Tag: Himpunan Mahasiswa Islam

PB HMI Gelar Demo di Kedutaan Besar China

Unjuk rasa kader PB HMI di depan Kedutaan Besar China (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Selasa 18 Desember 2018, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) melakukan aksi demontrasi di depan Kedutaan Besar China alan Mega Kuningan No.2, RT.5/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Setia Budi, Kota Jakarta Selatan.

Aksi yang digelar dalam rangka solidaritas terhadap Muslim Uighur China. Bencana kemanusiaan yang terjadi terhadap umat Islam Uyghur yang selalu mengalami penindasan dari pemerintahan China. Sudah sejak lama mereka ditekan keras dan dimusuhi oleh pemerintah Cina, maupun kelompok-kelompok yang tidak menginginkan Islam berkembang di Cina pada umumnya dan Xinjiang pada khususnya.

Sebagai kelompok minoritas, bangsa Uyghur kerap kali harus mengalami perlakuan diskriminatif, baik dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun dalam menjalankan ibadah sehari-hari, hal ini dikarenakan proses “pemarjinalan” agama dalam sistem komunisme yang diterapkan oleh pemerintah.

Ketua Bidang Hubungan Internasional PB-HMI Achyar Al-Rasyid mengatakan bahwa sejak berdirinya HMI pada Tahun 1947, HMI selalu berfokus mengawal permasalahan kemanusiaan, kemerdekaan dan Hak Azasi Manusia.

”Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam menuntut agar pemerintah China menjamin dan melindungi hak muslim uyghur untuk bebas dalam beribadah dan menjalankan syariat agama islam yang merupakan bagian dari Hak Azasi Manusia. Jika pemerintah China tidak bisa menjamin, melindungi dan memberikan rasa aman terhadap muslim Uyghur maka biarkan muslim Uyghur merdeka dan mengelola hidup dan wilayahnya sendiri. Aksi ini merupakan wujud perjuangan dan pembuktian bahwa HMI selalu konsisten dalam mengawal isu-isu perdamaian dan kemanusiaan,” ujar Achyar.

Sekjen PB HMI Nayla Fitria dalam orasinya menuntut agar pemerintah China segera mengakhiri penindasan terhadap Muslim Uighur.

”Kami dari Pengurus Besar Mahasiswa Islam mengutuk kebiadaban dan kekejian yang dilakukan oleh pemerintah China terhadap saudara-saudara muslim kami yang berada di Uighur. Kami menuntut pemerintah China agar segera mengakhiri penindasan dan tindakan tidak manusiawi terhadap Muslim Uighur. Jika tidak maka kami menghimbau untuk orang China agar segera angkat kaki dari Indonesia. Karena tidak ada tempat di Indonesia bagi penindas muslim dan penjahat kemanusiaan,” ucap Nayla dalam orasinya.

Selain dari itu, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menghimbau kepada pengurus Badan Kordinasi, Cabang dan komisariat serta keluarga besar HMI seluruh Indonesia untuk melakukan aksi serempak turun kejalan serta melakukan boikot terhadap semua produk China di seluruh Indonesia. (*/Redaksi)

Milad HMI ke-71, Radjab: Menjadi Kader ‘Tukang’ HMI

Met milad HMI (Foto Ist)

Oleh : Syamsuddin Radjab
 Ketua PB HMI 2003-2005 dan Direktur Eksekutif Jenggala Center

Tanggal 5 Februari 2018 merupakan peringatan hari lahir atau milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang didirikan oleh Prof. Lafran Pane yang baru saja diberi gelar sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis, 9 November 2017 lalu.

Lafran Pane mendirikan HMI pada 14 Rabiul Awwal 1336 H. bertepatan dengan 5 Februari 1947 M. atau 71 tahun lalu. Pendirian HMI dalam catatan historiografi yang ditulis almarhum Prof. Agussalim Sitompul (1995), sejarawan HMI, dilatar belakangi permasalahan kondisi kebangsaan (keindonesiaan), keummatan (keislaman) dan kemahasiswaan.

Dalam perkembangannya, ketiga kondisi dasar pendirian HMI di postulasi menjadi materi training dalam setiap jenjang perkaderan HMI, dari level basic hingga advance disamping materi kepemimpinan, managemen, keorganisasian, wawasan internasional serta materi terapan; Ideopolitorstratak (ideologi, politik, organisasi, strategi dan taktik).

