Tag: David Bobihoe

E2L Arahkan Dukungan untuk Benny-David, Pendukungnya Ikuti 3-3

Benny Mamoto dan Elly Lasut (Foto Ist)

Benny Mamoto dan Elly Lasut (Foto Ist)

MANADO – Luar biasa konstalasi politik untuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Utara (Sulut) ikut berubah drastis, dimana saat Elly Engelbert (E2L) yang sebelumnya menjadi bakal calon Gubernur Sulut yang dianulir Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya mengarahkan dukungan kepada Benny Mamoto-David Bobihoe calon Nomor Urut 3 untuk Pilgub Sulut.

Dukungan tersebut diberikan, Senin (7/12/2015) malam ini, dimana Benny Mamoto diundang dikediaman Elly Lasut dalam rangka memberikan dukungan. Sikap Elly tersebut mendapat tanggapan positif para loyalisnya, salah satunya seperti yang disampaikan Falen Kandou yang menyebutkan bahwa pihaknya turut memenangkan kandidat calon Kepala Daerah yang didukung E2L.

”Pak Elly Lasut sudah memberikan dukungan untuk calon Gubernur Sulut, agar kita semua loyalis beliau turut mendukung Benny-David (BeDa) dalam Pilgub Sulut. Begitupun untuk Pilwako Manado, kami akan mendukung calon Nomor Urut 3 yakni GS Vicky Lumentut-Mor D Bastiaan,” ujar Falen pada Suluttoday.com.

Falen juga menambahkan bahwa pilihan E2L tidaklah salah, karena figur yang didukung E2L ini diyakini memiliki integritas dan komitmen yang kuat dalam membangun daerah. ”Sebagai loyalis Elly Lasut kami mendukung apa yang Elly Lasut dukung jadi ketika Elly Lasut mendukung Beny-David sebagai militan E2L kami pun mendukung saya mengajak seluruh loyalis E2l untuk Rapatkan barisan Dukung Beny momoto dan David bobihoe sebagai calon Gubernur dan wakil Gubernur. Kemudian untuk Pilwako Manado kita wajib memenangkan GS Vicky Lumentut-Mor D Bastiaan, ini pesan Pak Elly. Jadi kesimpulannya Pilgub Sulut dan Pilwako Manado adalah 3-3,” ungkap Falen. (Amas)

Memotret Pilkada Serentak, Ikhtiar Melawan Skandal Politik

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Amas Mahmud (Foto Suluttoday.com)

Ketika politik mengajarkan bahwa tugas politikus sesungguhnya melaksanakan kehendak rakyat. Namun, yang terjadi mereka hanya mementingkan dirinya sendiri. –Joseph Schumpeter

PEMILIHAN kepala daerah (Pilkada) serentak 9 Desember 2015, menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk meletakkan posisi dasar berdemokrasi dalam bingkai penghematan anggaran dan pengintegrasian kerja-kerja penyelenggara pemilihan umum (Pemilu). Selain sebagai langkah awal, Pilkada serentak juga menjadi hal baru dalam sejarah berdemokrasi di Indonesia, sehingga menjadi penting capaian yang hendak dituju harus terealisasi. Pilkada serentak diakui, bukan menjadi ajang unjuk kekuatan rezim Jokowi-JK dalam membuat terobosan dan irisan sejarah baru di Republik ini, namun lebih dari itu sebagai upaya mengurangi terjadinya konflik Pilkada dan ketidakteraturan demokrasi.

Bersamaan dengan kesempatan Pilkada serentak, penyelenggara Pemilu diberikan ruang sekaligus tantangan berharga, bagaimana mewujudkan pelaksanaan Pilkada yang tertib, aman, transparan, jauh dari praktek rekayasa hasil Pemilu, terhindar dari intimidasi structural terhadap penyelenggara Pemilu. Espektasi publik terhapa terlahirnya pemimpin berkualitas, loyal pada amanah rakyat dan bekerja memajukan pembangunan dalam Pilkada serentak ini tentu menjadi perhatian tersendiri, untuk dilakukan penguatan kerja penyelenggara Pemilu (KPU dan Bawaslu).

Mengamati perkembangan politik lokal di Sulawesi Utara (Sulut), setelah dianulirnya pasangan calon Elly Lasut dan David Bobihoe oleh KPU Sulut dengan alasan Elly berstatus bebas bersyarat, menuai banyak tanya, dan bahkan sindiran penyelenggara Pemilu tingkat Provinsi Sulut dinilai seolah-oleh telah menjalankan pesanan politik dari kelompok tertentu. Begitupun di Kota Manado, dimana Jimmy Rimba Rogi (Imba)-Boby Daud, yang diloloskan KPU Manado, lalu kemudian dianulir kembali berdasarkan surat rekomendasi Bawaslu Provinsi Sulut, dan terakhir tiba-tiba ada desakan ribuan massa pendukung Imba-Boby, pasangan calon Wali Kota Manado Nomor Urut 2 ini diloloskan kembali. Bertepatan dengan Pilkada serentak, peristiwa politik semacam ini pertama kali terjadi di Sulut.

