Tag: gamki

Diskusi Literasi Milenial Bahas Langkah Aktivis Menuju New Normal

Suasana berlangsungnya diskusi media daring (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Pandemi COVID-19 yang belum menunjukan tanda akan berakhir membuat Presiden Ir. Joko Widodo mengambil tindakan akan diberlakukannya kehidupan normal yang baru. Melihat hal itu tanpa kita sadari para aktivis baik kemasyarakatan, pemuda dan mahasiswa belum mempunyai langkah taktis untuk bagaimana menjalani keadaan normal baru tersebut.

Literasi Milenial mencoba menemukan formula tersebut dengan membuat diskusi dengan topik “Langkah Aktivis Menuju New Normal” yang digelar Sabtu (30/5/2020). Hadir sebagai pembicara Sahat Sinurat ST MT, Founder Rumah Milenial Indonesia dan juva sebagai Sekertaris Umum DPP GAMKI.

Sahat mengatkan Keadaan pandemi jangan membuat kita menjadi tidak kreatif oleh karena itu kita harus bisa memanfaatkan diri dengan mengubah pada pendekatan-pendekatan digitalisasi. Ia menambahkan pola-pola gerakan itu harus terintegrasi dan berelaborasi dengan berbagai sektor dan harus memiliki jiwa empati terhadap lingkungan sekitar.

“Rasa empati ini salah satu contohnya di Organisasi Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) langsung diinterpretasi menjadi butir-butir gerakan seperti pembentukan tim relawan GAMKI COVID-19 di bidang pembagian bantuan langsung tunai (BLT), melakukan layanan konseling bukan hanya pada kesehatan tetapi juga pada psikologi, pembagian sembako, dan pembuatan dapur umum,” ujarnya.

Dikesempatan yang sama, narasumber lainnya, Yowanda Yonggara SH MKn, Sekfung Pemberdayaan Perempuan PP GMKI mengatakan Ibarat dalam suatu keadaan di laut, semua orang seperti diterjang oleh badai yang sama, tapi dengan menaiki kapal yang berbeda-beda.

“Apakah kita mau berjuang agar kapal tersebut tetap bisa bertahan atau kita akan membiarkannya tenggalam? yang harus kita lakukan senagai aktivis adalah belajar, berperan aktif dalam memutus mata rantai, perlu memberikan bantuan dengan cara memanfaatkan jaringan-jaringan yang ada baik sesama aktivis maupun pihak-pihak yang dapat terlibat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Aktivis harus mempunyai inovasi-inovasi baru berupa pemberian literasi kepada pelaku-pelaku usaha dan lainnya agar bisa mengenal tentang era new normality.

“Paling konkritnya, jangan menunggu, haruslah kita sebagai aktivis harus bergerak,” tegasnya.

Fanerick Kawatu SE MM, Ketua KNPI Kota Manado dan juga sebagai Komisioner KPID Sulawesi Utara, dalam kesempatannya juga sebagai Narasumber mengapresiasi diskusi denhan topik seperti ini karena langsung mencari jalan untuk bagaimana aktivis nantinya.

Lanjutnya, bahwa narasi hidup berdampingan dengan COVID-19 ini telah mengalami kecelakaan tafsir oleh masyarakat pada umumnya bahwa, sudah tidak lagi memakai masker, hidup kembali normal. Tetapi mereka melupakan esensi dari arti new normality itu sendiri. Jelasnya, anak muda harus tampil mengedukasi dengan menggunakan perlatan digital yang ada saat ini.

“Dulunya tools-tools yang digunakan untuk menyuarakan dan mengkampanyekan keadilan dengan menggunakan megaphone, sekarang dilakukan dengan konten-konten di media sosial. Dulunya people power, sekarang sudah netizen power di dalam mengintegrasi pola-pola gerakan,” ujarnya.

Narasumber selanjutnya, Cindy Pangerapan, S.IP mengatakan sikap kita yang dapat menjadikan new normality ini menjadi suatu kebiasaan baru.

“Aktivis harus tampil mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kehati-hatian dalam memerangi COVID-19,” ujarnya.

Tambahnya, sikap lainnya juga bagi aktivisi di new normality ini ialah dengan tidak mengharapkan apresiasi dari masyarakat. “Kita harus lebih menitikberatkan pada kebermanfaatan pada masyarakat pada umumnya,” ujarnya.