Pada periode awal pendirian HMI, tujuannya sesuai dengan konteks kondisi Indonesia pada masa saat itu yakni mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia serta menegakkan dan mengembangkan Agama Islam. Yang dapat disimpulkan menjadi “Ke-Indonesiaan” dan “Ke-Islaman”.

Dalam perkembangan selanjutnya, tujuan HMI yang dikenal saat ini baru dirumuskan dalam Kongres IX HMI Tahun 1969 di Malang yang rumusannya berbunyi, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.

Pendirian HMI juga tak bisa dilepaskan dari dinamika politik pada masa awal kemerdekaan berupa kuatnya polarisasi ditengah masyarakat terkait metode perjuangan melawan penjajah Belanda, antara perjuangan diplomasi dan konfrontasi senjata alias perang. Ditambah dengan seringnya gonta-ganti pemerintahan karena sistem parlementer dan bentuk negara RIS (Republik Indonesia Serikat).

Dalam perjuangan fisik, HMI menjadi pelopor dikalangan mahasiswa dengan membentuk Corps Mahasiswa Indonesia (CMI) yang dipimpin Achmad Tirtosudiro yang ikut angkat senjata dalam penumpasan pemberontakan PKI pada peristiwa Madiun 1948. Urusan “NKRI harga mati” bagi HMI tidak perlu dipertanyakan, HMI adalah bagian dari proses panjang bangsa ini.

Dalam Dies Natalis I HMI 1948, Jenderal Besar Sudirman mengartikan HMI sebagai “Harapan Masyarakat Indonesia” yang terkenal hingga saat ini. Demikian halnya, HMI ikut bertempur dalam agresi I dan II karena Belanda ingin kembali menguasai Indonesia sampai digelarnya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Kader vs “tukang”

Albert Sydney Hornby (1989) mendefinisikan kader sebagai small group of people who are specially chosen and trained for a particular purpose. Merriem-Webster mengartikannya “a nucleus or core group especially of trained personnel able to assume control and to train others”. Nathan Fiel (1969) menyimpulkan kader sebagai semua jenis inti kepemimpinan (all kinds of leadership core). Sedangkan tukang (artisan) adalah orang yang mempunyai kepandaian dalam suatu pekerjaan seperti tukang batu, besi dan bahkan tukang pukul atau tukang tipu.

Pada intinya, kader adalah ujung tombak dan tulang punggung kontinyuitas organisasi HMI sejak didirikan hingga hingga sekarang dengan hierarti kepemimpinan dari pengurus besar sampai tingkat komisariat yang berbasis di fakultas suatu perguruan tinggi. Tak seperti tukang, tidak perlu pelatihan khusus karena kecakapan yang diraihnya cukup mendampngi tukang senior, belajar otodidak membuat (make) dan bukan menjadi (become).

Dikalangan partai politik, seseorang yang baru saja diangkat sebagai ketua partai pada level tertentu bahkan tingkat paling tinggi pun dikatakan “kader”, padahal yang bersangkutan belum pernah mengikuti pola perkaderan apapun dalam partai. Jangan heran jika menemukan seorang pimpinan partai tertentu hari ini berjaket warna merah, dilain waktu sudah berubah menjadi kuning atau biru. Karena partai baru dapat membuat “tukang” belum mampu menjadi “kader”.

Demikian halnya di HMI, ratusan bahkan ribuan mahasiswa, baru menjadi pengurus “tukang urus” kelembagaan HMI tetapi belum menjadi kader HMI yang dapat menjadi ujung tombak dan tulang punggung organisasi yang memiliki visi kedepan dan dapat melakukan social engineering, kualitas keilmuan, komitmen dalam memperjuangkan kebenaran, dan memahami nilai dasar perjuangan (NDP) dalam mentransformasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan sebagai nilai yang inheren dalam kehidupan pribadi kader baik sebagai mahasiswa maupun warga negara.

Menjadi “tukang” tidak perlu visi, yang penting terpenuhi gizi. Tak perlu pemahaman nilai-nilai, mereka hanya butuh angka-angka untuk melanjutkan hidup dan bukan cita-cita seperti rumusan HMI, kader insan cita. Menjadi kader insan cita penuh bentangan aral, berlimpah air mata kesedihan dan tantangan berat; membaca buku, mengikuti pengajian dan diskusi serta pelatihan informal perkaderan.

