Tag: covid 19

Legislator Braien Waworuntu Berbagi APD di Tomohon dan Minahasa

Braien R.L. Waworuntu saat berbagi APD (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Menghadapi pendemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Braien R.L. Waworuntu, tidak berdiam diri. Politisi Partai NasDem ini turun dan ikut membantu masyarakat. Tidak hanya itu, kepada para tenaga medis juga tak luput dari perhatiannya. Sabtu (16/5/2020), Braien berbagi Alat Pelindung Diri (APD) di Rumah Sakit (RS) Tertua di Indonesia bagian Timur yakni RS Siloam Sonder Minahasa dan juga kepada tanaga Kesehatan di Dinkes Tomohon.

Kegiatan yang dipusatkan di Tomohon dan Minahasa ini mendapat ragam tanggapan positif dari warga. Braien yang juga Ketua Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sulut itu memberikan batuan dengan menggunakan dana pribadinya. Selain menyerahkan APD, legislator Sulut itu mengajak masyarakat untuk bahu-membahu mendukung program dan anjutan pemerintah guna menghentikan penyebaran wabah Covid-19.

”Di tengah pendami Covid-19 yang terus meninggkat, mari kita bergotong royong melawan dan melundungi rakyat Indonesia. Khususnya rakyat Sulut, mari kita tingkatkan kesadaran menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Selanjutnya, tenaga medis menjadi garda terdepan dalam melawan pandemi ini harus kita support penuh. Gotong royong melawan Covid-19 merupakan tugas bersama semua masyarakat,” ujar Braien yang juga Wakil Ketua DPW NasDem Sulut ini saat diwawancarai Suluttoday.com, Sabtu (16/5/2020).

Sejumlah APD yang didistribusi (Foto Istimewa)

Tidak hanya itu, politisi muda energik itu menambahkan bahwa pentingnya masyarakat menggunakan alat pelindung diri. Karena dengan menjalankan pola hidup sehat, menghindari kerumunan dan mengikuti segala perintah tenaga medis, akan menjauhkan masyarakat dari penyakit menular Covid-19. Masyarakat diingatkannya pula agar work from home (bekerja dari rumah).

Tersedianya APD yang siap dibagikan (Foto Istimewa)

”Selain itu, masyarakat juga yang keluar rumah jangan lupa pakai masker, cuci tangan. Dan selalu mengingat serta menjalankan imbauan pemerintah untuk stay home. Jaga kondisi tubuh, ayo work from home. Hindari kerumunan, ini tentu bermanfaat untuk diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar agar terhindar dari Covid-19,” kata Braein tegas.

(*/Bung Amas)

Sumendap Sarankan Kepala Daerah Perketat Akses Keluar Masuk, Tak Perlu Terapkan PSBB

Ratahan, Suluttoday.com –  Dengan semakin bertambahnya kasus positif covid-19 di Sulawesi Utara (Sulut), Bupati James Sumendap turut menghimbau kepada seluruh masyarakat Minahasa Tenggara (Mitra) supaya membatasi diri dalam hal bepergian keluar daerah.

Menurut Bupati James Sumendap, Minahasa Tenggara telah dikepung kabupaten tetangga yang daerahnya sudah ada kasus positif virus corona. “Dengan kondisi saat ini, covid-19 telah memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, saya meminta dengan sangat, apabila tidak terlalu penting agar masyarakat jangan keluar dari Mitra,” himbau Bupati melalui rilisnya, Rabu (13/05/2020).

Namun demikian, Bupati yang juga selaku Ketua Gugus Tugas Covid-19 Mitra ini mengusulkan kepada Gubernur Olly Dondokambey agar tidak melakukan atau mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). “Dengan harapan, Pak Gubernur supaya menginstruksikan semua kepala daerah agar mengambil langkah untuk lebih memperketat keluar masuk orang antar daerah,” harap Sumendap.

Sumendap pun menerangkan, sejak bulan Maret, Minahasa Tenggara telah memperketat akses keluar masuk orang disetiap perbatasan yang ada di Mitra dengan kontrol yang sangat ketat dengan bantuan pihak Kepolisan, TNI, ASN, Lurah, Hukum Tua dan perangkatnya serta para wartawan. Termasuk dukungan Pendeta, Imam serta tokoh masyarakat.

“Mari kita lawan covid-19. PSBB tidak perlu diterapkan di Sulut asalkan semua komponen pemerintah kabupaten/kota lebih serius lagi menghadapi covid-19 ini dan semoga Minahasa Tenggara dalam lindungan Tuhan,” tutup Sumendap. (Hengly Langoy)

Herd Immunity dan Resikonya Pada Penderita COVID-19

Dr. Ricky C. Sondakh, M.Kes (Foto Istimewa)

Penulis : Dr. Ricky C. Sondakh, M.Kes
(Dosen FKM Unsrat Manado)

Beberapa waktu lalu Presiden R.I Bpk Joko widodo mengatakan bahwa kita harus “berdamai” dengan Covid-19. Sebagai seorang akademisi di bidang kesehatan saya menduga ada keinginan dari pemerintah untuk menerapkan apa yang disebut “HERD IMMUNITY”. Istilah ini bukan sesuatu yang baru di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya di bidang Epidemiologi karena Istilah ini sudah dikenal sejak tahun 1923. “Herd Immunity” menurut Paul Fine, Ken Eames, David Heymann, dalam sebuah artikel yang berjudul “Herd Immunity”; A Rough Guide dalam Clinical Infectious Diseases, Volume 52, Issue 7, 1 April 2011, Pages 911–916, Istilah “kekebalan kelompok atau kawanan” banyak digunakan tetapi memiliki berbagai pengertian. Beberapa penulis menggunakannya untuk menggambarkan proporsi kekebalan di antara individu dalam suatu populasi/penduduk.