Berbeda Combyan Lombongbitung, S.IP, Presiden Mahasiswa Unsrat 2016-2017 ini mengatakan bukan soal tidak sepakatnya terhadap penerapan new normality tapi soal tergesa-gesanya kebijakan tersebut yang akan diterapkan, menjadi pertanyaan kemudian adalah, ada apakah dengan kebijakan tersebut?.

“Untuk menerapkan new normality, menurut Combyan Lombongbitung, perlu berada pada puncak pandemi, sedangkan pemerintah saat ini belum menetapkan di mana bagian puncak pandemi ini,” ujar Combya yang juga Sekertaris Cabang GMKI Manado.

Pemerintah juga tidak melakukan lockdown karena pertimbangan ekonomi masyarakat menegah ke bawah, pemerintah masih sibuk dengan mempersiapkan teknis menjelang Pemilihan Kepala Daerah.

“New normality ini dianggap ‘bisa’ hanya pada kaum menengah ke atas,” ujarnya.

Ia menambahkan Aktivis saling mengingatkan kepada sesama agar terus menjadi corong rakyat.

“Gaya atau pola gerakan konvensionalnya aktivis, tidak bisa dijalankan di keadaan pandemi saat ini. Aktivis harus produktif, jangan menjadi kaum rebahan,” ungkapnya.

Kemudian Kurnia Surentu, Presiden Mahasiswa U-Prisma Manado, mengatakan harus ada penyesuaian gerakan organisasi dengan proses digitalisasi saat ini.

“Peran aktivis yang harus terintegrasikan basis massa dan basis intelektual agar bisa menglakukan perlawanan narasi-narasi dengan meng

Kemudian Kurnia Surentu, Presiden Mahasiswa U-Prisma Manado, mengatakan harus ada penyesuaian gerakan organisasi dengan proses digitalisasi saat ini.

“Peran aktivis yang harus terintegrasikan basis massa dan basis intelektual agar bisa menglakukan perlawanan narasi-narasi dengan mengedukasi masyarakat. Aktivis sebagai mitra kritis pemerintah, harus mampu memiliki daya kritis itu,” ujarnya.

Untuk diketahui, yang menjadi moderator adalah Imanuel Mahole, Direktur Pengkajian Literasi Milenial.

(*/Bung Ded)

GAMKI Minsel: Kita Patut Waspada Kepada Orang Tanpa Gejala

Kristy Alfons Sumual (Foto Suluttoday.com)

MINSEL, Suluttoday.comDewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) mendesak Tim Gugus Tugas Covid 19 di Kabupaten Minahasa Selatan untuk melakukan penelusuran.

Jika ada warga Minsel yang mengikuti kegiatan keagamaan waktu Lalu di Gowa Provinsi Sulawesi Selatan untuk ditelusuri tim gugus tugas. Hal ini dimaksudkan agar penyebaran Covid 19 bisa dipersempit di Sulawesi Utara lebih khusus di Minsel.

“Kita tahu bersama data dari tim gugus Tugas Covid-19 Provinsi Sulawesi Utara prosentase positif dari cluster Gowa cukup banyak. Sehingga ada baiknya pemkab Minsel bersama tim gugus tugas menginventarisir jika ada warga Minsel yang ikut serta dalam kegiatan keagamaan tersebut dan selanjutnya jika ada segera dilakukan uji swab untuk memastikan kondisi keadaan mereka,” ujar Kristy Alfons Sumual Ketua DPC GAMKI Minsel, Senin (11/05/2020).

Menurut Sumual informasi yang beredar bahwa ada sekitar 300-an lebih warga Sulut ikut serta dalam kegiatan tersebut sehingga ada baiknya ditelusuri siapa saja mereka jika himbauan pemerintah untuk melapor tidak digubris oleh para pelaku perjalanan ke Gowa Sulsel.

“Informasi yang saya baca di medsos ada sekitar 300-an lebih peserta. Kalau melihat secara Nasional Provinsi lain juga sementara membidik para peserta kegiatan keagamaan dari Cluster Gowa ini. Kami juga menghimbau jika ada warga Minsel yang ikut dalam kegiatan ini agar proaktif memeriksakan diri ke puskesmas atau tim gugus tugas covid19 di Minsel,” katanya.

