Tag: HMI

Transformasi HMI untuk Perubahan Indonesia

Untuk Perubahan Indonesia Berkemajuan dan Berdaulat

Rusmin Hasan (Foto Istimewa)

Oleh : Rusmin Hasan, Aktivis HMI Cabang Tondano

Ketika kita melihat secara objektif kesadaran paradigma kritis perjalanan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) yang memasuki usianya ke74 Tahun dekade ini, mengalami kemunduran yang sangat signifikan, ditandai dengan menurunnya semangat menjalankan Khittah Perjuangan HMI, termasuk dalam mengamalkan lima kualitas insan cita yang menjadi landasar perjuangan HMI.

Orientasi dan eksistensi organisasi terbesar ini,kian hari mengalami kerapuhan nila, Seperti marwah keumatan dan kebangsaan seakan hanya narasi jargon semata, yang perluh menjadi pertanyaan kritis bagi seluruh kader HMI Se-nusantara sebagai bentuk kritik otokritik secara internal untuk memproyeksi tranformasi HMI secara radikal.

Mengutik bahasanya Kakanda Almaharhum Guru bangsa Nurcholish Madjid diforum seminar kepemimpian moralitas bangsa Ia mengatakan bahwa, ternyata pengkaderan HMI tidak semuanya membuahkan hasil yang baik, menurutnya bahwa memang banyak kader HMI yang bersih (Mister Clean) akan tetapi koruptor juga banyak dari HMI. Pernyataan Cak Nur tersebut, direspon serius juga oleh almarhum Agus Salim Situmpol dalam bukunya; ”44 Indikator Kemunduran HMI”.

Menurut beliau pada pola pengkaderan dan manajemen organisasi yang ketinggalan zaman, kurang visioner, memudarnya tradisi intelektual, kader HMI tidak memiliki gagasan atau karya untuk masyarakat, kehilangan strategi perjuangan, daya kritis kader menurun serta kehilangan kekuatan batin.

Dan yang sangat disesalkan juga adalah Pengurus Besar HMI, saat ini hanya terputar pada atmosfer konflik internal, dualisme kepemimpinan PB HMI serta terdapat gerbong dinternal kubu kepengurusan yang berplikasi keakraban sosial atau slogan kita berteman lebih dari saudara seakan tak diinternalisasi secara mendalam oleh anggota PB HMI sehingga HMI acapkali mengalami marwahnya, seakan tak memiliki daya produksi kualitas kader dalam mengkorfirmasikan gagasan besarnya untuk terlibat pada problem kebangsaan dan keumatan saat ini.

Potret PB HMI hanya dihiasi dengan amatiran serta apoloji mempraktekkan tipelogis watak politikus oligarki, pragmatis sehingga agenda besar seakan dilupakan oleh seluruh pengurus PB HMI. Ruang tradisi intelektual PB HMI saat ini tak lagi disi dengan dialektika intelektual tranformatif sehingga narasi kongres PB HMI dari periodesasi hanya sebagai narasi kering yang tersimpan dalam sekretariat PB HMI dan tak berdampak positif buat umat dan bangsa.

Oleh kerangka problem internal HMI diatas, Penulis ingin menghadirkan kembali sekaligus mengajak seluru aktivis HMI Se-Nusanatara untuk memenangkan Tranformasi HMI untuk Indonesia berkemajuan (Kepemimpinan Profetik Anatara Konsep dan Realitas Sebagai solusi perdamiaan) di dalam konteks era disrupsi 4.0 saat ini, HMI harus banyak berbenah dalam segala aspek serta terus berpacu pada lembaran historis sejarah perjuangan HMI dan berguru pada pengalaman napak tilas perjaungan HMI, sehingga HMI bisa menjadi rol model rakyat Indonesia. Sebagaimana, ulasan Jendral Sudirman bahwa HMI bukan hanya sekedar organisasi Himpunan Mahasiswa Islam.

Namun, HMI adalah harapan masyarakat indonesia. Tentu, itu harapan kita bersama untuk ikhtiar mewujudkannya. Maka melihat problem diatas, penulis berikhtiar untuk mengajak kader HMI Se-Nusantara membumikan dan memenangkan kembali gagasan tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Kepemimpinan Profetik antara konsep dan realitas ).

