Tag: IAIN Manado

Aktivis Lintas Generasi Ramai-Ramai Kecam Sekwan Sulut

Antusiasnya mahasiswa Sulut saat menggelar aksi (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Kecaman publik terhadap oknum Sekretaris DPRD Sulut kian kencang. Tindakan represif yang dilakukan oleh salah satu oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor DPRD Sulut memantik reaksi publik. Sejumlah kalangan menilai bahwa perbuatan oknum ASN tersebut harus segera diproses secara hukum. Bahkan didesak untuk dicopot dari jabatannya.

Dalam video yang sempat viral itu terpantau jelas bahwa salah satu mahasiswa mendapatkan pukulan keras dari Sekretaris Dewan (Sekwan) Sulut, Bartolomeus Mononutu. Beruntung insiden tersebut tak berlangsung lama. Meski begitu, hal itu memantik reaksi publik. Ketua Umum (Ketum) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Manado, Iman Karim ikut angkat bicara.

Menurutnya, sikap HMI Manado masih dalam proses pengkajian sekaligus memperkuat data yang dimiliki. Iman menambahkan, setelah tahapan itu rampung, barulah ditempuh dengan jalur hukum, karena negara ini mengajarkan kita untuk taat pada koridor hukum.

“Dari HMI akan meminta pertanggung jawaban dari pihak Sekwan. Segera mundur dari jabatan yang dia miliki sekarang, karena tidak melambangkan demokrasi yang baik,” kata Iman, kemarin.

Lanjut mahasiswa Alumni Fakultas Hukum Unsrat itu, pihaknya akan terus menggalang massa untuk turun aksi menuntut keadilan sembari menyiapkan bukti sebagaimana agenda yang akan diproses secara hukum.

“Sangat menyayangkan terjadinya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum Sekwan. Dia tidak mencotohkan perbuatan yang baik dan tidak mencontohkan sebagai panutan atau orang tua dari mahasiswa yang ingin memberikan aspirasi, sedangkan sangat jelas negara melindungi rakyatnya dalam memberikan aspirasi di muka umum,” tuturnya.

Terpisah, Allan Sinyo Parinusa melalui akun facebooknya mendesak agar oknum Sekwan yang telah melakukan tindakan anarkis segera bertanggung jawab.

“Pak Sekwan yang terhormat silahkan anda mempertanggung jawabkan apa yang anda lakukan pada saat mengamankan pendemo (terekam kamera wartawan). Kalau tidak anda akan menerima kunjungan lagi, dan kami ingin menyaksikan kembali tangan besi anda,” kuncinya.

Ribuan mahasiswa saat berunjung rasa di kantor DPRD Sulut (FOTO Ist)

Komite Pimpinan Wilayah Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sulut, Jim R Tindi mengecam keras tindakan aparat dan oknum ASN dalam menyikapi aksi mahasiswa. Menurut Tindi, sejak kran demokrasi terbuka luas oleh gerakan mahasiswa 98, maka hak kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum adalah milik setiap warga negara.

“Aksi Mahasiswa Sulawesi Utara pada tanggal 25 September 2019 kemarin adalah murni gerakan moral dalam menolak RUU KPK, RUU KUHP, dan beberapa Rancangan Undang-undang yang tak selaras dengan napas reformasi. Mohon ditindak tegas diberi sanksi yang sepadan,” ujar Tindi.

Dia pun mengecam tindakan anarkis yang dilakukan aparat terhadap para mahasiswa. “Mendesak agar aparat mengusut tuntas oknum Sekwan Sulut yang melakukan pemukulan terhadap mahasiswa, karena ini merupakan tindakan barbar yang tak layak di lakukan oleh seorang pegawai eselon 2,” bebernya.

Anggota DPRD Sulut, Nick Lomban menyesalkan bahwa aksi tersebut terjadi tindakan represif. Menurutnya, dalam kesempatan yang lain peristiwa semacam ini tidak terulang.

“Saya pribadi tidak menyetujui tindakan represif, tapi saya maklumi karena saat itu sudah jadi chaos,” tuturnya.

Dia pun berharap kedepan harus kita hindari tindakan – tindakan represif. “Yang bisa kita lakukan ini pelajaran bahwa kedepan menjaga kondusifitas, biar kedepan baik pemdemo maupun aparat itu terluka,” kuncinya.