Di HMI, perkaderan sudah tertata dengan baik. Secara konsepsi, rekrutmen kader, pembentukan kader, pengembangan kader hingga distribusi pengabdian dan arah kader HMI telah tersusun secara sistematis dalam satu pola perkaderan untuk mencapai tujuan HMI. Pola perkaderan HMI tersebut telah melahirkan tokoh nasional dan internasional dalam kepemimpinan pelbagai profesi dan bidang. Dari guru ngaji hingga guru besar dan dari usaha kecil hingga konglomerasi. Bahkan, HMI pun memproduksi kader anti-korupsi sekaligus koruptor.

Kongres para “Tukang”

Tanggal 9-13 Februari 2018, akan digelar Kongres XXX HMI di Kota Ambon, Maluku, dengan tema “Meneguhkan Kebangsaan Wujudkan Indonesia Berkeadilan”. Saya belum menemukan apa alas pikir dan analisis genuine para perumus tema kongres kali ini. Biasanya, ada penjelasan yang melatar belakangi sehingga tema tersebut dipilih dan disepakati dilevel Steering Committee (SC).

Belakangan ini, spektrum jelajah berpikir kader HMI, khususnya ditingkat pengurus besar belum mewarnai poros pemikiran dikalangan mahasiswa bahkan kecenderungannya lebih banyak memilih menjadi “kopral” di DPR sebagai tenaga ahli (TA) anggota dibandingkan fokus di kepengurusan dan melanjutkan kuliah. Tak jarang, mereka masuk pengurus besar hanya loncatan untuk menjadi kopral di DPR.

Akibatnya, pelbagai aksi kepentingan elite politik menggunakan TA yang juga pengurus besar atau mantan pengurus memakai atribut HMI untuk memuaskan nafsu tuannya karena bekerja sebagai kopral politik di Senayan seperti dalam kasus aksi kebhinekaan yang dikenal dengan aksi 412. Perilaku pengurus seperti ini bukan tipikal kader HMI yang merawat independensinya tetapi “tukang” di HMI.

Pengurus juga dilanda skandal plagiasi yang telah dilansir pelbagai media dan menjadi kritik keras oleh kader HMI di daerah akibat perbuatan tak terpuji tersebut. Tradisi membaca buku dan kajian intensif telah lama menghilang dikalangan pengurus terutama ditingkat pengurus besar. Sabang hari, tampilannya necis bak pengusaha minyak dari Qatar, tapi pikiran dan perilakunya datar, tidak dinamis bahkan cenderung oportunis.

Perilaku pimpinan PB HMI bukan saja melanggar kaedah akademik tetapi juga menciderai asas dan tujuan HMI sebagai insan akademis dan pola perkaderan yang selama ini menjunjung tinggi semangat keilmuan. Belum lagi soal masih amburadulnya pengelolaan keuangan yang berujung di tangan aparat penegak hukum yang dilaporkan oleh salah seorang pengurus.

Berharap kongres kali ini berkualitas nampaknya akan menjadi bunga-bunga mimpi. Dengan calon yang akan maju di Kongres tak ada bedanya dengan pilkada. Lebih senang adu foto dan gaya daripada adu gagasan. Saya mendapat laporan bahwa rekomendasi HMI Cabang sebagai syarat pencalonan telah diperjual belikan oleh ketua umum Cabang dengan sang calon. Tentu ini memiriskan, tak ubahnya seperti parpol yang sedang memeras calon dengan dalih uang saksi atau survey dan alin-lain.
Cilakanya lagi, orang parpol pun ikut mendaftar sebagai calon ketua umum PB HMI di Ambon nanti. Inilah kongres para “Tukang”, perhelatan kaum tukang olah, olah sana, olah sini dan pada akhirnya seolah-olah. seolah-olah necis, seolah-olah akademis, tak sadar mereka sesungguhnya dalam olahan.

