Tag: flores

Berjalan Sukses, Sampai Jumpa di Tour de Flores 2017

Tour de Flores (Foto Ist)

Tour de Flores (Foto Ist)

LABUAN BAJO – Para pemangku event Tour de Flores 2016 sepakat, balap sepeda internasional yang menyusuri dari ujung timur Larantuka sampai Labuan Bajo itu bakal dilanjutkan seri-2 tahun depan. Menpar Arief Yahya, Menpora Imam Nahrawi, Gubernur NTT Frans Lebu Raya sudah satu kata, 2017 harus dibuat lebih rapi, lebih besar, dan lebih sempurna lagi.

“Sampai jumpa di TDF 2017,” kata Menpar Arief Yahya dalam press conference di Kantor Bupati Manggarai Barat itu.

Begitupun para sponsor, James Riyadi Lippo Group, Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia yang berada di lokasi finish etape akhir itu. Mereka setuju melanjutkan event yang menyita perhatian banyak masyarakat itu.

“Kita buat Flores semakin terkenal di dunia dari olahraga TDF yang sudah kita bangun bersama ini,” ucap James Riyadi semangat.

Gubernur Frans juga memohon kepada dua kementerian itu untuk kembali memprogramkan TDF di 2017. Dia sudah merencanakan untuk menggunakan jalur yang tahun ini dilalui. Baru tahun 2018 nanti dia mengusulkan untuk melewati jalur utara, menyusuri pantai Flores. “Saat ini jalannya masih belum bagus, dalam dua tahun ini biar diperbaiki. Kalau soal pemandangan, pantai utara sangat indah,” jelas Frans Lebu Raya.

Dia menjelaskan, TDF 2016 ini adalah gagasan besar. Biasanya ide besar selalu menimbulkan polemik. Apalagi ini direncanakan hanya dalam waktu 6 bulan.

“Tetapi akhirnya, semua bisa mengerti, semua mendukung, dan akhirnya sukses,” ungkap Frans, yang berjanji setelah ini akan melakukan evaluasi 2016 dan membangun komitmen untuk 2017.

“Manfaat buat daerah sangat besar. Jalan-jalan yang dilalui menjadi mulus sepanjang 661 kilometer. TDF juga memberikan motivasi masyarakat Flores, terutama anak-anak muda untuk maju. Optimisme dan semangatnya semakin tinggi. Manfaatnya tidak langsung dirasakan sekarang. Bali itu masa lalu, sudah kuat pariwisatanya. Lombok NTB itu masa kini! NTT itu masa depan!” jelasnya.

Frans juga mengingatkan kepada warganya tentang kebersihan. Sampai tiga kali Frans menyebut: bersih, bersih, bersih! Wisatawan tidak mau melihat yang jorok-jorok.

“Pak Menko Maritim sempat mengingatkan, agar senyum!” tuturnya.

Menpar Arief Yahya menyebut ada tiga sukses di Tour de Flores 2016 ini. Pertama, sukses pelaksanaan, yang merupakan gabungan antara sport (olahraga) dan tourism (pariwisata). Kedua, sukses membuat Flores terkenal di seluruh dunia. Dalam seminggu terakhir selalu menjadi trending topic di media sosial.

“Ketiga, sukses menjadi hiburan rakyat, pesta rakyat, seluruh masyarakat hadir di selanjang race yang dilalui balap sepeda ini,” ungkap Arief Yahya.

Tiga sukses itu merupakan modal untuk menggelar event yang sama di tahun 2017. Memang ada satu dua kekurangan, entah itu soal koordinasi maupun pelaksanaan teknis di lapangan. Pengalaman ini bisa dijadikan bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan di pelaksanaan tahun depan.

“Sport tourism seperti ini adalah cara cerdas, cara pintar, untuk mempopulerkan destinasi pariwisata Flores,” tandasnya.

