Tag: MUI

Istri Mantan Ketua MUI Sulut Dibunuh, Pelaku Langsung Diamankan

Pelaku pembunuhan istri mantan Ketua MUI Sulut (Foto Ist)

Pelaku pembunuhan istri mantan Ketua MUI Sulut (Foto Ist)

MANADO – Kejadian naas terjadi pada Haja Aminah Potabuga, Rabu (1/4/2015), warga Kelurahan Mahawu yang dibunuh dan barangnya dirampok sekitar pukul 18.30, kejadian yang terjadi di Kecamatan Tuminting Kota Manado itu menyedot perhatian semua warga, dimana Almarhumah Aminah tidak lain adalah istri tercinta dari mantan Ketua MUI Sulawesi Utara (Sulut), Almarhum Hi. Fauzi Nurani.

Korban ditemukan dirumahnya saat mengantarkan cucu dan anak korban atas nama Rahmawati Fauzi, 32 tahun, pekerjaan PNS Kemenag Bitung yang dijemput di Kelurahan Kombos Kecamatan Singkil,Kota Manado. Saksi (ibu Ancela Sumendap dan Rahmawati Fauzi) langsung histeris ketika melihat korban terlentang di ruang makan di atas tumpukan buku cetak agama dalam keadaan tewas, korban saat ditemukan mulut dan hidung mengeluarkan darah yg sudah kering, leher bekas sayatan sekitar 15 cm, dan wajah dipenuhi semut.

Warga sekitar langsung berdatangan ketika mendengar  suara gaduh orang berteriak minta tolong dan menangis. Pihak KORAMIL 1309-01/STB dan POLSEK Tuminting yg dihubungi mendatangi  dan mengamankan TKP dari warga yg memenuhi rumah korban.

Kemudian, pukul 20:00 wita, korban di bawa ke R.S Prof Kandou untuk di autopsi. Dugaan sementara korban tewas sejak pagi dan pelaku pembunuhan sudah diketahui identitasnya dan dekat dangan korban( tetangga korban,a.n Yamin Hipi.identitas lainnya masih ditelusuri) yg melarikan 1 unit Mobil Honda Jazz Hitam nopol DB 4422 AM dan barang berharga.

Kasus tersebut sudah ditangani Polsek Tuminting. Untuk diketahui, tersangka atas nama Yamin alias YH sekarang sudah ditangkap pihak kepolisian dan ditahan di POLRESTA Manado. (Amas Mahmud)

Komunitas Anti Diskriminasi Sulawesi Utara Tolak Fatwa MUI

Falen Kandou (Foto Ist)

Falen Kandou (Foto Ist)

MANADO – Majelis Ulama Indonesia (MUI) tengah mengkaji fatwa hukuman mati bagi kaum gay, lesbi, dan transgender mendapat respon publik. Seperti diketahui MUI menganggap, selain melanggar norma agama, kelompok ini sudah meresahkan masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, organisasi Merpati Muda Sulawesi Utara (MMSU), mengingatkan pemerintah untuk tidak merestui jika hasil kajian MUI ini benar-benar dilaksanakan, hal tersebut disampaikan Falen Kandou pada Suluttoday.com, Sabtu (21/3/2015).

”Bagi kami apa yang dilakukan MUI jika benar mengesahkan fatwa dengan membentuk Undang-Undang itu merupakan bentuk diskriminasi,” ujar Falen Kandou, Ketua Merpati Muda Sulawesi Utara saat diwawancarai.

Ditegaskan Kandou bahwa pemerintah harus tidak mengeluarkan kebijakan yang bijkan, tanpa diskriminasi, dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). ”Kami sangat-sangat akan menolak bila hasil kajian ini benar-benar terlaksana karena ini sudah sangat tidak manusiawi dan melanggar hak asasi manusia jangan ada lagi diskriminasi di indonesia kaum gay, dan lesbian juga warga negara indonesia yang di lindungi uud dan konstitusi,” tutur Falen.

Lanjut Kandou, yang pantas di hukum mati adalah para penghianat negara seperti koruptor dan para mafia kasus mereka yang sangat menyusahkan Rakyat banyak, hak asasi masakan harus di hukum? ”Kami juga meminta MUI untuk memperhatikan aspek kemanusiaan dan toleransi dalam kajian yang akan di lakukan,” tukas Falen.

Komentar juga datang dari Manado Man Comunity, melalui ketuanya Jason Engelbert ini negara kesatuan hak2 kaum minoritas juga harus di lindungi lanjut salah satu aktifis LGBT ini kami santai2 aja fatwa ini kan bukan produk hukum jadi tidak usah di tanggapi serius,,stop discriminasi terhadap kaum LGBT,” ucap Engelbert menutup. (Amas Mahmud)

Terkait BG, MUI Minta Jokowi Gunakan Hati Nurani

Joko Widodo (Foto Ist)

Joko Widodo (Foto Ist)

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) ogah berkomentar banyak terkait polemik yang terjadi antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri yang berawal dari kasus Budi Gunawan (BG). Namun demikian, MUI berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) dapat mengambil keputusan yang benar dan berdasarkan hati nurani.

