Tag: minahasa

FISIP Unsrat Gelar Webinar Terkait Desa dalam Badai Covid-19

Tema Seminar dan para narasumber (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Pelaksanaan Webinas atau diskusi media daring Pemerintahan Desa dengan tema: ”Desa Dalam Badai Covid-19” dengan menghadirkan para narasumber berkompeten. Rencananya Seminar dilaksanakan, Senin (18/5/2020). Hal tersebut seperti disampaikan, DR. Alfon Kimbal, S.Sos.,M.Si, Ketua Program Studi Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado selaku Ketua Panitia pelaksana.

Menurut Kimbal, para narasumber yang diundang diantaranya, Anwar Sanusi, MA.,PhD, Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia. Kemudian, DR. Drs. Novie R. Pioh, M.Si, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsrat Manado, DR. Ir. Royke O. Roring, M.Si, Bupati Kabupaten Minahasa.

”Para narsumber berkompeten di bidang pemerintahan, kita undang untuk berkontribusi menyampaikan pikiran-pikiran pokoknya untuk masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerja sama akultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi bekerja sama dengan Asosiasi Dosen Ilmu Pemerintahan Seluruh Indonesia (ADIPSI). Sebagai pelaksana kegiatan kami juga berharap bagi yang mau bergabung dapat menghubungi Nomor whatsApp 0812-4470-355 (Fanley) dan 0821-9404-7889 (Gustaf),” ujar Alfon, Minggu (17/5/2020).

Selanjutnya, Alfon mengatakan pembicara berikutnya adalah DR. Kushandajani, Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan FISIP Universitas Deponegoro (Undip) Semarang. Setelahnya narasumber dari representasi pemerintah Desa, Lucki Kasenda, SE, Hukum Tua Desa Kanonang Satu, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa.

Narasumber dan moderator (Foto Istimewa)

Lalu yang bertindak selaku moderator adalah DR. Welly Waworundeng, S.Sos.,M.Si, Dosen FISIP Unsrat Manado. Alfon menyebutkan pula bahwa kegiatan ini perlu dilakukan dalam rangka melahirkan solusi terhadap masyarakat Desa di tengah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19). Cara untuk melahirkan solusi ialah dengan melibatkan civitas akademika untuk bersinergi dengan pemerintah dalam mewujudkan program yang strategis dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

”Webinar ini mendiskusikan posisi pemerintah Desa dalam pengambilan keputusan. Itu sebabnya, menjadi begitu penting dilakukan agar pemerintah Desa disaat wabah Covid-19 juga tidak salah dalam mengambil kebijakan. Kita harapkan nanti pengambilan keputusan melahirkan singkronisasi kebijakan pemerintah pusat sampe Daerah dan Desa,” kata Alfon.

(*/Bung Amas)

Gelar Pasar Kilat, Pemerintah Desa Kanonang Satu Fasilitas Masyarakat

Lucky Kasenda, SE (Foto Istimewa)

MANADO, Suluttoday.com – Penyebaran Corona Virus (Covid-19) diakui ikut memukul perekonomian masyarakat. Wabah ini bukan sekedar bencana atau darurat kesehatan, melainkan dampaknya merambah secara menyeluruh. Dimana pemerintah menganjurkan masyarakat untuk terus menjaga jarak sosial (social distancing). Walau begitu, seperti kata Presiden Ir. Joko Widodo, aktivitas perekonomian tetaplah berjalan biasa. Jangan dihentikan.

Mengamati berbagai perkembangan di tengah Covid-19, pemerintah Desa Kanonang Satu Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) memfasilitasi masyarakat agar mudah mengakses kebutuhan ekonomi dengan membuka Pasar Kilat. Hal itu seperti disampaikan Hukum Tua Desa Kanonang Satu, Lucky Kasenda, SE. Menurut Hukum Tua Lucky apa yang dilakukan tersebut untuk memudahkan masyarakat.

”Kami membuka Pasar Kilat di Desa Kanonang Satu Kecamatan Kawangkoan Barat Kabupaten Minahasa. Dimulai pada hari Selasa 5 Mei 2020. Ini tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan sembako masyarakat Desa Kanonang Raya (Kanonang 1, 2, 3, 4 dan 5) selama Pandemik Covid-19. Menambah penghasilan masyarakat lebih khusus petani, dan juga barang-barang yg dijual adalah sebagian besar hasil pertanian masyarakat Desa,” ujar Lucky saat diwawancarai Suluttoday.com, Rabu (6/5/2020).

