Tag: menpar

Sulawesi Utara Berbenah Manado Destinasi Wisman Tiongkok

Wisata Pulau Bunaken Manado (Foto Ist)

Wisata Pulau Bunaken Manado (Foto Ist)

MANADO – Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta Pemprov Sulawesi Utara cepat berbenah pada semua destinasi andalannya. Jangan sampai kalah cepat dengan kedatangan wisman asal Tiongkok, seiring dengan promosi dan pengembangan akses menuju ke Manado yang makin kencang.

”Manado dan Sulut punya atraksi yang kuat untuk pasar Tiongkok,” kata Arief Yahya. Menurut Arief, Manado punya bunaken, wisata bawah laut yang bagus dan sudah punya pamor. Ada juga Bitung, selat Lembeh untuk komunitas macro, barang-barang hidup yang kecil, untuk fotografi. Juga ada wisata alam yang lain, gunung, hutan, pantai, antarpulau, kuliner, semua ada.

“Dari Manado baru di connect ke destinasi lain. Manado menjadi Hub,” katanya.

Ribuan wisatawan asing (wisman) akan berkunjung ke Sulawesi Utara (Sulut) Juni mendatang. Sulawesi Utara (Sulut) langsung bersiap menyambut tamu-tamu istimewa ini. Hotel, lokasi wisata, infrastruktur, hingga masyarakat, semua kompak mempersiapkan segala sesuatunya. Saat ini, hotel berbintang dan non bintang dan di Sulut jumlahnya sudah mencapai 6.304 kamar. Rinciannya, 8 hotel bintang satu memiliki 227 kamar. Bintang 2 ada 4 hotel dengan 136 kamar.

Bintang 3 ada 7 hotel dengan 350 kamar. Hotel bintang 4 ada 10 buah dengan 1.336 kamar. Sementara hotel bintang 5 ada 2 buah dengan 354 kamar. Jika ditotal, hotel berbintang di Sulut 31 hotel, dengan jumlah kamar 2.403 kamar. Sementara hotel non bintang totalnya 265 hotel dengan jumlah kamar 3.901. Dari paparan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulut, Johnny Lieke, hotel-hotel mulai melakukan persiapan khusus menyambut ribuan wisatawan dari Tiongkok.

“Semua sudah siap menyambut tamu asal Tiongkok,” terang Johnny Lieke, Minggu (29/5/2016). Swiss-belhotel misalnya. Pelayanan room maupun restoran disiapkan dengan nuansa Tiongkok. “kami akan sediakan makanan khas Minahasa, tapi tetap cocok dengan lidah orang Tiongkok. Misalnya noodle yang akan di-combine dengan cakalang,’’ ujar Manager Sales & Marketing Enggelien J Makalew.

Manager F&B Lion Hotel & Plaza Richard Todar mengungkapkan, ini momen penting untuk memperkenalkan makanan khas dan kue tradisional Manado. “Selain western food, kami juga akan memberikan hidangan spesial khas Manado. Misalnya balapis, lalampa, panada dan tentu saja klapertart dan tinutuan,’’ ujarnya. Sales executive Ashton Hotel Reza F Tania menjanjikan bakal memberikan pelayanan terbaik untuk para wisatawan.

“Kami akan menyiapkan kamar, kendaraan. Untuk restoran, kami siapkan menu western dan tentu saja makanan khas Manado. Tapi biasanya itu tergantung permintaan. Termasuk event organizer dan guide, tergantung panitia tur,” ujarnya.

Di destinasi wisata, sejumlah lokasi wisata juga bersiap menyambut tamu istimewa tadi. Sampah-sampah di sekitar Taman Nasional Nani Wartabone Bolmong, Selat lembeh Bitung, Taman Laut Bunaken, Tangkoko Bitung, Danau Linow Tomohon, Danau Moat Kotamobagu, Danau Tondano Kab. Minahasa, Arung Jeram Timbukar Kab. Minahasa, Air terjun Tomohon.

Wisata Gunung yaitu Gunung Dua Sudara Bitung, Gunung Klabat Minut, Gunung Mahawu Tomohon, Gunung Api Bawah Laut Mahangetang Sangihe, Gunung Api Karangetang Sitaro, Gunung Lokon hingga Tomohon, sudah mulai dibersihkan. Pertunjukan seni dan budaya juga ikut disiapkan.

