Tag: iman karim

Dinilai Merusak Keutuhan Pemuda, HMI Manado Menolak Musda KNPI Sulut

Ketum HMI Cabang Manado, Iman Karim (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) versi Noer Fajrieansyah akan berlangsung Rabu (27/11/2019). Sebelum Musda berlangsung DPP KNPI versi Fajri juga telah mengeluarkan SK pengurus Caraterker.

Menanggapi hal itu, Selasa (26/11/2019) pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manado menyanpaikan penolakan dengan tegas. Musda tersebut menurut Ketua Umum HMI Cabang Manado, Iman Karim tidak layak dilaksanakan.

“Kita pemuda-pemuda di daerah harus mengerti sejarhnya Kongres KNPI di Bogor Desember 2018 silam. Bahwa Kongres tanggal 18 sampai 22 Desember 2018 itu menghasilkan Kanda Haris Pertama sebagai Ketua Umum DPP KNPI. Itu hasil Kongres KNPI ke-XV dan keputusan yang sah. Maka dengan itu, kami menolak Musda yang dilaksanakan versi Fajri,” ujar Iman.

Logikanya, tambah jebolan Fakultas Hukum Unsrat Manado itu, tidak masuk akal apabila dua kandidat yang bertarung didalam satu Kongres melahirkan dua Ketua Umum. Iman menyampaikan soal hasil perolehan suara saat Kongres di Bogor yang dimenangkan Haris.

“Telak dalam Kongres kemarin itu dimenangkan Haris Pertama dengan perolehan suara sebanyak 84. Kemudian Noer Fajriensyah hanya mendapatkan 82 suara. Kemudian, bukti-bukti pengakuan Noer Fajrieansyah atas kemenangan Haris juga tersebat dan disampaikan secara nyata waktu itu. Sekarang Noer Fajriensyah yang murni bukan untuk menyatukan pemuda malah membuat pemuda makin terpecah-belah,” tutur Iman yang juga menyebutkan setelah mengcarateker KNPI Sulut sama artinya Fajri mengganggu keutuhan pemuda Sulut.

Kader HMI Cabang Manado saat menggelar aksi unjuk rasa belum lama ini (FOTO Suluttoday.com)

Tambahnya lagi, HMI Cabang Manado menyayangkan hal ini bisa terjadi walaupun Noer Fajriensyah pernah menjabat sebagai Ketum PB HMI periode 2010-2013. Kata Iman, hal kurang baik terkait organisasi harus dikritik demi bersatunya pemuda karena dalam sejarahnya KNPI ini dibentuk oleh cipayung dengan cita-cita mempersatukan pemuda.

“Saya juga berharap langkah dari carateker untuk melaksanakan Musda ditunda dulu. Jangan terlalu gegabah untuk melaksanakan Musda tersebut sebelum ada rekonsiliasi antar tokoh pemuda. Sebagaimana menjadi cita-cita kita bahwa KNPI sulut harus menjadi poros bersatunya tigalisme KNPI yang ada,” ujar Iman menutup. (*/Redaksi)

Pengajian KAHMI Manado, Benih Radikalisme Ada di Semua Agama

Berlangsungnya pengajian (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Wacana radikalisme yang disuarakan pemerintah menuai kontroversi. Muncul dugaan ini proxy negara untuk alihkan masalah. Namun ada juga mengakui radikalisme itu fakta. Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Manado coba merajut gagasan para aktivis dalam diakusi Pengajian Inklusive bertema Proxy Radikalisme Fiksi atau Fakta.

Waktu dua jam tidak cukup rasanya bagi puluhan aktivis muda untuk menemukan titik temu tentang radikalisme fiksi atau fakta. Diskusi yang diramu KAHMI Manado di sebuah warung kopi 69, Perkamil, Jumat (8/11/2019) sore melahirkan dua pandangan berbeda. Malah Pemantik dialog Anis Toma MAg mengakui radikalisme ini proxy. Bisa hanya fiksi dan bisa menjadi fakta.

”Saya pun tidak berani menyimpulkan apakah radikalisme ini sengaja diciptakan oleh kelompok tertentu atau memang negara melihat ada gejala radikalisme di tengah warga,” kata Kepsek MIN 2 Manado ini.

Selaku moderator Rizaldy Pedju MH memberikan kesempatan kepada Presidium KAHMI Manado, Idham Malewa dalam memberikan penjelasan terkait kegiatan tersebut. Kata Idam, radikalisme menjadi boming di mana-mana. Makin masif di era pemerintahan Jokowi jilid 2. Melalui Menkopolhukam dan menteri agama.

