Tag: incinerator

Corry, Pemilik Dodika Incinerator Beri “Hadiah” di Ultah Tresje Mokalu

Corry Sanger (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Tepatnya, Kamis (11/6/2020) Tresje Mokalu, Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado ketambahan umurnya. Di Ulang Tahun (Ultah) kali ini, Tresje mendapat ucapan dari pemilik Dodika Incinerator yang tidak lain adalah pemilik mesin Incinerator di Pemkot Manado. Yang sampai saat ini proses pembayarannya terkatung-katung.

Corry menyampaikan selamat Ultah, dan menitipkan pekerjaan (tugas) yang harus dituntaskan Tresje. Pengusaha dan kontraktor yang mimiliki reputasi itu mengharpkan agar Tresje dapat mempercepat pembahayan uang hasil pengerjaan proyek sesuai ketentuan yang berlaku.

“Selamat Ultah Ibu Tresje Mokalu, Plh Kadis LH Kota Manado. Ayo selesaikan tanggung jawab anda. Selaku pengguna anggaran anda jangan sampai pensiun dengan catatan yang buruk. Saya berharap sisa pengerjaan proyek pengadaan mesin Incinerator diselesaikan. Masih berkisar Rp. 2,6 miliar yang harus saya terima,” ujar Corry yang menyebut hitungan tersebut diluar biaya patologis.

Pada Suluttoday.com, Jumat (12/6/2020), Corry mengajak Tresje agar diberi hikmat dan kebijaksanaan sehingga tau membedakan hak-hak orang lain yang perlu ditunaikan. Apalagi kata Corry, Tresje menjadi birokrat perempuan yang punya rekam jejak tersendiri. Belum rampungnya pembayaran proyek tersebut bisa menjadi batu sandungan bagi Tresje bila tidak diselesaikan dengan baik.

“Saya kan perempuan sama seperti Ibu Tresje Mokalu, mari kita menjaga nama baik. Semoga diusia yang bertambah tahun ini, Ibu Tresje lebih bijak. Dan dapat membedakan hak orang lain dan hak sendiri. Saya menuntut hak saya, kareka pekerjaan telah rampung. Sampai kapanpun saya menagih uang suar keringat saya ini,” ujar Corry.

Tak hanya itu, pengusaha yang berkiprah di Jakarta ini mengaku sejak awal keterlibatannya dalam proyek Incinerator sebagai penyedia alat karena di undang Wali Kota Manado, GS Vicky Lumentut. Corry mengharapkan pula agar Wali Kota Manado tidak melepas tangan dalam situasi saat ini.

“Tentu saya tidak mau dirugikan dan ditipu. Ibu Tresje tau betul situasinya, kemudian saya ini sampai terlibat dalam pekerjaan ini karena diminta Pak Wali Kota Manado, GS Vicky Lumentut. Diharapkan Wali Kota tak lepas tangan, dan tergugah dengan kondisi ini, lalu menyelesaikan tunggakan Pemkot Manado kepada saya. Hadiah saya kepada Ibu Tresje Mokalu di Ultahnya ini adalah segera selesaikan urusan ini, jangan main-main,” tutur Corry, perempuan asal Sulawesi Utara (Sulut) ini.

Tidak hanya itu, Corry berjanji akan mencicil satu persatu data yang ada di tangannya guna menegakkan keadilan. Apa yang ditempuh melalui komunikasi mengingatkan Pemkot Manado saat ini merupakan penanda bahwa dirinya masih menghargai janji Wali Kota Manado agar persoalan ini diselesaikan secara baik-baik.

“Sudah pasti saya secara berkala membuka dan bicara apa adanya. Saat ini saya masih menunggu janji Pak Wali Kota Manado dalam pembayaran sisa proyek yang saya kerjakan. Semua data ada kok di tangan saya, kalau saja Pak Wali tak ambil pusing, maka mohon maaf kita harus berhadapan dalam penegakan hukum. Jalur hukum akan ditempuh,” tukas Corry menutup.

