Tag: HMI

HMI di Tengah Konflik dan Kemunduran Budaya Intelektual

Rusmin Hasan (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Rusmin Hasan, Aktivis HmI Cabang Tondano

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) disebut sebagai anak kandung Negara Republik Indonesia, pasalnya HMI lahir tepat dua tahun menyelang kemerdekaan indonesia. Tentu HMI banyak mewarisi persoalan berkaitan dengan kondisi objektif umat dan bangsa. HMI diusia 72 tahun sudah melewati berbagai macam hal dan kondisi, sehingga tidak sedikit HMI turut mewarnai sejarah pembangunan ini. Dinamika kebangsaan serta keumatan menjadi komitmen ideologis kader Himpunan Mahasiswa Islam dalam perpektif ideologi HMI pada fase awal dirikan sampai menyelma dalam geneologi intelektual serta komitmennya.

Sehingga HMI sebagai organisasi yang demokratis telah tuntas dalam diskursus kebangsaan dalam episode dinamika kebangsaan serta keumatan. Fase usai perpolitikan internal HMI pada momentum demokrasi kongres ambon pekan kemarin,menuai suhu konstalasi yang memanas dalam dinamika politik kala itu untuk perebuatan kursi kepemimpinan PB HMI.

Hal ini, menarik dalam proses kepengurusan kita dapatkan secara realitas terdapat peta konflik sehingga berplikasi dua ketua dalam proses berjalan waktu, potret dinamika tersebut ironisnya kedua kubu antara Kakanda Respiratori Saddam Al-Jihad dan Kakanda Arya Kharisma selaku PJ.Ketua Umum PB HMI Saling mengklaim kelempoknya yang paling benar, paling konstitusional sehingga berujung pada adu kekuatan antara gerbonya masing-masing.

Menurut hemat saya, sala satu indikator kemunduran budaya intelektual HMI terdapat pada konflik internal hal ini, disebabkan semua cabang seindonesia merasakan implikasi negatifnya, sampai ditubuh internal cabang seindonesia mengalami kubu serta gerbong kelompoknya masing-masing. Dari konflik tersebut, menjadi problem besar ditengah-tengah kemajemukaan narasi intelektual HMI yang konon katanya kritis, matang diskursus NDP, ideologi serta gerakan.

Melainkan menurut hemat saya dari hasil kontemplasi atau perenungan yang panjang bahwa dalil-dalil tersebut hanya sebagai apologi dan klaim watak politikus amatiran serta pembenaran yang absurditas semata. Seola organisasi Besar Islam hanyalah menjadi arena pertarungan kelompok yang tidak lagi mementing esensi dan subtansi organisasi himpunan.

Seolah-olah kita dijauhhkan dari aktivitas sosial bermasyarakat serta kita dihantarkan pada aktivitas yang kontra produktif, tak rasional dan kecenderungan doktriner semata sebagaimana telah disampaikan oleh Kakanda Agussalim sitompul dalam bukunya; (44 indikator kemunduran HMI) serta Tesis Julian benda ditahun 1960-an yang masih relevan diera digitaisasi dekade ini, ia katakan bahwa penghiatan kaum intelektual serta kemunduran identitas intelektual.

Melihat secara objek kondisi kader HMI dekakade ini, meengalami kemunduran internalisasi nilai cultural himpunan dalam optimalisasi pengembangan budaya intelektual HMI. Kurang lebih ada tiga nilai yang melatarbelakangi diantaranya; menurunya reproduksi intelektual kader secara intensif, menipisnya budaya kritis serta munculnya krisis kader dalam nilai (Islam) dinamika empirio spirit berorganisasi.

Meminjan perkataan Kakanda Anas Urbaningrum (Ketum PB HMI Periode 1997-1999) maka seyogyanya kader HMI harus kembali menginternalisasi nilai ke-HMIan dalam praha tantangan Revolusi indutri 4.0 digitalisasi dekade ini, sehingga menuurut hemat saya kembali merekonstruksi paradigma kader dalam menyembut peluang bonus demografi indonesia emas tahun 2030-2045 kedepan.

