Tag: hmi cabang tondano

Transformasi HMI untuk Perubahan Indonesia

Untuk Perubahan Indonesia Berkemajuan dan Berdaulat

Rusmin Hasan (Foto Istimewa)

Oleh : Rusmin Hasan, Aktivis HMI Cabang Tondano

Ketika kita melihat secara objektif kesadaran paradigma kritis perjalanan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) yang memasuki usianya ke74 Tahun dekade ini, mengalami kemunduran yang sangat signifikan, ditandai dengan menurunnya semangat menjalankan Khittah Perjuangan HMI, termasuk dalam mengamalkan lima kualitas insan cita yang menjadi landasar perjuangan HMI.

Orientasi dan eksistensi organisasi terbesar ini,kian hari mengalami kerapuhan nila, Seperti marwah keumatan dan kebangsaan seakan hanya narasi jargon semata, yang perluh menjadi pertanyaan kritis bagi seluruh kader HMI Se-nusantara sebagai bentuk kritik otokritik secara internal untuk memproyeksi tranformasi HMI secara radikal.

Mengutik bahasanya Kakanda Almaharhum Guru bangsa Nurcholish Madjid diforum seminar kepemimpian moralitas bangsa Ia mengatakan bahwa, ternyata pengkaderan HMI tidak semuanya membuahkan hasil yang baik, menurutnya bahwa memang banyak kader HMI yang bersih (Mister Clean) akan tetapi koruptor juga banyak dari HMI. Pernyataan Cak Nur tersebut, direspon serius juga oleh almarhum Agus Salim Situmpol dalam bukunya; ”44 Indikator Kemunduran HMI”.

Menurut beliau pada pola pengkaderan dan manajemen organisasi yang ketinggalan zaman, kurang visioner, memudarnya tradisi intelektual, kader HMI tidak memiliki gagasan atau karya untuk masyarakat, kehilangan strategi perjuangan, daya kritis kader menurun serta kehilangan kekuatan batin.

Dan yang sangat disesalkan juga adalah Pengurus Besar HMI, saat ini hanya terputar pada atmosfer konflik internal, dualisme kepemimpinan PB HMI serta terdapat gerbong dinternal kubu kepengurusan yang berplikasi keakraban sosial atau slogan kita berteman lebih dari saudara seakan tak diinternalisasi secara mendalam oleh anggota PB HMI sehingga HMI acapkali mengalami marwahnya, seakan tak memiliki daya produksi kualitas kader dalam mengkorfirmasikan gagasan besarnya untuk terlibat pada problem kebangsaan dan keumatan saat ini.

Potret PB HMI hanya dihiasi dengan amatiran serta apoloji mempraktekkan tipelogis watak politikus oligarki, pragmatis sehingga agenda besar seakan dilupakan oleh seluruh pengurus PB HMI. Ruang tradisi intelektual PB HMI saat ini tak lagi disi dengan dialektika intelektual tranformatif sehingga narasi kongres PB HMI dari periodesasi hanya sebagai narasi kering yang tersimpan dalam sekretariat PB HMI dan tak berdampak positif buat umat dan bangsa.

Oleh kerangka problem internal HMI diatas, Penulis ingin menghadirkan kembali sekaligus mengajak seluru aktivis HMI Se-Nusanatara untuk memenangkan Tranformasi HMI untuk Indonesia berkemajuan (Kepemimpinan Profetik Anatara Konsep dan Realitas Sebagai solusi perdamiaan) di dalam konteks era disrupsi 4.0 saat ini, HMI harus banyak berbenah dalam segala aspek serta terus berpacu pada lembaran historis sejarah perjuangan HMI dan berguru pada pengalaman napak tilas perjaungan HMI, sehingga HMI bisa menjadi rol model rakyat Indonesia. Sebagaimana, ulasan Jendral Sudirman bahwa HMI bukan hanya sekedar organisasi Himpunan Mahasiswa Islam.

Namun, HMI adalah harapan masyarakat indonesia. Tentu, itu harapan kita bersama untuk ikhtiar mewujudkannya. Maka melihat problem diatas, penulis berikhtiar untuk mengajak kader HMI Se-Nusantara membumikan dan memenangkan kembali gagasan tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Kepemimpinan Profetik antara konsep dan realitas ).