GAMKI Minsel juga berharap Pemkab Minsel dan tim gugus tugas menghimbau aparat pemerintah di Desa dan Kelurahan menelusuri para warga yang ikut kegiatan di Gowa Sulsel bahkan pendatang dari luar daerah untuk melapor ke aparat pemerintah setempat untuk memperkecil ruang gerak penyebaran Covid-19 di Minsel.

“Kita patut waspada kepada Orang Tanpa Gejala (OTG) disekitar kita. Selain waspada kita semua tetap menjaga kesehatan dengan memakai masker serta mencuci tangan setiap waktu ketika beraktivitas bahkan tetap menjaga jarak,” kuncinya.

(*/Chris)

Menakar Komitmen Bung Richard, dari Aktivis Sampai Politisi

Bung Richard Sualang (Foto Ist)

Saya hanya seorang jebolan aktivis organisasi Cipayung, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manado. Jauh jaraknya bergaul di dunia pergerakan kemahasiswaan dengan senior Bung Richard Sualang, yang kini menjabat anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Meski berjarak waktu, paling tidak saya tertarik membaca dan mau mengikuti jejak beliau sebagai politisi. Tujuannya untuk literasi.

Bung Richard, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) ini seorang eksponen aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Ia menjadi kader Benang Biru sebutan untuk keluarga besar GSKI, GMKI dan GAMKI, beliau begitu diunggulkan. Sebagai figur yang besar di rahim organisasi kader, organ Cipayung tentu beliau memahami kultur sebagai aktivis menjaga reputasi dan marwah gerbong. Dedikasi dan proses sebagai aktivis mahasiswa ekstra kampus dilaluinya dengan baik.

Dari aspek memelihara dan mengembangkan relasi, Bung Richard relatif tuntas memahami. Seluk-beluk, plus minus dari memperkuat barisan perjuangan, ia mahfum dalam soal itu. Tak perlu diajarkan lagi. Hal tersebut yang membuat dirinya bertahan sebagai politisi yang karirnya kian menanjak. Dipercayakan menjadi wakil rakyat (DPRD Kota, dan kemudian DPRD Provinsi), bukanlah hal mudah. Cara mempertahankan eksistensi sebagai politisi mampu dibuktikan Bung Richard.

Jalan terjal dilaluinya, bukan tanpa problem. Tidak mudah, sebagai aktivis mahasiswa lalu setelahnya memilih menjadi politisi. Bertalar belakang S1 Kedokteran Umum, namun bisa melakukan akselerasi di politik. Bung Richard tidak kaku dan gagap berpolitik. Ia memutuskan masuk bergabung di dunia politik, sebagai kader parpol loyalis (bukan politisi ‘kutu loncat’). Ragam tantangan membuat Bung Richard tekun belajar. Berhasil melakukan adaptasi terhadap lingkungan baru saat menjadi politisi. Penyesuaian tak membuat dirinya merasa tersisih. Bahkan sosok politisi yang murah senyum itu begitu menikmati proses. Akrab dan akhirnya mendapatkan ‘kenyamanan’ berinteraksi di PDI Perjuangan.

Tahapan panjang yang dilaluinya dengan kegembiraan dan mau belajar. Riang gembira, sampai ia tak terasa telah dapat melakukan akselerasi politik dalam aktivitas politik. Seiring berjalannya waktu, Bung Richard dipercayakan sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Manado. Mencapai puncak karir di partai politik berskala Kota/Kabupaten. Tentu ia memenuhi kualifikasi seperti yang ditetapkan layaknya seorang pemimpin parpol kebanyakan. Politisi visioner, namun rendah hati.

Standar kepemimpinan dan kepantasan telah dibuktikannya. Ia punya standar sendiri. Melalui kemampuannya mengelola kekuatan tim, sehingga berhasil membawa PDI Perjuangan menjadi Fraksi yang mencetak banyak anggota DPRD di Kota Manado. Atas prestasi itulah, PDI Perjuangan Kota Manado berhasil menjabat Ketua DPRD Manado periode 2019-2024. Tidak mudah meraih capaian tersebut, dari yang sebelumnya PDI Perjuangan hanya menyasar dan berada diposisi Wakil Ketua DPRD Manado, akhirnya mendapat posisi puncak di lembaga DPRD Kota Manado.