“Kita dorong pemerintah ambil langkah dengan meminta fatwa bukan pada MUI, tapi kepada hati nurani,” ujar Ketua Umum MUI Din Syamsuddin usai bertemu Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/2/2015) siang tadi.

Din memahami Jokowi juga mempertimbangkan keputusan itu dari proses politik dan hukum. Namun, Din mengingatkan agar mantan wali kota Solo itu juga mempertimbangkannya dari hati nurani dan sanubari.

“Iya, tapi jangan abaikan (hati nurani). Politik, hukum, ekonomi sosial itu sah-sah saja tapi paling penting itu,” ujarnya.

Din memahami suasana kebatinan sang Jokowi yang saat ini terlihat dilematis. Untuk itu, Din menyarankan Presiden untuk solat istikharah agar dapat menemukan keputusan yang baik dan benar.

“Kami sangat pahami suasana kebatinan, siapa pun jadi presiden, sangat dilematis, sangat berat. Tapi kami juga percaya, kalau tanya hati nurani beliau yang tahu. Kalau hati nurani, baiknya tuh di sini. Kalau sudah hati nurani, kalbu apalagi dengan istikharah,” ujarnya.

Hari ini Presiden Jokowi melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh MUI di kantornya. MUI sekaligus memberikan undangan kepada Jokowi agar dapat hadir di HUT MUI. (Merdeka.com/Amas)

Din Syamsudin: Ormas Islam Berharap PP Sudahi Konflik Internal

Din Syamsudin

Din Syamsudin

JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsudin menyatakan, umat Islam mendorong Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz dan kubu Romahurmuziy segera menyudahi kisruh. Hal itu agar tercipta persatuan di tubuh partai Islam tersebut.

“Ormas Islam berharap PPP selesaikan konflik internalnya. Karena tidak mungkin bersatu kalau ada perpecahan,” kata Din Syamsudin dalam sambutannya pada halaqoh kebangsaan di gedung MPR Jakarta, Selasa (23/12/2014).

Menurutnya PPP adalah partai berbasis massa Islam yang tertua. Maka dari itu, harus menjadi contoh yang baik bagi organisasi Islam di Indonesia.

“Insya Allah, partai Islam ini (PPP), apalagi menggunakan kata persatuan, akan betul-betul menunjukkan persatuan, itu harapan kita,” terang dia.

Senada, Ketua MPR Zulkifli Hasan menyebutkan perpecahan di tubuh partai kabah memperburuk nama partai politik. Apalagi saat ini politik dinilai sebagai hal kotor.

“Fraksi ada dua, partai belah duren. Tentu akan menambah buruknya partai politik dan politik di tanah air,” ujar dia. (Merdeka.com/Amas)

Kontradiksi Pokok Dunia Pendidikan

Bahtiar Ali Rambangeng

Bahtiar Ali Rambangeng

MANADO – Pendidikan adalah proses menanusiakan manusia proses mengasah mental menjadi berkarakter,  terdidik dan berdedikasi. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia bukan sebaliknya mematikan kemanusiaan manusia atau membuat manusia yang baik menjadi semakin buruk. Indikator dasar dari pandangan ini adalah, ketika seseorang masuk dunia pendidikan yang sebelumnya terbelakang secara pengathuan menjadi tahu atau dari tidak tahu menjadi semakin tahu, indikator kedua dari kurang berakhlaq menjadi semakin berakhlaq, nah problemnya sekarang dalam beberapa diskusi banyak anak-anak ketika memasuki dunia pendidikan sepertinya kehilangan rasa hormat pada kedua orangtunya padahal orangtuanya tempat pertama menimbah ilmu, selain itu pendidikan telah menciptakan ruang banyaknya anak-anak pintar bermain dengan permainan berbahaya baik berupa kekerasan jalanan maupun disekolah apalagi jika sudah masuk wilayah senioritas dan yunioritas disekolah senior dan menindas yunior. Disinilah letak dasar yang membuat pendidikan semakin kompleks permasalahan dihadapainya.

Bukan hanya persoalan siswa namun yang lebih urgen adalah guru, berapa lulusan kampus yang benar-benar belajar baru bisa dikatakan sarjana, berapa ijazah yang diperoleh dengan hanya mengukuti proses perkuliahan yang hanya 1-5 kali atau bahkan nanti saat wisuda bagaimana mungkin bisa bicara pendidikan berkualitas jika akar permasalah ini tidak diatas dengan baik. Ketika saya mendengar hal-hal seperti ini hanya tersenyum namun dalam hati amat marah bahwa dunia akademik sudah mulai kehilangan legitimasi dengan problem lulusan yang tidak bisa menjadi akar peningkatan kualitas di sekolah.

Bagaimana seorang pendidik yang tidak berkualitas harus berbicara kualitas pendidikan, selain itu akar utama masalahnya adalah bagaimana jika proses memperoleh ijazah sudah merusak mental lalu bagaimana bisa membangun mental anak didik, sulit rasanya mengukur pendidikan yang akan dibangun diantara guru yang sudah sejak awal kehilangan karakter dasarnya wajar jika anak-anak sekolah yang dihasilkannya kalau cerdas namun tidak ada karakter, kalau lulus namun kualitas tidak layak diandalkan.