Nantinya, tamu-tamu asal Tiongkok itu akan dihibur Tari Kabasaran, Minahasa, Alat Musik kolintang Minahasa, Tari Gunde Nusa Utara, UpacaraTulude Nusa Utara serta Musik Bambu. Dari paparan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara, Happy T.R. Korah, turis Tiongkok berpotensi untuk terus memilih berwisata ke Sulawesi Utara pada 2016.

“Tiongkok lebih dekat dengan Sulawesi Utara bila dibanding ke Bali. Tiongkok – Sulawesi Utara hanya memakan waktu 3 jam 25 menit. Sementara ke Bali, akan memakan dua kali lipat waktu perjalanan. Jadi potensi wisatanya cukup besar,” kata Happy.

 

Hal lain yang membuat Korah pede, latar belakang kehidupan masyarakat Sulut sudah tak jauh beda dengan Tiongkok. Maklum, masyarakat di Sulawesi Utara banyak yang keturunan Tiongkok. Hal tersebut, menurut Happy menyebabkan makanan-makanan yang ada di Sulawesi Utara juga terasa familiar bagi turis asal Negeri Tirai Bambu.

Data terakhir yang dimiliki Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara menyebutkan kunjungan wisatawan nusantara ada di angka 500.000 wisatawan. Sementara untuk wisatawan mancanegara, jumlahnya mencapai 32.000 orang.

“Kontribusi turis Tiongkok yang berkunjung ke Sulawesi Utara mencapai 40 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara,” urai Korah.(*/Amas)

Berjalan Sukses, Sampai Jumpa di Tour de Flores 2017

Tour de Flores (Foto Ist)

Tour de Flores (Foto Ist)

LABUAN BAJO – Para pemangku event Tour de Flores 2016 sepakat, balap sepeda internasional yang menyusuri dari ujung timur Larantuka sampai Labuan Bajo itu bakal dilanjutkan seri-2 tahun depan. Menpar Arief Yahya, Menpora Imam Nahrawi, Gubernur NTT Frans Lebu Raya sudah satu kata, 2017 harus dibuat lebih rapi, lebih besar, dan lebih sempurna lagi.

“Sampai jumpa di TDF 2017,” kata Menpar Arief Yahya dalam press conference di Kantor Bupati Manggarai Barat itu.

Begitupun para sponsor, James Riyadi Lippo Group, Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia yang berada di lokasi finish etape akhir itu. Mereka setuju melanjutkan event yang menyita perhatian banyak masyarakat itu.

“Kita buat Flores semakin terkenal di dunia dari olahraga TDF yang sudah kita bangun bersama ini,” ucap James Riyadi semangat.

Gubernur Frans juga memohon kepada dua kementerian itu untuk kembali memprogramkan TDF di 2017. Dia sudah merencanakan untuk menggunakan jalur yang tahun ini dilalui. Baru tahun 2018 nanti dia mengusulkan untuk melewati jalur utara, menyusuri pantai Flores. “Saat ini jalannya masih belum bagus, dalam dua tahun ini biar diperbaiki. Kalau soal pemandangan, pantai utara sangat indah,” jelas Frans Lebu Raya.

Dia menjelaskan, TDF 2016 ini adalah gagasan besar. Biasanya ide besar selalu menimbulkan polemik. Apalagi ini direncanakan hanya dalam waktu 6 bulan.

“Tetapi akhirnya, semua bisa mengerti, semua mendukung, dan akhirnya sukses,” ungkap Frans, yang berjanji setelah ini akan melakukan evaluasi 2016 dan membangun komitmen untuk 2017.

“Manfaat buat daerah sangat besar. Jalan-jalan yang dilalui menjadi mulus sepanjang 661 kilometer. TDF juga memberikan motivasi masyarakat Flores, terutama anak-anak muda untuk maju. Optimisme dan semangatnya semakin tinggi. Manfaatnya tidak langsung dirasakan sekarang. Bali itu masa lalu, sudah kuat pariwisatanya. Lombok NTB itu masa kini! NTT itu masa depan!” jelasnya.

