Tag: LSI

Data Terbaru LSI, OLLY STEVEN di Ambang 2 Periode Sulit Terkejar

Aji Alfarabi ketika menyampaikan hasil survey LSI di Manado (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Tersisa 7 hari lagi menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020, Rabu 9 Desember 2020. Kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), menyajikan aneka warna konstelasi politik tersendiri. Umumnya, di menit-menit terakhir ada pergerakan politik yang makin kencang. Di Pilgub Sulut kekuatan petahana Olly DondokambeySteven Kandouw atau yang akrab disingkat Olly Steven makin kokoh elektabilitasnya.

Berdasarkan hasil survey yang disampaikan LSI Denny JA, per Desember 2020, Rabu (2/12/2020) menempatkan Olly Steven makin sulit terkejar penantang. Menurut Aji Alfarabi, peneliti senior LSI Denny JA tingkat kepuasan kinerja, persepsi keberhasilan, populer dan disukai, dan aspek personality, Olly disebut masih unggul. Kecerdasan masih menjadi magnet bagi masyarakat Sulut untuk memilih kembali Olly Steven.

”Sejumlah alasan menguatkan kenapa Olly Steven perkasa?, diantaranya karena tingkat kepuasan kinerja diatas 80%. Selain itu, persepsi berhasil diatas 80%, ODSK paling populer dan paling disukai. Diatas 65% masyarakat menginginkan petahana memimpin kembali Provinsi Sulawesi Utara. Mereka yang berkeinginan petahana terpilih, diatas 75%. Setelahnya, Olly ditemukan dalam survey unggul dari semua aspek personality,” kata Aji.

Melalui sesi tanya jawab bersama wartawan, Aji juga menegaskan saat merespon sejumlah pertanyaan wartawan, mengatakan bahwa sesuai waktu yang tersedia dan posisi elektabilitas Olly Steven yang masih tinggi, maka penantang menemui kesulitan serius untuk mengejar Olly Steven. Disebutnya, sangat mustahil penantang dapat mengalahkan petahana dengan tren simpati publik yang ada.

”Elektabilitas ODSK (Olly Steven) diatas 65%. Jarak elektabilitas dengan kompetitor terdekat +/-40%, modal ODSK diantaranya juga karena punya pemilih militan diatas 55%. Hampir mustahil kompetitor mengejar elektabilitas petahana,” ujar Aji di Swiss-Belhotel Maleosan Manado.

Suasana usai konfrensi pers, Aji ketika diwawancarai (Foto Suluttoday.com)

Lanjut dipaparkan Aji bahwa LSI juga mengantongi rincian data terkait sebaran suara Olly Steven di Sulut. Berdasarkan peta kekuatan kandidat 6 (enam) segmen pemilih penting, kata Aji keberadaan petahana masih mengungguli semua segmen. Tidak tanggung-tanggung, bahkan untuk pemilih muslim di Sulut Olly Steven masih mendapatkan dukungan lebih dari 50%.

”Ada enam segmen pemilih penting yang kami klasifikasi. Diantaranya, ODSK unggul di pemilih laki-laki maupun perempuan. Yang sebarannya seperti ditampilkan. ODSK juga unggul di semua penganut agama, terlebih untuk di segmen pemilih Islam ODSK mendapatkan 51,6%, protestan dan Katolik di atas 71,5%. Tidak hanya itu, ODSK pun unggul di semua generasi, milenial hingga lansia. ODSK unggul di pemilih pendidikan rendah, hingga terpelajar. Selanjutnya, ODSK unggul di Wong Cilik hingga mereka yang mapan. Dan yang terakhir, ODSK unggul di semua profesi pemilih,” tutur Aji tegas.

LSI dalam paparan tersebut menyimpulkan, 7 hari menjelang pemilihan, ODSK di ambang 2 periode. Elektabilitas petahana diatas 65%, ODSK perkasa di 6 segmen pemilih penting. Pada semua aspek (variabel) yang menjadi pertimbangan pemilih dalam memilih diungguli petahana. Sulit sekali (hampir mustahil) kompetitor mampu mengejar elektabilitas petahana.