Sementara itu, koran ini melakukan upaya konfirmasi kepada Sekwan Deprov Sulut, Bartolomeus Mononutu, dirinya enggang memberikan komentar. Untuk diketahui, ribuan mahasiswa menduduki gedung DPRD Sulut, Rabu (25/9), kemarin, mendesak membatalkan Rancangan Undang – Undang (RUU) KPK dan RUU KHUP.

Awalnya, massa aksi yang tergabung dari keluarga besar IAIN Manado lebih dulu menduduki gedung cengkih, tak berselang lama, ribuan massa aksi yang tergabung dalam organisasi Cipayung plus, yakni GMKI, PMII, LMND, Pembebasan, KMHDI, KAMMI, dan PMKRI, serta organisasi mahasiswa (Ormawa) Unsrat dan Politeknik Manado, tiba di gedung DPRD. (*/Redaksi)

Pendidikan Lintas Agama dan Budaya di Indonesia

Almunauwar Bin Rusli (FOTO Suluttoday.com)

Almunauwar Bin Rusli

(Dosen dan Peneliti Studi Islam IAIN Manado)

Indonesia merupakan Negara yang memiliki enam agama resmi : Islam, Kristen, Katolik,Hindu, Budha, Konghucu dan sekitar 187 organisasi Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK). Selain itu, keragaman suku mencapai angka 1.340 berdasarkan sensus BPS tahun 2010. Fakta seperti ini jelas mendorong munculnya perjumpaan eksistensi diri terutama pada Provinsi yang diberikan status Otonomi Daerah Khusus. Status tersebut bermakna kewenangan istimewa yang diakui dan diberikan Pemerintah Pusat karena alasan stabilitas politik nasional.

Dengan demikian, orang Aceh dan Papua punya kebebasan aktif dalam mengatur ide-ide fundamental sesuai dengan aspirasi masyarakat lokal. Kebebasan aktif di atas berdasarkan ketentuan UU No. 11 Tahun 2006 dan UU No. 35 Tahun 2008. Kehadiran dua UU ini ikut memperkuat citra positif mereka di mata publik. Meskipun kasus korupsi  tetap saja melukai proses demokratisasi di sana. Proses pendidikan pun ikut terpuruk.

Penguatan sistem pendidikan adalah syarat mutlak bagi kuatnya proses demokratisasi. Demokratisasi di Indonesiaditandai oleh keluasan perspektif dan kekayaan alternatif dalam mengelola keragaman agama-budaya. Posisi Aceh sebagai benteng Islam dan Papua sebagai benteng Kristen saya kira sangat cocok untuk konteks ini. Kelompok Muslim pernah mengalami konflikdengan pihak Kristen terkait pembakaran Gereja di Aceh Singkil 13 Oktober 2015 silam. Sedangkan Papua mengalami konflik pembakaran Masjid di Karubaga 17 Juli 2015. Konflik itu melahirkanheterophobia.

Heterophobia didefinisikan sebagai “ketakutan terhadap keberlainan”.Ketakutan ini tidak lepas dari faktor streotipe, prasangka bahkan diskriminasi. Tahun 2017 Setara Institute melaporkanbahwa Aceh memiliki tingkat toleransi yang rendah (http://setara-institute.org/indeks-kota-toleran-tahun-2017/). Intoleransi di Papua juga sering muncul akibat kurangnya advokasiperdamaian (Lihat Budi Asyhari Afwan : 2015).Pendidikan lintas agama dan lintas budaya wajib diterapkan melalui kebijakan otonomi daerah khusus sesuai amanat UU No. 20 Tahun 2003.

Pendidikan Lintas Agama : to have religion  menjadi to be religious

Praktek pendidikan lintas agama dapat dimulai dari tingkat SD/SMP/SMA se-derajat. Saya mengajukan pendekatan materi (material approach) dan pendekatan pribadi (personal approach) untuk menghasilkan pemahaman keagamaan yang inklusif. Pertama, pengajaran  filsafat menghubungkan iman (Glauben) dengan rasionalitas (Wissen). Diskursus filsafat  menguraikan konsep, metode serta dogma dasar dalam agama secara netral. Pendekatan ini melihat bahwa agama bukanlah fenomena ilahi tetapi manusiawi.

