Tag: ferry liando

DR Ferry Liando: Kebijakan KPU Menciptakan Prinsip Keadilan

DR Ferry Daud Liando (Foto Ist)

DR Ferry Daud Liando (Foto Ist)

MANADO – Setelah membaca Perppu terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), banyak pihak juga mulai memberikan analisa terkait peluang para Calon Kepala Daerah khususnya di Kota Manado saat ini. Menurut DR Ferry Daud Liando, pengamat politik dan pemerintahan menyampaikan beberapa catatan penting ketika ditanya tentang aturan Pilkada.

”Aturan Pilkada yang ditetapkan DPR RI ini positif. Hal itu untuk mencegah, yang pertama politisasi birokrasi. Selama ini struktur birokrasi sering dimanfaatkan oleh incunbent sebagai mesin politik untuk memobilisasi pemilih. Pengalaman pemilu 2014 di Sulut, Parpol mana yang dibela Gubernur/Bupati/Walikota, maka partai itulah yang menang, misalanya kemenangan PDIP di Mitra, Minahasa, Sangihe, Minut, Sitaro,” ujar Liando yang juga dosen FISPOL Unsrat Manado ini.

Menurutnya lagi bahwa peluang menang bagi incunbent dalam kompetisi politik berdasarkan aturan Pilkada sebelumnya begitu terbuka. ”PDIP misalnya, dibeberapa daerah di Sulut menang karena Kepala-Kepala Daerah berpihak di PDIP. Demikian juga dengan Golkar di Minsel dan Tomohon, PKPI di Bitung dan Demokrat di Manado. Hal itu terjadi karena aparat birokrasi dijadikan mesin politik oleh Kepala Daerah. Bahkan sebagian diintimidasi,” papar Liando tegas.

Mantan aktivis mahasiswa inipun menyampaikan penggunaan atau pemanfaatan dana Bansos bagi kandidat Kepala Daerah yang sementara menjabat menjadi strategis jitu. ”Yang kedua, untuk menghindari politisasi Bansos. Pengalaman sebelunya bansos yang merupakan anggaran APBD dibagikan ke publik menjelang pemilukada tapi mengatas namakan calon. Kedua modus ini tentu menguntungkan incunben dan merugikan kontestan lain. Kebijakan KPU ini untuk menciptakan prinsip keadilan,” ucap Liando pada Suluttoday.com, Minggu (25/1/2015). (Amas Mahmud)

Suksesi Pilwako 2015, Ini Peluang GSVL Menurut Ferry Liando

Dr. Ferry Liando dan Dr. GS Vicky Lumentut

Dr. Ferry Liando dan Dr. GS Vicky Lumentut

MANADO – Banyak kalangan memprediksi, Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Manado tahun ini ada beberapa tokoh akan maju bertarung. Meski belum ada yang mau buka mulut di media, namun DR Goodbles Sofcard Vicky Lumentut (GSVL) sudah secara terang-terangan mengungkapkan niatnya untuk maju kembali periode 2015-2020.

Ungkapan tulus GSVL itu bak gayung bersambut ditanggapi pengamat politik dan pemerintahan yang juga akademisi, DR Ferry Liando saat diwawancarai terkait kiprah dan peluang Lumentut dalam kompetisi politik 2015 ini. Liando menjelaskan dirinya memiliki kalkulasi serta analisa secara akademis bahwa figur GSVL memiliki peluang tentunya.

Saya melihat ini dari aspek akademisi karena mengacu pada sistem pembangunan berkelanjutan. – DR Ferry Liando, pengamat politik dan pemerintahan Sulawesi Utara, Kamis (8/1/2015).

Menurutnya, masa kerja 5 tahun bagi seorang kepala daerah memang tidak cukup. Apalagi revisi RPJMD Kota Manado baru ditetapkan. ”RPJMD itu berisi visi misi dari Wali Kota yang disampaikannya pada saat kampanye pemilukada,” ujar Liando.

Jika dalam jangka 5 tahun sudah terjadi pergantian Wali Kota, maka RPJMD itu tidak mungkin diberlakukan lagi karena Wali Kota baru punya visi misi yang mungkin berbeda dengan Wali Kota terdahulu.

”Dengan demikian RPJMD pasti akan di revisi lagi. Karena secara politis tidak mungkin RPJMD Wali Kota terdahulu akan dijalankan oleh Wali Kota baru,” tutur dosen yang dikenal santun ini.

Menurut Liando, UU 32 tahun 2004 sebagaimana direvisi dengan UU 23 tahun 2014 mengamanatkan ketentuan masa kerja 2 periode atau 10 tahun. ”Namun jangka waktu tersebut ada Pemilukada sela seperti mekanisme Pemilu sela di Amerika Serikat. Pada masa 5 tahun menjabat Wali Kota, dilakukan pemilihan kembali dalam rangka evaluasi publik,” kata Liando.

Kecuali, katanya, jika mereka senang dengan kebijakan pemimpinanya maka mereka akan memilih kembali untuk 5 tahun berikutnya. Jika tdk senang maka publik tidak akan memperpanjang jabatannya.