(*/Amas)

Hanya 4 Lembaga Survey yang Resmi Terdaftar di KPU Manado

Jusuf Wowor (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Berbagai klaim perolehan survey untuk Pilwako Manado tahun 2020, kini mulai terkonfirmasi di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Manado. KPU Manado rillis Lembaga Survey dan Riset resmi Terdaftar di Pilkada 2020 Manadotempo, Manado-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Manado merilis daftar lembaga survei dan riset resmi yang terdaftar dalam kontestasi Pilkada Serentak 2020.

“Lembaga pelaksana survey atau jajak pendapat dan pelaksana penghitungan cepat hasil pemilihan, wajib mendaftar pada KPU,” ujar Ketua KPU Manado, Jusuf Wowor, Senin 30/11/2020) kepada wartawan.

Wowor yang juga dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISPOL) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) ini menuturkan sampai saat ini baru ada empat lembaga survei yang resmi terdaftar di KPU Manado. Sementara dari buku tamu helpdesk lembaga pemantau pemilih survey atau jajak pendapat dan penghitungan cepat dalam pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado tahun 2020.

Yang baru terdaftar 4 lembaga survey adalah: 1. Indo Barometer 2. Jaringan suara indo 3.Poltraking Indonesia 4. KCI LSI.

Ismail Harun Ketua Divisi Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kota Manado pun membenarkan ke-empat lembaga survey yang terdaftar di KPU kota Manado tersebut.

“Iya benar ada empat lembaga survey yang terdaftar di KPU Manado,” terang Harun, Selasa (01/12/2020).

Seperti diketahui, Ketua KPU Manado Jusuf Wowor, belum lama ini menyampaikan bahwa saat pendaftaran lembaga survei dan pelaksana hitung cepat hasil pencoblosan, wajib membuat surat pernyataan yang berbunyi pernyataan, tidak berpihak, menguntungkan, atau merugikan peserta pemilihan.

“Benar-benar melakukan wawancara dalam pelaksanaan survei atau jajak pendapat, tidak mengubah data lapangan maupun dalam pemrosesan data,” kata Wowor.

Berdasarkan aturan dan ketentuan yang berlaku, menerima pendaftaran lembaga survey tersebut ada di PKPU No 8 Tahun 2017 dengan rentetan syarat sebagaimana diatur.

(*/Amas)

Hasil 3 Lembaga Survey, Paula Harley Masih Unggul di Pilwako Manado

Hasil survey dari LSI (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Klaim menang di survey juga turut meramaikan diskursus politik di Pilwako Manado, 9 Desember 2020 mendatang. Ditelisik media ini, ada bocoran yang berhasil diterima Suluttoday.com, Selasa (3/11/2020), hasil simulasi 4 pasang oleh Lembaga Survey Indonesia yang terdaftar di KPU RI, ternyata AA-RS hanya mampu bercokol di urutan 3 dengan koleksi 24.5 persen.

Sementara urutan kedua LSI mencatat MOR-HJP 30.8 persen, JPAR-AIM 39.5 persen dan SSK-SS 3.1, TT/TJ 2.1 persen. Sebagai catatan, peta elektoral Pilwako Kota Manado LSI medio 18-23 September 2020. Yang terbaru, diperoleh hasil survey independent SMRC juga lembaga survey terdaftar di KPU RI, lagi memposisikan AA-RS di rengking 3 dengan 21%, diikuti SSK-SS 16%.

Sementara diposisi 2 adalah MORHJP 22 % dan posisi puncak PAHAM 29 %. Kemudian, swing votter 12 %. Selain itu, survey Roda Tiga Konsultan juga menempatkan AA-RS diposisi tiga dengan 21,1%, MORHJP 23,1%, dan SSK-SS 10,5% serya PAHAM 29.2%.

Jika benar demikian, hanya satu lembaga survey lokal Sulut yang menempatkan AA-RS diposisi teratas. Sementara ada tiga survey nasional memposisikan AA-RS di posisi tiga dari empat paslon yang mengikuti pesta demokrasi Pilkada serentak 2020 Kota Manado.

