Tag: faruk umasangaji

Musim Kemarau, Relawan Rumah Zakat Lakukan Penyaluran Air

Relawan Rumah Zakat sat membagikan air pada warga (Foto Suluttoday.com)

Relawan Rumah Zakat sat membagikan air pada warga (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Berbagi air kehidupan Relawan Rumah Zakat (RZ) melakukan penyaluran air bersih di Lingkungan 2 Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala dan Lingkungan 3 Kelurahan Pandu Kecamatan Bunaken Darat Kota Manado Sulawesi Utara sebagai sebagian tempat yang sangat membutuhkan air bersih berdasarkan survey Relawan RZ.

Sabtu 3/10/2015 Nur Amelia, Kordinator Daerah Rumah Zakat menyampaikan bahwa dengan situasi musim panas saat ini ada beberapa tempat yang mengalami kekeringan di Kota Manado maka sebagai Organisasi sosial dan bencana Rumah Zakat berkewajiban untuk memberikan support bagi warga yang mengalami kesusahan dan kesulitan dengan menyalurkan air bersih.

”Bicara ketermanfaatan, kedua tempat yang menjadi sentral kegiatan Relawan RZ adalah tempat yang layak untuk mendapatkan bantuan air bersih. Perlu diketahui juga RZ bukan hanya focus pada penyaluran air bersih namun juga menyalurkan bantuan-bantuan lain kepada masyarakat yang mengalami bencana alam,” ujar Amel.

Hal mendapat tanggapan positif warga, salah satunya dari Karmila Morawan, Warga Lingkungan 2 Kelurahan Banjer Kecamatan Tikala selaku penerima bantuan air bersih menuturkan ucapan terimah kasih kepada Relawan RZ yang telah membantu kami dengan menyalurkan air bersih.

”Di lingkungan 2 mengalami kekeringan sudah hampir empat bulan, tulah sebabnya kami juga berharap kepada pemerintah Kota Manado untuk dapat membantu menyalurkan air yang kami butuhkan, terima kasih atas bantuannya dari Relawan Rumah Zakat” tutur Karmila.

Begitu juga menurut Abdullah Welan, selaku Pala Lingkungan 3 Kelurahan Pandu kepada Relawan RZ yang telah membantu warganya dalam hal pengadaan air bersih. ”Perlu diketahui juga bahwa bantuan air bersih yang diberikan oleh Relawan RZ di lingkungan 3 sebanyak 14.000 Liter air untuk masyarakat yang baru pindah dari Kelurahan ma’asing,” ucap Abdullah menutup. (Faruk Umasangaji)

Organisasi Cipayung Manado Sambut Hari Lahir Pancasila dengan Refleksi

HMI, LMND, GMNI dan GMKI cabang Manado saat bersama melakukan refleksi (Foto Suluttoday.com)

HMI, LMND, GMNI dan GMKI cabang Manado saat bersama melakukan refleksi (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Bertempat di jalan Boulivard Kota Manado telah berlangsung renungan dan pemasangan lilin dalam rangka memperingati Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni yang dilakukan organisasi Cipayung bersama organisasi kemahasiswaan ekstra kampus lainnya (Cipayung plus) se-Kota Manado, yakni HMI Cabang Manado, LMND Kota Manado, GMKI Cabang manado dan GMNI cabang Manado yang tergabung dalam fron Refleksi Hari Lahirnya Panacasila dengan tema ‘Tanpa Panacasila Kita Bukan Indonesia’.

Refleksi yang digelar Senin (1/6/2015) malam bertempat di Patung Wolter Mongosidi Malalayang Kota Manado itu dipimpin Faruk Umasangadji, selaku koordinator lapangan (Korlap). Dalam orasi pembuka Faruk menyampaikan bahwa, memperingati hari lahirnya Pancasila seharusnya diwajibkan bagi seluruh rakyat indonesia sebab tanpa Pancasila kita bukan Indonesia.

”Kegiatan ini juga merupakan bentuk silahturahmi antar organisasi yang ada di kota manado. Perjuangan kita terkadang dengan cara yang berbeda-beda namun terdapat juga momentum yang membuat kita satu dalam perjuangan,” kata Faruk.

