Tag: Himpunan Mahasiswa Islam

HMI di Tengah Konflik dan Kemunduran Budaya Intelektual

Rusmin Hasan (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Rusmin Hasan, Aktivis HmI Cabang Tondano

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) disebut sebagai anak kandung Negara Republik Indonesia, pasalnya HMI lahir tepat dua tahun menyelang kemerdekaan indonesia. Tentu HMI banyak mewarisi persoalan berkaitan dengan kondisi objektif umat dan bangsa. HMI diusia 72 tahun sudah melewati berbagai macam hal dan kondisi, sehingga tidak sedikit HMI turut mewarnai sejarah pembangunan ini. Dinamika kebangsaan serta keumatan menjadi komitmen ideologis kader Himpunan Mahasiswa Islam dalam perpektif ideologi HMI pada fase awal dirikan sampai menyelma dalam geneologi intelektual serta komitmennya.

Sehingga HMI sebagai organisasi yang demokratis telah tuntas dalam diskursus kebangsaan dalam episode dinamika kebangsaan serta keumatan. Fase usai perpolitikan internal HMI pada momentum demokrasi kongres ambon pekan kemarin,menuai suhu konstalasi yang memanas dalam dinamika politik kala itu untuk perebuatan kursi kepemimpinan PB HMI.

Hal ini, menarik dalam proses kepengurusan kita dapatkan secara realitas terdapat peta konflik sehingga berplikasi dua ketua dalam proses berjalan waktu, potret dinamika tersebut ironisnya kedua kubu antara Kakanda Respiratori Saddam Al-Jihad dan Kakanda Arya Kharisma selaku PJ.Ketua Umum PB HMI Saling mengklaim kelempoknya yang paling benar, paling konstitusional sehingga berujung pada adu kekuatan antara gerbonya masing-masing.

Menurut hemat saya, sala satu indikator kemunduran budaya intelektual HMI terdapat pada konflik internal hal ini, disebabkan semua cabang seindonesia merasakan implikasi negatifnya, sampai ditubuh internal cabang seindonesia mengalami kubu serta gerbong kelompoknya masing-masing. Dari konflik tersebut, menjadi problem besar ditengah-tengah kemajemukaan narasi intelektual HMI yang konon katanya kritis, matang diskursus NDP, ideologi serta gerakan.

Melainkan menurut hemat saya dari hasil kontemplasi atau perenungan yang panjang bahwa dalil-dalil tersebut hanya sebagai apologi dan klaim watak politikus amatiran serta pembenaran yang absurditas semata. Seola organisasi Besar Islam hanyalah menjadi arena pertarungan kelompok yang tidak lagi mementing esensi dan subtansi organisasi himpunan.

Seolah-olah kita dijauhhkan dari aktivitas sosial bermasyarakat serta kita dihantarkan pada aktivitas yang kontra produktif, tak rasional dan kecenderungan doktriner semata sebagaimana telah disampaikan oleh Kakanda Agussalim sitompul dalam bukunya; (44 indikator kemunduran HMI) serta Tesis Julian benda ditahun 1960-an yang masih relevan diera digitaisasi dekade ini, ia katakan bahwa penghiatan kaum intelektual serta kemunduran identitas intelektual.

Melihat secara objek kondisi kader HMI dekakade ini, meengalami kemunduran internalisasi nilai cultural himpunan dalam optimalisasi pengembangan budaya intelektual HMI. Kurang lebih ada tiga nilai yang melatarbelakangi diantaranya; menurunya reproduksi intelektual kader secara intensif, menipisnya budaya kritis serta munculnya krisis kader dalam nilai (Islam) dinamika empirio spirit berorganisasi.

Meminjan perkataan Kakanda Anas Urbaningrum (Ketum PB HMI Periode 1997-1999) maka seyogyanya kader HMI harus kembali menginternalisasi nilai ke-HMIan dalam praha tantangan Revolusi indutri 4.0 digitalisasi dekade ini, sehingga menuurut hemat saya kembali merekonstruksi paradigma kader dalam menyembut peluang bonus demografi indonesia emas tahun 2030-2045 kedepan.

Dalam narasi sederhana ini, saya ingin katakan dan berpesan keseluruh kader HMI se-nusantara bahwa apabila HMI terkoptasi dalam arus politik internal terus menerus seperti ini, maka saya takutkan HMI akan mati ditelan waktu serta tak lagi dibutuhkan oleh khayalak masyarakat indonesia, bahkan kalau saja, Kakanda Lafran Pane masih hidup beliau akan menangis melihat kondisi objektif HMI sekarang ini, karena kita kehilangan subtansi serta orientasi khittah Perjuanganya dalam mendirikan Organisasi ini.

Narasi ini, saya persembahkan sebagai bentuk kritis otokritik kontruktif potret HMI untuk kembali berbenah dan intropeksi diri untuk merekonstruksi sera reskonsuliasi gagasan untuk pembaharuan pola politik yang demokratis sera menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme serta ideologi himpunan menyelang kongres HmI Dijakarta pekan depan nanti. Sehingga kader-kader Himpunan kembali kehitah perjuangan umat dan bangsa serta kembali kecultur intelektual HMI untuk meneropong misi HMI. Dikarenakan tantangan kita kedepan sangat besar.