Untuk diketahui, soal pengadaan Incinerator Pemkot Manado kini bergulir dalam proses hukum. Dan sedang ditangani Kejaksaan Negeri Manado. Selain itu, meski masih ada kemelut, proses tender untuk anggaran di tahun 2020, berdasarkan informasi Suluttoday.com, akan ditetapkan pemenangnya, Jumat (12/6/2020) hari ini. Sebanyak 5 unit ditenderkan. 2 unit diantaranya telah siap anggarannya, dan 3 unit ditargetkan November 2020. Tak hanya itu, mesin Incinerator dari Dodika, milik Corry Sanger ini juga sempat digembok. Lalu, di buka kembali Plh Kepala Dinas LH Manado, Tresje Mokalu, tanpa melibatkan Corry Sanger.

(*/Bung Amas)

Lahirkan Prahara, RUNTUWENE: Incinerator Bukanlah Ide Cerdas

Theo Runtuwene (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – LSM yang dikenal konsen terhadap kajian lingkungan dan advokasi kini mulai angkat bicara soal pengadaan Incinerator di Kota Manado. Melalui Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah Kota Manado membeli mesin Incinerator, namun sayangnya masih penuh prahara. Pasalnya, bukan hanya proses lelangnya dipertanyakan sejumlah anggota DPRD Manado, pembayaran yang bermasalah ke pihak sub-kontraktor, dan bermunculan polemik lainnya. Kini timbul lagi protes dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

WALHI Sulawesi Utara (Sulut), melalui Direktur Eksekutif, Theo Runtuwene menyebutkan bahwa pengusulan sampai perealisasian alat Incinerator adalah menandakan bukan sebagai ide yang cerdas. Menurutnya, harusnya ada pertimbangan dan kajian yang holistik sebelum proyek tersebut dijalankan. Untuk konteks Kota Manado saat ini, Incinerator bukan menjadi skala prioritas, apalagi disebut emergency.

”Ingat Incinerator bukanlah ide cerdas. Kami WALHI Sulut sudah berkali-kali menawarkan usulan bahwa selesaikan problem sampah di Kota Manado ini dengan konsepsi yang terintegrasi dan utuh, mulai dari hulu sampai hilir. Bukan dengan pengadaan Incinerator yang lebih bersifat proyek tersebut,” ujar Runtuwene, Senin (2/3/2020).

Selain itu, Runtuwene menyebut Incinerator sangat membahayakan masyarakat disekitar alat tersebut beroperasi. Harusnya ada sistem berpola yang diterapkan pemerintah Kota Manado dalam memerami beban sampah. Pemerintah Kota Manado juga diminta Runtuwene untuk kembali membaca Undang-Undang soal Lingkungan Hidup agar tidak salah kapra dalam realisasi program.

”Sistem mengatasi sampah harus berpola. Jangan asal-asalan, seperti tiba saat tiba akal. Pemerintah Kota Manado juga kami harapkan dapat membaca kembali Undang-Undang Lingkungan Hidup, sehingga tidak kontradiktif antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat dalam soal mengatasi sampah ini. Sekarang kami bertanya, Incinerator yang dipakai sekarang suhunya berapa?. Bahayanya ada dioksi yang berada disisa-sisa sampah. Belum lagi harus dilakukan proses pemiliharaan, yang sangat rumit dan biayaannya cukup mahal, dan bahan bakar juga perlu dipikirkan. Bukan menambah beban,” tutur Runtuwene kepada Suluttoday.com.

Runtuwene meningatkan agar pemerintah konsen mengajak masyarakat memilah sampah dari keluarga, mana sampah basah dan mana sampah kering. Cara mengatasi sampah haruslah mencerminkan sebagai masyarakat sadar lingkungan. WALHI Sulut menduga pencemaran tanah, karena ada merkurinya juga bisa mengancam masyarakat. Belum lagi, tambah Runtuwene, Incinerator tidak menyelesaikan problem sampah. (*/Amas)

Soal Incinerator, LUCKY Minta Pemerintah Kota Manado Terbuka

Lucky Datau, anggota DPRD Kota Manado (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Polemik mesin incinerator rupanya belum usai. Setelah dibukanya gembong dan segel pihak kontaktor karena belum selesainya pembayaran proyek. Kini masih mencuat masalah soal pembayaran, kemudian teknis kerja serta pemanfaatan alat tersebut kepada masyarakat Kota Manado. Menurut Lucky Datau, anggota Komisi III DPRD Kota Manado pentingnya pemerintah Kota Manado terbuka menyampaikan sesuatu yang apa adanya kepada masyarakat.

