Tag: haz algebra

Lawan Ancaman Integrasi Bangsa, DPM FISPOL Unsrat Gelar Bincang Ideologi

Renaldo Garedja disaat sambutan (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dewan Perwakilan Mahasiwa (DPM) Fakultas Ilmu sosial dan ilmu politik (FISPOL) Universitas Sam Rarulangi (UNSRAT) Manado, menggelar bincang Ideologi bangsa (Diskusi) di sekretariat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) cabang Manado, Kamis, (13/6/2019).

DPM FISPOL Unsrat kali ini bekerjasama dengan Klinik Demokrasi dan Politik Himaju Pemerintahan Fispol unsrat melakukan diskusi yang bertemakan ‘Krisis Ideologi Bangsa di Era Visual’. Tema ini sengaja kami angkat karena melihat dari beberapa persoalan yang di hadapi bangsa kita Indonesia sekarang ini, sudah keluar dari of the track (tidak sesuai dengan cita-cita Pancasila).

Renaldo dalam sambutanya. Selain itu pula, maksud dari apa yang kami buat hari ini merupakan hal yang sifatnya menelaah kembali apa yang menjadi nilai-nilai dari Ideologi kita (baca Pancasila) sekaligus merefleksi kembali apa yang sudah menjadi konsesus bapak pendiri bangsa ini pada 74 tahun yang lalu (hari lahir Pancasila).

Berlangsungnya pemaparan materi (FOTO Suluttoday.com)

Lanjutnya, kegiatan tersebut difasilitasi oleh AIPI cabang Manado yang senantiasa mendorong kemajuan dan pengembangan ilmu pengetahuan baik di tingkat kemahasiswaan maupun organisasi pemuda lainya. Pada kesempatan ini, pengurus DPM Fispol Unsrat melantik pengurus Departemen Scientia.

”Perlu diketahui bahwa, departemen Scientia ini dibentuk bukan maksud untuk sekedar menjalankan apa yang sudah di amanatkan oleh Peraturan Organisasi (PO) DPM itu sendiri, melainkan kehadiran departemen Scientia ini merupakan langkah konkrit yang diambil para Dewan Mahasiswa Fispol Unsrat demi memajukan dan meningkatkan kapasitas intelektual manusia-manusia yang ada di kampus orange,” kata Ketua DPM FISPOL Unsrat, Renaldo Garedja.

Sekedar diketahui, Bincang Ideologi ini menghadirkan beberapa narasumber yang begitu expert dan secara kapasitas intelektual sangat-sangatlah memumpuni. Antara lain adalah; Dr.Valentino Lumowa, Haz Algebra, dan Amato Assagaf dari padepokan Assagaf. Kehadiran narasumber yang hebat-hebat ini sekiranya telah mampu membuka cakrawala berpikir peserta diskusi, pasalnya semua narasumber dengan lugas mengupas secara tuntas apa yang menjadi krisis ideologi kita pada saat ini.

Pelantikan Departemen Scientia oleh Ketua DPM FISPOL Unsrat (FOTO Suluttoday.com)

Pun ada beberapa rekomendasi pemikiran yang diberikan oleh para narasumber walaupun dalam diskusi kita diperhadapkan dengan pertengakaran-pikiran. Kegiatan yang dilaksanakan di sekretariat AIPI cabang manado, dan telah menghadirkan pemikiran-pemikiran yang kritis ini nyatanya di respon positif oleh bapak Wakil Gubernur Sulawesi Utara, Dr.Steven O.E Kandouw.

“Luar biasa, berikut saya hadir,” ujar Ketua AIPI Cabang Manado singkat.

Pengurus DPM berharap, kiranya dari diskusi pada kamis kemarin ada outputnya bagi para kalangangan mahasiswa yang selaku agent of change dan agent of control social. Karena, mahasiswa adalah patron ketika dia duduk bersama-sama masyarakat nanti. (*/Redaksi)

“Sunday Speaks” Membawa Sains Lebih Populer ke Anak Muda

Foto bersama usai diskusi (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Sunday Speaks, sebuah ‘brand’ baru diskusi kedai kopi, yang diusung oleh anak-anak muda dari Kelompok Studi Alternatif Manado kembali ramai. Minggu (7/1/2018), Bertempat di Gudang Imaji, kedai kopi yang ramah untuk tongkrongan anak-anak muda itu, Sunday Speaks tergelar dalam kemasan Bincang 42 Tahun “The Selfish Gene” Richard Dawkins.