Billahittaufiq Walhidayah
Yakin Usaha Sampai

Jakarta, 5 Februari 2018

HMI & KRISTINISASI PAPUA; Memor 5 Februari Momentum Visi Keadaban Manusia

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Mengawali dengan mengutip pendapat Thomas Charlyle bahwa orang besar itu bukan saja ditulisakan dalam sejarah tetapi juga mampua membuat sejarah. Kira-kira kata ini bukan menjadi doktrin tetapi paling tidak kita maknai bawah sesunggunya perjalanan sejarah itu sendiri bisa ditegasakan dalam metode pengetahuan. Paling tidak penulis sepedapat dengan Murthada Mutharri, sejarah sebagai salah satu landasan epistemic, walau banya menyangga tetapi argumentasi tentang sejarah yang terjadi secara sengja dan sejarah kenabina yang bisa sebagai landasan dan pijakan pengetahuan manusia. atau bisa perjuangan bersandar pada nilai-nilai kenabian bisa menjadi sebuah rujukan dan referensi.

Catatan dan refiu kebangsaan memberikan cukup banya gagasa, pikiran, idea dan perbuatan telah menyelamtkan nusantara dari kolonialisme. Toleransi masyarakan telah melepaskan egosentris kuasa monarki para raja-raja dan menyatakan bersama untuk ke-Indonesiaan. Salah satu gagasan anak keturunan seorang sultan Pangurabaan Pane-tokoh pergerakan nasional tapanuli selatan. Anak yang secara telaan berada pada kosmologi pertarungan dan sangat kritis untuk internalisasi diri/pencarian jati diri.

5 Februari Untuk HMI

Anak yang berusia 25 tahun yang berjuang untuk umat, masi berstatus sebagai mahasiswa sekolah tinggi islam, sekarang Universitas Islam Iindonesia (UII) bercita-cita mendirikan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada rabu, 14 rabiul awal 1366 H atau 5 februari 1947. Kini berusia menuju pada masa lansia jika kita analogi dalam kehidupan manusia. tetapi ini adalah organism yang bersenyawa hidup. Muqadima dasar dengan berbagai argumentasi yang cukup rasional dan tidak memunculkan kelasifikasi dan problem sosial baru. Pertam; alasan keindonesiaan. Kedua; alasan keislaman. Ketigas; alasan perguruan tinggi dan kemahasiswaan.

Kesadaran idiologi dan alasan keislaman menegaskan azas organisasi islam dan berkarakter oraganisasi pengkaderan dan perjuangaan. Hmi lahir untuk kepentingan umat dan membantu mendorong cita-cita kemasan dari kebudayaan itu sendiri yang disebut dengan peradaban. HMI harus berada pada titik kemasaan sekalipun dia berada pada sekala minoritas, jumlah bukan serta merta yang dijadikan landasan ketakutan dan kelemahan dalam ber-HmI. Tetapi kekurangan itu menjadi nilai yang terbalik dari ketakutan yaitu militasnsi yang islami. Jelasa sepeti apa yang dikatakan Ibnu Khaldun serpihan kecil dalam keruntuhan peradaban bukan sesunggunya adalah kehancuran tetapi itu adalah potensi untuk melahirkan peradaban berikutnya.

Negara ini cukup banyak mengisap enegri yang dimiliki kader HMI untuk malakukan perubahan, karena sebuah negara bangsa yang besar adalah negara bangsa yang terus berada pada gradual perubahan itu sendiri dan mampu menjawab kesejatraan. Kita tidak ceroboh menyebutkan tetapi sejarah telah jujur sampaikan, banyak pemimpin bangsa yang dilahirkan dan berproses di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), walau ada yang terlibat masalah hukum tetapi lebih banyak berprestasi. Tafsir para kader dengan berbagai macam corak pemikiran, banyak kadera yang berkaria dan begitupun banyak yang telah berada pada tebing-tebing hukum karena ada secara sengaja bermasalah, ada yang dijelak dan ada yang berada pada nas perjuangan. Semata-mata karena keangkuhan tetapi HMI adalah wadah nazaria almarifah/wadah epistemology.

Mereka menyatu dan berbeda bukan lah identitas, karena identitas bisa berujud dua dan bisa saling membunuh satu sama sama lain. Karena indentitas menegaskan siapa dia dan siapa kamu, bisa bersatu padu atau bisa menjadi musu yang saling membunuh. Tetapi HMI lebih dari itu kader idologis universal dan melampau alam kesadaran sentimentalisem, kesadaran kelas, kesadaran kedaerahan, kesukuan, rasial. Kadera yang menjawab dan berada ditenga-tengah umat. Berjuang dan bertahan adalah nilai dalam mengekohkan eksistensinya, 70 tahun sudah kamu berada dan mengabdi.