Ketika kita ingin menjalankan misi tranformasi HMI untuk indonesia berkemajuan, diperlukan sebuah paradigma teoritis dan praktis sebagai pedoman bersikap untuk menghadapi fenomena dan realitas yang muncul diera revolusi indutri 4.0 sebagai landasar epistemik berfikir dan berjuang menghadapi arus percereteruan global ditengah krisis kondisi umat dan bangsa.

HMI sebagai anak kandung revolusi sekaligus organisasi terbesar yang ada diIndonesia dan juga organisasi mahasiswa tertua sejak berdirinya 05 februari 1947 yang masih bertahan sampai dengan hari ini seharusnya mengarahkan pada proses tranformasi paradigma yang ideal, yang mana HMI harus senantiasa bergerak maju dengan gagasan-gagasan pembaharu yang bermuara pada sikap dan tindakan kader ketika menghadapi problem keumatan dan kebangsaan sesuai dengan misi HMI itu sendiri.

HMI sebagai organisasi perjuangan sebaiknya peka dan produktif merespon segala hal, keberpihakan itu kecenderungan kepada hanif (kebenaran) yang diwujudkan pada konsep tranformasi perubahan sosial kepemimpinan HMI secara simultan dan konsistensi untuk di wujud nyatakan dalam sebuah karya HMI untuk Rakyat Indonesia, Maka Solusi Kepimpinan Profetik adalah ijtihat sekaligus Ikhtiar untuk mengembalikan kembali esensi dan orientasi perjangan HMI diera Disrupsi 4.0 saat ini sehingga HMI tak digilas Zaman.

HMI sebagai organisasi yang beridentitas Islam maka sudah segogyinya menjadikan Islam sebagai nafas perjuangannya. Islam sebagai agama Rahmatan Lil;Alamin yang dibawakan oleh sang revolusioner sejati baginda Rasulullah SAW, untuk mengubah moralitas umat manusia dari ekspolitasi yang sangat jahiliyah. Tradisi Islam dibangun secara damai bersama para sahabat-sabahatnya dengan meletakkan prinsip dasar sebagai manusia.

Bahkan aspek trandental serta sosial budaya,ekonomi politik bahkan lain sebagainya. Kepemimpinan Profetik adalah repsentasi kepemimpinan ideal. Karena kata profetik berasal dari bahasa ingris (prophet) atau dalam istilah lain kata sifat yang berarti kenabian. Secara universalitas kepemimpinan profetik adalah sala satu ciri kepempinan manusia ideal secara spiritual, humanisme serta liberasi atau pembebasan yang menjadi pelopor perubahan.

Membimbing masyarakat kearah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan kezholiman dan ekspolitasi terhadap rakyat kecil. Ispirasi dari teologis kepemimpinan profetik, menurut Kontowijoyo (2006:87) adalah dari misi historis Islam yang termaktub dalam Firman Allah SWT berikut: Artinya : ”Engkau adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeruh kepada makruf dan mencegah dari munkar dan beriman kepada Allah SWT (Q.S Ali Imran (03): 110 ).

Arti tersebut diatas, menurut kontowijoyo memuat tiga nilai penting yakni; Nilai Humanisme, Liberasi dan transendensi. Humanisme sebagai padanan Tu’muruna Bil Ma’aruf. Liberasi padanan Tanhana’an Al-Munkar. Dan Transedensi padanan Tu’minuuna Billah. Tujuan dari humanisme adalah ranformasi proses memanusiakan manusia.

Keadaan masyarakat yang telah bergeser dari pola hidup petani menjadi masyarakat industri. Tujuan dari liberasi adalah pembebasan manusia dari jeretan-jeretan sosial, pembebasan dari kesamnya kemiskinan struktural, keangkuhan teknologi dan pemerasan kaum pemodal. Dan kepemimpinan profetik sebagai semangat ingin membebaskan diri dari belenggu yang dibangun sendiri tanpa sadar.