Disisi lain Eko R. Z. Yahya, Ketua LMND Eksekutif Kota manado dalam orasinya menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan langkah kita bersama untuk mengembalikan nilai-nilai pancasila yang sudah tergerogoti secara perlahan-lahan. Dengan semangat kita meneguhkan kembali ideologi Pnacasila guna untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

”Pancasila bukan sekedar jargon tanpa makna, namun Pancasila memiliki nilai historis yang tinggi bagi perjuangan merekbut kemerdekaan. Mari kita kembalikan nilai-nilai Pancasila yang mulai merosot dan disalahtafsirkan saat ini, pemerintah benar-benar berpegang pada Pancasila tidak akan tersesat pada jurang kemelaratan,” tegas Eko yang juga mahasiswa FISPOL Unsrat Manado ini.

Sementara itu, menurut Masril Karim, Ketua Umum HMI Cabang Manado menjelaskan Sebuah kewajiban bagi seluruh Masyarakt Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai Pandangan Hidup sebab Pancasila merupakan jiwa sekaligus kepribadian berbangsa dan bernegara. “Tidak ada negara di dunia ini yang memiliki ideologi seperti bangsa Indonesia. Panacasila merupakan jati diri sekaligus identitas bangsa indonesia yang harus ditunjukkan dengan tindakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucap Masril. (M. Isnain Umasangaji)

KAMMI Sulut Gelar Pengkaderan Tingkat Nasional

Kader KAMMI Sulut usai menggelar DM 1 (Foto Suluttoday.Com)

Ilustrasi kegiatan KAMMI Sulut (Foto Suluttoday.Com)

MANADO – Dalam rangka realisasi program, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Wilayah Sulawesi Utara berencana melaksanakan Pembukaan Training Pengkaderan Tingkat Nasional dan Pelatihan Politik se-Indonesia Timur. Pengkaderan Tingkat Nasional (PTN) dengan tema Regenerasi Pengkader yang Tanggap dan Cerdas Politik, Aula Kantor Walikota Manado menjadi sentral Pembukaan kegiatan.

Kamis/14/Mei/2015 Rahman Dani Lasamadi, Ketua Panitia ketika dikonfirmasi menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk memebentuk Instruktur Korps Nasional di KAMMI Wilayah Sulut, agar kedepan dapat mengelolah kader dan sistem pengkaderan baik DM1 tingkat komisariat, DM2 tingkat daerah maupun DM3 pada tingkat Wilayah.

”Kegiatan PTN yang dirangkai dengan Daurosiasi (Pelatihan Politik) ini gunanya untuk mempersiapkan kader-kader KAMMI dalam mengawal PILKADA 2015 di Provinsi Sulawesi Utara kedepan nanti,” ucap Rahman selaku Panitia, Rabu (13/5/2015).

Lanjut Rahman yang juga selaku Pengkom KAMMI Daerah Manado menyampaikan juga terkait dengan kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran politik kader KAMMI dalam konsep politik Islam sekaligus untuk menciptakan kader-kader KAMMI yang memiliki kemampuan strategis dalam melakukan kerja-kerja dakwah organisasi KAMMI. (Faruk Umasangaji)

Dialog Publik FPN Sulut, Fredy Wowor: Kearifan Lokal Perlu Dipelihara

Saat berlangsungnya dialog (Foto Suluttoday.com)

Saat berlangsungnya dialog (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Mengusung tema ‘Memutus Mata Rantai Konflik Sosial Berbasis Kearifan Lokal’, pengurus Forum Peduli Nusantara (FPN) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dalam Dialog Publik, Jumat (24/4/2015) siang tadi berlangsung sukses. Pasalnya, dari kedua narasumber yang dihadirkan, yakni Fredy Wowor S.S, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsrat Manado dan Muhammad Nur Andi Bongkang SE, aktivis muda Kota Manado memaparkan berbagai gagasan penting tentang perlunya konflik sosial ditiadakan.

”Spirit kearifan lokal itu terlahir dari pribadi manusia, jika ini diwujudkan secara baik maka kehidupan sosial kita di daerah ini tidak mengalami gangguan signifikan. Memang diakui bahwa benturan sosial dilapangan terjadi karena masih minimnya kesadaran masyarakat dalam melestarikan kearifan lokal, konflik juga harusnya melahirkan solusi bukan malah melahirkan suatu persoalan baru,” ujar Nur Andi Bongkang sebagai pembicara pertama.

