Tag: media politik lokal

OJEK DAN POLITIK PANGKALAN; Catatan Akar Rumput Ojek Papua & Tidore

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid (Foto Ist)

Bustamin Wahid
(Pedagogik & Warga Sorong Papua Barat)

Menolehlah ke belakang untuk memastikan bahwa mereka selalu ada di belakang kita dengan berwajah harapan. [Yuliana. A]

Gambaran tulisan ini adalah hasil penginderaan realitas sosial politik dibeberapa daerah di wilayah timur Indonesia. Ada kerinduan dan kegelisahan untuk menjelaskan perjalanan peristiwa yang dipahami oleh kelompok ojek (transportasi umum/motor), tentu dalam penulisan ini tidak jauh menjelaskan secara mendalam tentang sosial-ekonomi tukang ojek itu sendiri tetapi lebih dari ojek dan politik pangkalan. Ojek menjadi bagian dari pada elemen yang berada pada pusat dinamisasi sosial yang terjadi, dinamisasi sosial ini menuntun kita manusia untuk selelu bertahan hidup dan harus dibeberkan perjalanan pengojek.

Kelakar ojek KNPI di bicarakan di Raja Ampat, saat temu pemuda Raja Ampat yang dipelopori oleh KNPI Raja Ampat yang dinakodai Fahmi Macap. Tentang ojek ada berbagai hasil riset, yang salah satunya hasil riset Basri Amin, tentang; Pemuda, Ojek dan Ruang Urban Di Ternate yang diterbitkan dalam bahasa Inggris di jurnal Asia Pasifik dengan 34 paragraf dan 13 halaman. Sebelumnya 2004 fenomena ojek ini diriset oleh Muhlis Hafel tentang Respon Terhadap Tuntutan Regulasi Ojek Yang Studi Kasus Di Kota Ternate sebagai syarat meraih Magister of Art di Universitas Gajah Mada. Hasil riset ini banyak memberikan kita pengetahuan tentang fenomena sosial dan kesenjangan ekonomi, dan kompleksitas pertarungan masyarakat kota menuntun orang untuk menyelamatkan kehidupannya dengan jalan ojek. Ojek menjadi prospek penting dan tidak memiliki prasyarat yang ribet dan pendidikan tinggi, cukup dengan skill dan keahlian dalam mengemudi sepeda motor dan mampu berada pada posisi budaya antri.

Di Tidore fenomena ojek menjadi salah satu kelas sosial baru dan kelompok sosial yang cukup solid yang terangkum dalam perilaku organisasi yang terorganisir. Simbol helm putih-merah menjadi identitas dan rompi bertuliskan ojek, pengojek di Tidore bermetamorfosa menjadi organisasi sosial yang dalam perjalanannya membantu dan mengawal proses pemerintahan di Kota Tidore. Di Sorong Papua Barat mungkin ojek menjadi pekerjaan yang alternatif bagi para pendatang, mereka berada di titik-titik pangkalannya masing-masing. pangkalan ojek ini memiliki anggota dan ditertibkan dengan budaya antri yang cukup tertib, artinya ada perhatian dan pembelajaran, ada nilai yang disepakati bersama oleh semua tukang ojek. Simbol yang sama di Sorong Papua Barat simbolisasi helm berwarna kuning adalah indetitas para ojek, hal yang sama seperti di ibu kota ada kemasan dan marketing bisnis transportasi yang direkayasa melalui teknologi seperti GO-JEK. Ada hal yang menjadi perbedaan ojek yang proses dan sistemnya masih bersifat manual mungkin unggul secara etos sosial, kebersamaan dan pemerataan pembagian penumpang karena sistem antri dipangkalan, sedangkan ojek online akses dan etos kerja dan profesionalisme.

Ojek & Politik Pangkalan
Dinamika politik bisa masuk dalam sendi sosial mana saja, dimana ada ruang dan celah maka senada kepentingan politik berada pada ruang itu. Afiliasi dan sosialisasi partai politik ini menjadi hal yang wajar dan secara kelas sosial pun bisa diklasifikasi dalam analisis politik, cukup fasih dijelaskan oleh Gabriel Almond tentang pentingnya memahami budaya politik karena ini menyangkut sikap dan pemahaman warga negara tertentu. Pusat pemahaman ini tak hanya sekedar seruan narasi semata tetapi hal ini menjadi pemahaman yang terintegrasi dengan identitas nasional, keyakinan, teras. Dalam konten politik ojek menjadi menarik karena ini salah satu kelompok sosial yang menjadi sasaran dan serbuan kepentingan politik.

