Tag: delmus salim

Agama dan Perannya dalam Masa Pandemi Covid-19

Delmus Puneri Salim, S.Ag.,M.A.,M.Res.,Ph.D (Foto Istimewa)

Oleh : Delmus Puneri Salim, S.Ag.,M.A.,M.Res.,Ph.D, 
Rektor IAIN Manado

Tidaklah mudah mendefinisikan agama. Namun banyak orang sudah mencoba menjelaskannya dari berbagai sudut. Agama adalah pandangan hidup. Agama adalah system kepercayaan dan praktek keagamaan. Agama adalah kekuatan motivasi yang sangat kuat. Agama adalah kedamaian, keselamatan, dan ketundukan atau kepasrahan. Agama adalah pemberi harapan dan ancaman. Agama adalah sesuatu yang dipegang seseorang dalam kesendiriannya. Agama adalah petunjuk hati. Agama adalah sikap terhadap sang Maha Pencipta. Agama adalah kepercayaan terhadap kekuatan transendental. Agama adalah keluhan dan desahan dalam masyarakat. Agama adalah berbagai bentuk kegiatan simbolik yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Berbagai macam sudut pandang definisi agama ini kemudian memunculkan berbagai macam peran agama dalam masyarakat, diantaranya:

Agama memberikan visi masa depan. Agama melihat ke masa depan. Agama menawarkan visi masyarakat yang hendak dicapai. Visi yang bersumber dari ajaran agama ini menjadi panduan dalam kehidupan keseharian umat beragama baik secara individu maupun berkomunitas. Peran agama ini memberikan tantangan kepada umat beragama untuk berfikir, berimajinasi dan menciptakan masyarakat sesuai dengan visi agama yang dipahami.

Peran agama ini menunjukkan agama adalah masa kini, bukan masa lalu dan memberikan visi masa depan. Dalam peran ini, agama mendorong manusia untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan aturan dan norma agama yang diyakini. Agama mendorong umat beragama memperjuangkan kebaikan dan menghindari kemudharatan, termasuk menjadi pribadi yang bermoral, memusuhi ketidakadilan, dan mendorong nilai-nilai budaya yang hendak dicapai di masyarakat. Tidak ada yang sempurna di masyarakat nyata saat ini dan masyarakat yang sesuai visi agamalah yang selalu hendak dicapai. Hanya Sang Pencipta yang Sempurna.

Agama memberikan jalan menuju kebahagiaan. Peran agama adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada individu dan masyarakat dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Agama mengajarkan untuk bersyukur dan menerima kenyataan yang ada. Agama memberikan makna hidup kepada umat beragama untuk mengontrol pikiran dan nafsunya dalam mencapai sesuatu yang bisa saja mendatangkan penderitaan bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Agama memberikan nilai-nilai pilosofis dalam menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh dengan persoalan mendasar umat manusia yaitu penderitaan. Setiap umat manusia memiliki penderitaan baik bersifat materi maupun inmateri. Penderitaan yang bersumber dari kekurangan finansial, sandang dan pangan maupun penderitaan dari perasaan iri, dengki dan sakit hati. Agama mengajarkan umat beragama untuk tidak terjebak dalam perasaan kekurangan materi dan inmateri ini tetapi menfokuskan diri pada kesyukuran dan penerimaan situasi yang ada tanpa menafikan usaha yang boleh dilakukan.

Agama mengikat umat beragama kepada Sang Pencipta dan komunitasnya. Agama memberikan ikatan yang mengikat umat beragama dengan Tuhannya dan komunitasnya. Ini sesuai dengan asal usul kata agama yang berasal dari Bahasa Latin yang berarti untuk mengikat. Kata yang juga bisa digunakan dokter untuk mengikat atau menjahit luka. Agama menawarkan sikap dan prilaku yang menyatukan umat beragama dengan Tuhannya. Agama mendorong umat beragama untuk selalu mengikat diri dengan Tuhannya dan komunitasnya dalam kesehariaanya.

Namun demikian, peran agama di atas tidaklah mudah untuk diwujudkan. Umat beragama memiliki polarisasi dalam orientasi beragama. Orientasi duniawi dan orientasi akhirat. Beragama dengan orientasi dunia berarti umat beragama melakukan aktifitas keagamaan memprioritaskan kemaslahatan dunia terlebih dahulu tanpa menafikan kemaslahatan akhirat. Beragama dengan orientasi akhirat adalah umat beragama mengutamakan kebahagiaan akhirat dalam aktifitas keagamaan terlebih dahulu dengan menomorduakan kemaslahatan dunia. Mereka yang ekstrem dengan orientasi dunia dalam beragama akan cenderung mengedepankan agama yang substansial dan esensial ketimbang agama syar’I atau formalitas. Mereka yang ekstrem dengan orientasi akhirat dalam beragama bisa saja menjadi teroris dengan melakukan bom bunuh diri dalam mencapai kebahagiaan akhirat.