Kondisi Pasar Kilat di Desa Kanonang Satu (Foto Suluttoday.com)

Selain itu, Lucky yang didampingi Dr. Alfon Kimbal, S.IP.,M.Si, menerangkan bahwa masyarakat juga diberitahu untuk tetap mengikti imbauan pemerintah yakni menjalankan protokol kesehatan Covid-19. Pihaknya juga tak lupa menerapkan sistem pembatasan waktu bagi beroperasinya pasar, sehingga tidak full dibuka, tapi untuk hari Minggu tidak ditutup.

”Jadi pedagang hanya dikhususkan pada masyarakat Desa Kanonang Raya. Selain itu, pedagang dan pembeli kita anjurkan untuk tetap mengikuti protap penanganan Covid-19 yaitu dengan memakai pakai masker, cuci tangan, dan menjaga jarak fisik atau physical distancing. Kemudian, soal waktu beroperasinya Pasar Kilat diantaranya dari Senin sampai Sabtu,” kata Lucky menutup.

(*/Bung Amas)

LEGASI, IKON & PERSONALITAS

Reiner Ointoe bersama mantan Gubernur Sulut dan mantan Rektor Unsrat (Foto Ist)

Oleh : Reiner Ointoe, Fiksiwan

Tak banyak orang di uzur usia dikaruniai begitu banyak anugrah yang penuh makna. Seperti yang dialami oleh Profesor Morrie Schwarz ketika di ujung umurnya mencapai lebih dari 70 tahun divonis akan mati dengan penyakit ALS (amyotrophic lateral sclerosis) atau Lou Gehrig yang ganas dan menyerang sistem saraf hingga surut tubuhnya tak berdaya.

Morrie profesor sosiologi kondang dari universitas Brandeis kota Waltham Massachusetts pada tiap selasa di akhir tahun 90-an didatangi mantan mahasiswanya, Mitch Albom, untuk meminta menguliahinya ilmu kehidupan yang paling aktual dan fundamental soal makna hidup. Mengingat di usia uzur dan penyakit yg akan segera membuat ia wafat. Tapi, soal penuaan dan kematian, Morrie punya pesan:

“Mitch, kita tahu penuaan itu tidak hanya berarti pelapukan, tetapi juga pertumbuhan. Penuaan tidak hanya bermakna negatif, bahwa kita akan mati, tetapi juga makna positif, bahwa kita mengerti kenyataan bahwa kita akan mati, dan karena itu kita berusaha untuk hidup dengan cara lebih baik.”

Begitu pesannya, yabg dituliskan Mitch dalam bukunya yang menjadi sangat populer: Tuesdays With Morrie (1997). Demikian pula makna hidup yang bisa saya petik dari seorang cukup lanjut usia, tapi masih menorehkan prestasi-prestasi kehidupan dengan catatan yang tiada habisnya untuk dikeruk. Dalam satu hal, personalitas orang ini yang sangat dikenal dengan sapaan SHS nama lengkapnya Sinyo Harry Sarundajang, memiliki legasi (warisan) yang masih terus ia oretkan pada lintas generasi yang hingga kini terus dirawatnya dengqn penuh kesahajaan dan sangat berkesan.

MacNelly & Wolverton menyebutnya sebagai judul bukunya: Reinventing of Knowledge (Merawat Ilmu Kehidupan) sepanjang masa. Sebagai apresiasi saya, sudah lebih dari 25 tahun atau sepertiga kehidupan SHS (kini Duta Besar Filipina) yang baru saja membebaskan sandera dari cengkraman gerakan banditisme internasional Abu Sayab, perkenalan saya diawali dengan menukiskan biografi hidup yang hampir tiga periode menjadi Walikota Bitung pertama secara definitif.

Buku karya Sarundajang (Foto Ist)

Pun di kampung halamannya, Kawangkoan, daerah yang pernah dikunjungi Gubernur Batavia, Christian Pahud pada abad ke-18, dan dipuji sebagai negeri yang “indah dan ramah” seperti dicatat oleh Graafland dalam bukunya: Minahasa (1869). Legasi itu, tidak sekedar artefak sebagai ikon spiritual seperti patung Jesus Kristus setinggi 30 meter — menurut beliau “diinspirasi lewat mimpinya bertemu Jesus” — dan berada di puncak gunung Emung. Dari atasnya, kita bisa memandang seantero kota Kawangkoan yang dikenal dengan kacang dan biapongnya.

Selain itu, di Kinali, di keluasan halaman rumahnya yang asri, tegak sebuah gedung yang menampung kurang 41.000 judul buku dalam pelbagai disiplin ilmu pengetahuan denga jumlah eksemplar kurang lebih 100.000. Sembari merenungkan usia dan undangannya, saya pun terus diingatkan oleh impresi dan empati kehidupannya yang sarat dengan makna hidup sebagai sebuah diktat kuliah tak pernah bosan membacanya. Happy Birthday Mr. Ambassador. You are the real our Professor. You are also the living gift thats the special one we own all the lifetime.

