Tag: Nico Harjanto

Tokoh Populer Jadi Kandidat di Pilkada Tak Selalu Bagus

Nico Harjanto (Foto Ist)

Nico Harjanto (Foto Ist)

JAKARTA/MANADO – Ketua Lembaga Kajian Nirlaba Opini dan Kebijakan Publik Populi Center, Nico Harjanto, menilai munculnya tokoh populer di Pemilihan Kepala Daerah hanya berimbas pada makin menguatnya praktik korupsi. Kepopuleran seorang tokoh atau figur, umumnya tak selalu berkorelasi dengan kepiawaiannya dalam membangun daerah yang menjadi basis suaranya.

“Banyaknya tokoh-tokoh terkenal yang mencalonkan jadi pemimpin daerah. Justru hasilnya dia tidak dapat membenahi daerahnya. Karena mereka lebih memilih di pusat. Kantornya saja banyak di mal. Hal ini juga yang akan menimbulkan semakin banyak korupsi,” ujar Nico dalam Diskusi Nasional mengenai Persiapan Pilkada Serentak di Indonesia pada Desember 2015 di Bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 28 Maret 2015.

Ia tak menampik, bila kondisi saat ini publik memang relatif memilih calon yang paling populer. Itu cukup beralasan, sebab mayoritas publik tak pernah melihat prestasi dan latar belakang dari figur yang hendak didukungnya. Sebab itu, ia menekankan idealnya publik dan pemilih kedepan lebih mengutamakan elektabilitas ketimbang popularitas . “Elektabilitas yang seharusnya mempengaruhi popularitas. Itu baru calon pemimpin yang ideal,” ujar dia. (vnc/don)

Pengamat Politik Sebut Peran Wapres JK Misterius

Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI (Foto Ist)

Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI (Foto Ist)

JAKARYA – Pengamat Politik Populi Center Nico Harjanto mempertanyakan peran Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam kisruh yang tengah melanda Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri. Menurut dia, peran JK selama ini tidak pernah terlihat.

”Agak misterius memang peran JK dalam komunikasi politik yang ada sekarang ini,” kata Nico dalam diskusi ‘Publik dan Politik’ yang dielenggarakan Smart FM, di Jakarta, Sabtu (7/2/2015) siang.

Padahal, kata dia, JK adalah tipikal pemimpin yang aktif dan cepat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Hal tersebut bisa dilihat saat JK mendampingi Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004-2009 lalu. Saat SBY lambat dalam menyelesaikan suatu permasalahan, maka JK yang akan turun tangan.

“Dalam keadaan bahaya seperti ini, wapres juga harusnya proaktif,” ucap Nico. 

Nico menilai ada dua kemungkinan dibalik ‘menghilangnya’ JK. Pertama, JK memang turut berkepentingan dalam pencalonan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kapolri. Namun, kata dia, bisa juga secara diam-diam JK sedang melakukan upaya untuk menyelesaikan kisruh berkepanjangan ini. 

“Saya pikir kalau melihat selama ini sikap dia yang negarawan, mungkin JK sedang berusaha di belakang layar,” ucap Nico.
Presiden Joko Widodo baru akan mengambil keputusan terkait polemik pergantian Kapolri pada pekan depan. Menurut Jokowi, masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan sebelum dirinya mengambil keputusan final, apakah melantik atau tidak Budi Gunawan sebagai Kapolri. 

Jumat pekan depan, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan akan membacakan putusan gugatan praperadilan yang diajukan Budi. Ia mempermasalahkan penetapan tersangkanya oleh KPK. Sidang akan dimulai Senin pekan depan. (Kompas.com/Faruk)

iklan1