Dalam narasi sederhana ini, saya ingin katakan dan berpesan keseluruh kader HMI se-nusantara bahwa apabila HMI terkoptasi dalam arus politik internal terus menerus seperti ini, maka saya takutkan HMI akan mati ditelan waktu serta tak lagi dibutuhkan oleh khayalak masyarakat indonesia, bahkan kalau saja, Kakanda Lafran Pane masih hidup beliau akan menangis melihat kondisi objektif HMI sekarang ini, karena kita kehilangan subtansi serta orientasi khittah Perjuanganya dalam mendirikan Organisasi ini.

Narasi ini, saya persembahkan sebagai bentuk kritis otokritik kontruktif potret HMI untuk kembali berbenah dan intropeksi diri untuk merekonstruksi sera reskonsuliasi gagasan untuk pembaharuan pola politik yang demokratis sera menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme serta ideologi himpunan menyelang kongres HmI Dijakarta pekan depan nanti. Sehingga kader-kader Himpunan kembali kehitah perjuangan umat dan bangsa serta kembali kecultur intelektual HMI untuk meneropong misi HMI. Dikarenakan tantangan kita kedepan sangat besar.

Olehnya itu, kita tak harus selalu berpacu dalam skenario konflik internal serta saling mengklaim kelompoknya masing-masing. Harapan saya juga dalam narasi ini, sebagai koreksi, evaluasi PB HMI untuk kembali kekhittah perjuangan HMI untuk menciptakan Masyarakat Adil dan Makmur yang diridhoi Allah SWT. Amin…

Gelar Dialog Awal Tahun, Ini Hasil Rekomendasi Aliansi Masyarakat Ratatotok

Foto bersama usai dialog (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Selasa (14/1/2020), Aliansi masyarakat Ratatotok sukses melaksanakan Dialog Refleksi awal tahun. Kegiatan yang dilaksanakan di D’Loronk kafe Ratatotok ini mengusung Tema: Hibah PT. Newmont Minahasa Raya Kemanakah?. Kegiatan ini mendapat apresiasi dan dukungan dari para tokoh masyarakat yang hadir, bersama juga kalangan pers.

Menurut Ketua Umum Aliansi masyarakat Ratatotok Donal Pakuku, agenda utamanya adalah masyarakat meminta untuk mengusut dugaan penggelapan hibah PT Newmont Minahasa Raya. Ditambahkannya lagi, demi terwujudnya keterbukaan dan pertanggung jawaban publik tentang anggaran, maka pihaknya merumuskan beberapa langkah strategis. Bagaimana pun akibat dari indikasi penyimpangan tersebut mengakibatkan terjadinya kerugian, juga termasuk berdampak kepada warga lingkar tambang.

“Kami warga Ratatotok dan masyarakat lingkar tambang umumnya mendorong proses hukum ke pihak berwajib. Jangan main-main dengan penggelapan dana hibah PT Newmont. Kami meminta transparansi dan akuntabilitas publik ditegakkan pihak pengurus ketiga Yayasan yaitu Yayasan pembangunan berkelanjutan Sulawesi Utara (YPBSU), Yayasan Minahasa Raya, dan Yayasan Ratatotok Buyat serta pihak PT Newmont selaku sumber anggaran Yayasan,” ujar Donal yang juga jebolan aktivis HMI ini tegas.

Penyampaian Donal juga diaminkan beberapa tokoh yang hadir seperti wakil Ketua DPRD Mitra Tonny Lasut dan Camat Ratatotok Nortje Wullur bersama dengan para Hukumtua Dan Badan perwakilan desa yang Ada di Kecamatan Ratatotok seperti Hukumtua Ratatotok Dua, Marnex Kamudi, Hukumtua Ratatotok Utara Frangky Mandang, wakil Ketua BPD Desa Ratatotok Dua, Helena Nayoan. Sejumlah tokoh masyarakat seperti Imanudin Kadi, Drs. Haji Kasim Mololonto dan yang lainnya.