Ketika kita ingin menjalankan misi tranformasi HMI untuk indonesia berkemajuan, diperlukan sebuah paradigma teoritis dan praktis sebagai pedoman bersikap untuk menghadapi fenomena dan realitas yang muncul diera revolusi indutri 4.0 sebagai landasar epistemik berfikir dan berjuang menghadapi arus percereteruan global ditengah krisis kondisi umat dan bangsa.

HMI sebagai anak kandung revolusi sekaligus organisasi terbesar yang ada diIndonesia dan juga organisasi mahasiswa tertua sejak berdirinya 05 februari 1947 yang masih bertahan sampai dengan hari ini seharusnya mengarahkan pada proses tranformasi paradigma yang ideal, yang mana HMI harus senantiasa bergerak maju dengan gagasan-gagasan pembaharu yang bermuara pada sikap dan tindakan kader ketika menghadapi problem keumatan dan kebangsaan sesuai dengan misi HMI itu sendiri.

HMI sebagai organisasi perjuangan sebaiknya peka dan produktif merespon segala hal, keberpihakan itu kecenderungan kepada hanif (kebenaran) yang diwujudkan pada konsep tranformasi perubahan sosial kepemimpinan HMI secara simultan dan konsistensi untuk di wujud nyatakan dalam sebuah karya HMI untuk Rakyat Indonesia, Maka Solusi Kepimpinan Profetik adalah ijtihat sekaligus Ikhtiar untuk mengembalikan kembali esensi dan orientasi perjangan HMI diera Disrupsi 4.0 saat ini sehingga HMI tak digilas Zaman.

HMI sebagai organisasi yang beridentitas Islam maka sudah segogyinya menjadikan Islam sebagai nafas perjuangannya. Islam sebagai agama Rahmatan Lil;Alamin yang dibawakan oleh sang revolusioner sejati baginda Rasulullah SAW, untuk mengubah moralitas umat manusia dari ekspolitasi yang sangat jahiliyah. Tradisi Islam dibangun secara damai bersama para sahabat-sabahatnya dengan meletakkan prinsip dasar sebagai manusia.

Bahkan aspek trandental serta sosial budaya,ekonomi politik bahkan lain sebagainya. Kepemimpinan Profetik adalah repsentasi kepemimpinan ideal. Karena kata profetik berasal dari bahasa ingris (prophet) atau dalam istilah lain kata sifat yang berarti kenabian. Secara universalitas kepemimpinan profetik adalah sala satu ciri kepempinan manusia ideal secara spiritual, humanisme serta liberasi atau pembebasan yang menjadi pelopor perubahan.

Membimbing masyarakat kearah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan kezholiman dan ekspolitasi terhadap rakyat kecil. Ispirasi dari teologis kepemimpinan profetik, menurut Kontowijoyo (2006:87) adalah dari misi historis Islam yang termaktub dalam Firman Allah SWT berikut: Artinya : ”Engkau adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeruh kepada makruf dan mencegah dari munkar dan beriman kepada Allah SWT (Q.S Ali Imran (03): 110 ).

Arti tersebut diatas, menurut kontowijoyo memuat tiga nilai penting yakni; Nilai Humanisme, Liberasi dan transendensi. Humanisme sebagai padanan Tu’muruna Bil Ma’aruf. Liberasi padanan Tanhana’an Al-Munkar. Dan Transedensi padanan Tu’minuuna Billah. Tujuan dari humanisme adalah ranformasi proses memanusiakan manusia.

Keadaan masyarakat yang telah bergeser dari pola hidup petani menjadi masyarakat industri. Tujuan dari liberasi adalah pembebasan manusia dari jeretan-jeretan sosial, pembebasan dari kesamnya kemiskinan struktural, keangkuhan teknologi dan pemerasan kaum pemodal. Dan kepemimpinan profetik sebagai semangat ingin membebaskan diri dari belenggu yang dibangun sendiri tanpa sadar.

Maka HMI sebagai sala satu Organisasi yang strategis dibangsa ini harus menginternalisikan spirit kepemimpinan kenabian atau profetik sebagai jalan kearifan serta poros tranformatif HMI untuk merovolusi paradigma kader secara komprehensif dalam proses kaderisasi Himpunan Mahasiswa Isalam. Dari sini HMI akan mampu mewujudkan Misi Lima Kaulitas Insan Cita.