Dipantik oleh Haz Algebra, seorang intelektual muda Manado yang sangat antusias terhadap perkembangan Life Science, buku yang berbau saintifik (dan filosofis) itu diurainya secara ringkas dan provokatif dengan tetap menggunakan bahasa sederhana dan populer.

“Buku yang terbit pertama kali di tahun 1976 itu memang sangat berpengaruh di dunia saintifik (terutama biologi dan sains sosial) karena berhasil mengubah cara pandang banyak ilmuwan dalam melihat dan menginterpretasi fenomena natur dan kultur. Tidak mengherankan jika buku ini masih terus beredar dan telah tiba pada edisi yang ke-40 tahun. Penulisnya, Richard Dawkins, juga terkenal sebagai pengusung paradigma sains baru dan pionir dalam cara penulisan sains populer yang bisa menjangkau khalayak awam,” ujar mantan Ketum Badko HMI SulutGo ini membuka perbincangan.

Membicarakan topik-topik sains di ruang publik, apalagi di kedai-kedai kopi, memang masih jarang ditemui di kota Manado. Kebanyakan khalayak, ketika berada di kedai kopi yang menyediakan ruang diskusi cenderung membincangkan isu-isu politik lokal maupun nasional, atau mengangkat tema yang berhubungan dengan relijiusitas. Beberapa ruang publik lainnya ada juga yang intens pada topik-topik filsafat atau sastra. Tapi sejauh ini, topik sains populer barangkali adalah varian baru untuk tren diskusi kedai kopi. Dan Sunday Speaks tampak tengah melakukannya.

Sejak pertama kali terselenggara di pekan terakhir bulan Desember tahun lalu, Sunday Speaks dibuka dengan diskusi Jaredian Perspective (atau pemikiran-pemikiran Jared Diamond) yang langsung dibawakan oleh Kepala Suku Studi Alternatif, Muhammad Iqbal, sebagai kelompok penginisiasinya. Dengan kembali mengangkat topik sains, Sunday Speaks tampaknya ingin ‘mematenkan’ topik sains sebagai varian pelengkap hidangan kopi di ruang publik.

Munazar Muarif, manajer yang mengurusi content diskusi di Gudang Imaji itu, ketika ditemui awak Suluttoday, mengamini bahwa mereka, lewat Sunday Speaks, ingin membawa sains lebih dekat ke masyarakat.

“Kami sedang menyambut era demokratisasi sains atau science go to public. Jadi, kami ingin membawa kajian-kajian sains natural maupun sains sosial secara populer agar lebih dekat dengan masyarakat, terutama pada anak-anak muda, milenial dan generasi-Z, yang ke depannya akan menjadi agen-agen sejarah. Kami tidak ingin generasi kami, generasi bonus demografi ini, buta dalam memandang hari ini dan masa depannya,” kata kandidat Magister Ekonomi Unsrat ini.

Anak muda yang menjabat sebagai Sekretaris Umum HMI Cabang Manado ini juga mengatakan bahwa ide ini lahir sebagai implikasi langsung dari aktivitas literasi yang mereka lakukan di Studi Alternatif yang menangkap berbagai pandangan banyak pemikir kontemporer yang cenderung bersepakat bahwa gerak sejarah kita ke masa depan akan lebih banyak lagi ditentukan oleh kemajuan sains dan teknologi.
“Politik kita, ekonomi kita, bahkan kondisi sosial budaya kita kelak akan kembali mengalami perubahan sebagai dampak dari perkembangan sains dan teknologi. Seperti yang pernah terjadi pada era Revolusi Industri. Tentu saja, ini memerlukan antisipasi, dan kita harus mengajukan pertanyaan yang tepat terhadap sains dan teknologi dalam kaitannya dengan sistem ekonomi, politik maupun sosial budaya yang kita anut hari ini,” tandas Munazar.
Meski demikian, Sunday Speaks tidak hendak menjadi panggung monolog bagi sains saja. “Ingin menjadikan sains sebagai diakursus populer ke masyarakat tidak berarti kami menjadi tertutup pada diskursus lainnya, apalagi filsafat dan sastra. Justru karena sebelumnya banyak teman-teman yang senangnya sudah sama filsafat atau sastra, maka tidak ada salahnya menambah satu lagi varian yang bisa disenangi, yaitu sains,” kata Muhammad Iqbal.