”Itu perhitungan akademisinya. Tapi perhitungan politisnya semua calon memiliki peluang yang sama, terutama Pak GSVL yang adalah saat ini menjabat Wali Kota Manado. Apalagi melihat calon bukan pada kapasitas dan pengabdian tetapi ditentukan oleh hadiah, kesamaan etnik dan kesamaan kepercayaan,” papar dosen politik FISPOL Unsrat Manado ini menutup. (Amas Mahmud)

 

 

Gerakan Ikat Pinggang, Liando: Yang Penting Itu Keteladanan

DR. Ferry Liando (Foto Ist)

DR. Ferry Liando (Foto Ist)

MANADO – Gerakan Ikat Pinggang (penghematan anggaran) yang digembar-gemborkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mulai mendapat dukungan pemerintah daerah. Hal tersebut juga diterapkan pemerintah Kota Manado, sebagaimana yang disampai Dr. GS Vicky Lumentut, Walikota Manado belum lama ini.

Menanggapi hal tersebut, pengamat politik dan pemerintahan Sulawesi Utara (Sulut), Dr. Ferry Liando menilai semangat diterapkannya Gerakan Ikat Pinggang perlu diapresiasi kalangan masyarakat, karena pemerintah sudah mulai memiliki niat berbuat untuk rakyat banyak.

“Iya, itu perlu di apresiasi dan perlu kelanjutanya. Sebaiknya jangan hanya sebatas himbauan, tapi perlu tindakan. Tindakannya adalah regulasi dan keteladananan. Regulasinya yaitu perlu pedoman tentang penghematan dan penggunaan anggaran,” ujar Liando pada Suluttoday.com.

Sekretaris AIPI Manado ini juga mengatakan perlunya keteladanan dari pejabat publik atau pemerintah pada masyarakat, sehingga tidak ada kesan Gerakan Ikat Pinggal sekedar pencitaan atau hanya dibibir saja.

“Penghematannya adalah memangkas penggunaan anggaran yang tidak memberi manfaat bagi kepentingan publik. Diatas segala-galanya adalah keteladanan,” papar Liando yang juga Ketua Senat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini. (Amas Mahmud)

Sticker GSVL Beredar, Liando: ”Beliau Masih Bersedia Lanjutkan Pengabdian”

Dr. Ferry Liando dan Dr. GS Vicky Lumentut

Dr. Ferry Liando dan Dr. GS Vicky Lumentut

MANADO – Beragam tanggapan terkait beredarnya sticker yang dipasangkan di kendaraan roda dua di Kota Manado mulai mendapat tanggapan. Dr. Ferry Liando pengamat politik dan pemerintahan Sulawesi Utara (Sulut), saat dikonfirmasi menyebutkan sticker yang bertuliskan GSVL for Manado 2015-2020 bertanda Walikota Manado, Dr. GS Vicky Lumentut akan bertarung lagi pada Pilwako 2015.

Itu sebagai signal bahwa beliau masih bersedia melanjutkan pengabdiannya. Sasaranya ada 3, bagi pemilih, partai politik maupun media. Dalam politik, hal ini adalah wajar. – Dr. Ferry Liando pengamat politik dan pemerintahan Sulut, Minggu (16/11/2014).

Lanjut dosen pengajar jurusan ilmu pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fispol) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado mengakatan apa langkah yang dilakukan GSVL juga merupakan bagian dari proses politik, yang kemudian muncul pada momentum yang tepat.

”Ini adalah bagian dari proses politik. Perencanaan politik harus diawali dengan sosialisasi politik. Dan sekaranga adalah momentum yang tepat untuk memulai sosialisasi mengingat Pemilukada yang akan di gelar tahun depan,” kata Liando. (Amas Mahmud)

Ferry Liando: Elit Parpol Tidak Mesti Berorientasi Jabatan

Dr. Ferry Liando (Foto Ist)

Dr. Ferry Liando (Foto Ist)

MANADO -Ketika menyampaikan materi dalam Seminar yang digelar Kesbang-Pol Sulawesi Utara (Sulut), Rabu (29/10/2014) di Hotel Sutan Raja, Dr. Ferry Liando menyampaikan terkait konflik politik yang menurutnya lazim, dan mesti mampu dikelola dengan baik oleh Partai Politik (Parpol). Lemahnya manajemen elit Parpol membawa konsekuensi buruk pada Parpol itu sendiri.

Konflik yag terjadi diseputaran elit politik terutama di Parpol dan di parlemen belakangan ini disebabkan mindset elit politik yang keliru. Selama ini dipikiran elit-elit politik adalah politik itu selalu identik dengan jabatan atau kedudukan sehingga dengan segala cara dilakukan elit-elit untuk mendapatkan jabatan. – Dr. Ferry Liando pengamat politik dan pemerintahan Sulut yang saat ini merupakan Dosen tetap di Fispol Unsrat Manado.

Tak hanya itu, Liando menyoroti terkait fenomena pecat-memecat di internal Parpol yang menurutnya salah satu pemicunya karena ‘tidak’ pahamnya elit Parpol terhadap dialektika internal Parpol. Bahkan dikatakannya orientasi kader Parpol terhadap jabatan dapat membuat ‘perpecahan’ diparatai politik menjadi mengemuka.

”Mulai salin pecat, banting meja, main uang hingga bermain mata dgn penegak hukum. Hal itu sesungguhnya tidak akan terjadi apabila kedudukan dan jabatan tidak dijadikan tujuan. Kedudukan dan jabatan hanyalah salah satu instrumen utk mencapai tujuan. Jadi tujuan politik itu adalah masyarakat adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan politik itu tidak harus dengan jabatan yang melekat. Tetapi pengabdian yang tulus dari elit-elit politik itu.

Untuk diketahui, peserta Seminar dihadiri oleh pimpinan Parpol diseluruh sulut, Ketua kesbangol kab/kota, tokoh-tokoh agama, dan Dr. Taufiq Pasiak yang tampil juga menjadi salah satu Narasumber. (Amas Mahmud)

iklan1