Ada beberapa kerangka konseptual yang harus diwujudkan didalam tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Solusi Kepemimpinan Profetik antara konsep dan realitas ). diera Revolusi Industri 4.0 dengan Manivesto Gerakan planfrom Tujuh Tranformatif HMI Yakni Faktor Internal: 1. Manivesto Gerakan Tranformatif Intelektual berbasis data melalui riset.

Membuat data keanggotaan Kader HMI Se-nusantara,Inovasi kaderisasi berbasis IPTEK, Kepemimpinan Profetik sebagai Tranformatif HMI dan Sekolah kepemimpinan, lokakarya konstitusi HMI Sekaligus menjadikan Sekret PB HMI sebagai wadah poros gerakan Nasional. Faktor Eksternal: 2. Membangun rekonsulasi Cipayung Plus secara simultan, membuat lembaga advokasi dibagian pertanian, kelautan, agraria, parawisata dan kebudayaan.

Membangun sekolah pelatikan pancasila, Membangun dialog antar umat beragama untuk menjaga persatuan antar agama-agama diindonesia, Membangun gerakan diplomasi Mesjid sebagai pusat peradaban Umat Islam diindonesia serta pusat gerakan ekonomi kerakyatan dan menkonsolidasikan gerakan Islam Internasional sebagai ajang silaturahim sekaligus menjaga Nafas Islam, keindonesiaan kita.

Penulis beroptimisme apabila kerangka konseptual diatas apabila diwujudkan didalam tranformasi HMI untuk Indonesia yang berkemajuan dan berdaulat (Solusi Kepemimpinan Profetik antara konsep dan realitas), di era Revolusi Industri 4.0 dengan Manivesto Gerakan planfrom Tujuh Tranformatif HMI dengan modalitas 4 sifat kepempinan yakni, pertama; pemimpin yang lahir dari cultur budaya yang tidak homogen tapi harus majemuk sehingga corak pemikirannya tidak terputar pada konsepsi belaka namun harus diamalkan secara riil, kedua; kepemimpinan yang humanistik.

Pola kepemimpinan seperti ini, penting untuk ia mampu mengkomunikasi kepentingan HMI bahkan rakyat indonesia baik pada aspek politik kenegaraan maupun aspek gerakan ekonomi kerakyatan dan ketiga; Seorang pemimpin diHMI harus memiliki beyond State (Dia harus di atas negara) dalam arti sosoknya harus mendunia baik wawasannya maupun terkoteksi jejaringan pada level internasional baik pada aspek kepentingan umat maupun kondisi kebangsaan.

Hal ini, penting harus dimiliki oleh seorang sosok pemimpin HMI dimasa akan depan untuk mampu hadir sebagai Jol Lokus peradaban Umat dan bangsa serta mewujudkan Masyarakat Adil Makmur yang diridhoi Allah SWT. Semoga narasi sederhana ini, bentuk refleksi dimomentum Milad HMI KE-47 Tahun 2021 ini, sekaligus kroyeksi dan proses mentranformasikan nilai Kepemimpinan Profetik dimasa depan untuk HMI yang lebih. Semoga bermanfaat. Wallahu A’alam Bssawab.

Tulisan ini dimuat sebagai solusi Kepemimpinan Profetik antara konsep dan Realitas, Refleksi Kritis Milad HMI ke-74 Tahun.

Ketua Umum PB HMI Desak Kapolri Tangkap Permadi Arya

Affandi Ismail (Foto Istimewa)

Affandi Ismail, Ketua Umum PB HMI

Terkait dugaan rasisme kepada Natalius Pigai, apapun argumentasi pembelaan pribadi yang disampaikan oleh Permadi Arya alias Abu Janda tentu tidak serta merta dapat diterima begitu saja oleh Publik. Sebab penggunaan diksi “evolusi” dalam cuitannya di akun twitter pribadinya dalam ungkapan “sudah selesai evolusi belum kau” yang diperuntukkan kepada mantan komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, sudah dapat dipastikan oleh Abu Janda digunakan untuk mendiskreditkan Natalius Pigai. Meskipun Abu Janda menolak diksi “evolusi” ini dikaitkan dengan teori evolusi Darwin, dan dia mengatakan bahwa maksud dari kata evolusi itu adalah “perubahan atau perkembangan”.