Setiap agama memiliki kebaikan universal. Pengajaran sejarah agama-agama juga menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Diskursus sejarah melacak proses evolusi keyakinan manusia terhadap Tuhan secara jujur. Sejarah mengutamakan pengertian daripada penghakiman. Kedua, setiap guru agama harus mencantumkan dua peserta didik yang berbeda iman ke dalam Kartu Keluarga. Aktivitas ini akan membentuk sikap kepedulian serta keberpihakan jangka panjang dalam jaminan UU No. 39 Tahun 1999.

Pendidikan Lintas Budaya : Liberty, Equality, Fraternity

Praktek pendidikan lintas budaya menganut teori interdependen. Teori ini mengemukakan bahwa manusia dan kebudayaan saling berhubungan secara dialektis. Hubungan tersebut meliputi aspek kognisi, motivasi dan emosi. Guru harus memberikan pengetahuantentang konsep kebebasan dalam pluralitas kesukuan yang selalu menekankan pada aspek yang disebut Sartre sebagai ‘otentisitas’ dan ‘individualitas’.

Guru harus memberikan motivasi internal   untuk menghasilkan keadilan dengan merujuk pada konsep social contract Rousseau. Kontrak sosial terjadi karena adanya hukum perbedaan, keterbatasan, ketergantungan dan solidaritas universal. Terakhir, guru harus melakukan ‘Live In’ guna menghidupkan emosi persaudaraan melalui konsep kecerdasan interpersonal Gardner.

Kontribusi penting dari model pendidikan lintas agama- budaya yang telah saya ajukan di atas adalah memperkuat pemahaman terbaik peserta didik terhadap hak asasi manusia, identitas sosial serta partisipati politik tanpa adanya ujaran kebencian sampai aksi kekerasan. [***]

Akses Jalan Umum Terganggu, Masyarakat Lingkar Kampus Kecam Rektor IAIN Manado

Kendaraan yang parkir membuat macet jalan umum (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Mestinya dipertimbangkan ulang oleh pihak Rektorat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado atas adanya kebijakan satu pintu yang diberlakukan. Pasalnya, efek dari kebijakan itu melahirkan kecaman dari warga lingkar kampus, dimana dilakukannya penutupan pintu masuk kampus di areal Masjid Kordova, membuat mahasiswa kesulitan memarkirkan kendarannya.

Menurut Maulana Rahmat, warga Kompleks Kampus kepada media ini menuturkan, masyarakat sekitar yang akses jalannya tertutup merasa dirugikan.

“Iya selama ini jalan masuk keluar kami melalui pintu utama yang disini. Kini kebijakannya jadi lain, ketika keluar dari lingkungan rumah sudah tertutup pintu kampus dengan kendaraan mahasiswa yang parkir. Padahal ini jalan umum bukan milik kampus. Kenapa masyarakat yang harus merasakan dampak?,” ujar Maulana tegas.

Hal senada juga disampaikan warga lainnya, Arjun Pomalingo selaku tokoh pemuda di lingkungan kampus menyesalkan itu dikarenakan bisa menimbulkan konflik antara warga dan mahasiswa.

“Bisa saja keresahan warga akan menimbulkan gesekan dengan teman-teman mahasiswa yang kendaraannya terparkir di ruas jalan. Padahal mereka juga hanya korban dari kebijakan kampus. Warga sini tidak masalah akses jalan dibatasi, akan tetapi jangan sampai akses jalan umum warga dipakai untuk tempat parkir,” tuturnya.

Sekedar diketahui, pihak kampus melalui penjaga keamanan kampus yang menerima keluhan warga menyampaikan akan menindaklanjuti hal tersebut kepada atasan dalam hal ini Rektor IAIN Manado. (*/Redaksi)

Kontestasi Sejarah & Penguatan Sains Pada Pesantren di Indonesia

Almunawar Bin Rusli (Foto Ist)

Oleh : Almunauwar Bin Rusli, M.Pd

(Dosen dan Peneliti IAIN Manado)

 