Frans juga mengingatkan kepada warganya tentang kebersihan. Sampai tiga kali Frans menyebut: bersih, bersih, bersih! Wisatawan tidak mau melihat yang jorok-jorok.

“Pak Menko Maritim sempat mengingatkan, agar senyum!” tuturnya.

Menpar Arief Yahya menyebut ada tiga sukses di Tour de Flores 2016 ini. Pertama, sukses pelaksanaan, yang merupakan gabungan antara sport (olahraga) dan tourism (pariwisata). Kedua, sukses membuat Flores terkenal di seluruh dunia. Dalam seminggu terakhir selalu menjadi trending topic di media sosial.

“Ketiga, sukses menjadi hiburan rakyat, pesta rakyat, seluruh masyarakat hadir di selanjang race yang dilalui balap sepeda ini,” ungkap Arief Yahya.

Tiga sukses itu merupakan modal untuk menggelar event yang sama di tahun 2017. Memang ada satu dua kekurangan, entah itu soal koordinasi maupun pelaksanaan teknis di lapangan. Pengalaman ini bisa dijadikan bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan di pelaksanaan tahun depan.

“Sport tourism seperti ini adalah cara cerdas, cara pintar, untuk mempopulerkan destinasi pariwisata Flores,” tandasnya.

Suasana panas di titik finish, yang persis di depan halaman Kantor Bupati Manggarai Barat itu tidak membuat warga beranjak dari pembatas. Mereka yang memakai payung pun rela untuk menyimpan alat berteduh dari terik matahari itu.

“Ini menjadi semacam pesta rakyat, jadi dalam suasana apapun, mereka terhibur,” kata Arief Yahya.

Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mensupport kegiatan ini. “Tour de Flores memang tidak dirasakan sekarang. Saya pengalaman dengan Sail Komodo, begitu selesai dibangun lapangan terbang dan sekarang sudah punya rumah sakit internasional. Sekarang Labuan Bajo menjadi seperti sekarang,” ucap Agustinus.

Chairmen TDF 2016, Primus D mengajak semua audience untuk bertepuk tangan, sebagai rasa syukur atas berakhirnya event ini. “Dari 100 pembalap sepeda yang ikut start, sekitar 70 an atlet yang sukses sampai di garis finish. Kita sudah menorehkan sejarah baru dengan event internasional pertama di NTT,” ucap Primus.

Dia menyebut, tidak mudah menyelenggarakan TDF 2016 ini. Pengurus ISSI, Raja Sapta Okto Hari menjelaskan, event seperti ini hanya bisa dijalankan oleh orang yang sudah berpengalaman. “Tetapi kami bisa menjalankan dengan baik, dari start di Larantuka sampai finish di Labuan Bajo,” papar Primus.(*/Amas)

Liburan Hari Raya, Ayo Siapkan Sejak Sekarang

Paket wisata (Foto Ist)

Paket wisata (Foto Ist)

JAKARTA – Setelah liburan panjang Isra Miraj dan Kenaikan Isa Al Masih, awal Mei 2016 lalu, masyarakat Indonesia akan menghadapi liburan panjang Lebaran atau hari raya Idul Fitri. Siap-siap, industri pariwisata bakal kebanjiran wisatawan nusantara (wisnus) yang bergerak cepat dalam dua minggu.

“Saya yakin, industri sudah mulai buat paket-paket wisata,” kata Arief Yahya, Menteri Pariwisata.

Dari hotel, transportasi lokal, restoran, handicraft, sampai ke destinasi di darrah-daerah sudah mulai bersiap paket. Dengan online system, mungkin sudah banyak yang sold out, karena orang modern selalu membuat perencanaan panjang jauh hari sebelumnya.

“Masyarakat juga sudah mulai pintar membuat skedul liburan bersama keluarga,” kata Menpar.

Begitu pun Maskapai berbiaya murah (LCC) seperti PT Citilink Indonesia. Perusahaan plat merah itu akan mengerahkan armada cadangan berupa dua pesawat Boeing 737-500 dari lima pesawat cadangan yang dimiliki Citilink Indonesia untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan jumlah penumpang saat libur Lebaran 2016.

