Tag: corona

Kemelut Covid-19, Minimalisir Kontroversi dan Stop Stigma Sosial

Bung Amas (FOTO Suluttoday.com)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Penyakit menular Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) berhasil merubah tatanan sosial kita. Hal tersebut terbukti dengan adanya destruksi kebudayaan dan ritual keagamaan yang dilestarikan selama ini, kini seolah-olah dikesampingkan. Kebiasaan masyarakat Desa dan bahkan yang di Kota dalam merawat keakraban, pratek gotong royong, ”mapalus”, kerja bakti, ”babari” dan prinsip kolektif yang dibangun melalui kesadaran filosofis Bhinneka Tunggal Ika, menjadi tercerabut.

Apalagi terhadap masyarakat yang daerahnya masuk zona merah atau klaster positif Covid-19. Mereka akhirnya tak dikunjungi keluarga, sahabat, serta relasinya yang berada di wilayah lain. Terisolasilah mereka. Covid-19 secara terang-benderang mengacaukan kondisi sosial kita. Polarisasi terjadi dimana-mana, sikap saling menjauh dan dikotomi dibangun. Dengan kalimat yang paling sederhana yakni social distancing, pemerintah mempelopori itu.

Kondisi ini seperti membenarkan kita bahwa gerakan sosial dan kolektifitas, belum diperlukan sekarang. Spirit demokrasi dari, oleh dan untuk masyarakat rupanya dibantah. Rasa senasip sepenanggungan, kering dan dikerdilkan pemerintah sendiri. Menjadi ironis gerak sosial kita hari ini. Belum lagi kebiasaan masyarakat beragama dalam melaksanakan ritual keagamaan.

Shalat berjamaah di Masjid, dilarang. Bagi pemeluk agama lain juga sama, pembatasan dan pelarangan beribadah di rumah ibadah dilakukan pemerintah. Sungguh kejam Covid-19 ini. Sepanjang sejarah, pandemi Covid-19 ini begitu brutal dan merubah mindset pemerintah, masyarakat, terlebih tokoh masyarakat yang menjadi kaki tangan pemerintah. Banyak pandangan soal stigma negatif Covid-19 juga mulai dimurnikan pemerintah, tapi caranya belum efektif diterapkan.

Fenomena penolakan jenazah positif Covid-19 yang dimakamkan mulai meluas di tanah air. Untuk konteks resistensi masyarakat (keluarga) yang tidak mau keluarnya dikuburkan dengan protap Covid-19 juga sedang meningkat eskalasinya. Salah siapa kalau hal ini terjadi?. Berarti pekerjaan rumah pemerintah kita masih bertambah. Ini tantangan sekaligus ujian bagi pemerintah. Respon dengan arif bijaksana dan ramah, jangan marah-marah.

Belum lagi, ada samar-samarnya pemikiran tentang mekanisme penetapan status postif Covid-19 terhadap pasien. Terkuat berbagai kasus yang dihadapi masyarakat, ada yang mengidap penyakit asam lambung, kecelakaan, penyakit jantung, dan penyakit kronis bawaan lainnya, malah ketika masuk ke Rumah Sakit mereka divonis Covid-19. Walau pun semua itu dilakukan dengan diagnosa dokter, tapi sekali lagi dalam perspektif masyarakat awam, hal ini masih perlu direngkan rinci oleh pemerintah dan stakeholder terkait.

Tujuannya meminimalisir simpang siur perbedaan tafsiran yang tajam. Silang dan beda pendapat yang sensitif di masyarakat terkait Covid-19. Menjadi akumulasi, sehingga kemudian membuncah memicu pertentangan. Alhasil terjadikan penolakan masyarakat. Bahkan di wilayah-wilayah tertentu mulai ada penolakan masyarakat secara massal. Mereka menolak rapid test. Ada yang menolak keluarganya ditetapkan positif Covid-19. Sebagian masyarakat kita juga mengambil keluarganya dari Rumah Sakit yang dinilai memiliki gejala Covid-19, untuk mereka makamkan secara sendiri.