Menghentak, perubahan keputusan yang terkesan dadakan dan kontradiktif antara sesame penyelenggara Pemilu di Sulut, hingga kemudian terjadinya penon-aktifan sementara waktu Panwaslu Manado dari Bawaslu Sulut. Rentetan insiden demokrasi ini, tentu menjadi catatan sejarah yang ikut menghiasi cerita-cerita tentang bagaimana mentalitas rakyat kita dan penyelenggara Pemilu dalam berdemokrasi. Benarkah ini merupakan patahan sejarah di Sulut yang menandakan kecerobohan ataukah kelalayan kita bersama dalam mengawasi proses demokrasi di daerah ini, pelajaran berharga ini memberikan istrasi pada kita semua agar menyiapkan jalan damai terhadap berjalannya demokrasi tanpa disandera itu lebih penting dari sekedar hawa nafsu politik semata yang mengorbankan kepentingan publik.

Catatan singkat ini sekiranya memberikan penegasan pada kerja-kerja professional dari lembaga penyelenggara Pemilu, untuk dapat membenah diri, konsisten, independen dan tidak mudah goyah dengan tekanan politik. Terlalau naïf, jika KPU Manado hanya beralasan karena tekanan massa Imba-Boby saat melakukan demonstrasi di kantor KPU Manado sehingga mereka dengan terpaksa menandatangani berita acara meloloskan kembali Imba-Boby, yang kemudian berujung pada tugas KPU Manado akan ditake over KPU Provinsi. Sebagai masayarakat awam, kita berharap tidak ada lagi intrik politik (persekongkolan) dan sandiwara dibalik diloloskannya kembali Imba-Boby, agar salah satu lembaga merasa ‘’terbebaskan’’ dari masalah yang lebih besar. Imba-Boby diloloskan, itu menjadi impian warga Manado dan tidak perlu lagi dianulir kembali. Mari hindari skandal politik, politik balas dendam dan bebaskan masyarakat dari intervensi penguasa.

Kiranya keputusan yang dilakukan KPU Manado benar-benar atas telaah hukum, bukan juga sekedar upaya ‘’cuci tangan’’, meski sikap KPU Sulut untuk melimbahkan kasus ini ke KPU Pusat terkesan tendensius. Ingatlah ungkapan Mikhail Bakhtin, bahwa sejarah adalah sejenis drama di mana setiap babak diikuti oleh paduan suara ketawa. Tapi ingatlah wahai penguasa, bila mau mencerdaskan rakyat dalam berpolitik beri teladan yang baik, jangan seperti yang disampaikan Ibn Khaldun, yakni masyarakat yang sekian lama mengalami penindasan dan kekerasan biasanya akan menjadi bangsa yang korup.

Catatan: Amas Mahmud, Redpel Suluttoday.com

Inilah 10 Hal Tentang Benny Mamoto, Calon Gubernur Sulut

Benny Mamoto dan David Bobihoe (Foto Ist)

Benny Mamoto dan David Bobihoe (Foto Ist)

MANADO – Pasangan calon Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Nomor Urut 3 yakni Benny Mamoto-David Bobihoe ternyata tidak hanya terdepan dalam Debat Kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut. Namun lebihnya, selain telah mengukir berbagai prestasi dan menunjukkan karya bagi rakyat, kedua tokoh ini perlu dikenal lebih jauh.

Seperti kalimat rendah dan cerdas yang disampaikan Benny Mamoto calon Gubernur Sulut yang juga pernah menjabat posisi penting di dijajaran Badan Narkotika Nasional (BNN) ini, saat ditanya soal pentingnya sebuah gelar dan jabatan bagi dirinya. Dengan rendah hati, Benny menyebutkan bahwa semua gelar atau jabatan hanyalah anugerah Tuhan yang tidak kekal.

”Saya tidak pernah memikirkan apakah jabatan saya yang berdasarkan Surat Keputusan Presiden sepantasnya memakai pangkat Irjen Polisi atau tidak. Yang saya pikirkan bagaimana tugas saya sebagai umat Tuhan dapat dijalankan dengan baik sehingga nama-Nya dipuja dan dipuji oleh semua umat manusia,” kata Benny Mamoto.

Berikut ini, beberapa hal penting yang menjadi dasar dan pegangan bagi pasangan BeDa (Benny-David). Dalam menjalankan kepemimpinan, Benny seorang Purnawirawan Polisi yang disipiln dan memiliki beragam prestasi dan David Bobihoe yang merupakan mantan Bupati Kabupaten Gorontalo Terbaik dua periode ternyata mempunya kesamaan. Sebagaimana disampaikan tim media BeDa, menyampaikan 10 hal yang harus warga ketahui tentang Benny Mamoto, yang sedang dan akan Benny jalankan ketika terpilih menjadi Gubernur Sulut;

1. Niatean yang berarti mempunyai hati
2. Jenderal Pemburu Koruptor
3. Mawai – Mempunyai kekuatan dan dapat di andalkan
4. Senyum Ramah Pemburu Narkoba
5. Cerdas atau yang disebut syarat pemimpin ‘Ngaasan’.