“Citilink Indonesia akan mengajukan izin extra fight minimal 136 penerbangan tambahan dan 34.000 kursi ekstra dalam rangka libur Lebaran 2016. Adapun rute-rute penerbangan yang ditambah adalah rute pulang pergi dengan kota asal Jakarta menuju ke kota-kota tujuan yang terkenal padat penumpang seperti Yogyakarta, Medan, Padang, dan Denpasar, karena selain berlebaran, mereka juga akan berwisata,” kata Presiden & CEO Citilink Indonesia Albert Burhan di Jakarta.

Albert Burhan menjelaskan, penerbangan tambahan ini, katanya, mulai berlaku pada puncak arus mudik Lebaran, yaitu dari tanggal 2 – 14 Juli 2016. Dengan rencana pengajuan penerbangan tambahan tersebut, maka Citilink akan terbang 245 kali dalam sehari atau naik sekitar 5 persen dibandingkan hari biasa sejumlah 234 penerbangan.

Adapun rute Jakarta – Padang yang biasanya terbang empat kali sehari (dua penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan dua penerbangan dariBandara Halim Perdanakusumah Jakarta), akan bertambah dua penerbangan ekstra menjadi enam kali penerbangan dalam sehari. Untuk rute Jakarta – Denpasar, dari enam penerbangan sehari (dua dari Bandara Halim Perdanakusumah dan empat dari Bandara Soekarno Hatta), akan bertambah dua penerbangan ekstra menjadi delapan kali penerbangan dalam sehari.

Sementara untuk rute Jakarta-Medan yang biasanya terbang enam kali sehari (empat dari Bandara Soekarno Hatta dan dua dari Bandara Halim Perdanakusuma), akan bertambah satu kali penerbangan menjadi tujuh kali penerbangan sehari. Terakhir, untuk rute Jakarta-Yogyakarta yang biasanya terbang lima kali sehari (satu dari Bandara Soekarno Hatta dan empat dari Bandara Halim Perdanakusuma), akan bertambah dua kali penerbangan menjadi tujuh kali penerbangan sehari.

Albert menambahkan bahwa Citilink memperkirakan lonjakan arus mudik dan arus balik pada Lebaran kali ini, justru dapat terjadi jauh hari sebelum puncak arus mudik, mengingat kondisi angkutan udara pada musim lebaran saat ini. Diperkirakan pada puncak arus mudik akan terjadi lonjakan yang signifikan, itu sebabnya Citilink mengerahkan armada cadangan berupa pesawat B737-500 guna memenuhi permintaan pasar.

“Kami menghimbau agar penumpang selama Lebaran sebaiknya membeli tiket pulang pergi guna memastikan agar tidak kehabisan tiket”, pungkasnya.

Saat ini, total armada Citilink berjumlah 42 pesawat yang terdiri dari Airbus A320 (37 pesawat) dan Boeing 737-500 (5 pesawat). Kementerian Perhubungan mencatat total penumpang selama periode lebaran 2015 adalah sebanyak 17,45 juta penumpang atau berkurang dari periode yang sama tahun 2014 sebanyak 17,73 juta penumpang.

Selain itu, menurut Direktur Komersial Hans Nugroho, Citilink Indonesia juga menawarkan nilai tambah dari boarding pass yang dimiliki penumpang Citilink Indonesia, Adapun keunggulan dari boarding pass Citilink Indonesia adalah diskon hotel, restoran, kemudahan angkutan trasportasi khususnya di Batam (Batam Fast Ferry), dan Medan (angkutan kereta api Railink – dari Bandara Kualanamu menuju Medan atau sebaliknya. (*/Amas)

Batam Sambangi Johor Promosikan Wonderful Indonesia

Wonderful Indonesia (Foto Ist)

Wonderful Indonesia (Foto Ist)

BATAM – Batam dan Bintan selama ini populer sebagai destinasi week end Singapore, entah ekspatriat, wisman mereka atau Singaporean. Sebagian menjadikan arena main golf, yang murah, meriah, tetapi tetap berstandar internasional. Kini Pemkot Batam berniat melebarkan sayap menebar pesona ke Negeri Jiran Malaysia, dengan tema yang berbeda, bukan sport tourism lagi.