”Pengajian bulanan ini adalah kerinduan bagi Alumni HMI Kota Manado guna menjalin silaturahmi dan peka terhadap tema kontekstual. KAHMI mampu menjawab tantangan sebagai agen of changes yang progresif,” tutur Idham yang juga Alumnus Fakultas Ekonomi Unsrat Manado.

Selain itu, jurnalis senior ini menegasikan agenda tradisi intelektual tak ada kaitan dengan Muswil KAHMI Sulut dan agenda politik 2020. Rizaldy mengantar diskusi dengan sedikit mengurai definisi radikal (radiks).

”Isu radikalisme di Indonesia mulai mengundang keresahan. Isu ini terus berkembang dan dianggap gerakan yang dapat merenggangkan integritas bangsa dan bernegara,” jelas dosen muda IAIN Manado.

Pengajian perdana KAHMI Manado setelah istirahat selama setahun lebih, dihadiri puluhan aktivis muda. Di antaranya Sekretaris PPP Sulut Agus Abdullah, Wakil Ketua KNPI Sulut Iswadi Amali, Wakil Ketua Pemuda Muslimin Sulut Fadly Kasim, Ketua BM PAN Sulut Faisal ‘Bang Toyib’ Salim, Sek BM PAN Gilang Ramadhan, Ketua Tidar Sulut Syarif Darea, Sekum PAN Manado/KAHMI Minut Ronal Salahuddin.

Hadir pula Aktivis Muhammadiyah Jeffry Alibasyah, Komisioner Bawaslu Kota Bitung Zulkifli Densi, Hadi, Ketua Bawaslu Boltim Haryanto, Ketua Prisma Sulut Dr Mardhan Umar, Wakil Dekan Tarbiyah IAIN Manado Dr Feiby Ismail dan para aktivis Suling Manado.

Dari KAHMI ada Anggota Presidium KAHMI Manado Fadilab Polontalo dan dr Zainal Ginsu, Sekum KAHMI Manado Mazhabullah Ali serta Ketum HMI Manado Iman Karim dan pengurus HMI Manado lainnya. Anis membuka dialog dengan menegaskan makna radikal sesungguhnya. Radikal secara etimologi adalah hal secara mendasar (principle). Radikalisme perlu dipandang dari 2 kacamata yang berbeda. Radikal positif dan serta radikal negative.

”Radikal Positif maksudnya adalah secara mendasar kita pegang sebagai suatu prinsip hidup kita, misalnya terkait keyakinan (iman), nasionalis dan hal-hal prinsip lain terkait kemanusiaan. Sedangkan negatif maksudnya prinsip kita yang paling benar dan prinsip orang lain salah atau dalam Islam kita bisa katakan mudah mengkafir-kafirkan orang yang berbeda madzab atau aliran dengan kita,” tutur mantan Ketua Komisariat IAIN Manado ini.

Anis menyentil mengangkat sejarah dalam di zaman sahabat nabi telah ada peristiwa yang melatarbelakangi kelompok yang melahirkan gerakan radikal. Misalnya peristiwa lahirnya kelompok Khawarij , antara kelompok Muawiyah dan Ali bin AbiThalib.

Khawarij merupakan suatu kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang kemudian keluar dan meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang Shiffin pada tahun 37 h/648 M dengan kelompok Muawiyah bin Abu Sufyan persengketaan khalifah.

”Ada juga Peristiwa 11 September 2001 di Amerika mengakibatkan runtuhnya Gedung WTC oleh kelompok Al-Qaeda dipimpin oleh Osama Bin Laden. Dari sini lahir stereotip bahwa Islam identik dengan radikal sehingga label itu menyebar yang akhirnya lahirnIslamophobia,” tandasnya.

Anis mengatakan ada 4 Faktor benih radikalisme. Faktor Ekonomi, Politik, Psikologi dan Pendidikan. Diantaranya faktor ini bisa jadi faktor utama suatu individu atau kelompokmenjadi radikal. Terkait Radikalisme itu Fakta atau Fiksi, kata Anis fakta yang menerangkan tentang bahaya laten radikalisme.

”Kita tidak bisa menutup mata adanya fakta kelompok radikal di Indonesia, namun disisi lain adanyasuatu grand desain bahwa umat islam sebagai lakon opera yang dimainkan aktor intelektual global yang hendakmengembangkan isu Islamophobia juga adalah suatu faktatersendiri, yang mengiring bahwa tumbuh suburnyaRadikalisme di Indonesia adalah suatu fiksi belaka,” ucapnya tegas. (*/Redaksi)

Peduli PAPUA, HMI Manado Gelar Aksi ‘Indonesia Damai’

Orasi dilakukan di depan Mantos (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Melihat konflik yang saat ini semakin memprihatinkan terlebih khusus yang terjadi di Papua, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manado menyelenggarakan aksi damai pada Senin (30/9/2019). Aksi kemanusiaan yang dilaksanakan merupakan suatu bentuk solidaritas terhadap ketidakadilan yang menimpa saudara-saudara yang ada di Papua.

