Tag: kampung islam

Bacarita Imajiner dengan Mantan Wali Kota Manado, Ir NH Eman

Tauhid (Foto Istimewa)

Sembako Saatnya Dibagikan.

Bagaimana sebuah kota cerdas, memanajemi dampak Covid-19 juga secara smart? Blum dapa rasa kan? Masih ada stel stel stow… Saya pun mencoba menemui Bapak Ir NH Eman, Mantan Walikota Manado untuk babatanya secara imajiner seputar langkah-langkah penanganan dampak Covid-19. Berikut nukilan imajinernya.

PERTANYAAN: Pak Eman kan pernah memimpin Manado. Seandainya bapak masih memimpin di tengah musibah dan bencana Covid-19, apa yang akan dilakukan.

PAK EMAN: Saya kira generasi2 sekarang ini sudah pintar pintar dibanding generasi kita lebih dahulu. Kelebihan kita di masa lalu, sinergitas dan kolaborasi. Yang saya lihat sekarang ini kepintaran yang dominan. Sinergitas dan kolaborasi itu kurang dimanfaatkan.

PERTANYAAN: Bisa dijelaskan lebih konkrit Pak?

PAK EMAN: covid 19 ini kan persoalan global. Persoalan dunia. Ini bisa diselesaikan, kalau negara negara bisa menyatukan sikap bersama. Namun meski negara-negara satu sikap, kalau cuma sampai di wacana sama saja. Negara negara miliki satu sikap, perlu sokongan sikap juga dari bangsanya itu sendiri. Bangsa itu, ya…rakyat dengam berbagai latar kelebihan dan kekurangannya. Negara melalui, perangkat perangkatnya, orang orang yang memiliki kekuasaan dan mereka yang ditunjuk dan diberi peran, harus sinkron dan bekerja sesuai kapasitas dan keefektifannya.

PERTANYAAN: Kalau di daerah kita, khususnya Manado, bagaimana membijakinya, Pak?

PAK EMAN: seperti yang saya bilang tadi. Persoalan ini, adalah masalah global. Kita harus bersinergi dengan pemerintah pusat. Kita harus komunikasi dengan pemerintah provinsi, khususnya Gubernur. Ini untuk mengatur langkah yang sama. Manado dan daerah kota/ kabupaten di Sulut harus dengan derap langkah yang satu padan.

PERTANYAAN: Pak Eman melihat sudah atau belum ada derap satu padan?

PAK EMAN: Saya tidak mengatakan belum atau sudah. Tapi kan kita bisa lihat, sikap pemerintah BMR yang sudah sepakat mengawasi arus keluar masuk orang di wilayahnya. Pendekatan di wilayah wilayah BMR mungkin tidak sama dengan Manado sebagai epicentrum roda ekonomi dan pemerintahan.

PERTANYAAN: Kalau Pak Eman sendiri masih memimpin Kota, apa yang bapak akan lakukan.

PAK EMAN: Saya kira sama seperti yang sudah dilakukan saat ini. Berusaha memberi pemahaman yang benar seputar masalah Covid-19 kepada masyarakat. Informasi ini perlu benar benar dikelola secara apik. Mungkin saja, kita membentuk tim di kampung kampung dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tokoh agama. Kalau perlu tim ini dibentuk secara sukarela di tiap lingkungan untuk mem-back up pemerintah kelurahan. Begitu jenjangnya sampai ke Pemkot dan Pemprov.

PERTANYAAN: Apakah ini bukan sesuatu pekerjaan yang Sulit? Mengingat di satu sisi, masyarakat kita terbebani dengan kondisi ekonomi yang sulit.

PAK EMAN: Itulah yang perlu dikomunikasikan dengan baik. Bagaimana mengatasinya. Bagaimana solusi solusinya. Inilah tugas tim tim kecil di kampung, yang secara psikologis, sosial dan poltik memahami persoalan itu di kampungnya. Pemerintah Kota membantu sesuai kapasitas dan kemampuannya.

PERTANYAAN: Apakah bantuan dimaksud, bantuan sembako langsung kepada warga masyarakat?

PAK EMAN: Ya… salah satunya. Kita harus memikirkan secara cepat dan efektif. Kita Hitung brapa keluarga yang benar benar butuh bantuan sembako. Kita harus lakukan. Disamping itu, bagaimana pemerintah melakukan pendekatan pendekatan kepada perusahaan dan pribadi untuk merangsang jiwa sosialnya. Tidak bisa jalan sendiri sendiri.