Dalam masa pandemi covid-19 ini, orientasi umat beragama juga bisa terpolarisasi seperti di atas. Mereka yang lebih mengutamakan keselamatan dunia sebagai titik focus utama akan memiliki pandangan untuk berusaha semaksimal mungkin dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan melakukan aktifitas keagamaan di rumah. Hal ini dilakukan dalam mengantisipasi kemungkinan penyebaran covid-19 dari kerumunan masa di rumah ibadah. Sedangkan mereka yang berorientasi akhirat bisa saja memiliki pandangan bahwa segala macam penyakit bersumber dari Sang Maha Pencipta yang bisa didapat dimana saja, meski sudah berusaha menghindarinya. Jika suatu virus sudah ditetapkan oleh Yang Maha Esa sebagai sumber penyakit seseorang yang menimbulkan kematiannya, maka itulah ketentuan Sang Maha Pencipta yang tidak bisa dirubah karena semua orang akan menemui ajalnya.

Peran agama dan orientasi beragama ini diperumit dengan beragamnya otoritas keagamaan di masyarakat. Apakah aktifitas keagamaan dan mekanisme pelaksanaannya ditetapkan oleh lembaga keagamaan tertentu, organisasi masyarakat keagamaan tertentu, pemerintah pusat atau daerah, pengurus rumah ibadah, tokoh agama atau individu masing-masing? Pelaku terorisme bisa saja mendapatkan perintah dari kelompok ektremis melalui media tertentu untuk melakukan bom bunuh diri. Pengikut Islam substansial bisa saja tidak melaksanakan ibadah formal dari berbagai pemikiran kelompok liberal agama.

Kita bisa belajar dari suksesnya pelaksanaan program Keluarga Berencana di masa lalu. Kerjasama semua pihak; pemerintah, lembaga agama, organisasi masyarakat keagamaan, dan tokoh agama dalam mensosialisasikan program keluarga berancana telah berhasil mengurangi melonjaknya jumlah penduduk pada saat itu.

Apakah anjuran untuk beribadah di rumah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia akan berhasil atau tidak sangat tergantung dari Kerjasama semua pihak: pemerintah, lembaga agama, organisasi kemasyarakatan keagamaan, dan tokoh-tokoh agama dalam mensosialisasikan anjuran tersebut. Jika masih ada dari pihak-pihak tersebut yang masih memberikan peluang untuk tidak mengikuti anjuran untuk beribadah di rumah maka kesuksesan pemutusan rantai penyebaran Covid-19 akan berkurang.

Meskipun indicator utamanya adalah sangat tergantung dari tinggi atau rendahnya kluster penyebaran virus corona dari kegiatan keagamaan atau dari rumah ibadah ke depan. Sebelumnya, penyebaran virus corona dari kluster kegiatan keagamaan dan rumah ibadah adalah kluster Gowa, Pastor Meetings di Bandung, Umroh, Asrama Bethel, Masjid di Sunter, dan lain-lain. Kita semua berharap agama berperan penting dalam pemutusan mata rantai peyebaran Covid-19 bukan sebaliknya. [**]

Perlukah Sulut PSBB Atau Tidak, Ini Pandangan Rektor IAIN Manado

Dr. Delmus Puneri Salim (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (4/5/2020), Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Dr. Delmus Puneri Salim, menyampaikan untuk Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dalam hal mengusulkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Menurut Delmus, dalam rangka mencegah penyebaran Corona Virus (Covid-19).

“Tentu dalam rangka menghambat dan membatasi penyebaran Covid-19, maka PSBB ini menjadi penting diterapkan. Asalkan pemerintah daerah menyiapkan solusi yang tepat. Terutama pada sektor kebutuhan ekonomi masyarakat, jangan sedikitpun pemerintah mengabaikan faktor ini,” kata Delmus pada Suluttoday.com.

Akademisi yang dikenal begitu santun ini menjelaskan pulang urgensi ekonomi di tengah wabah Covid-19. Hal data juga perlu diperhatikan pemerintah, agar tidak sekedar menerapkan PSBB. Kondisi energensi dikhawatirkan jangan sampai salah diatur dengan profesional oleh pemerintah.

“Selanjutnya, soal konsekuensi ekonomi sebagai elemen penting untuk dipertimbangkan matang-matang oleh pemerintah. Jangan sampai PSBB kesannya dipaksakan, namun perlu benar-benar siap melaksanakan PSBB. Karena masyarakat disuruh stay di rumah, sementara kebutuhan ekonomi mereka diabaikan. Ini hal serius, jangan sampai masyarakat kelaparan. Kemudian, saya juga mengingatkan tentang data yang diregistrasi pemerintah supaya merata dan ada unsur keadilan dalam perspektif sosial,” ujar Delmus.