Menurut Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi Kanda Prana Kadjaya, memaparkan beberapa poin yang mendasar terkait dengan gerakan tersebut.

“Poin yang kami bawa diantaranya adalah Wujudkan Pancasila sila ke 5, Menyambut Kedatangan Mahasiswa Papua di Bumi Nyiur Melambai, Indonesia damai tanpa penindasan, Sulut Aman Untuk Mahasiswa Papua,” ujar Korlap Aksi Kanda Prana Kadjaya.

Berbagi bunga, bertanda cinta kedamaian dan kerukunan (FOTO Suluttoday.com)

Sementara itu, Kanda Iman Karim selaku Ketua Umum HMI Cabang Manado mengajak warga Sulawesi Utara terlebih khusus masyarakat Kota Manado untuk mencintai perdamaian.

“Kami mengajak kepada seluruh masyarakat untuk terus menerapkan perdamaian dalam hubungan sosial terlebih di daerah Kota Manado yang telah berpredikt Kota Paling Toleran di Indonesia,” ungkap Kanda Iman Karim.

Tak hanya itu Kanda Iman menambahkan wujud nyata dari aksi kemanusiaan yang dilaksanakan oleh HMI Cabang Manado. “Kami melakukan pembagian bunga sebagai implementasi untuk merajuk solidaritas dan cinta damai kepada seluruh warga masyarakat yang ada,” tutu Ketum HMI Cabang Manado ini menambahkan.

Iman juga berharap pelajar maupun mahasiswa Papua yang saat ini belum kembali ke Manado agar dapat melanjutkan dan melakukan aktivitasnya.

Aksi bagi bunga dari kader HMI Cabang Manado (FOTO Suluttoday.com)

“Harapan saya untuk seluruh mahasiswa papua yang kembali ke daerahnya masing-masing, Sulut saat ini sangat aman dan siap menerima keberadaan saudara-saudara yang akan melanjutkan studi,” tegasnya menutup.

Adapun serangkaian aksi dilaksanakan dari depan Mantos hingga di pusat keramaian Mega Mall Manado. (*/Redaksi)

Hadiri Pleno II PB HMI di Bogor, Iman Karim: Pecat Kader Pembangkang Organisasi

Iman Karim bersama Pj Ketum PB HMI (FOTO Suluttoday.com)

JAKARTA, Suluttoday.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi mahasiswa tertua dan salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Selain itu, HMI yang selalu mengawal kepentingan masyarakat ini dalam perjalanan sejarah andil dalam berbagai hal pembangunan. HMI merupakan perwujudan dari Harapan Masyarakat Indonesia.

Ironisnya, dalam kondisi internal PB HMI 2018-2020 atau Pengurus Besar (PB) HMI kini terjadi pergolakan yang cukup besar karena lahirnya 2 kepemimpinan diinternal HMI. Memang dinamika internal seperti ini bukan hal yang baru didalam HMI sebagaimana terjadi di tahun 85 pada persoalan Asas Tunggal hingga di periode 2010-2012 yaitu dualisme kepemimpinan antara Noer Fajriansya dan Basri Dodoh.

Terakhir pada periode 2018 dan 2020 ini yaitu antara R. Saddam Al jihad dan Arya Kharisma Hardy, fluktuasi serta tantangan seperti ini memang sudah pernah terjadi tetapi dalam periode ini sunggu sangat memprihatinkan karena menyangkut harkat martabat HMI sebagai kader umat dan bangsa.

Sehingga dampaknya sampai pada tingkatan Badan Kordinasi (Badko), Cabang atau Komisariat tidak terkecuali HMI Cababang Manado. Persoalan yang harus di selesaikan ini sehingga menggerahkan Ketua Umum HMI Cabang Manado Iman Karim untuk dapat menyelesaikan konflik ini dengan menghadiri Sidang Pleno II PB HMI yang diselenggarahkan di BNPB Centre Bogor.

Acara yang diselenggarahkan PB HMI sejak tanggal 02-04 September 2019 ini dihadiri 148 cabang se-Indonesia. Sebagaimana keterangan dari Iman Karim, HMI Cabang Manado menerangkan untuk memecat kader HMI yang ingin memecah belah HMI itu sendiri dan mengakui kepengurusan yang di bawah Pj Ketua Umum Arya Kharisma Hardy.