Posisi elektabilitas dan popularitas calon Wali Kota Manado, Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene dan calon Wakil Wali Kota Manado, Dr. Harley Alfredo Benfica Mangindaan masih perkasa. Spekulasi pun beredar liar, kalau LSI belum bisa merilis AA-RS karena diduga kuat posisi paslon nomor urut 1 itu masih tertinggal jauh dengan paslon lain.

Lembaga survey Indonesian Observer, sebuah lembaga survey lokal Sulut yang diketahui didirikan Andre Mongdong menjawab desakkan terhadap LSI Network agar bisa keluarkan hasil survey AA-RS. Tidak main-main hasilnya AA-RS melejit dengan 38.5 persen, disusul Mor Dominus Bastian – Hanny Joost Pajouw (Mor-HJP) dengan 25,9 persen dan Julyeta Paulina Amelia Runtuwene – Harley Mangindaan (Paham) 18.2 persen serta Sonya Selviana Kembuan-Syarifudin Saafa (SSK-SS) 6,1 persen.

(*/Redaksi)

Peneliti LSI Sebut OD Jauh Lebih Unggul Tinggalkan Penantang

Peneliti LSI, Ikrama Masloman saat diwawancarai wartawan (Foto Suluttoday.com)

MANADO, Suluttoday.com – Konstalasi politik memang tidak statis, selalu dalam tiap waktu mengalami perubahan. Berdasarkan rilis yang disampaikan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Minggu (9/8/2020) menyebutkan poin elektabilitas yang saat ini diraih Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Olly Dondokambey (OD) sebagai petahana begitu tinggi. Posisi elektabilitas yang melambung itu menyulitkan para penantang, menurut Ikrama Masloman, Peneliti Senior LSI.

‘’Berdasarkan data, posisi petahana masih perkasa. Pak OD elektabilitasnya jauh lebih unggul tinggalkan petahana. Terbaca pendukung militan OD 47%, Ibu Tetty Paruntu 6,2%, Elly Lasut 5,3, GS Vicky Lumentut 2,5%, setelahnya ada Ibu Vonny Panambunan dan Pak Vreeke Runtu. Beliau meninggalkan penantang dengan spasi yang cukup jauh tertinggal. Ini bertanda ketika dapat dipertahankan sampai hari H pemilihan, petahana sudah pasti menang telak,’’ ujar Ikrama saat diwawancarai wartawan di Hotel Aston Manado.

Lanjut Ikrama menyebutkan tentang rival OD sampai saat ini belum ada yang menonjol. Hal itu bukan tanpa alasan, melainkan data empiris yang disajikan Konsultan Citra Indonesia (KCL) LSI Networking per April 2020 mendapati dimana pompetitor petahana yang muncul, elektabilitasnya di bawah 10%. Kemudian, untuk penyebaran dukungan keinginan petahana menjabat merata di semua teritori.

“Belum ada lawan OD yang tangguh dalam Pilgub Sulawesi Utara tahun 2020 ini. Jika taka da pergerakan yang signifikan dalam peta politik, maka peluang OD menang sangat besar. Selanjutnya, dari VI (enam) Dapil di Sulut yang paling tinggi keinginan masyarakat agar petahana menjabat kembali adalah di Dapil VI yakni 79%, kemudian diikuti Dapil III yang menginginkan 77,1%, Dapil V 70% dan Dapil II terdiri atas 69%,’’ ucap Ikrama.

Selain itu, Ikrama menjelaskan bahwa mengapa elektabilitas petahana sangat kokoh?, indicator yang dipakai yakni berdasarkan kinerja. Hasil survei menyebutkan sebesar 85,5% masyarakat Sulawesi Utara yang menyatakan petahana sangat berhasil dan cukup berhasil. Masyarakat mengaku puas dengan apa yang dilakukan Olly selama 1 periode memimpin daerah ini.