Kekuataan ojek ini bisa dikomersialisasi menjadi kekuatan politik dalam kepentingan politik praktis. Dan bahkan tukang ojek menjadi salah satu komunitas sosial, salah satu titik incaran yang alhasil bisa membangun kontrak politik. Di beberapa daerah menjadi contoh tetapi Tidore menjadi referensi untuk mengungkap tentang politik ojek/politik pangkalan, setiap pangkalan ojek di Tidore senantiasa menyimbolkan dukungan kepada salah satu kepala daerah baik itu foto kandidat atau partai pengusung yang ada dipangkalan ojek masing-masing (dego-dego menggambarkan dukungan). Ada pengadaan-pengadaan fasilitas pangkalan yang pada umumnya terjadi seperti TV dan dana santunan kepada tukang ojek.

Hasil riset Basri Amin, menemukan kekuatan dan mobilisasi pengojek ini dimanfaatkan oleh elit lokal dalam mendongkrak popularitasnya sebagai seorang politisi. Pengakuan Rival Rahmi yang menyimpan memori salah satu seorang caleg anggota DPRD dari partai golkar dia menggunakan jasa ojek untuk menyebar stiker, kartu nama, spanduk selama pemilu legislatif 2009. (baca: Pemuda, ojek dan urban di Ternate).

Corak pemikiran pengojek ini kian berbeda secara personal, walau secara organisatoris ada dukungan politik. Tetapi ada beberapa tukang ojek berfikiran tentang bagaimana kualitas berpolitik kita ini harus baik dan berkualitas kedepan sehingga masyarakat kedepan menjadi sejahtera, namun ada pula kesadaran psimisme menjamur dan menggunakan pragmatisme sebagai dalil untuk menghendaki politik transaksional atau mengiyakan politik uang. Hasil riset prilaku politik di Sorong memberikan kita gambaran bahwa presentasi keinginan politik uang 78.12 persen (%), Karena terdapat beberapa responden yang bekerja sebagai tukang ojek yang menghendaki politik uang (money politic). Ini bukan serta merta kesalahan komunitas semata tetapi ini ada kesalahan secara struktural yang masif.

Pembacanya adalah selain pemerintah ada peran partai politik yang harus secara serius menanamkan nilai-nilai politik melalui pendidikan politiknya sehingga bisa mencerdaskan publik. Partai politik belum sepenuhnya melawan politik transaksional sebagai langkah untuk menciptakan proses politik yang demokratis. Masih dibeberapa daerah pengojek menjadi salah satu simpul untuk melakukan eksploitasi politik, ojek sebagai jasa yang siap dibayar untuk memobilisasi kekuatan politik baik itu dalam proses kompanye, konfoi politik dan festival politik diberbagai kandidat. Ini bagian partisipasi tetapi tidak diberikan instrumen pengetahuan yang baik sehingga memiliki pemahaman politik yang rasional. Artinya peran ojek seperti ini renggang dengan politik uang, indikator ini menjadi jelas sebab politik pangkalan pasti berada pada paradigma dan kode jika maka (one vote one money).

Ojek & Pejuang Pembaharu

Walaupun ojek belum memiliki regulasi secara baik sebagai bagian dari sarana transportasi publik yang baik sebagaimana yang dijelaskan oleh doctor Muhlis Hafel di atas. Tetapi ojek secara sosial menjadi transportasi yang kategori cepat dan simpel untuk digunakan apalagi jika kepentingan yang mendadak/memburu waktu untuk keperluan yang mendesak. Atau sebaliknya kepentingan transportasi ojek sebagai transportasi yang bisa mempermudah masyarakat terhindar dari kemacetan panjang di kota besar yang diperhadapkan atas masalah kemacetan yang panjang, bisa gesit, ruang yang padat. Lincah, cepat dan agresif kira-kira kita bisa menggambarkan seorang pengojek.

Ojek ini salah satu solusi alternatif sebagai peluang kerja/mata pencaharian untuk kepentingan ekonomi rumah tangga, apa lagi di kota yang padat ini jasa pengojek menjadi penting dan memiliki peran untuk mempermudah aktivitas publik, ojek bagian dari pada perjuangan untuk memenuhi kebutuhan dan menyelamatan sebuah cita-cita besar. Ojek melahirkan sarjana, ojek menyelamatkan kesenjangan ekonomi sosial, ojek menyelamatkan kemiskinan, ojek menyelamatkan kelaparan, ojek menyelamatkan kebodohan, ojek menciptakan sumber daya manusia, ojek menyelamatkan titik akses yang jauh. Masih banyak lagi perjuangan ojek untuk mendorong pembangunan.

Kita diberikan sajian sejarah perubahan paradigma ojek yang ada di kota kembang, yang dibantu oleh aktivis perempuan di kota kembang, tukang ojek diberdayakan kesadarannya melalui penyiapan fasilitas perpustakaan mini. Perpustakaan mini dipangkalan ojek ini sangat membantu daya baca yang berefek kepada peningkatan tingkat pengetahuan dan melek huruf. Ini adalah realitas kesadaran baru, bahwasanya ojek juga bisa berada pada dimensi perubahan. Perjumpaan ojek ini bukan sekedar kumpulan yang berkepentingan profit semata tetapi sangat berefek kepada keakraban, kebersamaan, perhatian, mengakui kedaulatan individu dan solidaritas.