Olehnya itu, kita tak harus selalu berpacu dalam skenario konflik internal serta saling mengklaim kelompoknya masing-masing. Harapan saya juga dalam narasi ini, sebagai koreksi, evaluasi PB HMI untuk kembali kekhittah perjuangan HMI untuk menciptakan Masyarakat Adil dan Makmur yang diridhoi Allah SWT. Amin…

Implementasi Ideopostrak HmI dalam Menghadapai Revolusi Industri 4.0

Rusmin Hasan (FOTO Suluttoday.com)

KEMUNCULAN teknologi ini merupakan bentuk rasa syukur manusia terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Dunia akhirnya mengenal yang namanya bidang industri untuk pertama kalinya lewat sebuah penemuan penting dari seorang James Watt (1736 – 1819). James Watt menemukan dan mengembangkan mesin uap. Penemuan ini kemudian menjadi dasar sekaligus cikal bakal lahirnya sebuah teknologi baru.

Kini, oleh kita, dikenal dengan sebutan revolusi industri yang terjadi di Inggris. Fenomena ini terjadi pada abad ke-18 yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Revolusi Industri sampai saat ini telah mengalami perkembangan. Mulai dari era industri generasi pertama, industri generasi kedua, hingga industri generasi ketiga. Dan sekarang, yang sedang kita hadapi adalah era industri generasi keempat atau yang kita kenal industri 4.0.

Dalam bukunya, Prof. Klaus Martin Schwab, teknisi dan ekonom Jerman, yang juga pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum, The Fourth Industrial Revolution (2017), menyebutkan bahwa saat ini kita berada pada awal sebuah revolusi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain. Perubahan itu sangat dramatis dan terjadi pada kecepatan eksponensial.

Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia. Hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri. Khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, rata-rata pendapatan per kapita negara-negara di dunia meningkat lebih dari enam kali lipat.

Indonesia sebagai sebuah negara pada posisi ini mau dan tidak mau harus menghadapi ini sebagai sebuah harapan dan juga sebagai tantangan. Apalagi negara kita yang populasi penduduknya terbanyak keempat di dunia setelah Cina, Amerika Serikat, dan India dengan jumlah yang paling banyak adalah generasi muda. Apalagi wacana yang yang sedang dibangun untuk sekarang itu juga “Bonus Demografi” untuk kaum muda bangsa ini.

Maka Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mesti berperan sebagai organisasi perjuangan serta notabene anggotanya adalah kaum muda (mahasiswa). Sehingga menjadi sesuatu yang komplet dan riil kalau era industri 4.0 dihadapi sebagai bentuk perjuangan, baik secara organisatoris maupun etis. Apalagi kader HMI secara aspek pengetahuan sudah dapat dikatakan baik dan mantap; sudah selayaknya bisa menghadapi era ini.

Lalu apa strategi dan taktik atau stratak HMI dalam merespons revolusi industri 4.0? Sejarah Revolusi Industri dan Perkembangannya Revolusi Industri merupakan fenomena yang terjadi antara tahun 1750-1850. Terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Ia memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia.

Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Bermula dari penemuan mesin uap, mesin sederhana ini kemudian diaplikasikan dalam berbagai mesin yang dapat memperbanyak produksi barang di Eropa.

Perkembangan yang juga tidak kalah cepatnya adalah sektor transportasi, komunikasi, dan keuangan Eropa. Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18. Terjadi peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia. Itu kemudian digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis menufaktur.

Periode awal dimulai dengan dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil. Juga, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batu bara. Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan dibangunnya jalan raya atau perbaikan jalan raya dan rel kereta api.

Munculnya revolusi industri ini tentu tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan yang puncaknya pada abad ke-16. Sehingga melahirkan para ilmuwan seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei. Serta, adanya pengembangan riset dan penelitian dengan pendirian lembaga riset seperti The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science.

Tentunya kemunculan revolusi industri mempunyai latar belakang yang di antaranya:

1. Situasi politik yang stabil. Adanya Revolusi Agung tahun 1688 yang mengharuskan raja bersumpah setia kepada Bill of Right sehingga raja tunduk kepada undang-undang dan hanya menarik pajak berdasarkan atas persetujuan parlemen. 2. Inggris kaya bahan tambang.

Britania Raya berlimpah bahan tambang, seperti batu bara, biji besi, timah, dan kaolin. Di samping itu, wol juga yang sangat menunjang industri tekstil. 3. Adanya penemuan baru di bidang teknologi. Dan, banyaknya penemuan baru yang dapat mempermudah cara kerja dan meningkatkan hasil produksi, misalnya alat-alat pemintal, mesin tenun,

Ini adalah akibat majunya pelayaran dan perdagangan sehingga dapat menyediakan modal yang besar untuk bidang usaha. Di samping itu, di Inggris juga tersedia bahan mentah yang cukup karena Inggris mempunyai banyak daerah jajahan yang menghasilkan bahan mentah tersebut. 5. Pemerintah memberikan perlindungan pada hak paten.

