Tag: golput

Demokrasi Yang Diamputasi

Situasi kritis melanda demokrasi, ilustrasi (Foto Fahri Laudje)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

Perjalanan demokrasi yang panjang bisa saja dilipat atau dipersingkat. Caranya yakni melalui settingan situasi darurat. Karena atas nama kedaruratan segala metode inkonstitusional dapat ditempuh. Negara dapat mengambil alih segalanya yang jadi milik rakyat. Dengan alasan untuk kemanusiaan, keamanan negara dan keselamatan praktek otoriter atau sentralistik dilakukan. Monopoli kekuasaan akhirnya terjadi lagi, setelah kita melewati Orba, kita kembali lagi ke belakang.

Situasi darurat itu sedang kita hadapi sekarang. Yang dinamakan ‘pandemi COVID-19’, rupanya ini istilah umum, sebagai konsinsus dari mana asalnya. Saya belum membongkarnya labih jauh, terserah proyeknya siapa. Sorotan kita adalah pada kondisi sosial yang kondusif dan praktek demokrasi yang selama ini kita rawat menjadi terganggu. Hanya karena pandemi semua alur demokrasi menjadi cukup dimudahkan. Bahkan akan mencapai pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dipilih anggota DPRD pun dimungkinkan.

Berbagai kemungkinan dan cela terhadap lahirnya penyelundupan kepentingan terjadi. Kondisi dimana masyarakat sedang khawatir diserang wabah COVID-19, tapi ada saja kelompok berkepentingan yang masih bercokol memanfaatkan situasi. Pilkada dipaksakan 9 Desember 2020, meski Indonesia masih berstatus darurat kesehatan. Indikasi demokrasi mulai mengancam kebebasan terlihat, rakyat yang menolak Pilkada digelar 2020 tidak digubris. Pemaksaan kehendak yang bertentangan dengan nafas kita berdemokrasi malah seperti dilegalkan.

Demokrasi dalam bahaya, berada dibawa bayang-bayang dan ancaman COVID-19 sekaligus politisasi kesempatan. Di tengah darurat mereka yang punya modal masih tetap mejanlakan usahanya, para pembangku kepentingan yang menjalankan proyek juga nyatanya jalan, tak ada kendala berarti. Pengadaan APD, Sembako, Alkes, belum lagi pengadaan fasilitas teknologi yang menunjang pelaksanaan Pilkada melalui pendekatan virtual. Praktek terselubung dan mencurigakan mulai berlahan terungkap.

Sosialisasi pelaksanaan Pilkada, beberapa tahapan yang dilewatkan. Secara kelembagaan kini KPU mulai ‘bersuara’ mengirim sinyal Pilkada 2020 ditunda, karena gaji (honor) mereka belum terbayar. Pokoknya, Pilkada kali ini media daring menjadi andalan. Tak boleh lagi penyelenggara Pilkada sampai tingkat Kelurahan dan Lingkungan menjadi gaptek. Lantas apa relasinya dengan ‘kesehatan demokrasi’ kita?. Tentu perlu dilihat secara inklusif. Tidak boleh sempit melihat perkara ini.

Menuju pada kematian demokrasi situasi darurat ini bila tidak segera direorientasikan pada posisi awalnya. Dimana demokrasi menghendaki kebebasan berpendapat, keterlibatan publik, dan seterusnya. Sekarang malah diberi batasan, saksi parpol dan pengawas umum atau perwakilan publik misalkan dalam mengawasi rekapitulasi serta tahapan Pilkada 2020 bersifat terbatas. Seperti inilah yang kita sebut dengan praktek membabat demokrasi. Keberadaan demokrasi seolah berada dalam penyiksaan.

Proses demokrasi kita mulai diamputasi. Dari kampanye umum yang biasa dilakukan di lapangan terbuka dan gedung-gedung tertutup dengan jumlah massa yang padat, kini tidak seperti itu lagi. Aturan penyelenggara Pemilu (Pilkada) malah memberi pembatasan. Pihak penyelenggara hajatan demokrasi berusaha menertibkan masyarakat agar tidak terjangkit COVID-19, namun akhirnya mencederai demokrasi. Akhirnya kekuatan mempertahankan tradisi demokrasi dikalahkan dengan bahaya COVID-19. Luar biasanya penularan COVID-19 lebih berbahaya dari para pelaku kejahatan transnasional.

