Tag: fispol unsrat manado

INDONESIA RUMAH BESAR KITA, PEMILU UNTUK SIAPA?

Amas Mahmud (FOTO Suluttoday.com)

”Menakar Spirit Pembangunan Indonesia”

IBARAT rumah dalam sebuah keluarga tentu banyak harapan didalamnya, ada kepala rumah tangga, bendahara yang punya peran cukup berat dan juga ada anak-anak dengan berbagai karaker berbeda. Seperti itu pula rumah merupakan miniatur Negara, artinya ‘rumah besar’ akan kuat yang penyangga dan kondusinya kondusif, rukun, ketenangan ini dilahirkan di dalam rumah itu, auranya tentu meluas terlahir jalinan persahabatan, kekerabatan tercipta dengan semua orang yang ada di dalam rumah tersebut. Rumah yang dapat menciptakan iklim ketenangan, hidup rukun, saling menghormati, penuh kasih sayang dan tiap orang disana mengetahui kerjanya masing-masing.

Mengaktualisasikan Indonesia sebagai ‘rumah besar kita’ dari skala luasnya memang cukup tidak selaras jika disandingkan Negara dan ‘lokasi rumah’ atau bentuk materil. Namun, ketika diatur dengan baik, maka soal skala dan territorial bukanlah persoalan utama, melainkan letaknya berada pada keseriusan, kepekaan, kebulatan tekat dan kemauan kita untuk membuat rumah tersebut aman, damai, sejahtera hingga terwujud cita-cita bersama. Tidak mudah diganggu atau didikte pihak ekternal.

Jelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019, keberadaan ‘rumah besar kita’ yang namanya Indonesia ini seolah ‘dikepung’ dengan pertempuran kepentingan (conflict of interest). Kepentingan elit vs elit, pengusaha vs pengusaha, politisi vs politisi, pemburu kekuasaan vs pemburu kekuasaan, bahkan benturannya sampai dirasakan rakyat. Mereka sebagai konstituen (pemilih dalam Pemilu) diadu, dipertentangkan melalui perbedaan politik. Ada rakyat yang fanatik menjadi pemilih, mereka adalah para simpatisan, kader parpol, relawan dan pekerja politik tentunya yang umum kita istilahkan sebagai ‘tim pemenang’ atau ‘tim sukses’.

Begitu pula dengan tipikal rakyat yang ‘kurang antusias’ dalam tiap kali momentum politik, rakyat yang mulai menaruh curiga kepada pemimpinnya dan mengambil posisi menjadi apatis, juga relatif banyak. Ada kaum avonturir (petualang) dan makelar politik yang secara berani ‘menjual jasa’ entah sebagai apa?. Tapi biasanya, berbagai tipe rakyat semacam ini selalu kita temukan dalam tiap suksesi politik. Kita sering menjumpai pula pemilih yang mengambil posisi moderat, mereka tak mau terbawa arus akibat konflik kepentingan, kebanyakan diantara mereka adalah kaum intelektual, pekerja birokrat professional, atau bisa jadi mereka ‘para bandit’ yang menyukai ‘bermain’ disemua kubu disaat momentum politik.

Itu sebabnya menyangga atau menjadikan Indonesia sebagai rumah besar kita harus diawali dengan tradisi-tradisi yang baik. Baik elit politik, rakyat sampai pengusaha harus satu persepsi yakni memajukan Indonesia, sehingga kita memulai politik di Pemilu 2019 ini betul-betul dengan kekeluargaan bukan sekedar kesejukan narasi yang dipertontonkan. Tapi, bagaimana pertunjukkan ‘dibelakang panggung’ menjadi penjamin bahwa rakyat kita baik-baik saja, tidak dalam kebersadaan yang ‘membahayakan’. Artinya tidak tipu menipu ditingkatan elit atau pemburu kekuasaan, lalu rakyat dihadap-hadapkan hingga berkonflik.

Isu-isu SARA dan politik idenditas lainnya sebenarnya bukan ancaman serius demokrasi kita, kelau kita membaca politik secara universal. Yang merusak kita adalah moralitas politisi, para aktivis politik dan rakyat yang terus-menerus memudar, diabaikan. Kalau rakyat dididik dengan politik yang bermoral dan mengedepankan etika, isu-isu destruktif dihindari, maka rumah besar Indonesia akan bisa kita tempati.

