Tag: Hanny Joost Pajouw

MOR-HJP Didampingi Istri Masing-Masing Hadiri Giat GPDI se-Sulut

Bersama istri, MOR-HJP menghadiri Pleno (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Seperti tidak mengenal waktu istrahat, Rabu (5/8/2020), Mor Dominus Bastiaan, SE, calon Wali Kota Manado bersama istri tercinta Imelda Bastiaan-Markus di dampingi pasangannya Calon Wakil Walikota Manado Hanny Joost Pajouw serta isteri Daivy Pajouw-Mailoor menghadiri Pleno Majelis Daerah GPDI se-Sulawesi Utara (Sulut).

Plenoa sekaligus syukuran Pernikahan ke-36 tahun Gembala Sidang Baitani Buha Joseph Takarendehang di kediaman Keluarga Takarendehang Tuyu, siang ini, Rabu 5 Agustus 2020. Dalam sambutannya Mor mengatakan suatu kebanggaan bisa bersama dan bertemu dengan seluruh Majelis Daerah yang hadir dalam pleno tersebut.

Dia pun menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Hanny Joost Pajouw sehingga bisa berpasangan dalam Pilkada. Mor menyatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah anugerah Tuhan.

“Kalau Tuhan memperkenankan semuanya, tidak ada yang mustahil dan pasti Tuhan akan membuka jalan,” tutur Mor menutup.

Bersama istri, MOR-HJP menghadiri Pleno (Foto Istimewa)

Untuk diketahui, Mor dan HJP bersama istri mereka masing-masing didoakan dan diutus oleh Majelis Daerah GPDI yang hadir dalam pleno tersebut.

(*/Bung Amas)

MOR-HJP Bersama Umat Islam di Hari Raya Idul Adha 1441 H

MOR-HJP saat menyerahkan hewan qurban (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Kepedulian yang tinggi terhadap umat Islam Kota Manado ditunjukkan Mor Dominus Bastiaan, SE dan Hanny Joost Pajouw kedua politisi santun ini, Jumat (31/7/2020) bertempatan dengan Hari Raya Idul Adha 1441 H, rela menggunakan waktunya untuk bertemu umat Islam Manado. Mor yang juga Wakil Wali Kota Manado itu kali ini memberikan bantuan hewan qurban kepada umat Islam yang merayakan Hari Raya, bersama HJP sapaan akrab Hanny.

Kebaikan dan perhatian MOR-HJP itu mendapat apresiasi umat Islam seperti disampaikan Imam Masjid Sis Al-Djufrie, Switno Karim SPd, atas bantuan sapi kurban dari Calon Walikota Mor Dominus Bastiaan (MOR) sebagai bentuk kepedulian terhadap umat Muslim yang berhari raya.

”Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat,” kata Imam saat menerima bantuan sapi kurban di depan Masjid Sis Al Djufrie, Kelurahan Malendeng, Kecamatan Pall Dua, Jumat (31/7/2020).

Selain mengucap syukur, Imam Masjid juga mendoakan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota MOR-HJP yang turut serta berkurban bersama umat Muslim di Kota Manado.

”Melalui imam masjid menerima dan berterima kasih atas sedekah yang diberikan oleh Pak MOR. Mudah-mudahan selalu sehat dan melaksanakan tugasnya sebagai Wakil Walikota,” tutur Imam Switno memanjatkan doa.

MOR-HJP ketika berada di Masjid Raya Manado (Foto Suluttoday.com)

Tak hanya itu, Imam juga mendoakan agar pemberian hewan kurban dapat menjadi alasan didepan hadirat Allah SWT sehingga dijauhkan dari segala sakit penyakit. insyaallah, doanya. Selain itu, di depan masjid MOR didampingi HJP, Noortje Henny Van Bone, dan Anggota DPRD Manado besutan Partai Demokrat, menyerahkan sapi kurban sembari memegang tali secara simbolis. MOR pada kesempatan tersebut mengatakan, ini adalah sukacita bersama seluruh warga Kota Manado.

”Khususnya bagi yang beragama Islam. Walaupun ditengah pandemi, perayaan Idul Adha ini boleh berjalan dengan baik,” ujar Mor.

Untuk diketahui, MOR dan HJP juga menyerahkan hewan qurban di Masjid Raya Ahmad Yani Kota Manado. Bersama masyarakat, bersilaturahmi salam-salaman meski dalam situasi menjaga protokol kesehatan COVID-19, MOR-HJP yang juga akan maju di Pilwako Manado 2020 ini mendapat sambutan luar biasa dari jamaah masjid Raya Ahmad Yani.