‘’Tingkat kepuasan kinerja dari petahana Olly Dondokambey di atas 80%, itu sebabnya elektabilitasnya makin meroket. Olly kokoh, melalui raham kebijakan yang dirasakan langsung masyarakat. Kebijakan Olly-Steven sebagai Gubernur dan Wagub Sulut mendapatkan nilai cukup puas 58,7 58,5% dan sangat puas 26 17,8%. Total masyarakat yang sangat puas dan cukup puas dengan kinerja Olly Dondokambey sebagai petahana sebesar 84,7%. Ini sangat mantap dan luar biasa sebetulnya,’’ kata Ikrama menutup.

Tidak hanya itu, Olly juga paling populer dan disukai masyarakat. Posisi Olly menempati urutan tertinggi dari Elly Lasut, Steven Kandouw, GS Vicky Lumentut, Christiany Paruntu, Vonny Panambunan, Stevanus Vreeke Runtu, James Sumendap, Wenny Warouw, Herson Mayulu, Yasti Soepredjo, Yanni Tuuk, Jimmy Eman, Sehan Salim Landjar, Ronny Franky Sompie, Siswa Rahmat Mokodongan dan Jimmy Tampi dengan popularitas 90,5% dan dengan tingkat kesukaan terhadap Olly yaitu 91,4%.

(*/Bung Amas)

GOLKAR RASA JOKOWI

Dr Ferry Daud Liando (Foto Ist)

Dr Ferry Daud Liando, Dosen Unsrat Manado

Terpilihnya Ir Airlangga Hartarto menggantikan Setya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar adalah langkah maju. Paling tidak langkah maju untuk sementara. Kedepan “majunya” parpol ini sepertinya masih berpotensi menuai hambatan. Apa dasar?.

Golkar bagaikan gadis seksi yang sejak duluh menggoda. Banyak lawan jenis yang terpikat oleh kecantikannya. Pihak lain yang tersaingi dengan kecantikannya berusaha melululantahkannya, namun pihak lain yang berhasrat tinggi (berkepentingan) atas kemolekannya pasti berusaha menggoda dan kemudian mengendalikanya.

Baru saja dikukuhkan, namun sebagian elit mulai melakukan perlawanan terhadap kepemimpinan ketum baru. Paling tidak itu yang tampak ketika Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengkritik keputusan rapat pleno DPP Partai Golkar pada Rabu (13/12) malam, yang memutuskan Airlangga Hartarto menjadi Ketua Umum Partai Golkar secara aklamasi. Priyo menilai keputusan itu justru berpotensi membuat Airlangga tidak punya legitimasi yang kuat sebagai ketua umum.

Sejak tidak lagi dikendalikan Soeharto, partai ini mulai dirundung banyak persoalan. Berawal dari vonis rakyat sebagai parpol yang harus bertanggungjawab terhadap kecurangan kekuasaan orde baru hingga ditinggalkannya partai ini oleh para tokoh besar seperti Prabowo Subianto, Edi Sudrajat, Wiranto dan Surya Paloh. Mereka mendirikan partai politik baru seperti PKPI, Gerindra, Hanura dan Partai Nasdem. kedasyatan partai Golkar terganggu dengan berdirinya partai-partai itu. Pada Pemilu 2004 Partai Golkar masih muncul sebagai pemenang pemilu dengan menempatkan 128 kursi di DPR RI. Namun, pada pemilu 2009, suara Partai Golkar turun di angka 106 kursi dan pada tahun 2014 hanya meraih 91 kursi dengan 14 persen suara.

Hasil kajian sejumlah lembaga survei menyebutkan bahwa Golkar diprediksi akan terjun bebas pada Pemilu 2019 nanti. Hasil ini seakan memperkuat statmen Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, Akbar Tandjung yang mengungkapkan kegusarannya bahwa Partai Golkar terancam kiamat pada Pemilu 2019 mendatang, (wawancara tempo 14 november 2017).