Namun demikian justru semakin mempertegas makna implisit yang terkandung yang cenderung berbau rasis, pendiskreditan dan penghinaan atas individu dari ungkapannya yaitu “kau ini sudah berkembang belum otak kau” maksudnya “kau gak ada otak” yang ditujukan kepada Natalius Pigai. Sekali lagi apapun alasan dan argumentasi pembelaan yang disampaikan oleh Abu Janda, sebab diksi evolusi yang digunakan berada di ruang publik maka tentu publik memiliki hak atas interpretasi dari diksi dan ungkapan yang disampaikan oleh Abu Janda di dalam akun twitter pribadinya tersebut.

Padahal semestinya sebagai penggiat sosial media, mestinya Abu Janda bersikap bijak dalam menggunakan sosial media. Jangan justru menjadikan sosial media sebagai tempat untuk mendiskreditkan pribadi orang lain, menebar kebencian dan mengutarakan ungkapan – ungkapan yang sangat tidak mendidik atau tidak memiliki nilai edukatif bahkan tidak mencerminkan sikap yang humanis.

Dalam konteks ke Indonesiaan sikap humanis ini penting dikedepankan antara satu individu dengan individu yang lainnya, harus saling menghargai apalagi sebagai sesama warga negara Indonesia yang harus menjunjung tinggi kesadaran kebineka tunggal ikaan.

Kemudian terkait ungkapan Abu Janda di akun twitter pribadinya yang mengatakan “yang arogan di Indonesia itu adalah Islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal. Haram-haramkan ritual sedekah laut, sampe kebaya diharamkan dengan alasan aurat,” ungkapan Abu Janda ini jelas.

Sangat sarat atas kebencian terhadap agama Islam. Tuduhan Abu Janda bahwa Islam itu arogan, Islam itu agama pendatang dari Arab, dia juga menyinggung soal perintah menutup aurat dan bahkan sampai pada soal prinsip akidah Islam, tentunya sangat menyakiti hati perasaan ummat Islam tidak saja di Indonesia tetapi juga ummat Islam di seluruh dunia.

Padahal sebagai seorang yang mengaku dirinya muslim tidak semestinya dia mengatakan demikian. Karena dengan mengatakan Islam sebagai agama pendatang dari Arab yang arogan kepada budaya asli atau kearifan lokal Indonesia, itu menegaskan bahwa Abu Janda tidak mengerti dan memahami sejarah Islam di Nusantara bahkan dia tidak memahami esensi dan substansi ajaran Islam itu sendiri.

Abu Janda tidak mengerti sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia sampai hadirnya Pancasila yang mempertegas Indonesia sebagai darul ‘ahdi wa syahadah, dimana perjuangan tersebut tidak lepas dari perjuangan dan kontribusi besar ummat Islam. Dengan mengatakan Islam arogan itu berarti dia telah melakukan over generalisasi terhadap seluruh ummat Islam.

Padahal dia sendiri mengaku dirinya Islam. Nah hal ini pula yang menjadi ironis dan membingungkan publik. Membikin publik geram, lalu beraksi. Sebab sebagai seorang yang mengaku Muslim mestinya dia tidak mengatakan demikian karena ungkapan itu kembali kepada dirinya sendiri. Sehingga kita bertanya, Permadi Arya ini Islam atau bukan sebenarnya? Sebab kalau dia Islam tidak mungkin dia akan membangun proposisi yang demikian hal itu juga yang semakin mempertegas rendahnya nalar seorang Abu Janda.

Bahkan menurut saya, dengan ungkapannya itu semakin menegaskan bahwa Abu Janda inilah sosok individu yang arogan. Kemudian soal aurat yang telah jelas dan tegas disebutkan di dalam Al Qur’an sebagai perintah atau Syari’at Allah SWT terhadap Muslim, ungkapan Abu Janda yang mengatakan bahwa “sampe kebaya diharamkan dengan alasan aurat” jelas bermakna penghinaan terhadap Al Qur’an.

Aparat penegak hukum yang dalam hal ini adalah Polri harus bersikap dan bertindak tegas terhadap Abu Janda. Meskipun Abu Janda telah memberikan klarifikasi atas ungkapannya tersebut dengan mengatakan Islam itu arogan sebagai bentuk autokritik, namun bukan berarti bahwa proses penegakan hukum tidak berlaku lagi kepada Abu Janda dan dia bisa bebas begitu saja dari jeratan hukum. Hukum harus ditegakkan kepada siapapun tanpa pandang bulu untuk menjamin rasa keadilan di tengah-tengah masyarakat khususnya Indonesia sebagai negara yang majemuk, plural dan multikultural.