Mendrive kekuatan politik, tentu harus terlebih dahulu memahami langkah dan punya peta atas hal tersebut. Puji Tuhan, Bung Richard tidak pernah sedikit pun mengabaikan bacaannya terhadap kekuatan politik. Kelihaiannya ia lihai mengakomodir, merangkul dan menentukan line up dalam perjuangan politik. Politisi yang ulet, meski terlahir dalam keluarga yang ekonominya mapan. Terungkap dari sejumlah rekan-rekannya tentang kesederhanaan politisi PDI Perjuangan ini, Bung Richard menghargai semua kalangan. Dengan para jurnalis, ia dicintai dan disayangi.

Pendekatan politiknya dalam meraih kemenangan, ia tak mau memanfaatkan konflik sebagai trigger. Kelihatannya politisi yang satu ini tak pernah ikhlas kalau memanfaatkan kesempatan untuk kemenangan politik. Ia tak mau mengail di air keruh. Atau seperti peribahasa Bung Richard tidak mau menari di atas gendang yang ditabuh orang lain. Tipikal politisi handal yang bekerja keras. Ia tak mau ujuk-ujuk. Dipikirannya jalan politik harus diawali dengan proses yang benar. Dalam keyakinan politiknya, dari rute yang benar itulah, maka akan melahirkan hasil yang benar pula.

Menghidangkan pemikiran yang bersifat solutif, itu juga menjadi model dan identitas dari sosok Bung Richard. Sangat tidak disukainya, kalau kehadirannya di tengah masyarakat tidak memberi arti apa-apa. Menurutnya politisi harus bermanfaat, mandiri dan berbuat bagi masyarakat. Kalau tidak berbuat, apalagi mengacaukan kepentingan masyarakat, sebetulnya politisi semacam itu disebutnya bukan politisi. Melainkan penambah beban bagi masyarakat.

Berpolitik baginya bukan berarti harus running. Melainkan berjalan teguh pada tujuan, meluruskan kiblat pergerakan. Sudah barang tentu dengan langkah berkemajuan. Mereka yang berlari umumnya berpotensi terpeleset dan jatuh. Seorang politisi perlu punya perhitungan, kemudian ia mau menyederhanakan dalam tindakan. Bukan dengan cara berlari, yang akhirnya menyebabkan politisi tersebut terjatuh. Blunder, hilang keseimbangan, over, tergelincir karena kecepatannya sendiri. Sulit mengendalikan dirinya sendiri.

Bagi Bung Richard, politisi perlu memiliki pendirian, teguh dan mandiri. Untuk konteks menyelamatkan visi misi parpol dan perintah atasan, maka politisi harus loyal. Dalam beberapa pesannya, Bung Richard berusaha mengevakuasi dirinya dari sikap tamak dan rakus kekuasaan. Tak mau dinilai sebagai politisi yang berlebihan, hal prioritas baginya hanyalah berkontribusi kepada masyarakat. Proses menjadi politisi yang matang intens dijalaninya, baginya tidak mudah, tapi digelitunya dengan kemauan belajar yang tinggi. Tambahnya, politisi harus memberi ruang dalam dirinya untuk menumbuhkan belajar, ia memposisikan dirinya bahwa dia masih punya banyak kekurangan dan ketidaktahuan. Sehingga ia akan selalu belajar.

Disampaikannya pula, politisi layaknya menjadi agen pembelajar. Mereka yang menghargai dirinya akan menghargai orang lain. Seperti itu punya dengan kesadaran mengerti bahwa politisi masih punya banyak kekurangan dan kelemahan, agar dapat diperbaiki. Maka mengejar ketertinggalan, belajar dan menambah pengalaman adalah cara-cara yang harus ditempuh politisi. Guna meningkatkan kualitas diri, mengokohkan integritas dan keberanian berjuang membela kepentingan masyarakat tentunya.