Tambahnya lagi, bahwa pemerintah daerah Sulut sebetulnya mempunyai peluang dan kemampuan mengajukan permohonan PSBB. Dengan cara menyiapkan segala keperluan dan prasyarat yang ditetapkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (RI). Delmus mengajak juga masyarakat Sulawesi Utara untuk secara sadar, sama-sama mematuhi anjuran dan imbauan pemerintah. Karena Covid-19, menurutnya sudah menjadi bencana nasional yang penanganannya harus sungguh-sungguh.

(*/Bung Amas)

Jaringan Aktivis Mahasiswa Sulut Libatkan Kampus Cegah Radikalisme

Berlangsungnya pembukaan dialog (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Beragam tantangan yang terus melanda ketenangan rakyat Indonesia rupanya menjadi aspek yang juga diseriusi aktivis pemuda di Sulawesi Utara (Sulut). Senin (19/8/2019) pengurus Jaringan Aktivis Mahasiswa, GTI Sulut dan Ikatan Alumni (IKA) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado melakukan Dialog Kebangsaan.

Menurut Risat Sanger selaku Koordinator Jaringan Aktivis Mahasiswa Sulut bahwa diskusi yang digelar itu merupakan upaya strategis dan perlu dilakukan. Mengingat situasi dan kondisi sosial saat ini sedang dirongrong dengan ancaman disintegrasi bangsa melalui praktek radikalisme.

“Dialog Kebangsaan ini amatlah penting dilakukan. Mahasiswa perlu mendapat pencerahan dengan segera bagaimana menanggapi ini dengan baik. Bagaimana kita harus melihat dari berbagai sisi tentang berbagai persoalan terutama yang bisa memicu perpecahan, apalagi dengan kekuatan media sosial saat ini,’’ kata Risat yang juga jebolan FISPOL Unsrat Manado ini tegas.

Untuk diketahui dialog yang melibatkan kalangan akademis itu mendapat sambutan luar biasa. Hal tersebut terbuti dari kegiatan yang dihadiri kurang lebih 200-an mahasiswa dan aktivis pemuda. Mengusung tema ‘Menangkal Paham Radikalisme di Dunia Pendidikan panitia menghadirkan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado Delmus Puneri Salim SAg MA MRes PhD. Juga bincara lainnya adalah Dr Johny Lengkong, S.IP.,M.Si, selaku pengamat politik.

Selain itu, hadir sebagai pemateri juga adalah Kepala Subdit IV Intelkam Polda Sulut AKBP William Roro. Dialog yang berjalan beberapa sesi itu dimoderatori Ronald Ginting dan berjalan tertib sesuai rencana.

Konfrensi pers panitia disela-sela Dialog Kebangsaat (FOTO Suluttoday.com)

Selaku pemateri, Demus Puneri memberi perhatian pada adanya praktek radikalisme yang sedang berkembang saat ini sangat disayangkan, baik dari alasan ideologis maupun alasan lain yang menurut Demus harus mengklarifikasi dulu apa itu radikalisme.

”Mari kita tangkal dan cegah radikalisme secara bersama. Bagaimanapun radikalisme merupakan tindakan yang dilarang semua agama, ini musuh kita bersama. Jadi ketika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, maka konsekuensinya meluas. Sebetulnya, persoalan apapun persoalan yang ada harus diselesaikan segera. Jangan sampai dimanfaatkan kelompok-kelompok tertentu untuk mengadudomba rakyat,” ujar Delmus. (*/Redaksi)

Pertegas Peran Pemuda, KNPI dan IMM Sulut Gagas Dialog Jelang Bukber

Sekretaris Umum DPD KNPI Sulut ketika menyampaikan sambutan (Foto Ist)

Sekretaris Umum DPD KNPI Sulut ketika menyampaikan sambutan (Foto Ist)

MANADO – Dengan mengusung tema: ‘Mempertegas Peran Pemuda Dalam Mengawal Nilai-Nilai Kebangsaan’, pengurus DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulawesi Utara dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulut, Jumat (1/7/2016) sore tadi menggelar Dialog Pemuda sekaligus dirangkaikan dengan Buka Puasa Bersama (Bukber) di Sekretariat KNPI Sulut.

Dialog kali ini menghadirkan Delmus Puneri Salim, Ph.D (dosen IAIN Manado) dan Adlan Riyan Habibie, S.HI, (Ketua IMM Sulut) masing-masing sebagai narasumber. Mewakili Ketua DPD KNPI Sulut, Jackson Andre William Kumaat, SE,SH, Sekretaris Umum KNPI Sulut, Iswadi Amali, S.IP menyampaikan perihal target kegiatan yang dilaksanakan tersebut.