Tulisan ini merupakan refleksi saya atas Hari Amal Bakti Kementerian Agama RI yang ke-72. Tentu 72 tahun bukan lagi usia “ABG” untuk bersikap labil dengan tanggungjawab yang besar. Di usia senja seperti sekarang, seharusnya Kementerian Agama RI semakin dikenal, kontributif terhadap kebutuhan umat sehingga patut dirayakan oleh semua kalangan. Jika masih terpenjara pada “akhiratsentrisme” apalagi sudah menganut logika korporasi (untung-rugi), maka eksistensi Kementerian Agama RI niscaya akan mendapat tantangan berat. Ia menjadi semacam tubuh yang kehilangan kepala dan jantung hatinya, memiliki wujud namun tanpa signifikansi. Terjebak pada tradisi seremonial namun lupa merumuskan prinsip kerja yang aktual. Maka, usaha passing over and come back adalah strategi untuk membumi. Bereksperimentasi di ruang laboratorium juga observasi di alam semesta raya mutlak menjadi paradigma Kementerian Agama RI guna mengembangkan iklim Pendidikan Islam ke depan. Sehingga, agama beserta simbol-simbol tradisionalnya tidak sekedar formula sukses parahnya jika Tuhan hanya diperlakukan sebagai “a partner in business”. Awal mula kehadiran Kementerian Agama RI pun penting dinarasikan kembali agar memahami kontestasi sejarah masa lalu kemudian memberanikan diri memproduksi perspektif-perspektif baru akan kontestasi itu.

Dalam catatan akademik Professor Mujiburrahman, dijelaskan bahwa ”Faktor kelahiran Kementerian Agama (dulu Departemen Agama) RI tahun 1946 akibat perseteruan ideologis antara kelompok nasionalis dan kelompok Islam dalam menentukan dasar hidup bernegara. Pertentangan dua kubu itu lalu melahirkan kompromi awal yaitu Piagam Jakarta (kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya). Tapi, kompromi ini gagal dan harus diubah. Indonesia bukanlah negara agama dan bukan pula agama sekuler, melainkan negara Pancasila. Demikianlah Indonesia lebih bercorak negara multireligius dengan menempatkan Islam dalam posisi dominan di Kementerian Agama. Meski pada awal Orde Baru ada upaya memisahkan Islam dan politik seperti tuntutan membubarkan Departemen Agama, tuntutan menghapuskan pelajaran agama di sekolah serta usaha mensekulerkan UU Perkawinan. Tapi, usaha kalangan kebangsaan sekuler tersebut tidak sepenuhnya berhasil hingga kembali lagi ke kompromi semula”.

Mencermati pemaparan historisitas di atas, terlepas dari perdebatan-perdebatan ideologis, ada satu point penting yang ingin saya garisbawahi karena hal itu merupakan kebutuhan dunia pendidikan Islam saat ini. Point tersebut adalah semangat negara Pancasila. Selama ini, semua amanat dalam butir pancasila seolah telah berhasil direalisasikan, tapi gerakan pemerintah pusat (Kementerian Agama RI) _ yang notabene berwatak Islam alternatif akibat konstruksi historis_ untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terkait upaya penguatan sains pada pesantren di seluruh pelosok Indonesia (khususnya diluar Pulau Jawa) nampak masih berjalan satu kaki lalu terpeleset ke lubang paradoks yang curam.

Penguatan sains pada pesantren di Indonesia (salafiyah, modern) merupakan langkah yang tepat juga mendesak. Dikatakan tepat karena pakar sains Islam asal Belanda, Prof. Paul Lettinck mengatakan bahwa karya ilmuwan muslim yang berbentuk tulisan tangan sudah harus dicetak ulang dalam edisi modern, diterjemahkan, serta dikupas isinya, sehingga orang bisa memahami dan mengapresiasi karya itu. Hal ini ia sampaikan saat kuliah umum tentang sains Islam yang diselenggarakan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSIST) di Universitas Indonesia. Dengan demikian, upaya merekonstruksi tradisi ilmiah pada pesantren dapat berkembang melalui atmosfer pembelajaran yang logis, sistematis, sekaligus empiris. Tidak sekedar berorientasi langit tapi menghujam ke dasar bumi. Ian G. Barbour sendiri telah menyatakan bahwa perseteruan sains dan agama sudah terhenti pada gerbang integrasi. Saya yakin, tanpa tradisi seperti itu, maka para santri akan sulit bersaing. Sir Dr. Muhammad Iqbal pernah mengingatkan, mereka yang bergerak, mereka yang maju ke muka. Mereka yang menunggu, sejenak sekalipun, pasti tergilas.