Suasana panas di titik finish, yang persis di depan halaman Kantor Bupati Manggarai Barat itu tidak membuat warga beranjak dari pembatas. Mereka yang memakai payung pun rela untuk menyimpan alat berteduh dari terik matahari itu.

“Ini menjadi semacam pesta rakyat, jadi dalam suasana apapun, mereka terhibur,” kata Arief Yahya.

Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mensupport kegiatan ini. “Tour de Flores memang tidak dirasakan sekarang. Saya pengalaman dengan Sail Komodo, begitu selesai dibangun lapangan terbang dan sekarang sudah punya rumah sakit internasional. Sekarang Labuan Bajo menjadi seperti sekarang,” ucap Agustinus.

Chairmen TDF 2016, Primus D mengajak semua audience untuk bertepuk tangan, sebagai rasa syukur atas berakhirnya event ini. “Dari 100 pembalap sepeda yang ikut start, sekitar 70 an atlet yang sukses sampai di garis finish. Kita sudah menorehkan sejarah baru dengan event internasional pertama di NTT,” ucap Primus.

Dia menyebut, tidak mudah menyelenggarakan TDF 2016 ini. Pengurus ISSI, Raja Sapta Okto Hari menjelaskan, event seperti ini hanya bisa dijalankan oleh orang yang sudah berpengalaman. “Tetapi kami bisa menjalankan dengan baik, dari start di Larantuka sampai finish di Labuan Bajo,” papar Primus.(*/Amas)

Kejutan, Tour de Flores Jadi Perhatian 131 Juta Netizen

Kemenpar saat kegiatan di Tour de Flores (Foto Ist)

Kemenpar saat kegiatan di Tour de Flores (Foto Ist)

FLORES – Menpar Arief Yahya menegaskan kepada Gubernur NTT Frans Lebu Raya akan pentingnya membuat event internasional seperti Tour de Flores 2016. Ini adalah cara yang paling cepat dan mudah untuk memperkenalkan Pariwisata Flores ke seluruh penjuru dunia.

“Media sosial sudah menggemakan TDF 2016 ini menyebar ke secara luas,” kata Arief Yahya.

Begitu NTT dijadikan satu dari 10 top destinasi prioritas, maka semua harus dibuat standar internasional. Bandaranya akan dibangun internasional. Atraksinya sudah berkelas dunia. SDM nya pun harus disertifikasi internasional.

“Event nya pun harus berkelas dunia,” jelas Arief Yahya menjelang peneriman etape terakhir Tour de Flores.

Dijelaskan Arief Yahya, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sedang menjadi sorotan dunia. Sejak digulirkan 19 Mei silam, Tour de Flores sudah digunjingkan 131 juta netizen di jagad maya. Twitter ramai, instagram heboh, Facebook juga ikut disapa topic Tour de Flores. Semua ramai memperbincangkan alam Larantuka, Maumere, Ende, Danau tiga warna, Ruteng dan Labuan Bajo yang berpanorama eksotis.

“Amazing views of Flores #TdFlores @tourdeflores,” tulis akun @ProCyclingStats. “Great coastal road in the first kilometers of stage 3,” sahut akun @mick1_hayden.

“Perfect Kelimitu. What a brilliant day,” timpal pemilik akun @KRDcycling. “Beautiful Indonesia,” tulis akun @xiaomeii. Faustinus Wundu, Managing Tour de Flores, mengungkapkan, ajang balap sepeda ini berdampak luar biasa dalam melecut pengembangan pariwisata sebagai lokomotif utama pembangunan daerah di sekitar arena tour.

“Tour de Flores menjadi even milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang didukung penuh oleh Pemerintah Pusat dibawah koordinasi Menko Maritim dan Sumber Daya. Efeknya sangat luar biasa. Lihat saja boomingnya di jagad maya. Twitter, Facebook, YouTube, Instagram, semua ramai,” ujar Faustinus Wundu, Senin (23/5/2016).