Maka HMI sebagai sala satu Organisasi yang strategis dibangsa ini harus menginternalisikan spirit kepemimpinan kenabian atau profetik sebagai jalan kearifan serta poros tranformatif HMI untuk merovolusi paradigma kader secara komprehensif dalam proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Isalam. Dari sini HMI akan mampu mewujudkan Misi Lima Kaulitas Insan Cita.

Ada beberapa kerangka konseptual yang harus diwujudkan didalam tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Solusi Kepemimpinan Profetik antara konsep dan realitas ). diera Revolusi Industri 4.0 dengan Manivesto Gerakan planfrom Tujuh Tranformatif HMI Yakni Faktor Internal: 1. Manivesto Gerakan Tranformatif Intelektual berbasis data melalui riset.

Membuat data keanggotaan Kader HMI Se-nusantara,Inovasi kaderisasi berbasis IPTEK, Kepemimpinan Profetik sebagai Tranformatif HMI dan Sekolah kepemimpinan, lokakarya konstitusi HMI Sekaligus menjadikan Sekret PB HMI sebagai wadah poros gerakan Nasional. Faktor Eksternal: 2. Membangun rekonsulasi Cipayung Plus secara simultan, membuat lembaga advokasi dibagian pertanian, kelautan, agraria, parawisata dan kebudayaan.

Membangun sekolah pelatikan pancasila, Membangun dialog antar umat beragama untuk menjaga persatuan antar agama-agama diindonesia, Membangun gerakan diplomasi Mesjid sebagai pusat peradaban Umat Islam diindonesia serta pusat gerakan ekonomi kerakyatan dan menkonsolidasikan gerakan Islam Internasional sebagai ajang silaturahim sekaligus menjaga Nafas Islam, keindonesiaan kita.

Penulis beroptimisme apabila kerangka konseptual diatas apabila diwujudkan didalam tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Solusi Kepemimpinan Profetik antara konsep dan realitas), di era Revolusi Industri 4.0 dengan Manivesto Gerakan planfrom Tujuh Tranformatif HMI dengan modalitas 4 sifat kepempinan yakni, pertama; pemimpin yang lahir dari cultur budaya yang tidak homogen tapi harus majemuk sehingga corak pemikirannya tidak terputar pada konsepsi belaka namun harus diamalkan secara riil, kedua; kepemimpinan yang humanistik.

Pola kepemimpinan seperti ini, penting untuk ia mampu mengkomunikasi kepentingan HMI bahkan rakyat indonesia baik pada aspek politik kenegaraan maupun aspek gerakan ekonomi kerakyatan dan ketiga; Seorang pemimpin diHMI harus memiliki beyond State (Dia harus di atas negara) dalam arti sosoknya harus mendunia baik wawasannya maupun terkoteksi jejaringan pada level internasional baik pada aspek kepentingan umat maupun kondisi kebangsaan.

Hal ini, penting harus dimiliki oleh seorang sosok pemimpin HMI dimasa akan depan untuk mampu hadir sebagai Jol Lokus peradaban Umat dan bangsa serta mewujudkan Masyarakat Adil Makmur yang diridhoi Allah SWT. Semoga narasi sederhana ini, bentuk refleksi dimomentum Milad HMI KE-47 Tahun 2021 ini, sekaligus kroyeksi dan proses mentranformasikan nilai Kepemimpinan Profetik dimasa depan untuk HMI yang lebih. Semoga bermanfaat. Wallahu A’alam Bssawab.

Tulisan ini dimuat sebagai solusi Kepemimpinan Profetik antara konsep dan Realitas, Refleksi Kritis Milad HMI ke-74 Tahun.

Ciptakan Perdamaiaan Umat, Junjung Tinggi Nilai Kemanusiaan Usai Pilkada 2020

Rusmin Hasan Aktivis HMI (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Rusmin Hasan Aktivis, HMI Cabang Tondano

Kepada para pemenang Pilkada 2020 untuk tidak terlalu euforia merayakan kemenangan berlebihan, rayakan kemenangan secara etis dan sewajarnya saja. Kemenangan dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) sesungguhnya merupakan wujud kemenangan seluruh rakyat. Karena itu, siapa pun yang menang dalam Pilkada serentak yang dilakukan pada hari ini. Rabu, 9 Desember 2020 harus memberikan penghormatan kepada rakyat sebagai pemegang kedaulan tertinggi.