Kemudian, dikatakan mendesak karena muncul fenomena ketimpangan infrastruktur, keringnya akses informasi dan lemahnya metode integrasi. Para pendidik pun kelihatan belum sanggup mengambil peran secara kreatif, kritis maupun atraktif. Bahkan parahnya, mereka terjebak kepada pola pembelajaran yang bersifat the context of justification bukan the context of discovery. Hari Juliarta Priyadi selaku Production Manager Surya Institute menerangkan bahwa data statistik menunjukkan partisipasi sekolah Islam dalam kompetisi sains sangat minim. Jika ada, pasti satu atau dua sekolah. Itu pun nama-nama yang sama. Di sisi lain, saya mencermati ketika ilmu sains diajarkan maka terkesan santri mulai diasingkan dari kehidupan nyata. Mereka dikontrol ketat di ruang kelas, disuapi dengan beragam instruksi serta teori positivistik garis keras. Sains (Matematika-IPA) pun akhirnya direduksi menjadi hafalan rumus semata. Tidak lebih. Padahal, ajaran Islam memandang posisi sains sebagai media efektif untuk menata logika dengan berlatih menemukan rumusan hikmah dibalik peristiwa kasat mata. Inilah sosok sains profetik, sains yang meletakkan kerangka epistemologisnya pada nilai-nilai humanisasi, liberasi, sekaligus transendensi sebagaimana kandungan QS Ali Imran 110.

Inilah pekerjaan rumah yang nyata bagi Kementerian Agama RI beserta seluruh jajarannya di usia ke-72 tahun. Pekerjaan rumah ini adalah salah satu ujian untuk membuktikan komitmen bersama demi menjembatani antara sains dan agama agar hubungan keduanya tidak lagi terbelah. Saya memiliki harapan besar, penguatan pendidikan sains pada pesantren di Indonesia dapat menggunakan pola Living Values Education Curriculum (LVEC) baik pada model sorogan (individual learning method), bandongan (classical learning method) maupun wetonan (periodic learning method). Implikasinya, penguatan sains yang kita lakukan akan selalu hadir sebagai benteng tauhid yang senantiasa merasuki jiwa perjalanan intelektual seorang santri menuju insan kamil, manusia yang berkarakter, cerdas, bijak, serta menjadi imam bagi masyarakat di masing-masing kampung halamannya. Sebab, ciri khas academic culture pesantren adalah spirit “Bahtsul Masa’il” . Sebagai penutup, karena cinta, intelek tumbuh berkenalan dengan realitas. Dan intelek memberikan stabilitas kepada kinerja cinta. Islam, bukan hanya jalan yang kita pilih, melainkan jejak apa yang akan ditinggalkan. Islam, adalah cara memahami dunia dengan cinta, kasih sayang, dan ilmu pengetahuan. Bukan justru terpanjara kepada simbol masa lalu. [***]

“Sunday Speaks” Membawa Sains Lebih Populer ke Anak Muda

Foto bersama usai diskusi (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Sunday Speaks, sebuah ‘brand’ baru diskusi kedai kopi, yang diusung oleh anak-anak muda dari Kelompok Studi Alternatif Manado kembali ramai. Minggu (7/1/2018), Bertempat di Gudang Imaji, kedai kopi yang ramah untuk tongkrongan anak-anak muda itu, Sunday Speaks tergelar dalam kemasan Bincang 42 Tahun “The Selfish Gene” Richard Dawkins.

Dipantik oleh Haz Algebra, seorang intelektual muda Manado yang sangat antusias terhadap perkembangan Life Science, buku yang berbau saintifik (dan filosofis) itu diurainya secara ringkas dan provokatif dengan tetap menggunakan bahasa sederhana dan populer.

“Buku yang terbit pertama kali di tahun 1976 itu memang sangat berpengaruh di dunia saintifik (terutama biologi dan sains sosial) karena berhasil mengubah cara pandang banyak ilmuwan dalam melihat dan menginterpretasi fenomena natur dan kultur. Tidak mengherankan jika buku ini masih terus beredar dan telah tiba pada edisi yang ke-40 tahun. Penulisnya, Richard Dawkins, juga terkenal sebagai pengusung paradigma sains baru dan pionir dalam cara penulisan sains populer yang bisa menjangkau khalayak awam,” ujar mantan Ketum Badko HMI SulutGo ini membuka perbincangan.