(*/Bung Amas)

HJP-ToRa Tak Hadir, GSVL Kuliahi JA Dalam Dialog Periwisata

Suasana saat dialog interaktif (Foto Ist)

Suasana saat dialog interaktif (Foto Ist)

MANADO – Tampil memukai dalam Dialog Interaktif dengan tema ‘pariwisata Manado perpaduan tradisional dan modern’ menjadi tolak ukur pemerintahan Dr GS Vicky Lumentut dan Mor D Bastiaan (GSVL-MOR) ketika dipercayakan masyarakat menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado periode 2015-2020.GSVL sebagai salah satu narasumber ketika diundang Kompas TV/Pacific TV dalam Dialog tesebut, Kamis (17/12/2015) sore tadi memaparkan secara komprehensif pengalaman dan konsep parisiwata yang dilakukan di Kota Manado.

Dialog ini sebetulnya menghadirkan para Calon Wali Kota Manado, namun hanya GSVL yang hadir. Sementara Calon Wali Kota Harley Mangindaan hanya mewakilkan Wakilnya Jemmy Asiku (JA). Sementara itu, pasangan Hanny Joost Pajouw-Tony Rawung tak ada satupun perwakilan. Dialog ini sengaja mengangkat tema pariwisata, sehingga menghadirkan praktisi pariwisata yang juga Rektor STIEPAR Manado Dr Drevy Malalantang SSi SE MPd sebagai narasumber pembanding.
Ketika moderator memberikan pertanyaan kepada GSVL tentang konsep pariwisata yang akan dijalankannya kedepan, Wali Kota Manado 2010-2015 ini pun menjelaskan dengan gamblang sehingga JA yang duduk di samping GSVL terlihat serius mendengarkan pemaparan GSVL.

”Kita tahu bersama bahwa, Bunaken adalah ikon Manado dari dulu sampai sekarang. Namun harus diakui pengelolaan Bunaken tidak berjalan dengan baik, sehingga harus diakui juga mulai kalah dengan obyek wisata daerah lainnya di Indonesia. Padahal Bunaken sudah dari dulu dikenal dunia karena keindahan bawah lautnya,” ucap GSVL.

Kendalanya adalah, kewenangan Pemkot Manado untuk mengelolah taman laut Bunaken terbatas karena ada Dewan Pengelola Taman Nasional Bunaken (DPTNB). ”Selama saya menjadi Wali Kota Manado, kewenangan kami terbatas untuk mengelola obyek wisata itu. Kenapa? Karena ada lembaga lain yang mengelolannya yakni DPTNB. Jangankan mengelola obyek wisata itu lebih baik, pemerintah saja mau bangun Puskesmas di sana (Bunaken, red) harus melalui proses yang cukup panjang. Karena itu, kedepan kami berharap supaya Bunaken jadi lebih baik maka harus dikelola Pemkot Manado,” ujar GSVL.

Kemudian GSVL pun menjelaskan soal obyek pariwisata baru apa yang menjadi konsepnya kedepan. ”Kita akan mengembangkan obyek wisata dirgantara. Di gunung Tumpa sana ada sebuah obyek wisata baru yang telah dirintis belum lama ini ketika saya masih Wali Kota. Wisata paraglaiding atau paralayang ada di sana, indah sekali pemandanganya karena perpaduang alam pegunungan dan laut, ditambah indahnya pemandangan dari atas ketika kita bisa melihat dengan jelas pulau-pulau di teluk Manado. Dan wisata dirgantara ini sudah kita ujicoba belum lama ini dengan hajatan lomba paralayang,” terang GSVL yang lagi-lagi bikin Asiku tercengang.

GSVL juga memaparkan tentang perpaduan pariwisata dengan olahraga di darat juga akan dikembangkan, antara lain olahraga yang sempat poluler di Manado yakni pacuan kuda.

”Kita kembangkan olahraga pacuan kuda. Di Paniki sana kita kenal ada blue karpet. Nah itu baru awal pengembangan, karena di pinggir blue karpet itu kita telah rencanakan membangun lintasan pacuan kuda yang sudah dimulai dasri jamannya Walikota Pak Imba. Itu yang sementara kita tingkatkan, karena harus dimulai dari infrastrukturnya dulu,” kata GSVL yang lagi-lagi bikin JA dan semua yang hadir dalam ruangan dialog terpukau.