Dialog ini menghasilkan beberapa rekomendasi, diantaranya:
1. Menolak pelaksanaan Likuidasi aset dan dana sisa Yayasan pembangunan berkelanjutan Sulawesi Utara YPBSU, senilai 68 milyar tujuh ratus juta ke Yayasan Sulut Hebat karena harga mati aset dan dana sisa Yayasan YPBSU yang notabene adalah dana Good Will Agreement Dari PT. Newmont Minahasa Raya tersebut harus dikembalikan penggunaannya untuk pemberdayaan ekonomi. Sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang Ratatotok dan Buyat. Seperti yang diamanatkan dalam Good Will agreement atau perjanjian niat baik antara pihak PT. Newmont Minahasa Raya dan pemerintah Republik indonesia.

2. Meminta kejelasan penggunaan anggaran dari Yayasan Minahasa Raya dan Yayasan Ratatotok Buyat, serta meminta kejelasan status ex lahan kompensasi dari PT. Newmont Minahasa Raya. (*/Am)

Anwar Ibrahim Hadiri Pelantikan Fikri Suadu

Berlangsungnya pelantikan (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Ketua International Institute Of Islamic Thought (IIIT) yang juga anggota parlemen Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim ikut menghadiri pelantikan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Malaysia di gedung ISTAC IIUM Jalan Bukit Tungku, Sabtu (11/1/2020).

Sebelumnya Ketua KAHMI Malaysia terpilih yang juga mahasiswa International of Islamic Institute of Islamic Civilitation and Malay World (ISTAC) dr Fikri Suadu di Kuala Lumpur pihaknya sudah mendapatkan konfirmasi kehadiran Anwar Ibrahim.

Pelantikan yang dirangkaikan dengan diskusi tersebut kata Fikri juga akan dihadiri berbagai Ormas dari Indonesia. Dalam diskusi yang berlangsung dua sesi itu dengan rincian sesi pertama membahas “Islam dan peradaban dari Perspektif Sejarah dan Isu-Isu di bumi Melayu Nusantara”, sedangkan sesi kedua membahas “Islam dan Peradaban dalam konteks isu kontemporer politik dan demokrasi.”

Pembahasan sesi pertama mulai pukul 09:30 hingga 13:00 menampilkan Dr Saiful Bahry Ruray, anggota DPR RI 2014-2019, Prof Datuk Dr. Awang Sariyan, sejarawan Melayu dan Dr. Mohammad Nasih, akademisi dari Universitas Indonesia.

Pembahasan sesi kedua menampilkan Prof Datuk Dr Osman Bakar dari ISTAC IIUM dan Datuk Seri Anwar Ibrahim yang juga Presiden Partai Keadilan Rakyat sebagai Keynote Speaker di Pelantikan MP KAHMI Malaysia.

“Terima kasih atas kehadiran semua pehak dalam pelantikam pengurus Majelis Perwakilan KAHMI Malaysia yang dihadiri oleh pengurus Majelis Nasional KAHMI Malaysia diantaranya Ahmad Dolly Kurnia Tandjung juga Ketua Komisi 2 DPR RI, dan deretan jajaran pengurus Majelis Nasional KAHMI Jakarta semoga kami dapat menjalankan amanah ini dengan baik,” ujar Fikri Alumni S1 Unsrat Manado ini.

Sementara itu Ketua Panitia Seminar dan Pelantikan Syamsul Arifin mengatakan acara kegiatan tersebut juga bakal dihadiri mahasiswa, Ormas Indonesia di Malaysia, peserta dari Madura dan Riau serta para pejabat dari KBRI Kuala Lumpur. Forum Kali ini juga dihadiri oleh keluarga besar KAHMI Indonesia dari Gorontalo, Ternate, Tidore, Manado, Riau, Madura, dan Aceh. (*/Am)

KAHMI Manado Kupas Soal Relasi Agama dan Sentimen Identitas

Narasumber dan moderator saat memulai pengajian (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Menggundang Ketua PRIMA Sulut, Dr Mardhan Umar dan Ketua Walubi Manado, Andiwanto Wiratna, Rabu (8/1/2020), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Manado menggelar pengajian. Sesi diskusi tematik kali ini membahas soal Efektifkah Agama Mendisrupsi Sentimen Identitas?.