Tentu saja tulisan ini bukan semata ingin mengajari pembaca namun ingin mengajak bagaimana mata, dan pendengaran menyaksikan proses transaksi ijzah telah menampar keras dunia pendidikan kita, lebih jauh dari itu semua ini sudah dipandang sebagai hal yang wajar dan biasa-saja diantara para pendidikan dan dunia akademik. Untung saja jika yang bersangkutan pernah ikut didunia aktivis sehingga kualitasnya masih bisa diharapkan namun apapun bentuknya proses pendidikan seperti ini sudah jelas bermasalah dan menjadi urat nadi perusak mekanisme dan sistem pendidikan yang berjalan.

Hal yang marak juga adalah bagaimana jika proses penerimaan PNS guru terjadi dengan proses transaksi keuangan, seorang guru yang jadi PNS harus membayar 30,50,70 bahkan sampai 100 dasar ini mulai dari proses sudah salah bagaimana bisa mendidik dengan benar. Membayar untuk menjadi PNS sudah menjadi perilaku hampir semua daerah di Indonesia, lantas bagaimana hasil gaji yang sudah bermasalah masuk di perut, lalu energi itu digunakan untuk mendidik anak-anak sekolah semuanya sudah jelas membuat pendidikan semakin terkubur dari sisi kualitas dan pembentukan karakter siswa.

Transfer of knowledge dan transfer of value

Problem dan proses pendidikan dan rekrutmen guru yang salah bukan hanya mencederai pendidikan namun menjadi batu sandungan bagi transfer of knowledge dan transfer of value. Proses memberikan ilmu membutuhkan keikhlasan, ketulusan bahkan seharusnya setiap mengajar harus berwudhu jika seorang muslim agar proses pembelajarannya benar-benar terjiwai oleh sang guru dan siswa, bukan sebarapa banyak yang diajarkan namun sebarapa kuat satu pengetahun membentuk karakter siswa dan siswa selalu mengingatnya.

Proses pendidikan yang sudah kehilangan akar dasarnya tadi sulit rasanya berjalan maksimal karena pendidikan yang baik membutuhkan hati bukan hanya otak karena hati menjadi penyejuk nilai dari proses pendidikan tersebut. Seorang guru seharusnya tulus untuk mengajar namun karena proses menjadi guru harus melalui transaksi keuangan maka sudah menghilangkan nilai tertinggi dunia pendidikan, yakni hati dan ketulusan sehingga pendidikan bisa berjalan maksimal.

Saya teringat dengan seorang guru yang memaknai pendidikan sebagai proses perjuangan dan pengabdian. Di tahun-tahun awal kemerdekaan dimana pendidikan amat sulit dijangkau, guru-guru yangb terbatas namun seorang guru siap mengajar dengan berjalan kaki berkilo-kilo, dengan gaji hanya untuk makan. Wal hasil siswanya bisa mengetahui ilmunya dan terbentuk karakternya padahal metodologi pengajarannya sederhana saja cukup menjelaskan point-point pelajaran namun siswa paham dan hormat sekarang pendidikan itu kini hilang karena menjadi guru tidak lagi dimaknai sebagai proses berjuang dan ikhlas..

Memperbaiki dunia pendidikan yang sudah semakin kompleks harus memulai menata dari segala sisi, baik proses seseorang menjadi sarjana, proses guru menjadi guru harus dipersiapkan dan proses penguatan dalam aplikasi pelaksanaan pembelajaran selama kuliah sehingga fokus utama dunia akademik khususnya guru terfokus pada penanaman nilai, pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan yang utama pembentukan karakter guru.

Selain itu proses rekrutmen PNS gur sudah harus dilakukan secara terbuka, jauh dari proses transaksi keuangan agar guru bisa menjadi guru dengan ikhlas agar kualitas keikhlasannya membekas pada diri sang murid. Selain itu, proses pendidikan di sekolah harus ada tradisi baru yang dibangun baik dengan tradisi menulis, membaca maupun tradisi diskusi antar anak, antar sekolah agar tawuran siswa bisa sedikit di atasi.

Waktu bertandang ke rumah gurutta Prof.KH. Ali Yafie mantan ketua MUI Indonesia, era eyang Prof. BJ. H. Habibie di serpong 2013, beliau tokoh yang dianggap kalangan santri ulama dengan pengetahuan ushul fiqhi yang sudah sulit mencari tandingannya di Indonesia. ketika kami bertanya apa resepnya, sederhana saja belajar pada ustadz dan ulama kampung di Sulawesi selatan (Bugis-Makassar), tidak pernah beliau ke mesir, al azhar menimbah ilmu apalagi di barat namun kualitasnya jauh lebih dari lulusan luar negeri, sederhana saja karena proses belajarnya melalui perjuangan keras dan beliau belajar pada guru yang ikhlas sekaligus berkualitas bisa menjadi point penting tulisan ini. (***)

 

Artikel ditulis : Bahtiar Ali Rambangeng (Mantan Ketua HMI-MPO Cabang Makassar)

iklan1