Para peserta dialog pemuda saat berinteraksi (Foto Ist)

Para peserta dialog pemuda saat berinteraksi (Foto Ist)

”Terima kasih atas pertisipasi teman-teman pengurus KNPI Sulut dan IMM Sulut, bersama pengurus OKP lainnya, yang telah hadir dalam kegiatan Dialog Pemuda, sekaligus buka puasa bersama kali ini. Tentu, selaku pengurus DPD KNPI Sulut kami berharap semua rangkaian kegiatan Dialog dan buka puasa bersama yang dilakukan rutin ini berjalan sukses, serta membawa manfaat positif bagi kita semua. Tidak hanya berhenti disini, KNPI Sulut akan melaksanakan kegiatan serupa pada Minggu mendatang, ini diharapkan berdampak meluas. Perlu diketahui, agenda tersebut merupakan program kami selama bulan Ramadhan dengan OKP di Sulut,” ujar Iswadi alumnus FISPOL Unsrat Manado ini. (*/Amas)

Dialog Publik JAROD, Hanny Solang Berikan Cara Efektif Cegah Radikalisme

Berlangsungnya Dialog Publik JAROD (Foto Suluttoday.com)

Berlangsungnya Dialog Publik JAROD (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Berlangsung sukses, kegiatan yang dilaksanakan pengurus Jurnalis Online Manado (JAROD), Sabtu (12/9/2015) yang bertempat di Hotel Formosa Manado. Kali ini, Komunitas JAROD menghadirkan Drs Hanny Solang, M.Si (Kaban Kesbang-Pol Manado), Delmus Salim (Dosen IAIN Manado), dan Jim Robert Tindi, SE (Aktivis Muda Sulut dan mantan Ketua PRD Sulut) untuk mengulas tema Dialog Publik ‘Mencegah Radikalisme Pada Generasi Muda Dengan Mempertembal Wawasan Kebangsaan’.

Dr Hanny Solang dalam pemaparan materinya menyebutkan bahwa pemerintah selalu memberikan perhatian penting pada persoalan keamanan lingkungan. Menurut Alumnus FISPOL Unsrat Manado itu, aktivitas masyarakat yang mengarah pada dukungan terhadap radikalisme harus diwaspadai karena hal itu dapat merusak keamanan.

”Soal pembahasan wawasan kebangsaan ini perlu diselesaikan ditingkat hulu, baru kemudian hilir. Kadang banyak pihak karena kurang mengerti wawasan kebangsaan, akhirnya bertindak menggangu keutuhan bangsa. Nah, kami pemerintah Kota Manado sejauh ini melakukan tindakan mengendalian dan perhatian pada keamanan masyarakat, hal terpenting bagi masyarakat selain kesejahteraan adalah keamanan. Untuk cara mencegah tindakan Radikalisme adalah kembangkan dan munculkan berbagai kegiatan sosial yang sifatnya positif, serta bangkitkan rasa Nasionalisme,” ujar Solang.

Sementara itu, Jim Robet Tindi mengatakan Radikalisme itu penting, hanya saja ada pihak tertentu yang memanfaatkan dan menafsirkan secara keliru apa yang menjadi semangat Radikalisme. Paling penting bagi Tindi yakni pemerintah perlu berlaku adil bagi rakyatnya, terutama soal distribusi kesejahteraan.

”Arti dari Radikal atau Radikalisme sebenarnya perlu dan tidak berbahaya, karena Radikal itu bermakna kita mengetahui sesuatu hingga ke akar-akarnya. Dan itu berarti Radikalisme tidak ada masalah, hanya saja ada kelompok kepentngan yang memanfaatkan ini demi mengamankan kepentingan mereka, bagi saya yang penting saat ini adalah pemerintah berlaku adil pada rakyatnya. Janganlah, proses distribusi kesejahteraan dihambat,” tukas Tindi.

Begitupun yang disampaikan, DR Delmus Puneri Salim, bahwa generasi muda perlu memperbanyak pengetahuan tentang hal kebangsaan, wawasan kebangsaan baginya merupakan suatu hal yang juga utama dan perlu digelorakan rasa Nasionalisme. Ide-ide positif harus dimunculkan agar bisa menyatukan banyak orang.

Yang bertindak sebagai moderator kali ini adalah Sahrul Setiawan, yang juga Sekretaris JAROD. Terlihat yang hadir sejumlah aktivis mahasiswa se-Sulawesi Utara, Ketua JAROD, Amas Mahmud, serta pengurus JAROD lainnya. (M. Isnain Umasangaji)

iklan1