Menurut Doktor Mardhan yang juga dosen IAIN Manado ini bahwa beragama harus didasarkan atas pengetahuan. Ada semangat beragama dan pengetahuan beragama yang tidak boleh disatukan. Namun, kadang kala tidak cermat sehingga dipisah, lalu terjadilah generalisasi. Beragama, disampaikan harus dikuatkan dengan pengetahuan atau keilmuan.

“Ketika semangat beragama tidak sejalan dengan kualitas pengetahuan beragama, maka yang terjadi adalah keserampangan. Hal urusan agama yang substansi dan teknis urusan sosial tak mampu dibedakan. Sehingga bagi saya pengetahuan beragama ini perlu dikembangkan. Saat ini memang suasana yang kita rindukan soal interaksi beragama yang penuh keakraban dan pluralis mulai redup. Ya, poin saya itu karena kesadaran, kemudian pengetahuan beragama kita yang masih minin. Alhasil terjadilah degradasi nilai kehidupan kita secara universal,” kata Mardhan.

Penegasan pula disampaikan Adiwanto yang mengkontruksi dan merefleksikan agama dalam interaksi umat manusia. Dipaparkannya, nilai-nilai agama akan terlaksana dan diaktualisasikan bila pemeluk-pemeluk agama memahami esensi beragama. Kemudian, tidak membenturkan kepercayaan masing-masing pemeluk agama.

Berlangsungnya dialog (Foto Suluttoday.com)

“Kalau nilai agama diimplementasikan dari diri kita secara konsisten, kita akan beradab mengalami kemajuan. Melalui hal-hal kecil kita amalkan, saya rasa seluruh dunia akan aman terkendali. Kita tidak lagi berkonflik dengan sesama. Dasar beragama inilah yang sering terkontaminasi dengan urusan-urusan duniawi, akhirnya kita pun terkendala dalam urusan kepentingan sesaat. Sehingga memberi dampak terjadinya disrupsi. Kita beragama sebetulnya bukan untuk dibenturkan,” ujar Andiwanto.

Sekedar diketahui, Pengajian Inklusive KAHMI Manado yang digelar secara berkala itu dilaksanakan di Kedai Shaad Wenang Kota Manado. Dengan moderator Baso Affandi, kemudian hadir penyelenggara kegiatan dari Majelis Daerah KAHMI Manado. Diantaranya, Idam Malewa, Zaenal Ginsu, Madzhabullah Ali, Agus Abdullah, Fadila Polontalo, juga sejumlah aktivis.

Idam Malewa saat memberikan pandangan (Foto Suluttoday.com)

Para tokoh masyarakat dan jurnalis yang hadir juga mengambil kesempatan dalam dialog interaktif tersebut. Beberapa pikiran yang disampaikan juga terkait kritik terhadap tubuh politik kita yang dijangkiti sentimen politik identitas.

Agama yang harmoni dan paripurna diaduk-aduk dengan isu dan diskursus politik yang menghancurkan persatuan. Belum lagi adanya kapitalisasi serta eksploitasi mimbar-mimbar agama untuk kepentingan politik tertentu, sehingga politisasi agama mulai berjalan secara liberal dan massif. (*/Am)

Di Talk Show BKPRMI Manado, Ini Pemaparan Senator Djafar Terkait Masyarakat Perbatasan

Djafar Alkatiri ketika memberikan pemaparan materi (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Ragam pendapat dan pikiran kritis disampaikan secara lugas para narasumber dalam talk show (acara bercakap-cakap) yang dilaksanakan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Manado, Rabu (18/12/2019). Acara yang digelar di Hotel Travello Manado itu dihadiri elemen Ormas dan pimpinan Organsiasi Kepemudaan di Kota Manado, bahkan Sulawesi Utara (Sulut).