“Kami akan menggelar acara Muhibah Kebudayaan, di Mall Johor Bahru, Malaysia, 27 Mei, mendatang. Kami akan menggoda mereka, dengan keindahan tarian-tarian. Sekitar 40 orang akan diboyong ke Malaysia. Kami akan pentas di Mall terbesar di Johor. Kami akan sajikan karya seni Batam agar mereka datang,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Batam, Yusfa Hendri.

Yusfa tidak mau kunjungan wisatawan di Batam surut, maka pihaknya terus mencari cara untuk promosi Wonderful Indonesia.

”Daerah-daerah di semenanjung pantai Malaysia sangat berpotensi untuk terus bertambah, seperti Johor dan Negri Sembilan. Jaraknya dekat, budayanya dekat,” ujarnya.

Yusfa tidak mau angka-angkanya punya jarak yang besar. Seperti diketahui, saat ini Singapura merupakan wisatawan mancanegara yang paling banyak datang ke Batam, Malaysia berada di nomer dua sebagai wisman. ”Namun jaraknya sangat jomplang, 70 persen Singapura mendominasi kedatangan wisman ke Batam, kami mau Malaysia juga bertambah banyak yang datang, karena penduduk mereka sangat banyak. Saat ini per Januari-Maret 2016 kemarin itu 203.587 orang sedangkan Malaysia 41.579 orang.

Malaysia turun 4 persen di 2015, yang datang ke Indonesia saat itu 43.342 orang. Maka dari itu, kami akan genjot lagi,” bebernya. Letak Kota Batam yang strategis berbatasan langsung dengan negara Singapura dan Malaysia yang terdiri dari ± 400 pulau. Luas wilayah 3.990 km2 terdiri dari Luas wilayah Daratan 1.380,85 km2 dan Luas wilayah Lautan 2.950 km2.

Secara geografis kota Batam berbatasan dengan, Selat Singapura. Posisi Batam yg berdekatan dengan Singapura dan Malaysia sebagai salah satu tujuan wisata dunia dapat dikembangkan sebagai gerbang wisata Indonesia. Batam memang menjadi tempat yang strategis bagi Indonesia untuk menggenjot wisman. Batam dan Bintan juga biasa disebut dengan “Border Tourism”.

Yakni mencari wisatawan dari Singapore dan Malaysia. Seperti diketahui, Singapore itu dihuni oleh 3,5 juta Singaporean, 1,5 juta ekspatriat, dan 15 juta setahun turis yang datang ke Singapore, mereka juga berpeluang besar masuk ke Indonesia dengan fasilitas Visa Free yang saat ini sudah diputuskan pemerintah Indonesia.

”Kami juga punya keunggulan banyak dirrect flight ke daerah destinasi lain di Indonesia, ini yang membuat kami terus berjuang untuk tetap menjadi pintu masuk bagi tanah air Indonesia,” ujarnya.

Menpar Arief Yahya memang berharap atraksi budaya Melayu yang menjadi karakter bersama Malaysia-Indonesia itu dijadikan “pintu masuk” untuk menarik wisman di border area. Musik, tari, seni berpantun, dimiliki bersama di Kepulauan Riau dan Malaysia.

“Kalau dicari, pasti akan ketemu connecting dari sisi budaya yang bisa mendatangkan wisman,” kata Arief Yahya.

Dia mencontohkan musik. Artis musik Indonesia sangat dikenal dan lagu-lagunya banyak yang nge-hits di Malaysia. Penyanyi seperti (Datuk) Rosa, Afgan, Iyet Bustami, Cakra Khan, Bunga Citra Lestari, Krisdayanti, Grup Wali, Noah, Repvblik Niji dan sebangsanya sangat populer di Malaysia. “Show musik dengan bintang-bintang yang dikenal di sana, akan menjadi daya tarik yang sangat efektif untuk menarik pasar Malaysia,” jelas Arief Yahya. (*/Amas)

Arief Yahya Jadi Perbincangan di Konferensi Internasional Tourism

Menteri Arief Yahya ketika tampil di Luar Negeri (Foto Ist)

Menteri Arief Yahya ketika tampil di Luar Negeri (Foto Ist)

BEIJING – Penampilan Menpar Arief Yahya di First World Conference on Tourism for Development, Tourism for Peace and Development betul-betul menjadi perhatian dunia. Indonesia menjadi contoh konkret, bahwa pariwisata bukan saja menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga menjadi cara yang cepat dan mudah untuk menaikkan taraf hidup, kesejahteraan, mendongkrak GDP, dan menaikkan indeks kebahagiaan hidup.