Meski persiapannya mepet dan baru dilaksanakan pada akhir 2015, para peserta asing tetap antusias mengikuti ajang balap sepeda berkala 2.2 itu. Hanya akomodasi saja yang masih menjadi PR pihak penyelanggara.

“Banyak peserta perlombaan yang tidak mendapatkan hotel untuk menginap. Mereka terpaksa beristirahat di rumah-rumah khalwat yang dikelola oleh para biarawati Katolik.” papar Wundu.

Didin Junaidi, Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia, ikut angkat suara. Ramainya perbincangan di dunia maya, menurutnya, merupakan cerminan keberhasilan gelaran suatau even. Bagi Didin, ini merupakan sarana yang penting untuk mempromosikan wisata di suatu kawasan. Ajang seperti itu, diyakini punya potensi menarik wisatawan, baik dari para peserta, maupun wisatawan lain.

“Ada kemungkinan mereka-mereka yang mengikuti lomba akan datang secara individual. Peluang ini yang harus ditangkap pemerintah daerah serta sektor swasta di sana,” ujarnya.

Dia mengatakan tantangan terbesar pemerintah daerah di lokasi pelaksanaan sport tourism adalah mengemas suatu atraksi wisata yang melibatkan masyarakat lokal. Utamanya kelompok-kelompok usaha kecil hingga sektor pariwisata ini mampu memberi manfaat ekonomi.

“Sekarang ini promosi dan pemasaran wisata sudah tidak ada masalah lagi karena pemerintah pusat gencar melakukan. Yang penting pemerintah daerah dan swasta tentunya, harus menangkap peluang ini dengan menyiapkan akomodasi dan akses yang baik,” ucapnya.

Yupiter Marenos Lada, praktisi pariwsiata Nusa Tenggara Timur (NTT), mengamini apa yang dikatakan Didin Junaidi. Menurutnya, agar provinsi itu bisa merebut perhatian wisatawan lokal, domestik dan mancanegara, maka salah satu langkah yang harus dilakukan adalah menyiapkan destinasi yang terkonsep dan terintegrasi seperti Tour de Flores dan Visit Komodo.

“Agar destinasi tersebut bisa diakses oleh para wisatawan, Pemda mau tidak mau harus menyiapkan akses dan fasilitas transportasi menuju ke daerah tujuan wisata. Harus ada pula informasi destinasi pariwisata yang jelas di tiap kabupaten, kecamatan, bahkan desa. Langkah lainnya, bisa juga dengan membuat desa wisata. Potensi dan kapasitas masyarakat lokal harus diberdayakan di samping membangun based community tourism agar masyarakat siap menjadi tuan rumah yang baik bagi para wisatawan,” ujarnya. (*/Amas)

Sukses Besar, Tour de Flores 2016

Tour de Flores (Foto Ist)

Tour de Flores (Foto Ist)

FLORES – Pengurus Besar Ikatan Sepeda Sport Indonesia (PB ISSI) tak ragu melontarkan pujian terhadap penyelenggaraan Tour de Flores (TdF) 2016. Bagi otoritas tertinggi olahraga sepeda di Indonesia itu, Tour de Flores bukan sekadar olahraga adu cepat, tapi menjadi cara efektif untuk mengenalkan wisata. Bagi PB ISSI, Tour de Flores bisa membuat nama Nusa Tenggara Timur mendunia.

“Saat proposal dimasukkan, saya berfikir Tour de Flores adalah kejuaraan nasional. Namun, kenyataannya adalah kejuaraan internasional dan langsung masuk kalender UCI dengan kategori 2.2. Kejuaraannya sangat bagus, rapih, dan saya yakin ini bisa membuat nama Nusa Tenggara Timur cepat dikenal dunia,” kata Ketua Umum PB ISSI Raja Sapta Oktohari, Senin (23/5/2016).