Dari aktivis mahasiswa bertransformasi ke politisi merupakan alternatif pilihan yang diyakininya benar. Karena ia menggemari kerja sosial sejak di kampus, hal tersebut melatih dan mendidik dirinya bermental tidak hanya mau memikirkan diri sendiri. Melainkan lebih dari itu, berpikir dan berbuat bagi banyak orang. Kalau ditelisik, memang tidak semua jebolan aktivis parlemen jalanan sukses dalam membangun karir politiknya. Bung Richard tergolong, berhasil dalam membangun karir politik.

Tentu karena ketekunan, kesabaran dan niat baiknya berbuat bagi masyarakat. Politisi Nasionalis ini mengatakan rencana mulia manusia akan disempurnakan Tuhan, jika manusia menekuninya dengan kerja keras dan berdoa. Tidak perlu menjadi politisi yang takabur. Optimis dalam meraih suatu cita-cita politik baginya memang diperlukan. Yang tidak perlu adalah mendahului atau melampaui takdir Tuhan, seperti bersikap takabur dalam politik.

Politik Gotong Royong, Kunci Membangun Masyarakat

Keras apapun kompetisi politik, bagi Bung Richard harus diletakkan persaingan itu pada keberpihakan kepentingan wong cilik (masyarakat jelata). Trik menyentuh atau menyasar dan menyelamatkan kepentingan tersebut yaitu dengan menerapkan politik gotong royong. Politik harus berkembang serta dipacu dari semangat bersama. Tidak majunya tatanan politik, karena kesadaran gotong royong dari para politisi memudar.

Berbagai penyebab macetnya perjuangan kepentingan masyarakat itulah, maka Bung Richard menyarankan perlu memaksimalkan kembali semangat gotong royong. Dari gotong royong itulah akan terbangunan peradaban demokrasi yang kuat, dan berpihak pada masyarakat. Dari gotong royong pula kepentingan masyarakat yang sejak awal untuh, yang sengaja dibuat terpotong-topotong dapat disatukan kembali. Lebih lengkap politisi mewujudkan kepentingan masyarakat tersebut.

Gotong royong menjadi kerangka perjuangan yang penting. Menjadi kunci dari bagaimana politisi menjawab keresahan masyarakat tentang ketidakadilan, belum terdistribusinya kesejahteraan masyarakat secara merata. Banyak problem yang dialami masyarakat satu per satu akan terjawab, bila semangat politisi dibangun melalui fondasi spirit gotong royong. Sejak mahasiswa Bung Richard dikenal memiliki komitmen bekerja untuk masyarakat. Komitmen itulah yang dilanjutkan, dikonkritkan melalui perjuangan sebagai politisi saat ini.

Konteksnya saat ini, kenapa harapan dan cita-cita masyarakat masih saja tersendat dalam mewujudkannya? Menurut Bung Richard disebabkan masih adanya politisi yang bias tafsir terhadap pemahaman gotong royong atau kerja kolektif. PDI Perjuangan disebutkan menjadi pelopor dalam soal ini. Berada di depan mengajak politisi lain ikut bersama dalam suasana gotong royong bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Ketidakseriusan dan belum sepenuhnya politisi mengerti akan politik gotong royong, membuat orientasi politisi menjati tidak satu. Dari sanalah target meningkatkan derajat masyarakat menjadi tidak berkekuatan. Semua menjadi tidak maksimal. Politisi yang belum menmahami sepenuhnya gerakan gotong royong malah bertindak berlawanan dengan semangat tersebut. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan tambahan bagi politisi yang tengah menjalankan visi gotong royong. Alhasil, waktu politisi menjadi tersita.

Mulai saat ini, hingga kedepannya politisi perlu terus menularkan pemahaman berpolitik dengan standar gotong royong. Suara progresif yang pernah ditunjukkan Bung Karno harus menjadi api yang diwariskan politisi di era modern ini. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Bung Richard meyakini, jikalau politisi menjadi mengerti dan patuh terhadap gerakan politik gotong royong, maka semua misi pembangunan dengan mudah dapat diwujudkan. Tidak ada lagi penyesalan tentang kegagalan. Tak ada lagi saling menyalahkan, yang ada adalah kesuksesan dan keberhasilan bersama membangun masyarakat.