Selain mendapat perlawan secara internal, Golkar sepertinya belum akan menjadi partai yang mandiri, bebas menentukan nasib sendiri. Airlangga Hartarto merupakan salah satu anggota kabinet Presiden Joko Widodo. Secara struktural antara Presiden Joko Widodo dengan partai golkar tidak memiliki hubungan. Namun secara etika, tidaklah mungkin bagi seorang ketua umum yang merupakan anggota kabinet tidak akan mematuhi “perintah” atasannya. Sebagai bukti bahwa Golkar tetap akan mendukung Joko Widodo pada pemilihan presiden tahun 2019 nanti. Tidak cuma itu bahwa Golkar akan dimanfaatkan sebagai kekuatan politik melawan para kekuatan politik penentang kebijakan penguasa saat ini. Akhirnya Golkar kini punya rasa Jokowi. Bagi Jokowi fakta politik ini tentu amat sangat menguntungkan dan ini adalah proses politik yang wajar namun agak berbeda dengan nasib golkar dikemudian hari.

Seperti Soeharto, Golkar sebagai instrumen politik untuk mendapatkan, menjalankan dan merebut kembali kekuasaan itu. Golkar dikendalikan sedemikian rupa untuk kepentingan politiknya. Sebagai imbalannya, Golkar harus menang dalam setiap pemilu meski dengan segala cara. Konon waktu itu jumlah suara hasil pemilu kerap lebih banyak dari jumlah pemilih. Jumlah kertas suara yang tertusuk jauh lebih banyak ketimbang jumlah pengunjung di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Golkar kini sepertinya masih akan mengalami nasib yang sama yaitu tetap memiliki“nasib partai yang dikendalikan”. Namun bedanya, Golkar dijaman Soeharto itu meski dikendalikan namun diberi kompensasi dengan barang mahal yaitu harus menang dalam pemilu. Namun Golkar djaman now belum tentu diberi jaminan untuk menang karena Joko Widodo punya kepentingan memenangkan parpolnya sendiri yaitu PDIP.

Mengembalikan kejayaan partai golkar atau paling tidak untuk menjaga agar partai golkar tidak punah, maka langkah yang harus dilakukan partai golkar adalah, Pertama melakukan cuci gudang kepengurusan baik dari tingkat pusat sampai ke daerah. Cuci gudang yang dimaksud adalah membersihkan partai golkar dari kader-kader yang tidak diterima publik dan menggantikannya dengan figur yang memiliki reputasi dan prestasi besar. Salah satu kepercayaan publik terhadap partai politik adalah tampilnya nama-nama besar, terhormat dan berpengaruh dalam pucuk pimpinan ataupun dalam kepengurusan,. Mereka merupakan magnet dalam mempengaruhi dukungan publik.

Dari nama-nama politisi besar yang dijaring sebagai calon pemimpin bangsa, tidak ada satupun elit politik partai golkar yang terungkap (LSI, 2017). Tahun 2019 sepertinya Golkar untuk pertama kali tidak akan memiliki andalan untuk di adu dalam kompetisi pemilihan presiden.

Kedua, Golkar harus menjadi parpol mandiri. Selama parpol ini terikat dengan penguasa, maka golkar akan selalu menerima dampak dari ketidaksenangan publik terhadap penguasa. Partai Gerindra menjadi partai penguntit PDIP dan melewati peringkat partai golkar. Gerindra makin berkibar karena menempatkan posisi jauh dari bayang-bayang kekuasaan saat ini. Gerindra sepertinya akan menjadi parpol alternatif pilihan bagi pemilih yang selama ini terkesan tidak puas dengan penampilan penguasa saat ini.

Ketiga, Golkar harus mencari sosok pembaharu sebagai tokoh kuat untuk mempersatukan partai ini. Permasalahan golkar saat ini adalah krisis figur pemersatu. Golkar harus menjadi parpol dewasa. Sifat manja golkar saat Soeharto membuat parpol ini tidak mandiri sehingga ketika tanpa Soeharto maka telah menjadikan parpol ini kian porak poranda, konflik dan belum mencapai ujung hingga sekarang. Kedepan jika PDIP, Demokrat, Gerindra dan Nasdem tidak belajar dari ketidakmandirian ini, maka keempat parpol ini rawan mengalami nasib yang sama. Megawati, SBY, Prabowo dan Surya Paloh tidak mungkin akan menjadi ketua umum seumur hidup. [***]

 

_______________

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Koran Radar Manado

iklan1