Generasi muda pembaharu penuh semangat belajar (Foto Suluttoday.com)

Adapun terkait narasumber yang harus dihadirkan, Kepala Suku Alternatif ini mengatakan bahwa tidak ada syarat khusus untuk bisa mengisi kajian di Sunday Speaks. Ia hanya lebih menekankan pada aspek literasi narasumber.

“Dalam KBBI, literasi itu kan artinya ada dua. Pertama terkait aktivitas membaca atau menulis yang darinya kita dapat pengetahuan. Yang kedua terkait pengetahuan atau keterampilan dalam bidang khusus atau aktivitas tertentu. Yang kedua ini bisa kita sebut pakar. Namun jika ada dari teman-teman kami yang rajin baca buku atau giat mendalami bidang tertentu dalam sains, maka kami akan mengundangnya untuk menjadi speaker di Sunday Speaks,” tegas Alumni IAIN Manado ini.

Diskusi hari ini berlangsung sukses dengan audiens anak muda lintas organisasi dan komunitas. Tampak hadir pula Ketua Lesbumi Sulut, Syafieq Bilfaqih, dan Direktur Nirwasita Institute Bolmut, Cakra Buhang, untuk meramaikan perbincangan. (*/Mas)

#Post_Truth & Logika “Pamflet” Rocky Gerung

Rocky Gerung (kiri) & Ayu Utami (kanan) dalam bedah buku "Amarah" beberapa silam (Foto Ist)

Rocky Gerung (kiri) & Ayu Utami (kanan) dalam bedah buku “Amarah” beberapa silam (Foto Ist)

Logika itu sederhana, dan harus mampu menyederhanakan. Serumit apapun suatu realitas harus bisa dikemas, diselimuti, “dibonsai” oleh logika untuk kepentingan pengertian, definisi, kategori, juga pemahaman–walau tentu saja, tak pernah ada kebenaran yang hadir di pikiran secara murni pun telanjang.

Dalam kompleks realitas politika “post-montesqueau-an” (di mana trias “legislatif-eksekutif-yudikatif” telah digantikan oleh trias “state-market-civil society”), ada gerak bandul yang dinamikanya harus terjaga untuk terus memberi nafas bagi demokrasi, juga tentu bagi logikanya.

Negara, Pasar, dan juga Publik, masing-masing tak boleh mendominasi kebenaran di atas yang satu dan yang lainnya. Dan Media (sebagai pilar keempat demokrasi) wajib mampu menjadi penjaga dinamika bandul demokrasi itu.

Memang benar, bahwa masing-masing elemen itu punya dinamika sendiri-sendiri. Namun, apa jadinya jika Negara, Pasar, dan Media telah berkoalisi menihilkan peran logika Publik–apalagi jika Publik juga dipecah di mana sebagian menjelma “bayangan negara”, sebagian lagi dijadikan “icon” musuh bersama?

Di Amerika, ada fenomena “Post-truth”–yi. situasi di mana fakta-fakta tak lagi relevan–yang mencoba memberi jalan alternatif atas laku Negara yang mengendalikan informasi dan memonopoli kebenaran. Seperti fenomena para Net-American yang memenangkan Trump; mereka mengecam media mainstream, mereka menolak data dari negara yang mendukung Hillary, mereka mengedepankan keyakinan dan perasaan pribadi untuk membentuk opini publik.