Masyarakat yang menolak penguburan pasien Covid-19 dengan menggunakan peti jenazah juga masih ada, meski tidak banyak. Jangan diabaikan hal ini, boleh saja berpotensi menjadi resistensi massal. Letupan penolakan tersebut menandakan bahwa masyarakat mulai merasa terterror. Kepercayaan mereka terhadap pemerintah menurun. Belum lagi beredarnya berita-berita hoax terkait Covid-19. Pandemi Covid-19 melahirkan keretakan sosial di tengah masyarakat. Tak boleh disepelehkan juga berita-berita soal masyarakat positif Covid-19 yang tiap hari disajikan kepada masyarakat, ini mempengaruhi imun dan memicu kekhawatiran masyarakat.

Usulannya, pemerintah perlu mengkanalisasi pemberitaan. Rotasi dan intensitas pemberitaan media massa dan media sosial sebaiknya tidak rutin mengekspos tiap hari tentang Covid-19. Sebab, efek lainnya, hal ini dapat menambah kepanikan masyarakat, kegalauan membuncah. Kecemasan masyarakat makin bertambah dengan adanya rilis berita yang tiap harinya disampaikan media massa. Padahal upaya pemerintah menekan kecemasan publik. Meminta masyarakat tenang dan tidak perlu terlalu takut terhadap Covid-19, tapi sayangnya yang dilakukan pemerintah adalah pembiaran, bahkan memimpin untuk mengumumkan pasien Covid-19 tiap hari.

Begitu sangat kontraproduktif. Argumen, tindakan dan dalil-dalil pemerintah malah bertabrakan. Bagaimana jadinya di tengah bencana non-alam yakni darurat kesehatan, masyarakat malah ”diterror” dengan berita-berita yang membuat mereka jadi ketakutan. Pemerintah perlu mempertimbangkan ulang, Jubir Gugus Tugas dari pusat sampai ke daerah-daerah harus mengevaluasi intensitas pres konferens yang dilakukan rutin tersebut.

Harusnya yang diperkuat itu pencegahan dan penanganan. Bukan pengumuman laporan hasil kerja yang lebih cenderung bersifat memamerkan prestasi kerja. Cara yang ditempuh ini malah menjelaskan bahwa Gugus Tugas Covid-19 tidak produktif dalam bekerja. Jika tiap hari ada pasen positif Covid-19, berarti secara terbuka membuktikan kalau Gugus Tugas Covid-19 sedang dilanda penyakit impotensi. Progres kerja Gugus Tugas Covid-19 itu bukan pada pameran pasien positif Covid-19.

Kerenggangan sosial yang terjadi kini bukan karena Covid-19, melainkan anjuran social distancing. Karantina dan isolasi juga menambah bermacam ancaman terhadap kenyamanan masyarakat. Sepertinya pemerintah kita berlebih dalam argumentasi, stok kata-kata yang mereka punya terlalu banyak, banyak over. Dalam level kerja, malah tidak menggembirakan. Meyakinkan publik dalam memberi pernyataan, tapi melemah dalam aktualisasi kerja.

Covid-19 melahirkan banyak kontroversi, juga stigma buruk. Ada juga kasus-kasus tertentu yang tidak sempat dipublikasi media massa, keluarga pasien Covid-19 memprotes kinerja tim medis di Rumah Sakit, karena tidak terbuka. Kejadian di beberapa daerah, tim Astronot (tenaga medis) dengan melibatkan oknum Polisi, lalu demi mengamankan mayat yang dianggap Covid-19 untuk dikuburkan dengan protap Covid-19, maka pihak keluarga diperlakukan kasar. Sungguh menyayat hati insiden tersebut.

Hal itu mengundang kebencian di tengah masyarakat. Tak hanya itu, stigmatisasi tentang keluarga yang pesien Covid-19 sering kita temui di masyarakat. Mereka dimarginalisasi, dikucilkan dan dijauhkan dari aktivitas bermasyarakat. Bagi saya, peristiwa seperti ini terjadi disebabkan lemahnya kerja pemerintah. Tentu bersama tim Gugus Tugas dalam mengedukasi masyarakat.

Kegiatan ritual bagi umat Islam misalnya disaat keluarganya yang meninggal. Kini di musim pandemi, karena menghindari kerumunan, maka tak ada lagi Takziyah. Meski ada argumentasi yang berkembang bahwa bagi pasien terpapar Covid-19 dan telah meninggal, maka virusnya tidak lagi menyebar, virus pun ikut mati. Namun, itu rupanya tidak berlaku, di Indonesia meski pasien yang meninggal Covid-19, tetap dijauhkan dari proses penguburan seperti yang biasanya dilakukan. Akhirnya Almarhum/Almarhumah tidak didatangi keluarga besarnya, teman, tetangga dan suadaranya.