Dan ciptakan iklim politik yang berlandas pada nilai kemanusiaan, perdamaian merupakan cita-cita dan salah satu nilai kemartabatan yang ada dalam semua masyarakat beradab. Keadaan nan damai merupakan salah satu syarat untuk menjalin kerja sama strategis. Kemenangan itu, sudah menjadi keniscayaan Ilahi yang tak bisa dinaifkan. Ajaklah semua elemen untuk saling kerja sama untuk mewujudkan perdamaiaan antar sesama. Dan kepada tim sukses dan para simpasitas untuk saling memaafkan dan mengikhlaskan secara lapangan dadah.

Saling merangkul dan menjaga kekeluargaan antar sesama serta merawar silaturahim yang sebelum pilkada mungkin ada yang sedikit renggang silaturahim untuk menjunjungi tinggi nilai perdamaiaan sebagai perekat identitas sosial budaya sebagai masyarakat yang beradap. Siapa saja yang akan menjadi pemenangan atau pemimpin kepala daerah bupati & wakil bupati atau walikota serta wakil walikota dihasil pengumuman KPUD setiap daerah masing” dialah pemimpin kita bersama. Bagi yang menang pilkada, saya perlu ingatkan bahwa menjadi kepala daerah adalah alat bukan tujuan.

Bila menjadi kepala daerah adalah tujuan, maka Anda telah mencapai garis finish. Namun, sebaliknya menjadi kepala daerah merupakan start awal dari kiprah Anda lima tahun ke depan untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan seluruh warga masyarakat di daerah Anda. Satu detik setelah Anda dilantik menjadi kepala daerah roda pemerintahan berada di pundak Anda, Anda harus berhenti berbicara (kampanye/pencitraan) jalankan tugas dan tanggun jawab sebaik-baiknya, sekuat tenaga, jangan mengeluh apalagi ada kata tidak siap.

Rakyat cukup cerdas dan akan mengawasi serta menagih janji-jani politik Anda baik pada saat berkampanye turun ke daerah maupun pada saat debat publik. Pilkada sudah selesai, andalah pemenangnya. Anda akan memasuki kehidupan baru dengan tanggung jawab baru. Ini adalah awal dari perjalanan panjang Anda selama lima tahun ke depan, kuatkan hati Anda karena langit tidak selalu cerah dan ombak tidak selalu tenang. Sambil menunggu dilantik segera konsolidasikan tim Anda rumuskan program kerja 100 hari pertama, setahun pertama sampai tahun kelima.

Diawal awal masa kepemimpinan jangan pernah sedikitpun berfikir untuk kelanjutan kekuasaan atau pilkada berikutnya. Ciptakan keadilan hukum bagi seluruh Rakyat untuk merealiasiakan amanat UU 1945. Semoga narasi sederhana ini, bisa menjadi edukasi politik kepada rakyat serta para kompetitor pilkada 2020 untuk menjaga nilai etis, kemanusiaan serta menjunjung tinggi nilai perdamaain antar sesama usai pilkada 2020 kali ini. Aamin

RUSMIN: Membumikan Pancasila sebagai Platform Gerakan

Rusmin Hasan (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Merefleksikan Hari Pancasila 1 Juni 2020, Rusmin Hasan, aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cababang Tondano mengatakan bahwa kaum muda punya ambisi besar mengembalikan kampus sebagai panggung pergerakan. Seperti dulu, kampus penuh riuh rendah diskusi, pentas budaya, mimbar bebas, nonton film, hingga beradu ketajaman buah pikiran di majalah kampus memang.