K7 Sobat Kristus Siapkan Hati Sambut Natal

Pujian K7 Sobat Kristus (FOTO Ist)

MANADO, Suluttoday.com – Jemaat kolom 7 GMIM Sobat Kristus (K7 Sobat Kristus), Selasa (11/12/2018) malam menghelat ibadah pra Natal. Dengan menjabarkan Berkarya dalam Pengharapan, Ketua BPMJ GMIM Sobat Kristus, Pdt D C Pelealu Wowiling STh yang menjadi khadim membekali iman jemaat baru dilingkup Gereja Masehi Injili di Minahasa yang mendiami Perumahan Puri Indah Malalayang Satu Timur dalam menyambut Hari Natal.

Dalam sukacita iman yang dirasakan 23 keluarga di K7 Sobat Kristus turut dihadiri Ketua BPMJ GMIM Air Terang Malalayang Satu Timur, Pdt Roy Rudolf Aruperes STh beserta beberapa pelayanan khusus (Pelsus), Pelsus di jemaat GMIM Sobat Kristus dan masyarakat di sekitar.

Dan dalam kesempatan bersekutu Penatua K7 Sobat Kristus, Christian Sukarame dan Ketua Panitia, Royke Taja mengatakan bahwa turut diberikan diakonia bagi anak berkebutuhan khusus dan janda/duda.(Cat)

Seleksi Kepemimpinan Daerah, Pilkada dan Semangat ‘Sitou Timou Tumou Tou’

Prof DR Sam Ratulangi (Foto Ist)

Sitou Timou Tumou Tou’ yang merupakan konsep atau falsafah hidup masyarakat tanah Minahasa, dinilai selalu relevan sepanjang zaman. Kalimat inspiratif itu terlahir dari kearifan lokal dimana masyarakat saat itu tumbuh. ‘Sitou Timou Tumou Tou’, artinya ‘manusia memanusiakan sesama manusia’. Kemudian, kenapa perlu kita menyoal politik pada tulisan kali ini, hal itu beralasan karena sebagai ikhtiar politik, dimana pada tahun 2018 di Provinsi Sulawesi Utara sendiri terdapat kontestasi Kepala Daerah.

Sekitar dua Kabupaten di Minahasa yang menggelar Pilkada, diantaranya; di Kabupaten Minahasa dan Minahasa Tenggara. Fenomena politik faksi dan friksi kini mulai terbaca benih-benihnya, walau sekali lagi inilah model serta apresiasi kita dalam berdemokrasi. Toh, pada akhirnya semua pemegang hak suara menyampaikan dalihnya untuk mempertanggungjawabkan secara sosial pilihan politiknya itu.

Sekedar belajar dari proses Pilkada yang notabenenya sebagai ajang seleksi kepemimpinan di daerah, banyak referensi kita telah lewatkan sebenarnya, sehingga seyogyanya dari Pilkada ke Pilkada selanjutnya melahirkan sebuah progress. Harapan tersebut, bukan sekedar harapan kosong, namun dibutuhkan komitmen konkrit dalam mewujudkan perubahan itu sendiri. Prof Dr Sam Ratulangi sebagai pencetus slogan ‘Sitou Timou Tumou Tou’ telah berhasil meletakkan Minahasa pada posisi yang begitu diperhitungkan karena gagasan besar ini.

Secara teoritis, hakikat politik itu mewujudkan kesejahteraan rakyat dan membuat rakyat yang dipimpin bahagia, bukan sekedar perebutan kekuasaan tanpa akhir. Walau sering kali mengalami bias saat praktek politik dan perebutan kekuasaan itu sedang berjalan, hakikat politik merupakan tujuan mulia yang patut direorientasikan dari para aktor politik ‘pemburu kekuasaan’.

Sebagai gagasan ‘penyangga’ dan sekaligus pengigat bagi publik bahwa betapa banyak peninggalan sejarah di Negeri ini yang baik-baik, layak ditiru, bukan direduksi, apalagi dilucuti. Semisal, tentang narasi atau esensi dari kata-kata seperti Sitou Timou Tumou Tou, yang begitu universal maknanya. Kenapa penting kita membaca kembali, mendiskusikan atau mengingat kembali Sitou Timou Tumou Tou?.