Dapat dikatakan, kinerja Gugus Tugas Covid-19 harus dibenahi. Apalagi mereka bekerja dengan imbalan. Wajiblah mereka bekerja serius. Jangan alergi kritik, jangan manja. Karena mereka tentu mendapat dana yang datangnya juga dari masyarakat. Gugus Tugas Covid-19, bukan menjadi relawan dan bekerja gratisan. Sehingga kemudian, bila kerjanya kurang maksimal, masyarakat layak marah dan mempertanyakan kerja mereka. Beda situasinya jika Gugus Tugas Covid-19 ini kerja swadaya dan tidak diberi upah dari masyarakat.

Kalau mau jujur, tim Gugus Tugas Covid-19 juga harus publikasikan berapa besaran gajinya ke masyarakat. Jangan membangun image  seolah-olah mereka bekerja tanpa ada uang penghargaan. Para Gugus Tugas yang di daerah yang digaji melalui APBD juga harusnya mempublikasikan berapa besarannya. Jangan lagi hal-hal seperti ini menjadi rahasia. Hapus stigma pada ODP, PDP merupakan pekerjaan kita bersama, karena pasien positif Covid-19 dan jenazah Covid-19 bukanlah aib bagi masyarakat, terlebih keluarga.

Bukan hanya tugas para medis menjadi front line (lini depan) dalam mengatasi dan melawan Covid-19. Melainkan kita semua, seluruh elemen anak bangsa Indonesia. Darurat kesehatan ini menyusahkan kita semua. Terlebih lagi bagi masyarakat yang mata pencaharian atau berprofesi sebagai buruh, karyawan dan pekerja serabutan. Tidak bekerja, tak mendapatkan uang. Amanlah mereka yang menjadi abdi negara (ASN/PNS), tapi bagi masyarakat lain di luar TNI dan POLRI, di luar karyawan/pegawai BUMN/BUMD, tentu terancam dengan kemiskinan dan kelaparan. Salam akal sehat, mari kita jaga kewarasan. Jangan lestarikan dan dramatisir kepanikan masyarakat.

Legislator Braien Waworuntu Berbagi APD di Tomohon dan Minahasa

Braien R.L. Waworuntu saat berbagi APD (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Menghadapi pendemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Braien R.L. Waworuntu, tidak berdiam diri. Politisi Partai NasDem ini turun dan ikut membantu masyarakat. Tidak hanya itu, kepada para tenaga medis juga tak luput dari perhatiannya. Sabtu (16/5/2020), Braien berbagi Alat Pelindung Diri (APD) di Rumah Sakit (RS) Tertua di Indonesia bagian Timur yakni RS Siloam Sonder Minahasa dan juga kepada tanaga Kesehatan di Dinkes Tomohon.

Kegiatan yang dipusatkan di Tomohon dan Minahasa ini mendapat ragam tanggapan positif dari warga. Braien yang juga Ketua Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sulut itu memberikan batuan dengan menggunakan dana pribadinya. Selain menyerahkan APD, legislator Sulut itu mengajak masyarakat untuk bahu-membahu mendukung program dan anjutan pemerintah guna menghentikan penyebaran wabah Covid-19.

”Di tengah pendami Covid-19 yang terus meninggkat, mari kita bergotong royong melawan dan melundungi rakyat Indonesia. Khususnya rakyat Sulut, mari kita tingkatkan kesadaran menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Selanjutnya, tenaga medis menjadi garda terdepan dalam melawan pandemi ini harus kita support penuh. Gotong royong melawan Covid-19 merupakan tugas bersama semua masyarakat,” ujar Braien yang juga Wakil Ketua DPW NasDem Sulut ini saat diwawancarai Suluttoday.com, Sabtu (16/5/2020).

Sejumlah APD yang didistribusi (Foto Istimewa)

Tidak hanya itu, politisi muda energik itu menambahkan bahwa pentingnya masyarakat menggunakan alat pelindung diri. Karena dengan menjalankan pola hidup sehat, menghindari kerumunan dan mengikuti segala perintah tenaga medis, akan menjauhkan masyarakat dari penyakit menular Covid-19. Masyarakat diingatkannya pula agar work from home (bekerja dari rumah).

