Tag: megawati soekarnoputri

RICHARD SUALANG Kunci Kemenangan PDI Perjuangan di Manado

dr. Richard Sualang (Foto Istimewa)

Oleh : Bung Amas, Pegiat Literasi

DARI beberapa unsur pendonor kemenangan suara, posisi dr. Richard Sualang, Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Kota Manado berada pada bentangan strategis. Ayahnya pelopor, mobilisator dan pendiri PDI Perjuangan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Kader Banteng Moncong Putih yang dikala itu begitu dekat dengan Ibu Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan dikenal sebagai singa podium yang santun. Aliran darah ‘merah’ PDI Perjuangan memang mengalir deras kepada sosok Richard Sualang.

Ayahnya tercinta punya jasa besar, berkontribusi mengembangkan dan membesarkan PDI Perjuangan di bumi Nyiur Melambai ini. Mantan Wakil Gubernur Sulut beberapa periode, potret seorang putra Minahasa yang patriot dan nasionalis. Tapi, Richard rupanya tidak mengharapkan semua itu didapatnya dengan instan. Dia enggan berpangku, melainkan turun memulai bekerja sebagai petugas partai di PDI Perjuangan di Kota Manado, dari Kelurahan, Kecamatan sampai saat ini memimpin PDI Perjuangan Manado.

Kata Soekarno, Bapak Marhaenis, pendiri Republik Indonesia, Presiden Indonesia pertama yang adalah Ayah tercinta Ketum Megawati, bahwa ‘JAS MERAH’ (Jangan Sekali-kali melupakan sejarah). Atau yang diartikan sejarawan Rushdy Hoesein, ‘JAS MERAH’ dalam judul pidato Bung Karno, sapaan akrab Soekarno, memiliki arti ‘Djangan sekali-kali meninggalkan sedjarah’. Inti dari pesan tersebut memiliki impresi, terselip pelajaran penting tentang menghormati, menghidupkan legacy leluhur atau para pendahulu.

Baik dalam interaksi politik, ekonomi maupun sosial dan budaya. Sejarah mencatat dengan indahnya bagaimana peran seorang Freddy Harry Sualang memajukan PDI Perjuangan disaat jaya-jayanya Orde Baru. Tidak mudah melewati gelombang dan otoritarianisme pemerintah waktu itu. Bagaimana kuatnya pengaruh ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar). Mendiang Freddy H. Sualang begitu teguh pendiriannya, tampi tegar, punya nyali besar, progresif, orator ulung dan optimis bahwa PDI Perjuangan akan besar di Sulut.

Dalam jejak karirnya, beliau merupakan seorang politisi Parkindo. Setelahnya menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia (PDI), dimana waktu itu Parkindo dan 4 (empat) partai lain seperti Partai Katholik, Partai IPKI, Partai Murba dan PNI melakukan fusi atau penggabungan yang dideklarasi 10 Januari 1974. Tanpa money politic dan dukungan kekuasaan, mendiang Freddy menjadi Anggota DPRD Minahasa dalam Pemilu 1987 dan 1992.

Sejak 1998 beliau menjabat Ketua DPD PDI Perjuangan, sampai tahun 2010 dibawah kepemimpinan Megawati sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan. Mendiang Freddy Sualang dikenal sangat menghormati senior partainya. Tidak mudah melewati konflik di PDI Perjuangan Sulut, dimana Freddy Sualang saat itu berada dalam faksi PDI Perjuangan, bersama Megawati. Lalu berlawanan dengan kawan-kawannya di kelompok Surjadi, PDI.

Nilai-nilai keteladanan itu diikuti anaknya tersayang Richard Sualang. Kisah loyalitas Freddy Sualang juga digambarkan Drs. Markus Wauran, Anggota DPR RI pada era 1980-an. Menurut Markus Wauran, sosok Freddy begitu menghormati guru politiknya yakni Sabam Sirait. Sikap setia dan tidak menghianati komitmen ditunjukkan mendiang Freddy dalam pergaulannya. Ia tak rayu atas rayuan, tak akan goyah atas godaan, tidak pernah mau karena kepentingan sesaat beliau mengabaikan komitmen kebersamaan. Itulah sepenggal pelajaran yang tentu tengah tertanam, terpatri kuat dalam ingatan dan darah daging Richard Sualang yang juga Penatua (Pnt).

Seperti yang dilakukan Richard sebagai politisi muda, dirinya tampil penuh energi positif. Pandangan nasionalisme diucapkan dan dicontohkannya dalam tindakan konkrit. Takhirnya kita banyak menjumpai warga di Manado para aktivis muslim yang begitu sayang, peduli dan menghormati keluarga Sualang. Termasuk Richard Sualang yang kini menjabat Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Beberapa perjumpaan penulis dengan masyarakat pedagang, kalangan buruh, warga yang hidupnya biasa-biasa, mereka mengakui akan mendukung Richard Sualang. Mereka yang beragama Islam, mengaku tidak akan melupakan kebaikan-kebaikan mendiang Freddy Sualang.