Namun di sini, di negara ini, “post-truth” (dan juga termasuk Hoax) adalah juga produk kuasa, dan hendak dimonopoli oleh negara. Tengok saja bagaimana media “bukan mainstream” dibredel, buku “tak ilmiah” diberangus, hingga akun-akun penggalang opini publik diblokir. Sementara negara ini sendiri juga bergelut dengan eksponen-eksponen seperti itu.

Di titik inilah RG hadir dengan perangkat logika yang “muisi”, tapi keras, jelas dan mencerahkan; logika yang tidak mengemas, melainkan bernas dan menelanjangi. Logika ini bukanlah logika Aristotelian yang beku, kaku dan rigid, melainkan logika yang bermanuver dengan slogan-slogan dan diksi-diksi di permukaan realitas, sekaligus menghantar pisau dekonstruksi hingga ke irisan terdangkalnya.

Jika ada yang diuntungkan dan dirugikan dalam “aliran” logika RG, itu tidak lebih sebagai efek performa dari diksi pamflet logikanya. #cmiiw

Dus, sebagai ihwal dekonstruksi, logika RG memang tak boleh diletakkan pada altar kebenaran yang tak goyah. Argumennya bisa saja disinyalir mengandung panduan filosofis untuk melegitimasi Hoax melawan negara. Dan ia, selaku penutur, juga tetap harus dicurigai secara ad hominem: kemana saja ia sebelum menulis “Hoax dan Demokrasi” di koran Tempo, tidur di kamar berapa ia setelah tampil di ILC TvOne kemarin malam.

Namun, dekonstruksi bukanlah pijakan filosofis. Dengan memakai pisau dekonstruksi, RG memosisikan logikanya dalam kacamata “orang ketiga”; ia tak berdiri di pihak-pihak yang “vis a vis” dalam Hoax itu, melainkan merenung pada sisa-sisa reruntuhan logika yang setidaknya pernah berjaya di kampus-kampus dengan nama: sinisisme kritis.

Prinsipnya: negara boleh saja punya otoritas, data, intelijen, dsb., namun kebebasan berpendapat juga hak publik memperoleh informasi yang benar tetap harus dibela.

Sebab percayalah, jika kebenaran telah tiba pada satu titik, ia bukan lagi sebagai kebenaran.

Begitulah sunnatullah “dekonstruksi” bekerja. (***)

 

 

Penulis Haz Algebra, dokter dan aktivis HMI

Musda HMI SulutGo Alot, Ini Penjelasan Masril Karim

Presidium sidang saat membacakan konsideran hal Musda (Foto Suluttoday.com)

Presidium sidang saat membacakan konsideran hal Musda (Foto Suluttoday.com)

MANADO -Dinamika yang terlahir di Musyawarah Daerah (Musda) Badko Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Utara-Gorontalo (SulutGo) tahun 2016 kali ini relatif alot. Dimulai dari Musda yang dilaksanakan di Sekretariat DPD KNPI Sulawesi Utara (Sulut) yang berakhir deadlock kemudian berlanjut di Kota Kotamubagu Sulawesi Utara (Sulut).

Alhasil, Selasa (9/8/2016) Musda tersebut berakhir. Menurut pemaparan Masril Karim, Ketua Umum HMI cabang Manado terdapat beberapa catatan hingga adanya Ketua Umum Badko SulutGo terpilih. Masri menyampaikan sejumlah kronologis yang menjadi pertimbangan pihanya untuk menyukseskan Musda.