Tersedianya APD yang siap dibagikan (Foto Istimewa)

”Selain itu, masyarakat juga yang keluar rumah jangan lupa pakai masker, cuci tangan. Dan selalu mengingat serta menjalankan imbauan pemerintah untuk stay home. Jaga kondisi tubuh, ayo work from home. Hindari kerumunan, ini tentu bermanfaat untuk diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar agar terhindar dari Covid-19,” kata Braein tegas.

(*/Bung Amas)

HUT ke 11, Friends Entertainment Berbagi Kasih di 11 Kota

Pemberian bantuan sosial di Kota Manado (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Friends Entertainment mengadakan kegiatan berbagi kasih bagi warga yang terdampak dari COVID-19 atau virus corona. Kali ini, sumbangan berupa sembako untuk warga miskin itu dilaksanakan di 11 Kota mulai dari Aceh sampai Monokwari. Tak ketinggalan pula, Kota Manado masuk salah satu Kota yang disalurkan bantuan.

“Kegiatan ini rangkaian HUT ke 11 Friends Entertainment. Sehingga kami sasar 11 Kota di Tanah Air termasuk Manado, karena Manado dapat kepercayaan dari friends entertainment kepada Yulitha dan Friends,” kata Yulita Kalesaran selaku Koordinator Kegiatan, Kamis (30/04/2020).

Sementara dikatakan Hesi Lamasuge, pembagian sembako di Kota Manado berlokasi di daerah Taas, Paal 2, Perkamil, Bahu dan Malalayang.

“Friends Entertainment milik artis Teuku Zacky ini adalah salah satu adalah Event Organizer (EO) besar di Indonesia yang bernaung pada PT. Kwartet Vaganza Indonesia,” terang dia.

Kebersamaan menuju pembagian bantuan (Foto Istimewa)

Hesi tak lupa mengucapkan terima kasih kepada sponsor pendukung, yaitu Jie Decor Sinar Event Management Co Lens, JNE Expres, Pertamina foundation, Sucofindo, Surveyor Indonesia yang sudah membantu sehingga terlaksananya kegiatan berbagi kasih.

“Sukses buat friends entertainment dan semoga semakin berkarya lebih luar biasa lagi,” tandas Hesi Lamasuge.

(*/don)

Toar Palilingan Sarankan Pemprov Sulut Terapkan PSBB

Toar Palilingan SH.,MH (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Lahirnya ragam tanggapan soal usulan agar pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengajukan permohonan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah agar percepatan Corona Virus (Covid-19) terhambat. Meramaikan dan menambah pengetahuan di ruang publik kita di Sulut.

Pakar Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Toar Palilingan, SH.,MH menyebut pentingnya pemerintah daerah menggunakan rumusan yang tepat dalam menghambat Covid-19. Salah satu cara yang menurutnya efektif ialah dengan menerapka PSBB. Toar menyebutkan langkah akselerasi perlu diambil pemerintah daerah.

‘’Kalau strategi memutus matarantai penyebaran Covid 19 ada bagusnya terapkan PSBB, walaupun ada kriteria dari kemenkes untuk terapkan PSBB antara lain adanya percepatan penularan transmisi lokal pada masa tertentu serta kemampuan pendanaan daerah untuk mengcover kebutuhan lokal terutama pangan,’’ tutur Toar, Kamis (30/4/2020).

Tidak hanya itu, akademisi vokal itu mengatakan gembaran yang dilakukan pemerintah daerah Provinsi Gorontalo mungkin menjadi cerminan bagi pemerintah Sulut untuk menerapkan PSBB. Toar menuturkan, Sulut sangat mendesak untuk dilakukan PSBB.

‘’Gorontalo tidak perlu menunggu meluasnya penyebaran virus namun sudah mengajukan PSBB dan disetujui, saya pikir Sulut sangat mendesak untuk terapkan PSBB karena adanya kecendrungan meningkatnya angka PDP maupun yang terinveksi Covid-19,’’ tutur Toar.

Lanjut Toar menerangkan soal PSBB yang harusnya mempertimbangkan kondisi masyarakat, bukan perpatokan pada situasi bahaya atau darurat disuatu daerah baru kemudian permohonan PSBB direstui pemerintah pusat. Toar mengingatkan jangan sampai pemerintah kewalahan merespon seluruhnya angka masyarakat positif Covid-19 yang melonjak tinggi.