Selain itu, masih banyak lagi hal yang diungkapkan GSVL pada kesempatan itu, termasuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diutarakan narasumber bahkan audiens. Antara lain pengembangan wisata kuliner dan lain sebagainya, yang semuanya tertuang dalam visi dan misi GSVL-MOR menjadikan Manado Kota Cerdas. “CERDAS itu ada kepanjangannya, dan konsep pariwisata kami masuk di E yakni Ekowisata,” tandas pemimpin visioner ini. (Tim Redaksi)

Hebat, HJP Butuh Waktu 4 Tahun Atasi Banjir di Manado

HJP-ToRa (Foto Ist)

HJP-ToRa (Foto Ist)

MANADO – Pernyataan luar bias dan mendapat perhatian berbagai kalangan, seperti yang disampaikan Hanny Joost Pajouw (HJP) saat Debat Terbuka, Jumat (3/12/2015) belum lama ini. HJP yang merupakan calon Wali Kota Manado Nomor Urut 4 itu dalam memaparkan visi dan misinya mengatakan kesanggupan dirinya bersama Tonny Rawung sebagai calon Wakil Wali Kota Manado yang dapat mengantisipasi bahkan membebaskan Manado dari banjir bandang seperti yang pernah terjadi pada tahun 2014 silam.

”Jika saya dan Pak Tonny Rawung terpilih, kami hanya membutuhkan waktu 4 tahun menyelesaikan banjir di Manado. Kami bertekad membebaskan warga dari banjir bandang, walaupun saya bukan lulusan Sarjana Teknik, tapi saya punya tim ahli yang memiliki kompetensi untuk itu,” ujar HJP yang juga pernah menjadi calon Wali Kota Manado tahun 2010-2015 ini tegas.

Menurut HJP menyelesaikan banjir di Manado membutuhkan konsep yang tepat, bukan sekedar menggunakan cara-cara kuratif. Dirinya menilai salah satu kendala mendasar warga Kota Manado adalah sering munculnya ‘gelombang’ disaat hujan deras melanda Kota Manado.

”Menyelesaikan banjir bukan hanya dengan cara kuratif, seperti memberi obat jika datang sakit. Tapi lebih dari itu, kita harus memikirkan dan mengambil langkah prefentif agar kena sasaran. Kami akan melakukan itu jika terpilih, memang kami akui salah satu penyebab ketakutan warga Manado adalah datangnya banjir bandang disaat hujan deras,” kata Pajouw.

Untuk diketahui, penyumbang terbesar banjir di Kota Manado disebabkan atas meluapnya Daerah Aliran Sungan (DAS) Tondano, dan beberapa sungai besar lainnya yang ikut memberi dampak banjir jika hujan deras mengguyur Kota Manado dan sekitarnya. Apalagi jika kita berdasarkan data, Negara kepulaun sangat rawan terhadap peningkatan air laut dan badai yang juga menyimbang banjir banding. (Amas)

‘Bongkar Kebiasaan Lama’, Mari Pilih Pemimpin Bukan Karena Uang

Harley Mangindaan, GSVL-Mor dan HJP

Harley Mangindaan, GS Vicky Lumentut-Mor D Bastiaan dan Hanny J Pajouw

Para pemimpin yang baik harus terlebih dulu menjadi pelayan yang baik. (Robert Greenleaf)

ADA sejumlah besar harapan masyarakat terhadap kepemimpinan baru di Kota Manado, pasca 9 Desember 2015 dimana pemilihan pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado. Baik saat Manado dijabat Pelaksana tugas Wali Kota, maupun paket Wali Kota Manado defenitif kedepannya. Tentunya, harapan positif tersebut sulit terwujud manakala masyarakat kemudian salah memilih pemimpin yang benar-benar memiliki dedikasi, komit dan bertekad memajukan daerah ini kedepannya, tidak atas dasar kehendak untuk merebut kekuasaan belaka, dan penuh rekayasa.

Proses demokrasi melalui penyelenggara Pemilu (Komisi Pemilihan Umum) telah menetapkan 3 pasangan calon (Paslon) Kepala Daerah Kota Manado, yakni Harley Mangindaan-Jemmy Asiku, Nomor Urut 1, GS Vicky Lumentut-Mor D Bastiaan, paslon dengan Nomor Urut 3, dan Hanny Joost Pajouw-Tonny Rawung, Paslon Nomor Urut 4. Dari ketiga Paslon, masing-masing telah memaparkan visi dan misi mereka melalui Debat Terbuka yang diselenggarakan KPU Manado, Jumat 3 Desember 2015 yang bertempat di Hotel Grand Kawanua Manado mereka menunjukkan penampilan maksimal, meski begitu ketajaman dan keakuratan visi-misi tidak menjadi sebuah jaminan terhadap kandidat Kepala Daerah tertentu untuk dipilih rakyatnya.