Diparagraf sebelumnya penulis menyebutkan tentang ojek mencetak sarjana-sarjana. Di sudut kampus Universitas Muhammadiyah Sorong ada pangkalan ojek. di pangkalan ini ada beberapa ojek senior memliki prestasi tersendiri, anak-anak mereka bisa disekolahkan sampai pada jenjang sarjana hanya bermodal pendapatan jasa ojek. Ada beberapa mahasiswa yang memanfaatkan jasa ojek sebagai pencaharian untuk menunjang perkuliahan mereka. Rasa sanjung kita kepada sosok PHS (insial) mahasiswa English Departement of Muhammadiyah University of Sorong untuk mendapat predikat sarjananya dia berjuang dengan pemanfaatan jasa ojeknya. Banyak orang yang risih pada pekerjaan ini tetapi ini mulia dan membebaskan.

Menurut Bung Sofi, kami ojek bekerja secara baik/profesional menciptakan penumpang nyaman, aman dan damai diatas motor ojek kami. Kami ojek bisa berpendapatan 3 juta-an/bulan jika kami rajin. Ini sangat bisa membantu anak-anak kami untuk bersekolah. Dulu sarjana banyak ber-ojek sebagai mata pencaharian untuk transisi mencari pekerjaan sesuai dengan keahlian akademiknya. Sofi juga mengatakan bahwa dulu pegawai negeri juga beraktifitas sebagai tukang ojek dimalam hari untuk mencari tambahan kebutuhan rumah tangganya tetapi sekarang mulai berkurang. (wawancara ketua ojek Tidore, tanggal 2 November 2016).

Ada nilai yang dimiliki sebagai pengojek, selain menyelamatkan sosial-ekonomi bisa membantu dan mendorong pertumbuhan pembangunan. Dimana letak mendorong pembangunan yang dimaksudkan oleh penulis adalah bisa membantu biaya pendidikan, biaya kesehatan keluarga dari dana sehat yang dikumpulkan oleh pengojek di Tidore. Di Waisai (Raja Ampat) pangkalan ojek di pelabuhan Waisai, butuh gagasan besar untuk mengurai hal positif sebagai pengojek menjadi jasa transportasi yang berwawasan pariwisata paling tidak diberdayakan dan di manfaatkan oleh pengojek sebagai pewarta parawisata Raja Ampat.

Pengojek bisa menjadi mitra pemerintah yang baik karena, gesit, afiliasi dan lincah sebagai aktivitas tinggi mereka dalam melayani. Di waisai pengojek darat bisa dikemas dalam desain sebagai jasa transporatasi di daerah pariwisata, tentu tak kalah penting pengojek perahu harus didesain dan boboti dengan pendekatan kearifan lokal. (***)

INDONESIA KITA DI PAGI HARI

Ilustrasi calon Independen kebebasan berdemokrasi di Indonesia (Foto Ist)

Ilustrasi calon Independen kebebasan berdemokrasi di Indonesia (Foto Ist)

Saudaraku, sudah cukup lama demokrasi berlangsung di tempat kita, tentang kita, namun tanpa kita. Kata demokrasi jadi mantra suci yang terus diwiridkan, tapi rakyat kebanyakan sebagai sang demos terus dipinggirkan. Kenyataan sesungguhnya bukanlah demokrasi bagi rakyat, melainkan rakyat diperuntukkan bagi demokrasi.

Ada banyak sebab para pemimpim berkhianat. Politik pemerintahan bolehjadi diperbudak kekuatan adidaya hingga negara tak mampu mengambil kebijakan secara leluasa untuk mengelola urusan sendiri. Tingginya biaya politik bisa juga membuat pemimpin terpilih lebih melayani kepentingan pemodal, dengan mengorbankan kepentingan umum. Tekanan pada popularitas, ketimbang kualitas, melahirkan pemimpin yang miskin visi dan kompetensi.

Masalah ditutupi dengan manipulasi pencitraan, bukan dengan jawaban nyata. Kesulitan, ketidakmelekan dan kejenuhan rakyat berpolitik membuat partisipasi demokrasi berhenti di bilik pencoblosan. Setelah itu, para pemimpin dibiarkan bertindak sesuka hati tanpa pengawasan. Politik adalah dimensi manusia secara keseluruhan. Bila pemimpin terpilih masih melayani kepentingan (karier) pribadi ketimbang kepentingan umum, maka sesungguhnya mereka adalah pembunuh dara dingin yg tega menikam jiwa politik. Tak ada musuh bersama yang lebih buruk dari itu. Bagi para pengkhianat publik dan republik hanya ada satu kata: lawan…

Catatan: YL, Makrifat Pagi

iklan1