5 Februari Papua, Ingatan Kesakralan Orang-Orang Papua

Data sejarah menunjukan bahwa pada tahun 5 Februari 1855 M Otto & Gessller mereka tiba di Papua di waktu subuh(dalam bahasa Tidore sarah kie) di pulau Mansinam (dekat Manokwari). Setahun kemudian C.W. Ottow dan G.J. Gessller berjibaku dengan alam Papua dengan sikap keimanan mereka untuk menyebarkan Agaman Kristin dan sultan Ahmadul Mansyur Surajuddinpun wafat pada tahun 1856 M.

Hari yang penuh duka dan bersejarah bagi orang-orang papua yang menganut kristiani, perjuangan panjang yang dilakukan orang C.W. Ottow dan G.J. Gessller yang mendapat restu dari sultan/Jou Tidore Ahmadul Mansyur Surajuddin, memutusakan sebuah kebijakan dengan sikap kebijaksanaan pada tahun 1852 M (baca: laki-laki dari Tidore). Sikap sultan ini bukan sekedar ijin semata tetapi ini adalah titah yang melibatkan seluruh kekuasaan di kesultan Tidore, kemdudian misonaris ini dikawal dengan kekuataan sangaji gam range dengan persediaan fasilitas kora-kora yang lengkap untuk menganta ke 2 misonaris ke tanah papua.

Ke 2 misonaris dari Jerman C.W. Ottow dan G.J. Gessller untuk menyebarkan agama Kristin di Tanah Papua (atau dalam istilah bahasa Tidore ngili gulu-gulu). Sikapa tolerasi dan semangat pluralism di abat 19 sudah dibangun dan dijunjung tinggi, apala lagi sikap kebijaksanaan oleh seorang sultan (Otoritas kusas tertinggi daerah kesultanakn Tidore), tetapi ijin ini dengan bebarapa catatan tolerasin bahwa, ada bebarapa daerah Papua yang suda Islam pada 1520 M pada masa kejayaan Sultan Mansyur (Fakfak, Raja Amapat, Bintuni, Kaimana Dan Lingkaran Papua Gam Sio) tidak bisa diganggun secara keyakinan. Keputusan SultanAhmadul Mansyur Surajuddin (1821-1856), menyebutkan wilayah Manokwari sebagai tempat meraka menyebarkan ajaran injil adalah sikap yang toleran dalam beragama.

Patut dihormati karena ke-dua misonearis C.W. Ottow dan G.J. Gessller, memahami bahwa sanya daerah Papua merupakan wilayah kesultana Tidore, sehingga direferensi sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1852 M, mereka tiba di Tidore dan melaporkan niat mereka kepada sultan Tidore terkait dengan penyebaran agama. Keputusan sultan terkait dengan wilayah Manokwari sebagai salah satu wilayah yang bisa mereka sebarkan agama, Titaah sultan pun berlanjut untuk memerinthakan orang-orang kelustan mengantara C.W. Ottow dan G.J. Gessller (misonaris) dengan perahu kora-kora yang dimiliki pihak Kesultanan Tidore.

Tidore dan Papua tidak hanya itu, daerah Papua merupakan titik simpul perlawanan terhadapa Belanda yang dilakukan oleh Sultan Nuku. Pergerakan dan simpul solidaritas (ashabiayah) dibangun disana simpul kekuatan Key, Seram, Groom, Aru, Kaimana, Fakfak, Bintuni, Raja Ngairuha (R4), Simpul Papua Gam Sio, Sangaji Gam Range untuk kembali merebut Tidore dari pengaruh Belanda yang dimaknai dan simbol Revolusi Tidore/Nuku.Momentum ini pun diagendakan dalam Hari Jadi Tidore pada Akhir maret sampi dengan 12 April, dalam napak tilas pengambilalihan kekuasaan dan disakralkan dengan penyerahan panji (paji) dan ake dango (air suci).