Dilain pihak, kita harus ‘gencatan senjata’ berhenti sejenak atau selama-lama dari perang hoax, saling mencari-cari kesalahan. Memang patut kita akui, Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap pemimpin maupun calon pemimpin Negara ini, itu artinya butuh kesabaran kita melanjutkan semua hasil-hasil perjuangan para pejuang Kemerdekaan di Indonesia. Bila ada yang lalai, ada yang sombong dan ada yang merasa paling pandai, mari saling mengingatkan, jangan kesombongan atau caci maki kita balas dengan kesombongan dan caci maki pula.

Jika semua nafsu saling menjatuhkan itu diredam, dicarikan solusi cerdas, maka kita semua akan dengan mudah menggapai cita-cita Indonesia rukun, damai, sejahtera dan penuh toleran. Indonesia rumah besar kita didasarkan atas pikiran-pikiran yang plural, karena dari keberagaman itulah Indonesia ada. Pemerintah harus membiasakan rakyat dengan saling menghargai pendapat, keberagaman itu harus dikompromikan dengan keberagaman lainnya yang tentu positif.

Bukan kita memaksakan untuk menyatukan perbedaan atau keberagaman itu dalam wadah yang terbatas, karena substansinya ialah saling menghargai keberadaan sesama anak bangsa. Selain itu, manakala kebiasaan luhur dan mulia yang diwariskan pendahulu diterapkan elit pemerintah saat ini, maka yakinlah Indonesia akan semangkin maju lebih pesat lagi. Begitu pun dengan tekat kokoh kita melahirkan Pemilu 2019 yang beradab, berarti kita memberi ‘ruang kepercayaan’ sekaligus mendukung kerja-kerja para penyelenggara Pemilu (KPU dan BAWASLU) agar betul-betul mandiri dalam bekerja dan melakukan edukasi politik secara intens. Penyelenggara Pemilu juga kita harapkan dapat meleburkan sekat-sekat politik ditengah rakyat yang berpotensi memunculkan sentimen dan konflik sosial.

Format seperti inilah yang dinantikan semua elemen rakyat Idonesia, dimana keteraturan itu mulai ditunjukkan pemerintah, penyelenggara Pemilu, rakyat dan stakeholder penting lainnya. Dari semangat itu, berarti Pemilu akan dihadiahkan untuk rakyat, bukan untuk siapa-siapa dalam artinya kelompok tertentu. Tetapi untuk kepentingan kita semua, dengan artian bila start Pemilu sudah baik, maka malapetaka dan tragedi dari praktek demokrasi yang menyesatkan akan dapat diminimalisir, itu kemudian akan lahirlah hasil Pemilu yang berkualitas tinggi. Berhentilah dengan menunjukkan politik huru-hara.

Pemilu 2019 bukan diperuntukkan bagi bandar politik, para ‘penjudi politik’, para bandit dan elit politik rakus kekuasaan saja, namun lebih dari itu adalah hajatan bersama. Jangan dianggap Pemilu akan berjalan baik-baik saja, bila rakyat apatis dan tidak mau berpartisipasi dalam politik. Lebih banyak rakyat sadar akan hak-hak politiknya dengan menunjukkan partisipasi politik, maka hasil Pemilu 2019 mendatang dipastikan lebih baik. Pemilu 2019 merupakan ‘hari raya’ kita dalam berdemokrasi di Indonesia, silahkan kita ikut mengambil peran dan melakukan pengawasan partisipatif.[***]

 

 

_________________________

Penulis Amas Mahmud, Alumnus FISPOL Unsrat Manado

Rawan Intervensi, Pemilihan BEM FISPOL Unsrat Alot Akibatnya Mahasiswa Unjuk Rasa

Mahasiswa FISPOL Unsrat saat berunjuk rasa (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Kampus yang diharapkan menjadi garda terdepan dan laboratorium bagi kegiatan akademik yang mendidik, jauh dari segala macam bentuk intervensi maupun intimidasi politik sering saja bergeser dalam prakteknya. Kesenjangan antara ekspektasi dan implementasinya tersebut mengakibatkan adanya penolakan berupa demonstrasi yang terjadi.