Cuitan Abu Janda di akun twitter nya sekali lagi saya tegaskan jelas tidak bernilai edukasi dan justru cenderung bernilai provokatif dan dapat berpotensi mengganggu stabilitas nasional NKRI baik kaitannya dalam relasi sosial konteks masyarakat yang multikultural maupun dalam dalam konteks masyarakat yang plural. Olehnya itu tegas saya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mendesak kepada Polri untuk segera menangkap dan menindak tegas Abu Janda sesuai dengan mekanisme dan aturan perundang-undangan yang berlaku sebagai bentuk komitmen Polri terhadap penegakan hukum.

Hal ini juga tentu menjadi salah satu pembuktian bagi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di masa awal kepemimpinannya atas komitmen visi dan misi dan 16 program yang telah dicanangkannya, dimana salah satunya adalah peningkatan kinerja penegakan hukum yang berkorelasi dengan program pemantapan kinerja pemeliharaan kamtibmas dalam rangka mewujudkan Polri yang presisi yaitu prediktif, responsibilitas dan transparansi berkeadilan. (*/Red)

Gelar Aksi Kemanusiaan, KAHMI Sulut Lakukan Ini di Manado

KAHMI Sulut berbagi bantuan (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Pengurus Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulawesi Utara (Sulut), kembali menujukkan kepeduliannya dengan menyalurkan sejumlah bantuan logistik untuk korban bencana banjir dan tanah longsor di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara, Kamis (21/1/2021).

Sejumlah bantuan logistik yang disalurkan berupa beras, mie instan, gula dan air mineral. Menurut Koordinator Presidium Majelis Wilayah KAHMI Sulut Iskandar Kamaru, penyerahan bantuan ini merupakan langkah KAHMI untuk mengambil bagian selalu hadir dalam kerja-kerja kemanusiaan.

”Yang dilakukan KAHMI Sulut ini tak lain adalah panggilan kemanusiaan. Tampa ada yang memanggil kita semua kita hadir, seluruh Presidium KAHMI dan pengurus serta anggota, saya tidak pernah mengatakan ayok kita berdonasi, tapi ini secara otomatis terkumpul, sudah terbangun kultur di KAHMI tanpa diajak mereka menjadi bagian dari kerja-kerja kemanusiaan,” ujar Iskandar yang juga Bupati Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Madzhabullah Ali bersama pengurus KAHMI Sulut saat penyaluran bantuan (Foto Istimewa)

Selanjutnya, penyerahan bantuan diserahkan secara simbolis Iskandar Kamaru kepada tim KAHMI peduli bencana yang dipimpin oleh Sekretaris KAHMI Sulut Madzhabullah Ali untuk disalurkan kepada para korban bencana banjir.

”Alhamdulillah, bantuan yang terkumpul sudah kami salurkan di beberapa titik yang terkena musibah banjir seperti Panti Asuhan Darul Istiqomah, Panti Asuhan Assalam, Kelurahan Mahawu, Kelurahan Ternate Tanjung, Kelurahan Ternate Baru, Kelurahan Ketang Baru dan Kelurahan Komo Luar. Semoga bantuan bisa bermanfaat bagi masyarakat yang menerima,” kata Madzhabullah Ali.

Tak hanya itu, Ichal begitu Madzhabullah Ali akrab disapa menyampaikan terima kasih kepada adik-adik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Manado yang sudah membantu dalam proses menyalurkan bantuan ini.

(*/Amas)

Meski Telah Ditangkap Polresta Manado, Vivie Saksi PAHAM Kembali Bertugas

Vivie Sanggor saat diamankan Polresta Manado (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Kejadian yang menuai perhatian publik terjadi penangkapan terhadap Vivie Sanggor, saksi pasangan calon Wali Kota Manado Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene dan Dr. Harley Alfredo Benfica Mangindan. Peristiwa penangkapan terhadap Vivie terjadi di Hotel Sintesa Peninsula Kota Manado. Alhasil, Vivi, Kamis (17/12/2020) dilepaskan dan kembali bersaksi dalam Pleno KPU Kota Manado.