Papua salah satu daerah kesultanan Tidore dan sampai sekarang ini Belum ada dekonstruksi sejarah mencoban untuk menunjukan sejarah baru dari hasil proses ilmiah, artinya ini belu terbantahkan. Fakta dan ojektifitas sejarah ini lah yang bisa menjadi argumentasi sakti Bung Karno dalam memperjuangkan Irian Jaya Barat di majelis PBB untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) dari tangan Belanda pada 1 Mei 1963. Perjungan Belanda dan sikap ambisius untuk memiliki dan memperoleh pendapatan sebesar-bearnya yaitu kekayaan minya dan gas bumi.

Logika perjuangan untuk merebut Papua dari tangan Belanda, jika kita sebutkan bahwa kalau bukan karena Papau masuk dalam catatan sejarah sebagai daerah kesultanan Tidore, maka Bung Karno akan habis argumerntasi rasionalnya. Diuntungkan karena Papua bagian dari pada daerah Kesultanan Tidore, sehingga argumentasi ini menjadi rasional diterima.Penunjukan langsung Presiden Soekarno kepada salah satu Sultan Tidore Zainail Abdin Syah (1947-1967) sebagai Gubernur pertama Irian Jaya Barat yang ber-Ibu Kota di Soasio Tidore.

Dua moemntuk sejarah bersara ini menjadi bagian dari pada perai sikap untuk mendesai keadaban, ini bukan sekedar perjuangan sahwat nafsu tetapi ini adalah bagian dari pada peluhuran nilai-nilai dan visi pembenaran dimuka bumi. 5 februari menjadi kemerdekaan kamanusiaan yang dimulai dengan rentan usian terpaut jauh tetapi itu semua bagian dari eternal sejraha keadaban manusia dengan momen yang sama. 5 Februari special untuk visi kedaban manusia. (***)

 

Penulis: Bustamin Wahid (Alumni HMI cab. Gorontalo & Warga Sorong Papua Barat)

Terlahir dari Keluarga HMI, Isyana Kurniasari Konoras Layak Pimpin KOHATI

Isyana Kurniasari Konoras, SH, MH (Foto Ist)

Isyana Kurniasari Konoras, SH, MH (Foto Ist)

MANADO – Korps HMI Wati (KOHATI) merupakan laboratorium mini bagi mahasiswi-mahasiswi yang terhimpun dalam Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sebagai badan khusus yang memiliki peran ganda (ex officio) dalam tubuh HMI, KOHATI mengemban tugas yang mulia yakni mencetak perempuan muslimah yang berkualitas insan cita. Sejatinya perempuan memiliki tugas sebagai seorang putri, ibu, istri serta merupakan salah satu elemen yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi Allah SWT, KOHATI menjadi wadah belajar dalam melahirkan muslimah dengan memegang peran ganda tersebut. 49 tahun sudah KOHATI telah menorehkan perjuangannya. Jika dianalogikan manusia, KOHATI telah memasuki usia rentah.

Namun dengan usia ini, apakah kohati telah mampu menjadi jawaban atas persoalan perempuan hari ini?. Apakah cita-cita mulia KOHATI telah menampakkan wajahnya? Suatu bangsa dikatakan sejahtera bisa terlihat dari kesejahteraan perempuan dan peradaban manusia pertama, ada dalam rahim seorang ibu. Semntara hri ini, seberapa banyak perempuan yang sejahtera dan seberapa byk perempuan yang mengerti btpa pentingnya dia dalam peradaban manusia? Oleh karenanya KOHATI perlu merapikan barisan, memformulasikan kembali arah gerak juangnya, untuk melahirkan kader muslimah yg berkualitas, intelek, berkaraker, serta melahirkan ide dan gagasan yang konstruktif.

Isyana Kurniasari Konoras, SH, MH yang biasa disapa Nia merupakan Kader HMI Cabang Manado, yang dikader sejak masih dalam rahim ibunya, karena memiliki seorang ayah dan ibu yang begutu militan terhadap HMI. Ia pun tumbuh dan besar dalam lingkungan ijo itam (HMI), hingga saat menempuh studi S1 jurusan hukum di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Nia pun dilantik menjadi anggota HMI Cabang Manado Komisariat Hukum. Seiring berjalannya waktu ternyata juga mengiringi potensinya, hinggga menjadikannya Bendahara Umum HMI Cabang Manado periode 2010-2011, Ketum KOHATI HMI cabang manado periode 2012-2013. Hingga setelah menyelesaikan studi S2nya di Fakults Hukum Unsrat Manado tahun 2013 Nia pun menapaki kariernya di KOHATI PB HMI hingga saat ini.

