Tag: kedai shaad

KAHMI Manado Kupas Soal Relasi Agama dan Sentimen Identitas

Narasumber dan moderator saat memulai pengajian (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Menggundang Ketua PRIMA Sulut, Dr Mardhan Umar dan Ketua Walubi Manado, Andiwanto Wiratna, Rabu (8/1/2020), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Manado menggelar pengajian. Sesi diskusi tematik kali ini membahas soal Efektifkah Agama Mendisrupsi Sentimen Identitas?.

Menurut Doktor Mardhan yang juga dosen IAIN Manado ini bahwa beragama harus didasarkan atas pengetahuan. Ada semangat beragama dan pengetahuan beragama yang tidak boleh disatukan. Namun, kadang kala tidak cermat sehingga dipisah, lalu terjadilah generalisasi. Beragama, disampaikan harus dikuatkan dengan pengetahuan atau keilmuan.

“Ketika semangat beragama tidak sejalan dengan kualitas pengetahuan beragama, maka yang terjadi adalah keserampangan. Hal urusan agama yang substansi dan teknis urusan sosial tak mampu dibedakan. Sehingga bagi saya pengetahuan beragama ini perlu dikembangkan. Saat ini memang suasana yang kita rindukan soal interaksi beragama yang penuh keakraban dan pluralis mulai redup. Ya, poin saya itu karena kesadaran, kemudian pengetahuan beragama kita yang masih minin. Alhasil terjadilah degradasi nilai kehidupan kita secara universal,” kata Mardhan.

Penegasan pula disampaikan Adiwanto yang mengkontruksi dan merefleksikan agama dalam interaksi umat manusia. Dipaparkannya, nilai-nilai agama akan terlaksana dan diaktualisasikan bila pemeluk-pemeluk agama memahami esensi beragama. Kemudian, tidak membenturkan kepercayaan masing-masing pemeluk agama.

Berlangsungnya dialog (Foto Suluttoday.com)

“Kalau nilai agama diimplementasikan dari diri kita secara konsisten, kita akan beradab mengalami kemajuan. Melalui hal-hal kecil kita amalkan, saya rasa seluruh dunia akan aman terkendali. Kita tidak lagi berkonflik dengan sesama. Dasar beragama inilah yang sering terkontaminasi dengan urusan-urusan duniawi, akhirnya kita pun terkendala dalam urusan kepentingan sesaat. Sehingga memberi dampak terjadinya disrupsi. Kita beragama sebetulnya bukan untuk dibenturkan,” ujar Andiwanto.

Sekedar diketahui, Pengajian Inklusive KAHMI Manado yang digelar secara berkala itu dilaksanakan di Kedai Shaad Wenang Kota Manado. Dengan moderator Baso Affandi, kemudian hadir penyelenggara kegiatan dari Majelis Daerah KAHMI Manado. Diantaranya, Idam Malewa, Zaenal Ginsu, Madzhabullah Ali, Agus Abdullah, Fadila Polontalo, juga sejumlah aktivis.

Idam Malewa saat memberikan pandangan (Foto Suluttoday.com)

Para tokoh masyarakat dan jurnalis yang hadir juga mengambil kesempatan dalam dialog interaktif tersebut. Beberapa pikiran yang disampaikan juga terkait kritik terhadap tubuh politik kita yang dijangkiti sentimen politik identitas.

Agama yang harmoni dan paripurna diaduk-aduk dengan isu dan diskursus politik yang menghancurkan persatuan. Belum lagi adanya kapitalisasi serta eksploitasi mimbar-mimbar agama untuk kepentingan politik tertentu, sehingga politisasi agama mulai berjalan secara liberal dan massif. (*/Am)

iklan1