Tidak mudah menjadi politisi yang dicintai semua kalangan masyarakat. Menjadi politisi rendah hati, menghargai orang lain juga tidak mudah. Butuh adaptasi kebiasaan yang lama, bisa bersifat turun-temurun. Richard terlahir dari DNA itu, selain keluarga yang pernah menjadi penguasa di Sulut. Dirinya berkesempatan diajarkan langsung Ayahnya untuk menghormati senior, menghormati dan membantu orang lain. Siapapun itu, tanpa membedakan agama.

Richard di pusaran Pilwako Manado 2020 merupakan kunci kemenangan PDI Perjuangan. Bila elit PDI Perjuangan terburu-buru, tidak cermat membaca situasi politik di lapangan dan kesejarahan daerah ini secara utuh, maka akan salah merekomendasikan kadernya melalui Surat Keputusan (SK) nantinya dalam hajatan pertarungan Pilwako Manado. Tantangan bagi PDI Perjuangan di Manado adalah belum pernah menjadi Kepala Daerah beberapa tahun terakhir.

Itu sebabnya, semacam ‘pagar’, mitos dan barang baru yang harus mampu diterobos dengan menggunakan energi yang cukup kuat. Bila saja elit PDI Perjuangan lebih menilai uang (finansial) sebagai pembeda untuk diusung ke pertarungan Pilwako Manado, maka resikonya PDI Perjuangan akan kalah di Kota Manado. Seperti membaca risalah sejarah, para elit parpol di pusat harus membacanya secara tuntas. Jangan sepenggal-sepenggal, dimana tak ada sejarahnya selain ‘etnis Minahasa, Gorontalo, Nustar,’ yang memimpin Kota Manado.

Apalagi mereka yang terindikasi warga naturalisasi. Yakinlah, akan ada bencana politik yang melahirkan isu maha dahsyat ketika PDI Perjuangan salah memberikan SK. Kesederhaan Richard Sualang begitu membuat banyak simpati berdatangan kepadanya, dan juga kepada PDI Perjuangan di daerah ini. Potret politisi idola yang satu ini tidak sombong seperti politisi-politisi lainnya. Santun dan rendah hati, seperti itulah Richard Sualang yang terekam diingatan warga Kota Manado.

Di internal mesin partai PDI Perjuangan pun, terdengar percakapan malu-malu dan sembunyi-sembunyi, mereka kebanyakan menginginkan Richard Sualang sebagai calon Wali Kota Manado. Selain itu, Richard Sualang punya gagasan yang kuat dan otentik. Masyarakat Manado juga tau betul, mengenali Richard sebagai kader PDI Perjuangan tulen, tanpa berpindah ke lain hati. Bila politisi lain sibuk ganti ‘warna’ Richard tetap fokus membesarkan PDI Perjuangan. Richard juga berpegang teguh pada prinsip gotong royong dalam membesarkan PDI Perjuangan, alhasil di DPRD Kota Manado saat Richard menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Manado telah berhasil merebut posisi Ketua DPRD Kota Manado.

Presiden dan Gubernur Sulut Hadiri Acara Malam Penghargaan FFI 2017

Mengawati dan Olly saat menghadiri tempat kegiatan (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Saat menghadiri Malam Penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2017, Sabtu (11/11/2017) yang digelar di Grand Kawanua International City, Manado, Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri menjadi tamu kehormatan pada ajang penghargaan kepada insan perfilman itu turut menyerahkan piala Piala Citra untuk kru Night Bus yang memenangkan kategori Film Terbaik FFI 2017.

Film Night Bus menyingkirkan nomine lainnya yang masuk kategori tersebut seperti Cek Toko Sebelah (Starvision Plus), Kartini (Legacy Pictures & Screenplay Films), Pengabdi Setan (Rapi Films & CJ Entertainment) dan Posesif (Palari Films).

Darius Sinathrya yang memproduseri Night Bus mengapresiasi kehadiran Megawati saat menyampaikan pidato kemenangannya. “Terimakasih atas kehadiran Ibu Megawati di FFI 2017. Saya merasa Night Bus masuk nominasi saja sudah cukup bagi kami. Ini sudah hal yang luar biasa.” katanya.

Malam penghargaan FFI 2017 turut dihadiri oleh Gubernur Olly Dondokambey, SE, Ketua Panitia Lokal FFI 2017 yang juga Ketua TP-PKK Sulut Ir. Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan, Wakil Gubernur Drs. Steven O.E. Kandouw, Wakil Ketua TP-PKK dr. Kartika Devi Kandouw-Tanos, Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi Sekdaprov Edwin Silangen, SE, MS, Ketua Panitia FFI 2017 Leni Lolang dan Ketua BPI Chand Parwez Servia. (*/TimST)

Megawati Kunjungi Manado, Kader PDI Perjuangan Solid Menangkan HJP?