Terlahir dalam keluarga yang bisa dibilang cukup berada, tidak membuat Nia sombong dan mampu menyeimbangkn organisasi dengan studinya serta mampu keluar dari budaya Pop manado dan begitu hedon. Dengan jenjang karier yang ditempuh dalam tubuh HMI yang cemerlang, sebagai insan akademis, Nia juga salah satu mahasswa cerdas dgn dbuktikan dgn mmperoleh predikat cum laude saat mnempuh studinya. Dengan paras cantik yang berbanding lurus dengan kecerdasan dan pribadi, dedikasi yang tnggi terhadap HMI khususnya juga KOHATI, serta implementasi insan akademis yang melekat erat dalam pribadinya, serta sbgai perempuan muslimah dengan pribadi yang berkarakter, cerdas, jujur, menjadi alasan keluarga Besar HMI Cabang Manado untuk mendorong Isyana Kurniasari Konoras untuk terus melakukan perubahan dalam mengembalikan identitas KOHATI dan mewujudkan cita-cita dalam mencetak muslimah yang berkualitas insan akademis, pencipta, pengabdi, yang nernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat Adil makmur.

Dengan mengharap Rahmat dan Ridho Allah SWT serta doa dan dukungan Kanda/Yunda semua, semoga ikhtiar ini bisa mendapatkan tempatny. Yakusa… (***)

Catatan: Sitti Hardianti Musa, Ketua Umum HMI Cabang Manado periode 2014-2015.

Terpilih Aklamasi, Masril Karim Nahkodai HMI Cabang Manado

Masril Karim saat terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Manado (Foto Suluttoday.com)

Masril Karim saat terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Manado (Foto Suluttoday.com)

MANADO – Konfrensi Cabang (KONFERCAB) Ke-XXX Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manado dengan tema Redesain Gerakan HMI sebagai upaya untuk mengembalikan semangat berorganisasi dalam mempererat nilai-nilai keHMIan menuju masyarakat madani, melahirkan sejarah baru dalam pemilihan Ketua Umum.

Aklamasi menjadi hal baru dalam konfercab HMI Cabang Manado. Bertempat di DPD RI Sulawesi Utara dengan kebijaksanaan, keiklasan M. AFANDI ESA membuat, Masril Karim disahkan sebagai Ketua Umum terpilih (formatur), HMI Cabang Manado. Kamis (26/3/2015) Siti Hardianti Musa, SE selaku Ketua Umum HMI Cabang Manado Demisioner menyampaikan bahwa kiranya Ketua Umum terpilih dan kepengurusan berikut dapan menjaga independensi organisatoris dan independensi etis yang tercantum dalam konstitusi.

”Selamat buat Adinda Masril Karim yang terpilih sebagai Ketua Umum HMI Cabang Manado. Teruslah berkomitmen pada proses pengkaderan sebab disitulah jantung organisasi HMI,” ucap Siti Musa.

Disisi lain M. Afandi Esa menuturkan bahwa Ketua Umum terpilih harus mampu menjaga independensi organisasi HMI dalam pencaturan Politik baik pemilihan Wali Kota Manado maupun pemilihan Gubernur Sulawesi Utara sebab dikepengurusan baru ini diperhadapkan dengan kedua momentum demokrasi. Hal senada juga disampaikan Muhajir A Samad kader HMI Cabang Manado.

Kader HMI dan undangan ketika mendengarkan sambutan Wali Kota Manado (Foto Suluttoday.com)

Kader HMI dan undangan ketika mendengarkan sambutan Wali Kota Manado (Foto Suluttoday.com)

”Iya, saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Masril Karim sebagai Ketua Umum HMI Cabang Manado Periode 2015-2016. Kemenangan ini bukanlah kepenangan sepihak namun sebuah kemenangan kita semua sekaligus keberhasilan seluruh komisariat se-HMI Cabang Manado, Yakin Usaha Sampai (YAKUSA),” ujar Muhajir A. Samad, Ketua Komisariat FISIP Unsrat Manado. (Faruk Umasangaji)

iklan1