Tag: disperindag sulut

Disperindag Sulut, Bakal Musnahkan Parsel Kadaluarsa

Razia parsel kadaluarsa, ilustrasi (Foto Ist)

Razia parsel kadaluarsa, ilustrasi (Foto Ist)

MANADO – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Utara (Sulut) melakukan pengawasan terhadap parsel yang kedaluwarsa jelang Lebaran 2015. Jangan sampai ada didalam bingkisan tersebut barang-barang yang sudah tidak layak dikonsumsi.

“Kami terus melakukan pengawasan dan pemantauan bagi produk-produk yang dibuat parsel, jangan sampai ada barang yang sudah tidak layak dikonsumsi kemudian disisipkan di bingkisan tersebut,,” ujar Kepala Disperindag Sulut Jenny Wajong, Kamis (9/7/2015).

Menurut dia pengawasan dan pemantauan selalu dilakukan, namun menjelang hari raya keagamaan saat ini lebih diintensifkan lagi. Hal ini karena konsumsi masyarakat untuk pemberian produk makanan meningkat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengawasan lebih ketat lagi. Apalagi jelang Idul Fitri seperti sekarang ini banyak toko-toko dan pelaku usaha yang menjual parsel Lebaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat, dan biasanya ada saja yang mellakukan kesemaptan untuk menyisipkan barang kedaluwarsa, karena ingin mengambil keuntungan semata.

“Untuk itu pengawasan harus dilakukan mencegah jangan sampai ada parsel yang berisi barang-barang kedaluwarsa,” ungkapnya.

Hal ini karena jika produk tersebut dikonsumsi oleh masyarakat akan menyebabkan gangguan kesehatan. Oleh karena itu harus diwaspadai. Sambungnya juga akan menurunkan petugas dari Disperindag untuk melakukan pengecekan jangan sampai ada barang-barang yang kedaluwarsa.

“Petugas kami ada yang turun untuk melakukan pemantauan kepada parsel tersebut,” ungkapnya. (Fajri Syamsudin)

Soal Miras, Disperindag Minta Pemilik Minimarket Kooperatif

Hanny Wajong (Foto Ist)

Hanny Wajong (Foto Ist)

MANADO – Terkait larangan Pemerintah pusat melalui menteri perdagangan terhadap larangan penjualan minuman keras (Miras) alkohol golongan A diminmarket dan warung, mendapat tanggapan serius dari Dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Sulut.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Sulut Hanny Wajong saat ditemui Suluttoday.com Senin (20/4/2015)mengakui, tak bisa menjangkau seluruh minimarket dan warung yang menjual alkohol jenis ini. Dia harap, minimarket atau pengecer lainnya bisa kooperatif.

”Karena larangan ini sudah disosialisasikan sejak lalu. Kita akan menyurat lagi tentang ini. Namun, kami imbau agar masyarakat mematuhinya,” ujarnya.

Lanjut Wajong, pihaknya akan serius menegakkan Permendag ini. Karena pertumbuhan minimarket sangat pesat di Sulut. ”Jika masih menjual alkohol jenis A kami akan tertibkan dan juga ini tentu akan mengganggu masyarakat umum,” pungkas dia. (Fajri Syamsudin).

Disperindag Sulut Imbau Tidak Gunakan Pakaian Bekas

Pakean Cabo diminati masyarakat (Foto Ist)

Pakean Cabo diminati masyarakat (Foto Ist)

MANADO – Masyarakat yang ‘doyan’ memakai pakaian bekas, sebaiknya secepatnya menggantinya dengan pakaian yang baru. Pasalnya, dalam pakaian bekas memiliki bakteri yang menimbulkan berbagai penyakit. Oleh sebab itu, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Utara (Sulut), Hanny Wajong, menghimbau kepada konsumen agar memilih pakaian baru ketimbang yang sudah bekas.

“Pada pakaian bekas memiliki jamur patogen. Di mana, jamur ini bisa menimbulkan gatal-gatal bagi pemakainya. Makanya, janganlah pakai yang bekas,” ungkap Wajong kepada wartawan belum lama ini. Tak hanya gatal-gatal, lanjut Wajong, dengan memakai pakaian bekas akan mengakibatkan bisul, infeksi pada kulit manusia dan gangguan pencernaan. “Lebih parah lagi gangguan pada kelamin,” sambungnya.

Wajong mengatakan himbauan ini bukan hanya menakut-nakuti masyarakat, tetapi memang kenyataannya demikian. “Belum lama ini, Kementerian Perdagangan mengambil sample 25 pakaian bekas. Setelah diuji, semuanya positif memiliki jamur patogen. Ini yang perlu diwaspadai,” tuturnya.

Dari hasil uji tersebut ternyata dalam per gram pakaian bekas didapati sekitar 36 ribu bakteri. Bahkan, ada pula pakaian dari luar negeri tersebut memiliki 216 ribu bakteri per gramnya. “Kalau sekarang memang belum ada yang komplain akibat pakaian bekas. Tapi, kedepannya bakal bermunculan,” ujarnya.

Wajong menambahkan dengan masyarakat menggunakan pakaian baru, terlebih khusus yang dipakai pakaian lokal pastinya membuat industri pakaian lokal akan tumbuh. “Torang itu harus memajukan industri lokal,” pungkasnya.(**/Don)

iklan1