 

Oleh : Amas Mahmud
(Jurnalis dan Sekretaris DPD KNPI Manado)

Menjadi Pelopor, DPC GAMKI Minsel Nyalakan 1000 Lilin untuk Tragedi Teror

Para peserta aksi saat menyalakan lilin (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) menggelar aksi solidaritas atas korban bom 3 Gereja di Surabaya. Kegiatan Doa diselenggarakan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Amurang Senin (14/5/2018) pukul 19.30 WITA. Pdt. Rommy Kindangen, S.Th turut mendoakan para korban bom di 3 gereja tersebut. Ketua GAMKI Minsel Alfons Sumual membacakan pernyataan sikap GAMKI Minsel.

“Kami mengecam aksi terorisme yang menyerang 3 Gereja di Surabaya. Saya berharap umat Kristen tetap mendoakan keluarga korban maupun anggota Polri yang gugur saat tugas di Mako Brimob beberapa waktu lalu,” kata Sumual.

Pernyataan Sikap DPP GAMKI Terkait Bom Surabaya Berikut beberapa pokok pernyataan sikap terkait peristiwa bom yang terjadi di beberapa Gereja di kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Pokok-Pokok Pergumulan Bersama GAMKI Minsel sebagai berikut:

1. Mengecam tindakan terorisme dan kekerasan atas nama apapun yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk memecah belah persatuan bangsa ataupun menggiring Negara ini menjadi sebuah Negara yang tidak lagi berdasarkan pada Pancasila. 2. Meminta kepada pemerintah dan aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas peristiwa pengeboman terhadap beberapa gereja di Surabaya.

Bahkan menegakkan hukum yang tegas atas pelaku beserta jaringan-jaringannya. Disamping juga memberikan keterangan serta informasi yang jelas agar tidak terjadi kesimpangsiuran di masyarakat. 3. Meminta kepada Politisi ataupun seluruh pemangku kebijakan tidak mengomentari peristiwa ini secara berlebihan dan menggoreng isu ini sebagai komoditas Politik sesaat yang mengarah kearah yang destruktif.

4. Tidak menggunakan media sosial untuk menyebarkan ujaran kebencian dan wacana-wacana yang bisa semakin memperkeruh suasana. 5. Mendesak kepada DPR RI dan Pemerintah segera mempercepat dan mengesahkan RUU Anti Terorisme sebagai payung hukum untuk mengatasi keberulangan peristiwa seperti ini di masa yang akan datang. 6. Mendesak kepada Negara (Pemerintah) untuk menjamin kebebasan serta keamanan beribadah bagi seluruh warganya.

7. Menyerukan kepada anggota, kader GAMKI dan seluruh Angkatan Muda Kristen agar tetap waspada dan berjaga-jaga di tempat dan sekitar masing-masing demi menjaga keamanan dan kenyamanan jemaat dalam beribadah. Demikian seruan ini kami buat untuk dapat diperhatikan dan dilaksanakan sebaik-baiknya. Kiranya Yesus Kristus, Sang Kepala Gerakan & Kepala Gereja menyertai segenap perjuangan dan pergumulan kita.

Selain GAMKI, aksi ini dihadiri juga oleh Pemuda Lintas Gereja, LMI Minsel Tonaas Tommy Pantow, Ketua GMPK Minsel John Senduk, Ketua Solidaritas Kristen Nusantara Michael Maringka, Tokoh Pemuda Tompasobaru Brando Mamengko. (*/Redaksi)

Pernyataan Sikap Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Nasional

Solid, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan Nasional bersatu (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Organisasi Kemahasiswaan Dan Kepemudaan Nasional, yang terdiri dari HMI, PMII, GMNI, PMKRI, IMM, HIKMAHBUDHI, KMHDI, KAMMI, HIMA PERSIS, Pemuda Muslimin Indonesia, SEMMI, Gema Mathla’ul Anwar, GPII, IPTI, HIMMAH, GMKI.