Yang lain menggunakannya dengan mengacu pada ambang batas tertentu dari individu yang kebal yang mengarah pada terjadinya penurunan orang yang terinfeksi pada suatu populasi. Yang lain menggunakannya untuk merujuk pada pola kekebalan yang terbentuk yang dapat melindungi populasi/penduduk dari terjadinya infeksi baru. Implikasi umum dari istilah ini adalah bahwa risiko infeksi di antara individu yang rentan dalam suatu populasi berkurang oleh keberadaan dan kedekatan individu yang telah imun/kebal (ini kadang-kadang disebut sebagai “perlindungan tidak langsung” atau “efek kawanan”).

Gordis L. dalam Epidemiologi E-Book tahun 2013, mengemukakan bahwa Herd Immunity adalah suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui mereka yang terinfeksi sebelumnya dan telah sembuh atau karena vaksinasi, sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi. Semakin besar proporsi individu yang kebal dalam suatu populasi, semakin kecil kemungkinan individu yang tidak kebal akan bersentuhan dengan individu yang terinfeksi. Hal ini akan membantu melindungi individu yang tidak kebal dari infeksi.

Para ahli Epidemiologi memperkirakan bahwa untuk menghentikan penyebaran penyakit Covid-19 ini membutuhkan 40-70% individu dalam suatu populasi yang Imun atau kebal. Dari perspektif pengertian Herd Immunity ada beberapa hal yang menjadi prasyarat boleh tidaknya diterapkan pada populasi/penduduk suatu negara atau wilayah adalah harus sudah tersedia Vaksin. Ahli biostatistik dari University of Florida Natalie Dean yang memperoleh gelar Ph.D dari Harvard University mengatakan satu-satunya cara aman mendapatkan Herd Immunity adalah dengan Vaksin. Sementara itu cara lain seperti membiarkan dengan sengaja suatu populasi tertular untuk mendapatkan kekebalan terlalu berisiko. SARS Cov-2 ini adalah virus yang belum banyak diketahui dan untuk membuat vaksinnya dibutuhkan kurang lebih 18 bulan dan itupun berbeda untuk setiap strain dari virus tersebut.

Di Indonesia berbeda dari tiga tipe utama yang diketahui beredar di dunia. Hal ini diketahui setelah peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman melakukan whole genome sequencing (WGS) alias analisis genetik pada tiga sampel virus dari pasien positif. Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan perbedaan tipe ini terjadi karena virus Corona bermutasi. Informasi dari Pusat Data Global Initiative for Sharing All Influenza Data (GISAID), ada tiga tipe COVID-19 yang ada di dunia. Ada tipe S, tipe G, dan tipe V.

Di luar tiga tipe itu, ada yang disebut sebagai tipe lain yang belum teridentifikasi dan ternyata whole genome sequences yang dikirim Indonesia ke GISAID termasuk kategori yang lainnya artinya berbeda dari tiga tipe yang beredar di dunia saat ini. Oleh karena itu pemikiran atau upaya melakukan Herd Immunity tidak boleh atau tidak tepat dilakukan disaat belum adanya vaksin dan masih bermutasinya SARS Cov-2 ini apalagi Health care System Capacity atau kapasitas sistem kesehatan kita belum memadai karena belum merata, sampai ketersediaan APD yang masih minim.

Dengan membuat banyak orang terinfeksi, kemungkinan meningkatnya angka kematian juga tinggi. Misalnya kita mengambil 70 persen dari total populasi untuk sengaja diinfeksi. Dari jumlah tersebut tidak semuanya berusia muda. Ada juga orang tua atau orang dengan komorbid atau mengidap penyakit degeneratif seperti diabetes, ginjal, jantung, Ca dll. Mereka-mereka ini masuk dalam golongan yang rentan. Jika kasus kematian akibat Covid-19 0,5-1 % maka dari 70 persen populasi itu ada 0,35-0,7 persen akan mati.

Pilihan yang paling rasional saat ini untuk memutus rantai penularan Covid-19 adalah dengan melakukan Social distancing dengan menjaga jarak secara fisik, menghindari kerumunan/keramaian, membatasi migrasi/pergerakan penduduk dari satu daerah ke daerah lain karena salah satu ciri penyebaran Covid-19 ini adalah mengikuti pola migrasi penduduk sampai curvanya menjadi datar. Semoga pemerintah tidak ceroboh melakukan pelonggaran social distancing dengan membuka akses pergerakan/migrasi penduduk melalui transportasi baik udara, laut dan darat agar jangan sampai malahan terjadi peningkatan tajam orang yang terinfeksi yang akan membuat sistem pelayanan kita over capacity atau kelebihan beban sehingga tingkat mortalitas atau kematian meningkat.