Perlindungan kepada hak paten oleh pemerintah Inggris mendorong kegiatan penelitian ilmiah lebih dikembangkan. Terlebih lagi setelah dibentuknya lembaga ilmiah Royal Society for Improving Natural Knowledge, maka perkembangan teknologi dan industri bertambah maju. 6. Arus urbanisasi Gaung banyaknya penemuan baru mengakibatkan arus urbanisasi di Inggris naik tajam.

Hingga arus urban yang besar akibat Revolusi Agraria di perdesaan mendorong pemerintah Inggris untuk membuka industri yang lebih banyak agar dapat menampung mereka. Perkembangan Revolusi Industri merupakan sebuah perubahan radikal. Ia mengubah tatanan kehidupan sosial kehidupan masyarakat dan negara yang berdampak luas, baik di bidang ekonomi, sosial budaya, dan politik.

Revolusi industri sendiri adalah sebuah revolusi ekonomi yang terjadi pertama kali di Inggris. Awal Revolusi Industri memang kurang jelas. Tetapi T.S. Ashton menulisnya kira-kira 1760-1830 dan tidak ada titik pemisah dengan Revolusi Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga-uap, dan rel.

Dengan begitu, perkembangan revolusi industri pada hasilnya adalah bagaimana mesin lebih bekerja untuk melakukan sesuatu. Perkembangan revolusi industri ini berlanjut sampai hari ini, yakni era industri 4.0. Industri 4.0; Tantangan dan Harapan Jika kita berbicara sejarah industri dan perkembangannya, tentu tidak lepas dari yang namanya teknologi.

Setiap kemajuan teknologi pasti berefek langsung kepada industri yang ada. Industri dan teknologi memang bidang yang berbeda, namun memengaruhi satu sama lain. Ketika ada penemuan teknologi baru, bidang industri pasti akan maju untuk melengkapinya. Revolusi industri sudah beberapa kali mengalami perubahan dari waktu ke waktu hingga sekarang ini.

Pada revolusi Industri 1.0, tumbuhnya mekanisasi dan energi berbasis uap dan air menjadi penanda. Tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Mesin uap pada abad ke-18 adalah salah satu pencapaian tertinggi. Revolusi 1.0 ini bisa meningkatkan perekonomian yang luar biasa. Sepanjang dua abad setelah revolusi industri, pendapatan per kapita negara-negara di dunia meningkat enam kali lipat.

Revolusi Industri 2.0 perubahannya ditandai dengan berkembangnya energi listrik dan motor penggerak. Manufaktur dan produksi massal terjadi. Pesawat telepon, mobil, dan pesawat terbang menjadi contoh pencapaian tertinggi. Perubahan cukup cepat terjadi pada revolusi Industri 3.0. Ditandai dengan tumbuhnya industri berbasis elektronika, teknologi informasi, serta otomatisasi.

Teknologi digital dan internet mulai dikenal pada akhir era ini. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya Internet of/for Things yang diikuti teknologi baru dalam data sains, artificial intelligent atau kecerdasan buatan, robotik, cloud, cetak tiga dimensi, dan teknologi nano. Sehingga memasuki era industri 4.0 ini, bagi HMI secara khusus, merupakan harapan dan juga tantangan.

Pertama, harapan yang kemudian terbangun adalah fenomena era industri 4.0 bisa menjadi motivasi untuk memperbaiki pola pikir, dan bisa menjadi ajang mencari dan memperbanyak pengetahuan kaum muda muslim. Kedua, tantangannya adalah tentu dengan revolusi industri 4.0 ini akan semakin sulit persaingan antara kita Indonesia dengan negara-negara lain yang memang sudah maju dari segala aspek. Sehingga timbul pertanyaan “kita mampu atau tidak?”.

Stratak HMI Menghadapi Era Industri 4.0

Teknologi dan perkembangannya merupakan sebuah keharusan yang harus dihadapi oleh seluruh umat manusia, begitu juga dengan umat Islam. Seperti ayat Alquran surat Ar-Rahman 33: “Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) langit dan bumi lintasilah. Kamu tidak akan dapat menembusnya melainkan dengan ilmu pengetahuan”.

Kemudian dalam Alquran, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air.

Lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. (Semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah : 164).

Sehingga tidak ada alasan untuk menghindar dan tidak terlibat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin canggihnya. HMI yang berasaskan Islam dan berperan sebagai organisasi perjuangan yang di dalamnya semua anggota HMI adalah anak muda Islam yang tentu punya kekuatan (power) yang masih sangat ideal.