Taufik Tumbelaka (Foto Ist)

Taufik Tumbelaka (Foto Ist)

MANADO- Konstalasi politik jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Manado, 17 Februari 2016 makin terasa alot. Lihat saja, masing-masing tim pemenangan calon Wali Kota dan calon Wakil Wali Kota Manado intens melakukan komunikasi dengan rakyat, bahkan tak sering berbagai isu demi memenangkan pasangan calon Wali Kota tertentu dihembuskan ke masyarakat guna mencari simpati.

Bahkan elit partai politik ditingkat DPP dikabarkan bakal ‘menyerang’ Kota Manado, seperti informasi yang diperoleh Suluttoday.com bahwa Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri akan mengunjungi Manado. Kali ini kunjungan Mega sapaan akrab Megawati dalam rangka menghadiri acara serah terima jabatan Gubernur Sulawesi Utara, yang merupakan Bendara Umum (Bendum) DPP PDI Perjuangan.

Menanggapi hal ini, saat dimintai tanggapan, Taufik Tumbelaka pengamat politik dan pemerintahan mengatakan bahwa bakal ada dampak secara politik terhadap kehadiran Megawati di Kota Manado meski dengan agenda yang berbeda.

”Infonya kedatangan Ketum PDI Perjuangan untuk hadiri acara serah terima jabatan dan pisah sambut Gubernur Sulut dmn OD adalah Bendum PDI Perjuangan. Jadi belum tau apakah akan ada agenda konsolidasi Partai dalam rangka Pilwako Manado. Jika ada, konsolidasi maka diduga akan menambah kesolidan dari mesin Partai, diprediksi suara dari pendudkung PDI Perjuangan untuk kandidatnya yakni Hanny Joost Pajouw (HJP), akan hampir sama dengan perolehan para Caleg PDI Perjuangan di Manado,” ujar Tumbelaka, Minggu (14/2/2016). (Amas)

DPP PDIP Resmi Tunjuk Andrei Angouw Sebagai Ketua DPRD Sulut

Megawati bersama Andrei Angouw (Foto Ist)

Megawati bersama Andrei Angouw (Foto Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Berakhir sudah siapa pengganti Steven Kandouw dari kursi ketua Dewan Perwakilan (DPRD) Sulut terjawab sudah, Dewan Pembina Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDI-P) telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK).

SK penggantian ketua DPRD Sulut tersebut mengesahkan Andrei Angouw sebagai pengganti Steven Kandouw sebagai ketua dewan. Berikut nomor S.K Penggantian Ketua DPRD Sulut S.K No.1214/In/DPP/II/2016 Hal: Penggantian Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara Tgl: 01 Februari 2016 Mengesahkan saudara Andrei Angouw menggantikan Sdr. Drs. Steven O.E. Kandouw sbg Ketua DPRD Provinsi Sulut Periode 2014-2019 dari PDI Perjuangan. Tertanda: Ketua Umum (Megawati Soekarnoputri) dan Sekjen (Hasto Kristiyanto). (Jimmy Lumingkewas)

Anas Ikut Berikan Komentar Terkait Pernyataan Megawati

Anas Urbaningrum (Foto Ist)

Anas Urbaningrum (Foto Ist)

JAKARTA/MANADO – Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum menilai pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri jika semua kadernya termasuk Presiden Joko Widodo adalah petugas partai tidak perlu dipersoalkan. Hal yang penting didiskusikan adalah persoalan pemimpin dapat membuat rakyat sejahtera atau malah bertambah sengsara.

“Petugas partai dan pelayan rakyat adalah agen-agen kegembiraan rakyat. Sebanyak mungkin rakyat. Petugas partai yang bisa menjadi pelayan rakyat adalah yang berbekal kecakapan dan kesadaran akan panggilan tugas,” tulis Anas dalam akun twitternya @anasurbaningrum, Kamis (16/4/2015).

Menurutnya, sebagai pemimpin yang lahir dari partai politik sudah seharusnya mengikuti garis ideologi yang ditetapkan. Jika mengkhianati maka akan berakibat bahaya bagi dirinya.

“Pelayan rakyat yang bisa sekaligus menjadi petugas partai adalah yang tidak lupa siapa pengusungnya. Jika tidak cakap, tuna rasa panggilan, apalagi lupa riwayat, biasanya segera terbit berbagai kerumitan dan penyesalan. Di atas kerumitan dan penyesalan itu kadangkala tumbuh ketidaksukaan dan bahkan dendam. Bahaya!” terang dia.

Lanjut dia, kelompok yang mempertentangkan antara petugas partai dengan pelayan rakyat bermazhab politik pertentangan. Bagi, paham demokrasi kedua sebutan itu saling bersinergi.

“Mempertentangkan petugas partai dengan pelayan rakyat hanya relevan bagi ‘mazhab kontradiksi’ politik. Bagi ‘mazhab demokrasi’, keduanya adalah ‘saudara kandung’ yang mestinya rukun dan sinergis. Wallahu a’lam,” pungkas dia. (Mrdk/M. Isnain)

iklan1