Jika pandemi Covid-19 ini ditangani secara salah maka bukannya akan terjadi Herd Immunity tetapi kurva infeksi akan naik seperti yang terjadi di Italia dan Amerika serta beberapa negara eropa lainnya yang kelabakan menangani pasien/penderita Covid-19, bukan karena ketidakmampuan dalam teknologi kesehatan/kedokteran tetapi karena ketidak mampuan menangani secara serentak ribuan bahkan ratusan ribu orang yang terinfeksi dalam waktu yang bersamaan.

Kita semua berharap dalam istilah Epidemiologi terjadi “flattening the curve” atau “perataan kurva” atau perlambatan penyebaran virus sehingga sedikit orang yang perlu mendapatkan pengobatan pada jangka waktu tertentu. Hal ini sangat jelas mengapa begitu banyak negara menerapkan pedoman Social distancing atau “jarak sosial”. Terima kasih.

Pemkab Mitra Dapat Bantuan APD dan Masker Dari Pengusaha

Foto : Ascke Benu (kiri), Bupati James Sumendap (tengah), Ko Andre (kanan)

 

Ratahan, Suluttoday.com – Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), menerima bantuan Alat Pelindung Diri (APD) dan masker dari keluarga Siola-Benu, suadara kandung Kepala Dinas Pendidikan Mitra Drs Ascke Benu dari Jakarta.

Adapun bantuan APD sebanyak 25 buah bersama 250 masker yang diserahkan langsung sang anak yang juga pengusaha sukses di Jakarta Ko Andre kepada Bupati James Sumendap di Villa Lamet Ratahan, Rabu (06/05/2020).

Bupati James Sumendap pun turut menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih. Dirinya bahkan sangat berbaga dengan kepedulian dan rasa kebersamaan warga Mitra di rantau untuk memerangi penyebaran covid-19 di Mitra.

“Pemerintah dan rakyat Mitra menyampaikan terima kasih. Besok bantuan ini akan langsung diserahkan kepada Dinas Kesehatan,” tukas Sumendap. (Hengly Langoy)

Bincang Virtual ”Manado Kase Ide”, Wawali MOR Ajak Gelar Terobosan

Wawali Mor Bastiaan (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Wakil Wali Kota Manado, Mor Dominus Bastiaan menjadi salah satu juri dalam program bincang Virtual “MANADO KASE IDE” yang digagas Komunitas penggiat dunia Start Up yang ada di Kota Manado, Selasa (5/5/2020). Program yang diadakan lewat aplikasi Zoom ini mengumpulkan sekitar 200 ide yang diharapkan mampu menopang masyarakat Kota Manado dalam menghadapi Covid 19 yang mewabah di Kota Manado.

Melalui bincang Virtual tersebut Mor menyatakan bahwa menjaga Kesehatan menjadi hal nomor satu yang harus dilakukan oleh masyarakat apalagi covid 19 ini berdampak luar biasa dalam perekonomian. Menurutnya tahun ini adalah tahun kesehatan. Mor menuturkan bahwa terkait dampak Virus Corona (Covid-19).

Lanjut disampaikan Mor, langkah hidup harus berubah, masyarakat harus mulai mengatur langkah dari sekarang sesuai dengan kondisi yang ada. Mor pun juga mengajak para staf, pegawai dan semua rekan yang ada di Pemkot Manado untuk mulai membuat terobosan dan melayani masyarakat apakah itu berupa online maupun secara virtual.

“Saya juga katakan kepada seluruh staf, pegawai dan semua rekan yang ada di Pemkot Manado, jangan tunggu keadaan normal. Ayo sekarang kita mulai buat terobosan, kita layani masyarakat dengan kondisi yang ada sekarang apakah itu berupa online ataupun secara virtual,” ujar Mor.

Suasana berlangsungnya dialog Manado Lawan Covid-19 (Foto Istimewa).jpg

Pada kesempatan itu, Mor juga menuturkan atas nama Pemerintah Kota Manado, Mor pun berterima kasih kepada panitia, para juri, Dinas Kominfo dan seluruh warga kota Manado yang telah mendukung dan mengikuti program tersebut. Mor mengatakan bahwa semua ide yang masuk akan di tampung oleh Pemkot Manado dan akan dilihat ide mana yang bisa diterapkan untuk membantu masyarakat di tengah-tengah masa sulit ini.

“Mudah-mudahan ke depan ada ide-ide yang lain lagi dan juga kegiatan yang lain karena mendapatkan ide dari masyarakat itu yang terpenting” kata Mor.

Selanjutnya, Mor pun tidak lupa mengucapkan selamat beribadah puasa kepada umat muslim yang menjalankannya. Semoga Manado diberkati, tambah Mor.

(*/Bung Amas)

iklan1