4 paslon, maka peluang OD lebih terbuka.

Tukar tambah kekuatan menjadi perlu dan mendesak dilakukan OD saat ini. Pengalaman akurasi hitungan politik OD memang diakui politik, disinilah kembali OD diuji kematangannya. Belum lagi faksi politik SHS yang membawa gerbong para ‘purnawirawan’. Ada GSVL, JWS, E2L, dan sederet nama politisi popular lainnya mengambil peran. Jatung politik itu ada pada kepentingan, bagaimana mengaturnya agar tidak menyeret atau menghancurkan politisi itu sendiri. Termasuk mengatur detak dan iramanya agar memudahkan politisi untuk meraih kemenangan.

OD sebagai petahana dan juga Ketua DPD PDI Perjuangan Sulut perlu analisis yang tajam dalam menentukan bangunan koalisi di Pilkada Kabupaten/Kota. Ketika lengah dan tidak cermat membaca peta kekuatan politik, maka OD kalah. Posisi Pilkada Manado juga menjadi salah satu indikator yang mengantar kemenangan OD. Hitungan kompensasi atau konsesi politik memang bisa dipakai dalam membangun logika koalisi, tapi sudah lebih waspada lagi karena OD kini mendapat lawan tanding yang sepadan.

CEP Distribusi APD di Rumah Sakit Islam Sitti Maryam Manado

Ridwan Marlian saat menyerahkan APD (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Peduli terhadap perjuangan para tenaga medis dalam melawan penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), Christiany Eugenia Paruntu (CEP), Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Utara (Sulut) berbagi Alat Pelindung Diri (APD) di Rumah Sakit Islam (RSI) Sitti Maryam Kota Manado.

Politisi Golkar yang juga Bupati Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) Sulut dua periode itu melalui Ridwan Marlian, Anggota DPRD Kota Manado dari Fraksi Partai Golkar menyalurkan langsung APD, Sabtu (30/5/2020). Bertempat di RS Sitti Maryam, Kelurahan Mahawu Kecamatan Tumiting, Kota Manado Iwan bersama tim mendapat sambutan dari pihak RS Sitti Maryam yang dipimpin langsung Direktur, dr. Ani Rahman.

Saat diwawancarai, Iwan Marlian menyampaikan perhatian dan dukungan CEP kepada para petugas kesehatan sangatlah tinggi. Menurutnya semenjak wabah Covid-19 meluas, CEP sebagai politisi perempuan yang memiliki kiprah politik yang berpihak pada masyarakat itu tidak pernah berdiam diri. CEP dikatakannya turun membantu masyarakat dan tenaga medis dalam memerangi Covid-19.

‘’Pemberian APD ini menjadi salah satu bentuk kepedulian Ibu Tetty Paruntu, atau yang akrab kita kenal sebagai CEP kepada pihak Rumah Sakit. Umumnya pekerja kesehatan, tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam perang melawan virus Covid-19, Ibu Tetty selalu peduli kepada mereka. Semoga APD ini dapat membantu tenaga medis dalam kerja-kerjanya,’’ ujar Iwan sapaan akrab Marlian yang juga Anggota Komisi II DPRD Kota Manado ini.

Direktur RS Sitti Maryam berbincang dengan Ridwan Marlian (Foto Suluttoday.com)

Legislator dari Dapil Tumintin, Bunaken dan Bunaken Kepulauan itu tak lupa menyampaikan pesan dari CEP bahwa para pekerja medis yang kerja sepenuh waktu mengobati para pasien Covid-19 agar memperhatikan kesehatan mereka. Politisi murah senyum ini juga mengatakan CEP telah secara rutin turun ke Rumah Sakit-Rumah Sakit yang ada di Sulut untuk mendistribusikan APD.

‘’Ibu Tetty yang adalah Ketua kami di DPD Partai Golkar Sulut juga menitipkan pesan, agar tenaga medis memperhatikan kesehatan. Kalian sebagai harapan masyarakat di tengah menghadapi Covid-19. Itu sebabnya, Ibu Tetty selalu peduli dan memberi dukungan terhadap kerja-kerja pihak tenaga medis. Kami bersama Ibu Tetty sudah turun ke sejumlah Rumah Sakit yang ada di Manado dan Sulut umumnya dalam agenda membagikan APD. Kiranya dapat dipergunakan sebagaimana mestinya,’’ kata Iwan yang juga mengucapkan terima kasih kepada CEP dan Ketua James Arthur Kojongian.

Anggota DPRD Manado, Ridwan Marlian ketika diwawancarai awak media (Foto Suluttoday.com)

Di tempat yang sama, dr. Ani Rahman selaku Direktur RS Sitti Maryam menyampaikan terima kasih kepada Tetty Paruntu yang peka terhadap situasi yang tengah mereka hadapi. Dokter senior itu mengakui kalau pihaknya sangat membutuhkan APD. Harapannya terhadap Tetty agar dimudahkan dan diberi hikmat oleh Tuhan dalam setiap aktivitasnya.

‘’Terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Tetty Paruntu yang peduli terhadap kami. Alat Pelindung Diri yang diberikan ini sangatlah bermanfaat bagi RSI Sitti Maryam Manado. Kami memang masih membutuhkan APD. Tentu dengan bantuan Ibu Tetty kami sangat terbantu. Kami mendoakan agar Ibu Tetty terus diberikan keberkahan dan dimudahkan segala aktivitasnya. Ibu begitu peduli terhadap tenaga medis,’’ tutur dokter Ani menutup.

dr Ani Rahman, Direktur RS Sitti Maryam menyampaikan terima untuk CEP (Foto Suluttoday.com)

Untuk diketahui, giat kemanusiaan ini dilakukan CEP dan telah berjalan beberapa lamanya sepanjang pandemi Covid-19 melanda Sulut. Politisi Golkar yang digadang-gadang maju sebagai calon Gubernur Sulut itu telah membagikan paket Sembako, masker, hand sanitizer, dan juga APD bagi para tenaga medis. CEP yang punya track record terbaik sebagai politisi perempuan inspiratif di Sulut ini dikenal tak pernah berhenti berbuat bagi banyak orang.

(*/Bung Amas)

iklan1