Sementara itu, Fredy Wowor dalam pemaparan materi menyampaikan perlunya budaya lokal masyarakat Minahasa dipahami kemudian diterapkan secara benar. Menurut dosen muda yang dikenal vokal itu, eksistensi manusia modern sering dalam perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan para pendahulu.

”Jangan pernah menjadikan manusia untuk disembah, manusia harus memahami peran yang sesungguhnya. Penguatan nilai kearifan lokal dalam pendidikan formal sangat perlu perhatikan, kemudian rasa saling menghargai antar sesama manusia juga menjadi entitas penting guna terbinanya keharmonisan sosial. Jika tidak ada lagi keteladanan, maka lambat-laun konflik sosial akan terjadi, kondisi sosial akan sulit terkontrol. Nah, soal diskriminasi agama dan diskriminasi sosial perlu dikurangi atau dilawan, dan penerapan nilai kearifan lokal (local wisdom) perlu terus dipelihara, sebagai orang Minahasa saya menilai perlu kita kembali menjalankan pesan leluhur,” tutur Fredy.

Untuk diketahui kegiatan yang dilaksanakan di Sarang Kopi kawasan Megamas Kota Manado ini dihadiri, Jim Robert Tindi aktivis senior dan Direktur Eksekutif GERAK Sulut, Masril Karim, Ketua Umum HMI Cabang Manado, Jendri Frans Mamahit, Ketua KNPI Kecamatan Tikala dan pimpinan Redaksi media online Manadosatunews.com, Michael Djamal, Ketua Jurnalis Online Manado (JAROD), Fahlis, Ketua Umum Badan Tadzkir Universitas Sam Ratulangi Manado, dan beberapa aktivis mahasiswa lainnya. Moderator dalam Dialog Publik kali ini, Sahrudin Tukuboya, yang juga Sekretaris Umum HMI (MPO) Cabang Manado.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama FPN Sulut dengan sejumlah media onlie, seperti Okemanado.com, Suluttoday.com, Manadosatunews.com, Transparansiindonesia.com, Treevsulut.com dan Topiksulut.com, bersama kelompok studi Manifesto. (Faruk Umasangaji)

68 Tahun HMI untuk Rakyat Karya Nyata Indonesia

Milad HMI ke 68 HMI Cabang Manado gelar refleksi

Milad HMI ke 68 HMI Cabang Manado gelar refleksi

MANADO – Memperingati Enam puluh delapan (68) Tahun sudah usia Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini, mengingatkan kita pada 68 tahun yang lalu ketika pada 5 februari 1947 M yang bertepatan dengan tanggal islam 14 rabi’ul awal 1366 Hijriah berdirilah organisasi islam yang disingkat HMI.

Berselang dua tahun dari proklamasi 17 agustus 1945, ditengah atmosfer politik atau kondisi sosial yang diwarnai semangat revolusioner, energy dan psikologi umat islam serta bangsa yang habis tersita mempertahankan proklamasi kemerdekaan, mengusir kolonialisme namun dengan semangat Mahasiswa Sekolah Tinggi Islam seorang Lafran Pane hadir selaku salah satu tokoh yang memprakarsai berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam.

Kehadiran HMI ditengah Ibu Kota Negara Republik Indonesia masih berkedudukan di Yogyakarta sebagai respon terhadap situasi politik, pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan agama yang masih belum sepenuhnya terlepas dari cengkaraman penjajah. Tujuan dan cita-cita HMI untuk mempertahankan Negara republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama islam.

HMI berkomitmen untuk membangun bangsa, pada tahun 1974 sampai orde baru perjuangan HMI selalu berjuang untuk melawan penjajah dan menentang gerakan anti Pancasila, serta berjuang untuk rakyat Indonesia. Komitemn ini terlihat juga dalam Anggaran Dasar/Bab III pasal 4 tentang tujuan HMI yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wata’ala.

Refleksi perjalanan perjuangan HMI yang ke 68 tahun ini menunjukkan bahwa kehadiran HMI telah berjuang atas nama rakyat sebagai karya nyata untuk membangun Indonesia. Sepanjang masyarakat adil dan makmur belum terpenuhi seperti yang dicita-citakan oleh Negara republik Indonesia maka dengan amanah konstitusi HMI akan selalu mengabdi untuk bangsa dan Negara. (Faruk Umasangaji)

iklan1