Membicarakan topik-topik sains di ruang publik, apalagi di kedai-kedai kopi, memang masih jarang ditemui di kota Manado. Kebanyakan khalayak, ketika berada di kedai kopi yang menyediakan ruang diskusi cenderung membincangkan isu-isu politik lokal maupun nasional, atau mengangkat tema yang berhubungan dengan relijiusitas. Beberapa ruang publik lainnya ada juga yang intens pada topik-topik filsafat atau sastra. Tapi sejauh ini, topik sains populer barangkali adalah varian baru untuk tren diskusi kedai kopi. Dan Sunday Speaks tampak tengah melakukannya.

Sejak pertama kali terselenggara di pekan terakhir bulan Desember tahun lalu, Sunday Speaks dibuka dengan diskusi Jaredian Perspective (atau pemikiran-pemikiran Jared Diamond) yang langsung dibawakan oleh Kepala Suku Studi Alternatif, Muhammad Iqbal, sebagai kelompok penginisiasinya. Dengan kembali mengangkat topik sains, Sunday Speaks tampaknya ingin ‘mematenkan’ topik sains sebagai varian pelengkap hidangan kopi di ruang publik.

Munazar Muarif, manajer yang mengurusi content diskusi di Gudang Imaji itu, ketika ditemui awak Suluttoday, mengamini bahwa mereka, lewat Sunday Speaks, ingin membawa sains lebih dekat ke masyarakat.

“Kami sedang menyambut era demokratisasi sains atau science go to public. Jadi, kami ingin membawa kajian-kajian sains natural maupun sains sosial secara populer agar lebih dekat dengan masyarakat, terutama pada anak-anak muda, milenial dan generasi-Z, yang ke depannya akan menjadi agen-agen sejarah. Kami tidak ingin generasi kami, generasi bonus demografi ini, buta dalam memandang hari ini dan masa depannya,” kata kandidat Magister Ekonomi Unsrat ini.

Anak muda yang menjabat sebagai Sekretaris Umum HMI Cabang Manado ini juga mengatakan bahwa ide ini lahir sebagai implikasi langsung dari aktivitas literasi yang mereka lakukan di Studi Alternatif yang menangkap berbagai pandangan banyak pemikir kontemporer yang cenderung bersepakat bahwa gerak sejarah kita ke masa depan akan lebih banyak lagi ditentukan oleh kemajuan sains dan teknologi.
“Politik kita, ekonomi kita, bahkan kondisi sosial budaya kita kelak akan kembali mengalami perubahan sebagai dampak dari perkembangan sains dan teknologi. Seperti yang pernah terjadi pada era Revolusi Industri. Tentu saja, ini memerlukan antisipasi, dan kita harus mengajukan pertanyaan yang tepat terhadap sains dan teknologi dalam kaitannya dengan sistem ekonomi, politik maupun sosial budaya yang kita anut hari ini,” tandas Munazar.
Meski demikian, Sunday Speaks tidak hendak menjadi panggung monolog bagi sains saja. “Ingin menjadikan sains sebagai diakursus populer ke masyarakat tidak berarti kami menjadi tertutup pada diskursus lainnya, apalagi filsafat dan sastra. Justru karena sebelumnya banyak teman-teman yang senangnya sudah sama filsafat atau sastra, maka tidak ada salahnya menambah satu lagi varian yang bisa disenangi, yaitu sains,” kata Muhammad Iqbal.

Generasi muda pembaharu penuh semangat belajar (Foto Suluttoday.com)

Adapun terkait narasumber yang harus dihadirkan, Kepala Suku Alternatif ini mengatakan bahwa tidak ada syarat khusus untuk bisa mengisi kajian di Sunday Speaks. Ia hanya lebih menekankan pada aspek literasi narasumber.

“Dalam KBBI, literasi itu kan artinya ada dua. Pertama terkait aktivitas membaca atau menulis yang darinya kita dapat pengetahuan. Yang kedua terkait pengetahuan atau keterampilan dalam bidang khusus atau aktivitas tertentu. Yang kedua ini bisa kita sebut pakar. Namun jika ada dari teman-teman kami yang rajin baca buku atau giat mendalami bidang tertentu dalam sains, maka kami akan mengundangnya untuk menjadi speaker di Sunday Speaks,” tegas Alumni IAIN Manado ini.

Diskusi hari ini berlangsung sukses dengan audiens anak muda lintas organisasi dan komunitas. Tampak hadir pula Ketua Lesbumi Sulut, Syafieq Bilfaqih, dan Direktur Nirwasita Institute Bolmut, Cakra Buhang, untuk meramaikan perbincangan. (*/Mas)

iklan1