Jadi ada hubungan stratak HMI saat mengonsepkan suatu bentuk perjuangan dengan anak muda. Dua hal yang tidak bisa dilepas pisahkan. Dari situlah stratak HMI sudah seharusnya sudah memiliki strategi dan taktik yang mantap sebagai road map dalam menghadapi era industri 4.0 ini. Stratak HMI yang harus ditunaikan sebagai berikut: Pengembangan SDM Sumber Daya Manusia (SDM) perlu dikembangkan dari segala aspek, terutama pendidikan dalam menjawab tantangan era industri 4.0. Ini karena pengembangan SDM adalah modal utama.

Menghadapi era modern yang penuh dengan lajunya arus globalisasi yang didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mengharuskan stratak HMI membentuk manusia Indonesia menjadi manusia yang cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Baik itu di HMI sendiri maupun untuk masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Semuga tertuju demi memperbanyak pengetahuan, terutama tentang perkembangan di era industri dengan mengadakan training-training di bidang teknologi dan perindustrian.

Kemudian stratak HMI melalui kader-kadernya harus tetap menjadikan membaca, diskusi, kajian dan menulis sebagai budaya anak HMI Penguasaan Digital Kemajuan digital telah memasuki sendi-sendi kehidupan kita. Olehnya itu, perlu untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi Internet of things atau mengintegrasikan kemampuan Internet dengan lini produksi di industri.

Stratak HMI melalui kader-kadernya harus mampu untuk berinovasi untuk mengembangkan dan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital ini. Misalkan dalam rangka membuat media dengan konten-konten menarik, mengembangkan perekonomian mahasiswa Islam dengan memakai digital dan sebagainya.

Implementasi Konsep NDP Nilai Dasar Perjuangan di HMI adalah sebuah ideologi yang digunakan untuk melihat dunia atau pandangan dunia (world view). Dalam NDP, kader HMI bagaimana bisa memaknai tentang Tuhan, Manusia, dan Alam dari sisi Iman, Ilmu, dan Amal. Olehnya itu, mengimplementasikan konsep NDP dalam konteks kehidupan diera industri adalah sebuah keharusan seluruh kader HMI Bahkan Alumni.

 

____________________________

Rusmin Hasan, Mahasiswa Universitas Negeri Manado Kabid Partisipasi & pembangunan Daera (PPD) HmI Cabang Tondano

PB HMI Gelar Demo di Kedutaan Besar China

Unjuk rasa kader PB HMI di depan Kedutaan Besar China (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Selasa 18 Desember 2018, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) melakukan aksi demontrasi di depan Kedutaan Besar China alan Mega Kuningan No.2, RT.5/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Setia Budi, Kota Jakarta Selatan.

Aksi yang digelar dalam rangka solidaritas terhadap Muslim Uighur China. Bencana kemanusiaan yang terjadi terhadap umat Islam Uyghur yang selalu mengalami penindasan dari pemerintahan China. Sudah sejak lama mereka ditekan keras dan dimusuhi oleh pemerintah Cina, maupun kelompok-kelompok yang tidak menginginkan Islam berkembang di Cina pada umumnya dan Xinjiang pada khususnya.

Sebagai kelompok minoritas, bangsa Uyghur kerap kali harus mengalami perlakuan diskriminatif, baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun dalam menjalankan ibadah sehari-hari, hal ini dikarenakan proses “pemarjinalan” agama dalam sistem komunisme yang diterapkan oleh pemerintah.

Ketua Bidang Hubungan Internasional PB-HMI Achyar Al-Rasyid mengatakan bahwa sejak berdirinya HMI pada Tahun 1947, HMI selalu berfokus mengawal permasalahan kemanusiaan, kemerdekaan dan Hak Azasi Manusia.

”Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam menuntut agar pemerintah China menjamin dan melindungi hak muslim uyghur untuk bebas dalam beribadah dan menjalankan syariat agama islam yang merupakan bagian dari Hak Azasi Manusia. Jika pemerintah China tidak bisa menjamin, melindungi dan memberikan rasa aman terhadap muslim Uyghur maka biarkan muslim Uyghur merdeka dan mengelola hidup dan wilayahnya sendiri. Aksi ini merupakan wujud perjuangan dan pembuktian bahwa HMI selalu konsisten dalam mengawal isu-isu perdamaian dan kemanusiaan,” ujar Achyar.

Sekjen PB HMI Nayla Fitria dalam orasinya menuntut agar pemerintah China segera mengakhiri penindasan terhadap Muslim Uighur.

”Kami dari Pengurus Besar Mahasiswa Islam mengutuk kebiadaban dan kekejian yang dilakukan oleh pemerintah China terhadap saudara-saudara muslim kami yang berada di Uighur. Kami menuntut pemerintah China agar segera mengakhiri penindasan dan tindakan tidak manusiawi terhadap Muslim Uighur. Jika tidak maka kami menghimbau untuk orang China agar segera angkat kaki dari Indonesia. Karena tidak ada tempat di Indonesia bagi penindas muslim dan penjahat kemanusiaan,” ucap Nayla dalam orasinya.