Vivie, saksi PAHAM (Paula Harley Manado) seperti dalam kronologisnya, dijemput pihak Polresta Manado, pukul 22.30 Wita di Lobby hotel Peninsul. Kurang lebih 10 orang Anggota polisi menjemput Vivie di Hotel Peninsula. Kedatangan polisi sempat membuat Vivie terkejut, karena Vivie merasa tidak perna melalukan tindak Pidana. Alhasil, terjadi adu argument dengan polisi.

”Polisi menunjukan Surat tugas, terjadi adu argument polisi dengan salah satu Advokat. Aduh argument terkait mekanisme pemanggilan karena saya tidak pernah di panggil secara patut. Saya tidak pernah di mintakan keterangan di kepolisian, tiba-tiba sudah dijemput dan dibawah ke kantor Polisi,” kata Vivie.

Untuk diketahui, terjadi argument tetapi karena polisi bersihkeras untuk tetap membawah maka secara kooperatif ibu vivi di dampingi Pengacara Menuju Polresta Manado. Pukul 23.45 Wita Ibu Vivie mulai di BAP sebagai saksi. Vivie menyampaikan dirinya sama sekali tidak tahu Perbuatan Hukum apa yang dilakukan, dalam BAP dekor 30 pertaanyaan yg di ajukan penyidik unit II, salah satu pertaanyaan adalah terkait rekaman video di kantor Camat Malalayang.

Dalam kronologis yang disampaikan Kuasa Hukum Vivie, rekaman berdurasi 2 menit lebih berisi dugaan kecurangan di dalam Proses rekapan hasil Pemilihan di Kecamatan Malalayang, rekaman yang di buat Vivie sebagian bukti buat tim paslon 4 dan mmg secara resmi di bagikan ke groub Saksi Dan Tim Hukum. Tetapi video itu telah di posting orang kemudian menjadi viral. Pemeriksaan Vivie sampai jam 03.30 Wita, Rabu (16/12/2020).

Video dibuat untuk merekam kejanggalan yang terjadi pada tanggal 14 Desesember 2020, sekitar pukul 10.00 Wita – 15.00 Wita, di kantor Camat Malalayang bahwa diduga Anggota PPK Malalayang membuka kontak suara pemilihan Wali Kota Manado tanpa sepengetahuan saksi, kontak suara itu sudah selesai di Rekapitulasi pada tanggal 13 Desember 2020. Dan kotak sudah disegel. Secara aturan tidak boleh lagi di buka (PKPU No 9 Tahun 2018 ttg Rekapitulasi).

seharusnya kotak suara tidak boleh di buka lagi, Vivie membuat video karena ada dugaan pelanggaran terhadap tindakan PPK. Tanggapan Penasehat Hukum yang mendampingi Vivi, diantaranya, Percy Lontoh,SH. Firman Mustika, SH MH Glend Lumingkewas,SH MH. Kristiantho Darius, SH. Penasehat Hukum menyampaikan sangat menghormati proses penyidikan, tetapi sangat di sayangkan proses Itu kami rasa tidak dilaksanakan sesuai prosedur Hukum acara.

”Alasan kami bahwa Vivie tiba-tiba di jemput paksa kurang lebih 10 Anggota Polisi, pertanyaan adalah status ibu vivi, Karena belum perna ada Panggilan secara patut kepada ibu Vivi, seharusnya di panggil secara patut di sebutkan status sebagai saksi atau sebagai apa, kemudian Perbuatan apa yang telah di lakukan,” ujar Firman Mustika.

Lanjut pengacara muda yang juga jebolah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manado itu bahwa, yang kedua laporan terhadap Vivie dilakukan oleh oknum Anggota Panwascam Malalayang ke Polres Manado pada, Selasa, 15 Desember jam 12.30 Wita. Pukul 22.00 Wita, Vivie dijemput.

”Kami melihat proses ini sangat cepat, kami apresiasi. Kami berharap kinerja polisi harus cepat tetapi harus Juga di perhatikan terkait mekanisme pemanggilan yang patut seperti dalam Hukum acara, proses pemanggilan ini sangat-sangat cepat. Kami takut jgn sampai ada sesuatu di balik begitu cepatnya Proses ini,” tutur Mustika.