”Ada kesan publik bahwa pemerintah Kota Manado belum benar-benar terbuka. Sulit juga jika ada kecenderungan menyimpan sesuatu. Muncul spekulasi, dugaan bahwa proyek pengadaan incinerator ini asal dikerjakan. Pemerintah Kota Manado dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado harus terbuka menyampaikan informasi dan tentu masyarakat merindukan informasi yang tepat, bukan berbantah-bantahan dengan pihak ketiga. Karena proyek Miliaran rupiah ini merupakan anggaran milik masyarakat, untuk itu publik perlu tau,” ujar Datau.

Legislator vokal dan apa adanya itu mengungkapkan soal teknis kerja dari dioperasikannya mesin incinerator. Lucky menyebut kalau dikalkulasi produksi sampah dengan pembakaran sampah yang ditangani mesin incinerator sangatlah tidak berimbang. Politisi PAN ini menambahkan bahwa dari pihak kontarktor ke pemerintah saat proyek itu selesai dilaksanakan, maka diperlukan pula pelatihan terhadap para pekerja agar mengetahui cara kerja incinerator secara profesional.

”Kalau berdasarkan pengetahuan kami dari kunjungan kerja, maka masa beroperasinya mesin incinerator tidak 24 jam tanpa istirahat. Melainkan, dalam satu kali beroperasi, mesin ini perlu istirahat kurang lebih 2 jam. Berarti kalau kita hitung dengan produksi sampah per hari, sungguh sangat tidak rasional. Artinya, mesin incinerator tidak bisa menjadi solusi. Apalag disebut sangat mendesak, perlu ada invosi lain. Bukan sekedar pengadaan mesin incinerator yang memakan anggaran miliaran rupiah ini,” tutur Datau sambil menambahkan pentingnya kejujuran dalam menyampaikan hal ini. (*/Amas)

WALHI Sulut: Incinerator Membahayakan Warga Manado

WALHI dan mesin incenerator (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Dinilai membahayakan, LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Utara (Sulut) menyampaikan sikap tegasnya soal kebijakan pemerintah Kota Manado terkait pengadaan mesin incinerator. Sabtu (29/2/2020), saat diwawancarai Direktur Eksekutif WALHI Sulut, Theo Runtuwene menyebutkan bahwa pengadaan inceneratir merupakan kebijakan yang membahayakan masyarat Kota Manado.

‘’Harus diingat alat incinerator ini bukanlah solusi tepat menyelesaikan masalah sampah di Manado. Malah yang terjadi adalah kebijakan ini membunuh masyarakat, karena beresiko. WALHI Sulut secara tegas menolak mesin incinerator ini, incinerator membahayakan warga Manado. WALHI mengajak masyarakat sama-sama kita menolak incinerator. Apalagi yang beroperasi di pemukiman warga, maka berefek pada keselamatan masyarakat. Apakah sudah dilakukan uji emisi?, lalu pemerintah lupa bahwa incinerator ini menghasilkan dioksi yang menyebabkan kanker, tumor dan penyakit ganas lainnya,’’ ujar Runtuwene pada Suluttoday.com.

Runtuwene menambahkan bahwa masyarakat yang terkena dampak dimana tempat atau lokasi diopearasikannya mesin incinerator, harus dijamin kesehatan dan keselamatan mereka. Disampaikannya pemerintah Kota Manado harus memikirkan solusi jangka panjang dari aktivitas mesin incinerator kepada masyarakat, terutama juga pekerjanya.

‘’Asap dari mesin incinerator juga membawa dampak polusi udara. Ini sama saja Wali Kota Manado membunuh secara berlahan warganya. Sebab dalam amatan kami keselamatan masyarakat bisa terancam kalau alat ini dioperasikan tanpa ada kajian yang komprehensif. Apakah pemerintah Kota Manado dapat menjamin bahwa incinerator tidak menimbulkan kanker dan tumor?, kami sangat khawatir permasalahan yang ditumbulkan malah makin rumit dan merugikan masyarakat,’’ kata Runtuwene.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Manado, Tresje Mokalu saat dikonfirmasi Suluttoday.com melalui WhatAspp tidak menjawab pertanyaan wartawan. Terkait AMDAL, bahaya bila diterapkannya alat incinerator, apakah sudah diuji emisi, juga menjadi pertanyaan yang belum terjawab dari Kadis Mokalu sampai berita ini diterbitkan. (*/Amas)

iklan1