Selain dari itu, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menghimbau kepada pengurus Badan Kordinasi, Cabang dan komisariat serta keluarga besar HMI seluruh Indonesia untuk melakukan aksi serempak turun kejalan serta melakukan boikot terhadap semua produk China di seluruh Indonesia. (*/Redaksi)

Milad HMI ke-71, Radjab: Menjadi Kader ‘Tukang’ HMI

Met milad HMI (Foto Ist)

Oleh : Syamsuddin Radjab
 Ketua PB HMI 2003-2005 dan Direktur Eksekutif Jenggala Center

Tanggal 5 Februari 2018 merupakan peringatan hari lahir atau milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan oleh Prof. Lafran Pane yang baru saja diberi gelar sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis, 9 November 2017 lalu.

Lafran Pane mendirikan HMI pada 14 Rabiul Awwal 1336 H. bertepatan dengan 5 Februari 1947 M. atau 71 tahun lalu. Pendirian HMI dalam catatan historiografi yang ditulis almarhum Prof. Agussalim Sitompul (1995), sejarawan HMI, dilatar belakangi permasalahan kondisi kebangsaan (keindonesiaan), keummatan (keislaman) dan kemahasiswaan.

Dalam perkembangannya, ketiga kondisi dasar pendirian HMI di postulasi menjadi materi training dalam setiap jenjang perkaderan HMI, dari level basic hingga advance disamping materi kepemimpinan, managemen, keorganisasian, wawasan internasional serta materi terapan; Ideopolitorstratak (ideologi, politik, organisasi, strategi dan taktik).

Pada periode awal pendirian HMI, tujuannya sesuai dengan konteks kondisi Indonesia pada masa saat itu yakni mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan Agama Islam. Yang dapat disimpulkan menjadi “Ke-Indonesiaan” dan “Ke-Islaman”.

Dalam perkembangan selanjutnya, tujuan HMI yang dikenal saat ini baru dirumuskan dalam Kongres IX HMI Tahun 1969 di Malang yang rumusannya berbunyi, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.

Pendirian HMI juga tak bisa dilepaskan dari dinamika politik pada masa awal kemerdekaan berupa kuatnya polarisasi ditengah masyarakat terkait metode perjuangan melawan penjajah Belanda, antara perjuangan diplomasi dan konfrontasi senjata alias perang. Ditambah dengan seringnya gonta-ganti pemerintahan karena sistem parlementer dan bentuk negara RIS (Republik Indonesia Serikat).

Dalam perjuangan fisik, HMI menjadi pelopor dikalangan mahasiswa dengan membentuk Corps Mahasiswa Indonesia (CMI) yang dipimpin Achmad Tirtosudiro yang ikut angkat senjata dalam penumpasan pemberontakan PKI pada peristiwa Madiun 1948. Urusan “NKRI harga mati” bagi HMI tidak perlu dipertanyakan, HMI adalah bagian dari proses panjang bangsa ini.

Dalam Dies Natalis I HMI 1948, Jenderal Besar Sudirman mengartikan HMI sebagai “Harapan Masyarakat Indonesia” yang terkenal hingga saat ini. Demikian halnya, HMI ikut bertempur dalam agresi I dan II karena Belanda ingin kembali menguasai Indonesia sampai digelarnya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Kader vs “tukang”

Albert Sydney Hornby (1989) mendefinisikan kader sebagai small group of people who are specially chosen and trained for a particular purpose. Merriem-Webster mengartikannya “a nucleus or core group especially of trained personnel able to assume control and to train others”. Nathan Fiel (1969) menyimpulkan kader sebagai semua jenis inti kepemimpinan (all kinds of leadership core). Sedangkan tukang (artisan) adalah orang yang mempunyai kepandaian dalam suatu pekerjaan seperti tukang batu, besi dan bahkan tukang pukul atau tukang tipu.

Pada intinya, kader adalah ujung tombak dan tulang punggung kontinyuitas organisasi HMI sejak didirikan hingga hingga sekarang dengan hierarti kepemimpinan dari pengurus besar sampai tingkat komisariat yang berbasis di fakultas suatu perguruan tinggi. Tak seperti tukang, tidak perlu pelatihan khusus karena kecakapan yang diraihnya cukup mendampngi tukang senior, belajar otodidak membuat (make) dan bukan menjadi (become).

Dikalangan partai politik, seseorang yang baru saja diangkat sebagai ketua partai pada level tertentu bahkan tingkat paling tinggi pun dikatakan “kader”, padahal yang bersangkutan belum pernah mengikuti pola perkaderan apapun dalam partai. Jangan heran jika menemukan seorang pimpinan partai tertentu hari ini berjaket warna merah, dilain waktu sudah berubah menjadi kuning atau biru. Karena partai baru dapat membuat “tukang” belum mampu menjadi “kader”.

Demikian halnya di HMI, ratusan bahkan ribuan mahasiswa, baru menjadi pengurus “tukang urus” kelembagaan HMI tetapi belum menjadi kader HMI yang dapat menjadi ujung tombak dan tulang punggung organisasi yang memiliki visi kedepan dan dapat melakukan social engineering, kualitas keilmuan, komitmen dalam memperjuangkan kebenaran, dan memahami nilai dasar perjuangan (NDP) dalam mentransformasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan sebagai nilai yang inheren dalam kehidupan pribadi kader baik sebagai mahasiswa maupun warga negara.