Di mata putra Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta Odang itu, nama Tour de Flores sudah sangat seksi. Memiliki singkatan yang sama dengan Tour de France, bagi dia, bisa menjadi keberuntungan bagi Tour de Flores sebagai sporting tourism event.

Hal yang sangat masuk akal, mengingat Tour de France telah melintasi sejarah panjang dengan reputasi luar biasa. Saat ini, Tour de France bahkan sudah menjadi even balap sepeda terbesar di dunia. Namanya, identik dengan kejuaraan balap dunia paling prestisius, spektakuler, terbesar, dan ikonik.

Sejak digelar perdana pada 1903 silam, Tour de France telah mencatat banyak pencapaian dan efek ekonomis luar biasa bagi Eropa dan dunia

“Tour de Flores kalau disingkat kan TdF. Sama dengan Tour de France yang sudah mendunia. Mudah-mudahan dari kesamaan nama ini, Tour de Flores juga bisa menjadi kejuaraan balap sepeda yang ikonik dan memberi dampak ekonomis yang luar bagi Indonesia dan Asia,” harap Okto, sapaan akrab Raja Sapta Oktohari.

Nah, syarat untuk menjadi even balap sepeda yang ikonik dan prestisius tadi, menurut Okto, sudah dimiliki Tour de Flores. Sejak digelar 19 Maret 2016, Tour de Flores sudah dirancang seperti balap sepeda modern. Lombanya sudah terorganisasi apik.

Jalan yang dilalui sudah mulus tanpa kerikil. Tim-tim Asia bisa dengan aman mengayuh sepedanya dengan iringan mobil pengawal dan tim pendamping. Kawalan tim medis dengan mobil ambulans juga tak pernah henti mengiringi lomba balap sepeda yang berakhir di Labuan Bajo tersebut. Akomodasi, keamanan, keselamatan, dokumentasi, publikasi, mobilisasi massa, dan kegiatan pre-event, seperti festival budaya, baginya, sudah berstandar internasional. “Saya mendapat laporan tim-tim Asia happy dengan penyelenggaraan Tour de Flores.

Menurut mereka, balapan di Tour de Flores sangat menyenangkan. Rute yang dilalui sangat eksotis. Karenanya saya sangat berterima kasih kepada Kementerian Pariwisata, Pemprov NTT serta kabupaten/kota yang sudah bersusah payah menyelenggerakan even yang sangat keren ini,” tambah Okto.

Di TdF 2016, rider-rider tim Wisdom Hengxiang (Tiongkok), KINAN CT dan Team Ukyo (Jepang), LX IIBS CT dan Geumsam Insam Cello (Korea Selatan), Terengganu (Malaysia), 7-ElevenSava RBP CT (Filipina), Black Inc CT (Laos), Singha Infinite CT (Thailand), St. George Merida (Australia), Oliver’s Real Food Racing (Australia), Swiss Wellness Team (Australia), Kenyan Riders Downunder (Kenya), serta Pegasus CT, Indonesia National Team, Prima Indonesia, SAKB, KFC CT, Custom Cycling Club dan BRCC (Indonesia) memang kerap diajak menjelajah rute-rute berpanorama eksotis.

Di etape I, para rider sudah disapa dengan pemandangan indah yang menghias di sepanjang rute Larantuka – Maumere. Dari sisi wisata, Larantuka bukanlah nama yang asing. Upacara doa saat Jumat Agung dan Paskah dalam Semana Santa di Larantuka selalu menjadi sorotan publik setiap tahunnya.

Beda lagi dengan Maumere. Selain mempunyai pantai-pantai dengan pasir putihnya, Maumere menjadi destinasi wisata penyuka tenun dengan desa tenun Sikka-nya. Setelah itu, ada Maumere – Ende yang dijelajahi pada etape II. Di Ende, peserta dibuat takjub dengan Danau tiga warna yang sudah mendunia.