‘’Saat ini, pembatasan sosial skala besar berdasarkan Keppres yang telah diterbitkan dapat dilaksanakan setelah adanya persetujuan Menteri Kesehatan yang mempertimbangkan tingkat penyebaran virus yang besar di suatu daerah. Hal ini perlu untuk evaluasi kembali. Karena apabila pembatasan skala besar dilakukan setelah jumlah terinfeksi semakin besar. Maka akan menjadi tidak efektif karena waktu yang dibutuhkan untuk menunggu jumlah yang memenuhi syarat untuk dapat diberikan izin memberlakukan PSBB sama dengan menunggu semakin banyak warga yang terinfeksi,’’ tutur Toar pada wartawan.

Seyogianya, pemberlakuan PSBB di semua daerah meskipun masih dalam zona hijau untuk mencegah daerah tersebut menjadi zona merah, perlu diterapkan, kata Toar.

“Bahaya yang sangat besar akan terjadi ketika secara bersamaan semua daerah menjadi zona merah adalah ketidakmampuan daya tampung rumah sakit yang akan membawa kita dalam kondisi seperti di negara lain. Di mana tenaga kesehatan akan memilih siapa yang memiliki potensi hidup yang lebih besar, hanya itulah yang akan diselamatkan” kata Toar, dosen pengajar di Fakultas Hukum Unsrat Manado ini.

Selebihnya, Toar menyebut tergantung argumentasi gubernur Sulut karena Manado maupun jalan Manado Bitung nampaknya ramai selalu setiap hari.

(*/Bung Amas)

Srikandi SSK Tancap Gas Turun Beri Diri Berantas Covid-19 di Manado

Akrab bersama masyarakat, SSK (Foto Istimewa)

MANADO, Sulutoday.com – Tak pernah meninggalkan medan pelayanan pada masyarakat. Itulah potret Sonya Selviana Kembuan (SSK). Belum lama ini, politisi berlatar belakang pengusaha ini turun melakukan penyemprotan Disinfektan untuk memerangi meluasnya wabah Corona Virus (Covid-1). Dimana sebelumnya SSK turun membagikan bantuan kepada masyarakat Manado yang terdampak Covid-19.

Tanpa menggunakan dana hibah, SSK berani mengambil resiko demi melayani masyarakat. SKK disejumlah Kecamatan turun membagikan memberi diri di tengah masyarakat yang begitu membutuhkan bantuan. Melalui Satgas Covid-19, SSK turun door to door ke rumah warga.

“Satgas Covid-19 SSK (wanita tangguh) sedang melakukan penyemprotan Disinfektan e rumah-rumah warga. Melihat banyaknya masyarakat terkena dampak secara ekonomi dari menyebarnya Covid-19 di Manado menjadikanya terpanggil untuk ikut andil dalam aksi sosial memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” kata Nina Rumondor, selaku koordinator Srikandi SSK.

Rumondor dengan menggendong tangki melakukan penyemprotan-penyemprotan bersama tim B Satgas Covid-19 SSK menyisir tempat-tempat ibadah serta rumah-rumah masyarakat. Ditambahkannya, SSK yang merupakan kandidat Wali Kota Manado ini tak pernah membedakan masyarakat saat menyalurkan bantuan atau memberi diri dalam kerja kemanusiaan.

Penuh semangat Srikandi SSK melakukan penyemprotan Disinfektan (Foto Istimewa)

“Saya bertanya padanya kenapa mau ikut tergabung menjadi Relawan penyemprotan salah satu cita-cita Nina Rumondor di tim Satgas Covid-19 SSK. Masa depan Manado adalah milik mereka yang menyiapkan serta melakukan kerja-kerja kongkrit hari ini Corona Musuh kita bersama Kalo bukan kita siapa lagi,” ujar Rumondor.

Lanjut ditambahkannya bahwa Corona sangat berdampak terhadap semua lini kehidupan ekonomi mandek anak-anak tidak lagi bisa belajar. Dalam perjuangan, teruji keikhlasan. Selain itu, kegitan penyemptan Disinfektan ini dilakukan di Kecamatan Wanea dan Kecamatan Malalayang Kota Manado.

(*/Bung Amas)

iklan1