“Ini kali pertama, Indonesia menempatkan sector pariwisata sebagai prioritas utama, selain infrastruktur, maritime, energy dan pangan,” kata Arief Yahya dalam konferensi yang dikemas dalam gaya talkshow di Great Hall of The People, Beijing, Tiongkok. Mantan Dirut PT Telkom ini sangat yakin bahwa pariwisata adalah rumus yang ampuh untuk menyelesaikan problem kemiskinan.

Kata-kata Arief Yahya itu cukup menantang, tetapi dia yakin karena didukung oleh data dan fakta yang bersumber dari angka global, yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga kredibel dunia. “Kami tidak asal bicara, kami selalu menggunakan data-data yang bisa diukur. Kalau gak bisa diukur, bagaimana bisa memanage? Kami selalu menggunakan standar internasional, agar tidak berdebat kusir soal ukuran-ukuran itu. Dan kami selalu benchmarking, membandingkan dengan negara lain yang sukses, termasuk rival atau pesaing di area yang sama, agar mudah membayangan proyeksi dan achievementnya,” kata lulusan ITB Bandung, Surrey University Inggris, dan Program Doktor di Unpad Bandung itu.

Tema besar konferensi yang digelar CNTA – China National Tourism Administration (Kemenpar-nya Tiongkok) dan UN-WTO, Lembaga PBB yang mengurusi pariwisata, 18-21 Mei 2016 itu sejatinya berujung pada Sustainable Tourism Development (STD). Agar berkelanjutan, maka keberadaan tourism harus mengangkat harkat dan martabat serta ekonomi masyarakatnya.

Arief Yahya berbicara pada Sesi-I, dengan moderator Martin Barth, President of Tourism Forum Lucerne Swiss. Dalam satu sesi itu ada narasumber lain, Jose Gustavo Santos, Mempar Argentina, Che Min’er, Sekretary of the CPCCommittee of Guizhou Province, Aisha Muhammed Mussa, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ethiopia, Elvas Gustas Menpar Lithuania, Ketevan Bochorishvili Georgia, Dho Young-Shim, Chairperson Sustainable Tourism for Eliminating Poverty, Bert Hofman, Country Director for China, Korea, and Mongolia, World Bank. Takafumi Ueda, Senior Advisor on Private Sector Development, Japan International Cooperation Agency. Duan Qiang, CEO of Beijing Tourism.

“Tiga hal dalam pembangunan Sustainable Tourism Development (STD) itu, yakni Cultural, Economic, Environment (CEE). Selama ini orang hanya menghitung cultural aspec saja, belum menyentuh pada economic dan environmental. Saat ini ketiganya harus seiring sejalan, sehingga pembangunan kepariwisataan itu bukan saja mengeliminir kemiskinan, tapi akan menjadi penyumbang devisa terbesar bagi bangsa seperti di Indonesia,” tegas Arief Yahya, yang mengatakan tourism akan menyumbang devisa terbesar di 2019 nanti, mengalahkan Oil and Gas, Coals dan CPO – Crude Palm Oil.

Karena itu, Presiden Joko Widodo disebut oleh Arief Yahya memiliki target kunjungan wisman dengan angka yang fantastis, double. Tidak main-main, double dalam lima tahun, itu sama dengan kenaikan 20% setiap tahunnya. Oil and Gas tahun 2013 menyumbang USD 32.6 M, tahun 2014 turun USD 30,3M, dan 2015 turun lagi USD 18,9 M. Begitupun nasib batu bara atau Coal yang menempati posisi kedua dalam perolehan devisa untuk negeri. Tahun 2013, coal menyumbang USD 24,5M, lalu 2014 turun USD 20,8M, akhir 2015 turun lagi di USD 16,3M. Minya Kepala Sawit (CPO) juga begitu trend-nya, tahun 2013 USD 15,8M, lalu sempat naik USD 17M, dan akhir 2015 jatuh lagi di USD 15,4M.