”1. Musda Badko SulutGo awalnya di laksanakan pada tanggal 23 Juni 2016 di Kota Mando dibawah kepemimpinan Hazrudin Al Gebra, 2. cabang-cabang yang berada dibawa Badko SulutGo adalah cabang Tondano, Manado, Bolomong Raya, Gorontalo, Pohuwato dan Limboto, tetapi yang hadir pada Musda Badko itu hanya 3 cabang yaitu cabang Manado, Tondano dan Gorontalo. Forum sempat molor samapai pada tanggal 29 sehingga di serahkan kepada PB HMI, PB HMI kemudian membentuk tim carateker dan koordinator carateker adalah Ilham Akbar Mustafa yang juga merupakan pengurus PB HMI,” beber Masril

Lanjut diurainya bahwa yang ke-3. Koordinator carateker kemudian melakukan Musda Badko di Kotamubagu pada tanggal 6 dan molor, serta berakhir sampai tanggal 9 Agustus 2016. Forum yang molor itu di sebabkan oleh kesalahan yang dibuat koordinator carateker Ilham Akbar Mustafa yang terlalu mempolitisasi forum sehingga terjadi kemoloran.

Masril Karim sebgai Ketum melakukan sanggahan bahwa koordinator Carateker yg di utus PB HMI tdk mau menyelesaikn forum musda secara konstitusional tetapi menyelesaikan dengan cara yg mempolitisasi forum semisal ingin merbut salah satu cabang untuk mendukung kandidat yang di bawa Ilham Akbar Mustafa yang menyebabkan forum molor panjang.

Hal senada ditegaskan Fuzan Azim selaku Ketua Umum HMI cabang Gorontalo yang menyayangkan sikap koordinator caretaker yang diduga sengaja mengulur-ulur waktu tersebut.

”Kemudian, karena koordinator carateker ingin merebut salah satu dari tiga cabang yaitu cabang Manado, Tondano dan Gorontalo gagal, maka koordinator carateker sengaja melakukan musda badko di Kabupaten Bolomong kecamatan dumoga timur kelurahan imandi di ruang sekolah SD N 1 Imandi,” ujar Fauzan Azim ketum HMI cabang Gorontalo

Selanjutnya, Ketum cabang Tondano Ahmad Syakur jua menunjukkan sikap protesnya dengan sikap koordinator carateker yang melakukan cara-cara kurang elok untuk menyelesaikan Musda Badko SulutGo tidak dengan cara konstitusional.

”Ada cara-cara inkonstitusional yang sengaja mereka lakukan, sehingga Musda Badko berahir dengan dualisme. Cabang yang mengikuti koordinator carateker dan Hazrudin Al Gebra adalah cabang Bolomong Raya, Limboto, Pohuto dengan jumlah suara 6, sedangkan 3 Cabang yaitu Manado, Tondano, Gorontalo dibawa anggota team carateker lainnya adalah Wulan dengan jumalah suara adalah 9,” tukas Ahmad yang menyebutkan kalau Melys H. Ali akhirnya terpilih secara sah. (*/Amas)

Sukses Musda, Melys H Ali Terpilih Ketum Badko HMI Sulut-Gorontalo

Ketua Umum terpilih saat menerima berkas persidangan (Foto Suluttoday.com)

Ketua Umum terpilih saat menerima berkas persidangan (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Musyawarah Daerah (Musda) yang digelar Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Utara-Gorontalo yang dilaksanakan di Kota Kotamubagu Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) membawa hasil, terpilihnya Melys H. Ali sebagai formatur Ketua Umum Badko periode 2016-2018.

Hal tersebut seperti disampaikan Ketua Umum HMI cabang Manado, Masril Karim, Selasa (9/8/2016) saat diwawancarai Suluttoday.com. Selain menyampaikan selamat, Masril yang juga alumnus mahasiswa FISPOL Unsrat Manado itu menyampaikan bahwa Melys terpilih secara demokratis dalam Musda Badko HMI Sulut-Gorontalo dan siap dilantik.

”Banyak selamat kepada Kanda Melys H Ali yang terpilih secara resmi dan demokratis dalam forum Musda Badko Sulut-Gorontalo, sebagai Ketua Umum Badko periode 2016-2018. Terpilihnya Kanda Melys atas dukungan serta perolehan 9 suara sah dari 3 cabang di Badko Sulut-Gorontalo. Kiranya proses pergantian kepemimpinan dari saudara Haz kepada Kanda Melys berjalan baik, serta segera ditindaklanjuti pelantikannya oleh PB HMI,” ujar Masril. (Amas)

iklan1