Dari aspek menjalankan demokrasi dengan ceria gembira dan suka cinta, kini disaat COVID-19 konsitituen sebagian cemas. Begitu kuatnya pemaksaan Pilkada dilaksanakan Desember 2020 rakyat tak kuasa menolaknya. Jika dianggap perlu, maka GOLPUT (Golongan Putih), memilih untuk tidak datang ke TPS dan tidak menggunakan hak pilihnya menjadi pilihan masyarakat. Makna demokrasi jangan dibuat menjadi terkikis hanya karena alasan darurat. Kalau berfikir untuk kemajuan bersama, sebaiknya situasi darurat dilewati dulu. Penanganan COVID-19 dimaksimalkan, setelahnya situasi kondusif barulah Pilkada Serentak dilanjutkan.

Tak boleh memanfaatkan situasi dengan mempolitisasi COVID-19. Demokrasi yang universal sebaiknya diapresiasi dengan cara-cara beradab, melalui praktek menunaikan kedaulatan masyarakat dalam Pilkada secara benar. Tanpa disadari kita telah memangkas hak-hak demokrasi rakyat. Ini termasuk tanda menuju pada otoritarianisme kekuasaan. Demokrasi malah menumbuhkan oligarki kalau begini yang dipertahankan. Intervensi, intimidasi dan pemanfaatan satu kelompok terhadap kelompok lain akhirnya tumbuh, tidak ada lagi protes, penolakan, perlawanan serta ‘pemberontakan’ atas nama kebenaran. Semua menjadi bungkam.

Sebagian rakyat mulai ditakut-takuti, atau sebagiannya lagi dibujuk untuk merasakan nikmatnya kekuasaan dan hidup bermewah-mewahan. Hasilnya kemudian, suara nyaring kritik terhadap praktek membonsai demokrasi menjadi hilang. Keberagaman disulap menjadi keseragaman dan kesamaan. Lahirnya kepemimpinan yang congkak, rakus dan memperbudak rakyat dengan alasan-alasan ketaatan hukum atau menghormati demokrasi.

Praktek demokrasi yang dianggap membawa petaka dan bahaya terhadap pemerintah akhirnya dipenggal. Proses amputasi pun memerlukan ‘kambing hitam’, akhirnya rakyat lagi yang dituduh pembangkang, subversif dan melakukan makar. Dengan logika kejam, pemerintah lebih baik memotong (mengamputasi) demi menyelamatkan rakyat banyak, dari pada membiarkan ‘penyakit’ (bisa jadi pemikir kritis) mengganas dan merusak kehidupan demokrasi. Ternyata, yang dilakukan itu hanya alibi disertai tuduhan untuk membunuh kebebasan rakyat dalam berdemokrasi.

Oi Sulawesi Utara Suarakan Partisipasi Pemilu, Hindari Golput

Atribut Oi Sulut saat berada diatas gunung (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Menyukseskan Pemilu Serentak 2019 bukan hanya menjadi tanggungan penyelenggara Pemilu dan pemerintah, lebih dari itu Organisasi Kemayarakatan (Ormas) Oi Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) juga mengajak masyarakat untuk menunaikan hak demokrasinya untuk menjadi pemilih yang baik. Menurut Bambang Amiri, selaku Ketua Oi Sulut kerja lintas sektoral perlu terus digenjot.

”Atas nama ketua Ormas Oi Sulut, saya menghimbau agar berpartisipasi masyarakat dalam memmberikan suaranya menjelang pemilihan tanggal 17 Aprill. Jangan Golput, atau menjadi pemilih yang kurang antusias, pemilih apatis, tapi bagaimana kita mengajak masyarakat memanfaatkan hak pilihnya dengan melakukan pencoblosan,” ujar Bambang.

Tambahnya lagi, kepada seluruh masyarakat agar memilih Caleg-Caleg yang berada di Dapil pemilihan dari semua dapil yang berada di Sulut. Lebih utama lagi ialah kita memilih caleg yang tingkat kepedulian dan kecintaan kepada alam dan lingkungan serta peduli juga dengan program kemanusiaan, ayo jangan Golput.

”Saling mengingatkan agar kita beramai-ramai tidka Golput. Oi Sulut mengambil bagian atas hal ini, kami mengajak dan melihat langsung bagaimana organisasi kami juga konsen pada isu-isu demokrasi. Karena bilang banyak masyarakat mengabaikan hak pilihnya, mereka menilai tidak jalan dengan aturan main,” ucap Bambang.

iklan1