Seperti di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISPOL) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Kamis (1/3/2018) sejumlah mahasiswa menunjukkan sikap protesnya terhadap tindakan pihak Fakultas dalam hal ini pimpinan Fakultas yang dinilai melakukan intervensi terhadap proses pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISPOL Unsrat.

“Demonstrasi yang kita lakukan hari ini merupakan wujud dari ketegasan kita menolak yang namanya intervensi. Seharusnya proses demokrasi ditengah mahasiswa diawasi pihak Fakultas, mahasiswa dibina dan diarahkan bila melakukan tindakan yang keliru dibenarkan, bukan sebaliknya. Yang terjadi di FISPOL Unsrat malah lain, pimpinan Fakultas ikut capur dalam pemilihan BEM yang masih berjalan,” ujar salah satu orator dalam unjuk rasa, Kamis (1/3/2018).

Hal senada juga disampaikan Sinyo salah satu mahasiswa FISPOL Unsrat yang menyesalkan atas perkembangan demokrasi kampus reformasi (FISPOL) Unsrat yang tidak mengalami kemajuan. Apalagi, kata Sinyo Indonesia saat ini berada di era informasi dan transparansi.

”Kami menyayangkan atas intervensi pihak kampus, semestinya mahasiswa diberikan ruang representatif dalam berdemokrasi. Turut berdukacita atas matinya demokrasi di FISPOL Unsrat. Pada momentum ini kami yang tergabung dalam Mahasiswa Pemerhati Demokrasi FISPOL Unsrat menuntut pimpinan Fakultas jangan intervensi pesta demokrasi mahasiswa FISPOL Unsrat. Biarkan panitia KPUM menjalankan tugas-tugas yang semestinya mereka lakukan,” tegas Sinyo dalam orasinya.

Tangan terkepal, mahasiswa kompak lawan intervensi (FOTO Ist)

Disampaikannya lagi, pimpinan Fakultas sebetulnya memberi ruang dan menyerahkan proses penyelenggaraan pemilihan sepenuhnya kepada Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) yang sesuai aturan main berada dalam pengawasan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISPOL Unsrat.

“Berikan kesempatan dan ruang kepada mahasiswa yang melakukan proses demokrasi. Jangan kemudian hak berekspresi mahasiswa disabotasi atau dirampas seperti saat ini,” ujar Sinyo.

Ditempat terpisah, Yeriko Sarepa dari DPM FISPOL mengatakan ketika ada masalah yang terjadi pada saat proses tahapan pemilihan BEM, panitia seharusnya berkoordinasi lebih dulu dengan DPM bukan langsung ke Pimpinan Fakultas. Karena katanya, KPUM adalah lembaga bentukan DPM FISPOL.

“Iya, kami melihat tindakan Pimpinan Fakultas dalam hal ini WD 3 FISPOL yang menghentikan tahapan pemilihan BEM tanpa berkoordinasi dengan DPM adalah suatu tindakan yang menyalahi prosedur. Karena persoalan ini adalah persoalan yang masih diranahnya DPM,” kata Yeriko.

Berbeda dengan mahasiswa, Dekan FISPOL Unsrat, Novy Pioh saat dikonfirmasi Suluttoday.com melalui Nomor WhatsApp 0852567350xxx, terkait beredarnya informasi adanya intervensi dari Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan (WD3) FISPOL Unsrat, enggan memberikan komentar apa-apa.

Untuk diketahui, pemilihan BEM FISPOL Unsrat dilaksanakan pada hari Rabu (28/2/2018) kemarin. Dalam pelaksanaannya yang relatif terulur perhitungan suara, bahkan sempat terjadi polemik yang berakibat pada pimpinan Fakultas menghentikan proses yang berlangsung. (*/Redaksi)

Sah, Pengurus BKM Pers Mahasiswa FISPOL Unsrat Dilantik

Prosesi pelantikan Pers Mahasiswa di Lobby FISPOL Unsrat Manado (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Eksistensi organisasi intra kampus seperti Biro Kegiatan Mahasiswa (BKM) di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISPOL) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado terus bertambah. Hal itu ditandai dengan dilantiknya pengurus BKM Pers Mahasiswa FISPOL Unsrat, Rabu (15/3/2017) kemarin. Dalam pelantikan pengurus, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Rinaldo Dogowini menuturkan bahwa agenda pengadaan BKM tersebut sudah dibahas pada rapat kerja (raker) BEM beberapa waktu lalu. Namun lanjut Dogowini, nanti bulan ini baru diresmikan.