Belum lagi jejak-jejak pengasingan Soekarno di Ende serta pesona kampung-kampung adat, di antaranya Wologai dan Ngela. Etape ketiga, Sabtu (21/5/2016), peserta finis di area penghasil kopi paling top di Flores, Bajawa. Di sini, para peserta langsung dijamu dengan kenikmatan kopi Bajawa. Di etape IV, Minggu (22/5/2016) rute Bajawa – Ruteng juga dijelajahi dengan suasana fun.

Ada panorama sawah dengan susunan mirip sarang laba-laba berukuran raksasa yang menyapa di etape ini. Dan di etape V yang dimulai pagi ini, peserta akan menjelajah Ruteng – Labuan Bajo sejauh 121,5 kilometer. Nah, di titik finis inilah akan dihelat gala dinner dan pesta rakyat Flores, atraksi budaya Manggarai Barat, festival kopi, dan atraksi budaya kopi Flores, festival pocak latung, festival songket Manggarai, serta pesta kembang api.

“Coba cari, dimana lagi even balap sepeda berskala internasional, masuk kalender UCI, berskala 2.2, hadiahnya besar, dan bisa menyajikan banyak kesenangan seperti itu? Finishnya saja di Labuan Bajo, salah satu destinasi prioritas pariwisata Indonesia. Yang tak ikut Tour de Flores pasti rugi,” ungkap Okto.

Manpar Arief Yahya mengapresiasi pelaksanaan Tour de Flores 2016. “Sukses buat pelaksanaan Tour de Flores. Sukses juga menjadi trending topic dunia di media sosial. Flores menjadi bahan perbincangan dunia, melalui sepeda dari Larantuka ke Labuan Bajo melintasi 8 kabupaten,” kata Arief Yahya.

Flores memiliki banyak destinasi wisata, dan lengkap. Ada wisata bahari, Labuan Bajo, Pulau Komodo, Pulau Rinca dan sebagainya. Ada wisata gunung, geopark, seperti Danau Kelimutu. Ada wisata sejarah dengan Ende, tempat Presiden Soekarno pernah diasingkan di sana.

“Inilah yang disebut sport tourism, aktivitas olahraga yang sekaligus promosi destinasi pariwisata,” paparnya.

Tahun depan, lanjut Menpar, tour ini akan dilanjutkan lagi dengan persiapan yang lebih baik. Gubernur NTT Frans Lebu Raya sangat antusias dengan balap sepeda internasional ini.

“Tahun depan masih menggunakan jalur yang sama, dua tahun lagi baru melewati jalur utara, tepi pantai,” ungkap Gubernur Frans, yang secara meyakinkan mencanangkan provinsi NTT sebagai provinsi pariwisata. (*/Amas)

Alhamdulillah, Pertamax Akhirnya Hadir di Flores

Pertamax (Foto Ist)

Pertamax (Foto Ist)

JAKARTA – Secara resmi (Persero) meluncurkan Pertamax untuk pertama kalinya di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Peluncuran Pertamax ini dilakukan untuk memenuhi permintaan masyarakat terkait ketersediaan BBM non subsidi.

Nantinya masyarakat disana bisa menggunakan Pertamax dari APMS 5B.861.01 yang berlokasi di Jl Lingkar Luar, Kelurahan Nangalimang, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka merupakan lembaga penyalur pertama di Flores yang menjual Pertamax.

Namun saat ini telah ada sejumlah lembaga penyalur lain yang juga menyediakan Pertamax yaitu di Maumere ada 2 SPBU (SPBU 54.861.02 Bolawolon dan SPBU 54.861.01 Rovin Jaya) serta 1 APMS Keekonomian (APMS 5B.861.01)
.
Selain di Maumere, Pertamax akan segera hadir di 2 SPBU di Ende (SPBU 54.863.01 Gatsu dan SPBU 54.863.03 Yohanes), 1 SPBU di Bajawa (SPBU 54.864.01 Pelangi), 2 SPBU di Ruteng Manggarai (SPBU 54.865.03 Carep dan SPBU 54.865.09 Mena), serta 1 APMS Keekonomian di Labuan Bajo.