Sejak neoliberalisme merambah kampus, panggung gerakan pelan-pelan meredup. Selain karena faktor internal gerakan mahasiswa yang gagal mengantisipasi perkembangan baru, khususnya neoliberalisme, dengan metode dan teknik-teknik pengorganisiran yang baru. Juga karena dampak langsung dari neoliberalisme itu sendiri, dengan disiplin ala pasarnya, yang membersihkan kampus dari aktivisme politik dan pikiran-pikiran radikal-progressif. Menghadapi situasi itu, saya secara pribadi berharap gerakan ”Menangkan Pancasila” ini bisa memberi semangat baru bagi pergerakan mahasiswa.

”Setidaknya ini bisa menjadi platform bersama gerakan Mahasiswa, dan pemuda,” ujar aktivis HMI Cabang Tondano, Rusmin Hasan.

Menurut Rusmin yang juga selaku mahasiswa Universitas Negeri Manado ini, salah satu persoalan yang semakin mendisorientasi gerakan mahasiswa yang sekarang ini adalah ketiadaan platform bersama. Dirinya berharap, isu menangkan Pancasila bisa diterima sebagai platform bersama. Apalagi, seiring dengan menguatnya politik sektarian, kampus dan banyak organisasi Mahasiswa yang menggaungkan Pancasila.

”Hanya saja, mereka bicara Pancasila untuk merawat keragaman, tetapi abai terhadap persoalan kemiskinan dan ketimpangan yang menjadi lahan subur bangkitnya politik sektarian itu,” kata Rusmin menutup.

(*/Rahmat)

Warkop dan Kemerdekaan Ruang Intelektual

Rusmin Hasan (Foto Ist)

Oleh : Rusmin Hasan, Aktif HMI Cabang Tondano

(Solusi Alternatif Pendididikan Merdeka dan Progresif Diabad 21)

Melihat potret dinamika sosial dekade ini, dunia tengah dihadapi oleh siklus tantangan perkembangan revolusi indutri atau deskruktif digitalisasi abad 21 yang kian marak diperbincangan oleh khalayak publik dalam ruang publik. Misalnya seperti wadah warkop mulai dari jarkot sampai ketempat-tempat umum alternatif habitatnya kaum intelektual. Intelektual adalah sebuah penamaan yang horeik ditengah-tengah kelompok aktivis melenial.

Baik itu akademisi, politisi, pemerhati sosial sampai kekalangan generasi muda pada umunya. Mendengar istilah intelektual, kita kagum dan terkesima. Karena sosok intelektual memiliki kebesaran, ketinggian dan kedalaman ilmu pengetahuan. Karenanya seorang intelektual adalah pribadi yang dihargai dan ditempatkan pada posisi tertinggi dalam relasi dan stratifikasi sosial. Kaum intelektual umumnya hidup dan berhabitat dikampus.

Akan tetapi kian hari ruang belajar kampus tak lagi menjadi tempat ideal baginya, dikarena kekebebasan berekspresi semakin sempit dalam prespektif kajian demokrasi kampus. Kampus sebagai laboratorium kaum Intelektual sudah berali fungsi menjadi penjara baginya sehingga wadah warkop menjadi alternatif belajar yang ideal dan memerdekaan nalar dalam prespektif kaum intelektual atau mahasiswa pada umunya.

Dari dasar berpikir tersebut maka dalam narasi sederhana ini, penulis ingin mengajak kepada kawan-kawan intelektual secara keseleruhan untuk menggunakan wadah warkop sebagai alternatif pendidikan merdeka dan progresif revolusioner untuk mendiskusikan persoalan umat dan bangsa yang kian hari marak dibangsa ini. Salah satu indikasi menurunnya budaya intelektual serta kampus tak jadi habitat ideal dikarenakan perkembangan revolusi industri.

Serta perkambangan zaman seakan merekonstruksi paradigma kaum intelektual untuk mencari alternatif gerakan yang kontekstual dengan realitas zaman maka solusi adalah wadah warkop sebagai tempat memerdekaan akal sejak dalam fikiran dan tindakan serta warkop juga sebagai tempat penguatan solidaritas persahabatan dalam medan perjuangan.