Menjadi “tukang” tidak perlu visi, yang penting terpenuhi gizi. Tak perlu pemahaman nilai-nilai, mereka hanya butuh angka-angka untuk melanjutkan hidup dan bukan cita-cita seperti rumusan HMI, kader insan cita. Menjadi kader insan cita penuh bentangan aral, berlimpah air mata kesedihan dan tantangan berat; membaca buku, mengikuti pengajian dan diskusi serta pelatihan informal perkaderan.

Di HMI, perkaderan sudah tertata dengan baik. Secara konsepsi, rekrutmen kader, pembentukan kader, pengembangan kader hingga distribusi pengabdian dan arah kader HMI telah tersusun secara sistematis dalam satu pola perkaderan untuk mencapai tujuan HMI. Pola perkaderan HMI tersebut telah melahirkan tokoh nasional dan internasional dalam kepemimpinan pelbagai profesi dan bidang. Dari guru ngaji hingga guru besar dan dari usaha kecil hingga konglomerasi. Bahkan, HMI pun memproduksi kader anti-korupsi sekaligus koruptor.

Kongres para “Tukang”

Tanggal 9-13 Februari 2018, akan digelar Kongres XXX HMI di Kota Ambon, Maluku, dengan tema “Meneguhkan Kebangsaan Wujudkan Indonesia Berkeadilan”. Saya belum menemukan apa alas pikir dan analisis genuine para perumus tema kongres kali ini. Biasanya, ada penjelasan yang melatar belakangi sehingga tema tersebut dipilih dan disepakati dilevel Steering Committee (SC).

Belakangan ini, spektrum jelajah berpikir kader HMI, khususnya ditingkat pengurus besar belum mewarnai poros pemikiran dikalangan mahasiswa bahkan kecenderungannya lebih banyak memilih menjadi “kopral” di DPR sebagai tenaga ahli (TA) anggota dibandingkan fokus di kepengurusan dan melanjutkan kuliah. Tak jarang, mereka masuk pengurus besar hanya loncatan untuk menjadi kopral di DPR.

Akibatnya, pelbagai aksi kepentingan elite politik menggunakan TA yang juga pengurus besar atau mantan pengurus memakai atribut HMI untuk memuaskan nafsu tuannya karena bekerja sebagai kopral politik di Senayan seperti dalam kasus aksi kebhinekaan yang dikenal dengan aksi 412. Perilaku pengurus seperti ini bukan tipikal kader HMI yang merawat independensinya tetapi “tukang” di HMI.

Pengurus juga dilanda skandal plagiasi yang telah dilansir pelbagai media dan menjadi kritik keras oleh kader HMI di daerah akibat perbuatan tak terpuji tersebut. Tradisi membaca buku dan kajian intensif telah lama menghilang dikalangan pengurus terutama ditingkat pengurus besar. Sabang hari, tampilannya necis bak pengusaha minyak dari Qatar, tapi pikiran dan perilakunya datar, tidak dinamis bahkan cenderung oportunis.

Perilaku pimpinan PB HMI bukan saja melanggar kaedah akademik tetapi juga menciderai asas dan tujuan HMI sebagai insan akademis dan pola perkaderan yang selama ini menjunjung tinggi semangat keilmuan. Belum lagi soal masih amburadulnya pengelolaan keuangan yang berujung di tangan aparat penegak hukum yang dilaporkan oleh salah seorang pengurus.

Berharap kongres kali ini berkualitas nampaknya akan menjadi bunga-bunga mimpi. Dengan calon yang akan maju di Kongres tak ada bedanya dengan pilkada. Lebih senang adu foto dan gaya daripada adu gagasan. Saya mendapat laporan bahwa rekomendasi HMI Cabang sebagai syarat pencalonan telah diperjual belikan oleh ketua umum Cabang dengan sang calon. Tentu ini memiriskan, tak ubahnya seperti parpol yang sedang memeras calon dengan dalih uang saksi atau survey dan alin-lain.
Cilakanya lagi, orang parpol pun ikut mendaftar sebagai calon ketua umum PB HMI di Ambon nanti. Inilah kongres para “Tukang”, perhelatan kaum tukang olah, olah sana, olah sini dan pada akhirnya seolah-olah. seolah-olah necis, seolah-olah akademis, tak sadar mereka sesungguhnya dalam olahan.

Billahittaufiq Walhidayah
Yakin Usaha Sampai

Jakarta, 5 Februari 2018

HMI & KRISTINISASI PAPUA; Memor 5 Februari Momentum Visi Keadaban Manusia

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Mengawali dengan mengutip pendapat Thomas Charlyle bahwa orang besar itu bukan saja ditulisakan dalam sejarah tetapi juga mampua membuat sejarah. Kira-kira kata ini bukan menjadi doktrin tetapi paling tidak kita maknai bawah sesunggunya perjalanan sejarah itu sendiri bisa ditegasakan dalam metode pengetahuan. Paling tidak penulis sepedapat dengan Murthada Mutharri, sejarah sebagai salah satu landasan epistemic, walau banya menyangga tetapi argumentasi tentang sejarah yang terjadi secara sengja dan sejarah kenabina yang bisa sebagai landasan dan pijakan pengetahuan manusia. atau bisa perjuangan bersandar pada nilai-nilai kenabian bisa menjadi sebuah rujukan dan referensi.