Sehingga total lembaga penyalur yang menyediakan Pertamax di Flores dalam waktu dekat berjumlah 9 lokasi.

Sedangkan di SPBU yang belum menyediakan Pertamax dalam bentuk curah (bulk), Pertamina akan menyediakan Pertamax dalam bentuk kemasan 5 liter.

“Hal ini kami lakukan untuk menjamin ketersediaan Pertamax di Pulau Flores. Sehingga kami harapkan masyarakat Flores tidak kesulitan mendapatkan Pertamax,” ujar Heppy Wulansari, Assistant Manager External Relations Pertamina Marketing Operation Region V, Rabu (17/6/2015) kemarin.

Pasokan Pertamax untuk wilayah Flores dipasok dari Terminal BBM Maumere yang telah menyediakan 1 tanki Pertamax dengan kapasitas 1.200 KL, dan 1 mobil tangki khusus untuk mengangkut Pertamax berkapasitas 16 KL. Mobil tanki ini akan digunakan untuk mengirim Pertamax ke seluruh Flores mulai dari Lembata sampai dengan Labuan Bajo.

“Kami akan memperluas jaringan ke seluruh Flores karena permintaan yang terus meningkat,” papar Heppy.

Harga Pertamax di Nusa Tenggara Timur per 1 Juni 2015 dibandrol sebesar Rp. 11.300/liter. Perbedaan manfaat penggunaan Pertamax bisa dirasakan oleh pengguna kendaraan bermotor.

Selain memiliki angka oktan 92 yang membuat mesin lebih bertenaga, Pertamax juga memiliki teknologi yang mampu membersihkan dan melindungi mesin dari karat sehingga kendaraan menjadi lebih irit dan lebih bersih. (Trc/Faruk)

Flores Jadi Fokus Industri Garam

Produksi Garam (Foto Ist)

Produksi Garam (Foto Ist)

JAKARTA – Perhatian pemerintah Jokowi-JK dalam hal pemerataan pembangunan mulai terlihat. Hal ini salah satunya seperti yang dilakukan Menteri Perindustrian Saleh Husin akhir pekan ini mengunjungi berbagai wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari kunjungannya itu, Saleh Husin menyebut ada tiga industri yang menjadi fokus di NTT dan akan dipercepat industrialisasinya.

“Nusa Tenggara Timur memiliki potensi pengembangan industri di Indonesia timur. Hal ini sekaligus untuk memperkuat struktur dan penyebaran industri serta mengurangi konsentrasi industri yang selama ini terpaku di Jawa,” kata Saleh Husin di Maumere, Kabupaten Sikka, Flores NTT, Minggu (7/6/2015).

Tiga fokus industri yang tersebar di beberapa daerah di NTT itu, lanjut Saleh, ‎pertama adalah pengembangan garam untuk kebutuhan industri atau yang lazim disebut garam industri.

“‎Untuk garam industri ada 5 daerah yang cocok yaitu Nagekeo, Ende, Kabupaten Kupang, Sumba Timur, dan Rote,” katanya.

‎Yang kedua, menurut Saleh, yaitu pengembangan industri gula di tiga daerah seperti Sumba Barat Daya, Timor Tengah Selatan, dan Rote. Meski saat ini terkendala lahan, Menteri kelahiran Rote itu menyebut bakal mempercepat proses yang tengah berjalan.

“Memang ada masalah, tapi kan di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Dan syukurlah, Bupati Sumba Barat Daya siap menyediakan lahan,” ujarnya.

Saleh juga menyebut, satu pabrik gula membutuhkan sedikitnya 10.000 hektare tanaman tebu sebagai pemasok bahan baku. (Dtk/Iky)

iklan1