Ketiga, tambah Mustika, pihaknya menghormati proses hukum, yang sedang dilaksanakan penyidik unit II Polres Manado. Mustika mengatakan bahwa akan mengawal dan juga akan siap dengan upaya hukum, jika melihat ada kejanggalan dalam proses. Keempat, pihaknya berharap polisi secara terang menyampaikan ujaran kebencian apa, pada siap dan akibat dari video itu terjadi apa. Kuasa Hukum Vivie juga berharap polisi memeriksa perkara ini secara professional.

(*/Amas)

Ciptakan Perdamaiaan Umat, Junjung Tinggi Nilai Kemanusiaan Usai Pilkada 2020

Rusmin Hasan Aktivis HMI (Foto Suluttoday.com)

Oleh : Rusmin Hasan Aktivis, HMI Cabang Tondano

Kepada para pemenang Pilkada 2020 untuk tidak terlalu euforia merayakan kemenangan berlebihan, rayakan kemenangan secara etis dan sewajarnya saja. Kemenangan dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) sesungguhnya merupakan wujud kemenangan seluruh rakyat. Karena itu, siapa pun yang menang dalam Pilkada serentak yang dilakukan pada hari ini. Rabu, 9 Desember 2020 harus memberikan penghormatan kepada rakyat sebagai pemegang kedaulan tertinggi.

Dan ciptakan iklim politik yang berlandas pada nilai kemanusiaan, perdamaian merupakan cita-cita dan salah satu nilai kemartabatan yang ada dalam semua masyarakat beradab. Keadaan nan damai merupakan salah satu syarat untuk menjalin kerja sama strategis. Kemenangan itu, sudah menjadi keniscayaan Ilahi yang tak bisa dinaifkan. Ajaklah semua elemen untuk saling kerja sama untuk mewujudkan perdamaiaan antar sesama. Dan kepada tim sukses dan para simpasitas untuk saling memaafkan dan mengikhlaskan secara lapangan dadah.

Saling merangkul dan menjaga kekeluargaan antar sesama serta merawar silaturahim yang sebelum pilkada mungkin ada yang sedikit renggang silaturahim untuk menjunjungi tinggi nilai perdamaiaan sebagai perekat identitas sosial budaya sebagai masyarakat yang beradap. Siapa saja yang akan menjadi pemenangan atau pemimpin kepala daerah bupati & wakil bupati atau walikota serta wakil walikota dihasil pengumuman KPUD setiap daerah masing” dialah pemimpin kita bersama. Bagi yang menang pilkada, saya perlu ingatkan bahwa menjadi kepala daerah adalah alat bukan tujuan.

Bila menjadi kepala daerah adalah tujuan, maka Anda telah mencapai garis finish. Namun, sebaliknya menjadi kepala daerah merupakan start awal dari kiprah Anda lima tahun ke depan untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan seluruh warga masyarakat di daerah Anda. Satu detik setelah Anda dilantik menjadi kepala daerah roda pemerintahan berada di pundak Anda, Anda harus berhenti berbicara (kampanye/pencitraan) jalankan tugas dan tanggun jawab sebaik-baiknya, sekuat tenaga, jangan mengeluh apalagi ada kata tidak siap.

Rakyat cukup cerdas dan akan mengawasi serta menagih janji-jani politik Anda baik pada saat berkampanye turun ke daerah maupun pada saat debat publik. Pilkada sudah selesai, andalah pemenangnya. Anda akan memasuki kehidupan baru dengan tanggung jawab baru. Ini adalah awal dari perjalanan panjang Anda selama lima tahun ke depan, kuatkan hati Anda karena langit tidak selalu cerah dan ombak tidak selalu tenang. Sambil menunggu dilantik segera konsolidasikan tim Anda rumuskan program kerja 100 hari pertama, setahun pertama sampai tahun kelima.

Diawal awal masa kepemimpinan jangan pernah sedikitpun berfikir untuk kelanjutan kekuasaan atau pilkada berikutnya. Ciptakan keadilan hukum bagi seluruh Rakyat untuk merealiasiakan amanat UU 1945. Semoga narasi sederhana ini, bisa menjadi edukasi politik kepada rakyat serta para kompetitor pilkada 2020 untuk menjaga nilai etis, kemanusiaan serta menjunjung tinggi nilai perdamaain antar sesama usai pilkada 2020 kali ini. Aamin

iklan1