Catatan dan refiu kebangsaan memberikan cukup banya gagasa, pikiran, idea dan perbuatan telah menyelamtkan nusantara dari kolonialisme. Toleransi masyarakan telah melepaskan egosentris kuasa monarki para raja-raja dan menyatakan bersama untuk ke-Indonesiaan. Salah satu gagasan anak keturunan seorang sultan Pangurabaan Pane-tokoh pergerakan nasional tapanuli selatan. Anak yang secara telaan berada pada kosmologi pertarungan dan sangat kritis untuk internalisasi diri/pencarian jati diri.

5 Februari Untuk HMI

Anak yang berusia 25 tahun yang berjuang untuk umat, masi berstatus sebagai mahasiswa sekolah tinggi islam, sekarang Universitas Islam Iindonesia (UII) bercita-cita mendirikan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada rabu, 14 rabiul awal 1366 H atau 5 februari 1947. Kini berusia menuju pada masa lansia jika kita analogi dalam kehidupan manusia. tetapi ini adalah organism yang bersenyawa hidup. Muqadima dasar dengan berbagai argumentasi yang cukup rasional dan tidak memunculkan kelasifikasi dan problem sosial baru. Pertam; alasan keindonesiaan. Kedua; alasan keislaman. Ketigas; alasan perguruan tinggi dan kemahasiswaan.

Kesadaran idiologi dan alasan keislaman menegaskan azas organisasi islam dan berkarakter oraganisasi pengkaderan dan perjuangaan. Hmi lahir untuk kepentingan umat dan membantu mendorong cita-cita kemasan dari kebudayaan itu sendiri yang disebut dengan peradaban. HMI harus berada pada titik kemasaan sekalipun dia berada pada sekala minoritas, jumlah bukan serta merta yang dijadikan landasan ketakutan dan kelemahan dalam ber-HmI. Tetapi kekurangan itu menjadi nilai yang terbalik dari ketakutan yaitu militasnsi yang islami. Jelasa sepeti apa yang dikatakan Ibnu Khaldun serpihan kecil dalam keruntuhan peradaban bukan sesunggunya adalah kehancuran tetapi itu adalah potensi untuk melahirkan peradaban berikutnya.

Negara ini cukup banyak mengisap enegri yang dimiliki kader HMI untuk malakukan perubahan, karena sebuah negara bangsa yang besar adalah negara bangsa yang terus berada pada gradual perubahan itu sendiri dan mampu menjawab kesejatraan. Kita tidak ceroboh menyebutkan tetapi sejarah telah jujur sampaikan, banyak pemimpin bangsa yang dilahirkan dan berproses di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), walau ada yang terlibat masalah hukum tetapi lebih banyak berprestasi. Tafsir para kader dengan berbagai macam corak pemikiran, banyak kadera yang berkaria dan begitupun banyak yang telah berada pada tebing-tebing hukum karena ada secara sengaja bermasalah, ada yang dijelak dan ada yang berada pada nas perjuangan. Semata-mata karena keangkuhan tetapi HMI adalah wadah nazaria almarifah/wadah epistemology.

Mereka menyatu dan berbeda bukan lah identitas, karena identitas bisa berujud dua dan bisa saling membunuh satu sama sama lain. Karena indentitas menegaskan siapa dia dan siapa kamu, bisa bersatu padu atau bisa menjadi musu yang saling membunuh. Tetapi HMI lebih dari itu kader idologis universal dan melampau alam kesadaran sentimentalisem, kesadaran kelas, kesadaran kedaerahan, kesukuan, rasial. Kadera yang menjawab dan berada ditenga-tengah umat. Berjuang dan bertahan adalah nilai dalam mengekohkan eksistensinya, 70 tahun sudah kamu berada dan mengabdi.

5 Februari Papua, Ingatan Kesakralan Orang-Orang Papua

Data sejarah menunjukan bahwa pada tahun 5 Februari 1855 M Otto & Gessller mereka tiba di Papua di waktu subuh(dalam bahasa Tidore sarah kie) di pulau Mansinam (dekat Manokwari). Setahun kemudian C.W. Ottow dan G.J. Gessller berjibaku dengan alam Papua dengan sikap keimanan mereka untuk menyebarkan Agaman Kristin dan sultan Ahmadul Mansyur Surajuddinpun wafat pada tahun 1856 M.