PERTANYAAN: Apakah Pak Eman melihat ada kesan seperti itu saat ini?

PAK EMAN: Anda lihat dan rasakan. Kalau Anda bagimana? Kan bisa dilihat, amati dan rasakan. Manado ini memang harus berpikir beberapa langkah ke depan dibanding daerah kabupaten lain. Itu karena Manado adalah sentralnya Sulut.

PERTANYAAN: Lantas konkritnya bagiaimana, Pak?

PAK EMAN: Kita harus membangun komunikasi yang baik. Kita harus membetdayakan perangkat perangkat kita dengan baik. Kita harus meminggirkan ego kita. Perbedaan perbedaan pandangan dan politik kita perlu disingkirkan. Menjunjung persoalan kemanusiaan adalah hal yang hakiki. Persoalan hakiki harus menyampingkan persoalan dan perbedaan itu.

PERTANYAAN: Komunkasi seperti apa yang paling mendesak dilakukan?

PAK EMAN; Komunikasi dengan semua stake holder. Komunikasi dengan gubernur juga sangat perlu. Kita harus banyak memberi masukan sekaligus meminta arahan dari gubernur. Karena beliau bisa memoderatori sikap sikap apa, dan pendekatan bagaimana yang harus dijalankan. Yang punya teritori dan rakyat kan pemerintah kota dan kabupaten. Tapi gubernur punya otoritas khusus dalam hal hal strategis. Baik masalah anggaran maupun kebijakan kebijakan lain. Tanpa membangun sinergitas dan komunikasi yang baik, apa yang kita usahakan tidak akan maksimal.

PERTANYAAN: Kalau komunikasi sudah baik, apalagi yang harus dilakukan, Pak.

PAK EMAN: Ya… kita berdayakan perangkat yang ada. Apalagi saat ini sistem informasi yang sudah sedemikian maju. Informasi mudah didapat, gampang dibsalurkan. Murah lagi.. Mungkin perlu dibuat sistemnya, sehingga informasi tidak liar. Bisa dipercaya dan efektif. Sebenarnya pemkot sudah memilikinya Tinggal pengelolaannya saja. Misalnya, ada ruang khusus yang menampung informasi, aspirasi dan solusi dari warga. Bisa segera ditindaklanjuti. Ada petugas yang menfilter dan mengelompokkan informasi dimaksud. Sekali kali, pemerintah meminta masukan soal kebijakannya. Ini harus dipelototi 1×24 jam.

PERTANYAAN; Maksudnya mengelola informasi dari bawah? dari masyarakat?

PAK EMAN: Iya dong. Kita dapat masukan dari masyarakat. Kita salurkan informasi yang perlu. Semua ini dibutuhkan untuk efektivitas dan efisiensi dengan pergerakan cepat. Ini situasi yang tidak normal. Saat ini dibutuhkan pergerakan dan kebijakan yang cepat dan efektif dengan program yang sesuai kebutuhan rakyat. Nda bisa disesuaikan dengan keinginan kita. Ini justru bisa bumerang jadi trouble. Maksud saya, informasi informasi yang tidak penting di delete saja. Informasi yang penting, diidentivikasi kemudian dikelompokkan dan langsung di telaah oleh tim. Apakah tim itu gabungan eksekutif dan legislatif. Yang urgen langsung dieksekusi. Yang penting kecepatan berpirkir dan bertindak secara benar dan efektif. Berpikir out of the box dibutuhkan dalam situasi seperti ini.

PERTANYAAN: yang terakhir Pak Eman..yang paling mendesak apa saat ini.

PAK EMAN: Bantuan sembako kepada warga yang kurang mampu. Jangan tunggu mereka berteriak. Bantuan sudah harus direalisasikan. Biar mereka tenang, tidak panik dan penuh kekuatiran. Kalau mereka tenang, informasi atau himbauan yang akan disampaikan akan diterima dengan baik. Himbauan untuk memutus mata rantai dengan diam di rumah akan efektif. Menurut saya, baiknya berupa bahan natura. Misalnya beras, minya goreng, ikan kaleng, telur. Ya… yang seperti itu. Baru disusupi himbauam kesadaran untuk bersikap dalam situasi sulit sepert ini.

 

Tauhid, 
Kampung Islam, 13 April 2020
iklan1