Wadah warkop adalah tempat yang mengajarkan kita banyak hal, baik dari penguatan solidaritas sampai sebagai tempat diskusi bagi kaum intelektual serta khasanah kemajemukaan gagasan tercerahkan kita dapatkan dalam warkop. Dikarenakan diwarkop pula, kita diajarkan untuk tidak ada guru dan pelajar diantara kita. Semua bertindak sebagai objek untuk belajar bersama tanpa ada pembedaan stratifikasi sosial diantara kita. Maka sudah segoyginya kita satukan gagasan besar dalam ruang-ruang publik sehingga ide tak mereduksi kegagalan intelektual.

Narasi besar apabila tidak memiliki dampak terhadap umat dan bangsa, akan hanya orogansi induvidu yang akan memenjarakan dirinya tanpa didasari sehingga dalam narasi sederhana ini, saya ingin sampaikan kepada kawan-kawan pecinta kopi dan buku untuk menjadikan wadah warkop sebagai titik balik generasi era digitalisasi untuk menciptakan sejarahnya serta pengautan demokrasi kita secara ilmiah dan objektif.

Membumikan Budaya Menulis di Kalangan Mahasiswa

Rusmin Hasan (Foto Suluttoday.com)

 Oleh : Rusmin Hasan, Aktivis HMI Cabang Tondano 

Dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa tak dapat dilepaskan dari aktivitas membaca dan menulis. Kedua aktivitas tersebut dimaksudkan untuk memperkaya khazanah pengetahuan sekaligus mengembangkan spesialisasi keilmuan mahasiswa. Dengan melakukan aktivitas membaca dan menulis, mahasiswa diharapkan akan memiliki kemampuan memahami dan mengaplikasikan bidang keilmuan yang tentu saja sangat menunjang proses akademiknya. Aktivitas membaca dan menulis pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Untuk dapat melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membudayakan aktivitas membaca. Dengan kata lain, aktivitas menulis mahasiswa berkaitan erat dengan aktivitas membacanya. Namun demikian, aktivitas membaca yang menjadi landasan menulis ini ternyata belum begitu maksimal. Masih dijumpai mahasiswa yang kurang antusias membaca literatur-literatur terkait mata kuliahnya. Tidak jauh berbeda dengan tingkat membaca masyarakat Indonesia umumnya, rendahnya minat membaca juga terjadi di kalangan mahasiswa. Adanya kenyataan rendahnya budaya membaca di kalangan mahasiswa ini tentu berpengaruh terhadap aktivitas menulisnya.

Dalam melakukan aktivitas menulis, mahasiswa dituntut membuka berbagai literatur. Kesulitan dalam melakukan aktivitas menulis dimungkinkan terjadi jika mahasiswa tidak memiliki motivasi dan ketekunan membaca. Memang dapat dikatakan mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi tidak bisa menghindar dari aktivitas menulis. Di perguruan tinggi, khususnya S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya tulis, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir).

Mahasiswa dituntut memiliki kemampuan menulis dalam menunjang keberhasilan studinya. Sebut saja misalnya dosen yang mengampu mata kuliah X menganjurkan mahasiswa menyusun makalah sebagai bagian dari penilaian akhir. Mahasiswa yang mendapatkan tugas menyusun makalah tentu saja harus menuliskannya secara baik, sistematis, dan mudah dipahami. Dengan penyusunan makalah yang baik dipastikan memudahkan dosen memahami kerangka berpikir mahasiswa dalam penyajian makalahnya.

Penyusunan makalah secara baik, sistematis, dan mudah dipahami jelas akan memberikan nilai positif. Tugas penyusunan makalah ini tidak saja diberikan oleh dosen yang megampu mata kuliah X, tetapi juga dosen-dosen mata kuliah lainnya. Banyaknya tugas makalah yang diberikan dosen berarti menuntut mahasiswa selalu membuka literatur dan menulis. Kebiasaan membaca dan kemampuan menuangkan pemikiran dalam tulisan yang dimiliki mahasiswa dipastikan akan berbanding lurus dengan peningkatan prestasi akademiknya. Ditinjau lebih jauh, aktivitas membaca dan menulis sebenarnya telah ditumbuhkan dosen di perguruan tinggi.