Hari yang penuh duka dan bersejarah bagi orang-orang papua yang menganut kristiani, perjuangan panjang yang dilakukan orang C.W. Ottow dan G.J. Gessller yang mendapat restu dari sultan/Jou Tidore Ahmadul Mansyur Surajuddin, memutusakan sebuah kebijakan dengan sikap kebijaksanaan pada tahun 1852 M (baca: laki-laki dari Tidore). Sikap sultan ini bukan sekedar ijin semata tetapi ini adalah titah yang melibatkan seluruh kekuasaan di kesultan Tidore, kemdudian misonaris ini dikawal dengan kekuataan sangaji gam range dengan persediaan fasilitas kora-kora yang lengkap untuk menganta ke 2 misonaris ke tanah papua.

Ke 2 misonaris dari Jerman C.W. Ottow dan G.J. Gessller untuk menyebarkan agama Kristin di Tanah Papua (atau dalam istilah bahasa Tidore ngili gulu-gulu). Sikapa tolerasi dan semangat pluralism di abat 19 sudah dibangun dan dijunjung tinggi, apala lagi sikap kebijaksanaan oleh seorang sultan (Otoritas kusas tertinggi daerah kesultanakn Tidore), tetapi ijin ini dengan bebarapa catatan tolerasin bahwa, ada bebarapa daerah Papua yang suda Islam pada 1520 M pada masa kejayaan Sultan Mansyur (Fakfak, Raja Amapat, Bintuni, Kaimana Dan Lingkaran Papua Gam Sio) tidak bisa diganggun secara keyakinan. Keputusan SultanAhmadul Mansyur Surajuddin (1821-1856), menyebutkan wilayah Manokwari sebagai tempat meraka menyebarkan ajaran injil adalah sikap yang toleran dalam beragama.

Patut dihormati karena ke-dua misonearis C.W. Ottow dan G.J. Gessller, memahami bahwa sanya daerah Papua merupakan wilayah kesultana Tidore, sehingga direferensi sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1852 M, mereka tiba di Tidore dan melaporkan niat mereka kepada sultan Tidore terkait dengan penyebaran agama. Keputusan sultan terkait dengan wilayah Manokwari sebagai salah satu wilayah yang bisa mereka sebarkan agama, Titaah sultan pun berlanjut untuk memerinthakan orang-orang kelustan mengantara C.W. Ottow dan G.J. Gessller (misonaris) dengan perahu kora-kora yang dimiliki pihak Kesultanan Tidore.

Tidore dan Papua tidak hanya itu, daerah Papua merupakan titik simpul perlawanan terhadapa Belanda yang dilakukan oleh Sultan Nuku. Pergerakan dan simpul solidaritas (ashabiayah) dibangun disana simpul kekuatan Key, Seram, Groom, Aru, Kaimana, Fakfak, Bintuni, Raja Ngairuha (R4), Simpul Papua Gam Sio, Sangaji Gam Range untuk kembali merebut Tidore dari pengaruh Belanda yang dimaknai dan simbol Revolusi Tidore/Nuku.Momentum ini pun diagendakan dalam Hari Jadi Tidore pada Akhir maret sampi dengan 12 April, dalam napak tilas pengambilalihan kekuasaan dan disakralkan dengan penyerahan panji (paji) dan ake dango (air suci).

Papua salah satu daerah kesultanan Tidore dan sampai sekarang ini Belum ada dekonstruksi sejarah mencoban untuk menunjukan sejarah baru dari hasil proses ilmiah, artinya ini belu terbantahkan. Fakta dan ojektifitas sejarah ini lah yang bisa menjadi argumentasi sakti Bung Karno dalam memperjuangkan Irian Jaya Barat di majelis PBB untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) dari tangan Belanda pada 1 Mei 1963. Perjungan Belanda dan sikap ambisius untuk memiliki dan memperoleh pendapatan sebesar-bearnya yaitu kekayaan minya dan gas bumi.

Logika perjuangan untuk merebut Papua dari tangan Belanda, jika kita sebutkan bahwa kalau bukan karena Papau masuk dalam catatan sejarah sebagai daerah kesultanan Tidore, maka Bung Karno akan habis argumerntasi rasionalnya. Diuntungkan karena Papua bagian dari pada daerah Kesultanan Tidore, sehingga argumentasi ini menjadi rasional diterima.Penunjukan langsung Presiden Soekarno kepada salah satu Sultan Tidore Zainail Abdin Syah (1947-1967) sebagai Gubernur pertama Irian Jaya Barat yang ber-Ibu Kota di Soasio Tidore.

Dua moemntuk sejarah bersara ini menjadi bagian dari pada perai sikap untuk mendesai keadaban, ini bukan sekedar perjuangan sahwat nafsu tetapi ini adalah bagian dari pada peluhuran nilai-nilai dan visi pembenaran dimuka bumi. 5 februari menjadi kemerdekaan kamanusiaan yang dimulai dengan rentan usian terpaut jauh tetapi itu semua bagian dari eternal sejraha keadaban manusia dengan momen yang sama. 5 Februari special untuk visi kedaban manusia. (***)

 

Penulis: Bustamin Wahid (Alumni HMI cab. Gorontalo & Warga Sorong Papua Barat)

iklan1