BKM Pers Mahasiswa telah dirancangkan oleh BEM Fispol Unsrat. Dimana saat raker BEM tahun 2016-2017 di Aula Fispol Unsrat. – Rinaldo Dogowini, Ketua BEM FISPOL Unsrat Manado.

Ditambahkannya lagi, keberadaan Pers Mahasiswa sangat penting. Lanjut Dogowini, selain sebagai wadah belajar mahasiswa, jauh dari itu akan menjqdi fungsi kontrol mahasiswa. “Diharapkan supaya pers mahasiswa mampu menjadi jembatan bagi Mahasiswa Fispol secara Umum dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (Himaju) atau pun BKM pada khususnya,” ujar mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan ini.

Selain itu, Rinaldo berharap agar Pers Mahasiswa yang dinamai yang diberi nama Acta Diurna, dapat proaktif serta peka terhadap isu-isu yang ada. Lebih lagi, semoga bisa menjadi wadah untuk mengkritisi setiap kebijakan pimpinan. Entah itu di fakultas, maupun Jurusan.

“Kiranya kita mampu berbenah. Dan untuk hal tersebut dimulai dari hal-hal yang sederhana. Bahkan saya berharap, pers mahasiswa ini mampu membrikan dampak yang lebih besar tentunya,” paparnya menutup.

Suasana pelantikan pengurus Pers Mahasiswa (Foto Suluttoday.com)

Sementara itu, Ketua BKM Pers Mahasiswa Baladewa Setlight membeberkan sejarah pembentukan BKM ini. Menurutnya bahwa latar belakang berdirinya Acta Diurna karena lanjut Setlight wujud kepedulian akan kebutuhan informasi mahasiswa Unsrat, dan khususnya FISPOL.

Tidak hanya itu, Baladewa menyebutkan dengan wadah ini mahasiswa akan menyalurkan kreativitas mereka bentuk tulisan atau pun kritik yang membangun.

“Berdirinya pers mahasiswa ini, diharapkan untuk menjadi kontrol sosial. BEM, BKM dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) lain, kiranya bisa bersinergi bersama Acta Diurna dalam membangun Fipol yang lebih harmonis,” paparnya. (*/Mas)

Badan Tadzkir FISPOL Unsrat Resmi Laksanakan FMKI

Ketua Umum Badan Tadzkir FISPOL Unsrat ketika sambutan (Foto Suluttoday.com)

Ketua Umum Badan Tadzkir FISPOL Unsrat, Juniar Wibisana Suwignya ketika sambutan (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Badan Tadzkir (BT) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISPOL) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Jumat (16/9/2016) malam ini resmi memulai pembukaan pelaksanaan kegiatan Forum Motivasi Kesadaran Iman (FMKI). Kegiatan ini bertempat di Balai Diklat Agamaan Paniki, Kecamatan Mapanget Kota Manado.

Pada kegiatan kali ini terlihat beda dari tahun2 sebelumnya.karna kegiatan kali ini peserta FMKI mencapai 1006 orang, dimana pada tahun-tahun sebelunnya belum mencapai angka seperti ini. Menurut Juniar Wibisana Suwignya, selaku Ketua Umum BT FISPOL Unsrat kegiatan tersebut diharapkan berjalan sukses.

”Kegiatan FMKI di tahun 2016 ini mengusung tema: ‘Rekonstruksi mental mahasiswa muslim Badan Tadzkir FISPOL Unsrat dengan semangat ke islaman’, temu yang digagas panitia merupakan sebuah proses membentuk sekaligus merubah karakter dan cara berfikir mahasiswa muslim angkatan 2016 yang akan tergabung dalam keluarga besar mahasiswa muslim FISPOL Unsrat Manado,” ujar Juniar dalam sambutannya.