Diakui banyak faktor penentu lainnya, yang kemudian ikut menjadi magnet bagi rakyat dalam memilih figur pemimpin yang menurut mereka tepat. Adakalanya, faktor-faktor penentu tersebut berubah dari harapan menjadi semacam kebutuhan jangka pendek yang seolah mendesak, akhirnya masayarakat diarahkan pada pilihan yang sifatnya pragmatis. Sebagai pemilih rasional, warga Manado diyakini masih mengedepankan rasionalitas memilih pemimpinnya, sehingga dominasi politik uang juga mendapatkan ruang sempit, dan terdistorsi oleh adanya pemikiran yang jauh kedepan tentang perubahan (futuristik).

Sebagian masyarakat kita memang masih mengakui soal kepemimpinan yang relatif berbeda, menurut Warren Bennis, mitos yang paling berbahaya tentang kepemimpinan adalah kepercayaan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bahwa ada faktor keturunan dalam kepemimpinan. Mitos ini menekankan bahwa ada orang yang memang memiliki karisma untuk menjadi pemimpin, sedangkan orang lain tidak. Itu tidak masuk akal. Yang benar justru sebaliknya. Pemimpin dibentuk, bukan dilahirkan. Itu artinya, masyarakat dituntut selektif dalam memilih pemimpinnya, bukan sekedar ‘pasrah’ menerima dan menentukan pilihan politik tanpa pertimbangan yang matang.

Sudah saatnya masyarakat Merubah ‘Bongkar’ Kebiasaan Lama, dimana eksistensi masyarakat sejauh ini dianggap layaknya objek politik yang setiap saat dieksploitasi actor politik. Perubahan paradigma menjadi kebutuhan kita semua saat ini, untuk bagaimana melakukan hijhar dari kebiasaan memilih pemimpin karena diberikan uang, kini memilih untuk menjadi pemilih yang menentukan pemimpinnya karena atas dasar gagasan, komitmen, progresif dan memiliki integritas. Pada segmen selanjutnya, mengenali ketiga pasangan calon Wali Kota dengan mengusung jargon, Manado Bersinar, Manado Cerdas, dan Harapan Jadi Pasti tentu masing-masing menjanjikan tentang harapan perubahan untuk Manado lebih baik lagi tentulah perlu dilakukan dengan detail. Kemudian, para kandidat pun diharapkan tidak hanya lips service saat berteriak melawan politik uang. Beranikah para calon Kepala Daerah di Manado kompak untuk memberikan pendidikan politik pada masyarakat, tidak akan menukarkan polihan politik masyarakat dengan uang, dan membongkar kebiasaan lama tentang bahaya politik penuh intrik, hentikan sikap ‘memberikan’ sesuatu disaat momentum politik. Jika mau menjadi dermawan, jadilah dermawan yang benar, bukan yang hadir disituasi tertentu saja.

Terbenturnya harapan masyarakat tentang masa depan yang gemilang dengan kepentingan sesaat memang turut memberi pengaruh terhadap rasionalitas pemilih masyarakat, sehingga kondisi itu menjebak masyarakat pada pilihan-pilihan yang kadang salah diambil. Belum lagi, aspek lainnya seperti digulirkannya isu kesamaan agama, kesamaan suku dan daerah yang lebih bersifat politik identitas, ternyata membawa dampak membuat pendek pandangan masyarakat. Situasi-situasi semacam itulah yang harus direkonseptualiasi, dan kemudian disampaikan pada masyarakat, tantangan seperti demikian juga menjadi jebakan bagi masyarakat dalam memilih pemimpinnya, alhasil masyarakat pemimpin yang ‘tidak diharapkan’ terlahir akibat salah pilih atau karena desakan system dan intimidasi yang mengharuskan pemimpin yang tidak mempunya kemampuan dipilih.

Memilih pemimpin tidak sekedar melihat janji, apalagi sekedar tertarik karena calon pemimpin memberikan sesuatu dengan alasan membantu masyarakat, yang sok dermawan seperti ini tidak harus membuat masyarakat secepatnya terjebak dan mengikuti kelicikan tersebut. Namun lebih dari itu, masyarakat harus sadar bahwa politisi atau kandidat tertentu sedang membuat skenario membohongi masyarakat dan menghargai masyarakat hanya dengan uang, padahal harga diri masyarakat tidak serendah itu. Harga diri masyarakat tidak bisa dihargai dengan uang, beras atau alasan apapun yang bersifat instan. Pemimpin menjadi suri tauladan yang lebih kuat saat mereka belajar, bukan saat mereka mengajar, untuk itu menjadi pemimpin bukan harus merebutnya dengan menghalalkan segala cara, tapi bagaimana turut memberi pencerahan politik kepada konstituen. (***)

 

Catatan: Amas Mahmud, Redaktur Pelaksana Suluttoday.com

iklan1