”Sesuai pedoman organisasi AD/ART HMI, dan ini diperkuat dengan hasil sidang MPK PB atau Majelis Pengawas dan Konsultasi PB HMI, dengan mengeluarkan SK MPK PB HMI dengan NOMOR: 08/KPTS/A/05/1440H, dengan hasil putusan salah satunya memberhentikan Saudara R. Saddam Aljihad sebagai Ketua Umum PB HMI periode 2018-2020. Sudah jelas, demi konstitusi HMI silahkan dipecat kader-kader HMI yang menjadi pembangkang,” ujar Iman.

Kemudian, tambah Iman, rekomendasi eksternal yaitu mendesak pemerintah pusat agar dapat menyelesaikan masalah kemanusiaan yang di hadapi warga Afghanistan di Manado. Sehingga terjadi pembakaran diri di Rudenim Manado, serta mendesak pemerintah agar mencabut Moratorium Daerah Otonom Baru dalam hal ini mempercepat pemekaran Provinsi Bolaang Mongondow. (*/Redaksi)

Milad ke-72, HMI Cabang Manado Gelar Doa Bersama

Foto bersama usai perayaan Milad HMI (FOTO Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Dalam memperingati Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-72, sejak kelahirannya pada 5 Februari 1947. Organisasi HMI yang diprakarsai oleh Prof Lafran Pane, membuktikan kesetiannya dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.

Semakin tua usia membuat semakin matang dalam berdinamika. Terbukti sampai sekarang HMI telah melahirkan kader-kader bangsa. Di usia ke-72 ini sudah sepantasnya kader HMI mampu menunjukan produktifitasnya sebagai organisasi mahasiswa terbesar dan tertua di Indonesia untuk menjawab tantangan zaman di era digital ini.

Hal ini seharusnya dijadikan peluang oleh kader-kader HMI untuk kebangkitan kembali dan menuju masa kejayaan Himpunan Mahasiswa Islam. Berbeda dengan tahun-tahun kemarin, milad HMI ke-72 kali ini diperingati dengan doa bersama untuk para korban bencana alam di Kota Manado. Acara milad ini dihadiri oleh sepuluh Komisariat dibawah naungan HMI Cabang Manado, yang dilaksanakan di Masjid Ulil Albab, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Selasa (5/2/2018) kemarin.

Suasana doa bersama (FOTO Suluttoday.com)

Ketua umum HMI Cabang Manado Iman Karim yang juga salah satu lulusan Pascasarjana Unsrat, menyampaikan beberapa hal untuk seluruh kader HMI Cabang Manado. Kegiatan yang diselimuti kesederhanaan ini merupakan refleksi dari sejarah HMI itu berdiri.

”HMI lahir diruang yang sederhana yaitu ruang kelas mata kuliah pada kala itu diruang kelas tafsir dengan dosen Husein Yahya. Dari sini kita mampu melihat bahwasanya HMI itu sangat biasa dengan sebuah proses kesederahanaan. Dan juga HMI hadir untuk menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat,” ujar Iman Karim.

Ditambahkannya, sebagaimana sejarah mengukir proses perjuangan HMI dan sumbangsinya terhadap masyarakat Indonesia.

”Hal itu dapat dilihat dari pernyataan Jendral Sudirman. HMI merupakan Harapan Masyarakat Indonesia, sebagaimana HMI berada di gardah terdepan dalam memperjuangan hak masyarakat Indonesia,” ucapya.

Met milad HMI (FOTO Suluttoday.com)

Dan hari ini sama dengan 72 tahun yang lalu, HMI masih konsisten dengan semangat para pendiri HMI. Dilihat dari kesederhanaan memperingati Milad HMI pada khususnya Cabang Manado dan sekaligus mendoakan masyarakat Kota Manado yang pada jumat lalu terkena musibah bencana banjir dan telah memakan korban jiwa.

”Berbeda dengan cabang-cabang yang lain serta pengurus PB HMI yang menyelenggarakan milad hmi diruang yang megah. Hmi Cabang Manado juga bisa menyelenggarakan kegiatan di tempat yang megah dilihat dari posisi strategis dari para alumni HMI. Tetapi itu bukanlah substansi kita memperingati Milad HMI. Sebagaimana dalam momentum ini kita mampu menjiwai semangat dari para founding himpunan ini,” tutup Ketua Umum Cabang Manado. (*/Redaksi)

iklan1