Diantara ulasan yang komprehensif, juga disampaikan H. Djafar Alkatiri, Senator asal Sulut yang kini menjabat Wakil Ketua Komite 1 DPD RI. Menurut Djafar, wawasan kebangsaan sebetulnya telah tuntas. Seperti itu pula rasa nasionalisme. Namun begitu negara sedang dalam proses memenuhi segala cita-cita bernegara dan mewujudkan kebutuhan masyarakat secara adil serta merata, tanpa diskriminasi.

”Sebetulnya dalam soal wawasan kebangsaan dan nasionalisme ini sudah final. Pemikiran itu secara konstitusional bersifat final dan mengikat. Bagaimana tanggung jawab negara dalam membuat masyarakat perbatasan ini nyaman, tidak teriak merdeka atau terganggu, itu yang dipercakapkan. Optimalisasi kebijakan sampe ke wilayah perbatasan diperlukan. Selain itu, komitmen pemerintah mengimplementasikan amanat Undang-Undang tentang kesejahteraan rakyat kita harapkan serius dikonkritkan. DPD RI menganggap kesejahteraan begitu pentingnya, maka untuk warga Indonesia yang berada di wilayah perbatasan, maka akan dibuatkan revisi Undang-Undang. Tujuannya, ada perbaikan paradigma negara dalam menangani masyarakat perbatasan,” ujar Djafar yang juga mantan Ketua DPW BKPRMI Sulut ini dihadapan ratusan peserta talk show.

Narasumber, moderator dan pengurus BKPRMI Manado dalam sesi foto bersama (Foto Suluttoday.com)

Politisi yang mengawali karir sejak di kampus telah mengikuti organisasi. Mendirikan FODIM (Forum Diskusi Ilmiah) Universitas Sam Ratulangi Manado, aktivis di Pelajar Islam Indonesia (PII) dan juga pernah beberapa periode menjadi anggota DPRD Kota Manado serta anggota DPRD Provinsi Sulut memberi uraian terkait keprihatinannya terhadap kondisi warga perbatasan. Yang dikatakannya, kedepan harus dilakuakn perbaikan serius dengan pendekatan kesehateraan, tidak sekedar negara melakukan pendekatan keamanan yang anggarannya begitu fantastis.

”Bukan soal security police atau kebijakan keamanan semata, warga perbatasa butuh lebih dari itu. Perlunya pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Dan regulasi harus mempermuda hal yang diperlukan masyarakat perbatasan. pendekatan keamanan (security approach) diperlukan, tapi tidak harus berlebihan. Lalu mengabaikan aspek kesejahteraan rakyat. Kemudian, posisi pemerintah daerah dalam keterlibatannya mengurus masyarakat di wilayah perbatasan harus diberi ruang proporsional dalam melalui regulasi. Kita akan menyelesaikan itu, Insya Allah,” kata Djafar yang pernah dua periode memimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulawesi Utara itu tegas.

Senator Djafar saat menjawab pertanyaan (Foto Suluttoday.com)

Kegiatan yang rutin dilakukan BKPRMI Manado ini dibuka secara resmi Ketua BKPRMI Manado, Suryanto Muarif. Untuk diketahui narasumber yang hadir adalah Rektor IAIN Manado, DR Delmus Punieri Salim, Senator Djafar Alkatiri dan Amato Assagaf, budayawan muda dan seniman asal Sulut. Dengan Ketua panitia Ahmad Husain, moderator Amas Mahmud yang juga Sekretaris DPD KNPI Manado.

Narasumber saat foto bersama para ativis perempuan (Foto Suluttoday.com)

Hadir dalam acara dan memberikan pendapat, H. Ayub Ali Albugis, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari PAN. Terlihat hadir, Ketua terpilih Pemuda Muhammadiyah Sulut Sudarwin Jusuf Tompunu. Pengurus HMI-MPO Cabang Manado, IMM, Syarikat Islam Manado, IPM, KNPI Manado, serta sejumlah tokoh masyarakat lainnya. Tema yang dibahas adalah Wawasan Kebangsaan Nasionalisme Perbatasan Indonesia – Filipina. (*/Redaksi)

iklan1