Melalui spirit ini pula, para politisi kandidat Kepala Daerah dapat berfikir inklusif, tidak brutal saat kampanye hingga melupakan warisan sejarah, kearifan lokal dan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan para pendahulu Negeri ini. Sudah otomatis ‘indah pada waktunya’, jika para politisi menjadi penyejuk, menjadi duta-duta Pilkada yang damai, sampai tiba masanya dari sekian calon terseleksi Kepala Daerah yang betul-betul konsisten berpihak pada rakyat dan menghargai urgensi sejarah daerah, serta sejarah bangsa Indonesia.

Selain itu, pengertian politik menurut Robert A. Dahl adalah seni memerintah dan mengatur masyarakat manusia. Ini bukan dijadikan benturan sejarah, persilangan atau pertentangan lainnya dalam kemasan isu-isu kampanye politik yang menjatuhkan. Melainkan, menjadi penyemangat untuk melahirkan keutuhan, masyarakat (konstituen) diadu untuk berlomba-lomba menjaga kebersamaan, saling menghargai, meski dalam konteks tertentu adalah rival politik.

Para akademisi, jurnalis, kader partai politik, simpatisan calon Kepala Daerah, kalangan professional lainnya dan pemangku kepentingan juga diminta menjadi agen yang bertugas memproduksi pandangan-pandangan tercerahkan. Pendidikan politik dikedepankan, hindari saling menjatuhkan, peristiwa politik yang tidak mendidik yang pernah dipertontonkan di daerah lain di Indonesia ini, dan itu merusak kerukunan, maka jangan sedikitpun diadopsi.

Kita meniru kebaikan-kebaikan besar, maupun kebaikan sekecil apapun di dunia ini, selama itu baik layaklah kita tiru. Namun bila politik hanya membawa rusuh, gaduh dan mengganggu solidaritas masyarkat, itu adalah lawan kita bersama. Isu sektoral yang gagal mengakomodasi kepentingan kebanyakan orang, patut dirubah dengan pola rekayasa pilihan, hijrah dari yang biasanya memilih figur karena memberikan uang, ke memilih calon pemimpin yang berkomitmen mewujudkan kepentingan publik.

Catatan kecil ini sekedar menjadi penambah nutrisi dalam kita berdemokrasi, tak lebih. Karena kerinduan kita sama sebagai anak bangsa yang menghendaki pemimpin itu menjadi teladan, bukan sekedar menjadi seperti senter klas. Pemimpin itu dasarnya saja, tau merancang, menjalankan apa yang dirancangnya, berjanji, lalu merealisasikan apa yang dibicarakannya. Mereka yang menjadi role model bagi orang-orang disekitarnya, dan bisa menjalankan tugas sosialnya, bukan menjadi ‘boneka’.

Perseturuan melalui politik gerbong rasanya sulit untuk diakhiri dalam membaca trend politik modern, mesti begitu yang namanya politik memang tak ada yang abadi. Kepentingan menjadi daya tarik luar biasa, sehingga tidak ada yang abadi didalamnya. Muncul blok politik (oposisi), tak lama lagi akan berubah menjadi kompromi politik (koalisi), semua motivasinya rata-rata sama yakni mengamankan kepentingan.

Kita berharap kekuatan filosifis dari makna ‘Manusia Memanusiakan Manusia’ menjadi nilai transformasi yang tiap detik menyemangati para politisi kita agar berfikir jangka panjang. Berfikir tentang pentingnya regenerasi kepemimpinan yang berkualitas, bukan yang abal-abal dan mengandalkan kekuasaan atau kekuatan uang semata. Bila itu yang dilakukan politisi, maka pekerjaan mendorong pendidikan politik yang sering dilakukan para pengamat politik dan konsultan politik, tidak berat lagi.

Karena jujur saja cukup berantakan pembagian tugas dari para pengurus partai politik dalam melakukan pendidikan politik kepada rakyat. Semua cenderung mengharapkan yang instan saja, saling berharap itu masih menjadi mentalitas kita dalam membenahi ruang politik yang penuh pragmatisme dan pembodohan terstruktur ini. Semoga di tahun 2018 ini kompetisi politik di Minahasa dan Minahasa Tenggara lebih maju, serta membawa manfaat bagi masyarakat.

Lebih komprehensifnya, gagasan Sam Ratulangi tentang Sitou Tiour Tumou Tou dominan diartikan pada rekonstruksi paradigma pendidikan (kalau tidak salah). Aspek pendidikan yang menjadi perhatian serius Sam Ratulangi disaat itu. Tapi, bagi penulis spirit ini parlu ditarik dan dijangkitkan pada para aktor-aktor politik kita bahwa pentingnya berfikir besar, hidup untuk menghidupkan orang lain itu sangatlah penting. [***]

 

 

Catatan Redaksi Suluttoday.com

iklan1