Tag: KPA

PANGEMANAN Desak Bupati TETTY PARUNTU Evaluasi Kadis PUPR Minsel

Papan proyek tidak menyertakan anggaran proyek dari mana (FOTO Suluttoday.com)

AMURANG, Suluttoday.com – Peningkatan struktur ruas jalan Sapa Pakuure (Pekerasan Sirtu Ke AC – WC) Kecamatan Tenga diduga masih meninggalkan masalah. Hal itulah yang tak luput dari kritik dan sorotan aktivis LSM di Sulawesi Utara (Sulut), salah satunya disampaikan Marlon Pangemanan pada Suluttoday.com, Senin (23/4/2018).

”Pembangunan ruas jalan di area Sapa Pakuure kami nilai perlu dipertanyakan. Coba dilihat, tanggal Kontrak 05 Juni 2017 dengan nilai Kontrak Rp 8.278.200.000 Pelaksanaan 180 hari kalender Pemeliharaan 365 hari kalender PT. KEMILAU NUR SIAN Lebar jalan 4,5 metter panjang sekitar 3km, tapi pengerjaannya hanya asal asalan,” ujar Pangemanan yang adalah pengurus ARMAK Sulut itu.

Selain disampaikan aktivis vokal tersebut, keluhan juga diungkapkan warga Minahasa Selatan (Minsel), menurut mereka bahwa akibat proyek yang ‘abal-abal’ itu masyarakat yang merasakan kesulitan saat mengakses jalan tersebut.

“Torang masyarakat kesian nyanda bisa apa-apa, tolong suarakan ke Ibu Bupati,” kata warga.

Sementara itu Pangemanan juga menambahkan, masyarakat yang awalnya bangga dengan adanya pembuatan jalan kebun tersebut yang bertujuan dapat mempermudah akses para petani untuk mendistribusikan hasil pertanian khususnya masyarakat petani antara Desa Pakuure dan Desa Sapa, agar kemudin menjadi perhatian instansi terkait.

”Fungsi pengawasan sangat lemah oleh instansi terkait PUPR Kabupaten Minahasa Selatan, teknik lapangan maupun mekanisme yang ada sudah menyalahi aturan. Terutama fungsi pengawasan KPA selaku Kepala Pengguna Anggaran. Hal ini adanya indikasi korupsi fisik di lapangan yang amburadul, yang tidak sesuai spesifikasi pekerjaan,” tukas Pangemanan.

Bahkan Pangemanan menilai, yang pertama dugaan melakukan penyalahgunaan wewenang. Pekerjaan yang belum 100% rampung sudah di PHO. Yang kedua, ugaan indikasi Korupsi paling besar adalah fisik di lapangan, yang tidak sesuai spek pekerjaan yang mengakibatkan dampak buruk. Dan ketiga Petunjuk mencairakan pekerjaan yang tidak 100%. (*/Redaksi)

Bersama Wali Kota GSVL, Kak Seto Prihatin Kasus Kekerasan Anak di Manado

Wali Kota Manado, GSVL saat menjadi Kak Seto (Foto Ist)

Wali Kota Manado, GSVL saat menjadi Kak Seto (Foto Ist)

MANADO – Usai menjenuk korban pemerkosaan anak dibawah umur asal Mapanget Kota Manado di Rumah Sakit (RS) Advent Teling Sabtu (11/6/2016) kemarin, Ketua Komisi Perlindungan Anak (KPA) Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto, dijamu Wali Kota Manado Dr G.S Vicky Lumentut (GSVL) bersama istri tercinta Ketua Tim Penggerak PKK Manado Prof Juleyta PA Lumentut Runtuwene.

Pertemuan akrab dikediaman pribadi Wali Kota Manado dua periode ini, juga didampingi istri Wakil Wali Kota Manado, Mor Dominus Bastiaan, SE. Jamuan makan malam sekaligus berdialog seputar pencegahan dan hukuman bagi pelaku kasus kekerasan terhadap anak yang belakangan marak terjadi di Indonesia.