Artinya, memiliki keahlian mengurus Taranakatau Ro’ong. Dengan Program Poros Maritim oleh Presiden Jokowi dan di bukanya Bitung sebagai gerbang utara Indonesia ke Samudera Pasifik. Maka dibutuhkan seorang dengan kapasitas ‘Ngasaan’ untuk mengurus tanah dan warga Bitung. Benny Mamoto telah membuktikan karir akademiknya dengan mendapatkan Gelar Doktor dari Universitas Indonesia. Di Kepolisian maupun BNN, dia disebut sebagai salah satu Jenderal dengan tingkat kecerdasan tinggi, pernah sekali dalam tahun yang sama, dirinya mendapatkan dua kali kenaikan pangkat.

6. Jenderal Tanpa Pengawal
7. Atlit Olaharaga dengan Setumpuk Prestasi
8. Anak Kawanua dengan 30 Rekor MURI dan 7 Rekor Dunia
9. Mendidik dengan Teladan bukan dengan kata-kata
10. Tonaas Wangko Penjaga Nilai Budaya. (Amas)

Panser Bongkudai Bergerak Menangkan Benny-David

Benny-David makin melaju (Foto Ist)

Benny-David makin melaju (Foto Ist)

MANADO – Arus dukungan terhadap pasangan calon (Paslon) Gubernur Nomor Urut 3, Benny Mamoto-David Bobihoe (BeDa) terus mengemuka. Warga Bolaang Mangondow menyampaikan dukungan mereka terhadap pasangan ini, hal tersebut disampaikan Andra Mamangkey, Ketua Panser Bongkudai yang menyebutkan pihaknya siap memenangkan Benny-David.

”Kami Panser Bongkudai bersatu siap memenangkan pasangan Benny Mamoto-David Bobihoe sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut, Ormas Panser Bongkudai akan mengawal pasangan BeDa sampai pengumutan suara. Alasan kami mendukung kare kami mau memilih pemimpin yang bersih, dan menampilkan perpaduan apik seperti calon Gubernur Nomor Urut 3 ini,” ujar Mamangkey.

Ditambahkannya lagi dengan mengatakan bahwa Benny-David juga memiliki konsep membangun Sulawesi Utara secara sistematik. Dirinya mengatakan akan melakukan konsolidasi menguatkan dan memenangkan pasangan BeDa di Bolmong. (Amas)

Ketua KPP Otda Sulut Sebut Benny-David Lebih Berkualitas

Sinyo Kawatak (Foto Suluttoday.com)

Sinyo Kawatak (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Debat kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur yang dilaksanakan Komite Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (7/11/2015) mendapat perhatian tersendiri bagi masyarakat Sulut. Apalagi saat menanggapi pemberitaan media cetak lokal di Kota Manado, Senin (9/11/2015) yang dinilai melebih-lebihkan salah satu pasangan calon Gubernur Sulut. Komentar cerdas muncul dari Sinyo Kawatak, Ketua Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daeah (KPP-Otda) Sulut.

”Saya baca koran pagi ini hampir semua memberitakan Olly-Steven tampil memukau dan lebih berkualitas saat Debat Kandidat perdana, padahal saya juga ikut menyaksikan Debat ini melalui Televisi. Kondisinya malah terbalik, bukan Olly-Steven mengusai materi kampanye, melainkan pasangan Nomor Urut 3, Benny Mamoto dan David Bobihoe yang secara gamblang menjelaskan pada masyarakat tentang konsep membangun Sulawesi Utara,” ujar Kawatak pada Suluttoday.com, saat ditemui di Jalan Roda Manado, Senin (9/11/2015).

Ditambahkannya lagi bahwa komposisi Benny-David (BeDa) sebagai pasangan pluralis menaruh harapan tersendiri bagi warga Sulut untuk kemudian mengemas keberagaman di daerah ini menjadi suatu kekuatan. Konsep pelayanan publik serta perbaikan pembangunan yang dipaparkan Benny-David lebih bermutu serta holistik.

”’Menjadi harapan besar bagi rakyat Sulut lembaran baru adalah harapan yang baru bagi rakyat Sulut, sosok Benny-David menawarkan konsep pembangunan yang menyeluruh pada masyarakat tanpa diskriminasi. Lebih kuat lagi adalah Benny-David mewakili agama berbeda sehingga secara logis akan menghadirkan kepemimpinan yang plural. Mereke berdua merupakan pemimpin pluralis dengan landasan pengetahuan yang memadai, ketegaran kepribadian dan tidak mendiskriminasi rakyat, tipe pemimpin inilah yang kita harapakan di Sulut tentunya,” ujar Kawatak menutup. (Amas)

iklan1