“Trend itu berbeda dengan pariwisata, selalu naik, dari USD 10M, naik USD 11 M dan terakhir 2015 menjadi USD 11,6 M. Tetapi yang paling penting dan utama adalah CEO Commitment, President Commitment! Itu melebihi dari segalanya, ketika presiden sudah menetapkan sector pariwisata menjadi prioritas, maka semua problematika terkait dengan tourism dengan cepat akan menemukan solusinya,” sebut Arief Yahya. Statemen itu rupanya menjadi polemic, termasuk di media-media besar di Beijing –termasuk menjadi headline di China Daily– mengutip statemen Arief Yahya itu.

Li Jinzao, Chairment of CNTA juga mencontohkan di Negeri Tirai Bambu itu sendiri industri pariwisata mampu men-drive 10,8 persen GDP, dan menciptakan lapangan kerja 10,2 persen. “Lima tahun ke depan, pariwisata di China diproyeksikan bisa menurunkan 12-14 juta orang. Karena itu, pembangunan di sector pariwisata terus akan dikembangkan,” papar Li Jinzao, Menpar-nya Tiongkok.

Industri pariwisata di China saat ini betul-betul menjadi kekuatan yang luar biasa, ketika pemerintahkan menjadikan sector ini sebagai salah satu kekuatan. Bagaimana tidak? Outbond traveller-nya 120 juta orang setahun. Inbound-nya 130 juta setahun, di 2015 lalu. Sedangkan wisatawan domestic mereka 4 miliar pergerakan setahun. Angka yang fantastic, dan membuat semua negara di dunia terbelalak untuk mengambil peran di pasar Tiongkok itu.

Istvan Ujhelyi, Vice Chair of The Committee on Transport and Tourism of the European Parliament saat diberi kesempatan berbicara di forum itu bercerita soal growth di sector pariwisata. Hanya pariwisata yang sustainable, tidak lekang oleh waktu, terus bertumbuh dalam situasi apapun.

“Turisme akan menjadi bisnis terbesar di abad yang akan datang. Ketika bapak saya lahir 67 tahun silam, hanya ada 25 juta wisatawan di seluruh dunia. Ketika anak saya lahir 15 tahun lalu, sudah lebih dari 700 juta wisatawan. Dan sekarang, sudah lebih besar dari 1,2 miliar orang berwisata,” jelas Istvan.

Katevan Bochorishveli Wakil Menteri Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan Georgia memperkuat statemen Arief Yahya. Beberapa tahun belakangan, kontribusi pariwisata dalam perekonomian di negerinya paling besar dan paling cepat bertumbuh. “Pariwisata bisa menciptakan lapangan kerja dengan cara-cara yang kreatif,“ sebutnya untuk menegaskan bahwa secara otomatis kemiskinan akan berkurang.

Marcio Favilla, yang mantan Tourism Minister of Brasil yang kini bekerja untuk UNWTO itu menambahkan, hadirkan turism juga bisa mengangkat pengusaha-pengusaha UMKM, usaha kecil, mikro, dan menengah. Itu sudah dia buktikan di banyak negara. “Merekalah yang akan mensupplay barang dan jasa, mendapatkan manfaat langsung maupun tidak langsung dari industry pariwisata,” jelas Marcio.

Memang diantara panelis ada yang berbeda pendapat. Takafumi Ueda, dari Japan International Cooperation Agency. Dia memang berbeda mazhab dari Arief Yahya, yang konsisten dan percaya dengan angka-angka. Ueda memandang tourism dari sisi yang berbeda, yakni dari ilmu social. “Apakah dengan hadirnya banyak wisatwan, memenuhi hotel-hotel chain bertaraf internasional, menyumbangkan GDP terbesar buat negara, itu secara otomatis mensejahterakan? Bagiamana dengan dampak sosialnya?” kata Ueda bernada sinis.

Ya, memang di mana-mana selalu ada risiko. Apalagi bisnis? Selalu ada risiko, karena itu ada yang disebut risk calculate, yang tugasnya menghitung seberapa besar risiko dibandingkan dengan benefitnya. Chen Min’er, Party Chief of Guizhou Province, Tiongkok menjawab dengan gambang. “Pemerintah menciptakan peluang. Perusahaan membangun bisnis dan usaha. Masyarakat local senang menjadi suplayer barang dan jasa! Semua diuntunkan. (*/Amas)

iklan1