”Fenomena kekerasan terhadap anak sangat mengemuka saat ini, sehingga penting penegakan aturan dilakukan, dan diperlukan juga bimbingan atau pengawasan serta peran orang tua dalam menjaga anak-anaknya. Khususnya yang terjadi di Manado sendiri, kami akan mengawal kasus ini, saya secara pribadi ikut prihatin atas kejadin yang terjadi, insiden yang ada menjadi perhatian secara nasional,” ujar Kak Seto. (Amas)

Bejat, Oknum Guru Lakukan Pelecehan Sexual Terhadap Anak SD

Stop pelecehan sexual, ilustrasi (Foto Ist)

Stop pelecehan sexual, ilustrasi (Foto Ist)

JAKARTA – Tindakan amoral dilakukan oknum salah satu guru honorer DH (38) selaku pelaku, oknum guru honorer yang dijadikan tersangka pencabulan oleh pihak kepolisian Polres Sukabumi bertambah menjadi 7 orang. Mayoritas korbannya adalah siswa laki-laki di Sekolah Dasar (SD) tempatnya bekerja di daerah Parungkuda, Jawa Barat.

Informasi yang diperoleh detikcom dari aparat kepolisian Polsek Parungkuda, jumlah tersebut dipastikan akan terus bertambah. Sebab, masih ada orang tua yang ingin membuat laporan namun masih ragu-ragu dan takut.

“Sampai hari ini korban bertambah dua orang lagi, dari asalnya yang sudah resmi laporan lima orang korban. Ini juga kita masih nunggu karena ada kabar orang tua korban lainnya akan membuat laporan,” kata Kapolsek Parungkuda, Kompol Dede Suharja, kepada wartawan Minggu (31/1/2016).

Tersangka DH oleh polisi awalnya disebut bekerja sebagai pembina pramuka di SD tersebut. Namun belakangan diketahui jika DH bekerja sebagai pelatih futsal dan ditempatkan di staf bidang data potensi pendidik (Dapodik).

Selain kepolisian, pihak Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Sukabumi ikut memantau perjalanan kasus pencabulan tersebut. Meski jumlah korban dibawah 10, KPAD mengkhawatirkan jumlahnya akan terus bertambah.

“Kita akan melibatkan Dinas Sosial untuk mendatangkan psikiater karena korbannya masih anak-anak. Kami khawatir kondisi psikis mereka tak stabil. Dengan adanya psikiater diharapkan bisa memulihkan kondisi mereka,” terang Dian Yulianto, anggota KPAD. (ST/Detik.com)

Wawali Manado: Jangan Marginalkan Pengidap HIV/AIDS

Wawali Manado ketika mengikuti perayaan Hari HIV AIDS

Wawali Manado ketika mengikuti perayaan Hari HIV AIDS

MANADO – Hari AIDS Sedunia diperingati secara meriah di Lapangan Mega Mas, akhir pekan lalu. Berbagai kegiatan seperti senam zumba dan jalan sehat bersama menambah kemeriahan tersebut. Menariknya, dari sekira 3.500 peserta yang hadir, 2.000 di antaranya berasal dari Remaja Sinode GMIM.

Wakil Walikota (Wawali) Manado yang juga Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Manado Dr Harley Mangindaan mengatakan, jargon torang paham torang cegah diambil setelah melihat realitas masyarakat dari tahun ke tahun, berkaitan dengan masalah AIDS.

“Jadi momen dimana pemuda remaja Manado untuk lebih memahami tentang HIV/AIDS. Perkembangan dunia yang pesat mewajibkan torang untuk membentengi diri dengan berbagai ilmu termasuk pemahaman tentang AIDS. Sekali lagi jangan marginalkan penginap HIV/AIDS,” Wawali Manado.

Ditambahkannya lagi  pemahaman tentang HIV/AIDS akan sangat bermanfaat bagi setiap manusia. “Supaya para pengidap HIV/AIDS tidak termarjinalkan juga,” terangnya.

Ditempat lain penatua   Remaja Sinode GMIM Moody Rondonuwu, keterlibatan mereka merupakan bentuk perhatian akan penyakit sosial yang ada. “Khusus AIDS, para remaja harus tahu paham sehingga nantinya bisa dicegah,” ujarnya.

Dia menambahkan, keterlibatan itu menjadi tanda dimulainya perayaan Natal oleh Remaja Sinode GMIM. Yang hadir ibu seyla mangindaan kudati,deng unsur dari pemerintah seperti para assisten dan juga komunitas masyarakat peduli aids. (Amas Mahmud)

iklan1