Lanjut Juniar menegaskan agar teman-teman angakatan 2016 bisa mengekuti kegiatan FMKI sampai dengan selesai. FMKI dikatakannya sebagai suatu kegiatan yang bukan serimonial belaka.

Saat berlangsungnya pembukaan FMKI (Foto Suluttoday.com)

Saat berlangsungnya pembukaan FMKI (Foto Suluttoday.com)

Untuk diketahui, kegiatan ini di hadiri Pembina Badan Tadzkir FISPOL Unsarat, Enci Titik Mulyanti S.sos MSi, Enci Dra Jois Rares M.Si, serta Dr. Drs Michael Mamentu MA yang mewakili pimpinan Fakultas, selain itu dihadiri tamu undangan. Diantaranya, pengurus senat FISPOL Unsrat, pengurus BKK dan juga pengurus BKI dan BT se-Universitas Sam Ratulangi Manado.

Dr Michael Mamentu saat sambutan (Foto Suluttoday.com)

Dr Michael Mamentu saat sambutan (Foto Suluttoday.com)

Mewakili pimpinan Fakuktas Mamentu dalam sambutannya menghimbau agar mahasiswa angkatan 2016 bisa bersunggu-sungguh dalam mengikuti kegiatan dan seluruh rangkayan acra yang telah di agendakan panitia, karena kegiatan FMKI adalah salah asatu kegiatan wajib dari Badan Tadzkir yang suda ada dan di atur dalam aturan badan tadzkir. (Dace)

Jalankan Program, Juniar Ingatkan Pentingnya Sinergitas di BT FISPOL Unsrat

Ustad Rizal Kasim saat memberikan ceramah (Foto Suluttoday.com)

Ustad Rizal Kasim saat memberikan ceramah (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Pengurus Badan Tazkir (BT) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISPOL) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado setela sukses menggelar Tazkir Perdana pada tanggal 6 Agustus 2016 belum lama ini. Sabtu (20/8/2016) bertempat di Masjid Kampus Unsrat BT FISPOL Unsrat kembali menggelar tazkir.

Kali ini pengurus mengundang H. Rizal Kasim, S.IP, M.Si selaku penceramah. Rizal membangikan pengalamannya dan mengajak pengurus BT FISPOL Unsrat Manado agar giat belajar serta melakukan hal-hal yang konstruktif.

Tazkir yang panitia pelaksananya melibatkan mahasiswa baru khususnya calon anggota BT FISPOL Unsrat tergolong sukses. Muhammad Luis, selaku ketua panitia pada sambutannya mengatakan sangat senang karena dirinya dan teman-teman angkatan 2016 di libatkan secara langsung sebagai panitia.

”Saya mewakili teman-teman mahasiswa muslim FISPOL Unsrat yang terlah dilibatkan, diberikan kesempatan menjadi panitia untuk memulai proses berorganisasi di BT FISPOL Unsrat kali ini,” ujar Luis.

Anggota dan pengurus BT FISPOL Unsrat serius mendengarkan ceramah (Foto Suluttoday.com)Tak hanya itu, Luis juga berharap agar Tazkir ini bisa digelar kembali sebagai sebua proses untuk mahasiswa baru agar tau bagaimana caranya berorganisasi. Sementara itu, Ketua Badan Tazkir FISPOL Unsrat, Juniar Suwignya menyampaikan melalui sambutannya bahwa Tazkir kedua ini melibatkan adik-adik mahasiswa angkatan 2016 agar mereka juga bisa belajar dan mengetahui badan Tazkir lebih jau.

”Saya mengapresiasi seluruh kerja yang dilakukan panitia Tazkir hari ini, alhamdulillah atas koordinasi yang baik kegiatan ini terlaksana. Selaku pengurus BT FISPOL Unsrat kami berharap kepada seluru pengurus dan senior agar bisa bersinerji untuk mngawal setiap kegiatan BT FISPOL Unsrat. Agar kegiatan Badan Tazkir yang suda di programkan dapat berjalan maksimal,” papar Niar sapaan akrab Juniar. (Dace)

iklan1