Tugas penyusunan makalah, misalnya, mengajak mahasiswa tekun membaca dan meningkatkan kualitas tulisan. Lomba kepenulisan karya ilmiah pun sering kali diselenggarakan di perguruan tinggi, seperti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) dan Program Penulisan Kritis Mahasiswa (PPKM). Dari pemberian tugas makalah dan lomba kepenulisan tersebut mahasiswa diarahkan untuk membiasakan membaca dan menulis sebagai tradisi intelektual di perguruan tinggi. Pertanyaannya, apakah mahasiswa memberikan respons positif terhadap stimulus menulis tersebut? Aktivitas menulis di kalangan mahasiswa bisa dikatakan belum berjalan baik.

Rangsangan menulis yang dilakukan dosen atau pun melalui lomba penulisan menunjukkan beragam perilaku di kalangan mahasiswa. Diakui atau tidak, mahasiswa sering kali merasa terbebani dengan tugas-tugas penyusunan makalah. Setiap dosen memberi tugas menyusun makalah selalu ditanggapi negatif oleh sebagian mahasiswa. Bahkan, mahasiswa tidak jarang memberikan stigma buruk terhadap dosen yang memberi tugas menyusun makalah karena dianggap memberatkan.

Berbagai lomba kepenulisan pun hanya diikuti oleh segelintir mahasiswa. Adanya respons kurang baik dari mahasiswa ini tentu disebabkan berbagai faktor yang tidaklah sederhana. Harus diakui jika karakter sebagian mahasiswa saat ini lebih menyukai pekerjaan yang tidak terlalu berat. Setiap tugas kuliah—tidak hanya penyusunan karya tulis—selalu dianggap membebani mahasiswa. Budaya instan memang disadari telah menjangkiti kepribadian sebagian mahasiswa di perguruan tinggi.

Perilaku menyontek saat ujian pertengahan semester dan ujian akhir semester tidak dimungkiri merupakan penyakit akut yang menunjukkan budaya instan tersebut. Mahasiswa dengan karakter seperti ini (baca : mahasiswa Z) dalam mengerjakan tugas kuliah termasuk menyusun makalah sering kali asal cepat jadi. Dalam penyusunan makalah atau karya tulis lainnya, mahasiswa Z ini sering kali hanya memindahkan tulisan orang lain atau mencomot berbagai referensi tanpa memerhatikan kaidah penulisan yang baik dan benar. Misal, mahasiswa Z dalam menyusun tugas makalah memiliki tema ”Keluarga dan Penanaman Moral”.

Melihat potret demokrasi kita dekade ini, yang masih mencari jati diri demokrasi sejati, kian hari makin menurun dengan tindakan orogansi pemimpin serta tindakan represif militerisme sehingga narasi sederhana ini, penulis persembahkan sebagai alternatif gerakan progresif untuk kawan-kawan mahasiswa, aktivis serta semua elemen untuk kembali membumikan tradisi menulis sebagai wahana menghidupkan diskursus dalam ruang publik untuk penguatan demokrasi kita.

Kegiatan menulis adalah hal yang sangat unik dan menarik, dikarenakan kita menghidupkan paradigma imajinasi nalar kritis serta sebagai titik balik menghiasi sejarah diri kita serta kita persembahkan buat generasi. Meminjam istilah Prof. Dr. T. Jacob dalam Kata Pengantar buku Menulis Karya Ilmiah karangan Etty Indriati, Ph.D (2003), mahasiswa yang menulis karya-karya ilmiah disebut sebagai karyawan ilmiah. Bagi karyawan ilmiah, menulis seharusnya telah menjadi budaya dan panggilan hidup untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan kepada masyarakat luas.

Dengan menulis, mahasiswa tentu akan dapat mentransformasikan pengetahuan dan wawasannya. Di pihak mahasiswa, motivasi internal dalam diri mahasiswa sendiri untuk giat menulis tentu saja sangat diharapkan. Diakhir tulisan sederhana ini, saya meminjam bahasanya sang sastrawan indonesia terkenal yakni Pramoedya Ananta Toer, Beliau mengatakan bahwa “ Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan sejarah”.

iklan1