Beberapa waktu belakangan ini, telah terjadi serangkaian peristiwa berupa intimidasi kepada para tokoh agama dan teror terhadap rumah ibadah yang memilukan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Beberapa kejadian ini antara lain, kepada 1) ulama, tokoh NU, dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Bandung, KH. Umar Basri pada tanggal 27 Januari 2018, 2) ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persis, H. R. Prawoto, dianiaya hingga meninggal oleh orang tak dikenal pada tanggal 1 Februari 2018, 3) persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin, Kec. Legok, Kab. Tangerang pada tanggal 7 Februari 2018, 4) serangan terhadap peribadatan di Gereja St. Ludwina, Desa Trihanggo, Kec. Gamping, Kab. Sleman pada tanggal 11 Februari 2018, yang menyebabkan Romo Prier dan pengikutnya mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam. 5) Perusakan masjid di Tuban, Jawa Timur, 6) pelecehan terhadap rumah ibadah umat beragama Hindu di Bima, NTB, pada tanggal 12 Februari 2018, dan 7) berbagai kejadian lainnya yang belum terekspos oleh media.

Dampak dari beberapa peristiwa ini adalah terganggunya stabilitas keamanan daerah dan nasional yang dapat memicu konflik horizontal yang lebih besar. Oleh karena itu, persoalan-persoalan intoleransi dan radikal ini harus segera ditangani sehingga konflik sekecil apapun dapat segera diselesaikan dengan serius dan tuntas.

Sayangnya, kami melihat belum ada penanganan yang sistematis dan efektif dari berbagai lembaga terkait. Setiap lembaga masih bergerak sendiri tanpa ada koordinasi yang sinergis. Tindakan pencegahan yang terencana, sistematis, dan berkesinambungan masih belum terlaksana dengan baik.

Menyikapi hal ini, sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama, disaksikan Monumen Gong Perdamaian Dunia di kota Ambon yang menjadi simbol pentingnya menjaga perdamaian antar sesama saudara sebangsa dan se-tanah air, kami dari Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Nasional dengan ini menyatakan:

1. Mendesak Presiden untuk menginstruksikan seluruh jajaran pemerintahan agar bekerjasama dengan solid, sinergis, dan responsif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan dan intoleran.

2. Mendesak Kepala BIN, Kapolri, Panglima TNI untuk berkoordinasi dalam mengungkap aktor intelektual dari rangkaian kasus yang telah terjadi serta mengoptimalkan tindakan preventif agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.

3. Mengajak segenap elemen bangsa antara lain pejabat publik, tokoh agama, tokoh masyarakat, elit partai politik, pimpinan ormas, dan lainnya untuk turut mengkondusifkan keadaan serta tidak mengeluarkan pernyataan yang provokatif.

4. Menginstruksikan seluruh anggota dari organisasi HMI, PMII, GMNI, PMKRI, IMM, HIKMAHBUDHI, KMHDI, KAMMI, HIMA PERSIS, Pemuda Muslimin Indonesia, SEMMI, Gema Mathla’ul Anwar, GPII, IPTI, HIMMAH, dan GMKI, untuk menjaga ikatan persaudaraan serta berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang harmoni kebangsaan berdasarkan Pancasila, UUD 1945.

5. Menghimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi dengan isu yang dapat memecah-belah kerukunan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Demikian pernyataan sikap bersama Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Nasional.

_Ambon, 14 Februari 2018_
*Atas nama Organisasi Kemahasiswaan dan Kepemudaan Nasional*
Ahmad Nawawi (Ketua Umum DPP GEMA Mathla’ul Anwar)
Juventus Prima Yoris Kago (Ketua Presidium PP PMKRI)
M. Muhtadin Sabily (Ketua Umum PB Pemuda Muslimin Indonesia)
Mulyadi P. Tamsir (Ketua Umum PB HMI)
Putu Wiratnaya (Presidium PP KMHDI)
Ali Muthohirin (Ketua Umum DPP IMM)
Nizar Ahmad Saputra (Ketua Umum PP HIMA PERSIS)
M. Azizi Rois (Ketua Umum DPP SEMMI)
Agus Mulyono Herlambang (Ketua Umum PB PMII)
Irfan Ahmad Fauzi (Ketua Umum PP KAMMI)
Sugiartana (Ketua Presidium HIKMAHBUDHI)
Robaytullah Kusumajaya (Ketua Umum DPP GMNI)
Aminullah Siagian (Ketua Umum PP HIMMAH)
Masri Ikoni (Ketua Umum PB GPII)
Sahat Martin Philip Sinurat (Ketua Umum PP GMKI)
Ardy Susanto (Ketua Umum DPP IPTI). (*/Redaksi)

iklan1